Fajar Arif Pukul Hingga KO Satpam PT. KAI Karena Tidak Terima Dilarang Merokok


Fajar Arif memukul satpam PT KAI, M Iqbal, karena tidak terima saat diminta mematikan rokoknya. Fajar merokok di peron Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur, karena tidak ada tulisan dilarang merokok di lokasi. “Saya merokok karena di situ tidak ada tulisan larangan merokok. Di situ kan terbuka,” kata Kapolsek Matraman Ua Triyono yang menirukan ucapan Fajar. Hal itu disampaikan Ua di kantornya, Jl Matraman Raya, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2015).

Pemukulan itu terjadi Senin (20/4) pukul 15.30 WIB. Aturan larangan merokok di stasiun sebenarnya sudah lama berlaku, dengan dasar hukum Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 dan Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Namun, Ua membenarkan bahwa di lokasi tidak ada tanda larangan merokok.

“Memang di situ tidak ada tulisan larangan merokok,” ujarnya. Setelah mengayunkan hook keras ke rahang Iqbal, Fajar sempat mencoba melarikan diri. Meski begitu, mantan petinju ini mengaku menyesal karena keselo ketika melarikan diri. “Menyesal, Pak. Saya tidak tahu kalau bakal keselo gitu,” ucap Ua kembali menirukan Fajar. Iqbal sempat kritis dan dirawat di RSCM usai dipukul oleh Fajar. Saat ini, kondisinya sudah membaik dan telah diperbolehkan pulang.

Fajar Arif yang memukul satpam PT KAI di Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur, sempat berusaha melarikan diri usai mengayunkan bogem mentah. Apa daya, Fajar justru keseleo saat berusaha memanjat pagar peron stasiun. “Setelah mukul satpam, pelaku melarikan diri mencoba manjat pagar peron. Pas di luar stasiun ditangkap ama warga,” kata Kapolsek Matraman Ua Triyono di kantornya, Jl Matraman Raya, Jaktim, Selasa (21/4/2015).

Warga sempat hendak memukuli Fajar yang melarikan diri. Hanya saja, mantan petinju ini justru keseleo. “Kaki pelaku keseleo karena lompat pagar,” ucap Ua. Kepada polisi, Fajar mengaku menyesal karena mengeluarkan hook keras ke rahang satpam bernama M Iqbal tersebut. Alasan ia merokok adalah karena area stasiun terbuka dan tak ada tanda dilarang merokok.

“Saya merokok karena di situ tidak ada tulisan larangan merokok. Di situ kan terbuka dan selama ini belum pernah ada yang berani melarang saya,” ujar Ua menirukan pengakuan Fajar. Aturan larangan merokok di stasiun sudah tercantum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 dan Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Fajar Arif mengaku menyesal setelah memukul satpam PT KAI bernama M Iqbal di Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur. Pemukulan itu dilakukan karena Fajar tidak terima ditegur saat merokok di peron stasiun. “Menyesal, Pak. Saya tidak tahu kalau bakal gitu,” kata Kapolsek Matraman Ua Triyono yang menirukan ucapan Fajar. Hal itu disampaikan Ua di kantornya, Jl Matraman Raya, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2015). Pemukulan terjadi Senin kemarin pukul 15.30 WIB.

Setelah memukul Iqbal, Fajar sempat melarikan diri dengan mencoba memanjat pagar peron. Mantan petinju itu mengaku merokok karena tidak tahu bahwa ada larangan di peron stasiun. Aturan larangan merokok di stasiun sebenarnya sudah tercantum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 dan Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

“Memang di situ tidak ada tulisan larangan merokok,” ujar Ua. Hook keras dari Fajar membuat Iqbal sempat kritis. Saat ini, kondisi Iqbal sudah membaik dan telah diizinkan pulang dari rumah sakit. “Namanya juga petinju. Sekali pukul minimal orang bisa mati juga, minimal dia tahu kelemahan orang tahu di mana, karena (pukulannya) di bagian rahang. Kalau orang biasa di mata, hidung, pipi,” ucap Ua.

Seorang petugas KRL, M Iqbal, terkapar karena dipukul penumpang yang tak suka ditegur karena merokok di stasiun. Pemukulan seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi, pada 2013 lalu seorang petugas wanita sempat dihajar 5 penumpang pria pengecut KRL tak bertiket. Pemukulan ini terjadi pada Fathmah Ikha Haryati, seorang petugas pemeriksa tiket Commuter Line, pada Juni 2013 lalu. Saat itu wanita berusia 27 tahun itu sedang memeriksa tiket pada lima penumpang di atas KRL Commuter Line, namun hanya ada satu yang memilikinya. Itu pun tiket ekonomi.

“Saya suruh turun di stasiun berikutnya, tapi malah marah-marah,” ujar Fathmah sambil menutupi mata kirinya saat ditemui di Stasiun Djuanda, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2013) lalu. Saat tiba di Stasiun Pasar Minggu, para penumpang itu turun. Namun mereka sempat melayangkan satu pukulan keras ke arah mata kiri Fathmah. “Saya sih merasa yang mukul cuma satu. Habis dipukul saya sudah nggak tahu apa-apa. Saya sempat pingsan,” terangnya.

Tak seperti kasus pemukulan terhadap Iqbal yang pelakunya bisa diringkus. Pelaku pemukulan terhadap Fathmah hingga kini tak tarungkap. Wanita berkerudung ini tak tahu detail ciri-ciri pelakunya. Karena saat itu kondisi Fathmah langsung lemas. Jika pemukul Fathmah tak diketahui, berbeda dengan pemukul Iqbal yang berhasil diamankan di Polres Matraman. Pemukul Iqbal bernama Fajar Arif, seorang buruh yang mantan petinju. Iqbal sempat mendapatkan perawatan di RSCM akibat pemukulan itu sebelum diperbolehkan pulang ke kediamannya di Bogor hari Selasa (21/4/2015) pagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s