Reportase Gang Pattaya Surabaya Tempat Komunitas Generasi Belok Kaum Gay


Meski bebas untuk siapa saja, namun komunitas ‘Generasi Belok’ yang biasa mangkal di Gang Pattaya tetap tertutup. Mereka akan mencurigai bila ada pendatang baru. Gang Pattaya yang berada tak jauh dari Jembatan Gubeng, Surabaya, itu memang dikenal memiliki privacy yang kuat. Selain itu, mereka yang tidak gay tentu akan takut bila mencoba-coba memasuki gang gelap di tepi Sungai Kalimas itu.

Yang mencoba berbaur secara diam-diam pun tak luput dari perhatian mereka, akhir pekan lalu. Bahkan, mereka sempat memergoki yang coba mengambil gambar mereka secara sembunyi-sembunyi. Memory card di kamera dimintanya. Dua orang yang naik motor menghampiri dan menginterogasi. “Kamu wartawan ya, ndak usah berbohong,” kata beberapa pria yang mendatangi.

Salah satu kemudian merampas kamera DSLR Nikon. Memory Card 32 GBpun yang ada di dalam kamera diambil paksa. Kedua orang itu lantas mengusir pergi dari Gang Pattaya. “Sudah pulang kamu,” kata seorang pria gay berpostur kurus dan tinggi itu. Bahkan menunggu hingga pergi dari lokasi sek-esek sejenis itu.

Komunitas gay atau kaum belok juga tak kalah dalam pemanfaatan gadget seiring tumbuh pesatnya sosial media. Mereka diam-diam memiliki grup di dunia maya. Hasil penelusuran, komunitas gay aktif di aplikasi grindr dan Jackd. Aplikasi khusus ini mudah ditemukan karena terdapat di playstore. Dalam aplikasi itu, anggota yang sudah terhubung bisa mendapatkan atau mencari gay lain di lokasi terdekatnya.

“Membernya banyak, tak hanya di Surabaya tapi Indonesia dan luar Indonesia. Kan ini aplikasi terbuka siapapun bisa bergabung,” kata Bastian, pemuda gay, Rabu (24/12/2014). Meski aplikasi ini untuk komunitasi gay, namun diantara mereka juga banyak yang enggan menggunakan aplikasi tersebut. “Banyak yang nipu, dan banyak yang gila kirim foto alat vital atau pinoy,” kata Bastian.

Selain Gang Pattaya di Gubeng, di Kota Surabaya banyak tempat yang menjadi lokasi mangkal atau kopi darat gay atau kaum belok. Selain itu di antara mereka juga memiliki istilah yang lumayan antik. Istilah yang jarang dipahami publik itu sengaja diciptakan sebagai simbol komunikasi di antara mereka sendiri sehingga memudahkan dalam pergaulan terbatas itu. “Kalau di gay ini kita pakai sebutan sendiri untuk siapa yang jadi lakinya atau perempuannya. Ada top, bottom dan ada juga versatile,” ungkap gay yang mengaku bernama Bastian kepada di salah satu restoran cepat saji di pusat perbelanjaan di Surabaya timur, Rabu (24/12/2014).

Pemuda yang mengaku bekerja di salah satu kafe di kawasan Juanda ini menerangkan top ditujukan pada gay yang memposisikan sebagai laki-laki. “Bottom ditujukan pada gay yang memposisikan sebagai perempuan. Sedangkan versatile adalah gay yang bisa memposisikan diri sebagai perempuan dan bisa juga sebagai laki-laki, tergantung pasangannya,” terang dia.

Bastian, menerangkan gay top lebih identik dengan pria yang maskulin dan berbadan agak kekar. Sedangkan bottom sendiri identik dengan pria yang agak feminim dan lemah gemulai. “Mudah kok melihat orang yang gay pada posisi top atau bottom. Kita juga punya feeling. Jadi kita kayak punya semacam G-radar dalam diri kita (radar gay),” jelas pria yang juga mantan wartawan ini.

Sedangkan untu berhubungan badan, mereka lebih menyukai menyebutnya dengan istilah penetrasi. “Kita pakai bahasa biologis saja, penetrasi lebih halus daripada bersetubuh,” katanya. Lain lagi dengan istilah twink. Twink adalah sebutan gay khusus untuk anak-anak muda alias brondong. Bagi gay yang berperut buncit alias gendut disebut dengan bear yang tak lain beruang.

“Sementara gay yang sudah berkeluarga (dengan istri perempuan) biasa disebut dengan sapaan daddy,” tambah gay yang biasa disebut Egy yang mendampingi Bastian. Nah, untuk alat kelamin pria disebutnya dengan pinoy. Sudah bukan rahasia lagi bila Gang Pattaya di Gubeng Surabaya menjadi tempat lokalisasinya kelompok Gay atau Kaum Belok. Hampir setiap malam, para gay mangkal di gang yang gelap itu.

Meski lokasinya di pusat kota, namun kaum belok nampaknya tak risih menjadi perhatian publik. Di gang yang di tepi Sungai Kalimas itu mereka melakukan jual beli dengan kelompok sejenisnya. “Ya murah meriah. Kadang dapat Rp 25 ribu untuk maaf,oral saja,” kata seorang pemuda gay yang mengaku bernama Ray ketika bincang-bincang, Rabu (24/12/2014) malam di salah satu kafe di Sutos, Surabaya.

Para kaum belok yang mendatangi Gang Patttaya ini seperti halnya kaum hidung belang yang mencari kepuasan seksual di Dolly, ketika masih beroperasi. “Mereka jajan, kaum gay kan juga ada yang menjadi pelacurnya,” ujar Ray. Namun, kata Ray, tidak semua gay mau bertandang ke Gang Pattaya. Gay, kata dia, juga memliki kelas atau strata. Yang elit lebih suka mencari kekasih khusus. Dengan memiliki pasangan yang setia, mereka bisa memilih hotel untuk menyalurkan hasrat seksualnya.

“Kalau di Gang Pattaya mereka hanya oral saja, di pinggir sungai atau kadang di atas motor yang diparkir,” katanya. Namun, lanjut Ray, bila mereka sepakat melakukan hubungan badan atau biasa disebut penetrasi maka lokasinya di tempat lain. Penetrasi merupakan istilah gay untuk berhubungan badan. “Tergantung kesepakatan, bisa di hotel atau di tempat kosnya,” tambah Ray. Berapa ongkosnya? “Ya tergantung kesepakatan.

Kadang juga tidak bayar bila sama-sama menginginkan,” tambah gay lain yang biasa disapa Hans saat ditemui di salah satu mal di Surabaya Timur. Surabaya sebagai Kota Metropolitan tak luput dari segudang problema sosialnya. Tak terkecuali masalah perkembangan hubungan sesama jenis antara kaum pria atau biasa disebut ‘generasi belok’.

Di Kota Pahlawan, tempat berkumpulnya para lelaki yang menyayangi sejenisnya atau temu darat tak asing lagi. Bak tempat lokalisasi, kawasan di tepi Sungai Kalimas menjadi tempat ‘kopi darat’ sekaligus melakukan transaksi seksual. Lokasi yang berada di jantung kota Surabaya ini disebutnya dengan Gang Pattaya. Yang pasti bukan di Thailand, tapi Pattaya satu ini ada di wilayah Gubeng, Surabaya.

Seorang gay sebut saja Aya ini mengakui bahwa di Gang Pattaya merupakan lokalisasinya generasi belok. Tidak semua gay memilih gang yang kalau malam penerangannya cukup minim itu. “Ramainya kalau Sabtu malam,” ujar pria berkaca mata yang juga menjadi gay saat bincang-bincang, Rabu (24/12/2014) malam. Di gang ini, para gay dari berbagai latar belakang dan usia berkumpul untuk mencari pasangannya. Di tempat tersebut terdapat warung. Dan pendatang baru yang datang pasti akan diselidiki oleh mereka.

Lokasi Gang Pattaya ini sekitar Jembatan Gubeng. Sebelum jembatan, ada gang ke arah kiri. Gang tersebut tembus hingga ke dekat Jembatan Kayun. Namun, untuk mobil tidak bisa karena lebar gang yang sempit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s