Giok Seberat 20 Ton Yang Jadi Sengketa Warga Aceh Akhirnya Disita Pemerintah


Batu giok yang ditaksir berukuran 20 ton yang ditemukan warga Nagan Raya, Aceh, akhirnya dibelah dan diamankan pemerintah setempat. Saking besarnya, baru sebagian kecil yang bisa diambil. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, saat dihubungi wartawan, Senin (23/2/2015). Keputusan membelah batu itu diambil setelah pihak-pihak yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bertemu beberapa hari lalu.

“Sudah 1,5 ton yang berhasil diambil,” kata Samsul singkat. Setelah dipotong, giok 20 ton ini diangkut oleh warga ke posko yang terletak sekitar 2 km dari hutan lindung tempat batu ditemukan. Selanjutnya, batu tersebut dibawa ke pusat perkantoran di Suka Makmue, Nagan Raya, yang berjarak sekitar 15 km.

Giok yang ditaksir berharga miliaran rupiah itu ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, pada pertengahan Februari 2015. Karena ada larangan pengambilan batu, warga tak mengambilnya. Namun pada tengah malam, warga dari desa lain datang dan ‘mencuil’ batu tersebut. Polisi dan TNI turun tangan menengahi ‘sengketa’. Mereka menjaga dan memasang garis polisi di lokasi penemuan. Nah, mulai Minggu (22/2) kemarin, batu dibelah untuk diamankan pemerintah setempat.Penemuan batu giok seberat 20 ton di Nagan Raya Aceh sempat menimbulkan ketegangan antara masyarakat lokal dengan warga pendatang. Untuk mencegah konflik sosial terjadi, pendatang diminta menghargai adat setempat.

“Jika pendatang menghargai adat setempat, tentu konflik sosial tidak akan terjadi seperti contoh di Nagan Raya,” kata Ketua Komisi I DPR Aceh, Abdullah Saleh, dalam rapat kerja membahas regulasi giok, di Gedung DPR Aceh, Selasa (17/2/2015). Rapat kerja ini membahas tentang rencana penetapan qanun atau regulasi menyangkut mekanisme pengambilan, pengolahan, dan penjualan batu alam jenis akik, giok dan lainnya di Aceh. Dalam rapat kerja tersebut, Abdullah Saleh juga menyarankan agar pemerintah setempat dalam mengambil keputusan lebih memperhatikan adat yang berlaku di masyarakat setempat. Hal ini, katanya, perlu dilakukan agar konflik sosial tidak terjadi.

“Kita tidak mau konflik sosial ini terus terjadi dan harus segera dicari solusi,” jelasnya. Giok seberat 20 ton ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh beberapa hari lalu di kawasan hutan lindung. Karena ada aturan yang melarang warga menambang, masyarakat setempat tidak mengambil giok tersebut. Tapi kemudian datang sejumlah pendatang hendak mengambil secara diam-diam.

Warga setempat yang mengetahui ini kemudian kembali mendatangi lokasi yang berjarak sekitar 10 km dari perkampungan untuk mencegah pendatang mengambil batu. Giok tersebut hingga kini masih dijaga oleh warga. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, keputusan penghentikan penambangan sementara ini dikeluarkan untuk menertibkan para pencari batu sembari menunggu keluarnya aturan baru. Setelah batas waktu habis, para penambang akan mencari giok dilokasi yang ditentukan.

Aturan yang dikeluarkan pada 2 Februari 2015 silam ini akan berlaku hingga 8 Maret mendatang. Selama batas waktu tersebut, warga tidak diizinkan mengambil batu di areal hutan lindung. “Setelah 8 Maret nanti warga yang mencari batu akan dibagi kelompok dan mereka mencarinya di lokasi yang telah ditentukan,” kata Samsul. Dinas Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral (Distamben) Aceh meminta agar pengolahan maupun pemurnian giok asal Aceh tetap dilakukan di tanah Rencong. Jika pun bongkahan dibawa keluar, harus mendapat izin dari Pemerintah Aceh.

Kepala Distamben, Said Ikhsan Tambe, mengatakan, hampir seluruh daerah di Aceh berpotensi memiliki batu mulia baik jenis giok maupun lainnya. Giok Aceh yang dikenal dengan kualitas nomor 2 terbaik di dunia banyak ditemukan di Nagan Raya dan Aceh Tengah. Selain dua daerah tersebut, giok di sejumlah daerah lain seperti Aceh Jaya. Sementara di bagian tengah Aceh, hampir semua wilayah terdapat batu mulia.

“Di Aceh banyak terdapat giok. Jadi sekarang pengolahan batu dan pemurnian giok ini harus dilakukan di Aceh. Kalau bongkahan dibawa keluar, harus ada izin dari gubernur Aceh,” kata Said, dalam pertemuan rapat kerja dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Selasa (17/2/2015). Rapat kerja ini membahas tentang rencana penetapan qanun atau regulasi menyangkut mekanisme pengambilan, pengolahan, dan penjualan batu alam jenis akik, giok dan lainnya di Aceh.

Meski giok sudah semakin digemari masyarakat, tapi hingga kini belum ada harga pasti yang ditetapkan. Menurut Said, jika pemerintah berencana mengatur harga jual batu, ada beberapa hal yang perlu perhatikan seperti tingkat kekerasan batu, tingkat kesulitan mendapatkannya dan kelangkaan batu. “Tingkat kekerasan ini penting diperhatikan. Semakin keras batu semakin mahal harganya. Batu paling keras itu jenis intan dengan angka 10 mohs,” jelasnya.

Di Nagan Raya, Aceh, warga mulai beralih profesi menjadi penambang batu sejak dua tahun lalu. Jika biasanya mereka berladang atau bertani, kini sebagian kaum laki-laki memilih mencari giok. Batu yang mereka dapat kemudian dijual kepada masyarakat dari luar kabupaten tersebut. Seorang warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh, Kamaruzzaman, mengatakan, dirinya sudah beberapa bulan terakhir ikut mencari batu bersama sejumlah warga lain dari desanya. Saban hari mereka menyusuri sungai untuk mencari giok yang bakal dijual dengan harga ratusan ribu rupiah.

“Kami berharap pemerintah dapat membantu kami pencari batu,” harap kata Kamaruzzaman saat dihubungi, Selasa (17/2/2015).Batu giok seberat 20 ton yang ditemukan masyarakat hingga kini masih diamankan sementara oleh polisi dibantu TNI dan warga. Di lokasi, juga sudah dipasang garis polisi agar tidak ada warga yang berusaha mengambil batu. Sampai kapan batu tersebut diamankan?

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, giok seberat 20 ton yang ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh akan diamankan hingga keluarnya putusan dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Pemerintah setempat akan membuat pertemuan untuk membahas terkait penemuan batu raksasa tersebut.

“Sekarang diamankan dulu. Nanti kita tunggu gimana hasil keputusan Forkopimda,” kata Samsul Selasa (17/2/2015). Pemerintah Kabupaten Nagan Raya hingga kini masih terus meminta warga untuk tidak menambang batu di hutan lindung di daerah tersebut. Aturan penghentian tambang ini akan berlaku hingga 8 Maret 2015 mendatang. Saat giok seberat 20 ton ditemukan, warga desa setempat tidak berani mengambil karena ada aturan larangan mengambil. Tapi tiba-tiba datang sejumlah masyarakat dari desa setempat berusaha mengambil secara diam-diam. Warga yang mengetahui ini kemudian terus berjaga agar batu tersebut tidak berpindah tangan.

“Sampai sekarang masih dijaga. Kami di sini hanya menjalankan putusan Forkopimda. Itu semua tergantung dari keputusan bersama menyangkut batu ini,” jelasnya. Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah, Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA), Nasrul Sufi, menyarankan, batu tersebut bisa dimiliki perorangan. “Batu itu kan ciptaan Allah. Pemerintah harus mencari solusi apakah batu itu diambil kemudian dibagi. Tapi jangan diambil oleh pemerintah semua, karena di situ kan ada hak-hak masyarakat juga,” kata Nasrul.

Batu giok yang ditemukan warga diperkirakan berjenis idocrase super. Jika 60 persen saja batu tersebut berisi idocrase, harganya ditaksir mencapai Rp 30 miliar rupiah. Namun warga setempat menilai sebagian bahan batu agak mentah, sehingga harganya hanya sekitar Rp 1 miliar.

Batu seberat 20 ton ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh di hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Sejak ditemukan, batu tersebut sudah diincar oleh sejumlah warga. Bahkan ada yang berusaha mengambilnya secara diam-diam sehingga sempat menimbulkan konflik.

Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA), Nasrul Sufi, mengatakan, Pemerintah Nagan Raya harus segera mencari solusi agar batu giok seberat 20 ton tidak menjadi persoalan di tengah masyarakat. Sekarang, warga Desa Pante Ara masih terus menjaga batu agar tidak ada yang mengambil. “Batu itu kan ciptaan Allah. Pemerintah harus mencari solusi apakah batu itu diambil kemudian dibagi. Tapi jangan diambil oleh pemerintah semua, karena di situ kan ada hak-hak masyarakat juga,” kata Nasrul saat ditemui, Selasa (17/2/2015).

Batu giok seberat 20 ton yang ditemukan warga diperkirakan berjenis idocrase super dengan harga selangit. Jika 60 persen saja batu tersebut berisi idocrase, harganya ditaksir mencapai Rp 30 miliar rupiah. Menurut Nasrul, jika batu itu diambil, masyarakat yang menemukan juga harus mendapat jatah. “Kalau masyarakat tidak menemukan batu itu, kan pemerintah gak tau,” jelasnya.

Sementara seorang warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Kamaruzzaman, mengatakan, giok seberat 20 ton yang ditemukan oleh Usman (45) merupakan batu pribadi bukan batu umum. Hal itu karena hanya Usman yang menemukan pertama sekali. “Jadi itu bukan batu umum. Kalau datang orang lain mengambilnya sayang orang yang pertama dapat,” kata Kamaruzzaman.

Giok seberat 20 ton yang ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya akhirnya dibelah oleh Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) setempat. Mereka melibatkan masyarakat untuk mengangkut batu yang sudah dipotong-potong ke posko pertama berjarak sekitar 2 km dari hutan. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, pihaknya hingga kemarin baru berhasil memotong seberat 1,5 ton giok. Batu tersebut selanjutnya dibawa turun oleh warga sebelum diangkut ke pusat pemerintahan.

“Warga yang mengangkut ini mendapat upah Rp 10.000 untuk satu kilogram yang diangkatnya,” kata Samsul saat dihubungi wartawan, Senin (23/2/2015). Untuk mengangkut batu, 60 warga yang ikut membantu harus melewati tanjakan bukit dan sungai. Batu yang diperkirakan 20 ton ini dipotong dengan menggunakan empat mesin yang dioperasikan oleh masyarakat.

Lokasi penemuan batu masih terus dijaga oleh pihak kepolisian. Meski sempat ditentang oleh warga, namun proses pemindahan batu ini berjalan lancar. “Kita memperkirakan membutuhkan waktu selama 20 hari untuk memindahkan batu ini,” jelasnya. Keputusan membelah batu jumbo tersebut didapatkan melalui pertemuan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) pekan lalu. Sebelumnya, batu sempat jadi masalah karena ada warga yang mengamankan dan sebaliknya, ada warga yang berusah mengambil. Polisi dan TNI turun tangan dalam kejadian ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s