Hore … Ganja Resmi Ditetapkan Sebagai Tanaman Obat Oleh Kementerian Pertanian


Kementerian Pertanian memasukkan ganja (Cannabis sativa) sebagai salah satu komoditas tanaman obat. Ketetapan ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sejak 3 Februari.

“Komoditas binaan dan produk turunananya dibina oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,” bunyi Kepmentan yang diunggah di laman resminya, Sabtu (29/8/2020).
Berdasarkan Kepmen tersebut, ganja termasuk dalam jenis tanaman obat di bawah binaan Direktorat Jenderal Holtikultura Kementan. Total ada 66 jenis tanaman obat lain termasuk di antaranya brotowali, lempuyang, sambiloto, dan kratom.

Lampiran tersebut juga memuat jenis tanaman dan hewan ternak yang masuk komoditas binaan Kementerian Pertanian. Untuk jenis buah-buahan sebanyak 60 jenis, sayuran 42 jenis, dan terbanyak tanaman hias berjumlah 361 jenis.

Ganja selama ini masuk dalam jenis narkotika golongan I menurut Undang Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. UU tersebut melarang konsumsi, produksi, hingga distribusi narkotika golongan I.

Ganja Sembuhkan Radang Paru Paru Penderita COVID-19

Tim ilmuwan di Kanada saat ini sedang menguji kemungkinan adanya senyawa yang bisa digunakan untuk melawan virus Corona di dalam ganja. Para peneliti dari University of Lethbridge di Alberta, Kanada, ini mengamati 400 jenis ganja yang 12 di antaranya memberikan harapan untuk mencegah COVID-19 masuk ke dalam sel manusia.
Mereka mengatakan, senyawa cannabidiol (CBD) dalam ganja mengandung komponen pot non-psikoaktif, yang bisa membantu menurunkan jumlah reseptor sel dari virus Corona hingga lebih dari 70 persen.

Dikutip dari Daily Mail, penelitian ini masih belum melewati uji klinis, sehingga mereka menganjurkan masyarakat agar tidak buru-buru mengkonsumsi ganja untuk mencegah COVID-19. Penelitian ini juga bekerja sama dengan perusahaan terapi ganja, yaitu Pathway Rx dan Swysh Inc. Sebagai media percobaannya, mereka membuat model manusia 3D dari jaringan oral yang memiliki sistem pernapasan dan usus. Lalu, mereka memasukkan sampel ekstrak CBD dosis tinggi yang diambil dari ganja.

Selanjutnya, para peneliti menguji efek ekstrak tersebut pada angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) yaitu reseptor yang membuat virus masuk ke tubuh. Hasilnya, ekstrak CBD ini mengurangi jumlah reseptor yang menjadi pintu COVID-19 merusak sel inang. “Sejumlah dari mereka (CBD) mengurangi jumlah reseptor (virus) hingga 73 persen, sehingga peluang masuknya COVID-19 jauh lebih rendah,” jelas Dr Igor Kovalchuk, CEO Pathway Rx sekaligus pemimpin penelitian.

“Jika bisa mengurangi jumlah reseptor, kemungkinan untuk terinfeksi virus akan jauh lebih kecil,” lanjutnya. Dr Kovalchuk menjelaskan, cannabidiol yang terkandung dalam ganja ini bisa menutup sebagian besar jalur masuk virus Corona untuk menginfeksi sel manusia. Menurutnya, hal ini bisa memberikan banyak kesempatan untuk melawan virus tersebut.

Ganja disebut dapat mencegah komplikasi parah di paru akibat infeksi virus Corona. Para peneliti telah menemukan bahwa salah satu komponen ganja dapat membantu mencegah gangguan paru yang berpotensi mematikan terkait dengan virus Corona, influenza, dan infeksi lainnya.
Studi baru, yang diterbitkan dalam Frontiers In Pharmacology, menunjukkan efek positif dari Tetrahydrocannabinol (THC). Komponen ini, dalam pemeriksaan laboratorium, melindungi paru dengan mengurangi peradangan yang disebabkan oleh infeksi.

Dikutip dari Medical Daily, para ahli menguji efek ganja pada sindrom gangguan pernapasan akut (ARDA) yang mempengaruhi lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Sindrom ini dapat menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan sesak napas, kulit kebiruan, bahkan kematian. Pandemi COVID-19 diperkirakan akan meningkatkan jumlah orang yang menderita ARDS. Komplikasi juga datang dengan peningkatan signifikan dalam sinyal di paru-paru yang disebut badai sitokin.

Pada orang dengan COVID-19 dan penyakit pernapasan lainnya, sitokin bisa menjadi proinflamasi. Hal tersebut bisa menempatkan pasien pada risiko tinggi hiperinflamasi dan kemungkinan kematian. Untuk melihat apakah ganja dapat membantu mencegah masalah tersebut, para peneliti fokus pada efek anti-inflamasi dari THC. Tim menyediakan obat yang terkandung THC pada hewan uji coba dengan ARDS untuk melihat efeknya pada peradangan di paru.

Hasil menunjukkan bahwa 100 persen kasus atau semua subjek hewan mampu menghindari gejala mematikan setelah diberi THC. Obat itu membantu mencegah kerusakan parah pada paru-paru dengan memblokir sitokin proinflamasi dan memperlambat peradangan apa pun. ARDS telah menjadi masalah serius di seluruh dunia. Studi ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan di masa depan dalam memanfaatkan ganja untuk membantu mengelola penyakit paru-paru atau infeksi.

Namun, penting untuk mengetahui bahwa temuan awal berasal dari tes dengan tikus. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami bagaimana THC bekerja melawan penyakit pernapasan dan apakah itu akan memberikan manfaat yang sama kepada pasien manusia. Badan Narkotika Nasional (BNN) menilai Keputusan Menteri Pertanian memasukkan ganja ke dalam komoditas binaan jenis tanaman obat bertentangan dengan undang-undang (UU). BNN mengingatkan, dalam Undang-Undang Narkotika, ganja dilarang ditanam.

“Yang jelas itu bertentangan dengan UU di atasnya, yaitu UU 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Karena ganja masuk golongan narkotika yang mana akar, batang, bunga, daun, minyak, dan turunannya dilarang untuk ditanam, diperdagangkan, digunakan kepentingan rekreasional dan medis,” jelas Karo Humas BNN Brigjen Sulistyo Pudjo saat dihubungi, Sabtu (29/8/2020).

Diketahui, Mentan menerbitkan keputusan Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian. Dalam keputusan tersebut, ganja termasuk dalam jenis tanaman obat di bawah binaan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan. Pudjo menilai Kepmen tersebut harus segera dianulir. “Artinya, keputusan Mentan tersebut, khusus menyangkut ganja, harus dianulir. Kita tunggu saja apa tindakan dari Mentan (Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo),” ucap Pudjo.

Pudjo lalu menerangkan selama ini Kementan satu pemikiran dengan BNN dalam hal menyikapi persoalan ganja. Bahkan antara BNN dan Kementan memiliki kerja sama program penanaman ulang ladang ganja yang dimusnahkan, untuk kemudian ditanami bibit-bibit tanaman legal, seperti jagung, kopi, dan sejenisnya. “Senin (23/8), tiga orang dari Ditjen Hortikultura, Kebun, dan Tanaman Keras rapat di BNN. Mereka hadir dan siap support replanting ladang ganja dan kratom dengan program dan bibit tanaman produktif. BNN positive thinking dan Kepmentan tidak bisa bertentangan dengan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika,” terang dia.

Sebelumnya Kementerian Pertanian (Kementan) memasukkan ganja (Cannabis sativa) sebagai salah satu komoditas tanaman obat. Ketetapan ini dituangkan dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 104/KPTS/HK.140/M/2/2020 tentang Komoditas Binaan Kementerian Pertanian yang ditandatangani Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sejak 3 Februari. “Komoditas binaan dan produk turunannya dibina oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Hortikultura, Direktorat Jenderal Perkebunan, dan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan,” bunyi Kepmentan yang diunggah di laman resminya hari ini.

Berdasarkan Kepmen tersebut, ganja termasuk dalam jenis tanaman obat di bawah binaan Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan. Total ada 66 jenis tanaman obat lain, termasuk brotowali, lempuyang, sambiloto, dan kratom. Lampiran tersebut juga memuat jenis tanaman dan hewan ternak yang masuk komoditas binaan Kementerian Pertanian. Untuk jenis buah-buahan sebanyak 60 jenis, sayuran 42 jenis, dan terbanyak tanaman hias berjumlah 361 jenis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s