Di Jakarta Tidak Ada Lagi Tempat Buat Merokok Kecuali Di Rumah Masing Masing


Para penumpang harus sadar, merokok di tempat umum seperti stasiun sudah lama dilarang keras. Selain merugikan diri sendiri, juga berpotensi merusak kesehatan orang lain. Karena itu, tak ada tempat bagi perokok di fasilitas umum. Aturan larangan merokok di tempat umum sudah dibuat berlapis. Mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah hingga peraturan gubernur DKI Jakarta khusus di ibu kota.

Ada UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang diperjelas dalam PP No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Di sana, ada aturan soal kadar nikotin dan tar dalam rokok, keterangan pada label, produksi dan penjualan rokok, serta iklan dan promosinya. Mengenai pengaturan kawasan dilarang merokok, tercantum dalam Pergub DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok sebagaimana telah diubah dengan Pergub DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 (“Pergub 88”).

Dalam Pasal 18 Pergub 88 disebutkan bahwa tempat atau ruangan merokok harus terpisah, di luar dari gedung serta letaknya jauh dari pintu keluar gedung. Salah satu yang dilarang keras sebagai arena merokok adalah tempat angkutan umum, mulai dari angkutannya hingga terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan.

Lalu, apa sanksinya? Baik pengelola dan perokok sebetulnya sudah terancam hukuman. Khusus pengelola tempat berikut sanksinya:

“Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat yang ditetapkan sebagai Kawasan Dilarang Merokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, apabila terbukti tidak memiliki komitmen, tidak membuat penandaan, tidak melakukan pengawasan kawasan dilarang merokok di kawasan kerjanya dan membiarkan orang merokok di Kawasan Dilarang Merokok, dapat dikenakan sanksi administrasi berupa :

a. peringatan tertulis;
b. penyebutan nama tempat kegiatan atau usaha secara terbuka kepada publik melalui media massa;
c. penghentian sementara kegiatan atau usaha; dan
d. pencabutan izin.

Sementara untuk perokok diatur dalam Pasal 41 ayat (2) jo Pasal 13 ayat (1) Perda DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yakni, setiap orang yang merokok di kawasan dilarang merokok di kawasan dilarang merokok diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

Dengan demikian, sudah jelas apa yang dilakukan Fajar Arif di Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur, menyalahi aturan. Dia merokok di peron stasiun, tempat yang sudah jelas-jelas dilarang oleh Pergub DKI. Wajar saja ketika petugas PT KCJ, M Iqbal, menegurnya. Sebagai perwakilan pengelola dia berhak memberi peringatan.

Sayangnya, Fajar tak terima ditegur oleh Iqbal meski sudah terang-terangan melanggar. Sebaliknya, dia malah memberikan hook keras kepada Iqbal hingga tersungkur dan membentur pagar peron. Iqbal pun terluka bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit.

“Kami sampaikan simpati terhadap satpam yang dirawat di RSCM. Menurut kami, itu adalah bentuk ketidaktaatan hukum sama sekali (yang dilakukan pelaku), karena satpam menjalankan tugasnya,” kata Ketua Yayasan Kawasan Tanpa Rokok Dr Rohani Budi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s