Pasar Klewer Solo Ludes Terbakar Selama 6 Jam


Upaya pemadaman kebakaran di Pasar Klewer Solo, Jawa Tengah hingga pagi ini masih berlangsung. Meski api sudah mengecil, namun bara api masih tersimpan di antara puing-puing bangunan dan kios yang tertutup. “Belum padam, masih upaya pemadaman. Masih ada bara api. Semua masih di lapangan,” ujar petugas Suku Dinas Pemadam Kebakaran Kota Solo, Hariyani saat dihubungi, Minggu (28/12/2014).

Hariyani mengatakan, angin kencang yang berhembus di sekitar lokasi menyebabkan bara api yang terpendam di dalam puing-puing bangunan berpotensi besar kembali. Titik-titik api masih terlihat di bangunan, meski tidak sebesar dini hari tadi. Asap juga masih mengepul pekat dari bangunan. “Jadi masih proses pemadaman, karena masih ada api. Kalau pendinginan itu kan api sudah tidak ada. Petugas juga belum bisa masuk karena belum padam,” ucapnya.

Besarnya kebakaran yang melanda Pasar Klewer, kata Hariyani, unit pemadam kebakaran yang diterjunkan ke lokasi ditambah. Totalnya mencapai lebih dari 20 unit yang didatangkan dari kota-kota se-Karesidenan Solo dan Semarang, seperti dari Sukoharjo, Sragen, Ungaran, dan Wonogiri.

Hingga pagi ini, sudah hampir 11 jam kebakaran di Pasar Klewer berlangsung. Sementara cuaca mendung saat ini juga menggelayut di langit kota Solo. Sesekali angin kencang berhembus sehingga membuat bara api menyala. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Surakarta Eko Nugroho mengatakan, timnya mengerahkan 20 kendaraan pemadam untuk mengatasi kebakaran di Pasar Klewer. Namun api sulit untuk dipadamkan karena dari puluhan hidran yang tersedia, hanya dua yang bisa digunakan.

“Angin cukup kencang sehingga api menyebar dengan cepat,” kata Eko di lokasi kebakaran, Ahad, 28 Oktober 2014. Ditambah lagi pasar itu berisi bahan-bahan yang mudah terbakar. Bahkan api tetap berkobar meski seluruh bangunan telah hangus Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Surakarta Subagiyo membenarkan banyak hidran yang tidak bisa digunakan. Kendala utamanya antara lain, mulut hidran tidak cocok dengan selang yang digunakan untuk menyalurkan air. “Akan kami evaluasi. Sekarang fokusnya pemadaman api dan menyelamatkan barang dagangan,” kata Subagiyo.

Pusat perdagangan tekstil dan garmen Pasar Klewer, Solo, ludes setelah terbakar selama sekitar enam jam. Api terlihat pertama kali di lantai dua sebelah ujung barat pasar pada sekitar pukul 20.00, Sabtu, 27 Desember 2014.
Suara gemuruh berkali-kali terdengar dari bagian dalam pasar. Diduga suara tersebut berasal dari tembok bangunan di lantai dua yang runtuh. Kondisi itu membuat bagian dalam kios di lantai satu juga terbakar meski bangunannya terlihat masih utuh dari luar.

Pusat perdagangan tekstil dan garmen Pasar Klewer Solo ludes terbakar pada Sabtu malam, 27 Desember 2014. Hingga saat ini belum diketahui apa penyebab musibah tersebut. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Nur Ali berjanji akan menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. “Kami telah menerjunkan tim laboratorium forensik untuk memeriksa,” katanya saat ditemui di lokasi kebakaran. Nur Ali menolak menyebutkan dugaan sementara penyebab kebakaran tersebut. Nur berjanji akan mengungkap hasil penyelidikan nanti. “Kami akan menyelidiki, termasuk ada tidaknya unsur kesengajaan dalam kejadian ini,” katanya.

Dari pantauan Tempo, mobil crime scene investigation milik polisi sudah berada di lokasi. Hanya saja mereka masih menunggu pemadaman selesai agar dapat mengerjakan tugasnya. Hingga dini hari, api masih terus berkobar meski seluruh bangunan pasar sudah hangus terbakar. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surakarta, Teguh Prakoso meminta agar Pemerintah segera mengambil kebijakan untuk membantu pedagang Pasar Klewer yang kiosnya terbakar. Menurutnya, selama ini Pasar Klewer telah menopang perekonomian kota tersebut.

Saat wawancara dengan Tempo pada Senin, 8 Desember 2014, juru bicara Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK), Kusbani mengatakan perputaran uang di Pasar Klewer mencapai Rp 17 miliar dalam sehari. “Meski omzet besar, keuntungan yang diambil pedagang tidak sebanding,” katanya. Kusbani mencontohkan, pedagang biasa mengambil untung Rp 100 untuk setiap potong baju seharga belasan ribu rupiah. “Sebab kebanyakan memang untuk dijual lagi oleh pembelinya,” katanya.

Pasar Klewer terdiri dari lantai dua lantai yang bisa menampung 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit. Seorang pedagang Pasar Klewer, Agus Tri mengatakan nilai transaksi di Pasar Klewer memang cukup besar. “Dalam kondisi paling sepi, satu kios bisa bertransaksi hingga Rp 10 juta sehari,” katanya. Padahal, di pasar tersebut terdapat seribu kios serta seribu lapak pedagang oprokan.

Menurut Agus, kebanyakan pedagang menyimpan barangnya di dalam pasar. “Nilai barangnya bisa mencapai Rp 100 juta,” kata pedagang asal Sukoharjo tersebut. Barang-barang itu tidak sempat diselamatkan saat kebakaran terjadi di pasar yang diresmikan Presiden Soeharto pada 9 Juni 1970 itu. Pasar Klewer sudah berkembang sejak 1942. Keberadaannya sebagai pusat pasar tekstil membuat Pasar Klewer menjadi tempat bagi para pedagang dari Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang berburu barang dagangan.

Pada zaman pendudukan Jepang, kawasan Pasar Klewer yang bersebelahan dengan Keraton Surakarta ini merupakan tempat pemberhentian kereta api. Saat itu, pasar ini lebih dikenal dengan nama Pasar Slompretan, yang berasal dari kata slompret yang berarti suara kereta api yang mirip bunyi terompet. Di Pasar Slompretan ini, para pedagang kecil menawarkan kain batik yang diletakkan di bahu sehingga barang dagangannya menjuntai tak kararuan alias kleweran. Dari sinilah muncul istilah Pasar Klewer.

Penyebab kebakaran yang menghanguskan sekitar seribu kios serta barang dagangan di Pasar Klewer Solo, Sabtu malam, 27 Desember 2014, hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Namun diduga akibat korsleting atau arus pendek listrik. “Dugaan sementara akibat korsleting (arus pendek),” kata juru bicara Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) Kusbani. Korsleting listrik menimbulkan percikan api yang membakar atap pasar di bagian timur. Angin yang bertiup kencang membuat api cepat membesar dan merembet.

Dalam waktu sekitar enam jam, pasar yang menjadi pusat perdagangan tekstil dan garmen itu ludes terbakar. Salah seorang pedagang, Wibowo, mengatakan instalasi listrik di pasar tersebut memang sudah tua. “Tahun lalu juga pernah korslet,” ujarnya. Pada saat itu, kebakaran bisa dicegah dan kabel yang rusak segera diperbaiki. Wibowo menjelaskan, pasar tersebut memang rawan korslet saat musim hujan. “Banyak atap yang bocor,” ucapnya. Air yang masuk membuat jaringan kabel di pasar tersebut menjadi rapuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s