Jumlah Titik Asap Meningkat Di Riau … Jokowi Batal Blusukan Soal Asap


Greenpeace Indonesia, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, mencatat jumlah titik api di Riau terus bertambah tiap tahun. Kenaikan tersebut terjadi sejak 2011 hingga Oktober 2014. “Tak tanggung-tanggung, bertambahnya drastis,” kata Muhammad Tegus Surya, juru kampanye politik kehutanan Greenpeace Indonesia, saat berkunjung ke kantor, Jakarta Selatan, Jumat, 12 Desember 2014.

Pada 2011, Greenpeace mencatat 6.644 titik api. Jumlah tersebut bertambah sekitar 25 persen di tahun berikutnya menjadi 8.107 titik api. Kenaikan hampir 50 persen terjadi pada 2013 menjadi 15.112. Kebakaran di Riau mencapai puncaknya pada 2014. “Kami mencatat ada 21 ribuan lebih titik api sampai Oktober tahun ini,” ujar Teguh.(

Teguh mengatakan banyak faktor penyebab bertambahnya titik api di negeri lancang kuning itu. Dia menuding, salah satunya ialah pembukaan lahan gambut oleh korporasi. “Perusahaan membuka kanal di mana-mana untuk mengeringkan lahan.” Kanalisasi memang membuat lahan gambut kering. “Walhasil, lahan gambut tak punya cadangan air dan gampang terbakar,” kata Direktur Pusat Studi Bencana Universitas Riau, Haris Gunawan.

Di Riau, khususnya di Pulau Tebing Tinggi, memang terdapat beberapa perusahaan yang membuka lahan gambut. Di antaranya ialah, PT Nasional Sago Prima yang membuka lahan gambut untuk sagu; PT Lestari Unggul Makmur yang membuka lahan untuk konsesi pohon akasia.

Dinas Kesehatan Riau menyatakan asap sisa kebakaran hutan dan lahan sejak sepekan terakhir yang menyelimuti wilayah Riau berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Setidaknya 2.206 warga Riau terserang penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA): penyakit asma sebanyak 95 orang, pneumonia 64 orang, iritasi mata 187 orang, dan iritasi kulit 135 orang.

“Paparan asap membuat warga rentan terserang lima penyakit tersebut,” kata Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P4L) Dinas Kesehatan Riau Andra S. Rabu, 24 September 2014.

Menurut Andra, paparan asap mulai mempengaruhi kesehatan masyarakat sejak asap mulai menyelimuti Riau pada 16-23 September 2014. Dia menduga jumlah penderita bakal terus bertambah lantaran masih ada lima kabupaten yang belum melaporkan jumlah pasien paparan asap.

Adapun wilayah dengan penduduk penderita ISPA adalah Pekanbaru, Siak, Rokan Hulu, Pelalawan, Kampar, Indragiri Hulu, dan Kuantan Singingi. Menurut dia, tujuh daerah tersebut telah diselimuti asap sejak sepekan lalu. Andra mengatakan pencemaran udara relatif tidak sehat terjadi pada 16-19 September lalu dengan indeks pencemaran udara mencapai 180 Psi atau tidak sehat.

Kabut asap kembali menyelimuti Riau sejak sepekan terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Pekanbaru menyatakan asap di Riau lebih dominan kiriman dari Sumatera Selatan, karena di daerah itu hingga kini masih terpantau banyak memiliki titik api. Berdasarkan pantauan satelit Tera dan Aqua pukul 07.00 WIB, 24 September 2014, titik api di Sumatera berjumlah 191.

Presiden Joko Widodo batal blusukan di Desa Sungai Tohor, Pulau Meranti, Kabupaten Siak, Riau. Alasannya, cuaca buruk. “Kami dapat informasi dari rombongan Jokowi, helikopter tak dapat melanjutkan perjalanan,” ujar anggota tim Yayasan Perspektif Baru, Hayat Mansur, Rabu, 26 November 2014.

Menurut Mansur, awan pekat berkumpul di atas Hutan Zamrud, Riau. Kondisi tersebut tak aman untuk menerbangkan helikopter. Walhasil, kata dia, protokoler kepresidenan memerintahkan pilot helikopter untuk balik arah ke Pekanbaru. ebelumnya, jam kedatangan Jokowi juga mengalami kemunduran. Awalnya mantan Gubernur DKI Jakarta ini akan tiba di Desa Sungai Tohor pukul 13.00 WIB. Namun, agenda mundur menjadi pukul 14.30 WIB.

Jokowi dijadwalkan mendatangi beberapa kilang dan lahan perkebunan sagu milik warga yang terkena dampak kebakaran. Desa tersebut menjadi salah satu daerah kebakaran lahan gambut terparah di Riau. Blusukan ke lahan gambut ini diawali oleh petisi yang dibuat Abdul Manan, warga Desa Sungai Tohor. Petisi dari Manan ini dimuat di laman situs http://www.change.org dan mendapatkan lebih dari 27 ribu dukungan.

Petisi ini diteruskan ke Istana Negara oleh beberapa lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan, antara lain Yayasan Perspektif Baru, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, dan Greenpeace Indonesia.

Warga mengaku kecewa atas pembatalan ini. Meski tak jadi, Manan meminta Jokowi untuk tetap mencarikan solusi untuk daerahnya. “Salah satunya meninjau ulang pembukaan izin perusahaan di atas lahan gambut,” ujar dia di kilang sagu saat mendengar kabar Jokowi tak jadi datang.

Salah seorang warga, Akiat, berharap Jokowi dapat menutup izin perusahaan yang tak patuh dalam mengelola lahan gambut. “Kebakaran lahan terjadi akibat kebakaran yang dimulai perusahaan,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s