Setelah Lobi Untuk Jalur Khusus Dan Diberi … Kini Pesepeda Tetap Minta Boleh Melaju Dijalur Umum


Setelah melakukan lobi panjang dan diberikan jalur khusus, kini perseda juga minta tetap diperbolehkan melaju dijalur bukan sepeda dengan berbagai alasan pembenaran untuk sekali lagi mendapatkan perlakuakn khusus dan dispensasi. Karena menurut peseda ini bahwa kecepatan mereka mengayuh meskipun pada jarak jauh tidak cocok untuk jalur khusus sepeda yang lebarnya hanya 2 meter hingga mampu menyamai kecepatan sepeda motor. Dengan kecepatan setinggi itu maka sepeda road bike sudah seharusnya dilengkapi dengan kaca spion dan lampu sein agar tidak membahayakan pengendara lain karena sering belok tanpa melihat situasi

Polda Metro Jaya sempat menegaskan semua jenis sepeda, termasuk road bike, harus melaju di dalam lajur sepeda permanen (uji coba) di Jl Sudirman-Thamrin. Belakangan, komunitas road bike meminta keringanan supaya diperbolehkan melaju di luar jalur sepeda. Apakah Anda setuju bila road bike melaju di jalur yang sama dengan motor dan mobil? Batas kecepatan di jalur sepeda permanen (uji coba) Jl Jenderal Sudirman-MH Thamrin, Jakarta, adalah 25 km/jam. Sepeda jenis road bike biasa melaju di atas kecepatan maksimal itu.


Pada 13 Maret 2021, Dirlantas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo menegaskan semua jenis sepeda tidak dibeda-bedakan dalam pengaturan lalu lintas di jalanan terkemuka Ibu Kota itu. Road bike, meskipun bisa kencang, juga harus melaju di dalam jalur sepeda itu.

“Gini, jalur sepeda itu tidak mengenal jenis sepeda. Semua sepeda sama. Artinya, ketika sudah ada jalur sepeda yang permanen, tentu semua sepeda harus masuk ke lajur sepeda yang disiapkan. karena memang undang-undangnya berkata seperti itu. Tidak dibeda-bedakan jenis jalur sepedanya,” ujar Kombes Sambodo saat ditemui di Subdit Gakkum saat itu.

Sepekan kemudian, 26 Maret 2021, Kombes Sambodo menyampaikan bahwa komunitas pesepeda road bike telah meminta polisi untuk memberikan keringanan agar mereka bisa melaju di luar jalur sepeda permanen. Mereka meminta agar bisa gowes di lajur yang lebih luas itu pada pagi hari.

“Ada masukan minta penggemar road bike diberi dispensasi di jam tertentu, setelah itu semua harus masuk,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo kepada wartawan, Jumat (26/3/2021).

Polisi memikirkan pukul 05.00-07.00 WIB sebagai waktu yang baik. Pada jam-jam tersebut, pesepeda road bike bisa melajukan tunggangannya di lajur umum. “Ini masih kita pikirkan, misalnya jam 5-7 pagi kita beri dispensasi sepeda berkecepatan tinggi tidak lewat jalur sepeda,” imbuh Sambodo. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria menanggapi soal aspirasi para road biker. Dia menyerahkan keputusan kepada Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI. Namun aspirasi itu tetap dia hargai.

“Tentu permintaan itu kami hormati dan kami hargai, nanti biar Polri dengan Dishub yang memutuskan, dimungkinkan atau tidak koridor itu dibuat dalam rangka mengatur keamanan ketertiban dan arus lalu lintas,” kata Riza di JPO Pasar Baru, Jakarta Pusat, Sabtu (27/3/2021).

Komunitas pesepeda road bike meminta dispensasi untuk menggunakan jalan di luar jalur sepeda permanen. Komunitas pesepeda road bike meminta diberikan waktu pada jam-jam tertentu untuk melintas di luar jalur sepeda permanen. Permintaan itu disampaikan komunitas pesepeda road bike dalam forum focus group discussion (FGD) di Hotel Kartika Candra, Jaksel, kemarin. Kegiatan ini dihadiri sejumlah komunitas pesepeda dan juga lembaga pemerhati transportasi hingga Dishub DKI Jakarta.

“Ada masukan minta penggemar road bike diberi dispensasi di jam tertentu, setelah itu semua harus masuk,” kata Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Sambodo Purnomo Yogo kepada wartawan, Jumat (26/3/2021).

Terkait hal itu, Sambodo mengatakan pihaknya akan melakukan kajian untuk pengaturan waktu dan sebagainya. “Ini masih kita pikirkan misalnya jam 5.00 sampai 7.00 pagi kita beri dispensasi sepeda berkecepatan tinggi tidak lewat jalur sepeda,” imbuh Sambodo. Volume kendaraan di Sudirman-Thamrin menjadi salah satu faktor pertimbangan pengaturan jam berapa road bike bisa keluar jalur sepeda permanen.

“Begitu jam 7.00 semua sepeda tanpa kecuali harus masuk lajurnya karena jam 7.00 pagi ke atas itu arus lantas volumenya sudah cukup tinggi,” terang Sambodo.

Sambodo menambahkan nantinya dalam waktu dekat pihaknya juga akan menggelar pertemuan dengan sejumlah pakar hukum untuk membahas perihal penindakan bagi pelanggar pesepeda.

“Sebelum penindakan kita akan rapat lagi mengundang CJS (criminal justice system) pengadilan, pakar hukum, soal bagaimana mekanisme tilang terhadap pesepeda,” sambungnya. Akhir-akhir ini bermunculan pesepeda yang keluar dari jalur sepeda permanen, terutama komunitas yang melakukan peleton.

Laju road bike memang cenderung lebih cepat ketimbang sepeda jenis lainnya. Kadang-kadang kecepatan road bike menyamai kecepatan sepeda motor dan karenanya sangat tidak aman terutama dengan tidak adanya lampu zein dan spion.

Salah satu road biker bernama Faisal (29) menjelaskan menggunakan jalur sepeda di Jl Jenderal Sudirman-MH Thamrin bila ingin bersantai. Namun, jika ingin gowes bersama kawan road biker-nya, istilahnya ‘peletonan’, Faisal memilih di luar jalur.

“Sebenarnya kalau santai enak di jalur sepeda ini, tapi kalau buat kayak peleton barengan, enakan di luar jalur. Ya karena kan kalau peleton biasanya cepat (lajunya) kan. Jadi kalau yang jalur sepeda, biasa banyak seli (sepeda lipat), jadi agak terhalang, jadi agak lambat gitu,” ujar Faisal saat ditemui di lokasi, Sabtu (13/3/2021).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s