Kronologi Jatuhnya Pesawat T-50i Golden Eagle Di Airshow Gebyar Dirgantara Yogyakarta


Musrifah (33) menjadi saksi mata jatuhnya pesawat T-50i Golden Eagle yang sedang beraksi di acara Gebyar Dirgantara 2015 di Yogyakarta siang tadi. Suara dentuman keras seperti bom, membuatnya takut. “Suaranya bum! Seperti bom kencang sekali,” ujar Musrifah di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Minggu (20/12/2015). Ribuan penonton yang sedang menyaksikan begitu kaget dengan kejadian ini. Meski begitu, beberapa di antaranya ada yang berlarian menuju titik jatuhnya pesawat.

Asap hitam tampak membumbung tinggi.”Orang-orang lari ke pesawat yang jatuh. Tapi saya sama anak-anak langsung pulang. Anak-anak takut,” imbuhnya.Beberapa saat setelah pesawat T50-i jatuh, pesawat-pesawat lain yang masih di udara mendarat secara bertahap. Kemudian pertunjukan aerobatic langsung dihentikan. “Terus yang lain turun (landing) satu persatu,” kata Mus. Usai insiden jatuhnya pesawat tempur T-50 Golden Eagle milik TNI Angkatan Udara di sekitar landasan militer Bandara Adisucipto Yogyakarta, kini bandara itu kembali beroperasi normal.

Edwin Wibowo, General Affair and Communication PT Angkasa Pura I selaku pengelola Bandara Adisucipto, menyatakan bahwa ketika insiden terjadi, bandara sempat ditutup untuk proses evakuasi dan investigasi. Namun bandara kini telah kembali beroperasi. Begitu pula dengan penerbangan komersial. “Sempat closed, kira-kira setengah jamlah. Tapi sekarang penerbangan sudah kembali normal,” kata Edwin, Minggu (20/12). Jet tempur T-50 TNI AU jatuh sekitar pukul 10 pagi waktu setempat. Kecelakaan terjadi saat pesawat sedang beratraksi di Yogya Airshow yang dikunjungi sekitar lima ribu pengunjung. Acara pun langsung dihentikan.

Saat bandara sempat ditutup pagi tadi, terdapat sejumlah penerbangan yang terpaksa ditunda. “Satu-dua penerbangan ada yang delay. Kalau tidak salah Citilink,” kata Edwin tanpa merinci berapa lama penundaan penerbangan tersebut terjadi. Edwin menolak memaparkan proses evakuasi pesawat yang sempat membuat bandara ditutup. Ia menyerahkan hal tersebut kepada Bandara Adisucipto. Berdasarkan informasi yang dihimpun, dugaan sementara menyatakan pesawat T-50 jatuh karena ada problem pada mesin ketika melakukan atraksi. Problem itu diduga menyebabkan mesin mati di udara.

Yogya Airshow merupakan bagian dari rangkatan kegiatan Gebyar Dirgantara Hari Ulang Tahun Sekolah TNI Angkatan Udara ke-70. Acara yang mestinya penuh sukacita itu kini berakhir sedih dengan wafatnya dua prajurit TNI AU. Letkol Penerbang Marda dan Kapten Penerbang Dwi Cahyadi tewas di tempat. Satu dari dua pilot T-50 Golden Eagle yang tewas dalam kecelakaan pesawat supersonik milik TNI AU itu di Yogyakarta hari ini merupakan Komandan Skadron Udara Tempur 15 yang bermarkas di Pangkalan Udara Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur. Dia adalah Letkol Penerbang Marda Sarjono.

Marda menjabat sebagai Danskadron Udara 15 sejak 23 Oktober 2014. Ini adalah skadron yang khusus mengoperasikan pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle hasil pengembangan industri penerbangan Korea Selatan bersama perusahaan penerbangan AS Lochkeed Martin.Berdasarkan keterangan dari situs resmi TNI di tni.mil.id, Letkol Penerbang Marda Sarjono merupakan salah satu dari enam penerbang TNI AU yang dikirim ke Korea Selatan untuk secara khusus mempelajari teknis pengoperasian T-50.Dia juga yang membawa jet tempur itu dari Korea Selatan ke Indonesia untuk memperkuat armada udara TNI.

Marda merupakan alumnus Akademi Angkatan Udara tahun 1997. Sebelum menjadi Komandan Skadron Udara 15, ia menjabat Kepala Standardisasi dan Evaluasi (Kastandeval) Wing 3 Lanud Iswahjudi.Selain Marda, satu pilot lainnya yang tewas ketika T-50 yang mereka awaki terjun bebas dari langit ialah Kapten Penerbang Dwi Cahyadi. Pesawat itu sesungguhnya sedang melakukan atraksi dalam Yogya Airshow yang digelar pagi tadi, Minggu (20/12). “Dua pilot kami meninggal dunia,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto, membawa kabar duka.

Ini bukan kali pertama pilot-pilot TNI AU jatuh karena kecelakaan pesawat. Pukul 14.00 siang ini, Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna akan menggelar konferensi pers resmi terkait kecelakaan T-50 di Yogya itu.TNI Angkatan Udara membentuk Tim Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang (PPKPT) menyusul musibah yang menimpa salah satu jet tempur mereka. T-50i Golden Eagle jatuh saat sedang menggelar aksi aerobatik pada Gebyar Dirgantara 2015 di Pangkalan Udara Adisucipto, Yoyakarta, pagi tadi.

“Guna mengetahui penyebab kecelakaan, Tim Panitia Penyelidik Kecelakaan Pesawat Terbang saat ini sedang bekerja melakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (20/12).Dalam proses investigasi tersebut, Korea Selatan juga akan dilibatkan sebagai negara pembuat jet tempur ringan T-50i Golden Eagle. Indonesia membeli T-50i dari Korea Aerospace Indrustries (KAI) pada tahun 2013.“Kami pasti akan libatkan (Korea Selatan) dalam investigasi,” ujar Dwi.

Tim investigasi yang dipimpin oleh Wakil Kepala Staf TNI AU Marsda Hadiyan Sumintaatmadja. akan melakukan penyelidikan berdasarkan mode 5M, yakni manusia, mesin, media, misi dan manajemen. Seluruh unsur itu akan diteliti hingga dapat disimpulkan penyebab kecelakaan. T-50i Golden Eagle yang dipiloti Komandan Skadron Udara 15 Letkol Penerbang Marda Sarjono dan Kapten Penerbang Dwi Cahyadi selaku radar interceptor officer, jatuh di pinggiran kesatrian Akademi Angkatan Udara Yogyakarta dan menewaskan dua awak di dalamnya.

Sebelum jatuh, pesawat tempur ringan itu melakukan manuver terbang rendah di atas ribuan pengunjung Yogya Airshow –bagian dari rangkaian acara Gebyar Dirgantara. Jatuhnya T-50i itu langsung membuat kegiatan Yogya Airshow yang dihadiri sekitar lima ribu pegunjung dihentikan. TNI Angkatan Udara menyatakan jet tempur ringan Golden Eagle T-50i yang jatuh di Yogyakarta pagi tadi adalah pesawat yang baru dibeli tahun 2013 atau sekitar tiga tahun lalu.

Golden Eagle T-50i adalah pesawat latih tempur buatan Korea Selatan, yakni Korea Aerospace Industries, hasil pengembangan bersama perusahaan Amerika Serikat Lookheed Martin. Pesawat ini hadir di Indonesia menggantikan Hawk MK-53. “Pesawatnya relatif baru, buatan Korea yang datang ke Indonesia 2012-2013,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Dwi Badarmanto dalam konferensi pers di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (20/12). Sebelum lepas landas, pesawat T-50i itu juga melewati berbagai pemeriksaan rutin, bahkan sempat melakukan atraksi yang memukau ribuan pengunjung sebelum musibah terjadi.

Untuk mengetahui penyebab jatuhnya pesawat T-50i Golden Eagle, pemerintah membentuk tim investigasi yang dipimpin oleh Wakil Kepala Staf TNI AU Marsda Hadiyan Sumintaatmadja. “Sore ini beliau akan langsung berangkat ke Yogya,” ujar Dwi. Tim investigasi rencananya akan melakukan penyelidikan berdasarkan mode yang disebut 5M, yakni manusia, mesin, media, misi dan manajemen. “Semoga dalam waktu dekat kita sudah mengetahui penyebabnya, dan dapat menyimpulkan langkah yang akan diambil selanjutnya,” kata Dwi. Dalam proses investigasi, TNI AU akan melibatkan Korea Selatan sebagai pemasok pesawat Golden Eagle T-50i.

Jet tempur Golden Eagle T-50 milik TNI jatuh di sekitar landasan militer Bandara Adisucipto Yogyakarta pada Minggu (20/12). Sebelum insiden ini terjadi, berbagai varian jet tempur ini rencananya akan digunakan untuk keperluan latihan militer di sejumlah negara. Pesawat Golden Eagle T-50 merupakan pesawat tempur yang dikembangkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) dan Lockheed Martin. Ini adalah pesawat tempur pertama buatan Korea Selatan yang bisa mencapai kecepatan supersonic.

Pertama kali dirakit untuk keperluan militer Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF), jet tempur T-50 Golden Eagle merupakan pengembangan dari jet tempur KTX-2, pesawat serang yang ringan dan kerap digunakan dalam latihan militer, yang dirilis sekitar tahun 1992. Spesifikasi pesawat kemudian disesuaikan dengan keperluan akrobatik dalam latihan tempur dan dikembangkan menjadi beberapa varian, yaitu TA-50, T-50B, dan FA-50. Jet T-50B kerap menjadi pesawat serang yang memimpin latihan tempur Korsel.

Jet tempur T-50 dirancang untuk memberikan pelatihan bagi calon pilot dan penerbang militer pemula, sebelum mereka dapat menerbangkan jet tempur yang lebih canggih, seperti pesawat F-16, F-22 dan F-35 yang sering digunakan dalam latihan militer bersama. Pesawat ini sebenarnya sudah dikembangkan sejak 1990, namun baru mulai diproduksi masal oleh Korea Selatan pada 2003. Dua tahun kemudian pesawat baru bisa dikirimkan ke negara-negara pemesan.

Tak hanya Indonesia, Angkatan Udara Filipina juga akan menggunakan jet tempur tipe ini untuk latian tempur. Pada akhir Maret 2014, Departemen Pertahanan Nasional Filipina mengumumkan pembelian 12 jet serang ringan varian dari TA-50, yakni FA-50 senilai US$421 juta, atau sekitar Rp5,8 triliun. Pengiriman pesawat ke Filipina dijadwalkan akan dilakukan pada Desember 2015 dan berakhir pada 2017. Filipina juga dikabarkan akan menambah sekitar 12 jet tempur tipe FA-50, namun belum ada rincian informasi soal hal ini.

Irak juga telah bernegosiasi untuk mengakuisisi jet tempur T-50 untuk latihan militer,. Pertama kali ketika menyatakan minatnya pada KTT Korea-Irak di Seoul pada 24 Februari 2009, Irak menandatangani kontrak akuisisi 24 jet tempur varian T-50IQ pada Desember 2013. Akuisisi ini dilengkapi dengan pembeluan peralatan tempur dan pelatihan pilot selama 20 tahun. Pengiriman pertama jet tempur T-50IQ ke Irak akan dimulai pada April 2016 dan dijadwalkan kelar selama 12 bulan selanjutnya.

Thailand juga akan menggunakan jet tempur varian T-50 yang akan digunakan untuk menggantikan pesawat L-39 Albatros yang telah menua. Pembelian jet tempur ini diumumkan pada Septermber 2015 ketika Thailand lebih memilih membeli jet buatan Korsel ini ketimbang jet tempur buatan China, Hongdu L-15. Pengiriman jet tempur T-50 ke Thailand akan dimulai pada Maret 2018. Sejumlah negara lain, seperti Spanyol, Uni Emirat Arab, Azerbaijan, Brunei, Pakistan, Vietnam dan Taiwan juga telah menunjukkan minat mereka untuk membeli jet tempur T-50 berserta variannya, meski belum ada penandatanganan kontrak.

Korea Selatan juga dilaporkan akan mencoba untuk menjual jetm tempur T-50s dan membeli jet tempur F-35. Jet tempur T-50 merupakan salah satu pesaing dalam program TX yang dibuka oleh Angkatan Udara AS. Jika lolos dalam program ini, Korsel memiliki kesempatan untuk mengekspor 300 hingga 1.000 pesawat tipe tersebut beserta variannya. Di Indonesia Golden Eagle T-50 sudah mendarat sejak akhir 2013 untuk menggantikan pesawat Hawk MK-53. Total ada 16 pesawat yang dipesan Kementerian Pertahanan dan masuk secara bertahap.

Dilihat dari spesifikasinya Golden Eagle T-50 memang termasuk salah satu pesawat tempur canggih. Bobotnya yang ringan, mesin yang kencang, membuat pesawat ini cocok dijadikan pesawat latih lanjutan bagi pilot pesawat tempur.Menurut catatan Wikipedia pesawat ini memiliki panjang 13 meter dengan lebar mencapai 9,45 meter dengan kecepatan maksimum mencapai 1.600 KM per jam.Sebagai pesawat tempur ringan Golden Eagle T-50 juga memiliki persenjatan yang lengkap, ada gatling gun tiga laras yang bisa menyemburkan 2.000 peluru setiap menitnya serta beragam macam rudal dan roket.

Berkat semua kecanggihanya itu Golden Eagle T-50 Golden Eagle dianggap layak untuk selalu tampil dalam berbagai acara kedirgantaraan, bersanding dengan pesawat super lainnya seperti F16 dan Sukhoi Su-30. Pesawat TNI AU jenis T50i Golden Eagle jatuh dan menewaskan dua pilot di dalamnya. Sebelum jatuh, pesawat sempat menabrak gedung Akademi Angkatan Udara (AAU) yang berada di lingkungan Lanut Adisutjipto.

Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa terjadi pukul 09.40 WIB pada saat melakukan akrobatik udara di Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta, Minggu (20/12/2015). Pesawat menabrak gedung AAU sebelum menyentuh tanah dan terbakar. Para penumpang pesawat komersial di Bandara Adisutjipto mendengar ledakan dari pesawat tersebut setidaknya dua kali. Kecelakaan yang menewaskan perwira TNI AU ini menyebabkan airshow dalam rangka Gebyar Dirgantara yang dimulai Sabtu kemarin ditutup lebih cepat. TNI Angkatan Udara menyatakan akan melibatkan pihak Korean Aero Industries (KAI) Korea Selatan dalam tim investigasi terkait jatuhnya pesawat tempur jenis T-50i Golden Eagle di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta. Kadispen TNI AU Marsma Dwi Badarmanto mengatakan keterlibatan pihak Korea Selatan pasti dilibatkan di dalam tim investigasi.

“Ya, pasti dong. Kita akan libatkan di dalam tim investigasi di dalam tim TNI,” kata Dwi saat jumpa pers di Gedung Suma III, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Minggu (20/12/2015).Dia mengatakan saat ini TNI AU sudah membentuk tim investigasi yang dipimpin Wakil Kepala Staf TNI AU Marsekal Madya TNI Hadiyan Sumintaatmadja. Pembentukan tim investigasi ini instruksi langsung Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna. “Tim investigasi sudah di Yogya,diketuai langsung Wakil KSAU. Beliau yang akan pimpin tim investigasi untuk cari tahu, menemukan hal yang menyebabkan (kecelakaan) bisa terjadi,” ujar Dwi.

Rencananya, Kepala Staf TNI AU juga akan berangkat menuju Yogyakarta untuk melihat langsung lokasi. “Kepala Staf TNI AU, bila cuaca bagus atau sore ini atau secepatnya, beliau akan berangkat ke Yogya,” tuturnya.TNI AU kehilangan dua prajurit terbaiknya: Letkol Marda Sarjono dan Kapten Dwi Cahyadi. Keduanya gugur saat pesawat tempur latih T50i Golden Eagle yang mereka awaki jatuh dan terbakar saat beratraksi di airshow di Yogyakarta.

“Saya mewakili TNI AU menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya dan (yang gugur) ditempatkan di tempat yang mulia, gugur dalam tugas,” ujar Danlanud Adisutjipto Marsma TNI Imran Baidirus dalam jumpa pers di Kantor Danlanud Adisutjipto, Yogyakarta, Minggu (20/12/2015) siang.Sebelum terbang, kedua pilot itu sempat berpose. Salah satu fotonya tampak mereka berfoto bertiga dengan seorang pria.Marda adalah Komandan Skadron 15 Madiun. Dia merupakan pilot yang membawa pesawat T50i ke Lanud Adisutjito untuk pertama kalinya pada Agustus 2015 sejak pesawat itu dimiliki Indonesia pada 2014.

Saat Marda terbang ke Yogya dalam rangka untuk static show di hadapan pejabat militer Thailand yang juga tertarik memiliki pesawat tersebut.T50i merupakan pesawat tempur ringan yang menjembatani ke pesawat yang berteknologi lebih canggih seperti F16 dan Sukhoi. T50i buatan Korsel dibeli Indonesia untuk menggantikan Hawk 53 buatan Inggris. Ketika Hawk 53 pensiun, Marda sempat diabadikan wartawan melakukan salam perpisahan mengharukan dengan pesawat tempur yang biasa dikemudikannya itu dengan mencium bodi pesawat itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s