Kisah Tatang Koswara Sniper Legendaris Indonesia Yang Berada Diurutan 14 Sniper Terhebat Dunia


Tatang Koswara (68) hidup seadanya. Pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu) membuat uang pensiunnya tak besar. Kakek tujuh orang cucu ini pun membuka warung makan di lingkungan Kodiklat TNI AD di Bandung. Tatang pensiun pada 1994, bersama istrinya Tati Hayati yang dinikahi pada 1968, mereka tinggal di sebuah rumah sederhana di Cibaduyut. Di ruang tamu berjejer sejumlah medali, sertifikat dan brevet tanda pendidikan yang pernah diikutinya.

Tatang Koswara Meninggal Dunia

Selain uang pensiun dan membuka warung makan, dia juga kadang melatih para sniper TNI. Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku “Sniper Training, Techniques and Weapons” karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin.

“Tahun lalu saya selama dua bulan melatih 60-an calon sniper Kopassus. Juga ada permintaan dari Komandan Paskhas di Soreang untuk melatih,” kata Tatang yang ditemui, 3 Februari lalu di rumahnya. Setahun sebelum pensiun, ia pernah memamerkan kemahirannya sebagai sniper dengan menembak pita balon di atas kepala Jenderal Wismoyo Arismunandar. “Waktu itu saya diminta memutus pita dengan peluru yang melintas di atas kepala KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat). Pak Wismoyo tak marah, malah memberi saya uang ha-ha-ha,” ujar Tatang.

Mantan Inspektur Jenderal Mabes TNI Letnan Jenderal (Purn) Gerhan Lantara mengakui reputasi Tatang sebagai pelatih sniper. “Pak Tatang adalah salah satu pelatih menembak runduk terbaik yang dimiliki Indonesia. Mungkin saya salah satu muridnya yang terbaik he-he-he,” ujarnya. Sementara Kolonel (Purn) Peter Hermanus, 74 tahun, mantan ahli senjata di Pindad, menyebut Tatang sebagai prajurit yang lurus. Dia mengingatkan agar bekas anak buahnya itu tetap mensyukuri kondisi yang ada sekarang.

“Dia hidup sederhana karena tidak pandai korupsi, tapi itu lebih baik ketimbang punya rekening gendut ha-ha-ha,” ujar Peter melalui telepon. Tatang Koswara (68) tercatat sebagai sniper legendaris asal Indonesia. Pada 1977-1978 dia beroperasi di Timor Timur, kini Timor Leste. Ada lebih dari 40 orang fretilin yang menjadi korban tembakannya.

Nama Tatang tercatat dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia. Ada satu trik unik yang dilakukan Tatang untuk mengelabui pasukan patroli musuh. Dia membuat sepatu khusus dengan alas dalam posisi terbalik sehingga jejak yang ditinggalkan menjadi berbalik arah. “Cibaduyut kan dikenal sebagai pabrik sepatu, saya juga mampu membuat sendiri,” ujar Tatang saat ditemui di rumahnya di kawasan Kodiklat TNI di Bandung, 3 Februari lalu.

masih tampak bugar dan kekar, ingatan Tatang Koswara pun masih jernih. Kakek tujuh cucu ini beroperasi di Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’.

Tatang pernah terluka dalam satu pertempuran. Dia dikepung musuh dan betisnya tertembak peluru. Dengan gunting yang dia miliki, peluru dia cabut sendiri. Tatang yang seorang sniper ini kemudian bisa lolos dan menembak beberapa musuhnya “Sambil bersembunyi di kegelapan, saya congkel sendiri kedua peluru itu dengan gunting kuku,” ujar Tatang seraya memperlihatkan bekas luka di kakinya. Tatang masuk tentara melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Kala itu sebetulnya dia cuma mengantar sang adik, Dadang, yang ingin menjadi tentara. Tapi karena saat di lokasi pendaftaran banyak yang menyarankan agar dirinya ikut, dia pun mendaftar. Saat tes, ternyata cuma dia yang lulus.

Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu. Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper.

Seorang sniper, kata Tatang, harus berani berada di wilayah musuh. Fungsinya antara lain mengacaukan sekaligus melemahkan semangat tempur musuh. Target utama biasanya selain sniper musuh adalah komandan, pembawa senapan mesin, dan pembawa peralatan komunikasi. Tatang yang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, ia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. dia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang Koswara kini sudah pensiun dari TNI. Usianya pun sudah 68 tahun, namun dia tetap bugar, ingatannya juga masih kuat. Pada 1977-1978, Tatang beroperasi di Timor Leste melawan pasukan fretilin di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. Tatang, satu-satunya sniper Indonesia yang diakui dunia. Namanya masuk dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

“Saya biasa membidik kepala. Cuma sekali saya menembak bagian jantung, dia pembawa alat komunikasi. Sekali tembak, alat komunikasi rusak orangnya pun langsung ambruk,” kata Tatang yang ditemui, pada 3 Februari lalu. Tatang biasa menggunakan senjata laras panjang Winchester M-70 selama bertugas. Senjata ini mampu membidik sasaran hingga jarak 900-1000 meter. Kemahiran menembak Tatang secara alami sudah terlatih sejak remaja. Setiap Jumat, dia biasa membantu orang tuanya berburu bagong (babi hutan) yang kerap merusak lahan pertanian dan perkebunan. Bidikannya lewat senapan locok nyaris tak pernah meleset.

Berbeda dengan warga lain yang biasa bergerombol saat memburu babi, Tatang justru lebih suka menyendiri. Ia juga sengaja mengejar babi yang lari ke hutan. “Sasaran bergerak lebih menantang saya. Itu terbawa saat memburu Fretilin di Timtim,” ujarnya. Tatang tinggal di Bandung. Sebagai pensiunan dia masih tetap berolahraga untuk menjaga kesehatannya. Tatang sesekali mengisi pelatihan menembak bagi TNI.

Anda sudah menonton film American Sniper? Atau Enemy at The Gates? Dua film sniper itu diangkat dari kisah nyata. American Sniper menceritakan kisah Chris Kyle seorang marinir Amerika yang beroperasi di Irak. Kyle bahkan mendapat julukan Setan Ramadi. Kemudian dalam film Enemy at The Gates mengisahkan sniper Soviet di perang dunia kedua Vasily Zaytsev. Ketepatannya menembak dalam pertempuran Stalingrad membuat tentara Jerman gentar mendengar namanya.

Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat.

“Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2). Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-14 sniper hebat dunia.

Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

Sang legenda sniper dunia asal Indonesia, Tatang Koswara, rupanya pernah menciptakan alat yang berfungsi untuk mengasah latihan menembak malam. Pria berusia 68 tahun ini menyematkan label ABTEM. “ABTEM itu singkatan dari Alat Bantu Tembak Malam,” kata Tatang sewaktu ditemui di rumahnya, kawasan Dayeuhkolot, Kota Bandung, Kamis (26/2/2015).

Tatang membuat ABTEM pada tahun 90-an atau sebelum pensiun dari kesatuan Pusat Kesenjataan Infantri (Pusenif) TNI AD dengan pangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Kakek tujuh cucu yang pernah bertempur di Timor Leste pada 1977-1978 itu merasa bangga bisa meracik alat tersebut. “Sebelum pensiun (1994) saya ingin buat kenang-kenangan. Ya inilah alat ciptaan saya,” ujarnya. Dia menenteng koper hitam. Tatang membuka isi koper dan memperlihatkan ABTEM. Alat sebagai sentra kendali ini terdiri sejumlah deretan tombol dan saklar.

“Saya ingin prajurit TNI itu tidak hanya jitu menembak ketika siang, tapi juga jitu menembak saat malam hari,” kata Tatang. ABTEM ini disalurkan menggunakan kabel listrik yang bisa dipararelkan ke satu arah atau bagian depan di area lapangan. Di ujung tiap kabel itu dipasang alat berupa lampu mengarah ke lesan atau sasaran tembak bergambar tubuh. “Nah, nanti saya atur dan pencet tombol yang menempel di alat sentra kendali. Ketika lampunya menyorot bekedip ke arah lesan, lalu prajurit menembak lesan,” tutur Tatang yang pernah mengawal Edi Sudrajat.

Namun kini perangkat sederhana buatan Tatang itu mengalami sedikit kerusakan. Padahal ABTEM sering digunakan latihan oleh prajurit TNI seluruh kesatuan. “Mesti diservis lagi alatnya,” ujar Tatang. Ke depan, Tatang berharap alat tersebut bisa diproduksi massal. Menurut Tatang, perangkat teknologi tersebut pernah diperlihatkan kepada Luhut Pandjaitan (mantan Komandan Pussenif). “Beliau (Luhut) merasa bangga anak buahnya seperti saya bisa membuat alat tersebut,” ujar Tatang. “Kalau negara keadaan darurat, saya sebagai veteran siap diterjunkan di medan perang,” tutur Tatang menggebu-gebu.

Tatang Koswara menunjukkan foto-foto saat bertempur di Timor Leste 38 tahun silam. Saat itu, dia masih muda, tampil dengan seragam berkamuflase sambil menenteng senjata dan tentu saja, berbahaya. Di kediamannya, Kamis (26/2/2015), pria kelahiran Medan 12 Desember 1946 itu mengenang pertempuran melawan Fretilin. Dia menceritakan bagaimana perjuangannya untuk menembak musuh dengan berperan sebagai penembak jitu. Tak lama kemudian, dia menunjukkan sebuah flash disk yang berisi kenangan perang, namun sempat disembunyikan selama 25 tahun belakangan. Isinya, sejumlah foto-foto ketika dia masih muda, bersenjata laras panjang dan berbahaya.

Berbaju Kamuflase
Tatang bercerita soal atribut yang melekatnya di tengah pertempuran. Tatang berbalut pakaian ghillie suit atau busana kamuflase guna mengelabui lawan dan tidak terlihat musuh. Ada dua foto saat Tatang berbaju kamuflase. Pertama, ketika dia melihat ke kamera sambil menunjukkan wajahnya. Foto yang kedua, dia sedang berjalan dengan membelakangi kamera. “Bajunya buatan Amerika. Jadi bisa menyamar menyerupai alang-alang, rumput, dan tumbuhan,” tutur Tatang.

Mengendap Bersama Rekan
Legenda sniper dunia ini juga menunjukkan foto ketika dia sedang mengendap di perbukitan Timor Leste. Saat itu, Tatang tampak sedang berjalan menunduk di bagian depan. Sementara rekannya di belakang. Keduanya tampak siaga mengantisipasi serangan musuh. “Ada foto saya ketika mengendap di suatu perbukitan daerah Remexio (Timor Timur). Di belakang saya itu ada personel Batalion 410,” ucap Tatang.

Naik Helikopter
Nama Tatang masuk urutan ke-14 sniper hebat versi buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapon’ yang ditulis Peter Brookersmith (2000). Menurut Tatang, dia pernah bertugas di darat dan di udara. Salah satu foto menunjukkan Tatang sedang berada di helikopter sambil menenteng senjata. Di belakangnya, terlihat seorang rekannya. “Nah, kalau ini foto di helikopter. Saya pernah operasi udara,” ujarnya.

Bergerilya di Pegunungan
Satu foto lainnya memperlihatkan Tatang sedang berjalan di antara sungai di sebuah pegunungan. Dia selalu membawa senjata kesayangannya untuk menembak jitu. Senjata yang kerap digunakannya adalah Winchester model 70.

Dengan mata nyalang yang tajam bak elang, para penembak jitu mengintai dari teropong senapan musuh, mengendap di semak-semak atau di atas gedung. Mereka dianggap pahlawan bagi negaranya. Buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000 lalu, mencatat beberapa sniper hebat. Siapa saja mereka?

Di buku tersebut, ada nama sniper legendaris Indonesia, Tatang Koswara, di dalamnya. Dia menempati urutan ke-14, sebagai penembak jitu terhebat sepanjang masa.Akan menyajikan 14 nama sniper terhebat dalam dua artikel. Berikut 7 nama terakhir dari 14 penembak jitu yang ada di buku Peter Brookesmith

8. Carlos N Hatchcock
Bakal Carlos N Hatchcock sebagai penembak jitu sudah terendus saat berlatih di pusat pendidikan US Marine Corps (USMC), tempat di mana dia bergabung sejak berusia 17 tahun. Dia beberapa kali memenangi kejuaran elite menembak di kalangan USMC. Saat Carlos ditempatkan di Vietnam tahun 1966, dia ditempatkan di wilayah yang paling berbahaya, Bukit 55. Tugasnya pun khusus, yakni melumpuhkan petinggi Vietkong, Pasukan Vietnam Utara plus sniper lawan. Carlos berhasil menuntaskan 2 tugas besar, yakni menghabisi interogator Prancis di Pasukan Vietkong yang suka menyiksa para pilot AS dan membunuh Jenderal Vietnam Utara. Dia juga sempat berduel dengan sniper Vietkong tangguh yang membunuh sejumlah marinir AS. Selama menjadi sniper, Carlos berhasil membunuh 93 tentara Vietkong. Atas jasanya, dia mendapatkan bintang jasa Silver Star dari Pemerintah AS. Namun luka yang didapatnya saat Perang Vietnam akhirnya berkembang menjadi penyakit Multiple Sclerosis yang menyebabkan kelumpuhan. Akhirnya setelah beberapa lama melawan penyakitnya, Carlos meninggal pada 23 Februari 1999 dalam usia 57 tahun.

9. Thomas R Leonnard
Thomas R Leonard adalah sniper dari US Marine Corps (USMC) yang juga terjun dalam perang Vietnam. Dalam situs snipercentral.com, disebutkan Thomas berhasil menembak 74 musuh. Sedangkan dalam buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000, disebutkan berhasil menembak 94 musuh.

11. George Filyaw
Lagi-lagi dari satuan US Marine Corps (USMC) yang berlaga di Perang Vietnam, adalah George Filyaw. Dalam situs snipercentral.com, dia terkonfirmasi menewaskan 56 musuh dan 20 orang lain yang belum terkonfirmasi. Data 56 musuh yang ditembak Filyaw ini sama dengan data di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000. Foto di atas adalah foto saat Filyaw di lapang pada 26 Mei 1967.

12. Philip G Moran
Philip G Moran juga adalah penembak jitu di Perang Vietnam dari kesatuan AD AS. Jumlah tembakan Philip yang berhasil mengenai musuh menurut snipercentral.com adalah 53 tembakan, sama dengan yang disebutkan di buku “Sniper Training, Technique and Weapon” yang ditulis Peter Brookesmith tahun 2000.

13. Tatang Koswara
Indonesia juga punya seorang sniper, namanya Tatang Koswara. Kini pria asal Bandung itu berusia 68 tahun, namun dia tetap bugar. Ingatannya pun masih kuat. Saat menemui Tatang, dengan penuh ekspresi kakek tujuh cucu itu mengisahkan pengalamannya bertempur di Timor Timur pada 1977-1978. Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro adalah daerah operasinya di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat. “Saya waktu itu menjadi pengawal Pak Edi, sekaligus ditugasi sebagai sniper,” kata Tatang saat ditemui di kediamannya di lingkungan Kompleks TNI Angkatan Laut, Cibaduyut-Bandung, Selasa (3/2).

Meski di tanah air tak banyak yang mengenalnya, di dunia militer internasional justru mengakui reputasi Tatang sebagai sniper. Dalam buku ‘Sniper Training, Techniques and Weapons’ karya Peter Brokersmith yang terbit pada 2000, nama Tatang berada di urutan ke-13 sniper hebat dunia. Di situ disebutkan bila Tatang dalam tugasnya berhasil melumpuhkan sebanyak 41 target orang-orang Fretilin. “Itu sebetulnya cuma dalam satu misi operasi. Saya pernah tiga kali menjalankan misi, termasuk seorang diri,” ujar Tatang yang memiliki sandi S-3 alias ‘Siluman 3’. Kata siluman dimaksudkan karena misi yang diembannya bersifat sangat rahasia. Sementara angka tiga merujuk ranking yang didapatnya saat mengikuti pendidikan sniper dari Kapten Conway anggota Green Barets Amerika Serikat pada 1973.

14. Thomas D Ferran
Thomas Ferran adalah penembak jitu dari kesatuan US Marince Corps (USMC). Tembakan tepatnya terhitung mengenai 41 musuh saat perang Vietnam. Thomas dilatih oleh sniper kawakan Carlos Hatchcock, untuk menembak musuh dari jarak jauh, 1.200 meter. Namun saat diterjunkan di Chu Lai, Vietnam, dia melihat musuh dalam jarak 1.300 meter. Bersama rekannya, akhirnya tentara Vietkong itu bisa ditembak mati dalam tembakan yang kedua. Thomas pernah menuliskan bahwa sniper ini dilimpahkan tugas ketuhanan palsu yang bisa menentukan nasib seseorang. “Kau melihat melalui teropongmu, dan Anda melihat seperti apa manusia itu. Anda menyadari mereka manusia. Anda memegang kendali penuh untuk mengakhiri hidup mereka,” jelas Thomas seperti dikutip dalam Telegraph, edisi 11 April 2004.

One response to “Kisah Tatang Koswara Sniper Legendaris Indonesia Yang Berada Diurutan 14 Sniper Terhebat Dunia

  1. Pingback: Tatang Koswara Sniper Legendaris Terbaik Indonesia Wafat | Berita Informasi Seputar Indonesia Terkini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s