Demi Dongkrak Pariwisata, Warga Bali Diusir Dari Pantai Sanur


Seorang warga lokal di Bali mengunggah kekecewaan dan rasa sakit hatinya setelah mengalami pengusiran sepihak di Pantai Sanur oleh seorang staf hotel. Warga yang kemudian diketahui bernama Mirah Sugandhi ini mengaku diusir staf keamanan Hotel Puri Santrian saat dia bermain dengan anaknya di pantai yang lokasinya persis dekat hotel tersebut.

Dalam unggahannya, Mirah mempertanyakan soal privatisasi pantai yang dilakukan hotel tersebut. Logikanya, pantai menjadi area publik yang bisa diakses siapa saja, meski bukan tamu hotel tersebut. “Pantai ini kan milik publik. Ini pantai luas banget. Aku baru tahu kalo hotel bisa punya pantai. Aku masih syok dan kenapa aku diusir,” ucap Mirah di akun Instagramnya.

Sementara pihak hotel sendiri belum memberikan keterangan. Pihak resepsionis mengaku belum mengetahui secara lengkap kronologi pengusiran tersebut. Hal seperti ini sebenarnya bukan kali pertama terjadi di Bali. Pada 2019, seorang nelayan yang tengah menyandarkan kapalnya di pesisir tiba-tiba diusir seorang warga negara asing.

Dia diusir karena disebut memasuki wilayah pribadi yang diklaim merupakan bagian dari vila milik WNA tersebut. Siapa pun tak boleh mondar mandir apalagi menyandarkan perahu tanpa seizinnya. Kejadian itu sempat viral hingga memunculkan penolakan privatisasi pantai yang banyak terjadi di kawasan Bali.

Pada dasarnya, soal privatisasi pantai ini secara jelas telah diatur dan dilarang melalui Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai. Perpres ini merupakan turunan dari Undang-undang Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang telah diubah ke UU Nomor 1 tahun 2014.

Dalam penjabarannya, Perpres tersebut mengatur soal sempadan pantai yang mesti dimiliki seseorang atau perusahaan ketika membuat bangunan di pesisir pantai. Batas sempadan itu minimal sepanjang 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Untuk diketahui, sempadan pantai merupakan wilayah daratan sepanjang tepian pantai yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi pantai.

Sempadan juga secara fisik merupakan garis batas antara ruang privat bangunan dengan ruang publik yang tentunya bisa diakses siapa saja tanpa harus ada perizinan dari pemilik bangunan di dekat pantai tersebut. Namun kenyataannya kawasan pantai yang telah diatur menjadi sempadan ini justru kerap dikooptasi dan dikuasai oleh pemilik bangunan atau hotel maupun vila di wilayah pesisir pantai.

Padahal area sempadan sendiri selain berguna untuk aktivitas publik, juga berguna sebagai area kritis dalam menjaga keseimbangan kawasan alam dengan manusia.

Seorang warga di kawasan Sanur, Bali menceritakan pengalamannya diusir saat tengah bermain pasir di pantai dekat Hotel Puri Santrian. Warga lokal yang kemudian diketahui bernama Mirah Sigandhi mengaku diusir oleh staf hotel. Dia menceritakan itu lewat akun Instagram miliknya @mirahsugandhi. Mirah mengunggah beberapa potongan video dan menceritakan rasa sakit hatinya usai diusir dari pantai yang menurutnya bisa dinikmati siapa saja.

“Pantai ini kan milik publik. Ini pantai luas banget. Aku baru tahu kalo hotel bisa punya pantai. Aku masih syok dan kenapa aku diusir,” kata Mirah dikutip dari akun Instagramnya, Rabu (24/3).

Saat itu, Mirrah dan anaknya tengah bermain pasir di pinggir pantai. Tiba-tiba didatangi satpam yang langsung bertanya apakah dia tamu di hotel atau bukan. Mirah mengaku hanya warga lokal yang tengah bermain. Bukan tamu hotel yang kebetulan lokasinya persis berada dekat pantai tersebut.

“Terus gini dia bilang, jangan duduk di sini ya, kawasan hotel ini. Di pantai sebelah aja duduknya, pokoknya jangan di sini,” kata Mirah menjelaskan menirukan seseorang yang mengusirnya. Mirrah heran. Padahal Sama sekali tak menyentuh fasilitas hotel yang ada di dekat pantai. Mirrah sekadar bermain pasar dan tidak memasuki area hotel.

Terpisah, Pihak Hotel Puri Santiran, Bali mengaku belum mengetahui secara lengkap kronologi satpam mengusir warga lokal yang tengah bermain di pinggir pantai dekat hotel tersebut. Resepsionis Hotel Puri Santrian mengatakan manajemen bakal memberikan keterangan lebih rinci ihwal pengusiran satpam terhadap warga lokal yang viral di media sosial.

“Kami juga belum tahu kronologi lengkapnya, nanti pihak HRD yang akan menjelaskan. Namun saat ini yang bersangkutan belum ada di lokasi,” kata resepsionis melalui sambungan telepon, Rabu (24/3).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s