Category Archives: Aksi Kepahlawanan

Ahok Tidak Libatkan Rakyat Kecil Nelayan, Hakim Perintahkan Gubernur Cabut Izin Reklamasi Pulau G Yang Diterbitkan Ahok


Majelis hakim meminta Gubernur DKI untuk mencabut izin reklamasi Pulau G. Ada lima alasan yang mendasari keputusan majelis hakim ini.

  1. “Tidak dicantumkannya UU 27 Tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesiri dan pulau-pulau kecil,” ujar hakim Adhi Budi Sulistyo membacakan putusan sidang di PTUN Jakarta, Pulogebang, Jaktim, Selasa (31/5/2016). Keputusan hukum yang digugat adalah Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta bernomor 2238/2014 tentang Pemberian Izin Reklamasi Pulau G oleh PT Muara Wisesa sebagai pihak pengembang.
  2. Alasan kedua, dalam surat keputusan Gubernur tersebut dicantumkan mengenai rencana zonasi.
  3. Alasan ketiga, penyusunan Amdal dalam pemberian izin tersebut tidak partisipatif melibatkan nelayan.
  4. “Keempat, tidak sesuai dengan pengadaan lahan untuk kepentingan umum yang sesuai dengan UU no 2 Tahun 2012,” ujar Adhi.
  5. Alasan kelima, hakim menilai izin reklamasi tersebut akan menimbulkan banyak dampak buruk untuk lingkungan, sosial, dan ekonomi serta menganggu objek vital.

Hakim PTUN Jakarta meminta Gubernur DKI mencabut izin reklamasi Pulau G. Putusan hakim ini disambut sorak syukur pengunjung sidang. “Allahuakbar,” kata seorang pengunjung usai pembacaan putusan di PTUN, Jaktim, Selasa (31/5/2016). Pengunjung lainnya ikut menirukan lafal takbir tersebut. Mereka berdiri. Ada juga yang berpelukan satu sama lain. Keriuhan juga terjadi di luar ruang sidang. Sejumlah pengunjung langsung berorasi.

“Tolak reklamasi sekarang juga,” kata seorang pengunjung. Majelis hakim menyatakan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta bernomor 2238/2014 tentang Pemberian Izin Reklamasi Pulau G oleh PT Muara Wisesa tidak sah. Surat keputusan itu harus dicabut. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), salah satu elemen yang ikut menggugat izin reklamasi Pulau G menyambut senang putusan PTUN. Putusan hakim memenangkan gugatan Walhi dkk atas izin reklamasi yang diterbitkan Gubernur DKI Basuki T Purnama atau Ahok.

“Jelas mulai detik ini nggak boleh ada reklamasi,” jelas Perwakilan Walhi, Nursatyahat Prabu di PTUN DKI Pulogebang, Jakarta Timur, Selasa (31/5/2016). Menurut Prabu, yang sedang digugat oleh Walhi dkk adalah izin reklamasi yang dikeluarkan Ahok. “Jadi yang kita gugat keputusan rekalamasi itu. Siapapun yang melakukan reklamsi dengan seizin gubernur itu tidak sah sekarang. Kalau mau mengambil alih itu urusan lain tapi jangan direklamasi. Karena reklamasi yang kita gugat izin reklamasi itu. Tidak prosedur, melanggar UU. Artinya secara legal reklamasi salah, kalau setelah ini mau diambil pemprov itu prinsipnya lain,” tegas dia.

Menurut dia, Pulau G yang sudah dibatalkan izinnya, apabila kemudian diambil Pemprov DKI, harus juga ada aturannya. “Kalau diambil alih artinya ada skenario lain. Kalo mau diambil dengan apa? Apakah sesuai dengan apa? Kita belum liat skenario itu,” tegas dia. Sidang gugatan terhadap izin reklamasi Pulau G di kawasan Teluk Jakarta memasuki babak terakhir. Hakim PTUN Jakarta menerima gugatan pihak nelayan dan meminta izin reklamasi dicabut. “Mengabulkan gugatan para penggugat 5 orang nelayan teluk Jakarta,” ujar Hakim Adhi Budi Sulistyo membacakan putusan sidang di PTUN Jakarta, Pulogebang, Jaktim, Selasa (31/5/2016).

Keputusan hukum yang digugat adalah Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta bernomor 2238/2014 tentang Pemberian Izin Reklamasi Pulau G oleh PT Muara Wisesa sebagai pihak pengembang. Adhi menyatakan surat keputusan Gubernur 2238/2014 kepada PT Muara Wisesa tidak sah. Gubernur pun diminta pengadilan untuk mencabut surat itu. “Memerintahkan tergugat untuk mencabut surat putusan itu,” kata Adhi.

Gugatan terhadap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini dilayangkan oleh Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta yang terdiri dari sejumlah organisasi seperti Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, dan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta. Ketua Bidang Pengembangan Hukum dan Pembelaan Nelayan KNTI, Martin Hadiwinata menyatakan optimistis terkait hasil putusan sidang gugatan. Pasalnya pemprov dinilai tidak berwenang mengeluarkan izin reklamasi di Teluk Jakarta.

Daftar Nama Anggota Polri Yang Dapat Penghargaan Karena Jasanya Pada Teror Bom Thamrin


apolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti memberikan penghargaan kepada 16 anggota Polri di sela-sela Rapim Polri 2016. Penghargaan tersebut diberikan kepada anggota Polri yang berjasa saat peristiwa teror bom dan penembakan di Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1) lalu). Penghargaan tersebut diberikan setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Kapolri No: KEP/68/1/2016 tanggal 24 Januari 2016 soal pemberian penghargaan pada 16 anggota Polri yang berjasa di kasus bom Thamrin.

Penghargaan yang diberikan kepada ke 16 anggota Polri ini berupa kenaikan pangkat satu tingkat, selain itu juga pin perak dan pin emas. Mereka semua diberi penghargaan karena terlibat langsung melumpuhkan teroris atau menjadi korban dalam peristiwa tersebut. “Termasuk lima anggota kami yang jadi korban Thamrin juga dapat penghargaan, semoga cepat diberi kesembuhan,” kata Badrodin dalam pidatonya di acara Rapim di Gedung PTIK, Kebayoran Baru, Selasa (26/1/2016).

Berikut nama ke-16 anggota Polri yang mendapat penghargaan:

1. Aiptu Deni Mahieu, anggota Satgatur Ditlantas Polda Metro Jaya mendapat kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi menjadi Ipda.

2. Aiptu Suhadi, anggota Satgatur Ditlantas Polda Meto Jaya mendapat kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi menjadi Ipda.

3. Aiptu Dodi Maryadi, anggota Satlantas Polres Jakarta Pusat mendapat kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi menjadi Ipda.

4. Aiptu Budiono, anggota Propam Polres Jakarta Pusat mendapat kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi menjadi Ipda.

5. Brigadir Suminto, anggota Satgatur Ditlantas Polda Metro Jaya mendapat kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi menjadi Bripka.

6. Kombes Martuani Sormin, Karoops Polda Metro Jaya mendapat pin emas.

7. AKBP Ahmad Untung S, Pamen Pusdikpolair Lemdiklat Polri mendapat pin emas.

8. AKBP Dedi Tabrani, Kapolsek Menteng mendapat pin emas.

9. IPDA Tamat Suryani, Gadik Penyelia Pusdikpolair Lemdiklat Polri mendapat pin emas.

10. Bripda Wiliyansyah, driver Karoops Polda Metro Jaya mendapat pin emas.

11. Aiptu Purwanto, Satsabhara Polres Jakarta Pusat mendapat pin perak.

12. Brigadir Fery Aldunan Afriandi, Satsabhara Polres Jakarta Pusat mendapat pin perak.

13. Brigadir Heryanto Panjaitan, Satsabhara Polres Jakarta Pusat mendapat pin perak.

14. Brigadir Tris Haryono anggota Polsek Menteng mendapat pin perak.

15. Briptu Muhammad Mustaqim, Ba satsabhara Polres Jakarta Pusat mendapat pin perak.

16. Briptu Andrian Nurdiawan, Ba Satsabhara Polres Jakarta Pusat mendapat pin perak.

Kisah Kepahlawanan TNI Di Belantara Irian Barat 52 Tahun Lalu


Semua bermula dari pidato Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961 di alun-alun Yogyakarta. Soekarno menyerukan Komando Rakyat untuk membebaskan Irian Barat, yang sekarang menjadi Papua dan Papua Barat. Inilah awal dari peristiwa 52 tahun lalu, yang pada hari ini kita sebut sebagai Tri Komando Rakyat alias Trikora. Wujud pelaksanaan perintah Presiden yang juga adalah Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia, nama untuk Tentara Nasional Indonesia pada saat itu, adalah operasi pembebasan Irian Barat. Pelaksanaannya berupa infiltrasi dari udara.

Lebih dari 500 prajurit Pasukan Gerak Tjepat (PGT), cikal bakal Korps Pasukan Khas Angkatan Udara (Korpaskhas TNI AU), diterjunkan ke hutan belantara Irian Barat sejak April hingga Agustus 1962. Mereka diangkut secara bertahap menggunakan pesawat C-47 Dakota dan C-130B Hercules. Pasukan pertama PGT diterjunkan melalui Fakfak dan Kaimana pada 26 April 1962. Kisah para pejuang yang dimulai tepat 52 tahun silam ini dikemas oleh Majalah Angkasa bekerja sama dengan Paguyuban Baret Jingga, menjadi sebuah buku bertajuk “52 Tahun Infiltrasi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) di Irian Barat”.

Eksklusif
Wartawan Majalah Angkasa, Beny Adrian, menghidupkan lagi kisah infiltrasi tersebut dari wawancara eksklusif dengan para veteran Trikora. Di dalamnya, Beny menuturkan kisah para prajurit itu bertahan dari buruan penjajah di pedalaman belantara Irian Barat. Beny yang juga adalah Redaktur Pelaksana Majalah Angkasa ini mengungkapkan, tujuan penulisan dan penerbitan buku ini adalah agar sejarah para pahlawan Trikora terus hidup. “Saya berharap kisah operasi para pahlawan ini bisa dikenang terus dan jangan sampai hilang,” kata Beny dalam peluncuran buku ini, Jumat (25/4/2014) malam.

Peluncuran buku digelar di Gedung Griya Ardhya Garini, di kompleks TNI Angkatan Udara, Halim Perdanakusuma, Makasar, Jakarta Timur. “Dalam buku ini, ada remah-remah cerita mereka, betapa sulit dan bagaimana mereka bertahan di bumi Irian Barat,” imbuh Beny. Dia menyatakan, buku ini juga bagus untuk para sejarawan maupun penggemar dunia militer yang antusias.

Deputi GM Publising II Special Interest Media Gramedia Pustaka Utama, Oktavianus Devy Situmorang, mengatakan buku tersebut bisa disebut langka karena ditulis berdasarkan kesaksian langsung para veteran. Buku ini, imbuh dia, memuat inspirasi berupa kisah para pahlawan. “(Apalagi) tidak banyak buku yang memaparkan pahlawan dari TNI Angkatan Udara,” kata Devy, dalam sambutannya.

Kepala Staf TNI Angkatan Udara, Marsekal Ida Bagus Putu Dunia mengatakan, terbitnya buku tersebut tidak hanya membanggakan TNI AU tetapi juga mengingatkan perjuangan para pahlawan. Semangat heroisme dan nasionalisme saat itu, ujar Dunia, akan sangat baik untuk dipahami masyarakat. “Tentu sangat bagus dalam upaya membangun karakter bangsa sehingga semangat menjaga negeri ini tidak akan hilang ditelan zaman,” ujar Dunia.

Kerja Keras Densus 88 Menangkap Teroris Ternyata Menjadi Inspirasi Bagi Anak Anak Untuk Menjadi Polisi dan TNI


Penyerbuan anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror, Kepolisian RI, untuk meringkus seorang terduga teroris bukan cuma menyisakan kaca jendela yang pecah ataupun lubang-lubang peluru di satu rumah di lingkungan Perumahan Taman Anyelir 2, Kalimulya, Cilodong, Depok.

Pengintaian dan pengepungan yang dilakukan hingga naik ke atap rumah itu ternyata meninggalkan kesan yang dalam di benak bocah-bocah disana. “Keren ya kemarin itu,” kata Egan Putrawan, 9 tahun, Jumat 7 September 2012.

Hari itu Tempo mendapati Egan dan teman-temannya sedang asik membahas kejadian Rabu pagi buta 5 September 2012 itu. Densus 88 dan teroris jadi trending topic buat mereka. Sambil sesekali saling menembak dengan aneka senjata mainan, mereka berteriak, “Kamu teroris ya.”

Anak-anak itu bermain sekitar 200 meter dari lokasi penangkapan Firman, seorang pemuda yang baru datang ke rumah keluarga tantenya, Mpong Saodah, di kompleks perumahan itu pada Selasa malam. Polisi menduganya terkait dengan teroris yang menembaki dan menyerang polisi di Solo, Jawa Tengah.

Firman disergap anggota Densus 88 di rumah Mpong di Blok E 1 nomor 1 Rt 02/10. “Seperti dalam film, banyak polisi pegang senjata besar,” kata Egan.

Kejadian penangkapan itu membuat Egan semakin ingin menjadi polisi saat besar nanti. Rekannya, Azar Wijaya, 7 tahun, juga mengagumi para aparat yang datang ke kampungnya itu. Sambil menenteng senjata replika AK 47 dari plastik, bocah itu mengatakan, “Saya mau jadi TNI AL.”

Setelah peristiwa penggerebekan itu sendiri kompleks Perumahan Taman Anyelir 2 masih dijaga polisi. Ada lebih dari 50 anggota dari kepolisian setempat yang hilir mudik diantara sudut-sudut dan rumah yang digerebek. Beberapa menentang senjata laras panjang yang membuat Egan, Azar dan yang lainnya semakin heboh.

Anggota Kopassus Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan Terima Sejumlah Penghargaan Atas Aksi Heroiknya


Senyuman tampak di wajah Is (31), korban kasus perampasan dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C 01.

Is hari ini mendatangi Markas Komando Pasukan Khusus (Makopassus) Cijantung, tak lain untuk bertemu sang penyelamat, Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24), dan mengucapkan terima kasih kepada anggota Kopassus itu atas pertolongan terhadapnya.

“Saya mengucapkan syukur dan terima kasih. Saya sudah lebih baik, agak trauma kalau mau berangkat naik angkot. Kalau tidak ada Bang Nicolas, saya tidak tahu lagi bagaimana,” ujar Is kepada wartawan, saat berdiri di samping Serda Nicolas, di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012).

Ketegaran masih ada padanya, walaupun pengalaman pahit, Senin (23/7/2012) malam, masih membuatnya trauma. Berkat pertolongan Nicolas, Is terselamatkan dari niat jahat para pelaku yang mencoba memperkosanya.

Nicolas yang saat kejadian bersama tunangannya, mengejar para pelaku yang mencoba memperkosa Is. Karena merasa dikejar, pelaku kemudian mendorong Is dengan paksa keluar dari dalam angkot, di depan Gedung Mahkamah Agung, Jalan Merdeka Utara, Jakarta Pusat.

Nicolas bersama tunangannya kemudian mengutamakan menyelamatkan korban, yang saat itu sudah terduduk di pinggir jalan, dalam keadaan menangis dan shock akibat perbuatan para pelaku.

“Yang melandasi saya menyelamatkan wanita itu juga dari tunangan saya. Saya tidak pikir risiko tentang saya, saya cuma pikirkan, dia itu harus selamat,” ujar Nicolas, Serda penembak runduk (sniper) Satuan 81 Kopassus itu.

Saat mendatangi Makopassus, Is yang ditemani ayah kandungnya, Rugio (63), dan Makmur Zakaria, Ketua RW 03 Kelurahan Tanah Tinggi, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, turut membawa sebuah tanda terima kasih. Yakni berupa bingkai penghargaan yang diberikan langsung kepada Nicolas, yang berasal dari ketua RW.

Is juga berpesan terhadap sesamanya wanita yang menggunakan angkutan umun dalam beraktivitas agar tetap berhati-hati sehingga kejadian serupa yang dialaminya tak terulang lagi.

“Di dalam angkot jangan di belakang, duduk di depan sopir atau di belakang sopir. Usahakan naik yang penuh yang rame, tapi jangan yang cowok semua,” tutupnya.

Seperti diberitakan, seorang karyawati berinisial Is (31), warga Johar Baru, Jakarta Pusat berhasil selamat dari upaya pemerkosaan di dalam angkutan kota (angkot). Is adalah korban kasus pencurian dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C 01 jurusan Cileduk-Senen, pada Senin (23/7/2012) malam lalu.

Is kemudian diselamatkan Nicolas, seorang anggota Kopassus yang saat kejadian bersama tunangannya sedang mencari tiket untuk pulang ke Papua. Sementara itu, dari kelima pelaku, saat ini tiga orang yang sudah tertangkap. Sedangkan dua pelaku lainnya masih buron.

Sersan Dua (Serda) Nicolas Sandi Harewan (24), anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus), menerima sejumlah penghargaan atas aksinya mencegah terjadinya tindak kejahatan terhadap karyawati di dalam mikrolet C-01, Senin (23/7/2012) lalu.

Hari ini, Jumat (27/7/2012), Nicolas mendapat kunjungan dari Is (korban) dan orangtuanya di Markas Komando Pasukan Khusus (Makopassus), Cijantung, Jakarta Timur. Nicolas mendapat penghargaan yang diserahkan langsung oleh korban. Is juga menyampaikan ucapan terima kasih kepadanya karena telah berusaha menolong Is saat berada di dalam angkot C-01.

“Saya sangat berkesan dan ini sangat luar biasa. Saya bersyukur, mengucapkan banyak terima kasih sudah menghargai saya sebagai penolong. Menolong dia (korban) memang sudah kewajiban saya,” ujar Nicolas kepada wartawan saat mendapat kunjungan korban beserta orangtuanya di Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012).

Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto juga mengundang Nicolas dan memberikan penghargaan kepadanya. Adapun dari Kopassus, Danjen Kopassus Mayjen TNI Agus Sutomo juga menyampaikan penghargaan kepada sang prajurit.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh ayah korban, Rugio (63), yang menemani anaknya dalam kunjungan ke Makopassus. Berkat pertolongan Nicolas, putrinya bisa selamat dari percobaan pemerkosaan. “Saya mengucapkan terima kasih atas pertolongannya Bapak Nicolas karena sudah menyelamatkan anak saya,” ujar Rugio yang mengetahui kejadian itu melalui televisi.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo rencananya juga menjanjikan tiket perjalanan kepada Nicolas untuk pulang ke Jayapura, Papua. Saat ini Nicolas sedang menjalani cuti untuk kembali ke tanah kelahirannya itu.

“Saya kira kita perlu beri penghargaan kepada beliau (Nicolas). Saya sudah memberikan perintah pada Kadishub untuk beri penghargaan kepada beliau. Nanti akan kita berangkatkan ke Papua, secepatnya,” kata Fauzi Bowo kepada Kompas.com saat buka puasa bersama warga di Masjid Jami Baitussalam, Kompleks Paspampres, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (26/7/2012).

Sementara itu, ketika ditanya wartawan mengenai tanggapan keluarga di Papua, Nicolas mengatakan bahwa keluarganya telah mengetahui aksi penyelamatan yang dilakukannya. “Perasaan keluarga di Papua sangat bangga dan terharu,” kata penembak runduk (sniper) Satuan 81 antiteror Kopassus itu.

Nicolas dan tunangannya, Anita, berada tak jauh dari angkot C-01 yang ditumpangi Is pada Senin malam saat kejadian. Begitu mendengar teriakan minta tolong Is dari dalam angkot, Nicolas yang berboncengan dengan sepeda motor dengan tunangannya langsung mengejar angkot jurusan Ciledug-Kebayoran Lama itu. Tindakan Nicolas itu akhirnya membuat para pelaku kejahatan di dalam angkot tersebut menurunkan paksa Is di depan gedung Mahkamah Agung, Jakarta Pusat.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo menyatakan Pemkot DKI akan memberi penghargaan kepada Sersan Dua Komando Pasukan Khusus TNI-AD Satuan 81, Nicholas Sandi. Foke menganggap Nicholas patut jadi teladan dalam menjaga keamanan Ibu Kota.

“Saya kira kami perlu beri penghargaan kepada beliau,” katanya usai menghadiri buka puasa di Masjid Baitus Salam, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis, 26 Juli 2012.

Foke mengimbau warga Jakarta dan semua pihak meniru tindakan heroik Nicholas. “Saya kira ini contoh yang patut ditiru oleh banyak pihak yang bisa melaksanakan upaya seperti itu, kalau saja mereka mau,” ucap dia. Tindakan Nicholas dianggap bentuk kontribusi nyata warga dalam memelihara keamanan Jakarta.

Penghargaan buat Nicholas akan diberikan melalui Dinas Perhubungan. Foke mengisyaratkan, bentuknya adalah tiket pulang-pergi kepada Nicholas ke kampung halaman di Papua. “Saya sudah memerintahkan Dishub untuk memberi penghargaan kepada beliau. Saya dengar, beliau katanya ingin sekali kembali ke kampung halamannya. Nanti kita akan berangkatkan ke Papua secepatnya,” kata Foke.

Nicholas menggagalkan upaya perampokan dan pemerkosaan di angkutan kota C01 jurusan Ciledug-Kebayoran Lama. Malam itu, dia sedang mencari tiket pulang bersama tunangannya, Anita Lusiana. Tiba-tiba di Lapangan Banteng sebuah angkot melaju kencang mendahuluinya. Ia lalu mengejar karena merasa mendengar suara wanita minta tolong dari angkot tersebut. Ia juga curiga dengan lampu dalam angkot yang gelap.

Nicholas berhasil mengejar dan mengiringi angkot dari sisi kanan dan membentak sopir. Dia minta sopir untuk berhenti. Merasa perintahnya tak digubris, Nicholas kemudian menggedor angkot tersebut. Namun, angkot malah melaju makin kencang.

Panik aksinya tercium, pelaku lantas melempar korban keluar dari angkot di depan gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara. Nicholas dan tunangannya menolong korban. Mereka membawa korban ke Pos Polisi Gambir untuk melaporkan kejadian tersebut. Malam itu juga ketiganya diperiksa di Polres Jakarta Pusat hingga menjelang Subuh.

Senyum semringah tampak menghiasi wajah Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24). Dengan sabar, ia meladeni permintaan foto bersama para wartawan di halaman Gedung Sarwo Edi, Kopassus, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (27/7/2012) siang.

Maklum saja, beberapa hari terakhir, pemuda asal Papua tersebut tengah menjadi sorotan. Bukan karena joget dan nyanyian merdu ala mantan anggota Brimob Gorontalo Briptu Norman Kamaru, popularitasnya meroket setelah menyelamatkan seorang karyawati, IS (31), dari percobaan perkosaan dan perampokan di dalam angkutan umum.

Dalam semalam, kehidupannya pun mulai dipenuhi sorot kamera. Meski demikian, ia mengaku tak ada yang berubah dari dalam dirinya. Penyelamatannya tersebut hanya dianggap tugas semata.

“Tanggapan saya, ya biasa-biasa saja, saya memang dilatih seperti itu, jadi ya biasa saja,” ujarnya kepada Kompas.com sambil berjalan kembali menuju baraknya.

Sementara mengenai wajahnya yang kerap muncul di berbagai media masa cetak dan elektronik, ia enggan menyamakan dirinya dengan “pendahulunya”, Briptu Norman.

“Saya beda, saya kan istilahnya menyelamatkan orang. Jadi saya tidak ada pamor,” lanjutnya.

Di akhir obrolan, pemuda yang lulus seleksi tentara tahun 2008 dan lulus pelatihan tentara di Bogor, Jawa Barat, tanggal 20 Agustus 2009 tersebut, mengutarakan pesannya kepada kaum muda. Ia berharap kaum muda Indonesia bisa hidup rukun dan saling menjaga. “Saling membantu orang-orang yang ada dalam kesulitan,” lanjutnya sambil tersenyum.

Kembali ia mengungkapkan, peristiwa tersebut tidaklah membuat hidupnya berubah. Ia tetap menjadi prajurit yang setia bertugas berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Benar, tetap biasa saja kok. Saya kan prajurit,” yakinnya.

Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan IS, wanita yang diselamatkannya dari tangan lima penjahat. Pria yang menargetkan untuk menikah tahun 2014 ini diberikan piagam sebagai ucapan terima kasih oleh sang korban atas aksi heroiknya.

Setelah acara selesai, ia tetaplah menjadi prajurit. “Siap…siap…siap…komandan,” tegasnya saat diberikan wejangan oleh salah seorang komandannya. Jauh dari sorotan kamera para pewarta yang telah beranjak meninggalkan halaman gedung tersebut.

Sersan Dua Nicolas Sandi Harewan (24), anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang menyelamatkan Is (31), korban kasus pencurian dan kekerasan serta percobaan pemerkosaan yang dilakukan di dalam Mikrolet C01 jurusan Senen-Ciledug pada Senin (23/7/2012) malam, menceritakan kronologi penyelamatan yang dilakukannya.

“Pada malam itu, saya bersama tunangan sedang mencari tiket untuk pulang ke Papua. Saya sedang mengambil cuti saat ini. Kemudian tepatnya sekitar pukul 22.45, saat saya sedang mengendarai sepeda motor, ada angkot yang melewati saya dengan kecepatan tinggi, kemudian dari dalam ada suara teriakan wanita minta tolong,” ujarnya bercerita, saat ditemui Kompas.com, di Kantor Penerangan Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (25/7/2012).

Nicolas mengatakan, dengan refleks dia kemudian mengejar angkot tersebut karena instingnya merasa telah terjadi pelanggaran tindak kriminal saat itu. Kondisi di dalam angkot dikatakannya dalam keadaan gelap karena lampu bagian dalam dimatikan. Ia sempat melihat lima pelaku, dua di depan, dan tiga orang di belakang.

“Saya ikuti angkot itu, kira-kira jarak tiga meter, saya lihat nomor polisinya saya hafalkan,” ujarnya.

Sampai di depan Makostrad di Gambir, Jakarta Pusat, katanya, angkot tersebut masuk jalur busway, dan sempat terhenti karena ada sebuah taksi di depannya. “Ada taksi yang menghalangi angkot itu. Angkot berhenti saya dekati. Saya lempar pake helm, hanya tidak kena,” kata Nicolas.

Kembalilah terjadi aksi pengejaran. Tepat di depan Gedung Mahkamah Agung, di Jalan Merdeka Utara, korban telah dilempar oleh para pelaku di pinggir jalan.

“Waktu itu korban sudah di pinggir jalan, dalam keadaan terduduk, lagi nangis. Dalam keadaan shock berat, kerah bajunya sudah ke samping, tasnya juga sudah dalam keadaan acak. Saya coba tenangkan. Saya bilang ‘Mbak tidak usah takut, Mbak sudah aman sekarang’,” ungkap penembak runduk (sniper) Satuan 81 Antiteror Kopassus itu.

Pelaku saat itu sudah keburu kabur, Nicolas bersama tunangannya mengutamakan menyelamatkan korban. Saat itu, Nicolas kemudian menyetop taksi dan meminta tunangannya menemani korban. “Saya sama tunangan bawa korban ke Polsubsektor Gambir. Di sana saya diminta ke Polres Metro Jakarta Pusat untuk jadi saksi, saya dimintai keterangan dari jam 12 sampai jam 3 (Selasa dini hari)” tuturnya.

Ketika ditanya, perasaannya menyelamatkan korban, dia mengatakan hanya mengikuti instingnya. “Semua orang bisa jadi penolong. Saya sebagai anggota Kopassus sudah menjadi tugas. Kalau perasaan saya, biasa-biasa saja,” katanya.

Seperti diberitakan Kompas.com, seorang karyawati berinisial Is (31), warga Johar Baru, Jakarta Pusat, selamat dari upaya pemerkosaan di dalam angkutan kota (angkot). Dari lima pelaku, baru satu pelaku atas nama Ari Anggara telah diamankan. Sementara itu, empat pelaku lainnya saat ini masih menjadi buron.

Kisah Heroik Kopassus Serda Nicolas Sandi Selamatkan Karyawati yang Nyaris Diperkosa Oleh Sopir Angkot


Anggota Kopassus Sat-81 Serda Nicolas Sandi

Anggota Kopassus Sat-81 Serda Nicolas Sandi

Saat memacu motornya di malam nan sunyi, anggota Kopassus Serda Nicolas Sandi (24) mendengar teriakan perempuan meminta tolong dari angkot C01 yang melintas di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Ia mengejar angkot itu dan meminta si sopir menurunkan karyawati yang nyaris diperkosa itu. Nicolas ketika itu tengah berboncengan bersama sang kekasih di kawasan itu, Senin 23 Juli sekitar pukul 23.00 WIB. “Saat itu anggota TNI Serda Nicolas dari satuan Kopassus sedang melintas di Merdeka Utara. Lalu, dia mendengar ada suara minta tolong,” kata Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Rahmat, di Mapolres Jakarta Pusat, Jl Kramat Raya 61, Jakarta, Selasa (24/7/2012).

Rahmat mengatakan Nicolas langsung mengejar angkot berupa Daihatsu Gran Max bernopol B 1106 VTE warna putih tersebut. Nicolas memepet angkot dan menarik tangan sang sopir hingga keluar dari jendela. Ia menggertak sopir itu supaya segera menurunkan si karyawati. Di dalam angkot, ada 4 rekan si sopir yang diketahui berinisial T yang diduga melakukan percobaan perkosaan dan perampokan terhadap karyawati yang hendak pulang kerja dan naik angkot itu dari Benhil tersebut.

“Jadi angkotnya dikejar, lalu sopirnya dipegang tangannya. Karena takut, sopir angkot itu langsung menurunkan korban,” ujar Rahmat. Nicolas, lanjut Rahmat, meminta pacarnya menolong karyawati yang didorong dari angkot. Sopir dan 4 rekannya langsung tancap gas. Nicolas kemudian menuju Pos Polisi Merdeka Barat. “Habis melapor, dia bersama anggota Patko Polsek Gambir langsung mengejar pelaku,” ungkap Rahmat.

Nicolas dan aparat kepolisian mengejar kawanan cabul itu. 4 Rekan sopir angkot kabur dengan cara meloncat dari angkot. “4 pelakunya kabur, mereka loncat dari angkot di sekitaran Monas, dan petugas tetap mengejar angkot itu,” paparnya. Sedangkan sopir angkot, T, langsung ditangkap polisi bersama Serda Nicolas di daerah Dukuh Atas. T kini dijebloskan ke tahanan Mapolres Jakpus. Sedangkan 4 pelaku lainnya masih dikejar polisi.

Sopir angkot C01, yang berkomplot dengan 4 rekannya untuk melakukan percobaan pemerkosaan dan perampokan, terhadap karyawati di Lapangan Banteng, Jakpus, merupakan sopir tembak. Saat ini sopir tersebut ditahan di Mapolres Jakarta Pusat. Menurut Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Rahmat, T hanya menjadi sopir tembak pada malam hari. “Dia cuma narik pada malam hari, tidak ada izin untuk kendarai angkutan umum juga,” jelas Rahmat di Mapolres Jakarta Pusat, Jl Kramat Raya 61, Jakarta, Selasa (24/7/2012). Rahmat mengatakan, T pernah melakukan aksi serupa di daerah lain. Saat itu, T berhasil merampok penumpangnya. “Dia pernah mencoba melakukan perampokan tapi bukan di wilayah Jakpus. Kapan dan di mananya belum diketahui,” sambung Rahmat.

Sebelumnya, seorang karyawati nyaris diperkosa di dalam angkot C01 dengan nopol B 1106 VTX di Jl Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, semalam. Ada anggota TNI yang mendengar teriakan korban sehingga aksi pelaku gagal. Seorang pelaku akhirnya berhasil ditangkap dan diserahkan ke Polres Jakarta Pusat. Pelaku berinisial T lalu dijerat pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Seorang pelaku lainnya telah mengambil telepon seluler milik korban. Empat rekan T buron.

Anggota Kopassus Sat-81 Serda Nicolas Sandi (24) akhirnya muncul. Dia menjelaskan soal kronologi kejadian percobaan pemerkosaan karyawati di angkutan umum C01 di Jl Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Serda Nicolas dihadirkan oleh jajaran Kopassus di kantor penerangan Markas Komanda Pasukan Khusus di Cijantung, Jakarta Timur, Rabu (25/7/2012). Dia mengenakan seragam Kopassus lengkap berbaret merah.

Sambil duduk di ruangan dan menebar senyum kepada Penerangan Kopassus, Mayor inf Ahmad Munir, Nicolas menceritakan kejadian yang berlangsung Senin (23/7) malam. Dia rela meninggalkan cutinya untuk menjelaskan kejadian itu ke publik.

“Malam itu saya lagi cuti, saya lagi sama tunangan saya mencari tiket di biro perjalanan. Saat saya melintas di Lapangan Banteng, saya bersebelahan dengan angkot yang di dalamnya ada upaya percobaan pemerkosaan,” ujarnya. Penjelasan itu berlangsung selama 30 menit. Dia lalu berbincang ringan dengan para wartawan. Nicolas ketika itu tengah berboncengan bersama sang kekasih di kawasan itu, Senin 23 Juli sekitar pukul 23.00 WIB. Nicolas langsung mengejar angkot berupa Daihatsu Gran Max bernopol B 1106 VTE warna putih tersebut. Nicolas memepet angkot dan menarik tangan sang sopir hingga keluar dari jendela. Ia menggertak sopir itu supaya segera menurunkan si karyawati. Nicolas lalu meminta pacarnya menolong karyawati yang didorong dari angkot. Sopir dan 4 rekannya langsung tancap gas. Nicolas kemudian menuju Pos Polisi Merdeka Barat dan mengejar pelaku hingga akhirnya tertangkap.

Anggota Kopassus Sat-81 Serda Nicolas Sandi berhasil menggagalkan percobaan pemerkosaan terhadap seorang karyawati. Atas aksi heroiknya ini, Kopassus bakal memberi penghargaan. Komandan Sat-81 Letkol (inf) Sidharta Wisnu mengatakan, Nicolas saat kejadian sedang cuti dan hendak mengantar kekasihnya ke Stasiun Gambir, Jakarta Pusat. Karena instingnya sebagai prajurit, pemuda 24 tahun itu pun langsung menolong sang karyawati. Saat ini, Nicolas masih cuti karena baru saja melaksanakan tugas ekspedisi sebagai tim penjelajah di Kalimantan.

“Sementara personel tersebut cuti karena dia sudah melaksanakan tugas ekspedisi sebagai Tim Penjelajah yang sudah berjalan sepanjang 1500 km di perbatasan Kalimantan, jadi saya akan berikan penghargaan kepada personel ini setelah kembali cuti,” kata Wisnu kepada detikcom, Selasa (24/7/2012). Menurut Wisnu, anggota Kopassus memang wajib menolong sesama, terlebih lagi wanita yang saat itu memang sedang terancam keselamatannya. “Untuk kejadian tersebut, kami prajurit Kopassus sudah menjadi kewajiban kami untuk menolong sesama apalagi wanita dalam keadaan sangat berbahaya,” kata Wisnu.

Sebelumnya, Serda Nicolas Sandi (24) mendengar teriakan perempuan meminta tolong dari angkot C01 yang melintas di Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat. Ia mengejar angkot itu dan meminta si sopir menurunkan karyawati yang nyaris diperkosa itu. Karyawati itu akhirnya bisa diselamatkan. Sementara para pelaku berhasil dibekuk.

Polres Metro Jakarta Pusat masih melakukan pengejaran terhadap empat tersangka pencurian dengan kekerasan dan percobaan pemerkosaan di angkutan umum C01 jurusan Ciledug-Kebayoran Lama, yang bila malam hari melayani rute pusat kota Jakarta. Polisi tidak serta percaya pengakuan sopir Ari Anggara, yang mengaku tidak merencanakan aksinya. Berdasarkan informasi Humas Polda Metro Jaya, Kapolres Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol mengungkapkan dari kasus tersebut polisi telah menangkap Ari Anggara sopir angkot. Sementara empat orang teman Ari Anggara masih dalam pengejaran.

Lebih lanjut ia mengatakan dari hasil keterangan sopir tersebut, tersangka tidak mengaku sama sekali merencanakan aksinya. Namun penyidik Polres Metro Jakarta Pusat tidak mempercayai begitu saja keterangan pelaku yang mengatakan tiba-tiba saja penumpang yang masuk langsung disergap. Karena di dalam angkot tersebut sudah ada empat orang teman tersangka. Sejumlah saksi sudah diperiksa aparat kepolisian. Korban juga sudah dimintai keterangannya meski masih dalam keadaan shock. “Sudah dimintai keterangan tadi sedikit-sedikit karena dia masih shock,” terang Yoyol.

Diberitakan sebelumnya, seorang karyawati berusia 31 tahun, nyaris menjadi korban pemerkosaan di dalam angkutan C01 jurusan Ciledug-Senen B 1106 VTX pada Senin (23/7/2012) tengah malam. Saat itu, korban pulang dari tempat kerjanya naik angkot tersebut dari Benhil (Jl Sudirman) yang dikemudikan oleh Ari Anggara dan berisi empat orang lainnya. Saat Is di dalam mobil, tiba-tiba lampu dalam angkot dimatikan dan para pelaku langsung menyergap, mencekik leher dan melakukan perbuatan tidak senonoh sambil mencoba merebut tas korban.

Korban berteriak dan teriakannya didengar seorang anggota TNI, Nicolas Sandi, yang beriringan dengan mobil pelaku. Angkot tersebut dikejar, tidak lama kemudian, korban didorong keluar angkot oleh para pelaku di Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat depan Gedung Mahkamah Agung. Akibat kejadian ini, korban mengalami kerugian imateriil dan luka memar di leher. Satu pelaku berikut angkot berhasil ditangkap kemudian langsung dilaporkan dan diserahkan ke Polres Metro Jakarta Pusat.

Dinas Perhubungan DKI (Dishub) DKI geram dengan hampir terjadinya pemerkosaan di angkot C01 Ciledug-Kebayoran di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Operator angkot tersebut terancam dicabut izin lintasnya oleh Dishub DKI dan izin trayek oleh Dishub Tangerang. “Makanya sudah berkali-kali (angkot) C01, kalau terbukti sopirnya hampir memerkosa, hukumannya bisa dicabut izin lintas oleh Dishub DKI dan izin trayek oleh Dishub Tangerang,” ujar Kadishub DKI, Udar Pristono, kepada detikcom, Selasa (24/7/2012).

Menurut Pristono, agar tidak lagi kejadian perkosaan di angkot, perbaikan harus dari hulu yakni operator angkot tersebut. Operator angkot harus mengawasi sopirnya. Operator angkot, lanjut Pristono juga harus membuat sopir menaati peraturan yakni dengan mengenakan seragam dan menggunakan kartu pengenal. Dengan ditaatinya peraturan tersebut, maka akan mencegah terjadinya sopir tembak. “Ini nggak akan terjadi seperti di taksi seperti Blue Bird, Express taksi. Mereka punya pool dan mencegah sopir tembak,” katanya.

Sebelumnya, seorang karyawati nyaris diperkosa di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Senin (23/7) pukul 23.00 WIB. Karyawati itu menumpang angkot C01 yang berjalan di bukan rute sebenarnya. Pemerkosaan itu bisa digagalkan karena adanya anggota TNI, Serda Nicholas, yang mendengar teriakan karyawati itu dari dalam angkot.

Karyawati yang nyaris diperkosa di angkot saat melintas di Jl Lapangan Benteng, Jakarta Pusat, masih diperiksa polisi. Karyawati berusia 31 tahun ini masih shock. “Kondisinya masih shock,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol AR Yoyol saat ditemui di kantornya, Jl Kramat Raya, Selasa (24/7/2012).

Karyawati nyaris diperkosa di dalam angkot C01 dengan nopol B 1106 VTX di Jl Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, semalam. Ada anggota TNI yang mendengar teriakan korban sehingga aksi pelaku gagal. Seorang pelaku akhirnya berhasil ditangkap dan diserahkan ke Polres Jakarta Pusat. Pelaku berinisial T lalu dijerat pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Seorang pelaku lainnya telah mengambil telepon seluler milik korban. Empat rekan T buron.

Perampokan dan percobaan pemerkosaan terhadap karyawati di Lapangan Benteng, Jakarta Pusat, bukan kali pertama dilakukan kawanan tersebut. Mereka sudah beraksi lebih dari sekali. Mereka biasanya mencari mangsa di sekitar Jakarta Pusat.

“Pelaku (yang sudah ditangkap) juga pernah melakukan hal yang sama bersama 4 rekannya. Tapi waktu itu kasusnya perampokan saja. Di mana dan kapan waktunya masih didalami dulu,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol AR Yoyol saat ditemui di kantornya, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (24/7/2012).

Yoyol menjelaskan pelaku yang sudah ditangkap berinisial T (sebelumnya disebut bernama Ari Anggara). T ini berperan sebagai sopir angkot C01 rute Ciledug-Kebayoran Lama. T ditetapkan sebagai tersangka pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. “Kalau untuk pasal kita kenai pasal 365 KUHP. Karena handphone korban diambil oleh salah satu pelaku,” jelasnya. Sementara itu, sumber detikcom di Polres Jakarta Pusat mengatakan kelompok pelaku ini memang sudah beberapa kali beraksi. Mereka biasanya berkeliling mencari korban di kawasan Jakarta Pusat.”Sudah beberapa kali. Masih diselidiki berapa kali. Tapi lebih dari sekali. Mereka biasanya di sini (Jakpus). Mereka biasa beroperasi Senen-Ciledug,” ungkap sumber tersebut.

Karena sang kekasih berhalangan untuk menjemput, karyawati korban kejahatan di angkot rela pulang ke rumah naik angkot pada malam hari. Akibatnya, dia nyaris diperkosa dan dirampok oleh sopir angkot beserta komplotannya. Dalam pengakuannya, karyawati tersebut menduga, bahwa otak dari komplotan itu ialah seorang pria yang memiliki tato.

“Biasanya pulang dianter tapi kemarin lagi ada masalah dan tidak bisa dijemput,” ucap karyawati tersebut di Mapolres Jakarta Pusat, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (24/7/2012). Karyawati itu menceritakan jika dirinya tak bisa dijemput pacar, dia selalu menggunakan angkot tersebut. Dia sendiri naik angkot itu dari depan pasar Benhil tanpa ada rasa curiga. “Pernah juga naik angkot, tapi tidak apa-apa. Baru kemarin saja ada kejadian itu,” ujarnya yang mengenakan baju hitam didampingi sang pacar.

Dia merasa ganjil dengan angkot tersebut saat dirinya ditanya-ditanya oleh penumpang yang memiliki tato di lengannya. Pria bertato itu, duduk di kursi belakang, berseberangan dengan dirinya. “Saya duga yang tanya-tanya itu otaknya. Ciri-cirinya bertato,” sambungnya. Usai kejadian tersebut, dia pun langsung melapor ke sang pacar. Sang pacar merasa menyesal dengan kejadian tersebut. “Saya langsung hubungi pacar saya, dia langsung temani saya membuat laporan,” tutupnya.

Karyawati itu nyaris diperkosa di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, pada Senin (23/7) pukul 23.00 WIB. Karyawati itu menumpang angkot C01 yang berjalan di bukan rute sebenarnya. Pemerkosaan itu bisa digagalkan karena adanya anggota TNI, Serda Nicholas, yang mendengar teriakan karyawati itu dari dalam angkot. Polisi masih menyelidiki kasus percobaan pemerkosaan terhadap karyawati di Lapangan Benteng, Jakarta Pusat. Baju karyawati berusia 31 tahun sempat dilucuti pelaku.

“Sempat dilucuti bajunya,” kata Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol AR Yoyol saat ditemui di kantornya, Jl Kramat Raya, Selasa (24/7/2012). Hingga kini korban masih diperiksa di Polres setempat. Atas kasus ini, polisi melakukan antisipasi dengan terus melakukan operasi Cipta Kondisi di wilayah Jakarta Pusat.

Seorang karyawati nyaris diperkosa di dalam angkot C01 dengan nopol B 1106 VTX di Jl Lapangan Banteng, Sawah Besar, Jakarta Pusat, semalam. Ada anggota TNI yang mendengar teriakan korban sehingga aksi pelaku gagal. Seorang pelaku akhirnya berhasil ditangkap dan diserahkan ke Polres Jakarta Pusat. Pelaku berinisial T lalu dijerat pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Seorang pelaku lainnya telah mengambil telepon seluler milik korban. Empat rekan T buron.

Sopir angkot C01, Ari Anggara sudah ditangkap polisi terkait aksinya yang hendak mencoba memperkosa seorang karyawati. 4 Rekan Ari lainnya kini diburu polisi.

Berikut kronologi aksi komplotan Ari, Selasa (24/7/2012):

Senin (23/7), pukul 22.45 WIB

Seorang karyawati berusia 31 tahun naik angkot C01 dari daerah Bendungan Hilir, Jakarta Selatan. Angkot ini disopiri Ari. Di dalam angkot tersebut sudah ada 4 penumpang lain yang ternyata teman-teman Ari. (C01 adalah angkot yang biasa beroperasi di Ciledug. Di atas pukul 22.00 WIB, angkot dari pinggiran akan beroperasi tidak resmi di pusat Jakarta, seiring dengan mulai jarangnya angkutan resmi. Malam itu angkot ini menawarkan rute Senen-red).

Hingga akhirnya angkot sampai di kawasan Lapangan Benteng, Jakarta Pusat. Laki-laki yang ada di dalam angkot tiba-tiba menyergap karyawati tersebut. Mereka merampas tas karyawati itu.

Karyawati ini spontan berteriak. Teriakannya mengundang perhatian seorang anggota TNI yang ada di sekitar lokasi. Anggota TNI ini lantas mengikuti angkot C01.

Pukul 23.15 WIB

Karena diikuti, Ari dan teman-temannya panik. Mereka menurunkan karyawati tersebut di daerah Monas, Jakarta Pusat.

Anggota TNI tersebut menyetop angkot itu. Ari lalu ditangkap. Sementara 4 rekan Ari loncat dari angkot dan kabur. Ari dan angkot tersebut diserahkan ke Polres Jakarta Pusat.