RCTI Akhirnya Akui Kalah Bersaing Dengan Media Digital – Kurang Kreatif dan Terbuai Sukses Media Traditional


Sepekan kemarin, netizen ramai membahas gugatan UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran oleh RCTI dan iNews ke Mahkamah Konstitusi. Oleh karena gugatan itu, stasiun televisi swasta tersebut diserang netizen. Mereka menganggap RCTI dan iNews membatasi kebebasan berekspresi masyarakat. Namun sebagai bagian dari MNC Group, Jessica Tanoesoedibjo membantah hal tersebut.

Anak dari pasangan Hary Tanoesoedibjo dan Liliana Tanoesoedibjo selaku pemilik RCTI itu menilai masyarakat salah paham akan gugatan tersebut.

“Saya pikir Anda tidak sepenuhnya memahami konteks dari apa yang diperebutkan RCTI. Intinya bukan agar orang tidak memiliki kebebasan berbicara,” kata Jessica Tanoesoedibjo dengan bahasa Inggris di Instagram. “Melainkan kita harus (menyamakan kedudukan) antara media tradisional dan digital. Apalagi karena media digital didominasi pemain luar negeri atau asing,” sambungnya lagi.

Menurut Jessica Tanoesoedibjo, gugatan itu dibuat agar Kominfo dan DPR bisa merevisi undang-undang penyiaran yang selama ini digunakan sebagai acuan.

“Poin yang dibuat RCTI adalah agar penyiaran digital juga harus diatur (kita bukan negara yang menjunjung anarki). Tujuannya bukan sekadar menambahkan siaran digital ke dalam exit (rigid) low,” bebernya. “Melainkan agar DPR dan Kominfo mengevaluasi kembali dan menyusun rancangan undang-undang penyiaran media yang tepat yang memuat regulasi yang sesuai dan relevan untuk semua sarana penyiaran,” imbuhnya.

Jessica Tanoesoedibjo menyebut dirinya miris melihat media digital saat ini banyak didominasi oleh perusahaan asing.

“Alasan ketatnya pengaturan media tradisional oleh pemerintah adalah karena media adalah alat komunikasi massa kepada masyarakat. Jika media kita dikendalikan oleh luar negeri (termasuk platform luar negeri) maka itu akan menjadi masalah. Ini masalah nasionalisme, teman,” ujar Jessica Tanoesoedibjo.

Sebelumnya, Kemenkominfo menyebut bila gugatan dikabulkan, maka ada kemungkinan ditutupnya fitur siaran di media sosial, seperti Instagram TV, Instagram Live, dan Facebook Live. RCTI dan iNews Tv lantas menepis uji materi tersebut, bisa berimbas masyarakat tak bisa live di media sosial.

RCTI dan iNews Tv menggugat UU Penyiaran ke Mahkamah Konstitusi (MK). Gugatan dilakukan dengan harapan penyiaran yang menggunakan internet juga tunduk ke UU Penyiaran.
Gugatan tersebut menyita perhatian publik. Netizen beranggapan RCTI dan iNews ingin membatasi kreatifitas content creator.

Melihat hal tersebut, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengambil sikap. Ada tiga poin yang disampaikan KPI dalam pernyataannya yang diterima detikcom, Sabtu (29/8/2020).

Berikut pernyataan lengkap KPI soal gugatan UU Penyiaran oleh RCTI dan iNews di MK.

1. KPI mendorong pengaturan media baru dalam konteks kesetaraan perlakuan kepada seluruh industri konten.

2. KPI berkomitmen menjaga kepentingan publik untuk mendapat konten yang berkualitas sekaligus mendorong industri kreatif dalam memproduksi konten sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

3. KPI mengajak seluruh pihak untuk menghargai proses hukum yang sedang berlangsung sekaligus menjadikan topik ini sebagai wacana publik yang didasarkan pada argumentasi yang proporsional.

Sebelumnya, Kemenkominfo menyebut bila gugatan dikabulkan, maka ada kemungkinan ditutupnya fitur siaran di media sosial, seperti Instagram TV, Instagram Live, dan Facebook Live. RCTI dan iNews Tv lantas menepis uji materi tersebut, bisa berimbas masyarakat tak bisa live di media sosial.

Corporate Legal Director MNC Group, Christophorus Taufik mengatakan pihaknya tidak ingin mengkebiri kreativitas pegiat medsos. Namun menurutnya, untuk mengusung kesetaraan dan tanggung jawab moral konstitusional.

“RCTI dan iNews bukan ingin kebiri kreativitas medsos, uji materi UU Penyiaran untuk kesetaraan dan tanggung jawab moral bangsa,” kata Taufik dalam keterangan tertulis MNC Group, Jumat (28/8/2020).

“Itu tidak benar. Permohonan uji materi RCTI dan iNews tersebut justru dilatarbelakangi keinginan untuk melahirkan perlakuan dan perlindungan yang setara antara anak-anak bangsa dengan sahabat-sahabat YouTuber dan selebgram dari berbagai belahan dunia dan mendorong mereka untuk tumbuh, meningkatkan kesejahteraan mereka dan berkembang dalam tataran kekinian,” sambungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s