Ahok Gagal Sediakan Toilet Di Gelora Bung Karno


Sejak berlatih renang di Stadion Renang Senayan dua tahun lalu, Danta Pratama (20) berhadapan dengan persoalan yang sama. Sebelum latihan dimulai, perenang putra anggota klub Pari Sakti itu mesti sembunyi-sembunyi berganti pakaian di balik tembok pemisah kolam pemanasan dan kamar ganti.Setelah latihan, mereka kebingungan mau berbilas di mana. Minggu (2/8) lalu, Danta memutuskan untuk berbilas di rumahnya di Kebon Jeruk, Jakarta. “Tidak ada air,” katanya.

Atlet yang saat itu tengah bersiap diri untuk terjun di Kejurnas Renang di Solo, Jawa Tengah, tentu kecewa, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi, hilangnya air dari kamar bilas sudah terlalu sering ia alami. Stadion Renang Senayan sebenarnya dilengkapi dua ruang ganti, masing-masing untuk laki-laki dan perempuan. Namun, para atlet renang cenderung menghindari kamar ganti dan memilih mengganti pakaian di balik tembok.

Maklum, kondisi kamar ganti kolam renang Senayan jauh dari layak. Dari empat toilet, dua tidak berfungsi lantaran saluran airnya macet. Dua sisanya bisa digunakan, tetapi pintunya tidak bisa ditutup rapat. Deretan keran air untuk membilas tubuh hanya satu yang berfungsi. Karena air tidak mengalir, bau tak sedap segera menyeruak dari kamar ganti itu. Kondisi serupa terlihat di Lapangan Panahan Senayan yang juga akan dipakai untuk arena Asian Games 2018. Dua toilet di lapangan itu tidak berfungsi lantaran tidak ada air yang mengalir. Sebulan yang lalu, ada seorang pengunjung lapangan panahan yang kebelet buang air kecil. Dia bertanya di mana toilet berada.

Seorang petugas lapangan panahan menjawab tidak ada toilet di arena itu. “Kalau mau pipis di bawah pohon itu aja Mas,” katanya menunjuk sebuah pohon mangga di tepi lapangan. Ashari (58), petugas parkir di lapangan panahan, mengatakan hal yang sama. “Dulu (atlet) cowok juga kalau mau pipis ya (pergi) ke bawah pohon mangga itu,” katanya.

Bagaimana dengan atlet putri? Mereka hanya punya dua pilihan: menahan buang air kecil atau mencari toilet tumpangan di kantor-kantor di sekitar lapangan panahan. Rona Siska Sari, atlet panahan nasional, memilih alternatif pertama ketika ia merasakan “panggilan alam” muncul di sela-sela latihan, pekan lalu. “Saya berusaha untuk tidak pipis setiap di sini. Kalau tidak bisa ditahan, saya menumpang toilet di kantor-kantor terdekat. Habis, mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang akan menjadi arena upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018, toilet yang tersedia tak kalah buruk. Saking buruknya, Silvester Kurnia (15), karateka yang sedang berlatih di lantai dua Pintu IV GBK, mengurungkan niatnya untuk buang hajat di toilet yang tersedia. “Airnya enggak ada,” katanya kepada dua temannya sesama karateka. Mereka pun beralih ke toilet di lantai satu. Kondisi toilet itu sedikit lebih baik. Meski tidak ada air yang mengalir melalui keran, tersedia air dalam jumlah terbatas di ember plastik. Kondisi toilet di pintu lainnya di GBK kurang lebih sama. Air hanya tersedia di ember.

Kepala Unit Stadion Utama GBK Tubani menjelaskan, instalasi air di Stadion Utama GBK tidak pernah diganti sejak dibangun tahun 1959. Kini, instalasi air yang tua itu bocor di mana-mana. Akibatnya, air tidak bisa mengalir ke 48 toilet yang ada di sana. Urinoir pun tak bisa dibilas dalam waktu lama sehingga berbau pesing. Bau pesing kian menyengat setelah Stadion Utama dipakai untuk pertandingan sepak bola, konser musik, atau kegiatan massal lainnya. Setelah digunakan penonton, toilet baru bisa dibersihkan esok harinya. Itu pun kalau ada pasokan air.

Jika tidak ada pertandingan atau latihan, toilet-toilet itu ditutup. Pengunjung GBK yang ingin buang hajat mesti menggunakan toilet umum di sekitar GBK yang kondisinya lebih buruk. Di toilet umum, sekitar 25 meter dari Pintu VI, empat dari delapan urinoirnya mampet. Sisa cairan berbau pesing menggenang di sana. Sampah berupa tisu dan puntung rokok berserakan di lantai yang tergenang air kotor.

“Saya mau muntah (ketika masuk ke toilet itu), tapi saya tidak bisa menahan (hajat) lagi,” ujar Chandra Arif, pengunjung GBK. Ia makin kesal karena ia mesti membayar Rp 2.000 untuk menggunakan toilet itu. Direktur Utama Pusat Pengelolaan Kompleks GBK Novel Hasan mengungkapkan, pihaknya mengucurkan dana Rp 10 miliar per tahun untuk memelihara kebersihan seluruh Kompleks GBK. Di luar itu, ada biaya perawatan yang disesuaikan kebutuhan.

Dana sebesar itu rupanya belum cukup untuk sekadar membuat toilet di Kompleks GBK tidak berbau busuk lantaran tak tersedia air. Ini baru bicara soal fasilitas dasar, yakni toilet. Fasilitas lain, seperti tempat pertandingan, tempat latihan, peralatan, dan area penonton, juga masih jauh dari layak di beberapa arena. Kolam renang Senayan, misalnya, kini hanya berukuran 50 x 20 meter, berkedalaman 3 meter, dan lintasan 8 buah. Padahal, Federasi Renang Internasional (FINA) mensyaratkan ukuran kolam renang standar internasional adalah 50 x 25 meter, kedalaman 5 meter, dan lintasan 10 buah.

FINA juga mensyaratkan, arena akuatik minimal terdiri dari empat kolam, yakni kolam renang, kolam polo air, loncat indah, dan kolam pemanasan. Saat ini, arena akuatik Senayan hanya memiliki tiga kolam. Kondisi kolam yang ada pun memprihatinkan. Keramik di dasar dan tepi kolam banyak yang pecah sehingga membahayakan atlet. Gilbert Garcia (20), atlet renang yang setiap hari latihan di kolam renang Senayan, mengaku sering mengalami luka gores di kaki dan tangan akibat terantuk keramik yang pecah.

Di Stadion Madya yang menjadi arena atletik, lintasan untuk pemanasan atlet belum dilapisi bahan sintetis atau karet sesuai standar internasional. Saat ini, lintasan pemanasan berupa tanah merah sehingga ketika ada atlet yang berlari, debu halus segera beterbangan.

Peralatan latihan dan perlengkapan stadion juga sudah usang. Matras-matras untuk lompat galah robek di berbagai sisi. Bangku-bangku penonton sudah lapuk. Arena yang kondisinya cukup baik adalah Stadion Tenis dan Istora Senayan. Kementerian Pemuda dan Olahraga berencana merenovasi 10 arena di Kompleks GBK yang akan digunakan untuk Asian Games 2018. Kemenpora menyediakan dana awal sekitar Rp 200 miliar.

Waktu yang tersisa untuk merenovasi ke-10 arena itu sekitar 18 bulan. Setelah itu, semua arena harus sudah siap digunakan untuk uji coba pertandingan mulai Juli 2017. Masalahnya, Kemenpora saat ini baru dalam tahap menyusun perencanaan anggaran untuk setiap arena yang akan direnovasi. Deputi V Kemenpora Gatot S Dewa Broto berharap, seluruh proses perencanaan dijadwalkan selesai pada akhir November 2015, dilanjutkan pengerjaan renovasi pada awal 2016.

Proses renovasi kemungkinan akan berkejaran dengan waktu. Jika tidak selesai pada waktunya, bangsa ini mungkin akan menyambut ribuan atlet dari 48 negara-negara di Asia, pelatih, jurnalis, dan turis dengan fasilitas ala kadarnya dan toilet beraroma pesing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s