Gunung Sinabung Meletus Lagi Diawal Tahun Baru


Gunung Sinabung kembali meletus pada Sabtu, 3 Januari 2015, disertai awan panas yang menjalar empat kilometer ke arah selatan. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan letusan terjadi sekitar pukul 08:33 hingga 09:19 WIB. “Tidak ada tambahan pengungsi karena letusan ini,” kata Sutopo melalui keterangan tertulis yang diterima Tempo, Sabtu, 3 Januari 2014.

Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, pada siang tadi tercatat 24 kali awan panas dari puncak ke arah selatan dengan tinggi abu mencapai 500-3.000 meter. Sutopo mengatakan status tetap siaga. Hujan abu, kata dia, terjadi di Desa Payung, Tiganderket, Selandi, Juhar, dan Laubaleng.

Sejauh ini, kata Sutopo, jumlah pengungsi mencapai 2.443 jiwa atau 795 kepala keluarga yang ditempatkan di tujuh titik pengungsian. Sutopo menjamin semua kebutuhan pengungsi tercukupi. “Petugas dari BPBD dan TNI juga melakukan patroli sepanjang jalur sungai Lau Borus untuk antisipasi ancaman banjir lahar dingin,” katanya.

Sementara itu, pembangunan 50 unit rumah di kawasan Siosar untuk relokasi bagi warga Desa Sukameriah, Bekerah dan Simacem telah berhasil diselesaikan. Begitu pula pembangunan jalan menuju lokasi hunian tetap. Pada 2015, akan dilanjutkan pembangunan 320 unit rumah dan fasilitas umum lainnya. Sutopo mengingatkan pemerintah daerah, khususnya Bupati Karo agar melakukan perencanaan dan implementasi relokasi warga dengan baik. “Prinsipnya build back better and safer. Jangan sampai nantinya warga kembali lagi ke tempat asal,” katanya. “Perlu jaminan bahwa warga akan memperoleh kehidupan yang lebih baik di tempat baru.”

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Muhamad Hendrasto, mengatakan guguran material dari kubah lava Gunung Sinabung baru runtuh 30 persen. “Dari 15 juta meter kubik volume kubah lava Gunung Sinabung, diperkirakan baru 5 juta sudah diturunkan, tapi suplai bertambah terus,” katanya di ruang kerjanya di Bandung.

Menurut dia, pertumbuhan kubah lava itu saat ini kembali meningkat, kendati belum sebesar yang terjadi pada Januari-Februari 2014. Pertumbuhan kubah lava setelah status turun menjadi siaga sejak April 2014 sempat melambat. Pertumbuhan kubah lava kembali meningkat sejak September 2014. “Puncaknya, terjadi awan panas pada 9 Oktober 2014 lalu, terjadi 25 kali dalam sehari, dan paling jauh mencapai 4,75 kilometer ke arah selatan,” katanya.

Pada September 2014, alat pemantau aktivitas kegempaan Gunugn Sinabung memantau terjadinya peningkatan jumlah gempa low frequency dan gempa hybrid. Keduanya menandakan terjadinya suplai magma. “Sehingga terjadi penumpukan magma,” ujarnya. Saat ini rata-rata suplai magma yang pembentuk kubah lava itu diperkirakan 5 meter kubik per detiknya. Awan panas yang terjadi beberapa waktu terakhir ini terjadi bukan akibat letusan, tapi karena runtuhnya kubah lava tersebut. “Dominan awan panas terjadi ke arah selatan dan tenggara,” tutur Hendrasto.

Hingga kini, kata dia, masih terus terjadi aktivitas guguran kubah lava akibat dorongan magma yang keluar dari perut Gunung Sinabung. Hal itu mengindikasikan potensi terjadinya letusan besar malah kecil. Potensi letusan besar bisa terjadi jika suplai magma berkumpul di kawah gunung itu dan tidak gugur. “Letusan masih bisa terjadi, tapi kemungkinan lontaran materialnya tidak akan lebih dari 3 kilometer,” ujarnya.

Hendrasto mengatakan, sampai 15 Oktober 2014, mulai terjadi penurunan jumlah peristiwa awan panas yang asalnya 10 per hari menjadi maksimal enam kali dalam sehari. “Gempa low frequency masih stabil, suplay masih terjadi,” tuturnya. Pusat Vulkanologi masih mempertahankan status Gunung Sinabung di level III atau siaga. Lembaga itu melarang aktivitas warga hingga radius 5 kilometer, khusus di arah selatan dan tenggara kawah aktif gunung itu yang selama ini menjadi daerah lintasan awan panas. Sedangkan arah lainnya, Pusat Vulkanologi meminta warga tidak mendekat dalam radius 3 kilometer untuk menghindari potensi letusan yang bisa melontarkan material pijar dalam radius itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s