Waduk Jatigede Siap Digenangi Air


Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat akan segera dialiri air pada 1 Agustus mendatang. Seiring dengan hampir selesainya proses ganti rugi terhadap lahan warga di area waduk tersebut. Di samping itu, sekarang juga tengah dilakukan pemotongan 800.000 pohon, sekaligus pembersihan. Dengan tujuan tidak lagi ada pohon yang membusuk bila terkena air nantinya. “Kalau kayu itu terkena air, begitu busuk kan menghasilkan gas methana. Itu menghasilkan efek gas rumah kaca. Makanya harus ditebang,” ungkap Mudjiadi, Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)

Beberapa pohon di antaranya adalah jati, mahoni dan pinus. Mudjiadi menuturkan proses ini tengah berlangsung dan akan selesai dalam waktu dekat. Sementara akar, tonggak dan sampah tebangan pohon, semuanya ditimbun di dalam tanah. “Pokoknya sebelum digenangi, masalah ini selesai,” sebutnya.Kemudian, satwa langka yang tadinya berada di dalam area waduk Jatigede sudah diselamatkan. Pengusiran satwa dilakukan oleh BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam) dan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kab. Sumedang.

Ancaman-Bahaya-Waduk-Jatigedes

“Satwa itu sudah diusirkan, dihalau supaya keluar dari waduk. Itu sudah dilakukan,” terang Mudjiadi. Disamping itu, pemerintah juga menjalankan program reboisasi, khususnya di bagian hulu Cimanuk. Karena daerah tersebut sudah gundul dan sulit menyerap air dengan kapasitas besar. “Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup sudah punya program reboisasi. Tapi kita pastikan untuk sedimentasi tidak akan 0. Ini sudah diperhitungkan volume dan periode berapa tahun,” paparnya.Isu penolakan pembangunan waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat marak diperbincangkan di media sosial. Bahkan ada sebuah infografis yang memaparkan cukup rinci terkait risiko gempa serta kerusakan sejarah dan budaya dari pembangunan waduk.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi menjelaskan pembangunan waduk sudah melalui proses studi kelayakan (feasibility study) yang sangat panjang dan rinci.Sama seperti pembangunan waduk lainnya, risiko gempa juga menjadi perhatian serius. Bila tidak, maka akan berbahaya untuk masyarakat di sekitarnya.”Waktu perencanaan, semua waduk itu sudah dihitung risikonya terhadap gempa. Bukan Jatigede saja, tapi semuanya. Bangunan tinggi itu juga ada perhitungannya,” ungkapnya

Risiko terjadinya gempa pada waduk Jatigede, kata Mudjiadi memang pasti ada. Namun sudah diminimalisir dengan teknologi serta berbagai perhitungan teknis lainnya. Bahkan dengan kondisi gempa sekian skala richter, antisipasinya telah disiapkan.”Risiko ada, tapi sudah meminimalisir. Jadi dengan gempa sekian skala richter masih bisa bertahan. Bangunan yang didesain tahan terhadap gempa,” jelasnya. Seperti diketahui waduk seluas 5.000 hektar tersebut akan selesai diairi 7 bulan setelah 1 Agustus, atau setara 219 hari proses pengairan. Jatigede merupakan waduk kedua terbesar di Indonesia setelah waduk Jatiluhur.

Waduk tersebut akan bermanfaat untuk mengairi persawahan 90.000 hektar, ketersediaan air bersih, dan PLTA 110 megawatt. Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat bakal segera diisi air dua bulan mendatang atau mulai 1 Agustus 2015. Ada empat fungsi utama waduk terbesar kedua di Indonesia ini bila telah beroperasi penuh. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung, Trisasongko Widiyanto mengatakan waduk seluas 5.000 hektar tersebut akan selesai diairi 7 bulan setelah 1 Agustus, atau setara 219 hari proses pengairan.

Ada manfaat utama dari ‎keberadaan waduk terbesar ke-2 di Indonesia, setelah Jatiluhur ini. Pria yang akrab disapa Widy ini mengatakan yang manfaat pertama adanya waduk Jatigede bisa mengairi persawahan hingga 90.000 hektar. “In take irigasinya 90.000 hektar dari sini. Bisa ke Majalengka,” kata Widy di Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat, Jumat (26/6/2015). Kedua, waduk berkapasitas hampir 1 miliar meter kubik ini juga bisa dijadikan sumber air baku dengan kecepatan 3,5 kubik per detik. Air baku ini bisa digunakan untuk kepentingan wilayah di Sumedang, Majalengkan, hingga ke Cirebon. “Termasuk Bandara Kertajati nanti pasokan air baku-nya dari sini,” tuturnya.

Ketiga, waduk Jatigede bisa menjadi sumber tenaga bagi PLTA dengan kapasitas hingga 110 megawatt (MW). “Keempat adalah bisa mencegah banjir di 14 ribu hektar kawasan di daerah sini. Air banjir itu yang biasanya bablas akan tertahan di waduk ini,” tutup Widy. Ada fenomena ‘rumah hantu’ yang mencapai ribuan unit di lahan proyek Waduk Jatigede di Sumedang, Jawa Barat. Rumah-rumah ini tak berpenghuni, lokasinya di wilayah yang akan digenangi air.

‎’Rumah-rumah hantu’ tersebut dibangun oleh warga sekitar agar dapat kompensasi atau uang santunan saat bangunannya akan digusur pemerintah untuk pembangunan waduk. ‎Sebagian rumah ada yang berukuran tak begitu besar, hanya pondasi kayu ditutupi dinding, kebanyakan terbuat dari bambu dan beratapkan genting. Namun di dalamnya tak ada ruangan apapun, kamar mandi ataupun kamar tidur, semuanya lowong. Menurut pihak Kementerian Pekerjaan Umum, masyarakat sengaja membangun rumah tersebut agar bisa mengklaim ganti rugi saat digusur.

Saat menelusuri keberadaan rumah hantu tersebut, Jumat (26/6/2015), beberapa ‘rumah hantu’ sudah diratakan dengan tanah. Ada beberapa yang masih berdiri kokoh khususnya yang berlokasi kecamatan Jatigede, tak jauh dari dasar cekungan kawasan bendungan. Bahkan ada beberapa di antaranya yang niat mengecat ‘rumah hantu’ tersebut, agar terlihat seperti asli. Namun, jangankan ditinggali, aliran listrik pun sama sekali tak ada di rumah tersebut. Semuanya berdiri di tengah-tengah semak belukar, benar-benar seperti rumah hantu.

Kepala Balai Besar wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung, Trisasongko Widianto mengatakan, ada sekitar 11.000 rumah hantu yang harus dibereskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum.”Ada banyak rumah hantu juga di area genangan, disebutnya rumah hantu,” tutur Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Mudjiadi di lokasi.Mulai hari ini, sebanyak 2.000 kepala keluarga (KK) dari 11.000 lebih KK di wilayah Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat diberikan santunan. Sebanyak 1.000 lebih KK diberikan santunan Rp 122 juta, dan sisanya diberikan Rp 29 juta/KK. Apa tanggapan warga?

Santunan ini diberikan, agar warga mau pindah dari kawasan waduk, sehingga waduk bisa diisi oleh air.Idi, seorang warga desa Ciraung, Kecamatan Jatinunggal mendapatkan santunan Rp 122 juta. “Saya sedang diberikan Rp 122 juta ini,” kata Idi saat pemberian santunan di SMPN 1 Jatigede, Sumedang, Jumat (26/6/2015).Bapak yang berprofesi sebagai buruh bangunan ini bercerita, dirinya tinggal di kawasan waduk sejak 1984. Pada 1987, dia pernah disuruh pindah namun tidak mau karena belum mendapatkan kompensasi yang pantas.

“Dulu dijanjikan uang untuk relokasi, tapi baru dibayarkan sekarang. Dulu saya dapatnya Rp 7.000 per tumbak. Sekarang akhirnya dapat segini. Ini buat tambah biaya-biaya sekolah anak. Saya punya 4 anak. Saya juga mau beli tanah untuk modal usaha,” jelas idi.Tumbak biasa digunakan sebagai media alat ukur pengukuran tanah secara tradisional. Biasanya 1 tumbak sama dengan 14 meter persegi.

Dia berharap, waduk ini bisa dijadikan tempat wisata, dan juga sarana pengairan sawah agar masyarakat bisa berusaha. “Saya tidak bisa menolak, saya ikut senang saja,” ujar idi. Sementara Dewi, warga lainnya mengatakan, dulu dirinya hanya mendapatkan uang ganti rugi Rp 8 juta untuk 1 hektar sawah dan 3 rumah. Dia senang mendapatkan santunan Rp 122 juta ini. “Dulu dapat Rp 8 juta mengorbankan 1 hektar sawah, 3 rumah. Tapi saya tidak dikasih uang untuk relokasi, jadi biaya bangunannya. Sekarang dapat Rp 122 juta untuk 6 bulan. Ada juga uang relokasi yang tidak dibayar. Ini untuk keperluan sehari-hari. Dicukup-cukupi lah, diambil barokahnya saja,” kata Dewi.

Ada juga warga yang diberikan santunan Rp 29 juta. Salah satunya Ajun, yang mendapatkan Rp 29 juta, karena neneknya sudah mendapatkan Rp 122 juta untuk santunan relokasi. Santunan sebesar itu diberikan kepada keluarga yang punya pecahan keluarga baru dari keluarga intinya.”Nenek saya Rp 122 juta tapi saya tidak dapat, karena saya pecahan KK. Saya memang bukan warga situ. Sekarang dapat santunan Rp 29 juta. Saya inginnya dapat seperti nenek saya. Tapi kalau sudah begini diterima saja. Harapannya biar bisa berkah,” ujar Ajun.

Setelah menunggu waktu yang cukup panjang, akhirnya Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat siap digenangi air pada 1 Agustus 2015. Waduk ini nantinya merupakan waduk kedua terbesar di Indonesia, setelah Jatiluhur. Akan tetapi menjelang operasional tersebut, menangkap isu penolakan di media sosial. Salah satunya, infografis mengenai ancaman bahaya serta kerusakan sejarah dan budaya dari pembangunan waduk.

Infografis tersebut memaparkan sekilas gambar dari waduk yang sudah digenangi air. Tertulis kutipan dari Dosen Geologi Unpad, Emi Sukiyah yang menyebutkan infrastruktur sebesar waduk jatigede tidak seharusnya dibangun di sana, lempeng tektonik aktif dan episentrum gempa, membahayakan.Kemudian diceritakan ada beberapa risiko bahaya. Seperti gempa yang dimungkinkan terjadi sebesar 8 SR dan ada lempeng tektonik aktif yang merupakan patahan aktif baribis.

Kondisi hulu cimanuk gundul membuat debit air berkurang 40%. Ada pedangkalan waduk yang membuat sedimentasi 16 juta ton/tahun, erosi tanah serta dampak ke kawasan di sekitar waduk. Di samping itu terkait dengan aspek kerusakan sejarah dan budaya yang ditimbulkan. Setidaknya 33 situs cagar budaya, ratusan rumah adat, 11.00 rumah warga, ribuan hewan ternak dan 31.000 sawah dan kebun subur akan tenggelam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s