Warung Vulgar Dengan Menu Cabul Di Sleman Diprotes Warga


Wakil Bupati Sleman Yuni Satiya Rahayu angkat bicara terkait warung bernuansa vulgar di wilayah kerjanya. Dia minta Satpol PP menindaklanjuti laporan keberatan dari masyarakat. “Kami mendukung laporan tersebut dan segera ditindaklanjuti,” kata Yuni Selasa (31/3/2015). Yuni meminta Satpol PP berkoordinasi dengan kepolisian agar masalah cepat terselesaikan. “Kami sudah koordinasikan dengan Pol PP untuk menindaklanjutinya,” tegas Yuni.

Di kesempatan terpisah, Polres Sleman mengaku telah menerima keberatan dari sejumlah pihak terkait warung vulgar. Mereka diminta memfasilitasi dengan pemilik. “Tidak dilaporkan. Hanya dari Pemda minta untuk difasilitasi dengan pemilik,” kata Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain ketika dikonfirmasi, Senin (30/3) malam.

Warung yang diprotes itu berada di jalan Selokan Mataram, dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Menu di warung ini aneh-aneh. Ada Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, dan minuman seperti Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas.

Di lembaran menu, pengeola menulis: “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”. Istilah-istilah ini dprotes oleh berbagai kalangan. Mulai dari dari KPAI hingga MUI. Istilah itu dianggap tak pantas digunakan di warung yang pembelinya, bisa jadi, anak di bawah umur.

Sebuah warung makan di Yogyakarta menuai kontroversi karena memiliki menu dengan nama-nama vulgar. Pengamat Sosial, MS Drajat, menilai fenomena tersebut berlawanan dengan norma sosial yang berlaku di Indonesia. “Bukan berati tidak boleh, tapi itu berlawanan secara sosial dengan norma yang ada karena itu menggunakan istilah vulgar,” ujar Drajat saat berbincang, Senin (30/3/2015). Drajat pun menilai penggunaan nama-nama vulgar pada menu makanan sangat tidak etis. Ia menyebut hal itu dilakukan pihak warung sebagai langkah untuk mecari sensasi.

“Kalau menurut saya cari sensasi dan tidak etis juga, karena kita tahu masyarakat kita adalah masyarakat yang normatif sehingga wajar kalau ada penolakan. Itu istilah-istilah khusus yang mungkin tidak layak,” kata Drajat. Memang jika dilihat sebagai strategi penjualan, menu bernuansa vulgar dinilai ampuh dilakukan karena sensasional dapat diraih. Namun Drajat mengingatkan mengenai pengunjung-pengunjung warung makan Kedai 24 yang masih di bawah umur.

“Kalau itu strategi penjualan memang mujarab, mantab lah apalagi itu diperlihatkan bagi pengunjung anak muda. Tapi kalau itu dibaca anak yang belum 17 tahun atau masih anak-anak, kan tidak enak. Itu tidak etis secara sosial,” tandasnya. Sebelumnya diberitakan, Warung Kedai 24 berada kawasan jalan Selokan Mataram dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Pada buku buku menu, item-item makanan disingkat dengan nama-nama bernada vulgar.

Seperti tulisan Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, kemudian minuman Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas. Harga di warung ini sama dengan warung biasa, berkisar harga mulai dari Rp 2.000-Rp 15.000.

Warung makan yang memiliki menu bernuansa vulgar di Yogyakarta menyita perhatian publik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai seharusnya pelaku usaha tidak membuat istilah yang dapat menimbulkan pro dan kontra, terutama karena agama tidak menyukai segala sesuatu yang memiliki arti kurang baik.

“Harusnya nggak usah buat istilah yang menimbulkan pro dan kontra. Itu membangun masalah, agama kan tidak suka yang jelek-jelek, nama dan perilaku yang jelek, dalam agama kan dilarang,” ungkap Waketum MUI KH Ma’ruf Amin saat berbincang, Senin (30/3/2015). Ma’aruf menilai sebaiknya dalam menciptakan nama, termasuk menu makanan, alangkah lebih baik jika menggunakan nama-nama dengan konotasi positif. Sehingga tidak akan menimbulkan prasangka dari siapapun.

“Orang jadi bisa berpendapat macem-macem. Nama-nama seperti itu bisa menimbulkan orang yang tadinya suka (dengan warung makan) jadi nggak suka. itu kan bahasa-bahasa yang kurang patut,” katanya. “Sebaiknya jangan dipakai istilah itu, biasa-biasa aja lah. Kalau (makanannya) enak orang juga suka, nggak perlu namanya macem-macem sehingga bisa menimbulkan orang salah paham, marah, tersinggung,” sambung Ma’aruf.

Politisi PKB itu pun meminta agar Pemda setempat mengingatkan pemilik warung makan untuk mengganti nama-nama menu makanan yang dijualnya. “Perlu diingatkan oleh Pemda supaya mengganti istilah itu. Perlu dididik, sifatnya lebih bagaimana mengingatkan,” tandasnya.

Warung makan Kedai 24 di Yogyakarta menuai kontroversi karena penggunaan istilah-istilah vulgar di menu-menu makanannya. Seperti Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi), nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Juga ada nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, kemudian minuman Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas. Harga di warung ini sama dengan warung biasa, berkisar harga mulai dari Rp 2.000-Rp 15.000.

Warung dengan menu bernuansa vulgar di Yogyakarta menuai kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Sebagai pedagang, semestinya pemilik warung jangan mencari sensasi dengan membuat kata-kata vulgar. “Perlu kearifan dalam melakukan transaksi jual beli,” jelas Ketua KPAI Asrorun Niam, Senin (30/3/2015). “Nama itu menunjukkan apa yang dinamakan, bukan hanya sekedar mainan,” tambah Niam. Menurut Niam, menjual minuman non alkohol tetapi dengan nama bir tentu tidak diperkenankan.

“Demikian juga jual daging sapi tapi diberi nama daging babi tentu ini bermasalah. Ini juga tak baik bagi anak, bagaimana bila anak-anak yang datang ke warung itu?” tegas Niam. Warung yang bernuansa vulgar tersebut berada di jalan Selokan Mataram, dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Di lembaran menu tertulis “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”.

Kedai 24, warung dengan nama menu vulgar di Sleman, Yogyakarta, memunculkan kontroversi. Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman memprotes. Polisi sudah memediasi. Pengelola warung bersedia mengganti nama menu. “Sudah ada kesepakatan dan pertemuan secara tertutup yang kita fasilitasi bersama instansi lain yang terkait,” ungkap Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman, Aiptu Eko Mei kepada wartawan di Mapolres Sleman, Jalan Magelang, Sleman, Selasa (31/3/2015).

Menurut Eko, setelah ada surat resmi keberatan dari Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman, polisi langsung merespons. Mereka mempertemukan pihak-pihak terkait secara tertutup. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. “Semua pihak sudah kita undang untuk melakukan mediasi. Proses mediasi dilakukan secara tertutup,” katanya.

Perwakilan warung ikut dalam pertemuan itu. Mereka diharuskan segera mengganti nama-nama daftar menu yang dinilai vulgar atau yang menjadi keberatan dari Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman. Kesepakatan lain, pihak manajemen warung diberikan waktu selama 2 minggu terhitung sejak Senin (30/3) kemarin untuk mengganti nama menunya. Kesepakatan ini diambil sebagai langkah preventif sebab bisa memicu keresahan dan tindakan asusila.

“Kepolisian bersama Satpol PP, Babinkamtibmas, Polsek setempat akan terus mengawasi,” katanya. Menu di Kedai 24 memang terkesan vulgar. Ada Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, dan minuman seperti Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas.

Di lembaran menu, pengeola menulis: “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s