Hampir Separuh Sepeda Motor Gede Indonesia Bodong Karena Pemiliknya Tidak Mau Keluar Uang Untuk Buat Surat Surat


Populasi sepeda motor besar (moge) cukup banyak di Indonesia. Sayangnya, dari jumlah yang cukup banyak itu, masih ada pemilik moge yang tidak memiliki kelengkapan surat-surat kendaraan (BPKB dan STNK). Situasi ini sudah menjadi polemik panjang, dan belum bisa terselesaikan hingga saat ini.

Lois Susanto, Wakil Ketua Motor Besar Club Indonesia (MBCI) mengemukakan, setidaknya masih terdapat 40 persen dari total pemilik sepeda motor besar belum memiliki surat-surat. Kenyataan ini juga sebenarnya sudah sejak lama jadi perbincangan. “Sudah sejak tahun 1999 ini dibicarakan, namun terkait dengan biaya yang cukup mahal, maka hal itu tidak dilakukan pemilik moge. Biaya untuk menyuratkan kendaraan ini bisa lebih dari harga belinya,” ucap Lois, Jumat (26/6/2016).

Lois menambahkan, sudah beberapa kali pihak berwenang melalui Korlantas Polri melakukan pemutihan surat. Namun tidak seluruhnya berhasil, terkait dengan kendala biaya yang dianggap masih terlalu besar. “Kami yang selalau proaktif terhadap hal ini, kami sendiri yang mengajukan permohonan untuk bisa menyuratkan kendaraan ini, serta meminta untuk diberikan keringanan melalui pemutihan, namun tetap tidak juga diberikan. Kami sangat ingin tentunya untuk ikut membayar pajak,” ujar pria yang akrab di sapa Aloy.

Alfa yang merupakan pendiri MBC Jakarta mengungkapkan bahwa sempat ada istilah lebih murah membeli motor yang ada suratnya, dibanding membeli sepeda motor bekas kemudian disuratkan. “Siapa juga yang tidak menginginkan kendaraannya bersurat sehingga bisa ikut membayar pajak. Itu merupakan suatu kewajiban, namun biayanya saja yang mungkin bisa dikurangi. Pernah pada tahun 2007 lalu terkumpul sekitar 3.000 motor untuk disuratkan, dan kami meminta biayanya di angka Rp 40 juta saja, namun usulan itu tidak diterima,” ujar Alfa.

Sepeda motor besar (moge) sudah banyak beredar di Indonesia. Sayangnya, masih banyak para pemilik moge yang tidak melengkapi kendaraannya dengan surat-surat resmi baik STNK ataupun BPKB. Seperti dijelaskan Lois Susanto, Wakil Ketua Motor Besar Club Indonesia (MBCI), saat ini hampir separuh atau sekira 40 persen pemilik moge dari total keseluruhan yang ada, tidak memiliki surat-surat. Bahkan, situasi ini sebenarnya sudah sejak lama menjadi perbincangan khusus.

“Sejak tahun 1999 situasi ini dibicarakan. Hanya saja, terkait dengan biaya yang cukup mahal, maka hal itu tidak dilakukan pemilik moge. Biaya untuk menyuratkan kendaraan ini bisa lebih dari harga belinya,” ucap Lois kepada , Jumat (26/6/2016). Beberapa kali pihak berwenang, dalam hal ini Korlantas Polri melakukan pemutihan surat. Namun tidak seluruhnya berhasil, karena biaya penutihan juga dianggap masih terlalu besar.

“Siapa juga yang tidak menginginkan kendaraannya bersurat sehingga bisa ikut membayar pajak. Itu merupakan suatu kewajiban, namun biayanya saja yang mungkin bisa dikurangi. Pernah pada tahun 2007 lalu terkumpul sekitar 3.000 motor untuk disuratkan, dan kami meminta biayanya di angka Rp 40 juta saja, namun usulan itu tidak diterima,” ujar Alfa. MBCI selalu proaktif terhadap hal ini. Beberapa kali MBCI mengajukan permohonan untuk bisa menyuratkan kendaraan, serta meminta untuk diberikan keringanan melalui pemutihan. Sayang, hal tersebut tidak juga dianggap meringankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s