Monthly Archives: February 2015

Kisah Losmen Lampu Merah … Lokalisasi Pertama Di Batavia


“Jika Anda tidak bisa mengirimkan perempuan baik-baik yang pernah menikah, mohon kirimkan kami para perempuan muda,” tulis Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen dalam surat tertanggal 11 Mei 1620. “Kami berharap hal itu akan menjadi lebih baik ketimbang pengalaman kami berkencan dengan perempuan yang lebih tua.”

Coen menyampaikan surat tersebut kepada para direktur VOC. Sebagai seorang pendiri Kota Batavia—koloni Kerajaan Belanda di Timur—Coen mendesak terpenuhinya persyaratan kebutuhan dasar bagi warga kota yang beradab. Dia dengan gemas melarang keras pergundikan, perzinahan, dan pelacuran. Kota yang beradab, demikian hemat Coen, harus dimulai dari warga yang beradab.

Sedikitnya jumlah warga perempuan di Batavia disebabkan VOC memberikan aturan ketat dalam menerima pemukim baru. Namun, selepas Coen, pada periode 1632-1669, maskapai dagang itu menghentikan migrasi perempuan ke Hindia Timur.

Dengan jumlah warga lelaki yang jauh melebihi warga perempuannya, Batavia mengalami krisis sosial yang tak terelakkan: pelacuran yang merajalela. Peraturan Sang Gubernur Jenderal pun kandas dalam penegakan hukumnya.

Hendrik E Niemeijer, sejarawan asal Belanda yang telah mengarungi samudra arsip VOC di Indonesia, mengungkapkan soal pelacuran di Batavia zaman VOC dalam Batavia: een koloniale samenleving in de zeventiende eeuw yang terbit pada 2005. Dua tahun silam, buku tersebut telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia—Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII.

Adriana Augustijn, perempuan mardijker atau budak yang telah dimerdekakan, tercatat sebagai salah satu pelacur di Batavia yang terjerat kasus hukum. Demikian berkas yang merekam risalah pernyataan Adriana tertanggal 29 Agustus 1689. Kini, berkas lawas itu berada di ruang penyimpanan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Koleksi lembaga tersebut tentang arsip pemerintahan tertinggi selama 1602-1811—kalau direndeng—bisa mencapai sekitar 450 meter!

Orang-orang mardijker memang dikenal urakan di Batavia. Adriana, perempuan berkulit gelap, dilaporkan oleh para tetangganya sebagai perempuan yang bekerja dengan memanfaatkan tubuhnya. Lelaki yang mengencaninya beragam, dari budak hingga orang bebas. Tempat tinggalnya pun berpindah-pindah.

Di Batavia abad ke-17, pilihan menjadi pelacur atau gundik tampaknya lebih menjanjikan bagi para budak perempuan ketimbang harus menjadi budak rumahan yang kerap jadi sasaran sumpah serapah sang nyonya majikan.

Berbeda dengan Adriana yang merupakan pelacur jalanan, Lysbeth Jansz bekerja menjual tubuhnya sebagai pelacur di losmen merah di luar tembok kota. Lysbeth merupakan perempuan asal Rotterdam dan sudah kerap didera hukuman, bahkan pernah dibuang di Tanjung Harapan, Afrika Selatan. Namun, Batavia tetap menjadi daya tarik baginya untuk kembali.

Losmen-losmen lampu merah itu awalnya di dalam tembok kota, sekitar Kastel Batavia. Setiap saat, serdadu-serdadu VOC dapat berkencan dengan perempuan pilihan mereka, tanpa harus membawa masuk ke dalam barak. Dalam perkembangannya, losmen itu pun tumbuh di luar tembok kota.

Akta risalah pernyataan tertanggal 8 dan 11 September 1682, yang kini tersimpan di ANRI, juga menunjukkan salah satu losmen merah yang sohor di Batavia. Losmen itu menawarkan keliaran yang bertajuk “De Berebijt”—artinya gigitan beruang.

Lokasinya di Jacatraweg, kini Jalan Pangeran Jayakarta, sebelah selatan tembok kota. Dari arsip zaman VOC itu, Niemeijer mengungkapkan bahwa “De Berebijt” merupakan salah satu rumah bordil yang kerap rusuh karena menjadi ajang duel. Sejumlah losmen merah lainnya yang dimiliki mucikari Eropa dan Asia membuka praktik di sekitar Niewpoort, kini sekitar Jalan Pintu Besar Selatan.

Tidak hanya pelacuran, tetapi juga pemerasan seksual telah terjadi di Batavia. Pada 1644, sebanyak lebih dari dua lusin warga Batavia terbukti menjadi germo. Mereka mendandani para budak perempuan mereka bagai noni-noni terhormat dan memaksa para budak itu untuk melacurkan diri.

Kasus pemerasan seksual juga diungkap oleh Leonard Blussé, sejarawan Belanda, dalam Strange Company: Chinese Settlers, Mestizo Women and Dutch in VOC Batavia. Blussé mengisahkan perkara seorang istri yang bersaksi kepada dewan pengadilan pada pertengahan 1625 karena hak-haknya sebagai perempuan justru lenyap setelah menikah. Sang istri mengadukan suaminya yang bejat. Demi imbalan uang, setiap hari sang suami memaksa dia dan budak perempuannya untuk melayani kebutuhan seks para lelaki Belanda.

Mengapa pelacuran sulit dicegah dan justru menjamur di luar tembok Kota Batavia? Salah satu penyebabnya adalah sindikat antara pemilik losmen dan pegawai kehakiman yang korup dengan mengambil keuntungan dari bisnis lendir itu.

Tampaknya keberadaan losmen lampu merah yang disokong penegak hukum bukan hal baru di kawasan yang kelak menjadi megapolitan Jakarta ini. Apakah kita sedang mewarisi keindahan negeri bebas korupsi di kaki pelangi?

Terulang Lagi … Lion Air Kembali Alami Delay Kronis Akut dan Parah


Lion Air ternyata kembali melakukan pembatalan penerbangan. Paling tidak ini masih terjadi di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, Senin, 23 Februari 2015. Pembatalan dilakukan terhadap sejumlah penerbangan Lion Air dari Makassar maupun dari daerah lain menuju Makassar, di antaranya JT-991 tujuan Kendari-Makassar-Kendari pukul 07.00 Wita, JT-734 Manado-Makassar pukul 08.00, JT-894 Makassar-Jayapura- Monokowari pukul 08.00, JT-795 Jayapura-Makassar- Jakarta 10.00, JT-853 Palu-Makassar pukul 12.00, JT-875 Jakarta-Makassar pukul 14.00, JT-895 Jayapura-Makassar-Jakarta pukul17.00, JT-873 Jakarta- Makassar-Jakarta 19.00, JT-721 Kendari-Makassar-Jakarta 20.00, JT-663 Balikpapan- Makassar-Sorong pukul 22.00, BTK-6289 Jakarta-Makassar -Jakarta pukul 09.00, dan BTK-6265 Jakarta-Makassar-Jakarta pukul 22.00.

Menurut salah seorang petugas Lion Air yang tak mau disebut namanya, pembatalan itu karena tak ada penumpang. Meski demikian, jika ada penumpang yang sudah telanjur membeli tiket tetap akan diberangkatkan, tetapi dialihkan ke maskapai penerbangan lain. “Informasi pembatalan itu karena biaya operasional penerbangan lebih tinggi dibanding jumlah penumpang yang naik,” kata dia.

General Manager PT Angkasa Pura I (Persero) Yanus Suprayogi mengatakan persoalan yang terjadi pada maskapai Lion Air adalah kewenangan Kementerian Perhubungan. Kementerian itu yang akan menyelesaikan masalah ini. Perseroan, menurut Yanus, hanya sebatas memberikan pelayanan terhadap penumpang di area terminal, termasuk upaya untuk mengamankan area bandara. Hal itu agar situasi berjalan kondusif dan merupakan tanggung jawab otoritas bandara.

Oleh karena itu, ujar Yanus, agar bandara tak tersandera oleh ratusan penumpang yang kesal akibat kecewa terhadap pelayanan maskapai Lion Air, pihaknya telah memperkuat sistem pengamanan bandara dengan menambah petugas keamanan bandara dari kepolisian. Menurut Kepala Kepolisian Resort Maros Ajun Komisaris Hotman Sirait, kepolisian ikut menjaga keamanan dan ketertiban bandara. “Kami turun memberikan bantuan hanya sebatas membantu mengamankan area bandara. Soal jumlah aparat yang disiagakan akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” kata Hotman.

Sementara itu, kacau balaunya penerbangan Lion Air menguntungkan maskapai lain. Seperti halnya maskapai Citilink yang dalam sehari mengalami lonjakan penumpang hingga 60 persen. Direktur Umum Lion Group Edward Sirait memastikan tak ada aksi mogok karyawan, terutama awak pesawat, pada pekan lalu. Edward mengklaim hingga Senin malam awak pesawat masih bekerja sesuai tugasnya.

“Soal ada pegawai atau penerbang mogok tidak benar sama sekali,” kata Edward kepada wartawan di Lion Tower Jakarta, Senin, 23 Februari 2015. Menurut Edward, kisruh menyusul penundaan penerbangan sejak Rabu pekan lalu lebih karena kurang gesitnya para pengambil keputusan di lapangan. Dari investigasi internal diperoleh masukan agar Lion memperkuat manajemen pengendalian krisis di bandara. “Termasuk untuk delay,” ujarnya. Selain itu, perusahaan perlu meningkatkan pelaksanaan prosedur yang konsisten dan konsekuen di lapangan diimbangi penempatan orang-orang yang bisa mengambil keputusan dengan baik. Untuk mencapai itu, Lion Air berencana membentuk tim khusus untuk menangani krisis.

Edward menuturkan untuk meminimalisir penundaan penerbangan semakin panjang pada Jumat, 20 Februari lalu, manajemen memutuskan untuk membatalkan penerbangan mulai pukul 17.00 WIB dan 24.00 WIB. Waktu selama tujuh jam ini digunakan manajemen untuk mengecek dan mengatur ulang operasional penerbangan umum hari Sabtu. Calon penumpang yang dijadwalkan terbang pada jam tersebut diberi refund tiket sebesar 100 persen. Kemudian mereka diberi kesempatan untuk menjadwalkan ulang perjalanannya dengan rute yang sama secara gratis, tetapi hanya pada Senin hingga Selasa pekan ini.

Penerbangan Lion Air mengalami penundaan parah pada Rabu hingga Kamis pekan lalu. Sebanyak 14 penerbangan Lion Air dari Bandara Seokarno-Hatta, Tangerang, ditunda lebih dari empat jam. Akibatnya, 1.200 penumpang telantar.Delay berjam-jam pesawat Lion Air ternyata masih terjadi hingga Senin, 23 Februari 2015 awal pekan ini. Salah satunya adalah pesawat Lion Air rute Yogyakarta-Jakarta dengan nomor penerbangan JT 565 yang sedianya take off pukul 07.30 WIB, tetapi hingga pukul 12.30 WIB belum ada kepastian untuk terbang. “Kami sempat diminta menunggu sampai pukul 09.45 WIB,” kata Abdul Hadi Nashir, salah seorang penumpang, kepada Tempo.

Namun, sampai pukul 10.00 WIB, kata Abdul Hadi, belum ada kepastian kapan pesawat akan terbang. Sebagai kompensasi, Lion Air memberikan nasi goreng kepada penumpang. Untuk meredam emosi penumpang yang mulai tak sabar, pada pukul 10.30 WIB petugas Lion Air meminta penumpang untuk masuk ke pesawat. “Ternyata pesawat enggak berangkat-berangkat,” katanya. “Para penumpang kepanasan karena AC-nya enggak nyala,” kata Abdul Hadi.

Para penumpang berada di dalam pesawat hingga dua jam. Akhirnya, para penumpang turun lagi ke terminal. Sejumlah penumpang dilaporkan sempat menggebrak meja. Sampai pukul 13.00 WIB tadi, belum ada kejelasan kapan pesawat Yogyakarta-Jakarta diterbangkan. “Dari pihak Lion Air tidak ada yang memberi penjelasan,” katanya. Meskipun Lion Air menyatakan penerbangan sudah normal kembali, kenyataannya di sejumlah bandara masih terdapat keterlambatan penerbangan. Contohnya, di Bandara Juanda dilaporkan ada lima penerbangan yang delay.

Pekan lalu, Rabu, 18 Februari 2015, puluhan penerbangan Lion Air mengalami delay berhari-hari hingga Jumat. Hal ini juga berdampak ke banyak bandara lainnya. Tercatat sebanyak 6.000 penumpang telantar dan Angkasa Pura II terpaksa memberi talangan Rp 3 miliar sebagai uang refund, pengembalian tiket.Ada lima penerbangan Lion Air mengalami delay atau penundaan terbang di Terminal 1 Bandara International Juanda pada hari ini, Senin pagi, 23 Februari 2014 hingga pukul 12.00 WIB. Berdasarkan pantauan di layar informasi, penerbangan yang mengalami delay itu adalah tujuan Surabaya-Balikpapan, Surabaya-Palu, Surabaya-Tarakan dan kedatangan Balikpapan-Surabaya, serta Tarakan-Surabaya. Rata-rata delay bervariasi mulai dari satu-tiga jam.

Sementara di loket pembelian tiket Lion Air, masih ada beberapa calon penumpang yang masih melakukan pembelian tiket meskipun ada beberapa penerbangan yang mengalami delay. Mereka rata-rata mengatakan bahwa tiket penerbangan Lion Air relatif murah. “Ya lebih murah soalnya,” kata salah satu calon penumpang yang enggan disebutkan namanya kala ditemui Tempo di Terminal 1 Bandara International Juanda.

Penumpang itu hanya bisa berdoa semoga penerbangan yang akan dijalaninya itu tidak delay seperti beberapa penerbangan lainnya. “Berdoa sajalah,” katanya singkat. Sedangkan salah satu penumpang lainnya, Widhi, mengatakan bahwa para penumpang masih sangat kecewa pada manajemen Lion Air yang masih saja membiarkan pesawatnya delay hingga hari ini. Padahal, kata dia, beberapa waktu lalu manajemen menjamin maskapainya tidak akan delay. Kami enggak habis pikir kenapa masih saja delay, benar-benar kecewa, kata Widhi, kepada Tempo di Bandara International Juanda, Senin, 23 Februari 2015.

Widhi mengaku delay penerbangan menyebabkan banyak kerugian terhadapnya, mulai dari waktu, tenaga, dan biaya karena seharusnya dia tiba di acaranya tepat waktu. “Rugi banyak lah intinya,” kata dia. Ia berharap jajaran manajemen Lion Air selalu memperbaiki jadwal penerbangannya supaya tidak ada lagi delay-delay seperti beberapa hari ini karena akan mengganggu dan merugikan banyak pihak, terutama para penumpang yang didesak oleh agenda dan pekerjaannya.

“Kami mohon kepada manajemen dan pemerintah untuk memperbaikinya karena kami banyak dirugikan,’ kata Widhi.Tak mendapat kepastian berangkat, ratusan penumpang dari tiga penerbangan pesawat Lion Air mengamuk di Gate 5 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Minggu malam, 22 Februari 2015. Penumpang tujuan Jakarta hilang kesabaran setelah jadwal penerbangan mereka mengalami keterlambatan mulai pukul 17.40. “Kami sangat kesal pihak Lion Air tak memberikan kepastian soal keberangkatan. Kami pun diberi makan seperti memberi makan anak ayam. Makanannya tak dibagikan oleh petugas hanya disimpan sehingga penumpang berebut. Banyak yang tak dapat,” kata calon penumpang tujuan Jakarta, Alex.

Ratusan petugas keamanan dari Oritas Bandara, Kepolisian, dan TNI AU turun menenangkan calon penumpang. Hingga akhirnya emosi penumpang kembali reda setelah pihak Lion Air meminta semua calon penumpang yang mengalami keterlambatan selama 3 jam mengumpulkan kartu tanda penduduk untuk diberikan konpensasi ganti rugi senilai Rp300 ribu.

Tiga penerbangan pesawat Lion Air yang tertunda di antaranya rute Makassar- Jakarta. Pesawat dengan kode penerbangan JT : 777 tersebut seharusnya berangkat pukul 17.40 Wita namun tertunda hingga pukul 22.45 Wita. Kemudian penerbangan berikutnya JT 873 berangkat pukul 18.10 Wita juga mengalami keterlambatan hingga pukul 22.20 Wita. Sedangkan satu pesawat lainnya adalah JT 797 yang mengalami keterlambatan pukul 20.10 Wita menjadi pukul 23.40 Wita.

Pihak Lion Air, Harjuno, pihaknya memastikan semua calon penumpang yang mengalami keterlambatan akan diberangkatkan. Harjuno meminta maaf atas kesalahan teknis yang terjadi di internal Lion Air. “Penumpang yang delay selama Tiga jam ke atas akan diberi ganti rugi sesuai ketentuan,” kata dia. General Manager PT Angkasa Pura 1, Yanus Suprayogi, mengatakan, pihaknya hanya bisa memperketat pengamanan dengan menambah petugas keamanan agar penumpang tidak menyerobot hingga ke landasan bandara. “Apa yang terjadi di Bandara Sultan Hasanuddin merupakan efek domino dari kejadian di Cengkareng,” kata Yanus.Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Budi Karya Sumadi mengatakan, kondisi bandara Soekarno-Hatta akibat keterlambatan penerbangan Lion Air cukup mengkhawatirkan. Bahkan beberapa calon penumpang mulai bersikap anarkis pada Kamis 19 Februari 2015.

Menurut Budi, keterlambatan Lion Ari itu berlangsung sejak hari Rabu 18 Februari 2015, pukul 11 siang. Hal itu mengakibatkan akumulasi penumpang di terminal 1A, 1B, dan terminal 3. Dalam kondisi ini justru tak ada petugas Lion Air yang menjelaskan tentang situasi. Hal inilah menurut dia, yang menyebabkan penumpang marah karena tak adanya kepastian.

Hal yang sama berlanjut pada Kamis, dan Jumat. Bahkan berimbas pada penerbangan maskapai lain yaitu Sriwijaya dan AirAsia. Kondisi lebih parah terjadi karena pada Jumat pagi. Para calon penumpang memblokir jalur operasional pelayanan. Mereka juga memblokir akses menuju terminal tiga dan dua. “Kondisi sudah mulai anarkis dan berpotensi mengakibatkan kekacauan dan ketakutan,” kata Budi, saat melakukan jumpa pers di Restoran Pulau Dua, Jakarta, Ahad, 22 Februari 2015. Beberapa calon penumpang bahkan memecahkan kaca serta merusak komputer check in. Aksi itu menurut Budi, juga disertai kata-kata provokatif.

Budi mengatakan, Angkasa Pura II kemudian berkoordinasi ‎dengan Kementerian Perhubungan dan otoritas bandara untuk menyelesaikan masalah itu. ‎ Dalam rapat yang berlangsung Jumat ‎pagi itu, mereka memutuskan beberapa hal. Di antaranya, ketiga pihak bersepakat untuk menyelesaikan dan menertibkan para penumpang. “Kami berkomunikasi dengan para calon penumpang. Hasilnya adalah mereka membutuhkan ‎kepastian,” kata Budi.

Kepastian yang dimaksud bukan tentang terbang saja namun juga nasib uang mereka. “Kami juga menyepakati untuk m‎enalangi sementara uang refund penumpang.” Pemindahan penumpang dari satu maskapai ke maskapai lain akibat faktor ketidakberesan (irregularity) dalam jadwal penerbangan boleh dilakukan. Menurut Ketua Peneliti Indonesia National Air Carriers Association (INACA) Wismono Nitidihardjo, kebijakan tersebut telah menjadi praktek lazim dalam bisnis penerbangan internasional.

“Secara umum, hal tersebut telah diatur dalam mekanisme internasional di International Air Transport Association,” kata Wismono saat dihubungi pada Senin, 23 Februari 2015. Wismono menuturkan, biasanya transfer penumpang semacam ini telah diatur oleh maskapai terkait dengan menggunakan mekanisme business to business. Atas kerja sama tersebut, maskapai akan mengeluarkan dokumen yang disebut dengan flight interruption manifest ketika mengalami ketidakberesan.

Dokumen tersebut disampaikan ke maskapai yang akan menerima transfer penumpang. “Biasanya, dengan kerja sama yang sudah ada, maskapai penerima transfer akan mengenakan harga khusus pada rute yang dimaksud,” ujarnya. Sayangnya, di Indonesia, kebijakan semacam ini belum diatur secara resmi oleh pemerintah. Menurut Wismono, pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, baru akan menuju ke arah itu.

Namun, Wismono menambahkan, tak tertutup kemungkinan maskapai dalam negeri melakukan hal serupa dengan perjanjian khusus sebelumnya. “Yang tidak ada kontrak, biasanya maskapai yang menerima transfer penumpang akan minta ganti ongkos secara penuh,” ujarnya. Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat, yang membidangi perhubungan, mengusulkan agar penumpang Lion Air yang penerbangannya tertunda bisa diterbangkan oleh maskapai lain, misalnya Garuda Indonesia. Usul ini keluar menyusul terjadinya penundaan penerbangan parah oleh maskapai Lion Air sejak Rabu pekan lalu. Akibat penundaan ini, ratusan penumpang telantar dan mengamuk karena tak mendapat kepastian terbang.

Giok Seberat 20 Ton Yang Jadi Sengketa Warga Aceh Akhirnya Disita Pemerintah


Batu giok yang ditaksir berukuran 20 ton yang ditemukan warga Nagan Raya, Aceh, akhirnya dibelah dan diamankan pemerintah setempat. Saking besarnya, baru sebagian kecil yang bisa diambil. Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, saat dihubungi wartawan, Senin (23/2/2015). Keputusan membelah batu itu diambil setelah pihak-pihak yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) bertemu beberapa hari lalu.

“Sudah 1,5 ton yang berhasil diambil,” kata Samsul singkat. Setelah dipotong, giok 20 ton ini diangkut oleh warga ke posko yang terletak sekitar 2 km dari hutan lindung tempat batu ditemukan. Selanjutnya, batu tersebut dibawa ke pusat perkantoran di Suka Makmue, Nagan Raya, yang berjarak sekitar 15 km.

Giok yang ditaksir berharga miliaran rupiah itu ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, pada pertengahan Februari 2015. Karena ada larangan pengambilan batu, warga tak mengambilnya. Namun pada tengah malam, warga dari desa lain datang dan ‘mencuil’ batu tersebut. Polisi dan TNI turun tangan menengahi ‘sengketa’. Mereka menjaga dan memasang garis polisi di lokasi penemuan. Nah, mulai Minggu (22/2) kemarin, batu dibelah untuk diamankan pemerintah setempat.Penemuan batu giok seberat 20 ton di Nagan Raya Aceh sempat menimbulkan ketegangan antara masyarakat lokal dengan warga pendatang. Untuk mencegah konflik sosial terjadi, pendatang diminta menghargai adat setempat.

“Jika pendatang menghargai adat setempat, tentu konflik sosial tidak akan terjadi seperti contoh di Nagan Raya,” kata Ketua Komisi I DPR Aceh, Abdullah Saleh, dalam rapat kerja membahas regulasi giok, di Gedung DPR Aceh, Selasa (17/2/2015). Rapat kerja ini membahas tentang rencana penetapan qanun atau regulasi menyangkut mekanisme pengambilan, pengolahan, dan penjualan batu alam jenis akik, giok dan lainnya di Aceh. Dalam rapat kerja tersebut, Abdullah Saleh juga menyarankan agar pemerintah setempat dalam mengambil keputusan lebih memperhatikan adat yang berlaku di masyarakat setempat. Hal ini, katanya, perlu dilakukan agar konflik sosial tidak terjadi.

“Kita tidak mau konflik sosial ini terus terjadi dan harus segera dicari solusi,” jelasnya. Giok seberat 20 ton ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh beberapa hari lalu di kawasan hutan lindung. Karena ada aturan yang melarang warga menambang, masyarakat setempat tidak mengambil giok tersebut. Tapi kemudian datang sejumlah pendatang hendak mengambil secara diam-diam.

Warga setempat yang mengetahui ini kemudian kembali mendatangi lokasi yang berjarak sekitar 10 km dari perkampungan untuk mencegah pendatang mengambil batu. Giok tersebut hingga kini masih dijaga oleh warga. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, keputusan penghentikan penambangan sementara ini dikeluarkan untuk menertibkan para pencari batu sembari menunggu keluarnya aturan baru. Setelah batas waktu habis, para penambang akan mencari giok dilokasi yang ditentukan.

Aturan yang dikeluarkan pada 2 Februari 2015 silam ini akan berlaku hingga 8 Maret mendatang. Selama batas waktu tersebut, warga tidak diizinkan mengambil batu di areal hutan lindung. “Setelah 8 Maret nanti warga yang mencari batu akan dibagi kelompok dan mereka mencarinya di lokasi yang telah ditentukan,” kata Samsul. Dinas Pertambangan, Energi dan Sumber Daya Mineral (Distamben) Aceh meminta agar pengolahan maupun pemurnian giok asal Aceh tetap dilakukan di tanah Rencong. Jika pun bongkahan dibawa keluar, harus mendapat izin dari Pemerintah Aceh.

Kepala Distamben, Said Ikhsan Tambe, mengatakan, hampir seluruh daerah di Aceh berpotensi memiliki batu mulia baik jenis giok maupun lainnya. Giok Aceh yang dikenal dengan kualitas nomor 2 terbaik di dunia banyak ditemukan di Nagan Raya dan Aceh Tengah. Selain dua daerah tersebut, giok di sejumlah daerah lain seperti Aceh Jaya. Sementara di bagian tengah Aceh, hampir semua wilayah terdapat batu mulia.

“Di Aceh banyak terdapat giok. Jadi sekarang pengolahan batu dan pemurnian giok ini harus dilakukan di Aceh. Kalau bongkahan dibawa keluar, harus ada izin dari gubernur Aceh,” kata Said, dalam pertemuan rapat kerja dengan Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Selasa (17/2/2015). Rapat kerja ini membahas tentang rencana penetapan qanun atau regulasi menyangkut mekanisme pengambilan, pengolahan, dan penjualan batu alam jenis akik, giok dan lainnya di Aceh.

Meski giok sudah semakin digemari masyarakat, tapi hingga kini belum ada harga pasti yang ditetapkan. Menurut Said, jika pemerintah berencana mengatur harga jual batu, ada beberapa hal yang perlu perhatikan seperti tingkat kekerasan batu, tingkat kesulitan mendapatkannya dan kelangkaan batu. “Tingkat kekerasan ini penting diperhatikan. Semakin keras batu semakin mahal harganya. Batu paling keras itu jenis intan dengan angka 10 mohs,” jelasnya.

Di Nagan Raya, Aceh, warga mulai beralih profesi menjadi penambang batu sejak dua tahun lalu. Jika biasanya mereka berladang atau bertani, kini sebagian kaum laki-laki memilih mencari giok. Batu yang mereka dapat kemudian dijual kepada masyarakat dari luar kabupaten tersebut. Seorang warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh, Kamaruzzaman, mengatakan, dirinya sudah beberapa bulan terakhir ikut mencari batu bersama sejumlah warga lain dari desanya. Saban hari mereka menyusuri sungai untuk mencari giok yang bakal dijual dengan harga ratusan ribu rupiah.

“Kami berharap pemerintah dapat membantu kami pencari batu,” harap kata Kamaruzzaman saat dihubungi, Selasa (17/2/2015).Batu giok seberat 20 ton yang ditemukan masyarakat hingga kini masih diamankan sementara oleh polisi dibantu TNI dan warga. Di lokasi, juga sudah dipasang garis polisi agar tidak ada warga yang berusaha mengambil batu. Sampai kapan batu tersebut diamankan?

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, giok seberat 20 ton yang ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh akan diamankan hingga keluarnya putusan dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Pemerintah setempat akan membuat pertemuan untuk membahas terkait penemuan batu raksasa tersebut.

“Sekarang diamankan dulu. Nanti kita tunggu gimana hasil keputusan Forkopimda,” kata Samsul Selasa (17/2/2015). Pemerintah Kabupaten Nagan Raya hingga kini masih terus meminta warga untuk tidak menambang batu di hutan lindung di daerah tersebut. Aturan penghentian tambang ini akan berlaku hingga 8 Maret 2015 mendatang. Saat giok seberat 20 ton ditemukan, warga desa setempat tidak berani mengambil karena ada aturan larangan mengambil. Tapi tiba-tiba datang sejumlah masyarakat dari desa setempat berusaha mengambil secara diam-diam. Warga yang mengetahui ini kemudian terus berjaga agar batu tersebut tidak berpindah tangan.

“Sampai sekarang masih dijaga. Kami di sini hanya menjalankan putusan Forkopimda. Itu semua tergantung dari keputusan bersama menyangkut batu ini,” jelasnya. Sebelumnya, dalam kesempatan terpisah, Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA), Nasrul Sufi, menyarankan, batu tersebut bisa dimiliki perorangan. “Batu itu kan ciptaan Allah. Pemerintah harus mencari solusi apakah batu itu diambil kemudian dibagi. Tapi jangan diambil oleh pemerintah semua, karena di situ kan ada hak-hak masyarakat juga,” kata Nasrul.

Batu giok yang ditemukan warga diperkirakan berjenis idocrase super. Jika 60 persen saja batu tersebut berisi idocrase, harganya ditaksir mencapai Rp 30 miliar rupiah. Namun warga setempat menilai sebagian bahan batu agak mentah, sehingga harganya hanya sekitar Rp 1 miliar.

Batu seberat 20 ton ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Aceh di hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Sejak ditemukan, batu tersebut sudah diincar oleh sejumlah warga. Bahkan ada yang berusaha mengambilnya secara diam-diam sehingga sempat menimbulkan konflik.

Ketua Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA), Nasrul Sufi, mengatakan, Pemerintah Nagan Raya harus segera mencari solusi agar batu giok seberat 20 ton tidak menjadi persoalan di tengah masyarakat. Sekarang, warga Desa Pante Ara masih terus menjaga batu agar tidak ada yang mengambil. “Batu itu kan ciptaan Allah. Pemerintah harus mencari solusi apakah batu itu diambil kemudian dibagi. Tapi jangan diambil oleh pemerintah semua, karena di situ kan ada hak-hak masyarakat juga,” kata Nasrul saat ditemui, Selasa (17/2/2015).

Batu giok seberat 20 ton yang ditemukan warga diperkirakan berjenis idocrase super dengan harga selangit. Jika 60 persen saja batu tersebut berisi idocrase, harganya ditaksir mencapai Rp 30 miliar rupiah. Menurut Nasrul, jika batu itu diambil, masyarakat yang menemukan juga harus mendapat jatah. “Kalau masyarakat tidak menemukan batu itu, kan pemerintah gak tau,” jelasnya.

Sementara seorang warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Kamaruzzaman, mengatakan, giok seberat 20 ton yang ditemukan oleh Usman (45) merupakan batu pribadi bukan batu umum. Hal itu karena hanya Usman yang menemukan pertama sekali. “Jadi itu bukan batu umum. Kalau datang orang lain mengambilnya sayang orang yang pertama dapat,” kata Kamaruzzaman.

Giok seberat 20 ton yang ditemukan warga Desa Pante Ara, Kecamatan Beutong, Nagan Raya akhirnya dibelah oleh Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) setempat. Mereka melibatkan masyarakat untuk mengangkut batu yang sudah dipotong-potong ke posko pertama berjarak sekitar 2 km dari hutan. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Nagan Raya, Samsul Kamal, mengatakan, pihaknya hingga kemarin baru berhasil memotong seberat 1,5 ton giok. Batu tersebut selanjutnya dibawa turun oleh warga sebelum diangkut ke pusat pemerintahan.

“Warga yang mengangkut ini mendapat upah Rp 10.000 untuk satu kilogram yang diangkatnya,” kata Samsul saat dihubungi wartawan, Senin (23/2/2015). Untuk mengangkut batu, 60 warga yang ikut membantu harus melewati tanjakan bukit dan sungai. Batu yang diperkirakan 20 ton ini dipotong dengan menggunakan empat mesin yang dioperasikan oleh masyarakat.

Lokasi penemuan batu masih terus dijaga oleh pihak kepolisian. Meski sempat ditentang oleh warga, namun proses pemindahan batu ini berjalan lancar. “Kita memperkirakan membutuhkan waktu selama 20 hari untuk memindahkan batu ini,” jelasnya. Keputusan membelah batu jumbo tersebut didapatkan melalui pertemuan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) pekan lalu. Sebelumnya, batu sempat jadi masalah karena ada warga yang mengamankan dan sebaliknya, ada warga yang berusah mengambil. Polisi dan TNI turun tangan dalam kejadian ini.

Hotel Grand Hyatt Bundaran Hi Terbakar


Kebakaran melanda Hotel Grand Hyatt di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Asap putih cukup tebal mengepul dari sekitar hotel. Bau menyengat terasa begitu kuat di sekitar hotel berbintang 5 ini. Bahkan bau menyengat ini terasa hingga di jembatan penyeberangan orang (JPO) yang terletak di depan hotel tersebut.

Petugas keamanan langsung berlarian mengevakuasi pengunjung untuk menjauh dari hotel. Mereka tampak menutupi muka dengan tangan. Para pengunjung ini langsung meninggalkan kawasan hotel dengan menumpang taksi yang banyak mangkal di depan hotel. Sebagian lainnya langsung menuju basement dan meninggalkan hotel dengan mobil pribadi mereka.

Mobil-mobil para tamu Hotel Grand Hyatt itu tampak antre meninggalkan hotel melalui depan gedung Louis Vuitton. Hingga saat ini upaya pemadaman masih dilakukan. Kepulan asap putih menguar dari Hotel Grand Hyatt, kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat. Asap ini masih terasa begitu kuat hingga di seputaran Bundaran Hotel Indonesia.

Bau benda terbakar masih terasa begitu menyengat di sekitar hotel. Sementara di lobi hotel, asap putih masih mengepul hingga membatasi jarak pandang. Belasan tamu hotel tampak berhamburan keluar dari hotel. Mereka dipandu oleh petugas keamanan setempat untuk menyelamatkan diri keluar dari dalam hotel.

“Asapnya kuat banget di dalam. Bisa keracunan saya kalau nggak segera lari,” ujar salah seorang tamu hotel, Christina, di Hotel Grand Hyatt, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (21/2/2015). 3 Unit mobil pemadam kebakaran baru saja tiba di lokasi. Petugas damkar langsung berlarian menuju ke titik kebakaran. Mereka langsung memasang selang dan mengalirkan air ke dalam hotel. Dari informasi yang beredar, kebakaran berasal dari lantai 4. Belum diketahui apa penyebab kebakaran tersebut.

Sopir Taksi Express B 1595 ETB DC7177 Tewas Dibunuh


Juru Bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya, Komisaris Besar Martinus Sitompul, mengatakan telah memeriksa data dari alat global positioning system (GPS) di mobil taksi Express bernomor polisi B-1595-BTB dengan nomor pintu DC7177. Mobil putih itu merupakan kendaraan yang dikendarai oleh Tony Zahar, 53 tahun, korban tewas di dalam taksi.

Martinus menjelaskan, data itu didapat dari alat pembaca yang berada di pul taksi. “Korban keluar sekitar pukul 23.55 WIB, 17 Februari 2015 dan menuju ke Citayam, Depok,” Martinus berujar, Jumat 20 Februari 2015. Setelah itu, kata Martinus, taksi yang dibawa Tony melaju ke Bogor dan berhenti di Stasiun Bojong Gede sekitar pukul 00.38 WIB pada 18 Februari 2015. Lalu, taksi kembali bergerak menuju Jakarta.

Sekitar pukul 01.00 WIB, taksi itu berhenti di Jalan Rawa Bambu, di depan pul bus Sinar Jaya, Pasar Minggu, Jakarta Selata. “Setelah itu, posisi mobil dari GPS tidak bergerak dan ada yang menemukan Tony tewas sekikar pukul 05.30 WIB dengan luka tusukan,” kata Martinus. Tony tewas dalam posisi duduk tertelungkup di balik kemudi taksi dengan luka sayatan di lehernya. Di taksi itu ditemukan barang milik korban berupa tas yang berisi dompet berwarna cokelat, kartu tanda penduduk, kartu Siaga Bukopin, buku tabungan Mandiri atas nama Siti Murniati, satu telepon seluler merek Cross, dan dua telepon seluler Nokia. Jenazah Tony dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Menteng Pulo, Tebet, Jakarta Selatan, pada 20 Februari 2015.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Metro Jakarta Selatan, Ajun Komisaris Besar Indra Fadilah Siregar, memastikan tewasnya sopir taksi Express Tony Zahar, 53 tahun, bukan karena motif pencurian. Sebab, tidak ada barang milik Tony yang hilang di taksi putih yang dikendarainya. Indra menjelaskan, pihaknya masih mendalami apakah ada dugaan pembunuhan berencana. “Masih penyelidikan, kita harus tangkap tersangka terlebih dahulu baru tahu motifnya,” kata dia ketia dihubungi, Jumat 20 Februari 2015.

Selain memeriksa barang bukti berupa pisau yang ditemukan di dekat taksi, polisi memeriksa darah yang ada di dalam mobil putih itu. Lalu, kata Indra, pihaknya masih mendalami rute taksi yang dibawa korban. Yaitu, dari mana taksi itu lewat, dan penumpangnya naik dari mana.

Sebelumnya, Tony ditemukan tewas dengan luka sayat di leher di Jalan Raya Rawa Bambu, di depan pul bus Sinar Jaya RT 13 RW 05, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rabu 18 Februari 2015. Tony tewas dalam posisi duduk tertelungkup di balik kemudi taksi taksi Express B 1595 ETB dengan nomor badan DC7177. Di taksi itu juga ditemukan barang milik korban berupa tas yang berisi dompet berwarna cokelat, kartu tanda penduduk (KTP), kartu siaga Bukopin, buku tabungan Mandiri atas nama Siti Murniati, satu telepon seluler merk Cross, dan dua telepon seluler Nokia.

Untuk pemeriksaan saksi, kata Indra, baru lima orang yang dimintai keterangan. Mereka adalah sopir Metromini, petugas pul taksi Express, dan orang yang menemukan korban. “Keluarga belum diperiksa,” kata dia. Ketika ditanya dugaan motif asmara dalam pembunuhan ini, Indra mengatakan masih tidak bisa menduga-duga. “Nanti akan kami minta keterangan keluarga dan menjadikannya informasi awal,” kata dia.

Sebelum tewas, sopir taksi Express Tony Zahar,53 tahun, diketahui mendapat teror lewat pesan pendek. Menurut Muhammad Ridwan, anak Tony, sang ayah mengaku menerima pesan itu dari orang yang mengaku suami Siti Murniati. Ridwan mengatakan, dia menduga ayahnya itu berselingkuh dengan Siti Murniati.

“Jadi waktu itu ayah saya sempat menerima SMS mengaku dari suaminya Siti. Dia menanyakan alamat rumah kami, bilangnya mau ambil motor Siti,” kata Ridwan saat dihubungi, Jumat 20 Februari 2015. Soal pesan pendek tersebut menurut Ridwan pernah diceritakan Tony pada istri ketiganya, Siti Masitoh, 38 tahun. “Waktu itu ayah saya sempat tak mau memberikan alamat rumah karena curiga ada sesuatu,” ujar dia.

Tapi, lanjut Ridwan, akhirnya Tony memberikan alamat rumahnya. Setelah itulah Tony sempat terlihat khawatir dan ketakutan. Kondisi tersebut lantas disimpulkan Ridwan jika ayahnya seolah baru mendapatkan teror. “Kalau masalah teror atau enggak sebenarnya saya kurang tahu, cuma dari kejadian itu saya menyimpulkan ayah saya seperti diteror,” ujar Ridwan.

Ridwan pun meluruskan soal status motor yang sebelumnya ia katakan merupakan pemberian ayahnya untuk Siti Murniati. Motor tersebut menurut Ridwan sebenarnya memang milik Siti Murniati. Namun saking dekatnya Tony dengan Siti, ayahnya itu kerap memakai motor tersebut nyaris setiap hari. “Karena mereka dekat, jadi motornya bu Siti itu sering dipakai, dibawa pulang, udah kayak jadi hak milik ayah saya,” kata Ridwan. Menurut Ridwan, selama ini Tony sudah ketergantungan menggunakan motor tersebut ke mana-mana. “Kemana-mana pakai motor itu, enggak dikembalikan karena butuh,” kata Ridwan.

Tony Zahar ditemukan tewas dengan luka sayatan di leher dalam taksi Express B-1595-ETB dengan nomor badan DC7177, pada 18 Februari 2015. Di dalam taksi tersebut ditemukan barang milik korban. Yaitu, tas yang berisi dompet berwarna cokelat, kartu tanda penduduk, kartu Siaga Bukopin, buku tabungan Mandiri atas nama Siti Murniati, satu telepon seluler merek Cross, dan dua telepon seluler Nokia.

Hingga saat ini pihak kepolisian masih menelusuri kasus pembunuhan tersebut. Terkait kepemilikan motor, Juru bicara Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Kombes) Polisi Martinus Sitompul menampik Tony membelikan motor untuk Siti Murniati. Menurut Martinus, sepeda motor tersebut dibeli kredit oleh Siti atas nama adiknya. Hingga saat ini, selain Siti, sudah ada enam orang saksi yang diperiksa polisi. Di antaranya istri Tony, Siti Masitoh, dan mantan istri Tony, Dewi Marina, 38 tahun, serta saksi yang berada di lokasi kejadian.

Jonan Diisukan Takut Lion Air Karena Pemiliknya Rusdi Kirana Anggota Wantimpres


Menteri Perhubungan Ignasius Jonan dituding kurang tanggap menangani delay parah Lion Air. Ada yang mengait-ngaitkan hal itu karena pemilik maskapai Lion Air adalah anggota Wantimpres Rusdi Kirana. Apa respons Jonan?

“Nggak ada hubungannya,” kata Jonan saat diwawancarai wartawan di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (20/2/2015). Jonan berada di Mabes TNI untuk menandatangani sebuah MoU dengan TNI.

Jonan juga membantah delay parah Lion Air hingga menelantarkan ribuan calon penumpang karena terlalu banyaknya rute penerbangan maskapai raksasa tersebut.

“Nggak, kereta api lebih banyak trayeknya nggak masalah,” ujar Jonan yang mantan Dirut PT Kereta Api Indonesia itu.

Ketika dikritik kenapa dirinya tak langsung melakukan sidak ke Lion Air seperti saat menangani tragedi AirAsia QZ 8501 belum lama ini, Jonan tak menjawab. Ia langsung masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan wartawan.

Sebelumnya Jonan mengatakan, dirinya telah menegur dan akan melakukan pertemuan dengan pihak Lion Air hari ini. Ia menegaskan, akibat delay parah hingga ribuan penumpang telantar, pengajuan izin rute baru Lion Air akan dihentikan sementara.

Lion Air Akhirnya Batalkan Seluruh Penerbangan Hari Ini


Lion Air mengambil langkah untuk mengatasi delay parah yang terjadi sejak Rabu lalu. Seluruh penerbangan Lion Air hari ini mulai pukul 17.00 sampai dengan pukul 00.00 dibatalkan. “Untuk menghindari delay yang berkepanjangan dan untuk melakukan evaluasi kembali, maka maskapai penerbangan Lion Air mengumumkan bahwa seluruh penerbangan Lion Air pada hari ini (20 Februari 2015) dimulai dari pukul 17.00 sampai dengan pukul 00.00 dibatalkan,” kata Head of Corporate Secretary Lion Group Capt Dwiyanto Ambarhidayat dalam keterangan tertulis, Jumat (20/2/2015).

Dwiyanto menuturkan, bagi para calon penumpang yang ingin melakukan proses refund tiket, maka Lion Air akan merefund secara penuh tanpa adanya potongan. Bagi para calon penumpang yang ingin menjadwalkan ulang penerbangannya dengan Lion Air, dapat melakukan proses re-booking kembali.

“Khusus bagi para calon penumpang Lion Air yang ingin bepergian pada hari Senin, Selasa dan Rabu (23 February 2015 sampai dengan 25 Februari 2015) maka akan diberikan tiket gratis cukup dengan menyebutkan kode booking sebelumnya yang telah direfund,” jelas Dwiyanto. “Kami mohon maaf atas pembatalan penerbangan hari ini tetapi langkah ini perlu diambil guna menghindari delay yang berkepanjangan. Kami pastikan bahwa bagi para calon penumpang yang ingin refund tiket maka akan memperoleh full refund 100%,” jamin Dwiyanto.

atusan calon penumpang Lion Air ke berbagai rute mengamuk karena tak bisa refund dan mendapat kompensasi. Lion Air dianggap membuat syarat yang tidak masuk akal. Ratusan penumpang sudah antre di tempat refund Lion Air di lantai 2 Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Jumat (20/2/2015). Namun petugas menolak refund karena syaratnya harus sudah check-in terlebih dahulu.

Ratusan penumpang pun naik pitam dan mengamuk. Mereka berteriak-teriak marah-marah karena menganggap syarat yang dibuat Lion Air itu tak masuk akal. “Bagaimana kita bisa check in kalau petugasnya saja tidak ada di lokasi!” teriak salah satu calon penumpang pria di lokasi. Ratusan penumpang lain pun berteriak hal yang sama. Mereka semua marah karena menurut mereka tak ada petugas Lion Air di tempat untuk melakukan proses check in.

Ratusan calon penumpang itu kemudian berbondong-bondong turun dari Lantai 2 Terminal 3 ke depan pintu kedatangan. Di sana, salah seorang penumpang mengambil komando dan bicara dengan lantang kepada calon penumpang lainnya. “Kita tunggu dulu, tadi saya sudah coba telepon biro hukum Angkasa Pura, katanya sudah on the way ke sini. Kita tunggu dulu. Kita sama-sama penumpang jangan mengganggu yang lain. Jangan berbuat onar dulu,” imbuh pria ini.

Saat ini situasi di depan pintu kedatangan Terminal 3 semakin memanas. Ratusan calon penumpang maskapai milik anggota Wantimpres Rusdi Kirana itu masih berkerumun dan berteriak.