Siswi ABG Limapuluh Kota Sumatera Barat Diperkosa dan Dijual Oleh Pelaku


Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak (LPPA) Pergerakan di Padang, Sumatera Barat mengungkap kasus perkosaan yang dialami CA, 15 tahun, siswi sekolah menengah pertama di Kabupaten Limapuluh Kota, pada November lalu. Tersangka pemerkosanya adalah Rudi Dermawan, pengusaha gambir di kabupaten itu. “Setelah diperkosa, korban diduga diperdagangkan ke beberapa orang,” kata Ketua LPPA Pergerakan Nora Fitriawati saat dihubungi Tempo, Ahad, 21 Desember 2014. Hasil investigasi LPPA Pergerakan mencatat, korban dibawa teman sekelasnya berinisial LPL ke sebuah gudang milik Rudi. Korban diperkosa dan ditawari mengkonsumsi narkoba jenis sabu.

Setelah diperkosa Rudi memberi uang Rp 300 ribu. “Uang itu diambil LPL dan dibagi-bagikan ke temannya. Korban hanya dikasih Rp 50 ribu,” ujarnya. Nora mengatakan, LPL mengancam korban untuk memenuhi keinginannya. Jika tidak, LPL akan menyebakarkan pemerkosaan itu. Lantaran ketakutan, korban mengikuti semua keinginan LPL.

LPL memaksa korban ke rumah AG. Di sana sudah menunggu seorang pemuda setempat berinisial I. Nora mengatakan, korban kembali diperkosa dan diberi uang sektiar Rp 500 ribu. Uang itu kembali diambil LPL. Dia membagikan uang itu ke beberapa temannya. Korban hanya diberi RP 50 ribu. “Ini yang membuat kita menduga korban diperdagangkan,” ujarnya.

Menurut Nora, korban juga dipaksa mengkonsumsi narkoba. Pengakuannya, korban dua kali menghisap narkoba karena dipaksa LPL dan oknum polisi berinisial SR alias Unyil. “Korban pernah diancam oknum polisi SR. Dengan memperlihatkan alat tajam seperti pedang panjang ke korban. Sehingga korban ketakukan,” ujarnya.

Kuasa hukum korban dari Lembaga Bantuan Hukum Pergerakan Guntur Abdurrahman meminta polisi mengungkap kasus ini secara profesional. “Semua pelaku itu harus segera ditangkap. Termasuk polisi SR,” ujarnya. Saat ini polisi baru menangkap Rudi. Sedangkan, SR hanya dijatuhi hukuman disiplin. “Ada beberapa pelaku lainnya yang masih belum ditangkap. Diantaranya, LPL, I, AG dan PJ,” ujarnya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Limapuluh Kota Ajun Komisaris Amral mengaku telah menetapkan Rudi sebagai tersangka. “Dia mengaku melakukan perbuatan itu. Tapi dia tidak mengaku sabagai pengedar, hanya mengkonsumsi sabu,” ujarnya. Amral menjelaskan, polisi juga telah menggeledah rumah SR. Tapi polisi tidak menemukan narkoba, hanya alat hisap bong. “Makanya dia hanya kami beri sanksi disiplin,” ujarnya.

Seorang polisi yang bertugas di Polres Limapuluh Kota, Sumatera Barat, diduga terlibat kasus pemerkosaan terhadap siswi sekolah menengah pertama berinisial CA, 15 tahun. Polisi itu juga diduga memaksa korban mengisap sabu. “Inisial polisi itu adalah SR. Ironisnys, dia pernah mengajak korban menggunakan narkoba di sekolah korban,” kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum Pergerakan Indonesia Guntur Abdurrahman, Sabtu, 20 Desember 2014.

Menurut Guntur, selain SR, ada beberapa pelaku lain dalam kasus ini, yaitu LPL–teman sekolah CA, AG, Rudi, PJ, NN, AB, dan I. Namun saat ini yang sudah diperiksa polisi baru Rudi dan SR saja. Kasus ini terungkap setelah SR memberikan telepon seluler kepada korban agar mereka mudah berkomunikasi. Telepon itulah yang membuat keluarga curiga. Sebab, selama ini, orang tua korban tidak pernah memberikan uang kepada korban untuk membeli ponsel baru.

Korban akhirnya menceritakan kejadian yang menimpanya setelah didesak orang tuanya. Keluarga korban kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, pada 15 November 2014. Masyarakat yang mengetahui kasus ini marah karena polisi tidak segera bertindak. Apalagi mereka melihat orang-orang yang dicurigai justru bebas berkeliaran. Massa akhirnya mendatangi rumah Rudi dan membakar bangunan itu.

Sepekan setelah kejadian, polisi menangkap Rudi di Kota Payakumbuh. Lelaki itu saat ini masih menjalani pemeriksaan sebagai tersangka. Kasat Reskrim Polres Kabupaten Limapuluh Kota Ajun Komisaris Amral mengatakan jajarannya masih memburu LPL, I, dan AG. “Kami juga masih mengumpulkan keterangan tentang keterlibatan mereka,” katanya.

SR saat ini sedang menjalani pemeriksaan di bagian profesi dan pengamanan. “SR mengaku tidak pernah menyetubuhi korban,” ujarnya. Sedangkan untuk penggunaan sabu, Amral mengaku pihaknya sudah menggeledah tempat tinggal SR. Sejauh ini, ujar dia, tidak ditemukan barang bukti berupa narkoba. Penyidik hanya menemukan alat isap sabu. “Makanya, SR hanya kena hukuman internal,” ujar Amral.

Polisi menangkap seorang siswi SMP berinisal LPL setelah masuk daftar pencarian orang dalam kasus pemerkosaan. LPL diduga terlibat dalam kasus pemerkosaan temannya yang juga siswi SMP di Kabupaten Limapuluh Kota.

“Saat ini dia sebagai saksi dalam kasus cabul,” ujar Kasat Reskrim Polres Limapuluh Kota AKP Amral, Selasa, 23 Desember 2014. Polisi menemukan LPL di Kabupaten Dharmasyara. Dia sempat kabur dari Kabupaten Limapuluh Kota setelah kejadian. “Kami dapat info dari keluarganya. Dia berada di rumah familinya di Dharmasraya,” ujarnya.

Kuasa hukum korban dari Lembaga Bantuan Hukum Pergerakan, Guntur Abdurrahman, mengatakan korban CA, telah memberikan keterangan keterlibatan LPL dalam kasus ini. “LPL sebagai penyalur anak dan narkoba. Dia perantara Rudi dan oknum polisi SR,” ujarnya.

Sebelumnya, polisi telah menetapkan Rudi Darmawan sebagai tersangka dalam kasus pemerkosaan siswi ini. Sementara, oknum SR hanya diberi hukum disiplin. Menurut Guntur polisi memiliki cukup alasan untuk meningkatkan status LPL dan SR. Sebab, menurut keterangan korban, ada hubungan antara LPL, SR, dan Rudi. Guntur mengatakan LPL merupakan saksi kunci dalam kasus ini. Polisi harus menggali dengan dalam keterangan dari LPL.

Kasus pemerkosaan itu terjadi sekitar November 2014. Korban awalnya diajak pergi oleh teman sekelasnya yang berinisial LPL. Ternyata LPL adalah pengedar narkoba jenis ganja dan sabu. “Korban heran dan bertanya kepada LPL, di mana dia mendapatkan barang itu. LPL menjawab dapat di dekat jembatan,” ujar Guntur. LPL membujuk korban untuk ikut mengedarkan narkoba agar bisa mendapatkan banyak uang.

Selanjutnya LPL mengajak korban ke sebuah gudang milik seorang pengusaha gambir bernama Rudi. “Rudi saat itu sedang mengkonsumsi sabu,” kata Guntur. Rudi memaksa korban untuk menghisap sabu lalu memperkosanya. Korban tak bisa melawan karena takut. “Setelah memperkosa, Rudi memberikan CA uang sekitar Rp 300 ribu,” ujar Guntur.

Setelah itu, datang seorang pemuda berinisial AG dan membawa korban ke rumah LPL. Lalu, LPL mengambil uang dari tangan korban dan membagi-bagikannya. Korban hanya mendapat Rp 50 ribu lalu disuruh pulang menggunakan becak. Korban tak berani melaporkan kejadian itu karena diancam oleh LPL.

Kejahatan terhadap korban ternyata berulang. LPL memaksa korban ke rumah AG. Di sana sudah menunggu seorang pria berinisial I. “Korban kembali diperkosa dan diberi uang sekitar Rp 500 ribu. Uang itu kembali diambil LPL. Dia hanya memberi korban Rp 50 ribu,” ujarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s