KRL Anjlok Di Perlintasan Bekas Tabrakan Maut Bintaro


Kereta rel listrik dengan nomor 1944 anjlok di dekat perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, pada Selasa siang, 16 Juni 2015, sekitar pukul 11.03. Satu gerbong dari kereta itu keluar jalur. Kereta pun terhenti di dekat perlintasan Pondok Betung atau antara Stasiun Kebayoran dan Stasiun Pondok Ranji. Salah seorang warga yang berada di dekat lokasi, Dono, 57 tahun, mengatakan sempat kaget dengan suara keras ketika kereta tersebut anjlok. “Ada suara keras. Saya kira kecelakaan kereta lagi seperti waktu itu,” ucapnya di lokasi, Selasa, 15 Juni 2015.

Setelah keluar rumah, dia melihat ada kereta yang anjlok di gerbong bagian depannya. “Keretanya anjlok yang ke arah Serpong,” ucapnya. Dono berujar, penumpang di dalamnya sempat panik saat kejadian itu terjadi. Namun, menurut dia, tak ada yang terluka. “Enggak ada korban, cuma keretanya anjlok ke luar,” tuturnya. Lokasi anjloknya KRL itu berdekatan dengan tempat terjadinya kecelakaan antara KRL dan mobil tangki Pertamina, tepatnya di perlintasan Pondok Betung, pada 2013. Kecelakaan itu membekas di ingatan warga sekitar, sehingga Dono dan beberapa warga sempat kaget.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko yang ikut memantau evakuasi kereta dan perjalanan kereta mengatakan KAI masih menyelidiki penyebab anjloknya gerbong kereta ini. “Belum kami ketahui penyebabnya, sedang diselidiki,” ucapnya. Direktur Operasional PT KCJ Dwiyana berujar, perjalanan KRL sempat terganggu selama empat jam. “Ada 13 perjalanan yang terganggu,” tuturnya. Namun, sekitar pukul 15.11 WIB, kereta berhasil dievakuasi. Jalur pun kembali bisa dilalui. Dwiyana mengatakan kereta yang lewat harus melalui bekas anjlok tersebut dengan kecepatan 5 kilometer per jam. “Setelah itu, perlahan menambah kecepatan,” ujarnya.

Kereta rel listrik dengan nomor 1944 anjlok di dekat perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, Selasa siang, 16 Juni 2015, pukul 11.03. Satu gerbong dari kereta itu keluar jalur. Kereta pun terhenti di dekat perlintasan Pondok Betung atau antara Stasiun Kebayoran dan Stasiun Pondok Ranji.

Lokasi anjloknya KRL itu berdekatan dengan tempat terjadinya kecelakaan antara KRL dan mobil tangki Pertamina, tepatnya di perlintasan Pondok Betung, pada 2013.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Hermanto Dwiatmoko yang ikut memantau evakuasi kereta dan perjalanan kereta mengatakan KAI masih menyelidiki penyebab anjloknya kereta ini. “Belum kami ketahui penyebabnya. Sedang diselidiki,” ujarnya di lokasi anjloknya kereta, Selasa, 16 Juni 2015.

Sebagai tindakan pencegahan, Herman meminta KAI untuk memberi perhatian kepada jalur ini. “Sebab di sini ada tikungan sebelum perlintasan,” kata dia. Dia mengatakan kondisi perlintasan seperti itu cukup rawan. “Di tempat tertentu ada lokasi rawannya.”

Karenanya, KAI harus selalu memastikan sarana dan prasarana di lokasi ini harus dalam kondisi baik. “Perawatannya harus yang benar. Pemeriksaannya juga harus rutin,” kata dia. Apalagi, kata dia, jalur ini adalah jalur kelas I di mana lalu lintas KA cukup padat. “KAI masih melakukan pengecekan.”

Salah seorang warga yang berada di dekat lokasi, Dono, 57 tahun, mengaku dengan terkejut suara keras ketika kereta tersebut anjlok. “Ada suara keras. Saya kira kecelakaan kereta lagi seperti waktu itu,” kata dia di lokasi, Selasa, 15 Juni 2015.

Setelah dia melihat keluar rumahnya, ternyata ada kereta yang anjlok di gerbong bagian depannya. Dono mengatakan, penumpang di dalamnya sempat panik saat kejadian itu terjadi. Namun, menurut dia, tak ada yang terluka. Tragedi Bintaro pada 2014 itu membekas di ingatan warga sekitar sehingga Dono dan beberapa warga sempat terkejut mendengar suara keras kereta.ereta rel listrik dengan nomor 1944 anjlok di dekat perlintasan Pondok Betung, Bintaro, Jakarta Selatan, Selasa siang, 16 Juni 2015, pukul 11.03. Satu gerbong dari kereta itu keluar jalur. Kereta pun terhenti di dekat perlintasan Pondok Betung atau antara Stasiun Kebayoran dan Stasiun Pondok Ranji.

Lokasi anjloknya KRL itu berdekatan dengan tempat terjadinya kecelakaan antara KRL dan mobil tangki Pertamina, tepatnya di perlintasan Pondok Betung, pada 2013. Salah seorang warga setempat Dono, 58 tahun, masih mengingat kejadian yang menewaskan 10 orang itu. “Makanya waktu ada kejadian ini saya sempat kaget,” kata dia, Selasa, 16 Juni 2015. Dia sempat mengira terjadi kecelakaan seperti hari nahas 9 Desember 2013. “Ternyata hanya kereta anjlok,” kata dia. Para penumpang, menurut dia, sempat panik karena roda kereta keluar. “Tapi tak ada yang luka.”

Dono pun kembali mengingat cerita-cerita di luar nalar yang sudah sering terdengar sejak tragedi Bintaro pertama pada 1987. “Memang ada cerita seperti itu,” kata dia. Cerita yang sering terdengar adalah ada pengojek atau sopir yang membawa penumpang kemudian penumpangnya hilang. “Pas nengok tahu-tahu sudah tak ada,” kata dia. Cerita lainnya pun pernah dia dengar adalah orang-orang yang nongkrong di dekat rel diganggu oleh sosok tak terlihat. “Tapi saya belum pernah mengalami.”

Namun, Dono enggan mengaitkan kejadian di luar logika itu dengan kecelakaan yang beberapa kali terjadi di lokasi ini. “Kecelakaan itu kan banyak faktor. Mungkin memang ada yang salah,” katanya. Juru bicara PT KAI Commuter Jabotabek KCJ Eva Chairunissa mengatakan pihaknya sudah selesai melakukan proses evakuasi KA dengan nomor 1994 yang mengalami anjlok di antara Stasiun Kebayoran-Pondok Ranji, Selasa, 16 Juni 2015. KRL yang mengalami anjlok telah ditarik menuju dipo Bukit Duri.

“Dua jalur lintas Tanah Abang-Maja/Parung Panjang dan sebaliknya sudah dapat digunakan kembali untuk operasional KRL,” kata Eva dalam pesan pendeknya, Selasa, 16 Juni 2015. Eva menjelaskan meskipun dua jalur sudah dapat beroperasi, perjalanan KRL masih akan mengalami antrean selama satu hingga dua jam mendatang. Waktu tempuh juga bakal lebih lama. “Pengguna jasa dapat menggunakan moda transportasi lain,” Eva berujar. Eva, mengatasnamakan PT KCJ, menyampaikan permohonan maafnya atas gangguan perjalanan tersebut.

Adapun KRL dengan tujuan Parung Panjang tersebut anjlok di kilometer 17 Selasa siang pukul 11.00. Kereta terhenti di sekitar kawasan Pondok Betung, antara Stasiun Palmerah dengan Stasiun Pondok Ranji, Jakarta Selatan. Akibatnya, perjalanan KRL yang lain terhambat. KRL tetap beroperasi, tetapi menggunakan satu jalur saja secara bergantian. Tak hanya itu, dampaknya perjalanan kereta mengalami keterlambatan waktu berangkat dan tiba. Tidak ada korban dalam insiden tersebut. Seluruh penumpang telah dievakuasi menggunakan kereta pengganti menuju Stasiun Pondok Ranji sekitar pukul 11.30 WIB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s