Monthly Archives: March 2015

Warung Vulgar Dengan Menu Cabul Di Sleman Diprotes Warga


Wakil Bupati Sleman Yuni Satiya Rahayu angkat bicara terkait warung bernuansa vulgar di wilayah kerjanya. Dia minta Satpol PP menindaklanjuti laporan keberatan dari masyarakat. “Kami mendukung laporan tersebut dan segera ditindaklanjuti,” kata Yuni Selasa (31/3/2015). Yuni meminta Satpol PP berkoordinasi dengan kepolisian agar masalah cepat terselesaikan. “Kami sudah koordinasikan dengan Pol PP untuk menindaklanjutinya,” tegas Yuni.

Di kesempatan terpisah, Polres Sleman mengaku telah menerima keberatan dari sejumlah pihak terkait warung vulgar. Mereka diminta memfasilitasi dengan pemilik. “Tidak dilaporkan. Hanya dari Pemda minta untuk difasilitasi dengan pemilik,” kata Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain ketika dikonfirmasi, Senin (30/3) malam.

Warung yang diprotes itu berada di jalan Selokan Mataram, dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Menu di warung ini aneh-aneh. Ada Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, dan minuman seperti Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas.

Di lembaran menu, pengeola menulis: “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”. Istilah-istilah ini dprotes oleh berbagai kalangan. Mulai dari dari KPAI hingga MUI. Istilah itu dianggap tak pantas digunakan di warung yang pembelinya, bisa jadi, anak di bawah umur.

Sebuah warung makan di Yogyakarta menuai kontroversi karena memiliki menu dengan nama-nama vulgar. Pengamat Sosial, MS Drajat, menilai fenomena tersebut berlawanan dengan norma sosial yang berlaku di Indonesia. “Bukan berati tidak boleh, tapi itu berlawanan secara sosial dengan norma yang ada karena itu menggunakan istilah vulgar,” ujar Drajat saat berbincang, Senin (30/3/2015). Drajat pun menilai penggunaan nama-nama vulgar pada menu makanan sangat tidak etis. Ia menyebut hal itu dilakukan pihak warung sebagai langkah untuk mecari sensasi.

“Kalau menurut saya cari sensasi dan tidak etis juga, karena kita tahu masyarakat kita adalah masyarakat yang normatif sehingga wajar kalau ada penolakan. Itu istilah-istilah khusus yang mungkin tidak layak,” kata Drajat. Memang jika dilihat sebagai strategi penjualan, menu bernuansa vulgar dinilai ampuh dilakukan karena sensasional dapat diraih. Namun Drajat mengingatkan mengenai pengunjung-pengunjung warung makan Kedai 24 yang masih di bawah umur.

“Kalau itu strategi penjualan memang mujarab, mantab lah apalagi itu diperlihatkan bagi pengunjung anak muda. Tapi kalau itu dibaca anak yang belum 17 tahun atau masih anak-anak, kan tidak enak. Itu tidak etis secara sosial,” tandasnya. Sebelumnya diberitakan, Warung Kedai 24 berada kawasan jalan Selokan Mataram dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Pada buku buku menu, item-item makanan disingkat dengan nama-nama bernada vulgar.

Seperti tulisan Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, kemudian minuman Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas. Harga di warung ini sama dengan warung biasa, berkisar harga mulai dari Rp 2.000-Rp 15.000.

Warung makan yang memiliki menu bernuansa vulgar di Yogyakarta menyita perhatian publik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai seharusnya pelaku usaha tidak membuat istilah yang dapat menimbulkan pro dan kontra, terutama karena agama tidak menyukai segala sesuatu yang memiliki arti kurang baik.

“Harusnya nggak usah buat istilah yang menimbulkan pro dan kontra. Itu membangun masalah, agama kan tidak suka yang jelek-jelek, nama dan perilaku yang jelek, dalam agama kan dilarang,” ungkap Waketum MUI KH Ma’ruf Amin saat berbincang, Senin (30/3/2015). Ma’aruf menilai sebaiknya dalam menciptakan nama, termasuk menu makanan, alangkah lebih baik jika menggunakan nama-nama dengan konotasi positif. Sehingga tidak akan menimbulkan prasangka dari siapapun.

“Orang jadi bisa berpendapat macem-macem. Nama-nama seperti itu bisa menimbulkan orang yang tadinya suka (dengan warung makan) jadi nggak suka. itu kan bahasa-bahasa yang kurang patut,” katanya. “Sebaiknya jangan dipakai istilah itu, biasa-biasa aja lah. Kalau (makanannya) enak orang juga suka, nggak perlu namanya macem-macem sehingga bisa menimbulkan orang salah paham, marah, tersinggung,” sambung Ma’aruf.

Politisi PKB itu pun meminta agar Pemda setempat mengingatkan pemilik warung makan untuk mengganti nama-nama menu makanan yang dijualnya. “Perlu diingatkan oleh Pemda supaya mengganti istilah itu. Perlu dididik, sifatnya lebih bagaimana mengingatkan,” tandasnya.

Warung makan Kedai 24 di Yogyakarta menuai kontroversi karena penggunaan istilah-istilah vulgar di menu-menu makanannya. Seperti Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi), nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Juga ada nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, kemudian minuman Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas. Harga di warung ini sama dengan warung biasa, berkisar harga mulai dari Rp 2.000-Rp 15.000.

Warung dengan menu bernuansa vulgar di Yogyakarta menuai kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Sebagai pedagang, semestinya pemilik warung jangan mencari sensasi dengan membuat kata-kata vulgar. “Perlu kearifan dalam melakukan transaksi jual beli,” jelas Ketua KPAI Asrorun Niam, Senin (30/3/2015). “Nama itu menunjukkan apa yang dinamakan, bukan hanya sekedar mainan,” tambah Niam. Menurut Niam, menjual minuman non alkohol tetapi dengan nama bir tentu tidak diperkenankan.

“Demikian juga jual daging sapi tapi diberi nama daging babi tentu ini bermasalah. Ini juga tak baik bagi anak, bagaimana bila anak-anak yang datang ke warung itu?” tegas Niam. Warung yang bernuansa vulgar tersebut berada di jalan Selokan Mataram, dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Di lembaran menu tertulis “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”.

Kedai 24, warung dengan nama menu vulgar di Sleman, Yogyakarta, memunculkan kontroversi. Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman memprotes. Polisi sudah memediasi. Pengelola warung bersedia mengganti nama menu. “Sudah ada kesepakatan dan pertemuan secara tertutup yang kita fasilitasi bersama instansi lain yang terkait,” ungkap Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman, Aiptu Eko Mei kepada wartawan di Mapolres Sleman, Jalan Magelang, Sleman, Selasa (31/3/2015).

Menurut Eko, setelah ada surat resmi keberatan dari Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman, polisi langsung merespons. Mereka mempertemukan pihak-pihak terkait secara tertutup. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. “Semua pihak sudah kita undang untuk melakukan mediasi. Proses mediasi dilakukan secara tertutup,” katanya.

Perwakilan warung ikut dalam pertemuan itu. Mereka diharuskan segera mengganti nama-nama daftar menu yang dinilai vulgar atau yang menjadi keberatan dari Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman. Kesepakatan lain, pihak manajemen warung diberikan waktu selama 2 minggu terhitung sejak Senin (30/3) kemarin untuk mengganti nama menunya. Kesepakatan ini diambil sebagai langkah preventif sebab bisa memicu keresahan dan tindakan asusila.

“Kepolisian bersama Satpol PP, Babinkamtibmas, Polsek setempat akan terus mengawasi,” katanya. Menu di Kedai 24 memang terkesan vulgar. Ada Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, dan minuman seperti Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas.

Di lembaran menu, pengeola menulis: “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”.

Kampung Cimerak Cireungas Sukabumi Dilanda Tanah Longsor


Tiga korban longsor Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berhasil ditemukan. Ketiganya adalah Aldi, 12 tahun, warga Kampung Cimerak; Jamilah (37), warga Sukanagara, Cianjur; dan Lisdiawati (4), warga Sukanagara, Cianjur. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi Usman Susilo menuturkan dua korban atas nama Jamilah dan Lisdiawati ditemukan dalam posisi berpelukan. Keduanya merupakan warga yang sedang bertamu ke kampung itu.

“Tiga korban berhasil ditemukan sekitar pukul 15.00 WIB. Dua di antaranya ibu dan anak. Sedangkan seorang lagi bernama Aldi, baru digali setengah badan karena masih tertimbun pepohonan,” kata Usman di lokasi bencana, Minggu, 29 Maret 2015. Hingga kini, korban yang berhasil ditemukan berjumlah sembilan orang. Adapun tiga orang lagi masih dalam pencarian.

Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Sukabumi, Polres Sukabumi Kota, Kodim 0607 Sukabumi, dan warga masih berada di lokasi longsor. “Ada sekitar 500 personel gabungan yang diterjunkan ke lokasi longsor untuk membantu pencarian,” kata Komandan Korem 063 Suryakancana Kolonel Infanteri Fullad.Sebanyak 12 warga tertimbun tanah longsor di Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tujuh korban bisa ditemukan, sementara lima korban lain masih dalam pencarian.

Komandan Resor Militer 063 Suryakancana Bogor Kolonel Infanteri Fullad menjelaskan, tanah longsor terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2015, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat hujan deras mengguyur Sukabumi dan sekitarnya, tebing di pinggir Jalan Raya Sukalarang-Cireungas ambrol. Tanah yang longsor itu menimbun rumah dan menutup jalan.

“Korban pertama ditemukan sekitar pukul 02.00 WIB. Selanjutnya, enam korban lain ditemukan pagi. Jadi korban yang bisa ditemukan berjumlah tujuh, sisanya masih ada lima yang masih dalam pencarian,” ujar Usman Susilo, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, di lokasi bencana, Ahad, 29 Maret 2015.

Usman menerangkan, dari tujuh korban yang bisa ditemukan, baru enam yang teridentifikasi, yakni Maya, 13 tahun, Aisyah (50), Elsa (15), Egi (60), Dede (10), dan Sopardi, yang baru saja ditemukan. “Korban lain masih dalam pencarian. Kami masih membutuhkan tambahan alat berat untuk menyingkirkan material longsor,” kata Usman.Seluruh korban longsor di Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, sudah berhasil ditemukan. Total korban yang sudah dievakuasi hingga pukul 18.00 WIB, Ahad 29 Maret 2015, menjadi 12 orang.

“Alhamdulillah, seluruh korban sudah ditemukan. Dua korban terakhir ditemukan sekitar pukul 18.00 WIB dengan posisi berdekatan di lokasi rumah Lilis alias Ilis, korban yang sebelumnya sudah ditemukan,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Andi Kusnadi, di lokasi kejadian, Ahad 29 Maret 2015.

Dua korban terakhir adalah Abdul Mukti, 43 tahun, warga Kampung Cijurey Desa Cikurutug Kecamatan Cireungas, dan Deni, 40 tahun, warga Kampung Pasekon Desa Tegalpanjang Kecamatan Cireungas. Sebelumnya, 10 korban sudah terlebih dahulu ditemukan. Dengan ditemukannya dua korban terakhir, Andi mengatakan proses evakuasi korban longsor dihentikan. Menurut Andi, proses selanjutnya adalah membantu membuka akses jalan antara Sukalarang-Cireungas yang tertutup material longsor. Selain itu, BPBD akanmembantu warga yang berada di pengungsian.

Andi menambahkan, lokasi longsor termasuk ke dalam titik rawan bencana alam di Kabupaten Sukabumi. Pihaknya, kata Andi, sedang melakukan kajian teknis untuk proses relokasi warga yang diungsikan karena pemukimannya rawan longsor susulan. “Ada 97 keluarga atau 293 jiwa yang terpaksa diungsikan ke bangunan SDN Tegalpanjang karena permukimannya di Kampung Cimerak terancam longsor susulan. Sementara mereka ditampung di bangunan sekolah dan rumah-rumah saudaranya. Kami sedang mencari lokasi yang luas untuk mendirikan tenda darurat,” kata Andi.

Hingga pukul 18.00 WIB, lokasi longsor masih dijubeli ribuan warga yang penasaran ingin menyaksikan proses evakuasi korban. Bahkan, sepanjang 1 kilometer jalan ke arah lokasi dipadati kendaraan mobil dan sepeda motor sehingga menyebabkan kemacetan. “Saya mau memastikan saudara saya yang menjadi korban longsor sudah ditemukan atau belum,” ujar Endang Husin, 46 tahun, warga Kampung Pasir Ipis Desa Tegalpanjang yang masih bertetanggaan dengan kampung lokasi longsor.Satu lagi korban tewas ditemukan di lokasi longsor Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Ahad, 29 Maret 2015. Korban yang tercatat ke-10 yang ditemukan atas nama Lilis alias Ilis, 36 tahun, ditemukan sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Usman Susilo, mengatakan, sembilan korban sudah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarganya, sementara satu orang lagi yang sudah dipastikan atas nama Aldi, 12 tahun, masih dalam proses evakuasi. “Korban bernama Aldi masih di lokasi longsor karena belum bisa diangkat. Tubuh korban masih tertutup pepohonan material longsor. Jadi, total korban yang sudah ditemukan berjumlah 10 orang,” kata Usman di lokasi bencana, Ahad.

Usman menambahkan, dari 12 korban yang tertimbun longsor, tinggal 2 korban lagi yang masih dicari. “Proses pencarian masih terus dilakukan. Mudah-mudahan secepatnya ditemukan,” kata Usman. Sementara itu, jalur yang menghubungkan Kecamatan Sukalarang-Cireungas lumpuh total karena tertutup longsor. Menurut Usman, tim masih fokus pencarian korban. “Untuk sementara kami masih fokus pencarian korban. Untuk jalur yang terputus kami akan menyingkirkan material longsor setelah selesai pencarian korban,” kata Usman.

Komandan Resor Militer 063 Suryakancana Bogor Kolonel Infanteri Fullad menjelaskan, tanah longsor terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2015, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat hujan deras mengguyur Sukabumi dan sekitarnya, tebing di pinggir Jalan Raya Sukalarang-Cireungas ambrol. Tanah yang longsor itu menimbun rumah dan menutup jalan.

Daftar Pantai Mistis Untuk Mencari Pesugihan dan Ilmu Kanuragan


Tak seperti wisata pantai pada umumnya, yang ramai dipadati para pengunjung di akhir pekan. Beberapa pantai yang saya kunjungi di Jember, Jawa Timur, ini hanya ramai di hari-hari tertentu, seperti Kamis malam atau malam Jumat. Pengunjung juga ramai ketika malam 1 Syura. Pantai-pantai ini dikenal memiliki aura mistis.

Didorong oleh informasi itu, saya mengunjungi tiga pantai di Jember, yang disebut banyak orang setempat beraura mistis tersebut.

Pantai Puger
Saya mengunjungi pantai ini pada awal tahun 2015. Saya tiba di pantai Puger siang hari. Saat itu terik matahari benar-benar memanggang kulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan pasir hitam. Gersang. Gulungan ombak yang mencoba memberikan alunan alam dan hijaunya deretan pohon pandan seakan tak mampu mengusir hawa panas di pantai ini. Saya hanya menemui dua pemancing di bibir pantai. Sedari pagi mereka tak mendapatkan ikan.

Boleh dibilang, tak ada kata indah bagi kawasan wisata pantai ini. Meski begitu, pantai yang terletak 40 kilometer di sebelah barat daya Kota Jember ini sangat terkenal. Pantai ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata mistis. Menurut petugas loket ernama Mahat yang menemani kami, pengunjung ramai pada hari-hari tertentu. “Biasanya pengunjung ramai pada Kamis malam atau malam Jumat untuk melakukan ritual. Apalagi saat malam 1 Suro,” ujar dia.

Tak jauh dari pantai itu terdapat Kolam Penampungan Mata Air Kucur, Mata Air Seribu, dan Petilasan Mbah Kucur. Menurut Mahat, dinamai Kucur karena terdapat petilasan bekas pertapaan Mbah Kucur yang diyakini dia adalah seorang prajurit yang tugasnya mengawal Pangeran Puger dari Kerajaan Mataram. “Pangeran Puger mengakhiri tapanya dan kembali ke Mataram, tapi pengawalnya tidak ikut dan menetap di Puger Kucur,” ucap Mahat.

Pantai Watu Ulo
Untuk mencapai pantai ini dibutuhkan 30 menit dari Pantai Puger. Di pantai ini banyak terdapat warung dan suasananya tak segersang Pantai Puger. Kesan mistis meruap dari pantai ini karena tampak bekas sesaji berupa kembang tujuh rupa yang berserakan di susunan batu panjang. Konon susunan batu panjang itu dianggap menyerupai tubuh ular. Menurut kisah yang beredar, ada legenda mengenai asal-muasalnya. Diceritakan pemuda desa bernama Raden Mursodo membelah ular raksasa. Ular itu dibelah menjadi tiga bagian. Dia geram karena ular itu memakan ikan ajaib yang telah memberinya emas.

Pantai Papuma
Sekitar satu kilometer dari Pantai Watu Ulo terdapat pantai dengan pasir putih dan pemandangannya sangat eksotis: Pantai Papuma. Nama Papuma merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan. Disebut Malikan karena ada batu-batu yang bisa berbunyi khas saat terkena ombak. Batu Malikan merupakan karang-karang pipih yang mirip seperti kerang besar yang menjadi dasar sebuah batu karang. Di sana, terdapat warung sederhana berderet setelah area parkir.

Pantai seluas 50 hektare itu dikelilingi hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani. Wisatawan dilarang keras berenang di pantai ini karena gelombangnya sangat kuat. Tapi mereka tetap bisa menikmati keindahan pantai ini sembari berjalan atau duduk di tepi pantai. Di ujung pantai, tak jauh dari tanjung, tampak dua orang sedang melakukan ritual. Mereka, dengan hanya mengenakan kemban, dimandikan oleh seseorang secara bergantian. Entah ritual untuk apa, saya tidak mau menganggunya.

Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Jawa, dikenal menyimpan pantai-pantai nan menawan. Beberapa di antaranya memiliki ombak laut yang menjadi tempat favorit para peselancar dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

Pantai-pantai yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, ini memiliki pesona yang khas. Pantainya masih sangat bersih dan jauh dari polusi. Boleh dibilang pantai-pantai itu masih alami. Pantai-panti di ujung Jawa Timur ini layak menjadi daerah tujuan wisata bagi Anda, terutama yang suka dengan wisata bahari.

Perjalanan wisata bahari dimulai dari Pantai Sukamade. Suara debur ombak dari kejauhan menjadi satu-satunya alunan indah yang menemani saya ketika berada di pantai ini. Dilengkapi angin laut nan kencang yang seakan ikut membentuk harmonisasi suara alam.

Saat itu, pengujung tahun lalu, saya bersama teman dan pemandu sedang menanti kedatangan penyu-penyu yang akan bertelur. Tiba-tiba terdengar suara seorang ranger di radio komunikasi fasilitator ekowisata yang memandu saya. Ia menyampaikan kabar gembira: ada penyu yang akan bertelur.

Sang pemandu pun segera mengajak beranjak. Menjejaki pasir pantai, kami menuju lokasi penyu yang berjarak sekitar 2 kilometer dari posisi saya saat itu. Pantai ini memang menjadi konservasi penyu yang memang cukup panjang, yakni sekitar 3,4 kilometer. Namun sayang setibanya di lokasi penyu hijau sedang menutup lubang kamuflase – lubang yang dibuat untuk mengelabuhi predator yang hendak memangsa telur penyu. Pengalaman yang saya dapatkan di pantai ini tidak mungkin ada di tempat lain. Selain Sukamade, terdapat tiga pantai lain di kawasan itu yang tak kalah menawan. Berikut pantai-pantai itu:

Pantai Pulau Merah
Pantai ini menawarkan pemandangan pasir putih yang bersih. Di sana terdapat payung-payung warna merah berukuran jumbo bertebaran di pinggir pantai.Di pantai ini sering dijadikan tempat berselancar favorit oleh peselancar pemula hingga profesional. Bahkan, sempat dijadikan tempat menggelar kompetisi selancar internasional.

Pantai Pancer
Pantai ini menawarkan pemandangan aktivitas nelayan. Di pantai ini, wisatawan juga bisa menyaksikan transaksi jual-beli hasil tangkapan nelayan.

Pantai Teluk Hijau “Green Bay”
Pantai ini menyuguhkan hamparan air berwarna hijau. Menurut warga setempat, warna hijau itu bukan karena planton hijau tetapi pantulan warna langit yang biru dan membias di air laut yang dasarnya berpasir putih.

Sensasi Sayur Tutut Pedas Dari Subang


Gerimis baru saja turun dari langit ketika puluhan orang menggembrong gerobak penjual sayur tutut pedas yang diparkir di depan alun-alun Kalijati, Subang, Jawa Barat, Sabtu petang, 21 Maret 2015. Sinta, salah seorang penggemar sayur tutut pedas mengaku sudah berlangganan sejak gerobak sayur tutut milik Iwan itu nancep di pinggir jalan raya Kalijati-Subang sejak tiga bulan lalu.

“Sayur tutut enak ‘dikecrot’ saat cuaca gerimis atau hujan, kelezatannya terasa banget,” ujar Sinta. Ia dan keluarganya bisa menghabiskan empat hingga enam bungkus kemasan plastik berisi sayur tutut sekali santap berjamaah bersama empat bersudara. Sensasi rasa daging tutut yang agak kenyal tapi lezat itu, ujar penikmat sayur tutut lainnya, Iqbal, semakin gokil jika disantap dengan rasa super pedas. “Woow, bibir serasa jontor,” ujarnya sambil terkekeh. “Rasa kuahnya rame-rame, pokoknya edun banget.”

Si empunya gerobak sayur tutut pedas, Iwan mengatakan, sayur tutut yang diolahnya sendiri bersama isterinya itu, berbahan dasar bumbu layaknya sayur gulai tanpa santan. “Hampir semua bumbu rempah-rempah dicampur adukan,” kata Iwan, bumbu dapur yang menjadi bahan pokok selera rasa sayur tutut tersebut yakni gula merah, sereh, kunyit, garam, laos, jahe dan cabai rawit.

“Lalu, saya tambahkan terasi khas Cirebon,” ia membuka salah satu rahasia bumbu dapurnya. Ada pun tututnya, dia order dari pusat budidaya tutut di waduk Cirata Purwakarta. Buat yang doyan sayur tutut super pedas, Iwan menyiapkan sambal tambahan khusus. “Nambah sambelnya gratis dan silakan ambil semau gue aja,” ujarnya.

Iwan, membanderolnya, untuk setiap bungkus plastik Rp 5.000. Awalnya, ia tak menyangka sayur tutut buatannya mampu menyedot banyak penggemar. Nyatanya, penggilannya luar biasa banyak. “Penggemarnya mulai dari yang jalan kaki hingga bermobil,” ujar Iwan dengan nada bangga. Alamat konsumennya juga bukan melulu dari Kalijati dan Subang, tetapi ada pula pencong asal Bandung, Jakarta dan Banten.

Mau tahu berapa banyak sayur tutut produksi Iwan, yang laku dijual setiap harinya:”Rata-rata tiga kuintal,” Iwan mengimbuhkan.

Wisata Kuliner Sajian Nasi Campur Khas Bali


Bali, yang mendapat julukan Pulau Dewata, dikenal dengan pesona pantai-pantainya yang eksotis. Bali juga memiliki kekhasan dengan sawah teraseringnya, terutama di wilayah dataran tinggi seperti di kawasan Ubud.

Tak hanya itu. Bali menyuguhkan kuliner yang mengundang selera. Rasanya tidak lengkap bertandang ke sebuah daerah wisata di Indonesia bila tidak mencicipi makanan khasnya. Itulah yang saya lakukan saat melancong ke Bali apa akhir tahun lalu. Dengan semangat menggebu, saya berkeliling mencari sajian masakan dengan menu utama nasi di tiga tempat wisata di Bali, yaitu kawasan Sanur, Denpasar, dan Ubud. Dari tiga tempat itu, saya menjajal empat menu masakan nasi campur khas Pulau Dewata.

Nasi lauk ikan goreng dengan sambal dan sup ikan
Di kawasan wisata Sanur terdapat Rumah Makan Mak Beng. Lokasinya berada di dekat tempat keberangkatan speedboat menuju Nusa Lembongan, Ceningan atau Peninda. Restoran itu tepatnya terletak di Jalan Hang Tuah. Restoran Mak Beng buka pukul 08.00 hingga pukul 21.00. Di tempat makan ini hanya ada dua menu yang ditawarkan, yakni ikan goreng dengan sambal dan sup ikan. Untuk satu paket ikan goreng, sup ikan, dan nasi ditambah sambal, dipatok Rp 88 ribu.

Nasi campur Bali
Masih di kawasan wisata Sanur, saya mencicipi nasi campur di warung Men (Ibu) Weti. Lokasi warung ini tak jauh dari Pantai Sanur. Makanan disajikan di beberapa baskom besar yang diletakkan satu meja. Isinya berupa sayuran, ayam betutu, ayam goreng, urap, sate lilit, kerupuk kulit ayam, ikan laut, dan telur, serta sambal khas Bali. Harga makanan tergantung pada pilihan lauknya. Rata-rata untuk satu porsi cukup ditebus dengan kisaran Rp 15 ribu.

Nasi Jinggo
Di Denpasar, saya mencari menu nasi jinggo di Jalan Gajah Mada. Awalnya disebut “jenggo” berarti 1500. Kini harganya dua kali lipat pada kisaran Rp 3000. Bungkusannya kecil karena isinya sekepal nasi ditemani mi, suwiran ayam, dan sambal.

Nasi Kadewat Ibu Mangku
Di Ubud, tepatnya di Jalan Raya Kadewat, terdapat rumah makan Ibu Mangku. Begitu masuk rumah makan yang berada di depan Pura Kadewat itu, Anda akan disambut dengan bunyi gamelan khas Bali. Sajian yang ditawarkan diletakan berderet di balik kaca. Saat itu, saya memilih menu nasi campur seharga Rp 20 ribu dan makan lesehan di balai-balai di tengah taman. Sungguh asyik.

Aturan Salat 3 Waktu Di Jombang Bikin Heboh


Pengelola Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Jombang akhirnya memberi penjelasan dasar pemikiran seputar anjuran salat tiga waktu yang diedarkan melalui stiker. Pengasuh Urwatul Wutsqo, KH Qoyim Ya’qub, memberi mandat isterinya, Qurrotul Ainiyah, untuk mengklarifikasi isi stiker tersebut.

“Stiker yang kami edarkan ini sebagai imbauan bagi pekerja yang sibuk, seperti sopir, tukang becak, dan buruh tani. Karena mereka tidak bisa tepat waktu dalam melaksankan salat lima waktu,” kata Qurrotul, Selasa malam, 17 Februari 2015. Menurut Qurrotul, dalam Al Qur’an, menjamak salat terdapat dalam surat Al Isra’ ayat 78. “Ketentuan tentang salat jamak juga ada dalam hadits nabi.”

Stiker yang diedarkan Pesantren Urwatul Wutsqo menjadi kontroversi karena dinilai melenceng dari ketentuan syariat Islam, terutama dalam tata cara mengumpulkan salat. Dalam Islam, seorang muslim diwajibkan salat lima waktu jika tidak ada halangan tertentu.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jombang Barozi mengatakan ketentuan dan alasan salat tiga waktu yang disebarkan Urwatul Wutsqo salah kaprah. “Imbauan dan alasan boleh-tidaknya menjamak salat yang tertera dalam stiker itu tidak sesuai dengan aturan fikih. Sebab sesuai aturan fikih, salat jamak bisa dilakukan jika bepergian minimal 80 kilometer,” kata Barozi.

Bila tidak memenuhi syarat itu, menurut Barozi, sesibuk apapun, seorang muslim tetap diwajibkan melaksanakan salat lima waktu. “Masak buruh pabrik juga harus melaksanakan salat jamak, padahal yang bersangkutan tidak bepergian jauh,” katanya. Barozi meminta stiker tersebut segera ditarik dari peredaran. Karena bila tidak ditarik, kata Barozi, anjuran di stiker itu berpotensi membuat masyarakat salah paham. “Harus ditarik agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” ujar dia.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jombang KH Junaidi Hidayat juga menyesalkan isi anjuran dalam stiker itu. Majelis Ulama, kata dia, akan mengklarifikasi persoalan itu pada yang membuat stiker.”Kami akan panggil pengasuh pondoknya, sebab masyarakat awam bisa salah paham dengan isinya,” ujar dia.

Kabupaten Jombang, Jawa Timur, heboh dengan beredarnya stiker berisi imbauan membolehkan salat tiga waktu bagi muslim yang sibuk bekerja. Kategori orang yang sibuk bekerja menurut stiker itu ialah buruh, pedagang kaki lima, petani, dan sebagainya. Mereka boleh melakukan salat tiga waktu meski tidak sedang dalam bepergian.

Stiker itu berasal dari jemaah Thoriqoh Syadziliyah Mas’udiyah yang dipimpin KH Qoyim Ya’kub. Qoyim juga Pengasuh Pondok Pesantren Urwatul Wutsqo di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek. Sebelumnya Qoyim pernah membikin heboh karena memberlakukan hukuman cambuk bagi santri yang melanggar aturan pondok. “Informasi dalam stiker itu kurang benar menurut aturan fikih Islam dan menyesatkan bagi yang awam tentang syariat,” kata salah satu warga Jombang, Syafi’i, Selasa, 17 Februari 2015.

Imbauan dalam stiker itu, kata dia, melenceng dari syariat Islam, terutama dalam tata cara mengumpulkan salat. Sebab seorang muslim diwajibkan salat lima waktu jika tidak ada halangan tertentu. Mengumpulkan waktu salat (jamak) diperbolehkan dengan syarat khusus, di antaranya jika bepergian minimal 83 kilometer dari tempat tinggal.

Selama tidak memenuhi syarat itu, muslim yang sibuk bekerja dan apa pun pekerjaannya tetap diwajibkan salat lima waktu. Seseorang yang bepergian jauh diperbolehkan menjamak salat karena diasumsikan kesempatan mengerjakan salat dalam lima waktu semakin sempit. “Dalam stiker itu disebutkan boleh menjamak salat meski tidak sedang dalam bepergian, ini yang keliru,” kata Syafi’i.

Stiker berukuran 7 x 5 sentimeter itu beredar di tempat-tempat umum. Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jombang KH Junaidi Hidayat bakal meminta klarifikasi kepada jemaah Thoriqoh maupun ponpes yang menyebarkan stiker tersebut. “Kami menyesalkan beredarnya stiker itu dan akan panggil pengasuh pondok untuk dimintai klarifikasi,” katanya.

Takut Dikritik Alasan Ahok Larang Kegiatan Politik Di Car Free Day ?


Rencana Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama untuk mengetatkan kegiatan di Car Free Day menuai pro dan kontra. Ahok, sapaan akrab gubernur, berencana melarang semua aksi politik dilakukan saat CFD.

“Aksi politik di saat CFD harusnya dilihat sebagai sinyal kurangnya ruang publik. Sebaiknya aksi politik ini jangan dibatasi dulu selama ketersediaan ruang publik masih terbatas,” kata Kordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras), Haris Azhar, Selasa 24 Maret 2015.

Ia mengkritisi rencana Ahok lantaran indikator menganggu kenyamanan dan ketertiban publik serta titik tolak permasalahan belum terpetakan dengan baik. “Jangan sampai terlihat dia menjadi egois di mana aturan itu adalah dia. Aturan tak bisa dibuat tanpa ada indikator dan problem utama yang terpetakan dengan baik,” kata dia. Selain itu, kata Haris, untuk menerapkan aturan ini, harus ada konsensus apa saja yang dirasakan mengganggu oleh masyarakat pengambil manfaat CFD.

Haris meminta Ahok melihat CFD sebagai sebuah kemajuan dalam proses demokrasi di Indonesia. Sebab, muncul aksi-aksi spontanitas masyarakat menanggapi isu-isu politik yang berkembang. “Komunikasi politik selama ini tidak tersampaikan dengan baik sehingga masyarakat bersuara melalui cara-cara ini,” kata dia. Selain itu, kata Haris, diskusi politik tak lagi identik dengan ruang penuh asap rokok, dilakukan malam hari, orang-orang yang seram. “Semua bisa terlibat dalam diskusi politik yang sehat,” kata dia.

Pernyataan sikap berbeda dikemukakan oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompul. Ia justru menyetujui pelarangan CFD digunakan untuk aksi politik. “Awalnya fungsi CFD itu untuk mengurangi emisi, ajang rekreasi, refreshing dan untuk bersosialisasi. Bukan untuk kampanye politik,” kata dia. Ia mendukung penuh rencana Ahok agar kegiatan CFD menjadi lebih tertib.

Selama ini, kata dia, aksi-aksi politik yang diadakan di CFD tak pernah meminta izin kepolisian. Padahal, dalam Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum diatur syarat untuk mendapatkan izin demonstrasi, pawai, rapat umum dan mimbar bebas. “Ini kan tempat terbuka, idealnya ya harus minta izin dulu tapi permasalahannya selama ini kan tak pernah,” kata dia.

Martinus mengatakan selain ditetapkan dalam Peraturan Gubernur Nomor 119 Tahun 2012, CFD juga diatur dalam Surat Keputusan Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Nomor 380 Tahun 2012 Tentang Penetapan Lokasi, Jadwal, dan Tata Cara Pelaksanaan Hari Bebas Kendaraan Bermotor di Jakarta. “Jadi tak ada salahnya kembali ke fungsi semula untuk berolah-raga,” kata dia. Aktivis Kontras Haris Azhar menyanggah, “aturan itu hanya menyangkut soal mobil dilarang melintas.”