Kronologi Kasus Perbudakan PRT Oleh Samsul Anwar Di Medan dan Temuan Tengkorak Manusia Dirumahnya


apolresta Medan Kombes Pol Nico Afinta Karokaro mengatakan, temuan 23 potongan tulang dan benda lainnya dari hasil penggalian tanah di sekitar rumah tersangka Syamsul Arifin (51) di Jalan Beo/Madong Lubis diduga terkait pembantu rumah tangga (PRT) korban mutilasi. Karena itu, tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sumatera Utara akan melakukan pengujian terhadap benda-benda tersebut, baik secara manual maupun menggunakan peralatan mesin.

Menurut dia, hal tersebut bisa dilihat dan dibuktikan melalui struktur tulang setelah pengujian DNA di laboratorium forensik Polda Sumut. “Apakah tulang itu berasal dari satu korban TKW atau lebih. Bila masing-masing menunjukkan perbedaan, berarti korbannya lebih dari satu orang,” ujar Kombes Pol Nico saat melihat temuan 23 tulang manusia, tiga gigi, enam celana dalam wanita, dan kain putih di rumah SA tersebut, Kamis (11/12/2014) sore. Kapolresta menjelaskan, mengenai penemuan enam pakaian dalam wanita, juga telah diperlihatkan kepada saksi E dan dibenarkan barang itu milik TKW Sri, rekannya yang pernah bekerja di rumah tersangka Syamsul.

“Kita sedang mencari keberadaan Sri, dengan menindaklanjuti berbagai informasi yang masuk,” katanya. Bahkan, menurut keterangan saksi E, Sri pernah bekerja di rumah tersangka Syamsul sejak tahun 2010, dan sampai saat ini belum diketahui keberadaannya. Dia menambahkan, jumlah PRT yang sudah dipastikan menjadi korban tewas adalah dua orang, yakni Hermin Rusdiawati yang jasadnya dibuang di Barus Jahe, Kabupaten Karo dan Yanti di Labuhan Deli.

“Kita ingin secepatnya menuntaskan kasus tersebut, guna mengetahui berapa orang TKW yang menjadi korban,” kata Kapolresta Medan. Tim gabungan dari Polresta Medan, Disaster Victim Identification (DVI), dan Puslabfor Polda Sumatera Utara hingga Kamis (11/12/2014) telah menemukan 23 potongan tulang manusia di rumah tersangka Syamsul Anwar (51) di Jalan Madong Lubis, Medan.

“Kemudian, tiga gigi manusia, enam celana dalam wanita, hiasan wanita, rambut, dan kain putih di kediaman tersangka SA yang juga penyalur tenaga kerja CV MJ,” kata Kepala Polresta Medan Kombes Pol Nico Afinta Karokaro di lokasi penggalian tersebut. Penemuan tulang manusia itu, menurut Nico, sebanyak 20 potong di lobang ke-4 samping kiri rumah SA, dan hanya berjarak lebih kurang tiga meter dari lubang ke-3 tempat penemuan beberapa benda sebelumnya.

“Jadi, penemuan di lubang ke-4 itu, yakni 20 tulang manusia, dua gigi manusia, satu celana dalam wanita, rambut, dan kain putih. Ini adalah hasil pencarian yang dilakukan pada hari ke-4, Kamis kemarin sekitar pukul 14.00 WIB,” ujar Kombes Pol Nico. Nico menyebutkan, hasil penemuan tulang manusia, gigi, dan benda lainnya akan diteliti tim DVI Polda Sumut untuk mengetahui identitas korban pembunuhan dan ditanam di rumah tersebut. “Tim gabungan dari kepolisian sampai saat ini masih terus bekerja di lapangan untuk mengungkap korban pembunuhan yang dialami tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di rumah majikan SA,” kata Kapolresta Medan.

Sebelumnya, tim pencarian gabungan tersebut pada hari ke-3, Rabu (10/12/2014) pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, menemukan tiga potong tulang manusia berukuran 9 cm, satu gigi manusia, lima celana dalam wanita, rambut, dan perlengkapan hiasan wanita. Bahkan, gigi manusia yang ditemukan itu diperkirakan berusia antara 30 dan 50 tahun.

Sementara itu, lima potong pakaian bagian bawah wanita itu diduga adalah milik TKW yang tewas dianiaya Syamsul, lalu kemudian ditanam di dalam rumah tersebut. Setelah melakukan penggalian di hari ketiga, petugas gabungan Sat Reskrim Polresta Medan akhirnya menemukan bukti baru di rumah tersangka penyiksaan dan pembunuhan Syamsul Anwar dan isterinya Radika di Jalan Madong Lubis/Jl Beo, Lingkungan XI, Sidodadi, Medan Timur.

Dalam penggalian tersebut, sejumlah benda yang merupakan bagian tubuh manusia ditemukan di lubang ketiga. Lokasi lubang berada persis di samping rumah tersangka, di bawah tiang jemuran. Berdasarkan informasi diperoleh di lokasi penggalian, benda yang ditemukan aparat adalah gigi rahang bagian kanan, tulang, dan sejumlah pakaian dalam wanita.

Kepala Polresta Medan, Kombes Pol Nico Afinta Karokaro ketika dikonfirmasi tentang hal ini mengaku, temuan tersebut nantinya akan diselidiki lebih lanjut. “Untuk benda-benda yang kita temukan, semuanya kita serahkan ke tim DVI Polda Sumut untuk diteliti lebih lanjut,” kata Nico, Rabu (10/12/2014) malam kemarin.

Nico menjelaskan, untuk gigi, bisa dipastikan bahwa itu merupakan gigi manusia. “Namun, untuk tulang, masih akan kita pastikan lebih lanjut,” sambungnya. Hingga malam tadi, Tim Sat Reskrim Polresta masih bekerja melakukan penggalian. Suasana di lokasi juga tampak ramai dan dipadati sejumlah warga. Penganiayaan dan ancaman kekerasan yang dilakukan keluarga Syamsul Anwar pernah dilaporkan ke Polresta Medan pada tahun 23 September 2012. Laporan kasus penganiayaan oleh Randika, istri Syamsul tersebut, disampaikan langsung seorang pembantu rumah tangga (PRT) bernama Sadiah.

Sadiah adalah PRT asal Jawa Tengah, yang disalurkan Yara Surya Mandiri, sebuah yayasan penyalur tenaga kerja berkantor di Jakarta. Ia disalurkan kepada perusahaan jasa tenaga kerja milik Syamsul Anwar bersama dengan empat orang PRT lainnya, yakni Rohayati, Fitri, Novi dan Rumsana.

Namun ironinya saat itu bahkan hinggi kini, laporan tersebut tak jelas nasibnya ditangan Polresta Medan.

Ratna Sitompul, Koordinator AWAS HAM (Aliansi Warga Sumateras Utara untuk Hak Azasi Manusia) menceritakan, pada 24 September 2012, kepolisian menyerahkan enam korban penganiayaan dan penyekapan yang dilakukan keluarga Syamsul Anwar kepada Yayasan Pusaka Indonesia. Keenamnya adalah Sadiah, Rohayati, Fitri, Novi, Rumsana, dan seorang lelaki, Eko Purnomo, yang bekerja sebagai penjaga rumah Syamsul.

“Memang polisi yang menyerahkan enam korban kekerasan keluarga Syamsul ke Pusaka. Tapi di tengah jalan kasusnya mandeg, disebut tak cukup bukti, bahkan tak jelas sampai sekarang,” ujar Ratna Sitompul saat ditemui Tribun, Jumat (12/12/2014) di Kantor Pusaka Indonesia.

Ratna mengaku, pihaknya tidak begitu terkejut maraknya berita pembunuhan PRT ini. Pasalnya, pihaknya sudah mendengar cerita kekerasan dilakukan keluarga Syamsul dari para korban tahun 2012 silam. Ia menceritakan, saat 2012 itu, keenam korban bisa sampai ke Polresta Medan lantaran berhasil kabur dari kediaman Syamsul, di Jalan Beo, Medan. “Jadi kami berharap kasus 2012 harus dibongkar juga sama polisi. Kasus yang ditangani polisi sekarang ini, bukan yang pertama bagi Syamsul dan keluarga yang masuk ke kantor polisi,” tukasnya.

Menurut Ratna, kelima PRT korban penganiayaan dan penyekapan Syamsul tahun 2012 saat ini sudah berada di kampung halaman masing-masing. Namun, salah satu korban sekaligus saksi penganiayaan 2012 itu, Eko Purnomo saat ini berada di Kantor Pusaka Indonesia. “Lima korban ada dikampung masing-masing. Tapi kita masih bisa berkomunikasi. Tapi korban Eko Purnomo sekarang disini, karena dia yang lebih lama kerja dan lebih tahu kondisi rumah Syamsul ketimbang lima pekerja lainnya,” ujarnya. Ratna mengaku, saat itu pihaknya tidak mendapatkan keterangan jelas dari kepolisian tentang mengapa kasus tidak dilanjutkan. Mereka hanya diberi informasi bahwa kasusnya tidak memenuhi unsur.

“Kasusnya kabur dan nggak naik saat itu. Sekarang kita akan minta kasus tersebut dibongkar. Kita akan tunjukkan bahwa sebenarnya sebelum kasus ini, sudah ada peristiwa pidana dilakukan Syamsul dan keluarga. Tapi sekarang buming kasus terhadap pelaku yang sama kita jadi tanda tanya?. Kalau memang polisi serius dari dulu (2012), mestinya tidak ada korban lain yang saat ini dinyatakan meninggal,” katanya.

Ia berharap polisi di Sumut, tidak hanya mengambil pencitraan lewat kasus kemanusiaan, khususnya penyekapan dan penganiayaan terhadap PRT. Lebih jahu, Ratna mencontohkan kasus tersangka Mohar dan istrinya, yang menganiaya PRT asal Provinsi Nusa Tenggara Timur. Menurut Ratna, yang juga selaku kuasa hukum korban, kasus yang ditangani Polresta Medan ini hingga sekarang tak juga bisa naik ke kejaksaan.

“Dua kali sudah P19 kasus tersangka Mohar dan istrinya. Kami nilai polisi tidak serius melengkapi berkas yang diminta jaksa. Polisi awalnya sibuk pencitraan, tapi setelah berlalu dari pantauan media, tiga bulan mereka bekerja setengah hati. Sampai sekarang kasusnya belum P21,” katanya

Tim Disaster Victim Identification Kepolisian Daerah Sumatera Utara, Jumat (12/11/2014), masih menyelidiki 23 potongan tulang yang ditemukan dalam penggalian di rumah Syamsul Anwar, pemilik CV Maju Jaya, tersangka penganiayaan dan pembunuhan pekerjanya. Selain meneliti asam deoksiribonukleat (DNA) masing-masing tulang, polisi juga meneliti model irisan tulang apakah irisan kasar atau halus sehingga bisa diketahui alat yang digunakan pelaku.

Kepala Polresta Medan Komisaris Besar Polisi Nico Afinta mengatakan, meskipun masih menunggu kepastian hasil penelitian tim DVI, namun Nico mengatakan serpihan tulang ukuran 3 sentimeter hingga 8 sentimeter itu adalah tulang manusia. Sebelumnya polisi juga sudah menemukan sebuah gigi geraham, seikat rambut, dan enam buah celana dalam.

Temuan itu didapat di lubang nomor tiga dan nomor empat yang digali polisi di garasi dan gang sisi luar rumah pada Rabu sampai Kamis. Dua penggalian sebelumnya di dalam rumah tidak menemukan apa pun yang berkait dengan kasus tersebut. Rumah Syamsul Anwar di Jalan Beo 17, Medan, itu selain digunakan untuk tinggal Syamsul dan keluarganya juga digunakan untuk menampung tenaga kerja yang hendak disalurkan CV Maju Jaya.

Mencocokkan DNA
Dari rekaman kamera pemanta yang jumlahnya mencapai 16 di sekeliling rumah, polisi menemukan bukti Syamsul Anwar, keluarga, dan karyawannya menganiaya pekerja rumah tangga yang hendak mereka salurkan, hingga meninggal. Korban yang meninggal adalah Hermin yang sebelumnya diketahui sebagai Cici. Jasad Cici ditemukan di Barus Jahe, Karo, Oktober lalu. Hermin menggunakan identitas kakaknya, yakni Cici saat mendaftar menjadi pekerja rumah tangga.

Nico mengatakan, pihaknya sudah menunjukkan temuan celana dalam kepada tiga korban yang saat ini masih dalam perlindungan polisi, yakni Endang, warga Madura, Anis, warga Malang, dan Rukmeni, warga Demak. Endang mengaku mengenali celana dalam itu sebagai celana dalam milik Sri, kawannya yang pernah bekerja di rumah Syamsul tahun 2010. Namun, Endang mengaku saat ini tidak mengetahui keberadaan Sri.

Polisi juga masih mencocokkan DNA jasad perempuan yang ditemukan di Sungai Deli bulan lalu yang diduga adalah Yanti, salah satu pekerja CV Maju Jaya yang juga berasal dari Jawa. ”Kami sudah mengambil sampel DNA anak Yanti dan saudara Yanti untuk dicocokkan,” tutur Nico. Kepala Polda Sumut Irjen Eko Hadi Sutedjo yang hadir melihat serpihan tulang itu di lokasi penggalian kemarin mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Polda Metro Jaya, Polda Jawa Tengah, dan Polda Jawa Barat untuk menelusuri keberadaan korban-korban lain.

Polisi menemukan 160 buah identitas perempuan yang diduga sudah ditempatkan CV Maju Jaya di berbagai tempat. Mereka berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Eko mengingatkan peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak yang bergerak dalam bidang tenaga kerja untuk terus mengawasi seluruh proses perekrutan tenaga kerja hingga penempatan dan bagaimana pekerja mendapatkan kesejahteraan.

Suasana rumah tersangka Syamsul Anwar yang menjadi lokasi penyiksaan dan pembunuhan pembantu rumah tangga (PRT) di Jalan Madong Lubis atau Jalan Beo, Lingkungan XI, Sidodadi, Medan Timur, masih tampak ramai. Namun, menurut salah seorang petugas Unit Vice Control/Judi Asusila (VC/Judisila) Sat Reskrim Polresta Medan yang melakukan penjagaan di lokasi kejadian mengatakan sudah tidak ada penggalian sejak Jumat (12/12/2014) dinihari.

“Sepertinya penggalian sudah dihentikan. Makanya enggak ada lagi pekerja yang melakukan pengorekan di rumah tersangka,” ujar petugas tersebut sembari memantau rumah Syamsul. Meski masih ada sejumlah warga yang tampak di kawasan itu untuk melihat tempat kejadian perkara ini, namun suasananya lebih lengang dari hari-hari sebelumnya. Hanya terlihat sejumlah warga yang mendekati rumah Syamsul. Beberapa warga di antaranya sibuk mengambil gambar rumah tersangka dengan kamera dari ponsel masing-masing.

Salah seorang warga juga menyampaikan hal yang serupa. Menurut warga, kali ini penjagaan yang dilakukan polisi tak begitu ketat. “Sejak tadi pagi udah enggak ada pengorekan Bang. Polisinya pun udah enggak ramai kayak semalam,” kata Lina. Perempuan berambut pendek ini menjelaskan, dirinya datang untuk sekedar melihat galian lubang yang di dalamnya sempat ditemukan sejumlah tulang belulang yang diduga milik manusia.

“Warga masih ramai karena penasaran Bang. Apalagi semalam sempat banyak tulang yang ditemukan,” ujarnya. Sementara itu, sejumlah pedagang yang memanfaatkan keramaian dengan membuka lapak dagangan di seputar rumah Syamsul mengatakan, transaksi mulai sepi. “Kalau pertama-tama pengorekan itu untung kami lumayanlah Bang. Tapi dua hari belakangan ini agak sepi. Karena kami enggak bisa mendekat ke rumah Syamsul ini,” kata Maimunah, salah seorang pedagang rokok.

Menurut perempuan bertubuh kurus ini, sejak Jumat pagi, penghasilannya baru Rp 40.000. “Biasanya bisa lebih bang. Apalagi pas ramai-ramainya kemarin,” kata Maimunah. Hal senada juga diungkapkan pedagang tahu goreng bernama Sofyan (35), warga Jl Karang Sari Polonia. Lelaki berkulit hitam ini mengaku dagangannya masih sepi pembeli. “Karena enggak ada pengorekan bang. Kalau ada pengorekan, bisa lumayan pendapatan,” ungkap Sofyan.

Dia mengatakan, kemungkinan dagangannya akan laku terjual di sore hari karena dia, banyak warga yang masih bekerja. “Kalau sore kan mungkin orang pulang kerja singgah. Ya, bisa aja dapat untung lumayan nanti sore,” harapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s