Ini Profil 3 Pimpinan Baru KPK Pengganti Abraham Samad


Presiden Joko Widodo baru saja mengumumkan pemberhentian dua pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi, Abraham Samad dan Bambang Widjojanto. Sebagai gantinya, Jokowi akan menerbitkan Keputusan Presiden soal pengangkatan tiga anggota sementara pimpinan KPK, yaitu Taufiequrachman Ruki, Indriyanto Seno Adji, dan Johan Budi. Siapakah mereka?

1. Taufiequrachman Ruki.
Ia adalah mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi pertama. Dia menjabat sejak 2003 – 2007. Dia juga pernah menjadi anggota DPR RI:

1992-1997: Komisi III
1997-1999: Komisi VII, anggota MPR RI, dan anggota tim asistensi BP-MPR RI
1999-2000: wakil ketua fraksi TNI Polri (Korbid Kesra)
1999-2001: Anggota MPR RI, Anggota Panitia Ad Hoc I Badan Pekerja MPR
2000-2001: Anggota DPR RI, Ketua Komisi VII. Ia juga Pernah menjadi Anggota Pansus, Anggota Tim Penyusun RUU DPR-RI.

Dia juga adalah mantan polisi dengan masa jabatan sebagai berikut:
1974-1975: Kapolsek Kelari Polres Karawang
1975-1979: Kepala subseksi Kejahatan Poltabes Bandung
1979-1981: Kepala Bagian Operasi Polres Baturaja
1981-1982: Kepala Bagian Operasi Poltabes Palembang
1982-1984: Wakil Kepala Kepolisian Resort Lampung Selatan
1984-1985: Kepala Biro Reserse Asisten Operasi Kapolri
1985-1986: Perwira Staf Pusat Komando
1986-1987: Kepala Bagian Operasi Sekretariat Deputi Operasi Kapolri
1987-1989: Kepala Bagian Perencanaan Sekretariat Deputi Operasi Kapolri
1989-1991: Kepala Kepolisian Resort Cianjur
1991- 1992: Kepala Kepolisian Resort Tasikmalaya
1992: Sekretaris Direktorat Lalu Lintas Polda Jabar
1992-1997: Kepala Kepolisian Wilayah Malang.

2. Indriyanto Seno Adji.
2004: dikukuhkan sebagai Guru besar hukum pidana oleh Universitas Krisna Dwipayana. Saat ini menjabat sebagai guru besar hukum pidana Universitas Indonesia.

3. Johan Budi Sapto Prabowo.
1998-2003: Wartawan Tempo
2003-2006: Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK
2006: Juru bicara KPK
2008-2009: Direktur Pendidikan dan Pelayanan masyarakat KPK sekaligus Juru Bicara KPK
2009-2014: Kepala Biro Humas KPK
2014-2015: Deputi Pencegahan KPK
2015: Pimpinan sementara KPK

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad tidak bisa menerima penetapan tersangka oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan. Samad membantah memalsukan dokumen. “Dalam hati kecil saya, saya sama sekali tak bisa terima apa yang dituduhkan kepada saya,” kata Samad saat konferensi pers di kantornya, 17 Februari 2015.

Samad mengatakan alamat rumahnya adalah Jalan Mapala Blok E 29 Nomor 30, RT 004 RW 005, Kelurahan Tidung, Kecamatan Rappocini, Makassar, yang ditempati sejak 1999. Alamat itu, menurut Samad, berbeda dengan dokumen yang ditunjukkan polisi mengenai seorang wanita bernama Feriyani Lim. “Kartu Keluarga yang dimaksud adalah alamat sebuah ruko. Berdasarkan itu saya sampaikan sampai detik ini saya belum mengerti,” ujar Samad. Abraham Samad dijadikan tersangka oleh Polda Sulawesi Selatan atas kasus pemalsuan surat. Feriyani Lim sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka di kasus yang sama.

Surat panggilan untuk Samad mencantumkan pasal-pasal sangkaannya. Di antaranya, “Dalam perkara tindak pidana pemalsuan surat atau tindak pidana administrasi kependudukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 264 ayat (1) subs Pasal 266 ayat (1) KUHPidana.” “Atau Pasal 93 UU Nomor 23 Tahun 2006 yang telah diperbaharui dengan UU Nomor 24 Tahun 2013,” demikian tercantum di surat panggilan itu.

Juru Bicara Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat, Komisaris Besar Endi Sutendi mengatakan pihaknya sudah melayangkan surat panggilan kepada Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad untuk diperiksa Jumat mendatang. Abraham ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus pemalsuan dokumen administrasi kependudukan.

“Kita sudah layangkan surat panggilan kepada tersangka, Selasa,” ujar Endi, Rabu, 18 Februari 2015. Menurut Endi, Polda Sulawesi Selatan dan Barat telah menyiapkan tim pemeriksa yang berjumlah tiga orang, dari total penyidik keseluruhan yang menangani kasus tersebut sekitar 8 orang. Endi juga telah menyiapkan tempat pemeriksaan untuk Abraham Samad. Endi mengatakan Polda hanya menangani kasus sebagai terlapor yakni tersangka Feriyani Lim. Sedangkan untuk terlapor Abraham Samad dan Sukriansyah Latief ditangani Badan Reserse Kriminal Polri.

Dalam kasus Feriyani, kata Endi, hingga kini penyidik sudah memeriksa 23 orang yang dijadikan saksi terkait kasus pemalsuan dokumen kependudukan. “Jadi, kami tidak tahu, apakah Sukriansyah sudah diperiksa atau belum. Karena kami hanya menangani kasus Feriyani Lim saja,” tutur Mantan Kepala Kepolisian Resor Enrekang ini. Endi juga menegaskan bahwa saksi- saksi yang telah menjalani pemeriksaan mengetahui, mendengar dan menyaksikan peristiwa tersebut.

Pada Selasa lalu, Polda Sulawesi Selatan dan Barat mengumumkan penetapan tersangka Abraham Samad dalam kasus pemalsuan dokumen administrasi kependudukan. Akibat kasus tersebut, Abraham Samad terancam hukuman penjara maksimal delapan tahun. Kasus ini dilaporkan Ketua Lembaga Peduli KPK dan Polri Chairil Chaidar Said ke Badan Reserse Kriminal Mabes Polri beberapa waktu lalu. Selanjutnya, kasus ini dilimpahkan ke Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat per 29 Januari 2015. Berselang empat hari kemudian, polisi menetapkan Feriyani sebagai tersangka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s