Jomblo dan Orang Yang Ditinggal Mati Pasangan Di Indonesia Termasuk Orang Paling Bahagia


Laporan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, berdasarkan status perkawinan, responden yang belum menikah memiliki indeks kebahagiaan paling tinggi. “Menurut status perkawinan, indeks kebahagian mereka yang belum menikah adalah 68,77, ini paling tinggi. Ya ini karena mereka tidak mikir apa-apa. Tidak ada yang menggelayuti pikiran,” ucap Kepala BPS Suryamin dalam paparan di Jakarta, Kamis (5/2/2015).

Suryamin lebih lanjut menuturkan, responden yang sudah menikah memiliki tingkat kebahagiaan yang sedikit lebih rendah dibanding yang belum menikah, yaitu di level 68,74. Sementara itu, responden cerai mati memiliki tingkat kebahagiaan di level 65,80. “Cerai hidup tidak bahagia di antara status perkawinan 65,04. Mereka yang cerai hidup ini (tidak bahagia) karena (mantan pasangan) masih kelihatan. Ini bikin enggak bahagia,” imbuh Suryamin.

Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta telah mengukur indeks kebahagiaan berdasarkan usia warga DKI Jakarta. Berdasarkan survei yang mereka lakukan, warga Jakarta yang berusia tua justru lebih bahagia daripada warga yang berusia muda.

“Kalau di Jakarta, semakin tua umur, semakin bahagia,” ujar Kepala Bidang Statistik Sosial BPS DKI Jakarta Sri Santo Budi di Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2015). Survei BPS, warga Jakarta yang berusia 17 hingga 24 tahun mendapat poin kebahagian sebesar 62, 01 poin. Poin ini merupakan poin terendah. Kata Sri, hal ini menunjukkan tingkat kebahagian warga usia remaja yang menjelang dewasa relatif rendah.

Kemudian, tingkat kebahagiaan kedua diisi oleh warga yang berusia 25 hingga 40 tahun. Golongan ini memiliki poin kebahagiaan sebesar 69,32 poin. Poinnya beda tipis dengan warga berusia 41 hingga 64 tahun yang memiliki poin kebahagiaan sebesar 68,33 poin.

Sri mengatakan poin kebahagiaan paling tinggi adalah mereka yang berusia di atas 65 tahun dengan poin 70, 39. Indeks kebahagiaan berdasarkan usia itu didapat dari hasil survei kepada 1.129 keluarga. Seluruh respondennya berada di wilayah perkotaan. Hasil survei di Jakarta memang menunjukkan semakin tua semakin bahagia. Akan tetapi hal yang sebaliknya justru terjadi pada indeks kebahagiaan tingkat nasional.

BPS RI mencatat semakin tua seseorang, semakin tidak bahagia. Kelompok berusia 17 hingga 24 tahun mendapat poin kebahagiaan sebesar 68,73. Sementara, kelompok berusia 25-40 tahun memperoleh poin kebahagiaan sebesar 68,70.

Kelompok berusia 41-64 tahun mendapat poin kebahagiaan sebesar 68,47. Kemudian, kelompok berusia di atas 65 tahun mendapat poin kebahagiaan paling rendah yaitu 66,24 poin. Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta membuat indeks kebahagiaan menurut karakteristik demografi dan ekonomi tahun 2014.

Salah satunya ditentukan berdasarkan status perkawinan warga Jakarta yang dibagi menjadi kategori belum menikah, menikah, cerai hidup, dan cerai mati. “Ternyata yang paling tidak bahagia itu yang belum menikah. Yang paling bahagia itu yang menikah,” ujar Kepala Bidang Statistik Sosial BPS DKI Jakarta Sri Santo Budi di Salemba, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2015).

Hasil itu disimpulkan berdasarkan survei BPS DKI Jakarta terhadap 1.129 keluarga. Poin kebahagiaan paling tinggi adalah 69,32 poin untuk warga Jakarta yang sudah menikah. Tingkat kebahagiaan kedua ditempati oleh warga yang ditinggal mati oleh pasangannya, yaitu 69,29 poin.

Kemudian, tempat ketiga diisi oleh warga yang bercerai dengan pasangannya. Akan tetapi, keduanya masih hidup. Poin untuk warga yang cerai hidup ini adalah 67,90 poin. Sementara poin terendah ditempati oleh warga yang belum menikah, yaitu 67, 76 poin. Selain melakukan survei berdasarkan status perkawinan, BPS DKI juga melakukan survei berdasarkan banyaknya anggota keluarga.

Sri mengungkapkan, tingkat kebahagiaan paling tinggi ada pada keluarga yang terdiri dari dua orang saja. Poinnya adalah 69,71 poin. “Nah, kalau dua orang biasanya pengantin baru nih. Balik lagi ke status perkawinan, orang yang menikah dinilai paling bahagia,” ujar Sri. Akan tetapi, kata Sri, kebahagiaan pasangan yang baru menikah itu dinilai menurun ketika mereka memiliki anak pertama. Kemudian naik kembali ketika memiliki anak kedua. Tidak hanya anak, anggota keluarga juga termasuk sanak saudara yang tinggal serumah.

Berdasarkan survei, jika jumlah anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah itu lebih dari tujuh orang, maka kehidupannya dinilai semakin tidak bahagia. Menurut Sri, tidak dapat ditentukan alasan ketidakbahagiaan warga belum menikah di Jakarta. Hal ini karena BPS DKI Jakarta hanya melakukan survei, tanpa menambahkan komponen alasan. “Mungkin ke depannya bisa kita tambahkan kenapa bahagia, kenapa tidak bahagia,” ujar Sri.

Namun, indeks kebahagiaan menurut status perkawinan tingkat DKI Jakarta ternyata berbeda dengan tingkat nasional. Tingkat kebahagiaan paling tinggi justru diisi oleh warga yang belum menikah. Poinnya di tingkat nasional adalah 68,77 poin. Tingkat kebahagiaan tingkat nasional urutan kedua adalah warga yang sudah menikah, yaitu 68,74 poin.

Tempat ketiga diisi oleh warga yang bercerai, yaitu 65,04 poin. Sementara status perkawinan yang paling tidak bahagia di tingkat nasional adalah mereka yang ditinggal mati pasangannya. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, indeks kebahagiaan orang Indonesia mengalami kenaikan 3,17 poin dibandingkan tahun lalu di level 65,11, menjadi di level 68,28. Kepala BPS Suryamin menjelaskan, BPS mengukur sepuluh aspek kehidupan untuk menyusun indeks komposit tersebut.

Sebanyak lima dari sepuluh aspek memiliki indeks di atas tujuh puluh. Kelima aspek tersebut adalah ketersediaan waktu luang (71,74), hubungan sosial (74,29), keharmonisan keluarga (78,89), kondisi keamanan (76,63), serta keadaan lingkungan (74,86). “Indeks kebahagiaan dari aspek hubungan sosial tinggi. Ini menunjukkan orang Indonesia tingkat sosialnya tinggi. Asal senang berkawan,” ujar Suryamin dalam paparan, Kamis (5/2/2015).

Indeks kebahagiaan yang tinggi pada aspek keadaan lingkungan juga mencerminkan bahwa masyarakat Indonesia senang dengan kondisi yang aman. “Senang, keluar rumah aman. Itu menjadi komponen yang membuat orang bahagia,” lanjut Suryamin. Sayangnya, laporan BPS juga menunjukkan aspek pendidikan belum berkontribusi terhadap kebahagiaan. Menurut Suryamin, hal tersebut juga sesuai dengan komposisi masyarakat Indonesia yang masih berpendidikan rendah.

Adapun BPS memotret indeks kebahagiaan dari aspek pendidikan hanya di level 58,28. Suryamin menegaskan, aspek pendidikan adalah kebahagiaan yang terendah dalam masyarakat Indonesia, begitu pun dengan aspek kesehatan yang masih di level 69,72. “Aspek pendapatan juga masih rendah. Ini menggambarkan pendapatan tidak setinggi hubungan sosial. Ini juga menunjukkan bahwa di kita yang miskin juga masih banyak. Hampir miskin, rentan miskin, masih banyak,” kata Suryamin.

BPS melaporkan indeks kebahagiaan dari aspek pendapatan rumah tangga di level 63,09. Sementara itu, indeks kebahagiaan dari aspek kondisi rumah tangga dan aset di level 65,01, sementara aspek pekerjaan di level 67,08.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s