Kronologi Hilangnya Hayriantira Hingga Ditemukan Tewas Tanpa Busana Di Garut


hayriantira_20150805_204009
Dilaporkan hilang, asisten cantik Presdir XL Axiata, Hayriantira (37) ternyata dibunuh kekasihnya Andy Wahyudi. Butuh waktu cukup lama untuk menguak misteri hilangnya Hairyantira atau Rian yang ternyata jadi korban pembunuhan.

– 14 April 2015

Keluarga Hariyantira melaporkan hilangnya Hairyantira atau akrab disapa Rian pada tanggal ini. Tim Unit 1 Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya selanjutnya melakukan penyelidikan dan pencarian terhadap korban. Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan mengatakan selama April-Juli 2015 dilakukan pencarian. Polisi juga mencari teman dekat Rian, Andy Wahyudi (AW) yang bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan di Jatibening, Bekasi.

– 28 Mei 2015
Polisi mengungkap pemalsuan tandatangan terkait kepemilikan mobil Rian oleh Andy. Dari hasil Labfor diketahui, tandatangan untuk mengambil BPKP mobil Honda Mobilio B 1277 EOA milik Rian , di showroom Depok, ternyata dipalsukan Andy. “Diketahui bahwa tandatangan tersebut hasil scanning,” ujar AKBP Herry. AW dalam pengakuan awalnya menyebut Rian memiliki utang sehingga mobil tersebut diberikan kepada AW sebagai pelunasan utang.

– 9 Juli 2015
AW ditangkap di rumahnya di Duren Sawit Jakarta Timur, terkait proses hukum kasus pemalsuan. Selama proses pemeriksaan kasus pemalsuan, AW tidak mengaku membunuh korban. Polisi juga mengamankan mobil milik Rian saat penangkapan.

– Pertengahan Juli
AW baru mengaku membunuh Rian di Hotel Cipaganti di Garut, Jawa Barat yang dilakukan pada tanggal 30 Oktober 2014. AKBP Herry menuturkan, polisi juga mengecek ke Polres Garut untuk mengkonfirmasi penemuan mayat di hotel dan tanggal yang disebutkan AW. “Dan ternyata memang ada,” katanya. AW mengaku membunuh korban dengan cara membekap mulutnya hingga tewas dan setelah itu mayat korban dimasukkan ke dalam bak mandi. Dari CCTV hotel juga terlihat mobil Rian keluar dari hotel menggunakan pelat nomor palsu. “Sejauh ini tersangka mengaku membunuh korban karena persoalan pribadi,” ujar AKBP Herry.

Hayriantira (37) atau Rian ditemukan tewas di sebuah hotel di Garut, Jawa Barat, 31 Oktober 2014 lalu. Identitasnya tidak pernah terlacak sejak itu. Setelah diautopsi, Rian pun dimakamkan di Garut bersama mayat tanpa nama lainnya. Kapolres Garut AKBP Arief Rachman menjelaskan, setelah olah TKP di hotel selesai, jenazah yang kala itu tidak teridentifikasi, dibawa ke rumah sakit di Garut untuk diautopsi. Setelah itu, tak lama kemudian, jenazah dimakamkan di sekitar rumah sakit.

“Sudah dimakamkan. Sesuai SOP di rumah sakit, kita makamkan di pemakaman rumah sakit bersama jenazah yang tidak dikenali lainnya,” terang Arief. Dari keterangan sementara dokter forensik saat itu, Rian diduga tewas karena kehabisan nafas dan kekerasan. Namun Polres Garut akan kembali memastikannya. Polres Garut pada hari Jumat 31 Oktober 2014, sekitar pukul 16.00 WIB mendapatkan laporan dari salah satu hotel di Cipanas, Garut. Ada temuan mayat perempuan di salah satu kamar dalam kondisi telungkup dan tanpa busana.

Polisi kemudian melakukan olah TKP dan saat itu tak ditemukan sedikit pun identitas pada diri korban. Polisi hanya menemukan beberapa lembar pakaian dalam di kamar. Andy Wahyudi (38), langsung meninggalkan HotelCipaganti, Jl Raya Cipanas,Tarogong, Garut, Jabar, setelah membunuh teman dekatnya, Hayriantira (37), pada Oktober 2014 lalu.Andy keluar dari hotel lalu membawa kabur mobil Honda Mobilio milik korban.

“Berdasarkan hasil rekaman CCTV Hotel Cipaganti yang diperoleh Polres Garut, terlihat sosok pria-yang belakangan diketahui pelaku pembunuh korban-meninggalkan hotel menggunakan mobil korban,” kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan di Jakarta, Rabu (5/8/2015). Namun, pada saat itu yang terpasang pada mobil tersebut adalah pelat nomor palsu. Pengakuan tersangka, ia membuang pelat nomor palsu itu di Jatibening, Bekasi.

hayriantira_20150805_204037

“Pengakuan tersangka, dia memalsukan pelat nomor tersebut atas perintah korban di kawasan Jakarta. Tetapi kami masih mendalami hal ini,” kata Herry. Mobil warna silver berpelat nomor B 1277 EOA ini sudah diamankan polisi sejak 9 Juli 2015 lalu, bersamaan dengan hari di mana tersangka Andy ditangkap tim Unit 1 Subdit Jatanras Polda Metro Jaya. Pada saat itu, Andy ditangkap atas pemalsuan tanda tangan pada dokumen untuk mengambil BPKBK mobil atas nama korban di sebuah showroom di Depok, Jawa Barat.

Setelah menjalani penahanan atas kasus pemalsuan, Andy pun buka mulut. Pada pertengahan Juli 2015, tersangka baru mengakui telah membunuh korban setelah keluarga korban melakukan pendekatan terhadap tersangka. Usai membunuh Hairyantira (37), asisten cantik Presdir XL Axiata, Andy Wahyudi membawa kabur mobil korban. Menurut Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan, tersangka keluar dari hotel menggunakan mobil korban dengan menggunakan plat nomor palsu.

“Kemudian dari CCTV di hotel juga ada terlihat mobil korban keluar dari hotel tersebut dengan menggunakan pelat nomor palsu,” kata AKBP Herry Heryawan dalam keterangannya, Rabu (5/8/2015). Tersangka Andy mengaku membunuh Rian di Hotel Cipaganti, Garut, Jawa Barat pada tanggal 30 Oktober 2014. Polres Garut memang sudah memastikan penemuan mayat pada tanggal tersebut di hotel yang sama. Dalam pengakuannya, Andy menuturkan pembunuhan dilakukan dengan cara membekap korban hingga kehabisan nafas. Setelah korban dipastikan tewas, Andy kemudian memasukkan mayat Rian ke bathtub yang sudah diisi air panas.

mayat-hayriantira-nih2_20150805_210257

Dari informasi yang diperoleh polisi, keduanya memang sengaja memutuskan menginap di hotel karena hari sudah larut malam. Di kamar hotel, korban menurut tersangka mengajak berhubungan badan. Namun Andy menyebut korban sempat menghina ‘kejantanannya’ saat akan berhubungan badan. “Pelaku emosi akhirnya bekap korban,” ujar AKBP Herry.

Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan menyebut pembunuhan Hairyantira (37) asisten cantik Presdir XL Axiata oleh pacarnya, Andy Wahyudi karena motif pribadi. “Sejauh ini tersangka mengaku membunuh korban karena persoalan pribadi,” kata AKBP Herry Heryawan dalam keterangannya, Rabu (5/8/2015). Tersangka Andy mengaku membunuh Rian di Hotel Cipaganti, Garut, Jawa Barat pada tanggal 30 Oktober 2014. Polres Garut memang sudah memastikan penemuan mayat pada tanggal tersebut di hotel yang sama.

Dalam pengakuannya, Andy menuturkan pembunuhan dilakukan dengan cara membekap korban hingga kehabisan nafas. Setelah korban dipastikan tewas, Andy kemudian memasukkan mayat Rian ke bath-tub yang sudah diisi air panas. Dari informasi yang diperoleh polisi, keduanya memang sengaja memutuskan menginap di hotel karena hari sudah larut malam. Di kamar hotel, korban menurut tersangka mengajak berhubungan badan. Namun Andy menyebut korban sempat menghina ‘kejantanannya’ saat akan berhubungan badan. “Pelaku emosi akhirnya bekap korban,” ujar AKBP Herry.

Tim Unit I Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya rencananya akan melakukan pembongkaran kuburan Hayriantira (37) di Garut, Jawa Barat. Jenazah wanita yang ditemukan tewas di Hotel Cipaganti, Garut itu akan dites DNA untuk memastikan jika itu adalah Rian. “Besok (hari ini-red) rencanyanya penyidik mau ke Garut untuk membongkar kuburannya untuk dites DNA,” kata Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan, Rabu (5/8/2015) malam.

Penggalian kuburan dilakukan untuk mengecek DNA jasad wanita yang ditemukan di Hotel Cipaganti itu identik dengan Hayriantira yang dinyatakan hilang atau bukan. “Meski sudah ada pengakuan dan kecocokan antara keterangan tersangka dengan temuan di TKP, namun kami harus meyakinkannya lagi secara ilmiah,”katanya. Pihak kepolisian sendiri akan mengambil sampel pembanding DNA dari ibu Rian. Pengambilan sampel pembanding juga dilakukan pagi ini. Setelah dilaporkan hilang selama 8 bulan, Rian ternyata dibunuh oleh teman dekatnya Andy.

Mantan asisten Presiden Direktur XL, Hayriantira, ditemukan setelah menghilang selama sembilan bulan.
Wanita berusia 37 tahun itu telah tewas setelah dibunuh oleh terduga pelaku AW pada bulan 30 Oktober 2014 lalu.
Berdasarkan foto yang didapatkan wartawan, korban ditemukan tewas tanpa busana posisi telungkup di air. Pada saat ditemukan oleh aparat Polres Garut identitas korban belum terungkap.

“Mayat ditemukan di bak mandi. Pelaku membekap mulut (korban,-red) hingga tewas. Ini sesuai hasil penemuan mayat di hotel,” ujar Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Krishna Murti ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (5/8/2015). Aparat Polda Metro Jaya menjadwalkan lawatan ke Garut, Jawa Barat pada Kamis (6/8/2015). Ini dilakukan untuk mendalami kasus pembunuhan tersebut.

“Kita ke Garut besok untuk mengkroscek ini semua. Setelah melakukan pendalaman, maka akan ditentukan pasal. Nanti motif akan disampaikan lagi,” kata Krishna Murti. Saat ini, jenazah telah dikebumikan di salah satu tempat pemakaman umum di Garut, Jawa Barat. Hayriantira (37), seorang karyawati, dilaporkan menghilang sejak November 2014. Namun, hingga saat ini belum jelas keberadaan ibu dari dua anak tersebut.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti membenarkan soal menghilangnya Hayriantira. Polisi juga telah menerima laporan tersebut. “Iya, benar ada laporan kehilangan (Hayriantira),” kata Krishna saat dihubungi . Pihak keluarga telah mencari Hayriantira sejak perempuan tersebut menghilang, tetapi mereka tidak menemukan hasil. Akhirnya mereka melapor ke polisi pada 14 April 2015. Saat menghilang, Hayriantira bekerja sebagai asisten Presiden Direktur XL Axiata yang dipimpin oleh Hasnul Suhaimi. Saat ini jabatan presiden direktur dipegang oleh Dian Siswarini. Polisi tengah melakukan penyelidikan mendalam mengenai keberadaan Hayriantira.

Junaedi, petugas keamanan di perumahan cluster Griya Tugu Asri, Cimanggis, menuturkan Hayriantira (37) alias Rian, Asisten Presiden Direktur PT XL Axiata, yang tewas dibunuh di Garut, mengontrak rumah di perumahan itu tepatnya di Blok B 2 Nomor 1, RT 2/19, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, sejak akhir 2013 lalu. Rumah yang dikontrak itu, katanya adalah milik Restu. “Kalau gak salah, dua tahun sewa kontraknya Rp 45 Juta,” kata Junaedi.
Junaedi menuturkan walau dikontrak sampai dua tahun atau sampai pertengahan 2015, sejak akhir 2014, rumah bergaya country yang ditempati Rian, lebih sering tak berpenghuni.

“Sekitar akhir 2014 atau awal 2015, rumahnya kayak kosong dan gak ditempatin lagi. Tapi semua barang-barangnya masih ada di dalam rumah,” kata Junaedi. Menurutnya barang-barang di dalam rumah kontrakannya diambil suami Rian, Juni 2015 lalu. “Sebelum Lebaran, barang-barangnya diambil semua sama suaminya. Gak lama pengontrak baru, satu keluarga masuk nempatin rumah itu,” katanya

Menurut Junaedi, layaknya sebuah pemukiman elite berupa cluster, warga di perumahan Griya Tugu Asri ini memang jarang berbincang-bincang atau berkumpul lama di luar rumah. Karenanya kata Junaedi, ia dan para petugas keamanan tidak begitu mengenal Rian dan suaminya terlalu dekat, karena tak pernah berbincang lama.
“Tapi ada satu yang berkesan sama bu Rian, waktu mereka baru beberapa bulan tinggal di sini. Dia pernah ngasih dua bungkus nasi uduk ke saya dan teman saya yang jaga pos keamanan, Iskandar,” kata Junaedi, saat ditemui Warta Kota di perumahan cluster Griya Tugu Asri, Rabu (5/8/2015) malam.

Menurut Junaedi, saat itu pagi hari, Rian keluar kompleks membeli nasi uduk buat keluarganya yakni suami dan anaknya. “Pas mau balik ke rumah, dia ngasih dua bungkus nasi uduk buat saya dan teman saya. Pesannya, ini pak buat sarapan. Ternyata dia beliin kami nasi uduk juga,” kata Junaedi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s