Kisah Hidup Psikopat Reno Yang Gemar Membunuh Sampai Akhirnya Dihukum Mati Hakim


Inilah jalan Reno (32) pembunuh berdarah dingin dari Sumatera Selatan (Sumsel). Ia pernah membunuh dan dimaafkan, lalu membunuh lagi dan dibui 10 tahun tetapi hanya menjalani 5 tahun penjara. Selepas bebas, ia kembali membunuh dan akhirnya divonis mati. Berikut jalan hidup Reno sebagaimana dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Senin (8/6/2015):

1982
Reno lahir di Desa Sungai Ceper, Ogan Kumilir Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel)

Awal 2000
Reno membunuh korban bernama Nap. Kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan walaupun pembunuhan deliknya pidana dan bukan pengaduan. Entah mengapa pihak kepolisian membiarkan kasus ini.

2008
Reno membunuh Nen. Reno dihukum 10 tahun penjara.

November 2013
Reno bebas dari penjara

22 September 2014
Reno kembali membunuh dan kali ini korbannya adalah istrinya yang sedang hamil 8 bulan. Reno menghabisi istrinya di sebuah kebun kosong di Dusun Bebah Permata Desa Sungai Menang, Ogan Komering Ilir, karena cemburu. Dia menuduh istrinya selingkuh, tuduhan yang hanya isapan jempol belaka

11 Februari 2015
Reno menjalani sidang perdana di PN Kayuagung.

21 April 2015
Jaksa belum siap dengan tuntutan, sidang ditunda.

28 April 2015
Jaksa belum siap dengan tuntutan, sidang ditunda.

5 Mei 2015
Jaksa belum siap dengan tuntutan, sidang ditunda.

12 Mei 2015
Jaksa belum siap dengan tuntutan, sidang ditunda.

19 Mei 2015
Jaksa belum siap dengan tuntutan, sidang ditunda.

20 Mei 2015
Jaksa menuntut Reno dihukum penjara seumur hidup

25 Mei 2015
Ketu majelis hakim Sobandi bersama anggota majelis Iman Budi Putra Noor dan Firman Jaya menjatuhkan hukuman mati bagi Reno.

Pembunuh berdarah dingin, Reno (32) akhirnya divonis mati karena membunuh istrinya, Masri. Padahal, ia baru setahun keluar bui menjalani hukuman 10 tahun penjara karena kasus pembunuhan.

Reno menyembelih istrinya di sebuah kebun kosong di Dusun Bebah Permata Desa Sungai Menang, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) pada 24 September 2014.

“Bahwa benar, sebelum kejadian ini terdakwa baru keluar dari penjara pada bulan November 2013 atas perkara pembunuhan terhadap korban yang bernama Nen pada 2008 dan dihukum 10 tahun penjara,” ujar majelis Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, sebagaimana tertuang dalam putusan yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Senin (8/6/2015).

Tidak hanya itu, sebelum membunuh Nen, Reno juga pernah membunuh warga setempat yang bernama Nap. Akan tetapi kasus ini tidak dilanjutkan ke meja hijau. “Karena pihak keluarga terdakwa dan korban dapat menyelesaikan secara kekeluargaan,” ujar majelis yang diketuai Sobandi bersama anggota majelis Iman Budi Putra Noor dan Firman Jaya.

Setelah kembali membunuh untuk ketiga kalinya, Reno akhirnya dihukum mati. Hukuman ini di atas tuntutan jaksa yang menuntut Reni dipenjara seumur hidup. “Perbuatan itu sangat tidak manusiawi karena dilakukan dalam keadaan istrinya sedang hamil tua. Terdakwa tidak tampak menyesali perbuatannya yaitu terus menyangkal dan berbelit-belit memberikan keterangannya,” putus majelis pada 25 Mei lalu.

Dengan sadis dan biadab, Reno (32) menghabisi nyawa istrinya, Misra yang sedang hamil 8 bulan. Ini merupakan pembunuhan untuk ketiga kalinya yang dilakukan Reno. Atas perbuatannya, Reno dihukum mati!Reno membunuh istrinya di sebuah kebun kosong di Dusun Bebah Permata Desa Sungai Menang, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) pada 24 September 2014. Penyebabnya, Reno cemburu menuduh istrinya selingkuh. Tuduhan yang hanya isapan jempol belaka.

Sebelum membunuh dengan sebilah pisau bermata dua, Reno memukul Misra hingga terjungkal. Ia menghabisi istrinya hingga lehernya nyaris putus.Setelah itu ia kabur. Tidak berapa lama, polisi menangkap Reno dan menghadirkan ke pengadilan. Jaksa lalu meminta Reno dihukum penjara seumur hidup. Tapi majelis berkeyakinan lain.”Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Reno Bin Nuri dengan pidana mati,” putus majelis Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, sebagaimana tertuang dalam putusan yang dilansir website Mahkamah Agung (MA), Senin (8/6/2015).

Duduk sebagai ketua majelis Sobandi bersama anggota majelis Iman Budi Putra Noor dan Firman Jaya. Mereka berkeyakinan Reno layak dihukum mati karena perbuatan itu dilakukan dengan sengaja dan direncanakan kepada istrinya sendiri. Perbuatan itu sangat tidak manusiawi karena dilakukan dalam keadaan istrinya sedang hamil tua. Apalagi, Reno pernah dipenjara karena membunuh dua orang yaitu Nap dan Nen.”Terdakwa tidak tampak menyesali perbuatannya yaitu terus menyangkal dan berbelit-belit memberikan keterangannya,” putus majelis pada 24 Mei lalu.

Adapun alasan yang meringankan tidak ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s