Tersangka Polisi Paedofil Bripka Candra Hermawan Cabuli Teman Anaknya


Seorang anggota polisi yang menjadi tersangka kekerasan seksual pada balita berusia 4,5 tahun di Ciracas, Jakarta Timur, diduga kerap melakukan aksi indisipliner. Pelaku yang bernama Candra Hermawan kini baru menapaki level bintara dengan pangkat Brigadir Kepala (Bripka). “Pelaku berada satu angkatan dengan saya saat sekolah bintara pada 1991,” kata Komisaris Sri Bhayakari, Selasa, 6 Januari 2015.

Candra merupakan tersangka kekerasan seksual pada balita 4,5 tahun di Ciracas, Jakarta Timur. Kejadian diduga terjadi di rumah tersangka pada Kamis, 18 September 2014. Sebab, korban kerap bermain di rumah Candra karena dia juga punya seorang anak balita. Kasus ini terbongkar karena korban mengeluh menahan sakit saat buang air kecil pada bibinya yang seorang perawat.

Sri menambahkan bila tersangka idealnya sudah menjabat pangkat yang lebih tinggi dibanding Bripka. “Seharusnya kalau dia tak bermasalah, minimal sudah berpangkat Ajun Komisaris Satu,” kata Sri. Pangkat yang disandang Candra sekarang lebih rendah dua tingkat dari yang seharusnya.

Akibat perbuatannya, pelaku yang merupakan anggota polisi kini dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku terancam hukuman penjara maksimal selama 15 tahun. “Bila persidangan menguatkan perbuatan pelaku, maka anggota polisi itu terancam dihentikan dengan tidak hormat,” Sri menjelaskan.

Edison Situmorang, ayah bayi usia 4,5 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual seorang polisi menjelaskan peristiwa itu dialami anaknya pada Kamis, 18 September 2014, di Ciracas, Jakarta Timur. Polisi bernama Candra Hermawana telah ditetapkan sebagai tersangka pelaku kekerasan seksual terhadap balita itu. Candra saat ini ditahan di rumah tahanan Kepolisian Jakarta Timur. Edison mengenang peristiwa itu bermula pada hari Sabtu, 20 September 2014, anaknya tiba-tiba tak mau masuk ke rumah sepulang dari sekolah. Anak balitanya takut masuk ke rumah dan hanya ingin diantar ke rumah bibinya. “Akhirnya saya antar ke rumah bibinya di Pengantin Ali, Jakarta Timur,” ujar Edison, Selasa, 6 Januari 2015.

Saat menginap di rumah bibinya yang berprofesi sebagai perawat, korban mengeluh bila menahan sakit saat sedang buang air kecil. Menurut Edison, bibi korban langsung memeriksa dan menemukan nanah di sekitar alat kelamin korban. “Anak saya semula tak mau cerita karena takut diancam oleh pelaku,” kata dia.

Mengetahui laporan dan pemeriksaan awal, bibi korban yang seorang perawat lantas membawa korban ke Rumah Sakit Harapan Bunda dan Rumah Sakit Polri, Kramat Jati pada Ahad dan Senin, 21-22 September 2014. Hasil visum, kata Edison, menunjukkan indikasi terjadi kekerasan seksual pada anak balitanya. “Ada indikasi juga bila kekerasan dilakukan lebih dari sekali,” dia menjelaskan.

Akibat perbuatannya, pelaku yang merupakan anggota polisi kini dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku terancam hukuman penjara maksimal selama 15 tahun. “Bila persidangan menguatkan perbuatan pelaku, maka anggota polisi itu terancam dihentikan dengan tidak hormat,” kata Sri.

Seorang anggota polisi berpangkat brigadir kepala diduga melakukan kekerasan seksual pada balita berumur 4,5 tahun. Tersangka bernama Candra Hermawan kini ditahan di rutan Kepolisian Jakarta Timur.

Kepala Bagian Humas Kepolisian Jakarta Timur, Komisaris Sri Bhayakari, tak membantah bila ada anggota polisi yang terjerat kasus kekerasan seksual pada balita. Polisi berbekal laporan keluarga korban dan visum yang dikeluarkan Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur telah menahan tersangka sejak tiga bulan lalu. “Penyidikan tersangka sudah selesai dan siap dilimpahkan ke kejaksaan,” kata Sri, Selasa, 6 Januari 2015.

Dihubungi secara terpisah, ayah korban yakni Edison Situmorang menjelaskan bila kejadian terjadi pada Kamis, 18 September 2014, di Ciracas, Jakarta Timur. Dia menyebut bila kekerasan seksual terjadi di rumah pelaku yang seorang polisi. Sebab, rumahnya berhadapan dengan rumah tersangka dan cuma dipisahkan ruas jalan. Selain itu, kata Edison, anak perempuannya yang menjadi korban kekerasan seksual merupakan kawan bermain anak tersangka. “Mereka bergantian kadang main di rumah saya atau di rumah tersangka,” kata Edison.

Kasus yang menimpa balita di Ciracas ini sangat ironis. Sebab, Komisi Perlindungan Anak pernah menyebut DKI Jakarta merupakan wilayah yang tak aman bagi anak-anak. Sebab, 814 kasus kekerasan seksual pada anak terjadi di DKI selama 2014. Bahkan, 415 kasus diantaranya terjadi di Jakarta Timur.

Akibat perbuatannya, pelaku yang merupakan anggota polisi kini dijerat dengan Pasal 82 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku terancam hukuman penjara maksimal selama 15 tahun. “Bila persidangan menguatkan perbuatan pelaku, maka anggota polisi itu terancam dihentikan dengan tidak hormat,” kata Sri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s