Kisah Orang Yang Lolos Dari Tanah Longsor Di Jemblung Banjarnegara


Pemilik rumah bercat putih dengan kebun jagung yang aman dari longsor di Desa Jemblung, Banjarnegara, Jawa Tengah ternyata milik Khotimah (25). Sang pemilik selamat dari bencana itu, bersama keponakannya Wawan (11). Namun dia tak tahu kalau rumah dan kebun jagungnya yang justru persis berada di bawah bukit aman dari longsor. Khotimah yang sedang hamil tujuh bulan, mengaku saat kejadian benar-benar melihat dengan jelas longsor yang menimbun puluhan rumah itu.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (12/12) sekitar pukul 17.30 WIB itu. Ketika itu dirinya tengah mengambil pakaian dari jemuran bersama keponakannya Wawan (11). “Saya melihat ada longsor dari atas bukit turun seperti ombak. Saya langsung lari masuk rumah dan menarik wawan dan lari keluar rumah,” jelas dia di Puskesmas Karangkobar.

Khotimah dan Wawan selamat, walau saat lari menyelamatkan diri sempat terdorong tanah beberapa puluh meter. Tapi nahas, suaminya Juan dan anaknya Daffa (8) yang tengah berada di orangtua mereka meninggal dunia tertimbun longsor.

Sekali lagi, Khotimah belum tahu kalau rumahnya bisa tegak berdiri tak digerus longsor. Karena itu dia pun lari menyelamatkan diri. Kini Khotimah terbaring di pengungsian. Petani ini tak mau berkomentar banyak saat ditemui siang ini, Senin (15/12/2014). Dia berduka karena suaminya Juan dan putranya Daffa meninggal dunia.

umah putih dengan kebun jagung menjadi satu-satunya rumah yang selamat dalam longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah. Rumah itu milik Juan (25) seorang petani jagung dan sayuran. Dua tetangga Juan, Yono dan Rumiyah memastikan soal ini. Juan memang dikenal sebagai orang baik yang memberi bantuan tanpa pamrih. “Itu punya Juan, dia orangnya baik suka menolong. Suka bantu-bantu,” jelas Rumiyah yang ditemui di pengungsian di Karangkobar, Senin (15/12/2014).

Rumiyah yang rumahnya berada berseberangan dengan rumah Juan mengaku melihat rumah Juan yang utuh sebagai sebuah mukzizat. “Itu semua keajaiban, itu semua rumah di sekitarnya kena longsor,” jelasnya. Sedang menurut Yono, sosok Juan dikenal sebagai tetangga yang baik. Rumah dia juga kerap dipakai pengajian. “Biasa di kampung dipakai pengajian, selamatan,” jelas Yono. Juan diketahui meninggal dunia dalam peristiwa ini. Dia dan anaknya Daffa (8) saat peristiwa terjadi tengah berada di luar rumah, di tempat orangtuanya. Keduanya tertimbun longsoran. Namun istrinya Khotimah selamat dalam insiden itu. Khotimah tengah hamil tujuh bulan dan kini ada di pengungsian. Khotimah saat peristiwa terjadi berada di rumah.

Longsor di Banjarnegara, Jawa Tegah menewaskan 39 korban, dan masih bisa terus bertambah. Wapres Jusuf Kalla mengatakan meski bencana ini tidak tergolong sebagai bencana nasional, pemerintah akan tetap membantu. “Ya itu ada standart (untuk menetapkan bencana nasional) ada aturannya itu. Ya bencana nasional sama bencana biasa sama saja treatmentnya. Tidak ada bedanya sama sekali sebenarnya,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden Jalan Medan Merdeka Utara, Jakpus, Senin (15/12/2014).

Ia mengatakan pemerintah tidak bisa menetapkan sebuah bencana sebagai bencana nasional begitu saja. Penetapan bencana nasional diatur dalam UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional dan Peraturan Presiden. Pasal 7 Undang-undang itu menyebutkan ada indikator jumlah korban, kerugian harta benda, kerusakan sarana dan prasarana, cakupan luas wilayah, dan dampak sosial-ekonomi. Selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Presiden.

Selama ini hanya bencana Tsunami Aceh yang ditetapkan sebagai bencana nasional. Bencana gunung Sinabung dan Merapi yang terjadi tahun lalu tak ditetapkan pemerintah menjadi bencana nasional. JK menegaskan pemerintah pasti akan memberikan bantuan pada korban secara maksimal. “Semuanya akan dibantu. Pemberian bantuan pasti dilaksanakan sesuai dengan biasanya. Ini kan kita bukan satu kali menghadapi bencana,” pungkasnya.

Jumat (12/12) sore lalu tampak ombak menggulung-gulung di bukit Jemblung. Tapi itu bukan ombak lautan, melainkan ombak tanah longsor. Ombak tanah itu lalu menyapu perkampungan Dusun Jemblung, Desa Sampang, Karangkobar, Banjarnegara. Sebanyak 40 orang tewas, 68 hilang. Mereka yang selamat mengucapkan syukur, masih diberikan kesempatan hidup kedua.

Para korban yang selamat itu mengisahkan perjuangan mereka untuk bisa selamat dan keluar dari timbunan tanah. Ada yang harus menggali hingga berjam-jam dengan menggunakan batang pohon, ada juga yang sudah tertimbun tanah hingga seleher dan akhirnya ditemukan tim SAR. Berikut kisah perjuangan mereka:

Wawan Wahyuni (20) terjebak selama 7 jam di bawah tanah longsor. Wawan akhirnya selamat setelah menggali tanah menggunakan batang pohon singkong yang menimbun hampir seluruh tubuhnya sambil menunggu bantuan datang.

Karena tanah yang menimbun dirinya masih lembek, dia mengeluarkan kedua tangannya yang sempat ikut tertimbun untuk meraih sebatang pohon singkong yang tidak jauh dari dirinya. Sedikit demi sedikit dia coba mengorek-ngorek tanah yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada agar memudahkan dirinya untuk bernafas dan menunggu bantuan datang.

Saat hampir putus asa di tengah kegelapan dan kabut dia menunggu pertolongan, ketika itu pula dia melihat ada cahaya dari lampu senter warga dan relawan yang berusaha mencari korban longsor yang selamat. “Saya langsung teriak meinta tolong hingga akhirnya didengar, jaraknya sekitar 100 meter,” ungkap Wawan, Minggu (14/12/2014).

Karena jarak dia dengan relawan yang akan menolong cukup jauh, dia terpaksa harus kembali menunggu proses evakuasi terhadap dirinya dilakukan. Hingga akhirnya dia dapat diselamatkan setelah bertahan sekitar 7 jam. Dia mengungkapkan, relawan kesulitan mengevakuasi dirinya, pasalnya tanah yang berada di sekitar lokasi longsor masih sangat labil, sehingga butuh proses lama hingga akhirnya dia dapat diselamatkan.

“Saat itu relawan hanya menggunakan papan yang diestafet untuk menjangkau lokasi saya. Saya juga diminta untuk tidak banyak bergerak agar tidak lemas, kalau ada apa-apa saya hanya disuruh teriak,” jelasnya. Setelah berhasil diangkat dari dalam tanah, tiba-tiba relawan yang bertugas di sisi bukit memberikan kode bahwa ada longsoran ketiga. “Waktu itu ada 6 relawan yang evakuasi saya, saya sudah lemas dan tiba-tiba ada kode, ‘mengko disit golet titik aman, munggah-munggah’ (nanti dulu, cari titik aman, naik-naik). Suruh pada naik, karena air meluap-luap, karena ada longsoran,” ungkapnya. Dia mengaku saat itu sangat haus, lemas dan kedinginan. Namun dia bersyukur bisa selamat dari bencana itu.

Khotimah (25) salah satu warga yang selamat. Ibu yang sedang hamil 7 bulan ini sempat tertimbun tanah hingga sebatas leher. Saat kejadian, dia benar-benar melihat dengan jelas longsor yang menimbun puluhan rumah di Dusun Jemblung pada hari Jumat (12/12) sekitar pukul 17.30 WIB itu. Ketika itu dirinya tengah mengambil pakaian dari jemuran bersama keponakannya. “Saya melihat ada longsor dari atas bukit turun seperti ombak. Saya langsung lari masuk rumah dan menarik keponakan saya dan lari keluar rumah,” jelas dia.

Namun karena longsoran tanah bergerak dengan cepat, dia dan keponakannya terseret material longsoran tanah hingga puluhan meter dengan kondisi badan yang tertimbun longsor hingga seleher. Beruntung dia dan keponakannya selamat. Tapi tidak dengan suami dan anaknya, Juan (25) dan Dafa (8) yang saat kejadian sedang berada di rumah mertua. Dia melihat dengan jelas ketika terseret longsor, suami dan mertuanya ikut terbawa material longsoran.

“Saya lihat suami dan mertua saya tergulung material longsoran, tapi saya tidak melihat Dafa,” ujar dia yang terus berharap jenazah keluarganya dapat ditemukan. Sore itu merupakan hari yang tidak bisa dilupakan oleh Giman, warga RT 5/1 Dusun Jemblung ini. Giman yang sedang mencuci mobil di halaman rumahnya, melihat langsung runtuhnya tebing di bukit yang berada di sekitar permukiman warga. “Saya sedang nyuci mobil, tiba-tiba tebing langsung longsor,” kata Giman di lokasi, Sabtu (13/12/2014).

Lokasi rumah Giman memang berada di dataran yang agak tinggi dari lokasi longsor, sehingga ketika longsoran dari tebing tersebut runtuh, dirinya dapat melihat jelas dahsyatnya reruntuhan tanah tersebut menyapu permukiman yang berada di bawahnya. “Kejadiannya cepat, tidak sampai lima menit, pertama saya lihat bukit runtuh dikit-dikit, tapi tiba-tiba semuanya langsung runtuh,” jelasnya.

Giman yang selamat langsung membantu mencari korban yang tertimbun. Setelah kejadian itu, suasana sekitar dusun langsung sepi. Suara meminta tolong terus terdengar sedangkan hujan tiba-tiba turun usai longsor terjadi. Sementara akibat longsoran tersebut, akses listrik langsung terputus sehingga suasa sekitar dusun gelap gulita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s