3 Pegawai Pajak DKI Ditangkap Polisi Karena Korupsi Dan Memeras Pengusaha


iga orang pegawai pajak DKI Jakarta ditetapkan sebagai tersangka kasus tindak pidana korupsi dan pencucian uang serta pemerasan. Korbannya sejumlah pengusaha hotel.”Modusnya tiga tersangka ini merupakan tim gabungan Dispenda DKI. Tugas mereka khusus untuk mengecek dan menagih pajak untuk perhotelan. Ada 75 hotel, (yang diperiksa) kelompok ini,” jelas Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Mujiyono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (17/12/2015).

Ketiga tersangka adalah RD selaku Bendahara Unit Pelayanan Pajak Daerah Cilandak Jaksel, SAD berdinas di kantor pajak Dispenda DKI dan RM yang berdinas di pajak UPP Grogol Petamburan.Ia mengungkapkan, ketiga tersangka mendatangi para wajib pajak untuk memberitahukan dokumen closing conference (pemberitahuan hasil pajak) sementara kepada wajib pajak berinisial SYP. Dalam keterangannya, mereka menyampaikan bila nilai pajak perusahaan SYP sangat tinggi namun bisa dikurangi dengan syarat memberi upeti.

“Mereka menyampaikan secara lisan ‘anda harus membayar pajak Rp 7 miliar. Uang Rp 7 miliar ini bisa dikurangi jadi Rp 5,8 miliar dengan catatan membayar kepada oknum ini Rp 350 juta,” jelas Mujiyono. Ketiganya mendekati para wajib pajak sebelum terbit adanya Surat Ketetapan Pajak Daerah (SKPD). Padahal seharusnya, mereka memberitahukan setelah adanya SKPD.

Kasus ini terungkap setelah dua orang pengusaha hotel berinisial SYP dan JS melapor polisi. Para pelaku dilaporkan atas dugaan pemerasan senilai Rp 500 juta untuk menurunkan nilai pajak yang harus dibayar.Pada 25 Oktober tersangka menghubungi wajib pajak melalui handphone dan memberitahu bahwa mereka sudah menemukan angka di Rp 5,8 miliar yang harus dibayarkan wajib pajak dari ketentuan Rp 7 miliar. Korban kemudian diminta untuk datang ke UPPD Cilandak Jaksel dengan membawa uang.

“Korban menemui tersangka sambil membawa uang Rp 20 juta, kemudian tersangka menyerahkan 3 lembar dokumen closing conference sementara untuk 3 pemilik hotel. Surat ditanda tangani koordinator tim pemeriksa dan ketua tim pemeriksa,” ungkapnya.Selanjutnya, pada November 2015, tersangka menghubungi wajib pajak kembali untuk menemui dan menyerahkan uang fee sebesar Rp 80 juta. Kemudian disepakati mereka bertemu pada Jumat (11/12) di sebuah restoran cepat saji di Mal Puri Kembangan, Jakbar.

“Pada saat itulah mereka ditangkap di sebuah toko di Kembangan, Jakbar,” imbuhnya.Dari para tersangka, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai Rp 40 juta dari wajib pajak SYP, uang tunai Rp 5 juta dari wajib pajak hotel di Jl Kartini, Jakpus, dokumen closing conference untuk 3 wajib pajak, 1 unit mobil Nissan Grand Livina B 1345 UOS, 2 unit laptop, 4 unit handphone dan 5 buah flashdisk.

Para tersangka dijerat Pasal 12 hurut a dan b dan e UU No 31 Tahun 1999 jo UU No 21 Tahun 2001 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupai dan atau pasal 3,4,5 UU No 8 Tahun 2010 tantang pencegahan dan pemberantasan TPPU dan atau pasal 368 KUHP jo Pasal 55 KUHP. Polda Metro Jaya menangkap tiga oknum pegawai Pajak DKI yang Mereka diduga melakukan pemerasan pada wajib pajak. Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) minta polisi menelusuri muara setoran oknum pegawai pajak itu.

“Memang kita kerja sama dengan pihak kepolisian, kita mau diinsentif kepada Polda. Jadi pajak yang kita pungut mau kita kasih insentif ke Polda membantu kita tangkapin orang-orang yang enggak menyetor pajak pembangunan karena pajak pembangunan beda sama pajak. penghasilan. Itu dititipin oleh masyarakat untuk kepada rakyat dari APBD,” kata Ahok di Tennis Indoor Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (16/12/2015).

Ahok mensinyalir aksi itu sudah berlangsung selama beberapa waktu. Dia sudah mendata sejumlah lokasi usaha seperti hotel dan restoran yang kerap dipermainkan oknum Dinas Pelayanan Pajak DKI. “Kita sudah sinyalir di beberapa lokasi, kita sudah punya hitungan nih pajak hotel restoran harus dibayar berapa,” lanjutnya. “Kita sebenarnya sudah dapat (datanya) dari bulan lalu, kita mau kembangin dan mau cari tahu setorannya sampai ke mana. Jangan-jangan Kasudin-nya dapat. Pejabat mana saja yang dapat,” kata Ahok.

Dengan tegas, Ahok pun menyebut pihaknya akan memecat oknum yang sudah ditahan polisi itu jika benar terbukti melakukan pemerasan. “Kalau dapat ya, kesempatan kita berhentikan sebagai PNS,” tutupnya. Aparat Subdit Fiskal, Moneter dan Devisa (Fismondev) Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menangkap 3 orang pegawai pajak di Suku Dinas Pajak Jakarta Barat. Ketiganya diduga melakukan tindak pidana korupsi dengan modus pungli.

“Mereka diduga melakukan korupsi, modusnya pungli. Ini masih didalami oleh Krimsus,” terang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqbal kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Rabu (16/12/2015). Iqbal belum bisa membeberkan tindak pidana yang dilakukan ketiganya. Saat ini, ketiganya masih diperiksa intensif di Mapolda Metro Jaya untuk pengembangan lebih lanjut. Nama-nama mereka juga belum disebutkan. Para pelaku ditangkap pada Jumat (11/12) malam di kawasan Jakarta Barat.

“Ketiganya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan,” imbuhnya. Penyidik dari Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya pada Selasa (15/12) kemarin juga telah melakukan penggeledahan di Sudin Pajak Jakbar dan Dinas Pajak Jakarta. Sejumlah dokumen yang berkaitan dengan tindak pidana ketiga pelaku telah disita polisi dari lokasi tersebut.

“Alat bukti dilengkapi agar lebih kuat dan kita sidik terus sampai tuntas. Siapapun yang terkait akan kita sidik,” tutup Iqbal. Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama geram dengan kelakuan oknum Dinas Pelayanan Pajak (DPP) DKI yang masih bermental maling uang. Pria yang akrab disapa Ahok itu pun dengan tegas menyatakan, pihaknya tidak segan-segan cuci gudang dengan cara ‘membuang’ orang seperti itu.

“Kalau ketahuan 90 persen orang pajak (masih bermain dengan nilai pajak) dibuang saja lah. Langsung dibuang saja, buang keluar saja. Berarti mentalnya memang mental maling!” ujar Ahok menanggapi adanya tiga oknum DPP yang diamankan Polda Metro Jaya di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (16/12/2015).

Ahok mengaku pihaknya sudah mengantongi daftar-daftar jumlah pajak penghasilan restoran, hotel dan tempat hiburan Ibu Kota yang dibayar tidak sesuai dengan nilainya. Dia pun mengetahui ada kerjasama antara pengusaha dengan oknum pajak untuk mengemplang nilai pajak penghasilannya tersebut.

“Kami sudah punya daftar list harusnya hotel ini, restoran ini dan tempat hiburan ini bayar pajak minimal berapa sebulan. Nah, data inilah yang kita berikan (kepada Polda Metro Jaya). Kita sudah tahu urunan duitnya sampai ke siapa saja karena pola permainan oknum pajak ini kelakuannya di seluruh Jakarta ini mirip,” sambungnya.

“Kan kita sudah punya data suruh polisi tangkapin. Begitu tangkap, ada kesempatan saya bisa berhentikan. Enak kan,” tegas Ahok. Ahok yakin masih ada banyak oknum pemeras pajak di DPP. Menurutnya, hal itu didasari sifat keserakahan manusia. Jika Ahok memiliki kuasa lebih, dia ingin menindaktegas koruptor. Caranya dengan memiskinkan mereka yang telah menilep uang masyarakat.

“Sampai sekarang polisi sama jaksa kenapa enggak dibubarin? Ada hukuman mati itu kenapa? Karena sifat manusia ya begitu. Dia masih usaha untuk nilep, jadi kita harus tambah ketat,” kata dia. “Sayang saya enggak punya kuasa karena, jika saya punya kuasa maka saya akan memiskinkan. Jadi orang yang korupsi ini dimiskinkan harusnya. Kalau ada pemiskinan baru seru, kalau enggak akan takut dia. Ngapain jadi PNS gaji cuma Rp 60 juta juga malas dia nyolong,” sambungnya.

Ahok mengatakan, selama ini pihaknya kerap menyisihkan 10 persen dari penghasilan pajak daerah untuk membayar insentif mitra kepolisian. Sebab mereka harus bersinergi memelihara keamanan dan ketentraman daerah. “Berdasarkan kasus (pemberian insentif itu). Jadi total insentif pajak yang masuk, berapa persen boleh digunakan untuk insentif. Nah, itu 10 persen bisa digunakan polisi,” tutup Ahok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s