5 Tahun Buron, Pengusaha Kelapa Sawit Budiono Tan Berhasil Ditangkap Polisi


Bagi aparat Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, membekuk buron kakap Budiono Tan bukan perkara mudah. Pengusaha kelapa sawit besar di Kalimantan itu dikenal lihai mengelabui polisi. “Sempat terdeteksi di Malang dan Jakarta. Dia juga sudah dicekal untuk ke luar negeri,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Barat Komisaris Besar Widodo, Sabtu, 10 Januari 2015.

Kepala Polda Kalimantan Barat Brigadir Jenderal Arief Sulistyanto, yang menjabat sejak Mei 2014, menyatakan kasus Budiono Tan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang mesti dia tuntaskan. Dia berharap para petani sawit di Kabupaten Ketapang yang mencari keadilan segera mendapatkan kepastian hukum. “Kasusnya sudah P21,” ujarnya.

Selasa lalu, 6 Januari 2015, Polda Kalimantan Barat menurunkan tujuh personel untuk melacak dan menangkap Budiono. Dipimpin perwira polisi berpangkat komisaris, tim itu mendeteksi keberadaan Budiono di Jakarta Selatan. Bekerja sama dengan Kepolisian Resor Jakarta Barat, tim itu akhirnya menangkap Budiono. Sabtu malam ini, Budiono diterbangkan ke Pontianak dengan penerbangan terakhir.

Budiono masuk daftar pencarian orang dalam kasus penggelapan dan penipuan terhadap ratusan petani sawit, yang merupakan petani plasma perusahaan PT Benua Indah Grup yang ia pimpin. Sejak 2009, meski Kepala Polda Kalbar telah berganti tiga kali, kasus Budiono tak juga berhasil dituntaskan.

Kepolisian Daerah Kalimantan Barat bekerja sama dengan Kepolisian Resor Jakarta Barat membekuk buron Budiono Tan, pengusaha sawit. Mantan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat ini disangka menggelapkan 1.535 sertifikat petani sawit di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

“Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Pol Widodo sudah berangkat ke Jakarta untuk menjemput langsung DPO kita, ” ucap Kapolda Kalbar Brigjen Pol Arief Sulistyanto, Sabtu, 10 Januari 2015. Arief menyatakan Budiono Tan akan dibawa ke Pontianak secepatnya sehingga bisa segera diserahkan ke Kejaksaan Tinggi Kalbar untuk menjalani pemeriksaan hukum. Bekerja sama dengan Polres Jakarta Barat, Polda Kalbar sejak Selasa, 7 Januari 2015, mengutus tim khusus berisi tujuh personel untuk melacak keberadaan Budiono. Tim ini menyisir beberapa tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian Budiono.

Budiono masuk daftar pencarian orang dalam kasus penggelapan dan penipuan terhadap ratusan petani sawit, yang merupakan petani plasma perusahaan PT Benua Indah Grup yang ia pimpin. Sejak 2009, dengan tiga kali pergantian Kapolda Kalbar, kasus Budiono tak juga berhasil dituntaskan.

“Tersangka tidak kooperatif dalam penyidikan. Dipanggil untuk memeriksa keterangan saksi yang menguntungkan saja tidak datang,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar Kombes Pol Widodo. Widodo menambahkan, hanya pengacara Budiono yang bolak-balik meminta penyidik membuka blokir terhadap dana Rp 7 miliar lebih di Bank Danamon Kabupaten Ketapang.

Budiono Tan dilaporkan pada 21 Juli 2009 ke Polda Kalbar karena menggelapkan uang petani sawit Rp 300 miliar. Uang tersebut adalah hasil panen selama empat bulan (Juni, Juli, Agustus, dan September 2009) senilai Rp 119 miliar yang belum dibayarkan, uang petani yang tidak disetorkan ke Bank Mandiri Rp 77 miliar, dan uang setoran petani 30 persen sebanyak Rp 26 miliar.

Kepala Subdit I Ditreskrimsus Polda Kalbar AKBP Sudarmin menambahkan, keterangan 35 saksi dari perusahaan dan petani sudah diambil. “Tersangka dijerat dengan Pasal 372 dan 378 KUHP tentang Penggelapan dan Penipuan,” katanya. Kasus ini menjadi sulit ditangani karena Polda Kalbar kerap mendapat intervensi dari pihak-pihak tertentu.

Bahkan, pada 2013, dalam rapat kerja Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat dengan Polri, seorang anggota Dewan menyatakan kasus Budiono hanya masalah perdata. Sebelumnya, sumber di Polda Kalbar mengatakan anggota DPR tersebut meminta polisi tidak melanjutkan penyidikan kasus tersebut. “Saat ini, siapa pun yang menanyakan kasus ini ke penyidik dicatat dan dilaporkan ke Kapolda. Kapolda kemudian akan melaporkan ke Kapolri. Ini agar bebas intervensi,” kata Widodo.

Pengusaha perkebunan kelapa sawit dan kayu di Kalimantan Barat, Budiono Tan, tiba di Bandar Udara Supadio, Pontianak, Sabtu, 10 Januari 2015, pukul 20.34 WIB. Setibanya di terminal kedatangan, Budiono langsung diminta mengenakan baju tahanan dan diborgol. Hal ini menarik perhatian masyarakat, terutama penumpang pesawat Lion Air JT-716, yang dinaiki Budiono dan tujuh personel Kepolisian Daerah Kalimantan Barat. Selama 25 menit Budiono Tan menandatangani berkas-berkas berita acara penahanan sebelum keluar dari terminal. Beberapa kolega Budiono Tan tampak menjemput. Di antaranya mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Barat, Andreas Lani. Tak hanya itu, seorang petinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat juga tampak dalam deretan kolega Budiono.

Pemulangan Budiono sebagai tersangka dikawal oleh Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar Polisi Winarto. Dia dan tujuh personelnya mengenakan jaket berwarna merah hati bertuliskan “Reserse Polda Kalbar”. “Yang bersangkutan kami tangkap di kediamannya kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, sekitar pukul 04.00 WIB,” kata Winarto. Tidak ada perlawanan dari Budiono saat penangkapan dilakukan.

Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Arief Sulistyanto mendatangi ruang Subdit I Direktorat Reserse Kriminal Khusus, setelah Budiono Tan, tiba di Polda Kalimantan Barat, Sabtu 10 Januari 2015. “Bapak Budiono, saya Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyanto, yang memerintahkan untuk menangkap dan menahan bapak,” kata Arief. Budiono duduk di kursi ruang penyidik, sementara para penyidik berdiri dengan sikap siap di sekeliling ruangan. Arief datang dengan wajah gusar. Beberapa petinggi Polda Kalbar juga mendampingi.

Kepada para penyidik Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar, Arief menekankan untuk tidak takut terhadap tekanan pihak mana pun. Penyidik harus memberlakukan semua tersangka sama di mata hukum. Arief menekankan lagi kepada Budiono bahwa dia yang memerintahkan agar Budiono sebagai tersangka diborgol dan mengenakan baju tahanan. “Bapak harus mempertangungjawabkan perbuatan bapak,” katanya. Dia juga menegur Budiono, yang mempersulit tugas penyidik. “Bapak tidak perlu telepon ke mana-mana. Saya siap mempertaruhkan jabatan saya untuk menangkap bapak. Saya siap dipecat, kalau menangkap bapak dinyatakan salah,” kata Arief. Budiono hanya menunduk takzim.

Kepada wartawan Arief menyatakan perlakuan mengenakan baju tahanan diberlakukan untuk setiap tahanan yang dibawa dari luar kota. “Anggota saya saja, Idha Endri Prastiono mengenakan baju tahanan, masak dia tidak” katanya. Arief menyatakan mendukung penuh anggotanya untuk menuntaskan kasus Budiono yang sudah menjadi tunggakan kasus sejak tahun 2009. Saat ini, Budiono masih menjalani serangkaian pemeriksaan untuk melengkapi berita acara penangkapan. Untuk selanjutnya, Budiono mendekam di rumah tahanan Polda Kalbar.

Bagi aparat Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, membekuk buron kakap Budiono Tan bukan perkara mudah. Pengusaha kelapa sawit besar di Kalimantan itu dikenal lihai mengelabui polisi. “Sempat terdeteksi di Malang dan Jakarta. Dia juga sudah dicekal untuk ke luar negeri,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalimantan Barat Komisaris Besar Widodo, Sabtu, 10 Januari 2015.

Menurut Widodo, pengejaran Budiono dilakukan sejak 2010. Karena Budiono punya banyak kolega, rencana penyergapan polisi kerap bocor. Sumber di Polda Kalimantan Barat mengatakan empat nomor telepon seluler Budiono Tan mendadak tidak aktif sejak ditetapkan sebagai tersangka. Kepala Polda Kalimantan Barat Brigadir Jenderal Arief Sulistyanto, yang menjabat sejak Mei 2014, menyatakan kasus Budiono Tan menjadi salah satu pekerjaan rumah yang mesti dia tuntaskan. Dia berharap para petani sawit di Kabupaten Ketapang yang mencari keadilan segera mendapatkan kepastian hukum. “Kasusnya sudah P21,” ujarnya.

Selasa lalu, 6 Januari 2015, Polda Kalimantan Barat menurunkan tujuh personel untuk melacak dan menangkap Budiono. Dipimpin perwira polisi berpangkat komisaris, tim itu mendeteksi keberadaan Budiono di Jakarta Selatan. Bekerja sama dengan Kepolisian Resor Jakarta Barat, tim itu akhirnya menangkap Budiono. Sabtu malam ini, Budiono diterbangkan ke Pontianak dengan penerbangan terakhir. Budiono masuk daftar pencarian orang dalam kasus penggelapan dan penipuan terhadap ratusan petani sawit, yang merupakan petani plasma perusahaan PT Benua Indah Grup yang ia pimpin. Sejak 2009, meski Kepala Polda Kalbar telah berganti tiga kali, kasus Budiono tak juga berhasil dituntaskan.

Pengusaha perkebunan kelapa sawit dan kayu di Kalimantan Barat, Budiono Tan, tiba di Bandar Udara Supadio, Pontianak, Sabtu, 10 Januari 2015, pukul 20.34 WIB. Setibanya di terminal kedatangan, Budiono langsung diminta mengenakan baju tahanan dan diborgol.

Tapi, agaknya Budiono merasa keberatan atas permintaan itu. Dia mendapat pembelaan dari koleganya yang menjemput di bandara. Namun Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Ajun Komisaris Besar Polisi Winarto berkukuh menjalankan perintah Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat Arief Sulistyanto. Setelah diborgol, Budiono menutupi borgol itu dengan jaket hitam. Setibanya di Markas Polda Kalbar, Budiono langsung diperiksa kesehatannya oleh petugas Kedokteran dan Kesehatan Polda Kalbar. “Kami akan segera persiapan berkas-berkas untuk dilengkapi dan diserahkan ke Kejaksaan Tinggi Kalbar untuk tahap dua,” kata Winarto.

Pengusaha perkebunan kelapa sawit dan kayu di Kalimantan Barat, Budiono Tan, tiba di Bandar Udara Supadio, Pontianak, Sabtu, 10 Januari 2015, pukul 20.34 WIB. Setibanya di terminal kedatangan, Budiono langsung diminta mengenakan baju tahanan dan diborgol.

Hal ini menarik perhatian masyarakat, terutama penumpang pesawat Lion Air JT-716, yang dinaiki Budiono dan tujuh personel Kepolisian Daerah Kalimantan Barat. Selama 25 menit Budiono Tan menandatangani berkas-berkas berita acara penahanan sebelum keluar dari terminal. Beberapa kolega Budiono Tan tampak menjemput. Di antaranya mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kalimantan Barat, Andreas Lani. Tak hanya itu, seorang petinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat juga tampak dalam deretan kolega Budiono.

Pemulangan Budiono sebagai tersangka dikawal oleh Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kalbar Ajun Komisaris Besar Polisi Winarto. Dia dan tujuh personelnya mengenakan jaket berwarna merah hati bertuliskan “Reserse Polda Kalbar”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s