Categories
Terorisme

Sakit Hati Anak Diperkosa … Bapak Di Bekasi Kirim Bom Pada Pelaku


Tim Detasemen Khusus 88 Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mengungkap misteri paket bom di Kampung Ciketing Asem RT 02/03, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi. Pelaku bernama Eko Suprapto, 47 tahun, menyerahkan diri, Kamis dinihari, 26 Februari 2015.

“Sebelumnya anggota sudah ke rumahnya, tapi tersangka tidak ada,” kata Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono, Kamis, 26 Februari 2015. Setelah Eko menyerah, petugas membekuk seorang perempuan teman dekat Eko yang menitipkan paket bom bernama C. Via Triwi, 45 tahun, di Jakarta Selatan.

Unggung memastikan aksi teror bom yang dilakukan tersangka tak berkaitan dengan aksi terorisme pada umumnya. Akan tetapi, menurut dia, motif tersangka karena sakit hati kepada orang yang diteror. Sebab, orang yang diteror itu diduga telah memperkosa anaknya sebanyak dua kali. “Dia (Eko) sakit hati degan C (Cece) karena memperkosa putrinya dua kali,” kata Unggung.

Unggung mengatakan bom yang digunakan untuk meneror memiliki daya ledak rendah. Tersangka, kata dia, merakit sendiri bom tersebut di rumah, lengkap dengan detonator, timer, dan bahan peledaknya. “Tersangka belajar di kampung, pernah membuat bom ikan,” kata Unggung.

Meski memiliki daya ledak rendah, jika mengenai orang dari jarak dekat bom ini bisa mengakibatkan luka parah. Karena itu, pada saat Eko menyerahkan ke kepolisian, tim Gegana segara meledakkan paket di sekitar Pos Polisi Mustikajaya. “Bom dilengkapi dengan anti sentuh dan goyang. Jika dibuka akan terjadi ledakan,” kata Unggung.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota Komisaris Ujang Rohanda mengatakan Cece, si penerima bom, telah ditetapkan sebagai tersangka kasus pemerkosaan. Penyidik telah menahannya dan menjerat dia dengan pasal Undang-Undang Perlindungan Anak. “Diperkosanya ketika korban masih berusia 14 tahun atau lima tahun lalu,” kata Ujang.

Menurut Ujang, peristiwa pemerkosaan dilakukan pada saat Cece masih berprofesi sebagai tukang las keliling. Ketika melintas di sekitar rumah korban, tersangka Cece membujuk dan membawa korban ke hotel di kawasan Tambun, Kabupaten Bekasi, untuk digauli. “Sampai sekarang korban masih trauma,” kata Ujang.

Kepada wartawan, tersangka Eko mengatakan bahwa aksi teror bom yang ia lakukan murni sakit hati. “Saya lakukan karena anak,” kata Eko singkat. Kini Eko dan temannya, Via, mendekam di sel tahanan Polresta Bekasi Kota. Keduanya dijerat dengan pasal tindak pidana terorisme.

Sebelumnya, Cece, pengusaha las di Ciketing Asem, Mustikajaya, menerima paket bom yang dibungkus kado. Paket itu diantarkan oleh juru parkir, Tasrip, dengan imbalan Rp 50 ribu. Tasrip mengantarnya dari minimarket di Bantargebang. Tasrip mengaku disuruh oleh perempuan yang tak menyebutkan identitasnya.

Categories
Terorisme

Bom Meledak Di Mal ITC Depok


Kepala Kepolisian Resor Kota Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan penyidik masih menelisik penemuan bom rakitan di Mal ITC Depok. Sejauh ini sudah tujuh saksi diperiksa. “Rekaman kamera CCTV juga masih dipelajari,” kata Ahmad, Jumat, 27 Februari 2015. Menurut Ahmad, sebagian besar proses penyelidikan diambil oleh Detasemen Khusus Anti Teror. Alasannya, tim Densus lebih berpengalaman dalam menangani kasus-kasus semacam ini. “Karena ini berkaitan dengan teror, kan,” kata Subarkah.

Bom rakitan yang sempat menimbulkan ledakan itu ditemukan di toilet pria lantai dua Mal ITC Depok pada 23 Februari 2015. Tidak ada kerusakan dan korban akibat ledakan itu. Namun, pengunjung mal menjadi panik dan berhamburan keluar. Bom rakitan itu ditempatkan dalam kardus bekas minuman kemasan. Seorang petugas kebersihan sebenarnya sudah melihat kardus tersebut sejak pukul 16.00. Namun karena mengira benda itu adalah barang pengunjung yang tertinggal, petugas hanya membiarkan saja. Setelah benda itu mengeluarkan ledakan sekitar pukul 17.30, barulah isi kardus menjadi perhatian.

Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail meyakinkan Kota Depok tetap aman meskipun sebuah aksi pengeboman terjadi di sebuah mal di Kota Depok. “Sebagaimana yang sudah dijelaskan, bahwa Depok masih tetap aman,” kata Nur Mahmudi di Balai Kota Depok, Selasa, 24 Februari 2015. Nur Mahmudi memastikan kepolisian tetap bekerja untuk mengamankan Kota Depok. Dalam kesempatan yang sama, Nur Mahmudi juga mengimbau warga Depok tetap tenang dengan situasi yang ada saat ini.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30 WIB, Senin, 23 Februari 2015. Ledakan itu diketahui terjadi di toilet pria di lantai 2 ITC Depok. Seorang petugas kebersihan mal tersebut, Sony, mengatakan sudah melihat bungkusan benda mencurigakan itu berada di area toilet sekitar pukul 16.00. Sony awalnya menduga barang tersebut adalah milik pengunjung yang tertinggal. Kemudian, sekitar pukul 18.00, benda itu mengeluarkan ledakan ringan sebanyak satu kali.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Saat meledak, pengunjung langsung berhamburan keluar. Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

Kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap ledakan yang terjadi di ITC Depok. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Martinus Sitompul mengatakan polisi sudah mendapat bukti berupa rekaman CCTV. “Sedang kami periksa dan analisis,” ujar Martinus, Selasa, 24 Februari 2015. Selain memeriksa saksi dan CCTV, polisi masih menyelidiki barang yang membuat ledakan di pusat perbelanjaan tersebut. “Barang buktinya sudah diserahkan ke Gegana Korps Brimob,” ucapnya.

Sementara ini, secara kasat mata, barang yang menimbulkan letupan ini disimpan di dalam kardus. Terdapat komponen berupa detonator, timer, kabel, dan baterai. “Kalau dirangkai, memang bisa menimbulkan ledakan,” tuturnya. Ada pula komponen cairan dalam kardus tersebut. “Cairan itu masih kami dalami mengandung apa (yang menimbulkan letupan),” kata Martinus. Letupan ini terjadi di area toilet lantai 2 ITC Depok, Senin petang, 23 Februari 2015. Sebelumnya, petugas kebersihan sempat menemukan kardus mencurigakan di lokasi tersebut.

Kepala Kepolisian Resor Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah mengatakan polisi telah memeriksa lima saksi dalam peristiwa ledakan di ITC Depok. Pemeriksaan saksi dilakukan sejak malam hingga Selasa pagi. Namun, sejauh ini, keterangan saksi belum mengarah kepada orang yang diduga meletakkan benda menyerupai bom rakitan di tempat itu.

“Saksi hanya mengetahui barang itu ada, mendengar suara ledakan. Sebatas mendengar suara ledakan saja,” ujar Ahmad Subarkah, Selasa, 24 Februari 2015. Para saksi adalah pekerja ITC, petugas kebersihan, pekerja wahana permainan anak di ITC Depok, dan petugas keamanan. Tidak satu pun dari mereka yang melihat atau mengetahui ciri-ciri pelaku. Kepolisian berencana memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV yang dipasang di mal tersebut.

Semalam, sebuah ledakan kecil terjadi di ITC Depok sekitar pukul 17.30. Ledakan diketahui terjadi di toilet pria lantai 2 ITC Depok. Toilet itu bersebelahan dengan arena bermain anak-anak. Tidak ada korban dan kerusakan dalam peristiwa tersebut.

Categories
Jakarta Banjir

Banjir 2015 Di Jakarta Bukan Karena Masalah Pompa Air dan Bukan Banjir Kiriman


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut banjir di tahun 2015 ini bergantung pada peran pompa air. Namun pengamat perkotaan Nirwono Joga berpandangan berbeda. Menurut dia, yang sebenarnya terjadi adalah genangan-genangan lokal akibat drainase yang buruk. “Saya garis bawahi, banjir kemarin tidak banyak sangkut pautnya dengan pompa. Ini terkait dengan genangan lokal sebenarnya. Tidak ada sungai dan waduk yang meluap,” kata Nirwono Joga, Rabu (25/2/2015).

Hal-hal yang membuktikan bahwa pompa tidak berperan banyak adalah tidak banyak air mengalir ke pantai utara Jakarta. Peristiwa yang terjadi adalah air tergenang di kawasan-kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan air, namun berubah fungsi menjadi tempat lain, seperti permukiman. Joga menilai, beberapa daerah yang terkena banjir cukup parah adalah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Ketiga wilayah itu dianggap memiliki drainase yang sangat buruk. Tidak mengherankan, bila banjir di ketiga wilayah tersebut lebih lama surut dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Joga juga tidak sepandangan dengan Ahok yang mengatakan ukuran darurat banjir di Jakarta adalah kawasan Kampung Pulo. Menurut Joga, Ahok tidak mengerti dan tidak bisa membedakan karakteristik banjir tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Tahun 2014, banjir disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor banjir kiriman dari Bogor dan sekitarnya, hujan lebat di daerah Kampung Pulo dan Bidara Cina, serta ditambah dengan terjadinya bulan purnama yang mengakibatkan rob tinggi di pantai utara Jakarta. Jika mendapat banjir kiriman, kemungkinan besar air di sungai akan meluap.

“Makanya enggak bisa bilang Kampung Pulo belum banjir. Orang-orang di sana marah kan waktu dengar Pak Gubernur bilang begitu. Tapi dari sini jelas terlihat kalau banjir tahun ini terjadi di tempat-tempat yang drainasenya buruk,” tambah Joga. Menurut Joga, jika indikator banjir Jakarta dari banjir di Kampung Pulo yang meluap, maka pemerintah provinsi (Pemprov) DKI akan menggunakan alasan banjir kiriman. Namun banjir 2015 ini tidak ada banjir kiriman sehingga semua banjir yang terjadi menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Pemprov DKI.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dianggap tidak mengerti akar masalah banjir yang melanda Jakarta setiap tahunnya. Pria yang kerap disapa Ahok itu pun mengingkari janji bahwa banjir di Jakarta akan surut hanya dalam waktu satu hari. “Yang dijanjikan dalam waktu satu hari genangan air akan hilang, bahkan kenyataannya lebih dari empat hingga lima hari air tidak hilang. Berarti kan di sini ada sistem yang tidak bekerja,” ujar pengamat perkotaan, Nirwono Joga, Rabu (25/2/2015).

Joga menilai, Basuki menganggap banjir di Jakarta sama dengan banjir tahun kemarin. Namun, kondisinya berbeda. Banjir tahun 2014 disebabkan oleh hal eksternal, seperti curah hujan yang tinggi di daerah hulu, seperti Bogor dan sekitarnya, sehingga ada banjir kiriman dan efek bulan purnama mengakibatkan rob yang cukup tinggi.

Bahkan, Basuki menyamakan banjir di Jakarta dalam keadaan darurat apabila banjir di Kampung Pulo sudah parah. Padahal, sebut Joga, banjir beberapa waktu kemarin tidak merendam Kampung Pulo, malahan tempat lain seperti perumahan-perumahan mewah yang seharusnya jadi tempat peresapan air. “Kampung Pulo yang biasa banjir justru aman kan. Statement Pak Ahok soal Kampung Pulo itu menunjukkan tidak bisa membedakan banjir 2014 dengan 2015,” tambah dia.

Joga menyayangkan bahwa selama 100 hari pemerintahannya, Basuki terkesan tidak berdaya menghadapi pihak developer dan perusahaan properti besar di Jakarta. Padahal, dengan maraknya pembangunan yang dilakukan terus-menerus, Jakarta semakin kehilangan daerah peresapan air. Maka, banjir Jakarta kemarin disebut Joga sebagai konsekuensi logis dari perubahan tata ruang.

Ketegasan Basuki mengontrol pembangunan di Jakarta juga ikut dipertanyakan. Sampai kapan pembangunan akan menyasar daerah-daerah peresapan air dan sampai kapan ruang terbuka hijau (RTH) dipangkas terus-menerus? “Itu menunjukkan Pemprov DKI belum siap untuk mengatasi banjir. Kalau saya kasih nilai, cuma 6,” kata Joga.

Categories
Kriminalitas

Kisah Kampung Maling Di Lampung dan Hubungannya Dengan Kelompok Begal Motor Di Jabotabek


Para begal beraksi hampir di semua wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang. Mereka tak hanya mengincar sepeda motor, tapi juga memperdaya pemiliknya. Tak sedikit korban yang nyawanya melayang. Polisi kewalahan mengejar dan menghentikan kebrutalan mereka. Kasus terbaru menimpa mantan Pemimpin Redaksi Jurnas.com Rihad Wiranto di jalan layang Klender, Jakarta Timur, Selasa, 24 Februari 2015.

Berikut ini gambaran kelompok, aksi, dan berbagai modus mereka.

Kelompok Lampung
Modus: Mencuri sepeda motor di rumah kos.
Jumlah peristiwa: delapan kali di Jakarta Utara, tujuh kali di Jakarta Timur, dan lima kali di Bekasi.
Komplotan: Kenni alias Bagas, Gani alias Meku, dan Komeng.
Penangkapan: Jalan Kincir Koja, Jakarta Utara, pada Mei 2014.
Sebutan polisi: Kelompok Lampung.

Kelompok Depok
Modus: Merekrut dan melibatkan anak sekolah untuk menjadi bagian dari jaringan begal.
Daerah operasi: Depok dan sekitarnya.
Jumlah komplotan: tujuh orang, lima orang diringkus Polda Metro Jaya.
Jejak kejahatan: Membegal Bambang Syarif Hidayatullah, 23 tahun, di Jalan Juanda, Depok, Jawa Barat, pada 5 Januari 2015.
Sebutan polisi: Kelompok Depok.
Barang bukti: 16 senjata rakitan, 46 butir peluru, 4 pucuk senjata tajam, 1 pisau komando, 3 unit ponsel, 1 unit televisi, dan 26 kendaraan bermotor.

Kelompok Bekasi
Modus: Setiap beraksi sering menembak korban sampai tewas.
Jumlah komplotan: 13 orang; 3 ditembak mati, 10 diringkus. Di antaranya berinisial AS, 34 tahun, DM (29), CS (33), dan IH (21).
Lokasi kejadian: Dua di antaranya di Karawang, Jawa Barat, dan di Jalan Pulo Siri Barat Raya, Jaga Setia, Bekasi.
Barang bukti: Empat senjata api rakitan.

Kelompok Tangerang
Modus: Mencuri sepeda motor di kawasan perumahan di Tangerang Selatan.
Anggota komplotan: AR alias RD, 26 tahun, RN, HR, dan CN.
Korban: Djuli Ervano, wartawan TVRI, yang ditembak dan meninggal di Villa Bintaro Indah, Jombang, Tangerang Selatan, pada 17 Maret 2012.

Dua desa itu bernama Tebing dan Negara Bathin. Desa Tebing berada di Kecamatan Mlinting dan Negara Bathin di Kecamatan Jabung. Tak ada akses roda empat atau angkutan umum menuju dua desa tersebut. Yang ada hanyalah ojek sepeda motor. Dari Bandar Lampung, dua desa itu bisa dijangkau dengan waktu tempuh sekitar empat jam perjalanan sepeda motor. Desa Tebing berpenduduk tak kurang dari 5.000 jiwa. Sedangkan Negara Bathin mendekati 10 ribu orang.

Sebagian penduduknya bekerja di ladang. “Warga kami kebanyakan sebagai petani,” kata Bukhori, Kepala Desa Tebing, suatu ketik. Kepolisian setempat kerap menyebut Kecamatan Mlinting dan Jabung lokasi aman bagi penjahat, termasuk begal sepeda motor, yang akhir-akhir ini merajalela di Jakarta dan sekitarnya.

Pamor Desa Tebing dan Negara Bathin menjadi suram karena aparat kepolisian sering datang ke tempat ini untuk mencari komplotan begal. Misalnya, dalam kasus tewasnya satpam di Bogor bernama Suhardi pada 2012, yang ditembak begal. Kepolisian Resor Bogor kemudian mencari pelaku begal jaringan Sandi alias Unyil ke dua desa tadi. Berkali-kali pula Unit Kejahatan dan Kekerasan Kepolisian Daerah Lampung menangkap pembegal di sana. Petugas menyita amunisi dan senjata api dari warga desa ini.

Cap “Kampung Begal” sepertinya sudah begitu melekat pada dua desa ini. Maraknya aksi begal sepeda motor dalam sebulan terakhir di Jakarta dan sekitarnya membuat nama jaringan Lampung kembali muncul. Kelompok ini mencuri sepeda motor di berbagai rumah kos. Menurut catatan Polda Metro Jaya, mereka 8 kali beraksi di Jakarta Utara, 7 kali di Jakarta Timur, dan 5 kali di Bekasi. Kepala Desa Tebing, Bukhori, menolak jika dikatakan desanya dicap sebagai kampung bramacorah. Walaupun, ia mengakui, sebagian kecil warganya memang pernah terlibat dalam tindak kejahatan. “Ada yang menjadi begal, tapi itu hanya 10 persen,” katanya.

Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Makassar Komisaris Besar Fery Abraham menginstruksikan kepada semua anggotanya untuk menembak di tempat pelaku kriminal jalanan yang semakin meresahkan. Kejahatan jalanan yang dimaksud adalah begal dan geng motor. “Semua kejahatan yang membahayakan, tembak di tempat,” kata Feri seusai pelantikan pengurus Bantuan Komunikasi Polisi (Bankompol) Merpati dan peluncuran mobil Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) di Markas Polrestabes Makassar, Selasa, 24 Februari 2015. Ia menegaskan kebijakan itu diambilnya guna merespons keresahan masyarakat.

Fery mengatakan instruksi tembak di tempat berlaku bagi pelaku kejahatan tanpa memandang umur, baik dewasa maupun remaja. Bila sudah mengancam maupun membahayakan keselamatan warga dan petugas, Fery memerintahkan anggotanya untuk melumpuhkan pelaku. Fery mengatakan kondisi Kota Makassar sebenarnya masih cukup kondusif. Buktinya, aktivitas masyarakat dari pagi sampai subuh masih berlangsung. Hanya, memang ada beberapa kejadian. “Namun beberapa pelakunya sudah kami tangkap,” tuturnya.

Wali Kota Makassar Moh Ramdhan “Danny” Pomanto mendukung dan mengapresiasi program kepolisian. Danny pun menuding isu Makassar tidak aman dibangun secara sistematis oleh kelompok tertentu melalui media sosial. “Kenapa jadi heboh? Itu karena ada propaganda di medsos,” katanya. Guna membantu kepolisian menciptakan keamanan dan ketertiban masyarakat, Danny sudah menempuh beberapa cara. Di antaranya, memerintahkan pihak sekolah untuk merazia tas siswa yang dikhawatirkan membawa senjata tajam maupun obat terlarang, serta mengantisipasi apotek yang menjual obat daftar G.

Danny menambahkan, pihaknya juga mengantisipasi peredaran lem yang terkadang digunakan remaja serta mewajibkan pengusaha untuk memasang kamera pengawas dan lampu terang di depan tokonya. “Kami juga mendatangi rumah-rumah dari anak-anak yang diduga terlibat geng motor,” ucapnya.

Categories
Kriminalitas

Kronologi Pembakaran Begal Motor Di Pondok Aren


Sebelum dibakar warga di Pondok Aren, Tangerang Selatan, begal motor yang tertangkap sempat dipukuli terlebih dahulu. Begal ini juga sempat ditelanjangi warga yang kesal akan aksi bandit ini. Bagaimana kronologinya? “Pelakunya sempat dipukuli dulu,” kata Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung, Selasa (24/2/2015). Begal motor yang dibakar warga ini membawa pedang saat beraksi. Berikut ini adalah kronologi pembakaran maling motor tersebut berdasrakan data Humas Polda Metro Jaya:

– Pukul 01.00 WIB
Sehabis membeli makanan, korban pembegalan Wahyu (22) dan Sri (20) menaiki motor Honda Beat untuk kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang mereka diikuti empat orang yang menaiki dua sepeda motor.

– Pukul 01.15 WIB
Keempat pelaku pembegalan lalu menghadang motor korban di Jalan Masjid Baiturrahim RT 02/RW 03 Kelurahan Pondok Karya, Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan. Mereka menghadang Wahyu dan Sri dengan mengacungkan pedang sambil meminta korban untuk berhenti

– Pukul 01.30 WIB
Namun Wahyu dan Sri memberikan perlawanan. Pedang yang digunakan salah seorang pelaku pembegalan ini dirampas Sri, akibatnya salah satu pelaku yang memegang pedang terjatuh. Korban pun berteriak hingga didengar warga sekitar yang kemudian mengepung pelaku. Tiga orang pelaku pembegalan bisa kabur, namun satu orang begal yang tertinggal jadi bulan-bulanan warga. Setelah itu, massa kemudian membakar pelaku pembegalan yang belum diketahui identitasnya itu.

Saat ini petugas masih memeriksa saksi-saksi. Petugas juga mengamankan barang bukti Sepeda Motor milik korban dan sebilah samurai milik pelaku. Begal motor adalah pelaku kejahatan jalanan yang akhir-akhir ini terus mengganggu kenyamanan masyarakat. Aksi mereka terdengar mulai dari Depok hingga kawasan Tangerang Selatan. Saat ada yang tertangkap, warga melampiaskan kemarahannya lewat api.

Sejak tiga bulan terakhir, isu begal motor selalu menjadi pemberitaan. Lokasinya tak hanya di Jakarta, tapi menyebar dari Depok, Bekasi, Tangerang Selatan, hingga Bogor. Ada yang beraksi sendiri, berkelompok, bahkan membentuk sindikat tertentu. Sasaran mereka para pengendara motor, mobil box, pasangan yang sedang pacaran, termasuk penjual makanan.

Para pembegal ini tak peduli dengan jenis motor yang dirampok. Ada yang mengambil motor bebek, sampai juga motor sport. Mereka biasanya menyasar para pengendara pada malam sampai dinihari di lokasi-lokasi sepi. Kejadian terakhir, kawanan begal beraksi di Ciracas, Jakarta Timur. Mereka merampok seorang karyawan SPBU ketika hendak menyetor uang Rp 250 juta ke bank. Peristiwa terjadi di Jl Taruna Jaya RT 001/014 No 17 Ciracas, Jakarta Timur, pada pukul 08.30 WIB, Senin (23/2). Saat itu, korban bernama Mulya (30) mengendarai motor Honda Supra X bernopol B 3807 TNT membawa tas berisi uang Rp 250 juta.

Korban saat itu hendak menyetorkan uang hasil penjualan SPBU Radar Auri tersebut ke sebuah bank. Di perjalanan, korban dipepet para pelaku yang diperkirakan berjumlah 4 orang yang mengendarai motor. Salah satu pelaku kemudian merebut tas korban. Korban mencoba mempertahankan tas tersebut, namun pelaku kemudian menyerangnya.

Salah satu pelaku membacok korban hingga mengenai kepalanya. Tidak hanya itu, pelaku juga menembakkan senjata api ke arah korban dan mengenai perut kirinya. Korban pun tersungkur. Tas berhasil dirampas para pelaku yang melarikan diri. Warga sekitar lalu membawanya ke RS Tugu Ibu, Jl Raya Bogor, Ciracas.

Kejadian lainnya pada Jumat (13/2) lalu, Denis (35), seorang pengantar cireng jadi korban begal motor di Jalan Raya Citayam, Bojong Pondok Terong, Cipayung Kota Depok. Dua pelaku, yang mengendarai sepeda motor Satria FU, memepet korban, langsung menodong kepala korban dengan pistol.Motor kantor yang dibawa korban, Honda Blade merah B 3224 BKL dirampas pelaku. Kejadian berlangsung pada pukul 04.00 WIB. Polisi sudah berupaya menangkap para begal dengan cara razia hingga operasi penangkapan besar-besaran. Sebagian ada yang sudah tertangkap dan diadili. Namun sepertinya para pelaku lain tidak takut melihat hal ini.

Buktinya, Selasa (24/2/2015) sekitar pukul 01.30 WIB, empat orang begal masih beraksi di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Namun saat hendak memepet korban, satu orang berhasil diringkus warga. Sontak, warga yang sudah jengah dengan kejahatan ini, langsung menghakiminya.Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung mengatakan, pencuri motor tersebut dipukuli lalu ditelanjangi, hingga akhirnya dibakar hidup-hidup oleh warga.

“Saat beraksi seorang begal motor ini kemudian dibakar oleh warga,” katanya. Foto-foto pembegal yang gosong itu beredar luas di media sosial. Terlihat di beberapa gambar, pemuda yang belum jelas identitasnya tersebut, tidak mengenakan pakaian dan api masih menyala di tubuh pemuda tersebut. Banyak respons dari para pengguna twitter terhadap aksi warga. Ada sebagian yang setuju karena sudah tak tahan dengan aksi begal yang merajalela, namun sebagian besar tak sepakat dengan sikap main hakim sendiri.

“Tukang begal ditangkep, dipukulin, ditelanjangin, dibakar. Moga aja tukang begal yg lainnya ciut liat temennya digituin dan insaf,” tulis seorang pengguna akun twitter. Seorang begal motor gosong dibakar warga di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Polisi mengatakan begal yang dibakar ini membawa sebilah pedang yang biasa digunakan para samurai Jepang.

“Dia membawa samurai (pedang katana), saat ini rekan-rekannya masih kita cari,” kata Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung, Selasa (24/2/2015). Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 01.30 WIB di Jl Masjid Baiturohiim, Pondok Aren, Tangerang Selatan. Saat itu ada sebuah motor yang dipepet oleh empat orang begal yang memakai dua motor di kawasan itu. “Saat beraksi seorang begal motor ini kemudian dibakar oleh warga,” katanya.

Foto-foto pembegal yang gosong itu beredar luas di media sosial. Terlihat di beberapa gambar, api masih menyala di tubuh pemuda tersebut. Ada beberapa pengguna twitter yang pro, namun tak sedikit yang menyesalkan tindakan warga. Polisi belum bisa memastikan identitas begal motor yang dibakar massa di Pondok Aren, Tangerang Selatan. Kondisi jenazah yang gosong membuat proses identifikasi menjadi sulit.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan, hingga kini belum diketahui nama si pembegal. Namun dari ciri fisik-fisiknya, dia diperkirakan masih berusia muda.

“Identitas belum kita dapatkan karena memang habis, gosong terbakar. Kita sudah lakukan autopsi dan kita akan mencari keterangan lain siapa korban ini dan mendapatkan identitasnya dan jaringan kelompoknya. Apabila ada masyakat yang mengetahui agar memberitahukan polisi,” kata Martinus di Polda Metro Jaya, Jl Sudirman, Jaksel, Selasa (24/2/2015).

Saat ini, jenazah berada di rumah sakit di kawasan Tangerang. Petugas masih menunggu kedatangan keluarga si pembegal untuk mengenali identitasnya. “Kalau wajah itu memang sudah tak bisa dikenal, identitas juga tak ada sama sekali,” imbuhnya. Polisi berusaha menggali identitas begal motor dari pedang yang digunakannya untuk beraksi. Diharapkan, ada sidik jari di sana yang bisa dikenali.

Aksi pembakaran begal motor ini terjadi sekitar pukul 01.00 WIB dinihari tadi. Awalnya, ada empat orang yang beraksi dan berusaha merebut motor milik seorang wanita bernama Sri. Kala itu, Sri dibonceng oleh pria bernama Wahyu. Sempat terjadi perlawanan oleh Sri terhadap salah satu pelaku. Pedang yang hendak dihujamkan pada Sri ditepis, lalu pelaku terjatuh. Warga yang mendengar aksi ini, lalu menghampiri. Tiga pelaku lain kabur, satu orang jadi bulan-bulanan hingga akhirnya tewas dibakar.

Korban begal motor yang dibakar warga di Pondok Aren sempat memberikan perlawanan. Sri (20), yang motornya hendak dibegal, sempat merebut pedang yang digunakan bandit itu saat beraksi. “Korbannya menderita luka di bagian tangan,” kata Kanit Reskrim Polsek Pondok Aren Iptu Agung, Selasa (24/2/2015). Data yang ada di Humas Polda Metro Jaya menyebutkan saat itu Sri sedang dibonceng Wahyu. Mereka dihadang empat orang begal yang menggunakan dua motor ini di Jl Masjid Baiturohiim, Pondok Aren, Tangerang Selatan.

Para begal itu menghadang motor yang dipakai Wahyu dan Sri sambil mengacungkan pedang, mereka meminta korbannya ini untuk berhenti. Namun pedang yang digunakan salah seorang pelaku pembegalan ini dirampas Sri, akibatnya salah satu pelaku yang memegang pedang terjatuh. Korban pun berteriak hingga didengar warga sekitar yang kemudian mengepung pelaku.

Tiga orang pelaku pembegalan bisa kabur, namun satu orang begal yang tertinggal jadi bulan-bulanan warga. Setelah itu, massa kemudian membakar pelaku pembegalan yang belum diketahui identitasnya itu. Saat ini petugas masih memeriksa saksi-saksi. Petugas juga mengamankan barang bukti Sepeda Motor milik korban dan sebilah samurai milik pelaku.

Categories
Tokoh Indonesia

Kisah Tatang Koswara Sniper Legendaris Indonesia Yang Berada Diurutan 14 Sniper Terhebat Dunia


Tatang Koswara (68) hidup seadanya. Pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) membuat uang pensiunnya tak besar. Kakek tujuh orang cucu ini pun membuka warung makan di lingkungan Kodiklat TNI AD di Bandung. Tatang pensiun pada 1994, bersama istrinya Tati Hayati yang dinikahi pada 1968, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di Cibaduyut. Di ruang tamu berjejer sejumlah medali, sertifikat dan brevet tanda pendidikan yang pernah diikutinya.

Tatang Koswara Meninggal Dunia

Selain uang pensiun dan membuka warung makan, dia juga kadang melatih para sniper TNI. Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku “Sniper Training, Techniques and Weapons” karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin.

“Tahun lalu saya selama dua bulan melatih 60-an calon sniper Kopassus. Juga ada permintaan dari Komandan Paskhas di Soreang untuk melatih,” kata Tatang yang ditemui, 3 Februari lalu di rumahnya. Setahun sebelum pensiun, ia pernah memamerkan kemahirannya sebagai sniper dengan menembak pita balon di atas kepala Jenderal Wismoyo Arismunandar. “Waktu itu saya diminta memutus pita dengan peluru yang melintas di atas kepala KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Pak Wismoyo tak marah, malah memberi saya uang ha-ha-ha,” ujar Tatang.

Mantan Inspektur Jenderal Mabes TNI Letnan Jenderal (Purn) Gerhan Lantara mengakui reputasi Tatang sebagai pelatih sniper. “Pak Tatang adalah salah satu pelatih menembak runduk terbaik yang dimiliki Indonesia. Mungkin saya salah satu muridnya yang terbaik he-he-he,” ujarnya. Sementara Kolonel (Purn) Peter Hermanus, 74 tahun, mantan ahli senjata di Pindad, menyebut Tatang sebagai prajurit yang lurus. Dia mengingatkan agar bekas anak buahnya itu tetap mensyukuri kondisi yang ada sekarang.

“Dia hidup sederhana karena tidak pandai korupsi, tapi itu lebih baik ketimbang punya rekening gendut ha-ha-ha,” ujar Peter melalui telepon. Tatang Koswara (68) tercatat sebagai sniper legendaris asal Indonesia. Pada 1977-1978 dia beroperasi di Timor Timur, kini Timor Leste. Ada lebih dari 40 orang fretilin yang menjadi korban tembakannya.

Nama Tatang tercatat dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Ada satu trik unik yang dilakukan Tatang untuk mengelabui pasukan patroli musuh. Dia membuat sepatu khusus dengan alas dalam posisi terbalik sehingga jejak yang ditinggalkan menjadi berbalik arah. “Cibaduyut kan dikenal sebagai pabrik sepatu, saya juga mampu membuat sendiri,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya di kawasan Kodiklat TNI di Bandung, 3 Februari lalu.

masih tampak bugar dan kekar, ingatan Tatang Koswara pun masih jernih. Kakek tujuh cucu ini beroperasi di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’.

Tatang pernah terluka dalam satu pertempuran. Dia dikepung musuh dan betisnya tertembak peluru. Dengan gunting yang dia miliki, peluru dia cabut sendiri. Tatang yang seorang sniper ini kemudian bisa lolos dan menembak beberapa musuhnya “Sambil bersembunyi di kegelapan, saya congkel sendiri kedua peluru itu dengan gunting kuku,” ujar Tatang seraya memperlihatkan bekas luka di kakinya. Tatang masuk tentara melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Kala itu sebetulnya dia cuma mengantar sang adik, Dadang, yang ingin menjadi tentara. Tapi karena saat di lokasi pendaftaran banyak yang menyarankan agar dirinya ikut, dia pun mendaftar. Saat tes, ternyata cuma dia yang lulus.

Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu. Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper.

Seorang sniper, kata Tatang, harus berani berada di wilayah musuh. Fungsinya antara lain mengacaukan sekaligus melemahkan semangat tempur musuh. Target utama biasanya selain sniper musuh adalah komandan, pembawa senapan mesin, dan pembawa peralatan komunikasi. Tatang yang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, ia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. dia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang Koswara kini sudah pensiun dari TNI. Usianya pun sudah 68 tahun, namun dia tetap bugar, ingatannya juga masih kuat. Pada 1977-1978, Tatang beroperasi di Timor Leste melawan pasukan fretilin di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. Tatang, satu-satunya sniper Indonesia yang diakui dunia. Namanya masuk dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

“Saya biasa membidik kepala. Cuma sekali saya menembak bagian jantung, dia pembawa alat komunikasi. Sekali tembak, alat komunikasi rusak orangnya pun langsung ambruk,” kata Tatang yang ditemui, pada 3 Februari lalu. Tatang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, dia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. Ia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang tinggal di Bandung. Sebagai pensiunan dia masih tetap berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Tatang sesekali mengisi pelatihan menembak bagi TNI.

Anda sudah menonton film American Sniper? Atau Enemy at The Gates? Dua film sniper itu diangkat dari kisah nyata. American Sniper menceritakan kisah Chris Kyle seorang marinir Amerika yang beroperasi di Irak. Kyle bahkan mendapat julukan Setan Ramadi. Kemudian dalam film Enemy at The Gates mengisahkan sniper Soviet di perang dunia kedua Vasily Zaytsev. Ketepatannya menembak dalam pertempuran Stalingrad membuat tentara Jerman gentar mendengar namanya.

Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat.

“Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2). Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

Sang legenda sniper dunia asal Indonesia, Tatang Koswara, rupanya pernah menciptakan alat yang berfungsi untuk mengasah latihan menembak malam. Pria berusia 68 tahun ini menyematkan label ABTEM. “ABTEM itu singkatan dari Alat Bantu Tembak Malam,” kata Tatang sewaktu ditemui di rumahnya, kawasan Dayeuhkolot, Kota Bandung, Kamis (26/2/2015).

Tatang membuat ABTEM pada tahun 90-an atau sebelum pensiun dari kesatuan Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif) TNI AD dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Kakek tujuh cucu yang pernah bertempur di Timor Leste pada 1977-1978 itu merasa bangga bisa meracik alat tersebut. “Sebelum pensiun (1994) saya ingin buat kenang-kenangan. Ya inilah alat ciptaan saya,” ujarnya. Dia menenteng koper hitam. Tatang membuka isi koper dan memperlihatkan ABTEM. Alat sebagai sentra kendali ini terdiri sejumlah deretan tombol dan saklar.

“Saya ingin prajurit TNI itu tidak hanya jitu menembak ketika siang, tapi juga jitu menembak saat malam hari,” kata Tatang. ABTEM ini disalurkan menggunakan kabel listrik yang bisa dipararelkan ke satu arah atau bagian depan di area lapangan. Di ujung tiap kabel itu dipasang alat berupa lampu mengarah ke lesan atau sasaran tembak bergambar tubuh. “Nah, nanti saya atur dan pencet tombol yang menempel di alat sentra kendali. Ketika lampunya menyorot bekedip ke arah lesan, lalu prajurit menembak lesan,” tutur Tatang yang pernah mengawal Edi Sudrajat.

Namun kini perangkat sederhana buatan Tatang itu mengalami sedikit kerusakan. Padahal ABTEM sering digunakan latihan oleh prajurit TNI seluruh kesatuan. “Mesti diservis lagi alatnya,” ujar Tatang. Ke depan, Tatang berharap alat tersebut bisa diproduksi massal. Menurut Tatang, perangkat teknologi tersebut pernah diperlihatkan kepada Luhut Pandjaitan (mantan Komandan Pussenif). “Beliau (Luhut) merasa bangga anak buahnya seperti saya bisa membuat alat tersebut,” ujar Tatang. “Kalau negara keadaan darurat, saya sebagai veteran siap diterjunkan di medan perang,” tutur Tatang menggebu-gebu.

Tatang Koswara menunjukkan foto-foto saat bertempur di Timor Leste 38 tahun silam. Saat itu, dia masih muda, tampil dengan seragam berkamuflase sambil menenteng senjata dan tentu saja, berbahaya. Di kediamannya, Kamis (26/2/2015), pria kelahiran Medan 12 Desember 1946 itu mengenang pertempuran melawan Fretilin. Dia menceritakan bagaimana perjuangannya untuk menembak musuh dengan berperan sebagai penembak jitu. Tak lama kemudian, dia menunjukkan sebuah flash disk yang berisi kenangan perang, namun sempat disembunyikan selama 25 tahun belakangan. Isinya, sejumlah foto-foto ketika dia masih muda, bersenjata laras panjang dan berbahaya.

Berbaju Kamuflase
Tatang bercerita soal atribut yang melekatnya di tengah pertempuran. Tatang berbalut pakaian ghillie suit atau busana kamuflase guna mengelabui lawan dan tidak terlihat musuh. Ada dua foto saat Tatang berbaju kamuflase. Pertama, ketika dia melihat ke kamera sambil menunjukkan wajahnya. Foto yang kedua, dia sedang berjalan dengan membelakangi kamera. “Bajunya buatan Amerika. Jadi bisa menyamar menyerupai alang-alang, rumput, dan tumbuhan,” tutur Tatang.

Mengendap Bersama Rekan
Legenda sniper dunia ini juga menunjukkan foto ketika dia sedang mengendap di perbukitan Timor Leste. Saat itu, Tatang tampak sedang berjalan menunduk di bagian depan. Sementara rekannya di belakang. Keduanya tampak siaga mengantisipasi serangan musuh. “Ada foto saya ketika mengendap di suatu perbukitan daerah Remexio (Timor Timur). Di belakang saya itu ada personel Batalion 410,” ucap Tatang.

Naik Helikopter
Nama Tatang masuk urutan ke-14 sniper hebat versi buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapon’ yang ditulis Peter Brookersmith (2000). Menurut Tatang, dia pernah bertugas di darat dan di udara. Salah satu foto menunjukkan Tatang sedang berada di helikopter sambil menenteng senjata. Di belakangnya, terlihat seorang rekannya. “Nah, kalau ini foto di helikopter. Saya pernah operasi udara,” ujarnya.

Bergerilya di Pegunungan
Satu foto lainnya memperlihatkan Tatang sedang berjalan di antara sungai di sebuah pegunungan. Dia selalu membawa senjata kesayangannya untuk menembak jitu. Senjata yang kerap digunakannya adalah Winchester model 70.

Dengan mata nyalang yang tajam bak elang, para penembak jitu mengintai dari teropong senapan musuh, mengendap di semak-semak atau di atas gedung. Mereka dianggap pahlawan bagi negaranya. Buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000 lalu, mencatat beberapa sniper hebat. Siapa saja mereka?

Di buku tersebut, ada nama sniper legendaris Indonesia, Tatang Koswara, di dalamnya. Dia menempati urutan ke-14, sebagai penembak jitu terhebat sepanjang masa.Akan menyajikan 14 nama sniper terhebat dalam dua artikel. Berikut 7 nama terakhir dari 14 penembak jitu yang ada di buku Peter Brookesmith

8. Carlos N Hatchcock
Bakal Carlos N Hatchcock sebagai penembak jitu sudah terendus saat berlatih di pusat pendidikan US Marine Corps (USMC), tempat di mana dia bergabung sejak berusia 17 tahun. Dia beberapa kali memenangi kejuaran elite menembak di kalangan USMC. Saat Carlos ditempatkan di Vietnam tahun 1966, dia ditempatkan di wilayah yang paling berbahaya, Bukit 55. Tugasnya pun khusus, yakni melumpuhkan petinggi Vietkong, Pasukan Vietnam Utara plus sniper lawan. Carlos berhasil menuntaskan 2 tugas besar, yakni menghabisi interogator Prancis di Pasukan Vietkong yang suka menyiksa para pilot AS dan membunuh Jenderal Vietnam Utara. Dia juga sempat berduel dengan sniper Vietkong tangguh yang membunuh sejumlah marinir AS. Selama menjadi sniper, Carlos berhasil membunuh 93 tentara Vietkong. Atas jasanya, dia mendapatkan bintang jasa Silver Star dari Pemerintah AS. Namun luka yang didapatnya saat Perang Vietnam akhirnya berkembang menjadi penyakit Multiple Sclerosis yang menyebabkan kelumpuhan. Akhirnya setelah beberapa lama melawan penyakitnya, Carlos meninggal pada 23 Februari 1999 dalam usia 57 tahun.

9. Thomas R Leonnard
Thomas R Leonard adalah sniper dari US Marine Corps (USMC) yang juga terjun dalam perang Vietnam. Dalam situs snipercentral.com, disebutkan Thomas berhasil menembak 74 musuh. Sedangkan dalam buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000, disebutkan berhasil menembak 94 musuh.

11. George Filyaw
Lagi-lagi dari satuan US Marine Corps (USMC) yang berlaga di Perang Vietnam, adalah George Filyaw. Dalam situs snipercentral.com, dia terkonfirmasi menewaskan 56 musuh dan 20 orang lain yang belum terkonfirmasi. Data 56 musuh yang ditembak Filyaw ini sama dengan data di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000. Foto di atas adalah foto saat Filyaw di lapang pada 26 Mei 1967.

12. Philip G Moran
Philip G Moran juga adalah penembak jitu di Perang Vietnam dari kesatuan AD AS. Jumlah tembakan Philip yang berhasil mengenai musuh menurut snipercentral.com adalah 53 tembakan, sama dengan yang disebutkan di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000.

13. Tatang Koswara
Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2).

Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-13 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

14. Thomas D Ferran
Thomas Ferran adalah penembak jitu dari kesatuan US Marince Corps (USMC). Tembakan tepatnya terhitung mengenai 41 musuh saat perang Vietnam. Thomas dilatih oleh sniper kawakan Carlos Hatchcock, untuk menembak musuh dari jarak jauh, 1.200 meter. Namun saat diterjunkan di Chu Lai, Vietnam, dia melihat musuh dalam jarak 1.300 meter. Bersama rekannya, akhirnya tentara Vietkong itu bisa ditembak mati dalam tembakan yang kedua. Thomas pernah menuliskan bahwa sniper ini dilimpahkan tugas ketuhanan palsu yang bisa menentukan nasib seseorang. “Kau melihat melalui teropongmu, dan Anda melihat seperti apa manusia itu. Anda menyadari mereka manusia. Anda memegang kendali penuh untuk mengakhiri hidup mereka,” jelas Thomas seperti dikutip dalam Telegraph, edisi 11 April 2004.

Categories
Kriminalitas

3 Sukhoi TNI AU Mendarat Di Bandara Ngurah Rai Untuk Kawal Terpidana Mati Duo Bali Nine


Di Base Ops Lapangan Udara Ngurah Rai, Bali, masih disiagakan tiga pesawat Sukhoi SU-30MKI yang mendarat pada Minggu (21/2/2015) kemarin dari Lanud Makassar, Sulawesi Tengah. Kedatangan di Bali disebut untuk pengamanan wilayah menjelang pemindahan terpidana mati duo “Bali Nine”, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, dari Lapas Kerobokan menuju Lapas Nusakambangan.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari Danlanud Ngurah Rai Bali Kolonel Penerbang Sugiarto Prapto Waluyo. “Bapak masih rapat. Nanti saja ya. Saya tidak berwenang memberikan komentar soal pesawat,” kata salah satu petugas, Senin (23/2/2015). Hingga menjelang siang ini, Base Ops Lanud Ngurah Rai terlihat dijaga ketat. Pintu gerbang menuju Kantor Base Ops yang biasanya dibuka saat ini ditutup dengan penjagaan berlapis. Begitu pun pintu gerbang samping Base Ops menuju landasan juga disiagakan personel TNI AU.

Puluhan personel TNI berpakaian loreng hijau terlihat di sekitar Base Ops. Namun, sampai berita ini ditayangkan, belum ada kejelasan dari pihak terkait. Tiga jenis Sukhoi SU-30MKI yang saat ini bertahan di Lanud Ngurah Rai beregistrasi TS-3007b, TS-3003c, dan TS-3004d. Dua pesawat Hercules juga sempat singgah di Ngurah Rai, tetapi telah kembali ke Jakarta dan Yogyakarta.

Tiga pesawat Sukhoi SU-30MKI yang diterbangkan dari Lapangan Udara Sultan Hasanuddin Makassar mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, Minggu (22/2/2015). Kini ketiga pesawat tempur buatan Rusia itu terparkir di lapangan base Ops Lanud Ngurah Rai. Ketiga pesawat itu disiapkan terkait pengamanan pemindahan dua terpidana mati kelompok “Bali Nine’ Myuran Sukumaran dan Andrew Chan. “Ya, tadi pagi tiba. Tiga pesawat Sukhoi dari Lanud Hasanuddin. Untuk pengamanan pemindahan Bai Nine,” ungkap sumber Kompas.com, di Tuban, Badung, Bali, siang tadi.

Ketiga pesawat Sukhoi yang mendarat sekitar pukul 9.53 Wita itu tercatat memiliki nomor registrasi TS-3007b, TS-3003c, dan TS-3004d. Selain ketiga pesawat tersebut, juga disiagakan sebuah helikopter Colibri. Dalam waktu yang hampir bersamaan juga datang dua pesawat Hercules yang membawa kru pesawat. Kedua pesawat itu kini sudah meninggalkan Bali. Pesawat Hercules A1319 kembali ke Halim Perdanakusuma, Jakarta, dan A1317 berangkat menuju Yogyakarta.

Menurut sumber tersebut, tiga Sukhoi dan helikopter Colibri tetap berada di Bandara Ngurah Rai untuk menunggu perintah lanjutan. Seperti yang sempat dikatakan Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Momock Bambang Samiarso, pemindahan Myuran dan Andrew akan segera dilakukan. Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan sudah siap menampung mereka untuk segera dieksekusi.

“Ya sabar saja, kita menunggu kesiapan Lapas Nusakambangan, secepatnya,” kata Momock saat berkunjung di Lapas Kerobokan beberapa hari lalu. Belum ada penjelasan resmi mengenai jenis pesawat yang akan digunakan untuk mengangkut terpidana mati “Bali Nine”, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, dari Lapas Kerobokan ke Nusakambangan.

Namun, Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Momock Bambang Samiarso, menegaskan bahwa ada perubahan rencana pesawat angkut yang akan digunakan. Meski demikian, Momock masih ogah mengungkapkan jenis pesawat yang dimaksud. “Untuk pesawat angkutnya mengalami perubahan (dari rencana semula). Nanti, ini baru kita koordinasikan kembali, tapi tetap melalui jalur udara,” katanya, Senin (23/2/2015).

Awalnya, sesuai rencana, duo “Bali Nine” itu akan dibawa menggunakan pesawat komersil carteran, seperti Lion Air dan Garuda Indonesia. Ketika ditanyai kemungkinan pesawat Sukhoi SU-30MKI yang diterbangkan dari Lapangan Udara Sultan Hasanuddin Makassar ke Bandara Ngurah Rai, Momock tetap ogah buka mulut.

“Ditunggu saja, kita masih koordinasi. Sedianya kan pekan kemaren, tapi karena Lapas Nusakambangan belum siap, jadi belum bisa dipindah. Bisa jadi pekan ini, ya tunggu saja, secepatnya, saya mau secepatnya,” tambahnya.

Hari ini, Kejaksaan Tinggi Bali melakukan koordinasi dengan pihak terkait seperti Pemerintah Provinsi Bali yang diwakili Wakil Gubernur Bali I Ketut Sudikerta dan pihak TNI di Makorem 163/Wirasatya Bali. Hasil dari koordinasi ini tidak disampaikan kepada media karena masih akan kembali dilakukan pertemuan lagi untuk mendapatkan keputusan bersama mengenai pemindahan dua terpidana mati “Bali Nine”.

Tiga pesawat tempur Sukhoi SU-30MKI yang bermanuver di udara membuat alarm mobil-mobil yang diparkir di sekitar Base Ops Lanud Ngurah Rai berbunyi. Banyak orang berhamburan ke jalan depan bandara untuk melihat bagaimana Sukhoi menunjukkan kegagahannya. “Wuihhh dasyat. Mobil-mobil sampai bunyi alarmnya. Keras banget suaranya,” kata Wayan Ar, salah satu pegawai di bandara yang ikut menyaksikan manuver pesawat buatan Rusia itu, Senin (23/2/2015).

Seperti diberitakan, tiga Sukhoi tersebut akan berada di Bali selama seminggu dalam rangka Operasi Tangkis Sergap 15 untuk pengamanan udara di perbatasan Indonesia Timur. Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, hal ini juga menyusul rencana eksekusi dua terpidana mati duo “Bali Nine”, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.

Personel yang ikut dalam operasi ini berjumlah 57 orang, termasuk tujuh penerbang. “Sesuai dengan perintah, kita melaksanakan kegiatan selama tujuh hari, akan melakukan pantauan di wilayah selatan sampai ke NTT dan perbatasan Nusa Tenggara Timur,” kata Komandan Lanud Ngurah Rai, Kolonel Penerbang Sugiarti Prapto Waluyo.

Sukhoi SU-30MKI tiba di Bali sejak Minggu kemarin dengan nomor registrasi TS-3007b, TS-300c, dan Ts-3004d. Kehadiran tiga Sukhoi tersebut juga disertai sebuah helikopter Colibri. Hingga saat ini, pesawat tempur itu belum bisa didekati oleh awak media yang ingin mengambil gambar. Larangan terkait alasan keamanan. Pihak Lanud Ngurah Rai berjanji akan memberikan akses masuk bandara bagi awak media untuk mengambil gambar lain waktu, sebelum ketiga pesawat itu kembali dikandangkan di Lanud Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan.

Categories
Sejarah

Kisah Losmen Lampu Merah … Lokalisasi Pertama Di Batavia


“Jika Anda tidak bisa mengirimkan perempuan baik-baik yang pernah menikah, mohon kirimkan kami para perempuan muda,” tulis Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dalam surat tertanggal 11 Mei 1620. “Kami berharap hal itu akan menjadi lebih baik ketimbang pengalaman kami berkencan dengan perempuan yang lebih tua.”

Coen menyampaikan surat tersebut kepada para direktur VOC. Sebagai seorang pendiri Kota Batavia—koloni Kerajaan Belanda di Timur—Coen mendesak terpenuhinya persyaratan kebutuhan dasar bagi warga kota yang beradab. Dia dengan gemas melarang keras pergundikan, perzinahan, dan pelacuran. Kota yang beradab, demikian hemat Coen, harus dimulai dari warga yang beradab.

Sedikitnya jumlah warga perempuan di Batavia disebabkan VOC memberikan aturan ketat dalam menerima pemukim baru. Namun, selepas Coen, pada periode 1632-1669, maskapai dagang itu menghentikan migrasi perempuan ke Hindia Timur.

Dengan jumlah warga lelaki yang jauh melebihi warga perempuannya, Batavia mengalami krisis sosial yang tak terelakkan: pelacuran yang merajalela. Peraturan Sang Gubernur Jenderal pun kandas dalam penegakan hukumnya.

Hendrik E Niemeijer, sejarawan asal Belanda yang telah mengarungi samudra arsip VOC di Indonesia, mengungkapkan soal pelacuran di Batavia zaman VOC dalam Batavia: een koloniale samenleving in de zeventiende eeuw yang terbit pada 2005. Dua tahun silam, buku tersebut telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia—Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII.

Adriana Augustijn, perempuan mardijker atau budak yang telah dimerdekakan, tercatat sebagai salah satu pelacur di Batavia yang terjerat kasus hukum. Demikian berkas yang merekam risalah pernyataan Adriana tertanggal 29 Agustus 1689. Kini, berkas lawas itu berada di ruang penyimpanan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Koleksi lembaga tersebut tentang arsip pemerintahan tertinggi selama 1602-1811—kalau direndeng—bisa mencapai sekitar 450 meter!

Orang-orang mardijker memang dikenal urakan di Batavia. Adriana, perempuan berkulit gelap, dilaporkan oleh para tetangganya sebagai perempuan yang bekerja dengan memanfaatkan tubuhnya. Lelaki yang mengencaninya beragam, dari budak hingga orang bebas. Tempat tinggalnya pun berpindah-pindah.

Di Batavia abad ke-17, pilihan menjadi pelacur atau gundik tampaknya lebih menjanjikan bagi para budak perempuan ketimbang harus menjadi budak rumahan yang kerap jadi sasaran sumpah serapah sang nyonya majikan.

Berbeda dengan Adriana yang merupakan pelacur jalanan, Lysbeth Jansz bekerja menjual tubuhnya sebagai pelacur di losmen merah di luar tembok kota. Lysbeth merupakan perempuan asal Rotterdam dan sudah kerap didera hukuman, bahkan pernah dibuang di Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Namun, Batavia tetap menjadi daya tarik baginya untuk kembali.

Losmen-losmen lampu merah itu awalnya di dalam tembok kota, sekitar Kastel Batavia. Setiap saat, serdadu-serdadu VOC dapat berkencan dengan perempuan pilihan mereka, tanpa harus membawa masuk ke dalam barak. Dalam perkembangannya, losmen itu pun tumbuh di luar tembok kota.

Akta risalah pernyataan tertanggal 8 dan 11 September 1682, yang kini tersimpan di ANRI, juga menunjukkan salah satu losmen merah yang sohor di Batavia. Losmen itu menawarkan keliaran yang bertajuk “De Berebijt”—artinya gigitan beruang.

Lokasinya di Jacatraweg, kini Jalan Pangeran Jayakarta, sebelah selatan tembok kota. Dari arsip zaman VOC itu, Niemeijer mengungkapkan bahwa “De Berebijt” merupakan salah satu rumah bordil yang kerap rusuh karena menjadi ajang duel. Sejumlah losmen merah lainnya yang dimiliki mucikari Eropa dan Asia membuka praktik di sekitar Niewpoort, kini sekitar Jalan Pintu Besar Selatan.

Tidak hanya pelacuran, tetapi juga pemerasan seksual telah terjadi di Batavia. Pada 1644, sebanyak lebih dari dua lusin warga Batavia terbukti menjadi germo. Mereka mendandani para budak perempuan mereka bagai noni-noni terhormat dan memaksa para budak itu untuk melacurkan diri.

Kasus pemerasan seksual juga diungkap oleh Leonard Blussé, sejarawan Belanda, dalam Strange Company: Chinese Settlers, Mestizo Women and Dutch in VOC Batavia. Blussé mengisahkan perkara seorang istri yang bersaksi kepada dewan pengadilan pada pertengahan 1625 karena hak-haknya sebagai perempuan justru lenyap setelah menikah. Sang istri mengadukan suaminya yang bejat. Demi imbalan uang, setiap hari sang suami memaksa dia dan budak perempuannya untuk melayani kebutuhan seks para lelaki Belanda.

Mengapa pelacuran sulit dicegah dan justru menjamur di luar tembok Kota Batavia? Salah satu penyebabnya adalah sindikat antara pemilik losmen dan pegawai kehakiman yang korup dengan mengambil keuntungan dari bisnis lendir itu.

Tampaknya keberadaan losmen lampu merah yang disokong penegak hukum bukan hal baru di kawasan yang kelak menjadi megapolitan Jakarta ini. Apakah kita sedang mewarisi keindahan negeri bebas korupsi di kaki pelangi?

Categories
Transportasi

Terulang Lagi … Lion Air Kembali Alami Delay Kronis Akut dan Parah


Lion Air ternyata kembali melakukan pembatalan penerbangan. Paling tidak ini masih terjadi di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, Senin, 23 Februari 2015. Pembatalan dilakukan terhadap sejumlah penerbangan Lion Air dari Makassar maupun dari daerah lain menuju Makassar, di antaranya JT-991 tujuan Kendari-Makassar-Kendari pukul 07.00 Wita, JT-734 Manado-Makassar pukul 08.00, JT-894 Makassar-Jayapura- Monokowari pukul 08.00, JT-795 Jayapura-Makassar- Jakarta 10.00, JT-853 Palu-Makassar pukul 12.00, JT-875 Jakarta-Makassar pukul 14.00, JT-895 Jayapura-Makassar-Jakarta pukul17.00, JT-873 Jakarta- Makassar-Jakarta 19.00, JT-721 Kendari-Makassar-Jakarta 20.00, JT-663 Balikpapan- Makassar-Sorong pukul 22.00, BTK-6289 Jakarta-Makassar -Jakarta pukul 09.00, dan BTK-6265 Jakarta-Makassar-Jakarta pukul 22.00.

Menurut salah seorang petugas Lion Air yang tak mau disebut namanya, pembatalan itu karena tak ada penumpang. Meski demikian, jika ada penumpang yang sudah telanjur membeli tiket tetap akan diberangkatkan, tetapi dialihkan ke maskapai penerbangan lain. “Informasi pembatalan itu karena biaya operasional penerbangan lebih tinggi dibanding jumlah penumpang yang naik,” kata dia.

General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Yanus Suprayogi mengatakan persoalan yang terjadi pada maskapai Lion Air adalah kewenangan Kementerian Perhubungan. Kementerian itu yang akan menyelesaikan masalah ini. Perseroan, menurut Yanus, hanya sebatas memberikan pelayanan terhadap penumpang di area terminal, termasuk upaya untuk mengamankan area bandara. Hal itu agar situasi berjalan kondusif dan merupakan tanggung jawab otoritas bandara.

Oleh karena itu, ujar Yanus, agar bandara tak tersandera oleh ratusan penumpang yang kesal akibat kecewa terhadap pelayanan maskapai Lion Air, pihaknya telah memperkuat sistem pengamanan bandara dengan menambah petugas keamanan bandara dari kepolisian. Menurut Kepala Kepolisian Resort Maros Ajun Komisaris Hotman Sirait, kepolisian ikut menjaga keamanan dan ketertiban bandara. “Kami turun memberikan bantuan hanya sebatas membantu mengamankan area bandara. Soal jumlah aparat yang disiagakan akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” kata Hotman.

Sementara itu, kacau balaunya penerbangan Lion Air menguntungkan maskapai lain. Seperti halnya maskapai Citilink yang dalam sehari mengalami lonjakan penumpang hingga 60 persen. Direktur Umum Lion Group Edward Sirait memastikan tak ada aksi mogok karyawan, terutama awak pesawat, pada pekan lalu. Edward mengklaim hingga Senin malam awak pesawat masih bekerja sesuai tugasnya.

“Soal ada pegawai atau penerbang mogok tidak benar sama sekali,” kata Edward kepada wartawan di Lion Tower Jakarta, Senin, 23 Februari 2015. Menurut Edward, kisruh menyusul penundaan penerbangan sejak Rabu pekan lalu lebih karena kurang gesitnya para pengambil keputusan di lapangan. Dari investigasi internal diperoleh masukan agar Lion memperkuat manajemen pengendalian krisis di bandara. “Termasuk untuk delay,” ujarnya. Selain itu, perusahaan perlu meningkatkan pelaksanaan prosedur yang konsisten dan konsekuen di lapangan diimbangi penempatan orang-orang yang bisa mengambil keputusan dengan baik. Untuk mencapai itu, Lion Air berencana membentuk tim khusus untuk menangani krisis.

Edward menuturkan untuk meminimalisir penundaan penerbangan semakin panjang pada Jumat, 20 Februari lalu, manajemen memutuskan untuk membatalkan penerbangan mulai pukul 17.00 WIB dan 24.00 WIB. Waktu selama tujuh jam ini digunakan manajemen untuk mengecek dan mengatur ulang operasional penerbangan umum hari Sabtu. Calon penumpang yang dijadwalkan terbang pada jam tersebut diberi refund tiket sebesar 100 persen. Kemudian mereka diberi kesempatan untuk menjadwalkan ulang perjalanannya dengan rute yang sama secara gratis, tetapi hanya pada Senin hingga Selasa pekan ini.

Penerbangan Lion Air mengalami penundaan parah pada Rabu hingga Kamis pekan lalu. Sebanyak 14 penerbangan Lion Air dari Bandara Seokarno-Hatta, Tangerang, ditunda lebih dari empat jam. Akibatnya, 1.200 penumpang telantar.Delay berjam-jam pesawat Lion Air ternyata masih terjadi hingga Senin, 23 Februari 2015 awal pekan ini. Salah satunya adalah pesawat Lion Air rute Yogyakarta-Jakarta dengan nomor penerbangan JT 565 yang sedianya take off pukul 07.30 WIB, tetapi hingga pukul 12.30 WIB belum ada kepastian untuk terbang. “Kami sempat diminta menunggu sampai pukul 09.45 WIB,” kata Abdul Hadi Nashir, salah seorang penumpang, kepada Tempo.

Namun, sampai pukul 10.00 WIB, kata Abdul Hadi, belum ada kepastian kapan pesawat akan terbang. Sebagai kompensasi, Lion Air memberikan nasi goreng kepada penumpang. Untuk meredam emosi penumpang yang mulai tak sabar, pada pukul 10.30 WIB petugas Lion Air meminta penumpang untuk masuk ke pesawat. “Ternyata pesawat enggak berangkat-berangkat,” katanya. “Para penumpang kepanasan karena AC-nya enggak nyala,” kata Abdul Hadi.

Para penumpang berada di dalam pesawat hingga dua jam. Akhirnya, para penumpang turun lagi ke terminal. Sejumlah penumpang dilaporkan sempat menggebrak meja. Sampai pukul 13.00 WIB tadi, belum ada kejelasan kapan pesawat Yogyakarta-Jakarta diterbangkan. “Dari pihak Lion Air tidak ada yang memberi penjelasan,” katanya. Meskipun Lion Air menyatakan penerbangan sudah normal kembali, kenyataannya di sejumlah bandara masih terdapat keterlambatan penerbangan. Contohnya, di Bandara Juanda dilaporkan ada lima penerbangan yang delay.

Pekan lalu, Rabu, 18 Februari 2015, puluhan penerbangan Lion Air mengalami delay berhari-hari hingga Jumat. Hal ini juga berdampak ke banyak bandara lainnya. Tercatat sebanyak 6.000 penumpang telantar dan Angkasa Pura II terpaksa memberi talangan Rp 3 miliar sebagai uang refund, pengembalian tiket.Ada lima penerbangan Lion Air mengalami delay atau penundaan terbang di Terminal 1 Bandara International Juanda pada hari ini, Senin pagi, 23 Februari 2014 hingga pukul 12.00 WIB. Berdasarkan pantauan di layar informasi, penerbangan yang mengalami delay itu adalah tujuan Surabaya-Balikpapan, Surabaya-Palu, Surabaya-Tarakan dan kedatangan Balikpapan-Surabaya, serta Tarakan-Surabaya. Rata-rata delay bervariasi mulai dari satu-tiga jam.

Sementara di loket pembelian tiket Lion Air, masih ada beberapa calon penumpang yang masih melakukan pembelian tiket meskipun ada beberapa penerbangan yang mengalami delay. Mereka rata-rata mengatakan bahwa tiket penerbangan Lion Air relatif murah. “Ya lebih murah soalnya,” kata salah satu calon penumpang yang enggan disebutkan namanya kala ditemui Tempo di Terminal 1 Bandara International Juanda.

Penumpang itu hanya bisa berdoa semoga penerbangan yang akan dijalaninya itu tidak delay seperti beberapa penerbangan lainnya. “Berdoa sajalah,” katanya singkat. Sedangkan salah satu penumpang lainnya, Widhi, mengatakan bahwa para penumpang masih sangat kecewa pada manajemen Lion Air yang masih saja membiarkan pesawatnya delay hingga hari ini. Padahal, kata dia, beberapa waktu lalu manajemen menjamin maskapainya tidak akan delay. Kami enggak habis pikir kenapa masih saja delay, benar-benar kecewa, kata Widhi, kepada Tempo di Bandara International Juanda, Senin, 23 Februari 2015.

Widhi mengaku delay penerbangan menyebabkan banyak kerugian terhadapnya, mulai dari waktu, tenaga, dan biaya karena seharusnya dia tiba di acaranya tepat waktu. “Rugi banyak lah intinya,” kata dia. Ia berharap jajaran manajemen Lion Air selalu memperbaiki jadwal penerbangannya supaya tidak ada lagi delay-delay seperti beberapa hari ini karena akan mengganggu dan merugikan banyak pihak, terutama para penumpang yang didesak oleh agenda dan pekerjaannya.

“Kami mohon kepada manajemen dan pemerintah untuk memperbaikinya karena kami banyak dirugikan,’ kata Widhi.Tak mendapat kepastian berangkat, ratusan penumpang dari tiga penerbangan pesawat Lion Air mengamuk di Gate 5 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Minggu malam, 22 Februari 2015. Penumpang tujuan Jakarta hilang kesabaran setelah jadwal penerbangan mereka mengalami keterlambatan mulai pukul 17.40. “Kami sangat kesal pihak Lion Air tak memberikan kepastian soal keberangkatan. Kami pun diberi makan seperti memberi makan anak ayam. Makanannya tak dibagikan oleh petugas hanya disimpan sehingga penumpang berebut. Banyak yang tak dapat,” kata calon penumpang tujuan Jakarta, Alex.

Ratusan petugas keamanan dari Oritas Bandara, Kepolisian, dan TNI AU turun menenangkan calon penumpang. Hingga akhirnya emosi penumpang kembali reda setelah pihak Lion Air meminta semua calon penumpang yang mengalami keterlambatan selama 3 jam mengumpulkan kartu tanda penduduk untuk diberikan konpensasi ganti rugi senilai Rp300 ribu.

Tiga penerbangan pesawat Lion Air yang tertunda di antaranya rute Makassar- Jakarta. Pesawat dengan kode penerbangan JT : 777 tersebut seharusnya berangkat pukul 17.40 Wita namun tertunda hingga pukul 22.45 Wita. Kemudian penerbangan berikutnya JT 873 berangkat pukul 18.10 Wita juga mengalami keterlambatan hingga pukul 22.20 Wita. Sedangkan satu pesawat lainnya adalah JT 797 yang mengalami keterlambatan pukul 20.10 Wita menjadi pukul 23.40 Wita.

Pihak Lion Air, Harjuno, pihaknya memastikan semua calon penumpang yang mengalami keterlambatan akan diberangkatkan. Harjuno meminta maaf atas kesalahan teknis yang terjadi di internal Lion Air. “Penumpang yang delay selama Tiga jam ke atas akan diberi ganti rugi sesuai ketentuan,” kata dia. General Manager PT Angkasa Pura 1, Yanus Suprayogi, mengatakan, pihaknya hanya bisa memperketat pengamanan dengan menambah petugas keamanan agar penumpang tidak menyerobot hingga ke landasan bandara. “Apa yang terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin merupakan efek domino dari kejadian di Cengkareng,” kata Yanus.Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Budi Karya Sumadi mengatakan, kondisi bandara Soekarno-Hatta akibat keterlambatan penerbangan Lion Air cukup mengkhawatirkan. Bahkan beberapa calon penumpang mulai bersikap anarkis pada Kamis 19 Februari 2015.

Menurut Budi, keterlambatan Lion Ari itu berlangsung sejak hari Rabu 18 Februari 2015, pukul 11 siang. Hal itu mengakibatkan akumulasi penumpang di terminal 1A, 1B, dan terminal 3. Dalam kondisi ini justru tak ada petugas Lion Air yang menjelaskan tentang situasi. Hal inilah menurut dia, yang menyebabkan penumpang marah karena tak adanya kepastian.

Hal yang sama berlanjut pada Kamis, dan Jumat. Bahkan berimbas pada penerbangan maskapai lain yaitu Sriwijaya dan AirAsia. Kondisi lebih parah terjadi karena pada Jumat pagi. Para calon penumpang memblokir jalur operasional pelayanan. Mereka juga memblokir akses menuju terminal tiga dan dua. “Kondisi sudah mulai anarkis dan berpotensi mengakibatkan kekacauan dan ketakutan,” kata Budi, saat melakukan jumpa pers di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Ahad, 22 Februari 2015. Beberapa calon penumpang bahkan memecahkan kaca serta merusak komputer check in. Aksi itu menurut Budi, juga disertai kata-kata provokatif.

Budi mengatakan, Angkasa Pura II kemudian berkoordinasi ‎dengan Kementerian Perhubungan dan otoritas bandara untuk menyelesaikan masalah itu. ‎ Dalam rapat yang berlangsung Jumat ‎pagi itu, mereka memutuskan beberapa hal. Di antaranya, ketiga pihak bersepakat untuk menyelesaikan dan menertibkan para penumpang. “Kami berkomunikasi dengan para calon penumpang. Hasilnya adalah mereka membutuhkan ‎kepastian,” kata Budi.

Kepastian yang dimaksud bukan tentang terbang saja namun juga nasib uang mereka. “Kami juga menyepakati untuk m‎enalangi sementara uang refund penumpang.” Pemindahan penumpang dari satu maskapai ke maskapai lain akibat faktor ketidakberesan (irregularity) dalam jadwal penerbangan boleh dilakukan. Menurut Ketua Peneliti Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Wismono Nitidihardjo, kebijakan tersebut telah menjadi praktek lazim dalam bisnis penerbangan internasional.

“Secara umum, hal tersebut telah diatur dalam mekanisme internasional di International Air Transport Association,” kata Wismono saat dihubungi pada Senin, 23 Februari 2015. Wismono menuturkan, biasanya transfer penumpang semacam ini telah diatur oleh maskapai terkait dengan menggunakan mekanisme business to business. Atas kerja sama tersebut, maskapai akan mengeluarkan dokumen yang disebut dengan flight interruption manifest ketika mengalami ketidakberesan.

Dokumen tersebut disampaikan ke maskapai yang akan menerima transfer penumpang. “Biasanya, dengan kerja sama yang sudah ada, maskapai penerima transfer akan mengenakan harga khusus pada rute yang dimaksud,” ujarnya. Sayangnya, di Indonesia, kebijakan semacam ini belum diatur secara resmi oleh pemerintah. Menurut Wismono, pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, baru akan menuju ke arah itu.

Namun, Wismono menambahkan, tak tertutup kemungkinan maskapai dalam negeri melakukan hal serupa dengan perjanjian khusus sebelumnya. “Yang tidak ada kontrak, biasanya maskapai yang menerima transfer penumpang akan minta ganti ongkos secara penuh,” ujarnya. Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat, yang membidangi perhubungan, mengusulkan agar penumpang Lion Air yang penerbangannya tertunda bisa diterbangkan oleh maskapai lain, misalnya Garuda Indonesia. Usul ini keluar menyusul terjadinya penundaan penerbangan parah oleh maskapai Lion Air sejak Rabu pekan lalu. Akibat penundaan ini, ratusan penumpang telantar dan mengamuk karena tak mendapat kepastian terbang.

Categories
Perekomonian dan Bisnis

Giok Seberat 20 Ton Yang Jadi Sengketa Warga Aceh Akhirnya Disita Pemerintah


Batu giok yang ditaksir berukuran 20 ton yang ditemukan warga Nagan Raya, Aceh, akhirnya dibelah dan diamankan pemerintah setempat. Saking besarnya, baru sebagian kecil yang bisa diambil. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, saat dihubungi wartawan, Senin (23/2/2015). Keputusan membelah batu itu diambil setelah pihak-pihak yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bertemu beberapa hari lalu.

“Sudah 1,5 ton yang berhasil diambil,” kata Samsul singkat. Setelah dipotong, giok 20 ton ini diangkut oleh warga ke posko yang terletak sekitar 2 km dari hutan lindung tempat batu ditemukan. Selanjutnya, batu tersebut dibawa ke pusat perkantoran di Suka Makmue, Nagan Raya, yang berjarak sekitar 15 km.

Giok yang ditaksir berharga miliaran rupiah itu ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, pada pertengahan Februari 2015. Karena ada larangan pengambilan batu, warga tak mengambilnya. Namun pada tengah malam, warga dari desa lain datang dan ‘mencuil’ batu tersebut. Polisi dan TNI turun tangan menengahi ‘sengketa’. Mereka menjaga dan memasang garis polisi di lokasi penemuan. Nah, mulai Minggu (22/2) kemarin, batu dibelah untuk diamankan pemerintah setempat.Penemuan batu giok seberat 20 ton di Nagan Raya Aceh sempat menimbulkan ketegangan antara masyarakat lokal dengan warga pendatang. Untuk mencegah konflik sosial terjadi, pendatang diminta menghargai adat setempat.

“Jika pendatang menghargai adat setempat, tentu konflik sosial tidak akan terjadi seperti contoh di Nagan Raya,” kata Ketua Komisi I DPR Aceh, Abdullah Saleh, dalam rapat kerja membahas regulasi giok, di Gedung DPR Aceh, Selasa (17/2/2015). Rapat kerja ini membahas tentang rencana penetapan qanun atau regulasi menyangkut mekanisme pengambilan, pengolahan, dan penjualan batu alam jenis akik, giok dan lainnya di Aceh. Dalam rapat kerja tersebut, Abdullah Saleh juga menyarankan agar pemerintah setempat dalam mengambil keputusan lebih memperhatikan adat yang berlaku di masyarakat setempat. Hal ini, katanya, perlu dilakukan agar konflik sosial tidak terjadi.

“Kita tidak mau konflik sosial ini terus terjadi dan harus segera dicari solusi,” jelasnya. Giok seberat 20 ton ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh beberapa hari lalu di kawasan hutan lindung. Karena ada aturan yang melarang warga menambang, masyarakat setempat tidak mengambil giok tersebut. Tapi kemudian datang sejumlah pendatang hendak mengambil secara diam-diam.

Warga setempat yang mengetahui ini kemudian kembali mendatangi lokasi yang berjarak sekitar 10 km dari perkampungan untuk mencegah pendatang mengambil batu. Giok tersebut hingga kini masih dijaga oleh warga. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, keputusan penghentikan penambangan sementara ini dikeluarkan untuk menertibkan para pencari batu sembari menunggu keluarnya aturan baru. Setelah batas waktu habis, para penambang akan mencari giok dilokasi yang ditentukan.

Aturan yang dikeluarkan pada 2 Februari 2015 silam ini akan berlaku hingga 8 Maret mendatang. Selama batas waktu tersebut, warga tidak diizinkan mengambil batu di areal hutan lindung. “Setelah 8 Maret nanti warga yang mencari batu akan dibagi kelompok dan mereka mencarinya di lokasi yang telah ditentukan,” kata Samsul. Dinas Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral (Distamben) Aceh meminta agar pengolahan maupun pemurnian giok asal Aceh tetap dilakukan di tanah Rencong. Jika pun bongkahan dibawa keluar, harus mendapat izin dari Pemerintah Aceh.

Kepala Distamben, Said Ikhsan Tambe, mengatakan, hampir seluruh daerah di Aceh berpotensi memiliki batu mulia baik jenis giok maupun lainnya. Giok Aceh yang dikenal dengan kualitas nomor 2 terbaik di dunia banyak ditemukan di Nagan Raya dan Aceh Tengah. Selain dua daerah tersebut, giok di sejumlah daerah lain seperti Aceh Jaya. Sementara di bagian tengah Aceh, hampir semua wilayah terdapat batu mulia.

“Di Aceh banyak terdapat giok. Jadi sekarang pengolahan batu dan pemurnian giok ini harus dilakukan di Aceh. Kalau bongkahan dibawa keluar, harus ada izin dari gubernur Aceh,” kata Said, dalam pertemuan rapat kerja dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Selasa (17/2/2015). Rapat kerja ini membahas tentang rencana penetapan qanun atau regulasi menyangkut mekanisme pengambilan, pengolahan, dan penjualan batu alam jenis akik, giok dan lainnya di Aceh.

Meski giok sudah semakin digemari masyarakat, tapi hingga kini belum ada harga pasti yang ditetapkan. Menurut Said, jika pemerintah berencana mengatur harga jual batu, ada beberapa hal yang perlu perhatikan seperti tingkat kekerasan batu, tingkat kesulitan mendapatkannya dan kelangkaan batu. “Tingkat kekerasan ini penting diperhatikan. Semakin keras batu semakin mahal harganya. Batu paling keras itu jenis intan dengan angka 10 mohs,” jelasnya.

Di Nagan Raya, Aceh, warga mulai beralih profesi menjadi penambang batu sejak dua tahun lalu. Jika biasanya mereka berladang atau bertani, kini sebagian kaum laki-laki memilih mencari giok. Batu yang mereka dapat kemudian dijual kepada masyarakat dari luar kabupaten tersebut. Seorang warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh, Kamaruzzaman, mengatakan, dirinya sudah beberapa bulan terakhir ikut mencari batu bersama sejumlah warga lain dari desanya. Saban hari mereka menyusuri sungai untuk mencari giok yang bakal dijual dengan harga ratusan ribu rupiah.

“Kami berharap pemerintah dapat membantu kami pencari batu,” harap kata Kamaruzzaman saat dihubungi, Selasa (17/2/2015).Batu giok seberat 20 ton yang ditemukan masyarakat hingga kini masih diamankan sementara oleh polisi dibantu TNI dan warga. Di lokasi, juga sudah dipasang garis polisi agar tidak ada warga yang berusaha mengambil batu. Sampai kapan batu tersebut diamankan?

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, giok seberat 20 ton yang ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh akan diamankan hingga keluarnya putusan dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Pemerintah setempat akan membuat pertemuan untuk membahas terkait penemuan batu raksasa tersebut.

“Sekarang diamankan dulu. Nanti kita tunggu gimana hasil keputusan Forkopimda,” kata Samsul Selasa (17/2/2015). Pemerintah Kabupaten Nagan Raya hingga kini masih terus meminta warga untuk tidak menambang batu di hutan lindung di daerah tersebut. Aturan penghentian tambang ini akan berlaku hingga 8 Maret 2015 mendatang. Saat giok seberat 20 ton ditemukan, warga desa setempat tidak berani mengambil karena ada aturan larangan mengambil. Tapi tiba-tiba datang sejumlah masyarakat dari desa setempat berusaha mengambil secara diam-diam. Warga yang mengetahui ini kemudian terus berjaga agar batu tersebut tidak berpindah tangan.

“Sampai sekarang masih dijaga. Kami di sini hanya menjalankan putusan Forkopimda. Itu semua tergantung dari keputusan bersama menyangkut batu ini,” jelasnya. Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah, Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA), Nasrul Sufi, menyarankan, batu tersebut bisa dimiliki perorangan. “Batu itu kan ciptaan Allah. Pemerintah harus mencari solusi apakah batu itu diambil kemudian dibagi. Tapi jangan diambil oleh pemerintah semua, karena di situ kan ada hak-hak masyarakat juga,” kata Nasrul.

Batu giok yang ditemukan warga diperkirakan berjenis idocrase super. Jika 60 persen saja batu tersebut berisi idocrase, harganya ditaksir mencapai Rp 30 miliar rupiah. Namun warga setempat menilai sebagian bahan batu agak mentah, sehingga harganya hanya sekitar Rp 1 miliar.

Batu seberat 20 ton ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh di hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Sejak ditemukan, batu tersebut sudah diincar oleh sejumlah warga. Bahkan ada yang berusaha mengambilnya secara diam-diam sehingga sempat menimbulkan konflik.

Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA), Nasrul Sufi, mengatakan, Pemerintah Nagan Raya harus segera mencari solusi agar batu giok seberat 20 ton tidak menjadi persoalan di tengah masyarakat. Sekarang, warga Desa Pante Ara masih terus menjaga batu agar tidak ada yang mengambil. “Batu itu kan ciptaan Allah. Pemerintah harus mencari solusi apakah batu itu diambil kemudian dibagi. Tapi jangan diambil oleh pemerintah semua, karena di situ kan ada hak-hak masyarakat juga,” kata Nasrul saat ditemui, Selasa (17/2/2015).

Batu giok seberat 20 ton yang ditemukan warga diperkirakan berjenis idocrase super dengan harga selangit. Jika 60 persen saja batu tersebut berisi idocrase, harganya ditaksir mencapai Rp 30 miliar rupiah. Menurut Nasrul, jika batu itu diambil, masyarakat yang menemukan juga harus mendapat jatah. “Kalau masyarakat tidak menemukan batu itu, kan pemerintah gak tau,” jelasnya.

Sementara seorang warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Kamaruzzaman, mengatakan, giok seberat 20 ton yang ditemukan oleh Usman (45) merupakan batu pribadi bukan batu umum. Hal itu karena hanya Usman yang menemukan pertama sekali. “Jadi itu bukan batu umum. Kalau datang orang lain mengambilnya sayang orang yang pertama dapat,” kata Kamaruzzaman.

Giok seberat 20 ton yang ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya akhirnya dibelah oleh Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) setempat. Mereka melibatkan masyarakat untuk mengangkut batu yang sudah dipotong-potong ke posko pertama berjarak sekitar 2 km dari hutan. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, pihaknya hingga kemarin baru berhasil memotong seberat 1,5 ton giok. Batu tersebut selanjutnya dibawa turun oleh warga sebelum diangkut ke pusat pemerintahan.

“Warga yang mengangkut ini mendapat upah Rp 10.000 untuk satu kilogram yang diangkatnya,” kata Samsul saat dihubungi wartawan, Senin (23/2/2015). Untuk mengangkut batu, 60 warga yang ikut membantu harus melewati tanjakan bukit dan sungai. Batu yang diperkirakan 20 ton ini dipotong dengan menggunakan empat mesin yang dioperasikan oleh masyarakat.

Lokasi penemuan batu masih terus dijaga oleh pihak kepolisian. Meski sempat ditentang oleh warga, namun proses pemindahan batu ini berjalan lancar. “Kita memperkirakan membutuhkan waktu selama 20 hari untuk memindahkan batu ini,” jelasnya. Keputusan membelah batu jumbo tersebut didapatkan melalui pertemuan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) pekan lalu. Sebelumnya, batu sempat jadi masalah karena ada warga yang mengamankan dan sebaliknya, ada warga yang berusah mengambil. Polisi dan TNI turun tangan dalam kejadian ini.