Batu Akik Kristal Ungu Seberat 350 kg Ditemukan Di Prambanan


160224_kkristal akik unguDi balik penemuan batu ungu bertekstur kristal di Prambanan‎ menyimpan cerita tersendiri. Percaya atau tidak, penemunya Juwanto (29) dan Sayono (38) mengalami hal-hal di luar logika saat menemukan batu tersebut. “Kemarin Sabtu (30/6), saya mencari rumput siang-siang. Tapi kok ada burung muter-muter terus di atas batu ini, burungnya burung papasan,” ujar Juwanto. Hal ini disampaikan ‎Juwanto saat ditemui di rumahnya di Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015).

“Burung itu seperti kasih petunjuk,” imbuhnya. Sedangkan sang kakak Sayono mengaku setelah mendengar temuan adiknya, dia tak bisa tidur. Hingga besok paginya dia memutuskan untuk mengambil batu itu dengan cara mencongkelnya dengan linggis. Saat menggali bagian batu yang tertanam di dalam tanah, Sayono mengaku tak mendapat kesulitan. Bahkan saat mencongkel batu dengan linggis, batu itu terbelah sendiri sehingga dia bisa melihat bagian dalam batu yang bertekstur kristal yang indah.

“Saya sampai bengong,” imbuhnya.

Tak selesai sampai di situ, saat Sayono, Juwanto dan dua orang kerabat lainnya memindahkan batu itu ke dalam mobil, ada rintangan yang seolah menghalanginya. Rintangan itu adalah 2 ekor ular yang muncul bergantian melintang menghalangi jalan mereka. Ular sebesar lengan orang dewasa, menurut cerita Sayono melintang di tengah jalan.

“Saya cuma bilang saya nggak ganggu, lalu ular-ular itu pergi sendiri,” kata Sayono. Seorang warga Prambanan, Sleman, menemukan sebongkah batu berwarna ungu di tengah hutan. Batu yang berdiameter sekitar 70 cm ini memiliki berat 3,5 kuintal dan bertekstur kristal. Juwanto (29) adalah si penemu batu yang kini sudah terbelah menjadi dua itu. Ia mengisahkan, awalnya menemukan batu itu dari sekumpulan burung yang terbang di atas batu tersebut.

‎”Kemarin Sabtu (30/6), saya mencari rumput siang-siang. Tapi kok ada burung muter-muter terus di atas batu ini, burungnya burung papasan,” ujar Juwanto (29). Hal ini dikatakan Juwanto saat ditemui di rumahnya di ‎Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). ‎Batu itu terletak di pinggir saluran air. Letaknya berada di Dusun Lemah Abang, Desa Gambir Sawit‎, Kecamatan Prambanan, Sleman. “Satu setengah kilometer dari sini,” imbuhnya.

Juwanto kemudian memanggil kakaknya Sayono (38), meminta bantuan untuk mengangkat batu tersebut. Namun, mereka baru kembali ke lokasi batu itu pada keesokan harinya, Minggu (31/5). Mereka mencongkel batu yang sebagian tampak di permukaan tanah menggunakan linggis. Namun ternyata batu itu berukuran besar yakni lebarnya 70 cm dan tingginya 80 cm. Permukaan luar batu tersebut berwarna cokelat kekuningan. Menurut informasi, sudah ada beberapa warga yang berusaha memecah batu itu untuk akik namun tak ada yang berhasil mencongkelnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sayono bercerita akhirnya butuh empat orang untuk mengangkat‎ batu tersebut. “Tapi begitu dicongkel-congkel, batu itu terbelah. Terlihat dalamnya seperti kristal warnanya ungu. Saya sampai bengong,” tutur Sayono. Belahan batu tersebut dipisahkan oleh untaian akar pohon Sono. ‎Bagian dalam yang bertekstur kristal juga diendapi tanah. “Dari jam 06.30 WIB, baru bisa sampai rumah jam 11.00 WIB,” katanya. Kedua pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh bangunan itu telah meminta izin kepada si pemilik tanah untuk memiliki batu tersebut. Juwanto mengatakan si pemilik tanah, Minto pun mengikhlaskannya.

‎”Katanya (Mbah Minto), itu sudah pulung (rezeki) yang menemukan,” kata Sayono. Mereka juga telah melaporkan temuannya ini kepada aparat desa. “Babinsa juga sudah ke sini. Tapi katanya tidak ada masalah,” imbuhnya.
Dua orang warga Prambanan, Sleman menemukan sebongkah batu bertekstur kristal berwarna ungu. Merasa penemuannya ini tak ‘sembarangan’, Sayono (38) dan Juwanto (29) tak berniat menjualnya. “Saya nggak tahu berapa ya harganya. Tapi saya nggak berpikir ke sana. Kalau orang Jawa mikirnya ke depan kalau dijual nanti bagaimana,” ujar Sayono.

Hal ini disampaikan Sayono saat dikunjungi di rumahnya di Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). Dia mengaku khawatir jika nanti dia menjual batu itu, justru akan menimbulkan hal tak baik pada dirinya. Apalagi Suyono maupun Juwanto merasa tak hobi terhadap batu akik. Dia tak mengerti harga batu-batuan di pasaran. “Kalau orang bilang Rp 50 juta, Rp 10 juta, saya nggak ngerti,” katanya. “Ini kan bukan sembarangan menemukan. Kata orang, mau nyari kalau nggak pulung (rejeki) ya nggak akan ketemu,” ujar Sayono.

‎Ditambah lagi, menurut Sayono batu itu sebenarnya sudah berulang kali akan dicongkel warga namun tak ada yang berhasil. Bekas congkelan-congkelan di permukaan batu masih terlihat. “Pas saya congkel, malah terbelah sendiri lalu keliatan dalamnya seperti durian (berduri-duri tajam),” kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh bangunan ini. enemuan bongkahan batu ungu bertekstur kristal‎ ditemukan di Prambanan, Sleman. Kabar ini mulai menyebar, warga pun berdatangan.

“Sudah banyak yang datang, nanya harga tapi saya bilang tidak tahu,” kata Sayono (38). Hal ini disampaikan Sayono di rumahnya di‎ Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). ‎Tak hanya itu, pihak Babinsa daerah itu juga telah menyambangi batu itu. Babinsa Desa Gayamharjo datang atas laporan Sayono setelah menemukan batu itu. Dia menanyakan status batu temuannya itu.

“Ada penjual emas yang sudah ke sini juga. Katanya ini kristalnya kalau digosok bisa pecah,” kata Sayono. “Tadi dari Dinas Kehutanan Sleman tanya kalau pemerintah ‎mau ambil ini gimana, sama saya nggak bisa,” imbuhnya. Sayono menyebut batu itu seberat 3,5 kuintal atau 350 kg.

Bongkahan batu yang kini terbelah dua ini ditemukan adik Sayono, Juwanto (29) pada Sabtu (30/5). Namun keduanya baru mengambil batu yang terletak di pinggir saluran pengairan di tengah hutan Dusun Lemah Abang ini pada keesokan harinya. Sebongkah batu ungu seberat 350 kg bertekstur kristal ditemukan di Prambanan, Sleman. Penemu batu tersebut Sayono (38) dan Juwanto (29) mempersilakan batu itu untuk diteliti. Namun ada syaratnya, apa?

“Boleh silakan diteliti, tapi menelitinya di rumah saja. Jangan dibawa ke mana-mana,” ujar Sayono. Hal ini dikatakan Juwanto saat ditemui di rumahnya di ‎Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). Sayono bersikukuh tak mau batu itu dibawa keluar rumahnya karena merasa penemuannya ini adalah berkah. Menurutnya, tak sembarangan orang bisa memiliki atau menyimpannya.

“Ini kan bukan sembarangan menemukan. Kata orang, mau nyari kalau nggak pulung (rejeki) ya nggak akan ketemu,” katanya. ‎Sayono juga dengan tegas menyatakan bahwa batu itu tidak akan diberikan kepada pemerintah, meski diminta. “Tadi dari Dinas Kehutanan Sleman tanya kalau pemerintah ‎mau ambil ini gimana, sama saya nggak bisa,” ujar Sayono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s