Kisah Kepahlawanan dr Achmad Mochtar Sang Pemimpin Yang Rela Dipancung Demi Bawahan Dalam Melawan Penjajahn Jepang


Pada Juli-Agustus 1944, sekitar 400-900 romusha di Klender, Jakarta bergelimpangan tewas satu per satu. Beberapa pekan sebelumnya, para romusha itu menerima vaksin tifus-kolera-disenteri (TCD). Siapakah penyuntik vaksin masih misterius saat itu. Penjajah Jepang ingin menyelidiki kematian romusha massal ini. Maka, minta tolonglah Jepang kepada Lembaga Eijkman yang kala itu sudah dipimpin oleh dr Achmad Mochtar.

“Dalam ilmu kedokteran waktu zaman Jepang, kalau ada yang mati begitu, mereka minta autopsi. Dokter-dokter kita saat itu kan didikan Belanda,” jelas Prof Sangkot Marzuki, ilmuwan biologi molekuler yang dipanggil Menristek saat itu, BJ Habibie, untuk menghidupkan kembali Lembaga Eijkman tahun 1992 dan memimpin lembaga itu hingga tahun 2014.

Hal itu dikatakan Sangkot kala berbincang di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kompleks Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015) lalu. Sangkot menjelaskan, metode autopsi itu adalah menyayat tempat suntikan pada jasad-jasad para romusha. Para ilmuwan Eijkman melihat kemungkinan apakah ada bakteri tetanus yang membuat para romusha tewas.

“Nah memeriksanya di Lembaga Eijkman,” tuturnya.

Seorang ilmuwan yang terlibat memeriksa, menurut Sangkot, bernama Yatman. Saat diperiksa Kenpetai, polisi militer Jepang, Yatman mengatakan bahwa tidak ada bakteri tetanus yang ditemukan pada para jasad romusha itu.

Untuk membandingkannya, hasil autopsi jasad para romusha itu dibandingkan dengan sampel kontrol, alias sampel alami yang tak diberikan tindakan apapun, yakni memeriksa bakteri serupa pada penderita tetanus.

“Dan ada kontrolnya kebetulan, ada pasien di RS. Kebetulan ada kontrol, dari orang di kaki yang tetanusan itu diperiksa apakah betul ada tetanusnya. Diperiksa bersamaan. Dan dia (sampel kontrol) positif. Jadi tekniknya oke kan? Kalau nggak ada (sampel kontrol) kan bisa dituduhkan bahwa metode kamu nggak jalan,” jelas pria yang juga menjabat sebagai ketua AIPI ini.

Karena tidak ditemukan bakteri pada sayatan jasad tempat suntikan, misteri berikutnya yang harus dipecahkan, apakah ada toksin? Nah, menemukan ada atau tidaknya toksin itu harus mengekstraksi sayatan itu. Maka para ilmuwan di Lembaga Eijkman mengekstraksi sayatan tersebut. Setelah diekstraksi, kemudian hasil ekstraksi itu disuntikkan ke tikus. “Kalau ada toksinnya tikusnya kejang. Kalau tidak ada, normal. Ternyata, tikusnya kejang semua. Dan parahnya, mati. Berarti kan banyak toksinnya. Jadi di tempat itu (sayatan jasad tempat suntikan), masih banyak sekali toksinnya,” papar Sangkot.

Penjajah Jepang yang tadinya meminta Lembaga Eijkman untuk memeriksa dan mengautopsi jasad para romusha itu, kini malah balik menuduh bahwa Lembaga Eijkman yang dipimpin dr Achmad Mochtarlah yang mencemari vaksin TCD itu. dr Achmad Mochtar dituduh mempimpin gerakan sabotase melawan Jepang, dengan mencemari vaksin dengan bakteri dan toksin tetanus yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Faktanya, yang kemudian ditelusuri oleh Profesor Dr J Kevin Baird, Kepala Eijkman-Oxford Clinical Research Unit bersama Sangkot, ternyata, vaksin mematikan itu merupakan percobaan medis yang dilakukan militer Jepang. Percobaan medis yang gagal.

Para romusha ternyata dijadikan ‘kelinci percobaan’ vaksin tetanus yang dibuat oleh dokter Jepang, sebelum vaksin itu disuntikkan kepada para tentara dan pilot tempur Jepang. Untuk menutupi kesalahan Jepang sendiri, penjajah Jepang mencari kambing hitam. Menuduh para ilmuwan di Lembaga Eijkman, yang memang saat itu juga tengah terlibat mengembangkan vaksin.

Kembali ke tahun 1944, dr Achmad Mochtar dan para ilmuwan yang dikomandaninya berada di ujung tanduk karena difitnah Jepang. Oktober 1944, semua ilmuwan di Lembaga Eijkman ditangkap Jepang.

dr Achmad Mochtar, namanya tertelan hiruk pikuk zaman. Perjuangannya tak mengangkat senjata namun melalui ilmu pengetahuan meski harus menyerahkan nyawa agar rekan-rekannya selamat. Nahas!

Namanya mungkin tak setenar nama-nama pahlawan yang menjadi nama-nama jalan protokol di ibu kota dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun perjuangannya tak bisa dinafikan.

Dialah dr Achmad Mochtar, orang Indonesia pertama yang menjadi Direktur Lembaga Eijkman, lembaga sains dan riset di bidang biologi molekuler pertama di Indonesia yang didirikan sejak zaman penjajahan Belanda tahun 1888.

Di lembaga yang namanya diambil dari nama penerima Nobel bidang kesehatan tahun 1929, Christiaan Eijkman ini, dr Achmad Mochtar diangkat menjadi Direktur Institut Eijkman (nama Lembaga Eijkman saat itu) pada tahun 1942.

Pada tahun 1942, penjajah Jepang mulai masuk ke Indonesia, menangkapi orang-orang berkebangsaan Belanda termasuk direktur Lembaga Eijkman pada masa itu yang bernama WK Martens, yang kemudian meninggal akibat beri-beri saat berada dalam penyekapan militer Jepang, demikian dilansir dari Wikipedia yang bersumber dari ScienceMag dalam artikel “HISTORY OF SCIENCE Righting a 65-Year-Old Wrong”.

dr Achmad Mochtar terlahir di Sumatra Barat tahun 1892, dan lulus dari sekolah kedokteran STOVIA tahun 1916. Dia kemudian mengambil 2 tahun penempatan wajib di klinik terpencil di Panyabungan Sumatera Utara (Sumut). Di Sumut bertemu dengan WAP Schuffner, peneliti mikroskopik longitudinal pertama pada parasit malaria. Berkat pengaruh Schuffner, administrasi kolonial Belanda di Indonesia (saat itu disebut Netherlands East Indies) memberangkatkan Mochtar ke Universitas Amsterdam untuk meraih gelar doktor.

Dalam tulisan tesisnya tahun 1927 dia menulis soal leptospira, di mana saat itu sebagian besar menyangkal bahwa leptospira menyebabkan demam kuning. Promotor utamanya adalah Hideyo Noguchi, ahli mikrobiologi Jepang yang pada tahun 1911 membuktikan bahwa ada jenis spirochete merupakan penyebab neuropati syphilis. Mochtar kembali ke Indonesia dan melanjutkan penelitian mengenai leptospirosis sebelum bergabung dengan fasilitas penelitian biomedis terbaik, the Central Medical Laboratory di Indonesia tahun 1937, yang pada tahun 1938 namanya berubah menjadi Institut Eijkman.

Menjadi direktur lembaga sains yang didirikan Belanda saat Indonesia berada dalam masa transisi ke dalam tangan Jepang bukanlah hal yang mudah. Namun dr Achmad Mochtar mengambil tanggung jawab itu dengan gagah. Tanggung jawab itu mesti ditebus dengan nyawanya sendiri yang akhirnya harus diserahkan ke penjajah Jepang yang membunuhnya dengan keji. dr Achmad Mochtar, direktur pribumi pertama Lembaga Eijkman dipaksa mengaku bersalah menyabotase vaksin yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Dia kemudian dipancung dan jasadnya dilindas mesin.

Butuh waktu 65 tahun, sejak kematiannya, untuk mengungkap penyebab kematian dr Achmad Mochtar itu. Profesor Dr Sangkot Marzuki mulai mencari kebenaran dari kematian dr Achmad Mochtar, saat tahun 1992 dia dipanggil Menristek BJ Habibie, untuk menghidupkan kembali pusat riset biologi molekuler Lembaga Eijkman. “Kan mulainya ini bertingkat. Waktu saya mulai, bukan mau mengangkat awalnya sih, ingin mendapat kejelasan, lebih ke arah pribadi, waktu itu saya direktur Lembaga Eijkmen,” demikian kisah Prof Sangkot saat berbincang di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) di Kompleks Perpustakaan Nasional, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (25/8/2015) lalu.

Saat hendak menghidupkan kembali Lembaga Eijkman, Sangkot menerima sebuah buku berwarna hijau. Buku itu berisi sejarah Lembaga Eijkman, termasuk tentang data dan sejarah dr Achmad Mochtar. “Itu menjadi obsesi untuk satu waktu saya ingin meluruskan sejarah mengenai direktur lembaga yang saya pimpin. Orang Indonesia yang dituduh oleh Jepang, melakukan kalau zaman sekarang namanya bioterorisme,” tegas Prof Sangkot.

Mulailah Prof Sangkot meneliti, mengumpulkan data, dibantu dengan koleganya dari Oxford, Profesor J Kevin Baird. Ide menuliskan buku ini bermula pada 2006, saat Prof Sangkot bercerita kepada Prof Baird yang ditindaklanjuti menggali fakta-fakta yang terjadi dalam peristiwa tewasnya ratusan romusha di Klender, Jakarta Timur, pada 1944, yang berujung pada eksekusi mati dr Achmad Mochtar. “Kevin masuknya belakangan, dia punya mahasiswa PhD yang mau dilibatkan, kerjanya di Eijkman tapi dia mau kuliah ke Oxford,” tutur Sangkot.

Mahasiswa doktoral bimbingan Baird itu kemudian diminta Baird untuk menulis sejarah Lembaga Eijkman. Mahasiswa ini kemudian datang ke Sangkot dan diberitahukanlah sejarah dr Achmad Mochtar. Hasil konsultasi dengan Sangkot, kemudian dilaporkan mahasiswa tersebut kepada Baird. Belakangan, justru Baird lah yang lebih terobsesi dan bergairah mencari fakta-fakta sejarah itu. “Tentang tidak fairnya Jepang segala macam. Dia (Baird) langsung dengan saya, ‘Ayo kita tulis’. Semua kerjaannya ditinggalkan untuk menulis itu 3 bulan. Draft pertama 3 bulan. Totalnya 3 tahun (menulis buku),” ungkap Sangkot.

Selama 3 tahun itu, Sangkot dan Baird mencari sumber, dokumentasi dan wawancara saksi yang masih hidup dan mencari dokumen hingga ke Australia. Dokumen yang secara tidak langsung mendukung dugaan tersebut adalah arsip pengadilan di Australia terkait kejahatan perang yang berlangsung tahun 1945. Pengadilan terebut menjatuhkan vonis 4 tahun penjara terhadap tokoh militer Jepang, Hirosato Nakamura.

Dalam peristiwa yang berbeda dari tragedi Klender, Nakamura dinyatakan bersalah karena menewaskan 15 dari 17 narapidana di Indonesia dalam sebuah uji coba vaksin tetanus. Sementara 2 narapidana lainnya dieksekusi mati, agar tidak membocorkan eksperimen yang gagal tersebut. “Setelah itu kan kita interview orang. Dia (Baird) 3 bulan nggak ngerjain apa-apa, kaya orang kesurupan. Staf-stafnya bilang, ‘Segera nih (menerbitkan buku), kalau nggak dia nggak ngurusin labnya’,” tutur Sangkot.

Buku tersebut akhirnya terbit pada Mei 2015 dengan judul “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine” dan diluncurkan lebih dulu dalam bahasa Inggris di Amerika Serikat. Bukunya belum beredar di Indonesia dan hanya bisa dipesan melalui Amazon. “Kisah tentang Prof. Achmad Mochtar merupakan drama kemanusiaan yang terjadi dalam kurun waktu yang amat bersejarah untuk Indonesia, dan terjalin dari berbagai peristiwa militer dan politik pada periode 1942-1945,” ujar Sangkot seperti dikutip dari situs AIPI, aipi.org, dalam artikel yang diunggah 3 Juli 2015 lalu.

Ia menyadari bahwa buku tersebut dapat dianggap membuka kembali luka lama saat hubungan antara Indonesia dan Jepang kini terjalin erat. Namun mereka merasa sejarah tetap perlu diluruskan. Terlebih, peristiwa tersebut tidak hanya mengakibatkan terhentinya aktivitas Lembaga Eijkman tetapi juga berpengaruh besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Achmad Mochtar kala itu merupakan salah satu ilmuwan terbaik yang dimiliki Indonesia. “Kalau sekiranya Mochtar tidak dipancung, mungkin ilmu pengetahuan Indonesia tidak habis begini,” katanya.

Oktober 1944, dr Achmad Mochtar dan para ilmuwan di Lembaga Eijkman ditangkap karena dituduh Jepang menyabotase vaksin yang menyebabkan ratusan romusha tewas. Takdir pilu itu pun terjadilah. Para ilmuwan itu dipukul, dibakar dan disetrum. Salah satu dari mereka mati. Pihak Jepang kemudian membebaskan para ilmuwan yang selamat dari siksaan itu kecuali dr Achmad Mochtar. Nasibnya kemudian berakhir tragis, dia dipancung Jepang pada 3 Juli 1945. Tak cukup dipancung, jasadnya dihancurkan dengan mesin gilas uap dan dibuang ke liang kuburan massal.

Fakta mengapa hanya dr Achmad Mochtar saja yang saat itu tidak dibebaskan Jepang kemudian dicari tahu oleh Profesor Dr J Kevin Baird, Kepala Eijkman-Oxford Clinical Research Unit bersama Profesor Dr Sangkot Marzuki, ilmuwan biologi molekuler yang menghidupkan kembali Lembaga Eijkman tahun 1992 dan memimpin lembaga itu hingga tahun 2014.

Temuan fakta itu membuat pilu. Baird menemukan bahwa dr Achmad Mochtar telah membuat negosiasi dengan Jepang. Achmad Mochtar bersedia menerima untuk disalahkan terkait tuduhan sabotase vaksin, asal, rekan-rekan ilmuwannya dibebaskan. “Achmad Mochtar tidak hanya seorang pahlawan di Indonesia namun juga pahlawan bagi sains dan kemanusiaan. Dia kehilangan segalanya, termasuk istrinya di rumah. Kemudian mengorbankan hidupnya untuk stafnya, koleganya dan teman-temannya,” demikian kata Baird seperti dilansir The Observer, edisi Minggu 25 Juli 2010. Salah satu ilmuwan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Sjamshidajat Ronokusumo dalam The Observer berujar, “Dia telah gugur sebagai martir, melindungi bawahannya”.

Butuh waktu 65 tahun, sejak kematiannya, untuk mengungkap penyebab kematian dr Achmad Mochtar itu. Kini, pada tahun 2015, tepat 70 tahun dr Achmad Mochtar gugur, proses pencarian kebenaran itu oleh 2 ilmuwan, Prof J Kevin Baird dan Prof Sangkot Marzuki diabadikan dalam buku “War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s