Jemaah Salat Jumat Boleh Interupsi Khotbah Yang Ngawur dan Sia Sia


Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama berpendapat, jemaah salat Jumat boleh menginterupsi khatib yang menyampaikan hal-hal ngawur dalam ibadah itu. “Interupsi diperbolehkan asal didukung dengan pengetahuan yang benar,” kata Ustad Mahbub Maafi Ramdlan dari Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama seperti ditulis di laman. Pendapat yang membolehkan interupsi terhadap pengkhotbah dalam salat Jumat ini beredar di media sosial belakangan ini.

Mahbub mengatakan, dalam pandangan mazhab Maliki, jemaah salat Jumat diharamkan berbicara ketika imam sedang berkhotbah atau ketika ia duduk di antara dua khotbah. Larangan berbicara ini ditujukan kepada semua jemaah, baik yang mendengarkan khotbah maupun tidak dan baik yang berada di serambi masjid maupun jalan yang terhubung dengan masjid. Pendapat Mahbub ini merujuk pada perkataan Abdurrahman al-Juzairi dalam kitab al-Fiqh ‘ala Madzahib al-Arba`ah. Berikut ini kutipan lengkap yang menjadi dasar hukum bolehnya jemaah menginterupsi khotbah salat Jumat:

“Menurut mazhab Maliki, haram berbicara ketika khotbah dan ketika imam duduk di atas mimbar di antara dua khotbah. Dan dalam hal ini tidak ada perbedaan di antara orang yang mendengarkan khotbah atau tidak. Semua haram berbicara meskipun berada di teras masjid atau jalan yang terhubung dengan masjid. Hanya, keharaman berbicara tersebut (berlaku) sepanjang tidak terdapat dalam khotbahnya imam kesia-siaan atau ngawur (laghw), seperti memuji orang yang tak boleh dipuji, atau menghina orang yang tidak boleh dihina. Jika imam melakukan itu, maka gugurlah keharamannya (berbicara ketika khotbah berlangsung atau ketika ia duduk di atas mimbar di antara dua khotbah)” (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala Madzhabib al-Arba’ah, Bairut-Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, cetakan ke-2, 1424 H/2003 M, juz, 1, h. 361).

Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama berpendapat, jemaah salat Jumat boleh menginterupsi khatib saat berkhobtah. Jemaah boleh menyela khotbah jika khatib menyampaikan hal-hal yang ngawur. “Interupsi diperbolehkan asal didukung dengan pengetahuan yang benar,” kata Ustad Mahbub Maafi Ramdlan dari Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama seperti ditulis di laman nu.or.id. Pendapat yang membolehkan interupsi terhadap pengkhotbah dalam salat Jumat ini beredar di media sosial belakangan ini.

Lembaga Bahtsul Masail NU berada di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Lembaga ini mengkaji masalah-masalah aktual dengan menggunakan pendekatan fikih atau hukum agama Islam.

Mahbub menjelaskan, menurut pandangan Imam Maliki, jemaaah salat Jumat memang dilarang berbicara saat khatib berkhotbah atau ketika ia duduk di antara dua khotbah. Namun, kata dia, larangan berbicara itu bisa gugur ketika isi khotbah sang khatib ternyata menyimpang. “Misalnya, khatib itu memuji orang yang tak layak untuk dipuji atau mencaci orang yang sebenarnya tidak layak dicaci,” kata Mahbub. Pandangan itu, kata Mahbub, merujuk pada karya Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ala Madzhabib al-Arbaah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s