Monthly Archives: April 2015

PT MNC Infrastructure Dinilai Default Dalam Perbaiki Jalan Tol Kanci Pejagan


Badan Pengatur Jalan Tol memberikan waktu 90 hari kepada PT MNC Infrastructure untuk memperbaiki jalan tol Kanci-Pejagan. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol, Achmad Gani Gazali, mengatakan pengelola ruas tol tersebut, PT MNC Infrastructure, dinyatakan default alias cidera janji karena banyak kerusakan di jalan tol itu.

“Kami minta dibongkar agar laik operasi. Batasnya 90 hari. Sekarang sudah lewat sekitar satu bulan,” kata Achmad saat meninjau lokasi pekerjaan jalan Tol Cikampek-Palimanan, Sabtu 4 April 2015. Achmad meminta pengelola jalan Tol Kanci-Pejagan untuk melakukan perbaikan, seperti menambah lapisan jalan (overlay). Yang penting, kata dia, kualitas berkendara di jalur itu kembali bagus agar pengelola tol memenuhi standar pelayanan minimum.

Jika pengelola tidak berhasil dalam memenuhi standar dalam waktu 90 hari, BPJT akan menutup jalur tol tersebut atau membebaskan pengguna dari tarif tol. Direktur Utama PT SMR, Irmawanto Soekamto, mengatakan perbaikan Jalan Tol Kanci-Pejagan terus dilakukan, bahkan sudah dilakukan sejak kali pertama ruas tol tersebut berpindah tangan dari PT Bakrieland Development kepada MNC Infrastructure.

“Ruas tol tersebut memang banyak kerusakan saat serah terima. Sejak awal, ruas tersebut mengalami perbaikan secara terus menerus,” kata Irmawanto, Kamis 8 April 2015. (PT SMR: Tol Kanci-Pejagan Rusak Sejak Awal) Tol Kanci-Pejagan merupakan bagian dari salah satu dari ruas tol trans Jawa yang membentang dari Merak hingga Banyuwangi. Tol yang membentang dari Kota Cirebon hingga Brebes ini mempunyai panjang 35 kilometer.

PT Semesta Marga Raya membantah tudingan yang menyebutkan pihaknya cedera janji karena lemah dalam mengawasi dan menangani kerusakan ruas Jalan Tol Kanci-Pejagan. Menurut Direktur Utama PT SMR Irmawanto Soekamto, perbaikan terus-menerus dilakukan, bahkan sudah sejak pertama kali ruas jalan tol tersebut berpindah tangan dari PT Bakrieland Development ke MNC Infrastructure.

“Ruas tol tersebut memang banyak kerusakan saat serah-terima. Sejak awal, ruas tersebut mengalami perbaikan secara terus-menerus,” kata Irmawanto, Kamis, 9 April 2015. Buktinya, pada akhir 2013, sebagai badan usaha jalan tol, PT SMR telah diizinkan untuk menaikkan tarif karena dinilai telah memenuhi standar pelayanan minimum (SPM) yang sudah ditentukan. Meskipun demikian, Irmawanto mengaku pihaknya sulit memenuhi ketentuan standar pelayanan minimum yang telah ditetapkan karena kondisi fisik ruas Jalan Tol Kanci-Pejagan yang rusak berat.

“Kami sendiri bertanya, seharusnya konstruksi ruas tol ini bisa bertahan sampai puluhan tahun, tapi mengapa baru serah-terima sudah begitu banyak kerusakan?” kata Irmawanto. Seperti diketahui, Jalan Tol Kanci-Pejagan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 Januari 2010, setelah PT Adhi Karya sebagai kontraktor menyelesaikan pembangunan fisiknya. Namun, setahun kemudian, ruas jalan tol ini ramai diberitakan mengalami kerusakan parah yang mengakibatkan sejumlah warga melakukan aksi menutup akses jalan tol tersebut.

Pada Januari 2012, PT SMR tidak diizinkan menaikkan tarif tol karena kondisi ruas Jalan Tol Kanci-Pejagan dinilai belum memenuhi standar pelayanan minimum. Baru pada Desember 2013 kenaikan tarif dapat dilakukan di ruas jalan tol sepanjang 35 kilometer itu.

PT SMR memohon maaf atas ketidaknyamanan para pengguna ruas Jalan Tol Kanci–Pejagan. Saat ini, Irmawanto melanjutkan, PT SMR sedang melakukan upaya hukum untuk mencari keadilan terkait dengan apa yang sebenarnya menjadi penyebab kerusakan ruas Jalan Tol Kanci-Pejagan.

“Saya yakin kebenaran akan terbukti. Kita semua tahu ruas jalan tol ini sudah rusak berat sejak awal. Jadi kita tunggu saja siapa yang sebenarnya bertanggung jawab atas kerusakan ini semua,” kata Irmawanto.

Advertisements

Delapan Menara Berpotensi Ganggu Penerbangan di Banyuwangi


Kepala Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur, Andy Hendra Suryaka mengatakan sedikitnya delapan menara telekomunikasi di sekitar bandara berpotensi mengganggu penerbangan. “Kami merekomendasikan agar izin delapan menara itu tidak diperpanjang,” kata Andy kepada Tempo, Rabu, 22 April 2015.

Menurut Andy, hal itu sesuai hasil evaluasi kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP) dalam radius 15 kilometer dari bandara. Delapan menara itu berpotensi mengganggu karena letaknya hanya 4 kilometer dari bandara. Ketinggian menara juga lebih dari 50 meter, tidak sesuai batas ketinggian maksimal 45 meter.

Saat ini, gangguan terhadap penerbangan memang belum terjadi. Namun, mendatang, dengan frekuensi penerbangan yang semakin meningkat, kawasan sekitar bandara harus bebas dari menara. “Kami harus memprioritaskan keselamatan penerbangan.”

Bandara Blimbingsari kini memiliki frekuensi 3 kali penerbangan komersial dan 200 kali penerbangan latih per hari.

Kepala Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Banyuwangi Abdul Kadir mengatakan telah memperketat perizinan pendirian menara dalam radius 15 kilometer dari bandara. Ada tujuh kecamatan yang masuk dalam radius itu, yakni Rogojampi, Kabat, Singojuruh, Banyuwangi, Muncar, Srono, dan Glagah.

Investor yang akan mendirikan menara dalam radius itu, kata dia, harus mengajukan izin kepada Badan Otoritas Bandar Udara Wilayah III Bandara Juanda di Surabaya. Badan Otoritas akan menghitung berapa ketinggian menara yang aman bagi penerbangan.

Fajar Arif Pemukul Satpam Menangis Bagai Perempuan dan Suruh Istri Minta Maaf Pada Korban


Penumpang KRL Fajar Arif menangis tersedu sedu bagaikan perempuan dan meminta maaf pada satpam yang dipukulnya karena menegurnya untuk mematikan rokok. Fajar akan meminta istrinya untuk menjenguk korban. “Saya merasa salah dan menyesal. Saya cuma bisa meminta maaf, paling istri saya mau ketemu sama korban mau minta maaf,” ucap Fajar saat ditemuidi Mapolsek Matraman, Jalan Matraman Raya, Jakarta, Selasa (21/4/2015). Fajar mengenakan penutup wajah warna hitam dan baju tahanan warna biru.

Fajar mengaku tak ada niat memukul Iqbal hingga terluka dan tak sadarkan diri. Pria yang pernah berlatih tinju ini sangat menyesal dan terus meminta maaf. “Kepada korban saya minta maaf, saya khilaf saya tidak niat sampai seperti itu. Saya cuma spontan, sekali lagi saya minta maaf,” ucap Fajar yang memiliki dua anak ini.

Fajar meneteskan air mata saat mengucapkan maaf. Air mata jatuh begitu dia teringat dengan nasib istri dan anaknya. Istri Fajar mengetahui perbuatan suaminya itu setelah Fajar diamankan di Polsek Matraman. “Istri tahunya pas saya di sini. Saya teringat anak saya yang paling kecil,” ucap Fajar masih dengan air mata meleleh.

Iqbal saat ini telah diperbolehkan pulang ke rumahnya di Bogor setelah dirawat sejak Senin kemarin di RSCM.Mohammad Iqbal, seorang satpam di Stasiun Pondok Jati, Jaktim tergeletak tak sadarkan diri setelah dipukul oleh seorang penumpang commuter line bernama Fajar Arif. Usai mendapat bogem mentah, kepala bagian belakang Iqbal membentur sudut pondasi pagar peron.

Bercak darah masih terlihat di lokasi, Selasa (21/4/2015). Bercak warna merah di sudut pondasi pagar. Tampak juga bekas tetesan darah dari atas menuju ke bagian lantai. udut pondasi pagar itu berada tepat di bawah spanduk warna merah dengan tulisan: Mulai Tanggal 1 April 2015 Diberlakukan Jadwal Baru.

Lalu di bagian lantai, tampak bercak darah yang lebih banyak. Iqbal memang tergeletak tak sadarkan diri sebelum akhirnya dibawa ke RSCM. “Kemarin teman-teman satpam lainnya langsung menolong Iqbal,” kata seorang satpam Stasiun Pondok Jati yang menolak disebutkan namanya.

Sedangkan Fajar Arif yang pernah belajar tinju sewaktu SMA ini melarikan diri dan melompat pagar stasiun. Di luar pagar, dia ditangkap oleh warga. Petugas polisi lantas membawa ke Mapolsek Matraman. SAat ditemui, Fajar mengaku menyesal telah memukul Iqbal dan tak henti hentinya menangis.

Lalu Lintas Sudirman Thamrin Macet Total Karena KTT Asia Afrika


Penutupan Jalan Sudirman-MH Thamrin berdampak pada banyaknya warga jakarta dan pegawai kantor di sekitaran jalan tersebut harus menyiasati untuk mengurangi kerugian yang timbul akibat penyelenggaraan KTT. Sebab, kendaraan umum bahkan bus transjakarta pun tidak diperbolehkan. Beberapa orang akhirnya memilih menggunakan jasa sepeda motor ojek yang kian termarginalkan sejak Gubernur Ahok yang selalu berpihak terhadap pengendara mobil. Salah satu pangkalan ojek yang banyak disinggahi di perempatan Serong, Jakarta Pusat.

Ridho (36), salah satu pegawai yang di Gedung Sarinah Thamrin terpaksa menaiki ojek. Karena ia harus datang tepat waktu di kantornya. “Enggak apa-apa mahal yang penting tepat waktu daripada gaji dipotong sama bos,” kata Ridho, Rabu (22/4/2015). Selain itu, Marvin (40) terpaksa meninggalkan mobil pribadinya yang terjebak macet. Ia lebih memilih turun dan naik ojek menuju tenpat kerjanya yang berada di Karet. “Saya bawa mobil. Macet banget di situ (Jalan Abdul Muis). Saya tinggalin suruh sopir bawa pulang,” kata Marvin.

Tukang ojek yang berada di perempatan serong, Ikih (36) mengaku mendapat berkah akibat penutupan jalan. Sedari pagi sudah tiga kali melayani penumpang yang hendak menuju tempat kantornya. “Lumayan bang. Alhamdulillah jadi rame,” kata Ikig, Rabu. Kendati demikian, ia pun juga selektif dalam menaiki penumpang. Sebab jika penumpang meminta jalan yang cukup jauh, ia enggan untuk mengambil sewanya. “Kalau jauh males. Kayak tadi minta ke Pasar Baru. Perginya bisa, pulangnya enggak bisa. Ditutup semua,” kata Ikih.

Penutupan jalan protokol menyebabkan banyak aktivitas warga terhambat. Faridha, seorang karyawan perusahaan swasta di kawasan Cawang, Jakarta Timur, menempuh waktu empat jam dari rumahnya di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Faridha mengaku terpaksa berangkat sejam lebih awal dari biasanya, yakni pukul 05.30. Dia tiba di kantornya pukul 09.30. “Saya naik bus APTB Poris Plawad-Pulogadung jam setengah 6 pagi tadi. Jam 8 belum bisa keluar kawasan Kuningan,” kata Faridha, Rabu (22/4/2015).

Hal itu disebabkan macetnya jalan akibat penutupan jalan serta pengalihan arus atas penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia-Afrika ke-60, di Jakarta Convention Center. Faridha mengungkapkan, baru dapat keluar dari kemacetan di kawasan Kuningan sekitar pukul 09.15. “Setelah berhasil lepas Kuningan, eh terjebak macet lagi di Pancoran. Tapi masih parah macetnya Kuningan, bener-bener enggak bisa bergerak,” kata dia.

Biasanya, lanjut Faridha, perjalanan dari rumah ke kantornya hanya memakan waktu sekitar 60 menit saja. Selama di Pancoran, Faridha juga menemukan mobil patwal polisi berwarna putih biru yang bertuliskan Pamwal VVIP KAA-60 juga terjebak macet. Meski demikian, Faridha mengaku memaklumi penutupan jalan ini. Memang sudah protapnya kalau kepala negara lewat ya jalannya mesti ditutup,” kata Faridha. Adapun penutupan jalan protokol dilakukan tiga kali, yakni pukul 06.30-10.00. Kemudian penutupan jalan juga akan dilakukan pada sore hari, yakni pada pukul 17.00-18.30. Terakhir, jalan protokol akan ditutup mulai pukul 19.00-22.00.

Jalan Gelora, Senayan, Jakarta Pusat, merupakan jalan yang terdampak penutupan sejumlah jalan protokol pada Rabu (22/4/2015). Seperti diketahui, sehubungan dengan adanya Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika, sejumlah jalan ditutup pada pukul 06.30-10.00 terkait sterilisasi jalan bagi kepala negara tamu. Menurut pantauan Kompas.com pada Rabu pagi, kemacetan di Jalan Gelora cukup parah. Kendaraan yang terlihat bergerak hanyalah sepeda motor, sedangkan pergerakan mobil ataupun bus kota tersendat.

Mobil dan bus kota berhenti beberapa detik, kemudian bergerak dengan kecepatan lambat, lalu berhenti lagi, dan seterusnya. Kemacetan terjadi di dua jalur, baik yang menuju Senayan maupun Pejompongan. Kemacetan diperparah dengan adanya pelintasan yang sebidang dengan rel kereta api. Saat kereta api melintas, kendaraan tidak lagi bisa bergerak dan memperparah kemacetan.

Sebagian pengendara sepeda motor bahkan nekat menaiki taman yang berada di samping jalan. Padahal, tindakan itu justru membuat aliran mobil tersendat saat mereka punya kesempatan untuk jalan. Kemacetan juga terjadi di perpotongan jalan dari flyover dekat kantor Badan Pemeriksa Keuangan. Hal tersebut terjadi lantaran adanya pertemuan antara kendaraan dari arah Benhil yang tidak bisa melintasi Jalan Jenderal Gatot Soebroto dan kendaraan dari Jalan Penjernihan 1.

Namun, di sepanjang jalan itu tidak tampak ada petugas, baik dari kepolisian maupun dinas perhubungan yang mengatur arus lalu lintas. Alhasil, pengendara mobil saling berebut jalan dan terjadilah kemacetan. Tepat pukul 09.15 WIB, ruas Jalan Sudirman kembali dibuka. Tak sampai hitungan detik, sejumlah kendaraan langsung tumpah ruah ke jalan yang sebelumnya lengang.

Beberapa pengendara mobil langsung memacu kendaraan mereka dengan kecepatan tinggi. “Buset, berisik banget itu mobil-mobil pada balapan apa lagi marah gara-gara telat ya,” komentar salah seorang calon penumpang angkutan umum di sekitar stasiun Sudirman. Dari pantauan, sejumlah kendaraan pribadi roda empat, sudah bisa melewati ruas Jalan Sudirman menuju arah Blok M maupun sebaliknya. Sementara angkutan umum seperti kopaja, metromini, transjakarta ataupun bus besar lainnya yang melintas di Jalan Sudirman masih beberapa. Ketika datang, bus langsung penuh sesak oleh penumpang.

Sore nanti, ruas jalan Sudirman kembali ditutup guna akses bagi peserta peringatan KAA di Jakarta. Petugas kepolisian meminta pengendara agar menghindari ruas Jalan Sudirman sejak pukul 16.00 WIB. “Nanti sore ada lagi penutupan mulai jam 5 sore, kalau bisa (pengendara) dari jam 4 udah lewat lah dari sini,” ucap salah seorang petugas kepolisian yang bertugas di kawasan tersebut.

Kemacetan yang parah di sejumlah jalan alternatif imbas penutupan jalan-jalan protokol di Jakarta membuat sebagian pengendara sepeda motor berhenti sejenak. Mereka mengaku kelelahan dan memilih berhenti sambil menunggu kemacetan terurai. Pemandangan ini tampak di sebuah taman depan Kantor Kementerian Perhutanan atau Gedung Manggala Wanabakti, Rabu (22/4/2015). Sekitar belasan pengendara motor tampak berhenti memarkir motornya dan duduk di atasnya.

Sebagian besar dari mereka tampak memegang ponsel. Ada yang menggunakannya untuk menelepon kantor, ada juga yang hanya bermain game atau media sosial. “Ngaso dulu, nunggu jalanan enggak macet,” ujar Feri (27) karyawan Lotte Mart, Fatmawati. Warga Kampung Melayu ini mengaku tidak tahu jalan yang biasa dilewatinya yakni Jalan Jenderal Sudirman ditutup. Karenanya, ia salah memilih rute.

“Tahu gitu tadi saya lewat Kalibata, tetapi karena sudah terlanjur, jadinya lewat sini,” kata pria yang mengendarai Honda Scoopy coklat ini. Erin (26), juga memilih untuk berhenti sejenak di taman itu. Ia berhenti untuk menelepon kantornya soal keterlambatannya. “Saya tahu sih mau ada penutupan jalan, tetapi enggak terlalu enggeh harinya, enggak nyangka kalau jadi macet parah gini. Saya telepon kantor izin terlambat,” kata karyawan yang bekerja di kawasan Blok M ini.

Sunardi (37) pun bernasib sama. Ia mengaku lelah sudah 1,5 jam berada di sepeda motornya dari Bekasi. Sehingga memilih untuk berhenti dulu untuk sekadar minum dan meregangkan otot. “Repot juga ya ditutup-tutup gini jalannya. Kalau begitu besok berangkat lebih pagi,” kata dia. Kawasan Monas pada sore nanti rencananya tidak akan dilintasi bus transjakarta. Hal itu berkaitan dengan akan dilakukannya rekayasa lalu lintas di jalan-jalan sekitar Istana Negara, sehubungan dengan akan dilangsungkannya jamuan makan malam oleh Presiden Joko Widodo terhadap delegasi negara-negara peserta Konferensi Asia Afrika (KAA).

Direktur Utama PT Transjakarta Antonius Kosasih mengatakan, layanan bus transjakarta yang akan terkena dampak terhadap peraturan tersebut adalah layanan Koridor II (Harmoni-Pulogadung). Menurut Kosasih, layanan transjakarta Koridor II tidak akan melewati kawasan Monas mulai pukul 16.00 hingga 22.00. “Mulai pukul 16.00, transjakarta Koridor II tidak akan melewati Halte Monas, Halte Balai Kota, dan Halte Gambir,” ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Rabu (22/4/2015) pagi.

Kosasih menjelaskan, bus yang nantinya akan berangkat dari Halte Harmoni akan langsung berbelok ke Jalan Juanda melewati halte Pecenongan-Juanda-Pasar Baru-Pejambon-Lapangan Banteng-Merdeka Timur-Patung Tani-masuk halte Kwitang dan seterusnya menuju Pulo Gadung. “Pengalihan bersifat situasional mengikuti kondisi lalu lintas,” ujar dia.

Di Jakarta Tidak Ada Lagi Tempat Buat Merokok Kecuali Di Rumah Masing Masing


Para penumpang harus sadar, merokok di tempat umum seperti stasiun sudah lama dilarang keras. Selain merugikan diri sendiri, juga berpotensi merusak kesehatan orang lain. Karena itu, tak ada tempat bagi perokok di fasilitas umum. Aturan larangan merokok di tempat umum sudah dibuat berlapis. Mulai dari undang-undang, peraturan pemerintah hingga peraturan gubernur DKI Jakarta khusus di ibu kota.

Ada UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan yang diperjelas dalam PP No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Di sana, ada aturan soal kadar nikotin dan tar dalam rokok, keterangan pada label, produksi dan penjualan rokok, serta iklan dan promosinya. Mengenai pengaturan kawasan dilarang merokok, tercantum dalam Pergub DKI Jakarta No. 75 Tahun 2005 tentang Kawasan Dilarang Merokok sebagaimana telah diubah dengan Pergub DKI Jakarta No. 88 Tahun 2010 (“Pergub 88”).

Dalam Pasal 18 Pergub 88 disebutkan bahwa tempat atau ruangan merokok harus terpisah, di luar dari gedung serta letaknya jauh dari pintu keluar gedung. Salah satu yang dilarang keras sebagai arena merokok adalah tempat angkutan umum, mulai dari angkutannya hingga terminal, stasiun, bandara dan pelabuhan.

Lalu, apa sanksinya? Baik pengelola dan perokok sebetulnya sudah terancam hukuman. Khusus pengelola tempat berikut sanksinya:

“Pimpinan dan/atau penanggung jawab tempat yang ditetapkan sebagai Kawasan Dilarang Merokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, apabila terbukti tidak memiliki komitmen, tidak membuat penandaan, tidak melakukan pengawasan kawasan dilarang merokok di kawasan kerjanya dan membiarkan orang merokok di Kawasan Dilarang Merokok, dapat dikenakan sanksi administrasi berupa :

a. peringatan tertulis;
b. penyebutan nama tempat kegiatan atau usaha secara terbuka kepada publik melalui media massa;
c. penghentian sementara kegiatan atau usaha; dan
d. pencabutan izin.

Sementara untuk perokok diatur dalam Pasal 41 ayat (2) jo Pasal 13 ayat (1) Perda DKI Jakarta No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara yakni, setiap orang yang merokok di kawasan dilarang merokok di kawasan dilarang merokok diancam dengan pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

Dengan demikian, sudah jelas apa yang dilakukan Fajar Arif di Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur, menyalahi aturan. Dia merokok di peron stasiun, tempat yang sudah jelas-jelas dilarang oleh Pergub DKI. Wajar saja ketika petugas PT KCJ, M Iqbal, menegurnya. Sebagai perwakilan pengelola dia berhak memberi peringatan.

Sayangnya, Fajar tak terima ditegur oleh Iqbal meski sudah terang-terangan melanggar. Sebaliknya, dia malah memberikan hook keras kepada Iqbal hingga tersungkur dan membentur pagar peron. Iqbal pun terluka bahkan sampai harus dirawat di rumah sakit.

“Kami sampaikan simpati terhadap satpam yang dirawat di RSCM. Menurut kami, itu adalah bentuk ketidaktaatan hukum sama sekali (yang dilakukan pelaku), karena satpam menjalankan tugasnya,” kata Ketua Yayasan Kawasan Tanpa Rokok Dr Rohani Budi.

Fajar Arif Pukul Hingga KO Satpam PT. KAI Karena Tidak Terima Dilarang Merokok


Fajar Arif memukul satpam PT KAI, M Iqbal, karena tidak terima saat diminta mematikan rokoknya. Fajar merokok di peron Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur, karena tidak ada tulisan dilarang merokok di lokasi. “Saya merokok karena di situ tidak ada tulisan larangan merokok. Di situ kan terbuka,” kata Kapolsek Matraman Ua Triyono yang menirukan ucapan Fajar. Hal itu disampaikan Ua di kantornya, Jl Matraman Raya, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2015).

Pemukulan itu terjadi Senin (20/4) pukul 15.30 WIB. Aturan larangan merokok di stasiun sebenarnya sudah lama berlaku, dengan dasar hukum Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 dan Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok. Namun, Ua membenarkan bahwa di lokasi tidak ada tanda larangan merokok.

“Memang di situ tidak ada tulisan larangan merokok,” ujarnya. Setelah mengayunkan hook keras ke rahang Iqbal, Fajar sempat mencoba melarikan diri. Meski begitu, mantan petinju ini mengaku menyesal karena keselo ketika melarikan diri. “Menyesal, Pak. Saya tidak tahu kalau bakal keselo gitu,” ucap Ua kembali menirukan Fajar. Iqbal sempat kritis dan dirawat di RSCM usai dipukul oleh Fajar. Saat ini, kondisinya sudah membaik dan telah diperbolehkan pulang.

Fajar Arif yang memukul satpam PT KAI di Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur, sempat berusaha melarikan diri usai mengayunkan bogem mentah. Apa daya, Fajar justru keseleo saat berusaha memanjat pagar peron stasiun. “Setelah mukul satpam, pelaku melarikan diri mencoba manjat pagar peron. Pas di luar stasiun ditangkap ama warga,” kata Kapolsek Matraman Ua Triyono di kantornya, Jl Matraman Raya, Jaktim, Selasa (21/4/2015).

Warga sempat hendak memukuli Fajar yang melarikan diri. Hanya saja, mantan petinju ini justru keseleo. “Kaki pelaku keseleo karena lompat pagar,” ucap Ua. Kepada polisi, Fajar mengaku menyesal karena mengeluarkan hook keras ke rahang satpam bernama M Iqbal tersebut. Alasan ia merokok adalah karena area stasiun terbuka dan tak ada tanda dilarang merokok.

“Saya merokok karena di situ tidak ada tulisan larangan merokok. Di situ kan terbuka dan selama ini belum pernah ada yang berani melarang saya,” ujar Ua menirukan pengakuan Fajar. Aturan larangan merokok di stasiun sudah tercantum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 dan Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

Fajar Arif mengaku menyesal setelah memukul satpam PT KAI bernama M Iqbal di Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur. Pemukulan itu dilakukan karena Fajar tidak terima ditegur saat merokok di peron stasiun. “Menyesal, Pak. Saya tidak tahu kalau bakal gitu,” kata Kapolsek Matraman Ua Triyono yang menirukan ucapan Fajar. Hal itu disampaikan Ua di kantornya, Jl Matraman Raya, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2015). Pemukulan terjadi Senin kemarin pukul 15.30 WIB.

Setelah memukul Iqbal, Fajar sempat melarikan diri dengan mencoba memanjat pagar peron. Mantan petinju itu mengaku merokok karena tidak tahu bahwa ada larangan di peron stasiun. Aturan larangan merokok di stasiun sebenarnya sudah tercantum dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 115 dan Pergub DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok.

“Memang di situ tidak ada tulisan larangan merokok,” ujar Ua. Hook keras dari Fajar membuat Iqbal sempat kritis. Saat ini, kondisi Iqbal sudah membaik dan telah diizinkan pulang dari rumah sakit. “Namanya juga petinju. Sekali pukul minimal orang bisa mati juga, minimal dia tahu kelemahan orang tahu di mana, karena (pukulannya) di bagian rahang. Kalau orang biasa di mata, hidung, pipi,” ucap Ua.

Seorang petugas KRL, M Iqbal, terkapar karena dipukul penumpang yang tak suka ditegur karena merokok di stasiun. Pemukulan seperti ini bukanlah yang pertama kali terjadi, pada 2013 lalu seorang petugas wanita sempat dihajar 5 penumpang pria pengecut KRL tak bertiket. Pemukulan ini terjadi pada Fathmah Ikha Haryati, seorang petugas pemeriksa tiket Commuter Line, pada Juni 2013 lalu. Saat itu wanita berusia 27 tahun itu sedang memeriksa tiket pada lima penumpang di atas KRL Commuter Line, namun hanya ada satu yang memilikinya. Itu pun tiket ekonomi.

“Saya suruh turun di stasiun berikutnya, tapi malah marah-marah,” ujar Fathmah sambil menutupi mata kirinya saat ditemui di Stasiun Djuanda, Jakarta Pusat, Jumat (7/6/2013) lalu. Saat tiba di Stasiun Pasar Minggu, para penumpang itu turun. Namun mereka sempat melayangkan satu pukulan keras ke arah mata kiri Fathmah. “Saya sih merasa yang mukul cuma satu. Habis dipukul saya sudah nggak tahu apa-apa. Saya sempat pingsan,” terangnya.

Tak seperti kasus pemukulan terhadap Iqbal yang pelakunya bisa diringkus. Pelaku pemukulan terhadap Fathmah hingga kini tak tarungkap. Wanita berkerudung ini tak tahu detail ciri-ciri pelakunya. Karena saat itu kondisi Fathmah langsung lemas. Jika pemukul Fathmah tak diketahui, berbeda dengan pemukul Iqbal yang berhasil diamankan di Polres Matraman. Pemukul Iqbal bernama Fajar Arif, seorang buruh yang mantan petinju. Iqbal sempat mendapatkan perawatan di RSCM akibat pemukulan itu sebelum diperbolehkan pulang ke kediamannya di Bogor hari Selasa (21/4/2015) pagi.

Hanya Karena Berhutang Rp. 9,8 Milyar Kakek Thalib Abas Diculik Di Depok


Polisi berhasil menyelamatkan Thalib Abas, pengusaha yang menjadi korban penyekapan. Pria berusia 78 tahun itu ditemukan selamat di Perumahan Monalisa 2 di Grand Depok Residence, Jalan Harpa, Nomor 11 RT3/3 Kelurahan Jatimulya, Cilodong, Depok. Seorang satpam Perumahan Monalisa 2 mengatakan, rumah yang digerebek polisi itu adalah milik keluarga Deni. Polisi datang Minggu malam sekitar pukul 19.00. “Saya sempat heran, kenapa polisi datang ke sini,” kata satpam yang tidak bersedia disebut namanya itu, Senin, 20 April 2015.

Belakangan dia baru tahu, di rumah Deni ada Thalib Abbasm seorang pria yang menjadi korban penyekapan. “Tapi saya tidak curiga. Saya juga tidak tahu bila Deni membawa korban penculikan. Selama ini memang saya kenal baik,” katanya. Menurut Satpam itu, Deni tinggal di rumah itu bersama istrinya. Namun beberapa hari terakhir sang istri tidak terlihat karena sedang pulang ke rumah orang tuanya.

Deni bekerja di sebuah tempat hiburan. Pria itu biasanya berangkat dan pulang kerja menggunakan sepeda motor Honda Scoopy. Namun sepekan terakhir satpam melihat ada mobil Toyota Avanza hitam yang parkir di depan rumahnya. “Katanya mobil sewaan,” ujar satpam tadi. Komplotan penculik Thalib Abbas ternyata tahun lalu pernah menculik Kemal Rafli, anak Thalib. “Pelakunya sama dengan yang menculik Kemal,” kata Ridho Zaki, anak Thalib lainnya.

Senin, 20 April 2015, polisi dari Polda Metro Jaya berhasil membebaskan Thalib, pengusaha berusia 78 tahun, dari sebuah rumah di Cilodong, Kota Depok. Thalib diculik seusai salat Isya pada Selasa, 15 April 2015, di rumahnya di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ketika itu ada lima orang yang mencari Kemal Rafli, tapi tidak ada sehingga mereka memaksa Thalib masuk ke dalam mobil. Penculik meminta tebusan Rp 400 juta kepada keluarga korban dan mengirim foto yang memotret wajah Thalib yang lebam dengan tubuh terikat.

Zaki mengaku telah mengirim Rp 25 juta ke rekening atas nama Arifin Ilham. Namun, berdasarkan keterangan polisi, kata Zaki, alamat yang tertera dalam rekening tersebut palsu. Selain itu, nama aslinya bukan Arifin Ilham, melainkan Zaenal Arifin. “Dia sudah tidak tinggal di rumah itu. Katanya dia punya tujuh KTP palsu.” Menurut Ridho, Kemal alias Abda diculik diduga karena terlilit persoalan utang dengan sejumlah orang. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Desember 2004 memvonis Kemal atas kasus penipuan dan penggelapan senilai Rp 20 miliar.

Dalam dakwaan jaksa, Kemal mengelabui 26 orang dengan uang yang ditarik berkisar Rp 100 juta sampai miliaran rupiah. Kabarnya, setelah bebas, dia kembali melakukan penipuan. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto menjelaskan penculikan terhadap Kemal Rafli tahun lalu tidak dilaporkan kepada polisi. Pelaku, katanya, berhasil mendapat Rp 2 miliar dari persoalan utang-piutang yang dipersengketakan.

Heru mengatakan, kemungkinan pelaku menggunakan metode yang sama dalam penculikan kali ini dengan harapan bisa mendapat pertanggungjawaban dari Kemal. “Makanya pelaku sempat minta uang Rp 400 juta,” ujarnya. Keluarga korban tidak sempat mengirimkan uang sebanyak itu karena terbentur hari libur. “Keluarga cuma mengirim Rp 25 juta dalam dua kali transfer,” kata Heru uang tersebut dikirim ke sebuah rekening Bank Mandiri. Belakangan diketahui identitas rekening itu palsu.

Penculikan terhadap Thalib Abbas, pengusaha berusia 70 tahun, ternyata terkait dengan utang-piutang. Komplotan itu hendak menagih utang kepada anak Thalib sebesar Rp 9,8 miliar.Namun, saat datang ke rumah Thalib di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Selasa, 15 April 2015, sang anak tak berada di rumah. Sehingga penculik membawa Thalib Abbas dan menyekapnya. Penculik mengirim surat meminta tebusan Rp 400 juta kepada keluarga Thalib Abbas.

Pada Senin, 20 April 2015, polisi dari Polda Metro Jaya membebaskan Thalib. Polisi menangkap enam dari delapan tersangka penculik. Ada dua pelaku yang jadi anggota TNI Angkatan Darat, yang masih buron. “Kami kerja sama dengan Polisi Militer (POM),” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto.

Menurut Heru, tiga tersangka diamankan di tempat penyekapan di Kota Depok (bukan di Bogor, seperti berita sebelumnya). Mereka adalah DDQ, S, dan THM. Di sini, Thalib ditemukan dalam kamar dengan tubuh terikat. Tiga tersangka lainnya diamankan di tempat terpisah. Mereka adalah MAM, di tangkap di kompleks IPB Darmaga, S alias J di perumahan Monalisa Grand Depok, dan ED di Kampung Sangiang, Pandeglang.

Penculikan terhadap Thalib Abbas, pengusaha berusia 70 tahun, ternyata terkait dengan utang-piutang. Komplotan itu hendak menagih utang kepada anak Thalib sebesar Rp 9,8 miliar. Namun, saat datang ke rumah Thalib di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Selasa, 15 April 2015, sang anak tak berada di rumah. Sehingga penculik membawa Thalib Abbas dan menyekapnya. Penculik mengirim surat meminta tebusan Rp 400 juta kepada keluarga Thalib Abbas.

Pada Senin, 20 April 2015, polisi dari Polda Metro Jaya membebaskan Thalib. Polisi menangkap enam dari delapan tersangka penculik. Ada dua pelaku yang jadi anggota TNI Angkatan Darat, yang masih buron. “Kami kerja sama dengan Polisi Militer (POM),” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto.

Menurut Heru, tiga tersangka diamankan di tempat penyekapan di Kota Depok (bukan di Bogor, seperti berita sebelumnya). Mereka adalah DDQ, S, dan THM. Di sini, Thalib ditemukan dalam kamar dengan tubuh terikat. Tiga tersangka lainnya diamankan di tempat terpisah. Mereka adalah MAM, di tangkap di kompleks IPB Darmaga, S alias J di perumahan Monalisa Grand Depok, dan ED di Kampung Sangiang, Pandeglang.

Polisi menangkap penculik Thalib Abbas, pengusaha berusia 70 tahun. “Mereka ditangkap di tempat penyekapan di Bogor,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto, Senin siang, 20 April 2015. Di lokasi itu, polisi berhasil menyelamatkan korban dalam keadaan sehat. Namun Thalib harus dituntun ketika berjalan. Dari foto yang dikirimkan penculik kemarin kepada keluarga korban, Thalib babak belur dianiaya pelaku.

Ada tiga penculik yang ditangkap polisi. Masih dua pelaku lagi yang belum tertangkap. Ketika penculikan dilakukan di rumah Thalib di Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa pekan lalu, ada lima penculik yang datang. Mereka datang dengan menyamar sebagai tamu. Para pelaku sempat meminta tebusan hingga Rp 400 juta kepada keluarga korban. Karena takut, keluarga memberikan uang Rp 5 juta. Keluarga sempat menerima foto korban dalam kondisi terikat dan lebam-lebam.

Pengusaha Thalib Abbas, 70 tahun, yang menjadi korban penculikan, dikenal sebagai orang yang ramah. Dia juga rajin untuk salat subuh di Masjid Nurul Islam yang berada di dekat kediamannya, perumahan De’Hill Nomor B-10, Jalan Camat Gabun II, RT4 RW 8, Kelurahan Lengteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

“Orangnya baik, jarang keluar dengan kendaraan sendiri. Dia lebih suka pakai ojek,” kata Ketua RT 4 RW 8, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Sapri, Senin, 20 April 2015. Sugiman, satpam perumahan De’Hill, mengatakan sejak dua tahun lalu Abah-sapaan Thalib Abbas-tinggal di perumahan itu. Abah sering didatangi tamu sehingga satpam jarang memeriksa identitas tamu-tamu Abah itu.

Pada 15 April lalu, ada satu mobil Toyota Avanza mencari Abah. Saat itu satpam yang bertugas adalah Husin, rekan Sugiman. Husin tidak memiliki kecurigaan apa pun dan membiarkan tamu itu masuk. “Besoknya baru tahu kalau Abah diculik,” kata Sugiman. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Heru Pranoto mengatakan, pelaku mengirimkan foto Thalib dalam kondisi babak belur kepada keluarga. Selanjutnya pelaku meminta uang tebusan sebesar Rp 400 juta.

Menurut penyidik, saat ini korban sudah ditemukan di Bogor dalam kondisi selamat. Ada enam orang ditangkap yang diduga sebagai pelaku penculikan. Heru membenarkan hal itu tapi belum bersedia memberikan keterangan rinci.