Kronologi dan Dalang Aktor Intelektual Di Balik Pembunuhan Aktivis Salim Kancil Lumajang


Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan, anggotanya tengah mendalami dugaan keterlibatan aktor intelektual di atas Kepala Desa Selok Awar-Awar, Hariyono, dalam kasus dugaan pembunuhan petani aktivis anti tambang Salim Kancil. Kami tidak menutup kemungkinan ada orang di belakang Kepala Desa. Ini sedang diperiksa,” kata Badrodin di Markas Besar Polri, Jakarta, Jumat (2/10). Selain pemeriksaan terhadap saksi dan tersangka, polisi juga mendalami bukti-bukti lain yang ada. Kata Badrodin, salah satu bukti yang diperiksa adalah pesan singkat yang ada di telepon genggam orang-orang terkait.

Ketika ditanyai kemungkinan keterlibatan pejabat lain seperti Bupati, Badrodin tidak bisa memastikan. “Kalau pidana itu mesti ada fakta hukum yang mendukungnya, saya tidak mengatakan orang tertentu.” Sejauh ini, kata Badrodin, pejabat yang sudah bisa dipastikan keterlibatannya baru sampai ke tingkat Kepala Desa. Yang sedang didalami adalah dugaan pihak lain yang membiayai pejabat berstatus tersangka itu.

Selain Hariyono, sudah ada 22 orang lain yang dijadikan tersangka. Dua dari puluhan orang itu masih berusia 16 tahun. Mereka diduga terlibat langsung dalam penganiayaan Salim dan rekannya, Tosan. Korban kedua menderita luka parah akibat perbuatan para pelaku. Berdasarkan informasi, penganiayaan yang terjadi akhir pekan lalu terjadi akibat penolakan para korban terhadap pembukaan tambang pasir di kawasan tempat tinggalnya. Mereka dianiaya setelah melakukan aksi damai terkait masalah tersebut.

Di sisi lain, Manager Emergency Response Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Ki Bagus Hadi Kusuma mengatakan, meski pihak kepolisian telah menetapkan 23 orang, tim khusus yang pihaknya menduga ada lebih dari tujuh orang lagi yang terlibat dengan pembunuhan Salim. Dari pengakuan masyarakat dan temuan tim di lapangan, ada lebih dari 30 orang yang terlibat. Dari hasil gelar perkara di Polda Jawa Timur, dijelaskan bahwa pembunuhan Salim sudah direncanakan oleh puluhan orang tersebut,” kata Ki Bagus saat dihubungi.

Ki Bagus menjelaskan, rencana pembunuhan Salim telah dirancang satu hari sebelum kematiannya. Mereka yang bertugas mengeksekusi dengan mengkroyok Salim hingga tewas ternyata adalah orang-orang dekat sang Kepala Desa Hariyono. Belasan orang yang tergabung dalam kelompok tersebut kemudian diketahui sebagai tim sukses Hariyono, pada saat dia mencalonkan diri sebagai pemimpin desa. “Pembunuhan itu direncanakan satu hari sebelumnya oleh tim 12. Tim 12 adalah bentukan si kepala desa waktu dia mau nyalon jadi kades. Yah, seperti tim sukses,” katanya. Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat, Masinton Pasaribu, meminta kepolisian mengusut tuntas pelaku dan dalang dibalik tewasnya dua petani asal Kabupaten Lumajang, Salim Kancil dan Tosan.

“Tragedi di Pasirian, Lumajang, harus diusut setuntas-tuntasnya dari mulai pelaku lapangan yang melakukan aksi keji penganiayaan dan pembunuhan berencana,” kata Masinton dalam keterangannya, Selasa (29/9). Masinton juga menyebut, pembunuhan dan penganiayaan Salim dan Tosan, sebagai bentuk aksi teror dan intimidasi kepada warga yang melakukan penolakan tambang pasir ilegal di sekitar Pantai Watu Pecak.

Karenanya, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu meminta kepada kepolisian agar bergerak cepat dalam melakukan penyelidikan dan mengungkap motif intimidasi dan aksi teror yang disertai pembunuhan tersebut. Selain itu, dia juga berharap agar kepolisian tidak hanya berhenti menangkap pelaku di lapangan, namun juga mengejar aktor intelektual dibalik kasus ini. “Jika ada indikasi dugaan keterlibatan pemilik perusahaan, maka polisi harus menangkap dan menyeret pemilik perusahaan ke pengadilan,” kata Masinton.

Masinton mengatakan, berdasarkan informasi yang dia himpun dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang melakukan advokasi, menduga dalang tewasnya Salim dan Tosan adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) yang telah berinvestasi di daerah sana. Sebab, menurut Masinton, Salim dan Tosan selama ini dikenal sebagai warga yang menolak adanya pertambangan ilegal di sekitar desa itu. Karenanya, dibutuhkan peran negara dalam melindungi hak-hak rakyat. “Negara tidak boleh kalah dengan aksi kejahatan korporasi yang menghalalkan keuntungan dengan segala cara,” kata Masinton.

Sepakat dengan Masinton, Ketua Komisi Pertanian DPR Edhy Prabowo meminta kepada aparat penegak hukum agar tidak hanya menangkap pelaku, namun juga mengungkap aktor intelektual dibalik pembunuh Salim dan Tosan. “Saya minta kasus ini diusut tuntas. Aparat harus bisa mengungkap bukan hanya pelaku pembunuhan, tetapi juga ungkap siapa aktor intelektual di belakangnya,” ujar Edhy Prabowo dalam keterangannya, Senin (28/9) malam. Pihak kepolisian juga telah menangkap 20 tersangka pelaku pembunuhan petani Salim Kancil. Selain 20 orang tersebut, terdapat dua tersangka lainnya yang masih di bawah umur, yakni IL dan AA.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan tersangka masih bisa bertambah tergantung keterangan saksi dan alat bukti yang ditemukan. Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap para tersangka untuk mendalami motif penganiayaan yang mengakibatkan kematian akhir pekan lalu itu. Polisi belum bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi pemicu kejadian tersebut. Dua orang petani di Lumajang, Jawa Timur, ditemukan tewas dan diduga menjadi korban penganiayaan dan pembunuhan berencana. Salim Kancil dan Tosan diduga menjadi korban skenario besar untuk memuluskan usaha pertambangan.

Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Muhnur Satyahaprabu, mengungkapkan keduanya dikenal sebagai pejuang lingkungan tolak tambang di desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang. Salim (46) tewas dibunuh, setelah dijemput sejumlah preman dari rumahnya dan dibawa ke Kantor Desa Selok Awar-Awar. Dia dianiaya dengan cara dipukuli batu dan benda keras lainnya oleh banyak orang dalam kondisi kedua tangan terikat.

Muhnur mengatakan, setelah Salim meninggal, mayatnya dibuang di tepi jalan, dekat areal pemakaman. Sementara itu, Tosan juga dianiaya di dekat rumahnya. Muhnur mengatakan, Tosan sempat memberikan perlawanan, walaupun akhirnya roboh setelah dianiaya puluhan orang tidak dikenal. Saat ini, Tosan tengah dirawat intensif di rumah sakit. Dengan kondisi Muhnur dan tewasnya Salim, Walhi menyebut, masyarakat sekitar sangat terancam, ketakutan sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan tim konsolidasi gabungan. Dia mengatakan, pihaknya turut meminta bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

“Ini adalah skenario besar memuluskan usaha pertambangan yang diduga adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) yang investasi triliunan disana,” ujar Muhnur di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/9). Karenanya, dia menyebut, penganiayaan ini bukan hanya sekedar pro kontra tambang saja. Sebab, perkara terkait PT IMMS telah disidik kejaksaan pada Maret 2015, namun hingga saat ini tidak pernah jelas perkembangannya.

Penambangan terjadi pada tahun 2014, ketika warga diundang kepala desa untuk sosialisasi mengenai pembuatan kawasan wisata tepi pantai obyek wisata watu pecak. Namun, hingga kini, sosialisais belum pernah terealisasi. Muhnur mengungkapkan, yang marak terjadi malah penambangan pasir di area yang secara hukum merupakan hutan milik Perhutani. Penambangan dilakukan oleh PT. Indo Modern Mining Sejahtera.

Hal serupa disampaikan Anggota Divisi Ekonomi dan Sosial Komisi Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS), Ananto Setiawan. Dia melihat skenario penggunaan perusahaan penambangan liar, di saat perusaahan tambang yang sesungguhnya sulit untuk masuk dan mengeksploitasi suatu daerah. “Perusahaan besar nanti bisa klaim soal reklamasi, PAD. Sehingga perusahaan liar menjadi tempat cuci tangan mereka,” kata Ananto. Kepala Departemen Penguatan Organisasi Rakyat Konsorsium Pembaruan Agraria Ken Yusriansyah mengatakan tragedi ini merupakan kado terburuk bagi para tani. Sebab penganiayaan dan pembunuhan ini terjadi bertepatan pada Hari Tani.

Dia mengatakan, sebelumnya pihaknya juga menerima laporan serupa terkait intimidasi dan kriminalisasi terhadap aktifis perlindungan tambang. “Tapi ini pembunuhan dilakukan di depan umum. Kami meminta setidaknya diberhentikan sementara karena rakyat selalu jadi korban usaha pertambangan,” ujar Ken. Kepolisian Resor Lumajang Selasa (29/9) ini, telah menangkap 20 tersangka kasus dugaan penganiayaan dan pembunuhan petani sekaligus aktivis Salim alias Kancil di Lumajang, Jawa Timur. Kejadian tersebut juga turut menimpa seorang korban lain bernama Tosan yang mengalami luka parah.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Argo Yuwono mengatakan, sebenarnya sudah ada 22 tersangka yang ditetapkan. Namun, dua orang diantaranya tidak ditahan karena masih berusia 16 tahun. Para tersangka diantaranya adalah Tedjo, Ngatiman, Elisandi, Harmoko, Timartin, Rudi, Edi Santosa, Madasir, Widianto, Sukit, Hendrik, Buri dan Farid. Ada pula Muhamad Subadri, Slamet, Siari, Siaman, Edor Hadi Kusuma dan Dodik Hartono. Sementara dua orang yang masih di bawah umur adalah IL dan AA.

“Tersangka masih bisa bertambah, tergantung keterangan saksi dan alat bukti yang ditemukan,” kata Argo saat dihubungi. Walau demikian, dia tidak mau berandai-andai berapa jumlah tersangka yang akan ditetapkan terkait kasus ini. Hal tersebut, kata Argo, akan berkembang sesuai dengan hasil penyidikan yang berjalan. Saat ini penyidik masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap para tersangka untuk mendalami motif penganiayaan yang mengakibatkan kematian akhir pekan lalu itu. Polisi belum bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya menjadi pemicu kejadian tersebut.

Berdasarkan informasi yang didapatkan CNN Indonesia, beberapa hari sebelum kejadian, warga Pantai Watu Pecak Desa Selok Awar-Awar telah melaporkan ancaman pembunuhan terhadap Tosan ke Kepolisian Sektor Pasirian. Perwakilan warga desa, pada 8 September lalu, melakukan pertemuan yang difasilitasi Camat Pasirian, Abdul Sabar. Sehari setelahnya, warga kemudian melakukan aksi damai di Dusun Krajan II Desa Selok Awar-Awar. Pada 10 September, sekira 6.00 WIB, sekelompok orang mendatangi rumah Tosan dengan membawa senjata tajam berupa clurit dan bahan peledak bondet. Berdasarkan informasi, para kelompok itu menyebut “melawan kepentingan umum masyarakat desa.”

Tidak disebutkan apa yang menjadi permasalahan dalam aksi tersebut. Namun informasi lain menyebut kejadian ini terkait dengan masalah lokasi pertambangan. Argo mengaku belum mendengar informasi tersebut. Namun, jika benar telah ada laporan, maka Kepolisian mestinya menindaklanjuti dengan melakukan patroli dan pengamanan. Dia juga tidak mau pihaknya disebut kecolongan atas kejadian ini. “Kejadian ini tiba-tiba. Kami sudah fasilitasi lewat muspida dan lain-lain, tapi ini tetap terjadi,” kata Argo.

Sebelumnya, dua orang petani di Lumajang, Jawa Timur, ditemukan tewas dan diduga menjadi korban penganiayaan dan pembunuhan berencana. Salim Kancil dan Tosan diduga menjadi korban skenario besar untuk memuluskan usaha pertambangan. Manajer Kebijakan dan Pembelaan Hukum Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Muhnur Satyahaprabu, mengungkapkan keduanya dikenal sebagai pejuang lingkungan tolak tambang di desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang.

Dengan kondisi Tosan dan tewasnya Salim, Walhi menyebut, masyarakat sekitar sangat terancam, ketakutan sehingga sulit untuk berkomunikasi dengan tim konsolidasi gabungan. Dia mengatakan, pihaknya turut meminta bantuan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). “Ini adalah skenario besar memuluskan usaha pertambangan yang diduga adalah PT Indo Modern Mining Sejahtera (IMMS) yang investasi triliunan disana,” ujar Muhnur di Kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (28/9).Manager Emergency Response Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Ki Bagus Hadi Kusuma mengatakan, meski pihak kepolisian telah menetapkan 23 orang termasuk Kepala Desa Awar-awar sebagai tersangka pembunuhan sadis petani Salim Kancil, tim khusus yang dibuat Jatam menduga ada lebih dari tujuh orang lagi yang terlibat dengan pembunuhan Salim.

“Dari pengakuan masyarakat dan temuan tim di lapangan, ada lebih dari 30 orang yang terlibat. Dari hasil gelar perkara di Polda Jawa Timur, dijelaskan bahwa pembunuhan Salim sudah direncanakan oleh puluhan orang tersebut,” kata Ki Bagus saat dihubungi. Ki Bagus menjelaskan, rencana pembunuhan Salim telah dirancang satu hari sebelum kematiannya. Mereka yang bertugas mengeksekusi dengan mengkroyok Salim hingga tewas ternyata adalah orang-orang dekat sang Kepala Desa Hariyono.

Belasan orang yang tergabung dalam kelompok tersebut kemudian diketahui sebagai tim sukses Hariyono, pada saat dia mencalonkan diri sebagai pemimpin desa. “Pembunuhan itu direncanakan satu hari sebelumnya oleh tim 12. Tim 12 adalah bentukan si kepala desa waktu dia mau nyalon jadi kades. Yah, seperti tim sukses,” katanya.

Kota Lumajang, menurut JATAM, sempat tercatat mengalami penolakan atau bentrok dengan latar belakang yang sama dengan kasus Salim Kancil. Kala itu warga menolak karena tidak ingin gumuk pasir yang selama ini dijadkan penahan tsunami diambil oleh perusahaan pertambangan. Isu kejahatan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di sektor pertambangan telah menjadi pembahasan dalam forum supervisi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Wacana tersebut bahkan direkomendasikan oleh Koalisi Anti Mafia Tambang Region Jawa dalam forum Monitoring dan Evaluasi atas Hasil Koordinasi dan Supervisi Pertambangan Mineral dan Batubara untuk Provinsi Jawa Tengah, Jawa Barat, Yogyakarta, dan Jawa Timur, beberapa waktu lalu.

“Salah satu rekomendasi Koalisi Anti Mafia Tambang adalah penanganan dan penyelesaian kasus yang terkait dengan kejahatan dan pelanggaran HAM di sektor pertambangan,” kata Maryati Abdullah, Koordinator Publish What You Pay (PWYP) Indonesia. Menurut Maryati, penanganan dan penyelesaian kasus pelanggaran HAM dan kejahatan di sektor tambang merupakan salah satu dari 11 rekomendasi yang mencuat dalam forum supervisi bersama KPK. Forum tersebut saat itu dihadiri oleh Wakil Ketua KPK Johan Budi Sapto Pribowo, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Bambang Gatot Ariyono, serta seluruh jajaran pejabat pemerintah daerah di Jawa, Mei 2015.

Maryati menyatakan, rekomendasi saat itu disampaikan untuk bisa menyelesaikan kasus kejahatan yang sudah ada, serta mencegah terjadi pelanggaran serupa. Terkait kasus pembunuhan aktivis anti tambang Salim Kancil, Koalisi Anti Mafia Tambang meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut. “Masyarakat membutuhkan jaminan bahwa mengawasi aktivitas pertambangan tidak akan membahayakan diri mereka. Agar tidak ada lagi kejadian seperti kasus Salim Kancil,” kata Maryati.

Sementara itu, rekomendasi lainnya yang mencuat dalam forum supervisi KPK yaitu agar pejabat terkait melakukan fungsi pengawasan dan penegakan hukum maksimal untuk memastikan tak ada alih fungsi lahan hutan untuk pertambangan yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. “Karena jika tidak sesuai ketentuan, bisa menimbulkan gesekan dan bentrokan dengan para aktivis pemerhati lingkungan maupun pertambangan. Kasus kekerasan bukan tidak mungkin terjadi,” ujar Maryati.

Rekomendasi lain adalah ”Mengutamakan aspek keselamatan warga dan lingkungan hidup dalam penertiban, penataan izin, dan penegakan hukum.” Koalisi Anti Mafia Tambang juga merekomendasikan agar dikembangkan skema black list (daftar hitam) bagi perusahaan dan pemilik perusahaan yang melakukan pelanggaran terhadap penggunaan izin dan merugikan negara. Daftar hitam itu, lanjut Maryati, harus diinformasikan kepada publik dan perbankan.

“Kegiatan usaha pertambangan harus memerhatikan aspek HAM, hak sosial ekonomi masyarakat, dan perlindungan lingkungan hidup,” ujar Maryati. Pada 26 September 2015, aktivis anti tambang Salim Kancil (46) tewas dibunuh. Dia dijemput sejumlah preman dari rumahnya dan dibawa ke Kantor Desa Selok Awar-Awar. Salim dianiaya dengan cara dipukuli batu dan benda keras lainnya oleh banyak orang dalam kondisi kedua tangan terikat.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) saat ini juga tengah berada di Lumajang memantau proses penyidikan yang dilakukan kepolisian dalam kasus pembunuhan Salim. Polda Jawa Timur telah menetapkan 23 orang sebagai tersangka yang diduga terlibat membunuh Salim. Salah satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Kepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono. Polisi menemukan airsoft gun di kediamannya saat melakukan penggeledahan, Kamis sore (1/10).Petisi online di Change.org yang meminta Kapolri Jenderal Badrodin Haiti untuk menangkap pembunuh petani antitambang Lumajang, Salim Kancil, telah mendapat dukungan lebih dari 40 ribu orang, Jumat (2/10).

Pagi ini dukungan mencapai 42.392, kurang 7.608 lagi sampai genap 50 ribu. Salim Kancil dibunuh oleh sekelompok orang di kampungnya sendiri, Desa Selok Awar-awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur. Pembunuhan sadis atas Salim Kancil mengagetkan publik tanah air, dan memunculkan petisi online berjudul “Pak Badrodin, Tangkap Para Pembunuh Salim Kancil,” yang dibuat Tim Kerja Perempuan dan Tambang (TKPT).

Petisi itu selain ditujukan kepada Kapolri Jenderal Badrodin, juga kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), serta Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). “Pembunuhan keji Salim Kancil bukan kriminal biasa, tapi pembunuhan berencana yang dipicu penolakan warha terhadap penambangan pasir besi. Kejadian ini berpotensi terulang,” kata Siti Maimunah dari TKPT.

Ada lima tuntutan yang disertakan dalam petisi ini, yakni:

1. Mendesak Kepolisian dan aparat penegak hukum lain untuk serius dalam mengusut para pelaku pembantaian terhadap Salim Kancil dan (penganiayaan) Tosan hingga aktor intelektual di balik peristiwa kekerasan Desa Selok Awar-Awar, dan mengganjar pelaku dengan hukuman seberat-beratnya.
2. Mendesak Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang untuk segera menutup seluruh pertambangan pasir di pesisir selatan Lumajang.
3. Meminta LPSK untuk segera memberikan perlindungan terhadap saksi dan korban.
4. Meminta komnas HAM agar segera turun ke lapangan melakukan investigasi.
5. Meminta KPAI untuk memberikan trauma healing kepada anak dan cucu dari almarhum Salim kancil, serta anak-anak PAUD yang menyaksikan insiden penganiayaan almarhum Salim Kancil di Balai Desa Selok Awar-Awar.

Saat ini Polres Lumajang telah menetapkan 23 tersangka dalam kasus pembunuhan Salim Kancil, salah satunya Kepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono. Saat menggeledah rumahnya kemarin sore, polisi menemukan airsoft gun. Selain Salim Kancil yang dibunuh, Rekan Salim yang juga aktivis antitambang, Tosan, juga dianiaya hingga luka parah. Namun ia berhasil menyelamatkan diri.

Salim dan Tosan menentang pembukaan tambang pasir di wilayah mereka. Sebelumnya mereka menggelar aksi damai menolak tambang. Polisi menggeledah rumah aktor intelektual penganiayaan dan pembunuhan dua warga penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirin, Lumajang, Jawa Timur. Polres Lumajang kini tengah mendalami berbagai alat bukti salah satunya senjata airsoft gun dari hasil penggeledahan di rumah kepala desa Haryono.

Dalam penggeledahan yang dilakukan kemarin, aparat kepolisian dari Kepolisian Resor Lumajang dibantu oleh aparat Brimob Kepolisian Daerah Jawa Timur. Diterjunkannya aparat Brimob itu untuk membantu menjaga ketat saat dilakukan penggeledahan di rumah yang diduga menjadi dalang pembunuhan sadis terhadap Salim Kancil dan penganiayaan terhadap Tosan tersebut.

Rumah kepala desa yang menjadi sasaran penggeledahan lokasinya berada di sebelah kantor desa. “Kami melakukan penggeledahan rumah otak pembunuhan dan menemukan airsoft gun pelaku,” kata Kapolres Lumajang Ajun Komisaris Besar Polisi Mundzir Isma’il saat ditemui di lokasi. Mundzir mengatakan ditemukannya airsoft gun tersebut saat polisi sedang mencari alat-alat bukti di kediaman Haryono.

Setelah melakukan penggeledahan polisi langsung membawa otak pelaku kasus tersebut ke Markas Polres Lumajang. Setelah beberapa saat berada di Mapolres Lumajang, Hariyono dipindahkan penahanannya ke Markas Kepolisian Daerah Jatim pada Kamis malam (1/9). Hariyono yang sudah resmi ditetapkan sebagai tersangka diduga kuat sebagi otak dari tragedi konflik tambang pasir yang menewaskan Salim Kancil dan korban luka berat Tosan. Keseluruhan tersangka pelaku pembunuhan berjumlah 23 orang.

Adapun yang kini ditahan di Mapolda Jatim berjumlah 21 orang tersangka. Dua orang tersangka lainnya statusnya tahanan kota dan wajib lapor karena masih di bawah umur.

One response to “Kronologi dan Dalang Aktor Intelektual Di Balik Pembunuhan Aktivis Salim Kancil Lumajang

  1. Ya Allah kenapa bencana seperti ini terus bertambah, sangat mengerikan. 😥
    Penyebab kerusakan Hutan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s