Category Archives: Bencana Alam

Daftar 18 Provinsi Yang Terkena Dampak Kemarau Panjang Akibat El Nino Tahun 2015


Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan upaya khusus (upsus) guna mengantisipasi ancaman dampak gelombang panas El Nino terhadap pertanian. Sebanyak 18 provinsi terindikasi rawan terdampak gelombang panas El Nino. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian, Moch. Syakir mengatakan, gelombang panas El Nino memang diprediksikan oleh Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dan Lapan berjenis moderat.

Gelombang panas lemah akan terjadi mulai Juni, dan makin moderat hingga puncaknya November. Syakir menuturkan, dari data tersebut dapat diartikan El Nino datang hampir bersamaan dengan masa tanam kering atau musim kemarau, yakni April-September (Asep). “Namun, kalau toh terjadi El Nino yang berbahaya untuk pertanian, Kementan sudah mengantisipasi,” kata Syakir, di Jakarta, Rabu (17/6/2015). Kementan, sambung Syakir, telah melakukan pemetaan daerah-daerah yang rawan terdampak gelombang panas.

Kurang lebih ada 18 provinsi yang tersebar di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi yang potensial terdampak El Nino. “Yang rawan terdampak ada18 provinsi, tapi tidak semua wilayah di provinsi itu terkena, hanya beberapa kabupaten saja. Ada di NTB, Sumatera Utara, Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah,” jelas Syakir.

Syakir menuturkan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah memanggil semua kepala dinas dari provinsi yang rawan terdampak El Nino, serta Dandim untuk berkoordinasi. Kementan telah menyiapkan pula program upaya khusus (upsus) diantaranya penyediaan pompa air, benih, dan pupuk. Pembagian pompa air sudah dilakukan sebagian. “Kegiatan upsus itu salah satu inputnya adalah pompa air,” kata Syakir. Selain itu, Kementan juga menyiapkan benih dan pupuk manakala ada produksi padi yang terganggu kekeringan, dan petani perlu menanam kembali. Menurut Syakir, komoditas pertanian yang kemungkinan besar akan terdampak gelombang panas adalah padi dan jagung.

“Tentu tanaman semusim. Yang harus kita jaga adalah target swasembada padi itu nomer satu kita amankan,” kata Syakir. Sementara itu, untuk komoditas hortikultura seperti cabai, Syakir mengatakan sentra produksi hortikultura tidak banyak yang berada pada daerah rawan dampak El Nino. Apalagi, hortikultura biasanya ditanam di masa penghujan, bukan di musim kemarau. “Kalau ditanam di musim kering pun rata-rata di daerah yang punya sumber air yang cukup. Jadi selama ini hortikultura itu punya daerah yang memiliki infrastruktur yang bagus,” sambung Syakir.

Demikian juga dengan peternakan. Syakir mengatakan, gelombang panas El Nino juga tidak akan banyak berpengaruh terhadap peternakan. Pasalnya, biasanya para peternak memilih lokasi yang memiliki sumber air cukup banyak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperkirakan gelombang panas El Nino akan menyerang wilayah Indonesia sampai November 2015. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus Subagyo Swarinoto menuturkan, El Nino yang menyerang wilayah Indonesia berjenis El Nino moderat.

“Akibat adanya El Nino diperkirakan awal musim hujan 2015/2016 di beberapa wilayah mengalami kemunduran,” kata Yunus dalam rapat koordinasi dengan Menteri LHK dan Menteri ATR, Jakarta, Rabu (17/6/2015). Yunus mengatakan, hasil monitoring BMKG, perkembangan El Nino sampai Juni menunjukkan El Nino moderat. Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung sampai November dan berpeluang untuk menguat (WMO, 2015). Yunus menyampaikan, daerah-daerah yang berpotensi terkenda dampak El Nino meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.

Dia menambahkan, El Nino bukan satu-satunya faktor pemicu kekeringan di Indonesia, harus dipertimbangkan faktor lain seperti Dipole Mode dan SST di perairan Indonesia. Yunus mengatakan, efek dari El Nino di tiap-tiap daerah berbeda. Paling nyata ada di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Perbedaan dampak El Nino ini disebabkan letak geografis yang berbeda-beda, dan juga pola hujan.

Dia bilang El Nino berdampak terhadap pengurangan curah hujan di bagian barat Indonesia. “Tapi tidak signifikan,” kata Yunus. Dampak lain dari El Nino adalah beberapa wilayah menjadi rentan mengalami kebakaran hutan. Dia menyebut Sumatera Selatan, Jawa dan Kalimantan Barat adalah daerah yang saat ini sangat mudah terjadi kebakaran. “Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat ini karena dekat dengan Singapura harus diantisipasi, karena mereka yang paling rewel (kalau ada kebakaran),” kata Yunus.

Wakil Menteri Pertanian, Rusman Heriawan mengatakan, pemerintah telah menyusun rencana untuk mengimpor 500.000 ton beras guna mengantisipasi dampak badai kering El Nino.“Peristiwa el nino juga tiap tahun akan terjadi. Yang penting jangan sampai produksi yang bisa dicapai pada 2013, turun dari jumlah itu,” katanya kepada wartawan, di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Selasa (24/6/2014). Rusman mengatakan, izin yang akan dikeluarkan adalah sebanyak 200.000 ton untuk beras premium dan 300.000 ton untuk beras medium. Sementara itu, El Nino diperkirakan menyambangi Indonesia pada Oktober, November, dan Desember.

Rusman mengatakan, meskipun pemerintah telah mempersiapkan opsi impor, namun, hal tersebut tidak lantas menjadi keharusan. Hal itu disebabkan tergantung pada kecukupan produksi nasional. “Maksud saya begini, boleh saja ada pemikiran-pemikiran impor untuk memperkuat cadangan beras dalam negeri. Tapi instrumen itu disiapkan saja. Tetapi bukan berarti harus dieksekusi,” katanya. Dia menjelaskan, rencana impor beras harus dipikirkan pemerintah sejak dini sehingga jika ada sesuatu yang tidak diinginkan, hal tersebut bisa diantisipasi.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan target produksi beras tahun mencapai 76,57 juta ton gabah kering giling (gkg). Target ini lebih besar dari tahun lalu yang hanya sebesar 71,29 juta ton. Hingga semester pertama 2014, realisasi produksi sudah mencapai 50 persen. Hingga akhir Agustus mendatang, pemerintah menyatakan belum akan membuka keran impor beras. “Kalau untuk urusan impor kita paling konsen jangan sampai melukai petani, tetapi bukan berarti Kementan mengatakan itu haram,” katanya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan, perubahan iklim dan gelombang panas El Nino tidak akan menyebabkan kebakaran lahan. Susi yang dalam biodatanya memasukkan profesi sebagai aktivis itu menyampaikan, kebakaran lahan tidak akan mungkin terjadi kecuali ada pihak yang membakar.

“Di CV (biodata) saya, salah satunya saya tuliskan independent activist. Dari pengalaman saya di Indonesia, El Nino tidak akan menyebabkan kebakaran lahan. Saya berani taruhan, tidak akan menyebabkan kebakaran. Kalau lahan kering itu tidak dibakar, itu tidak mungkin terbakar,” kata Susi dalam rapat koordinasi tentang El Nino, Jakarta, Rabu (17/6/2015).

Dia bilang, hutan-hutan di Indonesia rendah kemungkinannya terbakar akibat gelombang panas, lantaran memiliki kelembaban tinggi. Berbeda dari hutan-hutan yang ada di Australia. “Kalau di Australia, saya percaya (kebakaran karena gelombang panas),” kata Susi. “Di kita, kalau orang tidak sengaja membuang api, membuang puntung rokok, tidak akan terjadi kebakaran. Hampir, zero-zero-zero possibility,” ucap Susi. Susi mewanti-wanti jangan sampai nantinya isu El Nino ini justru dimanfaatkan oleh oknum atau pengusaha nakal yang memang membakar hutan untuk membuka lahan. Mereka bisa jadi menjadikan El Nino sebagai kambing hitam. Padahal memang sengaja dibakar.

“Dengan level humidity tinggi, impossible lahan kering di Indonesia tidak mungkin terbakar kalau tidak dibakar,” tandas Susi. Sebelumnya, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Yunus Subagyo Swarinoto menuturkan, El Nino yang menyerang wilayah Indonesia berjenis El Nino moderat antara Juni sampai November 2015. Yunus mengatakan, efek dari El Nino di tiap-tiap daerah berbeda. Paling nyata ada di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Perbedaan dampak El Nino ini disebabkan letak geografis yang berbeda-beda, dan juga pola hujan. Dia bilang El Nino berdampak terhadap pengurangan curah hujan di bagian barat Indonesia. “Tapi tidak signifikan,” kata Yunus.

Dampak lain dari El Nino adalah beberapa wilayah menjadi rentan mengalami kebakaran hutan. Dia menyebut Sumatera Selatan, Jawa dan Kalimantan Barat adalah daerah yang saat ini sangat mudah terjadi kebakaran. “Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat ini karena dekat dengan Singapura harus diantisipasi, karena mereka yang paling rewel (kalau ada kebakaran),” kata Yunus.

Bank Indonesia (BI) menyatakan inflasi Juni 2014 mengalami peningkatan sesuai dengan pola historisnya, namun tetap terkendali. Inflasi Juni sebesar 0,43 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sesuai dengan pola inflasi menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.”Namun demikian, inflasi Juni tersebut masih terkendali dan bahkan lebih rendah dibandingkan angka historis dalam beberapa tahun terakhir yang rata-rata mencapai 0,56 persen month to month,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Peter Jacobs dalam pernyataan resmi, Rabu (2/7/2014).

Sebagaimana biasanya, inflasi menjelang Ramadhan masih didorong inflasi volatile food yang mencapai 1,06 persen (mtm) atau 6,74 persen (yoy). Komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi adalah bawang merah dan bawang putih serta daging ayam dan telur ayam. Adapun inflasi administered prices sedikit meningkat menjadi 0,45 persen (mtm) atau 13,47 persen (yoy) disebabkan penyesuaian tarif listrik untuk pelanggan Rumah Tangga dengan daya listrik lebih dari 6600 VA.

“Bank Indonesia menilai inflasi hingga Juni 2014 ini masih positif bagi pencapaian sasaran inflasi 4,5 plus minus 1 persem pada 2014 dan 4 plus minus 1 persem pada 2015. Bank Indonesia tetap mencermati berbagai risiko inflasi di semester II 2014 seperti potensi meningkatnya harga pangan akibat El Nino,” sebut Peter.

Kampung Cimerak Cireungas Sukabumi Dilanda Tanah Longsor


Tiga korban longsor Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berhasil ditemukan. Ketiganya adalah Aldi, 12 tahun, warga Kampung Cimerak; Jamilah (37), warga Sukanagara, Cianjur; dan Lisdiawati (4), warga Sukanagara, Cianjur. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi Usman Susilo menuturkan dua korban atas nama Jamilah dan Lisdiawati ditemukan dalam posisi berpelukan. Keduanya merupakan warga yang sedang bertamu ke kampung itu.

“Tiga korban berhasil ditemukan sekitar pukul 15.00 WIB. Dua di antaranya ibu dan anak. Sedangkan seorang lagi bernama Aldi, baru digali setengah badan karena masih tertimbun pepohonan,” kata Usman di lokasi bencana, Minggu, 29 Maret 2015. Hingga kini, korban yang berhasil ditemukan berjumlah sembilan orang. Adapun tiga orang lagi masih dalam pencarian.

Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Sukabumi, Polres Sukabumi Kota, Kodim 0607 Sukabumi, dan warga masih berada di lokasi longsor. “Ada sekitar 500 personel gabungan yang diterjunkan ke lokasi longsor untuk membantu pencarian,” kata Komandan Korem 063 Suryakancana Kolonel Infanteri Fullad.Sebanyak 12 warga tertimbun tanah longsor di Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tujuh korban bisa ditemukan, sementara lima korban lain masih dalam pencarian.

Komandan Resor Militer 063 Suryakancana Bogor Kolonel Infanteri Fullad menjelaskan, tanah longsor terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2015, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat hujan deras mengguyur Sukabumi dan sekitarnya, tebing di pinggir Jalan Raya Sukalarang-Cireungas ambrol. Tanah yang longsor itu menimbun rumah dan menutup jalan.

“Korban pertama ditemukan sekitar pukul 02.00 WIB. Selanjutnya, enam korban lain ditemukan pagi. Jadi korban yang bisa ditemukan berjumlah tujuh, sisanya masih ada lima yang masih dalam pencarian,” ujar Usman Susilo, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, di lokasi bencana, Ahad, 29 Maret 2015.

Usman menerangkan, dari tujuh korban yang bisa ditemukan, baru enam yang teridentifikasi, yakni Maya, 13 tahun, Aisyah (50), Elsa (15), Egi (60), Dede (10), dan Sopardi, yang baru saja ditemukan. “Korban lain masih dalam pencarian. Kami masih membutuhkan tambahan alat berat untuk menyingkirkan material longsor,” kata Usman.Seluruh korban longsor di Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, sudah berhasil ditemukan. Total korban yang sudah dievakuasi hingga pukul 18.00 WIB, Ahad 29 Maret 2015, menjadi 12 orang.

“Alhamdulillah, seluruh korban sudah ditemukan. Dua korban terakhir ditemukan sekitar pukul 18.00 WIB dengan posisi berdekatan di lokasi rumah Lilis alias Ilis, korban yang sebelumnya sudah ditemukan,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Andi Kusnadi, di lokasi kejadian, Ahad 29 Maret 2015.

Dua korban terakhir adalah Abdul Mukti, 43 tahun, warga Kampung Cijurey Desa Cikurutug Kecamatan Cireungas, dan Deni, 40 tahun, warga Kampung Pasekon Desa Tegalpanjang Kecamatan Cireungas. Sebelumnya, 10 korban sudah terlebih dahulu ditemukan. Dengan ditemukannya dua korban terakhir, Andi mengatakan proses evakuasi korban longsor dihentikan. Menurut Andi, proses selanjutnya adalah membantu membuka akses jalan antara Sukalarang-Cireungas yang tertutup material longsor. Selain itu, BPBD akanmembantu warga yang berada di pengungsian.

Andi menambahkan, lokasi longsor termasuk ke dalam titik rawan bencana alam di Kabupaten Sukabumi. Pihaknya, kata Andi, sedang melakukan kajian teknis untuk proses relokasi warga yang diungsikan karena pemukimannya rawan longsor susulan. “Ada 97 keluarga atau 293 jiwa yang terpaksa diungsikan ke bangunan SDN Tegalpanjang karena permukimannya di Kampung Cimerak terancam longsor susulan. Sementara mereka ditampung di bangunan sekolah dan rumah-rumah saudaranya. Kami sedang mencari lokasi yang luas untuk mendirikan tenda darurat,” kata Andi.

Hingga pukul 18.00 WIB, lokasi longsor masih dijubeli ribuan warga yang penasaran ingin menyaksikan proses evakuasi korban. Bahkan, sepanjang 1 kilometer jalan ke arah lokasi dipadati kendaraan mobil dan sepeda motor sehingga menyebabkan kemacetan. “Saya mau memastikan saudara saya yang menjadi korban longsor sudah ditemukan atau belum,” ujar Endang Husin, 46 tahun, warga Kampung Pasir Ipis Desa Tegalpanjang yang masih bertetanggaan dengan kampung lokasi longsor.Satu lagi korban tewas ditemukan di lokasi longsor Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Ahad, 29 Maret 2015. Korban yang tercatat ke-10 yang ditemukan atas nama Lilis alias Ilis, 36 tahun, ditemukan sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Usman Susilo, mengatakan, sembilan korban sudah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarganya, sementara satu orang lagi yang sudah dipastikan atas nama Aldi, 12 tahun, masih dalam proses evakuasi. “Korban bernama Aldi masih di lokasi longsor karena belum bisa diangkat. Tubuh korban masih tertutup pepohonan material longsor. Jadi, total korban yang sudah ditemukan berjumlah 10 orang,” kata Usman di lokasi bencana, Ahad.

Usman menambahkan, dari 12 korban yang tertimbun longsor, tinggal 2 korban lagi yang masih dicari. “Proses pencarian masih terus dilakukan. Mudah-mudahan secepatnya ditemukan,” kata Usman. Sementara itu, jalur yang menghubungkan Kecamatan Sukalarang-Cireungas lumpuh total karena tertutup longsor. Menurut Usman, tim masih fokus pencarian korban. “Untuk sementara kami masih fokus pencarian korban. Untuk jalur yang terputus kami akan menyingkirkan material longsor setelah selesai pencarian korban,” kata Usman.

Komandan Resor Militer 063 Suryakancana Bogor Kolonel Infanteri Fullad menjelaskan, tanah longsor terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2015, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat hujan deras mengguyur Sukabumi dan sekitarnya, tebing di pinggir Jalan Raya Sukalarang-Cireungas ambrol. Tanah yang longsor itu menimbun rumah dan menutup jalan.

Siklus Erupsi Kecil Gunung Sinabung Masih Dalam Skala Normal


Pelepasan energi dari dalam perut Gunung Sinabung yang menyebabkan erupsi dalam skala kecil dan sedang selama beberapa bulan terakhir dinilai sebagai siklus vulkanologi yang normal. Jika energi tidak dilepaskan dan tersumbat di kepundan dalam waktu lama, justru sangat berpotensi memicu erupsi berskala besar serta berdampak luas.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan, Sabtu (7/3), menjelaskan, pelepasan material dalam bentuk erupsi itu dinilai lebih aman ketimbang pengumpulan material tertahan lebih lama tanpa dikeluarkan.

“Sekarang ini siklusnya memang membentuk kubah lava, lalu runtuh akibat tekanan dari dalam, lalu muncul kubah lava baru. Semoga seperti itu saja karena, dengan demikian, energi dilepas sedikit demi sedikit, tidak terkumpul lebih lama,” ungkapnya. Gunung Sinabung, Kamis, kembali erupsi dan meruntuhkan kubah lava di kepundan gunung. Material vulkanik dengan volume 1,5 juta meter kubik terlontar sehingga menyebabkan hujan abu hingga radius 10 kilometer serta guguran awan panas hingga sejauh 4,7 kilometer.

Abu cukup tebal bahkan masih tampak menyelimuti desa-desa di lereng barat dan barat daya Sinabung pada Sabtu pagi. Erupsi ini adalah yang kedua kali dalam sebulan terakhir. Terakhir, 18 Februari lalu, erupsi juga terjadi dengan skala lebih besar. Erupsi berskala kecil pernah terjadi pada Desember.

Hendra juga meminta warga mewaspadai potensi lahar hujan yang biasanya mengalir melalui aliran Sungai Lau Borus. Selain pembentukan kubah lava baru, masih berpotensi terjadi guguran kubah lava dengan atau tanpa diikuti guguran awan panas.

Pertanian terdampak
Aktivitas erupsi yang cukup sering terjadi tersebut menyulitkan petani yang tinggal di sekitar lereng gunung setinggi 2.460 meter di atas permukaan laut tersebut. Mereka terpaksa mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra agar lahan perkebunan mereka dapat diselamatkan karena kerap terpapar abu vulkanik dengan ketebalan 3-5 sentimeter.

Ronald Sembiring (55), petani Desa Selandi, Kecamatan Payung, menuturkan, sudah banyak lahan tomat dan cabai yang mengering dan mati karena dibiarkan sehari saja oleh pemiliknya. Setelah hujan abu, semestinya tanaman segera dibersihkan. “Ini yang membuat para petani lebih capai karena harus rajin membersihkan abu,” tutur petani pemilik lahan seluas 2.500 meter persegi itu.

Dia mencontohkan, untuk lahan seluas 2.500 meter persegi, biaya produksi yang dikeluarkan biasanya sekitar Rp 500.000. Namun, akibat terpapar abu vulkanik, dia harus mengeluarkan biaya hingga Rp 750.000. Biaya tambahan itu untuk membeli solar yang digunakan sebagai bahan bakar mesin penyemprot air serta menambah pupuk. Selain itu, dia juga harus membeli mesin penyemprot angin untuk membersihkan abu vulkanik.

Kendati sudah dicoba diselamatkan, kualitas hasil produksi tetap saja turun. Pasalnya, bentuk fisik kol, cabai, atau tomat yang terpapar abu vulkanik menjadi mengecil dan mengerut. “Tauke (tengkulak) kasih harga jelek. Panen 4 ton kol yang biasanya dihargai Rp 1 juta sekarang hanya Rp 800.000,” ucap Ronald.

Bupati Karo Terkelin Brahmana berharap pemerintah tak sekadar memperhatikan pengungsi yang tidak lagi bisa menempati desanya, tetapi diharapkan juga memperhatikan tersendatnya pembangunan akibat dampak erupsi. Terkelin mengingatkan, ada sekitar 8.000 keluarga di radius 5 kilometer yang kembali ke desa mereka. Namun, kondisi desanya tidak lagi seperti semula. Pertanian dan rumah mereka hancur sehingga harus memulai hidup dari nol.

“Kami harap pemerintah bisa membantu mereka dengan bantuan industri mini untuk pertanian, seperti mesin pabrik mini untuk jagung, cabai, atau kopi dan lainnya. Pemberian mesin ini akan membantu petani menaikkan nilai lebih pertanian mereka sehingga produktivitas yang menurun bisa dikompensasikan oleh nilai lebih itu,” papar Terkelin.

Sekretaris Daerah Kabupaten Karo Saberina Tarigan mengatakan, kerusakan akibat erupsi Sinabung selama ini meliputi infrastruktur jalan, lahan pertanian, termasuk irigasi, yang tertimbun abu vulkanik. Tercatat, 34 desa terkena dampak erupsi dan 33.210 orang mengungsi walau sebagian kini sudah pulang.

Soputan Kembali Meletus …. Tinggi Letusan Capai 4,5 Kilometer


Gunung Api Soputan di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, kembali meletus, Sabtu (7/3/2015) sekitar pukul 17.09 Wita. Menurut Kepala Badan Geologi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono, erupsi Gunung Soputan, estimasi ketinggian kolom letusan sulit ditentukan karena terhalang kabut.

“Namun saat jelas, diperkirakan ketinggian material letusan mencapai 4,5 kilometer di atas puncak Gunung Soputan,” demikian ditulis oleh Surono di laman Facebook-nya. Surono juga menuturkan bahwa asap letusan berwarna kelabu-kelabu tua dan awan panas bergerak ke arah ke Barat dengan jarak luncur sekitar 2,5 kilometer.

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Soputan, lanjutnya, sudah diinformasikan sebelumnya pada pemerintah daerah setempat, pengurus Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan otoritas bandara setempat. “Hingga saat ini stasiun seismik di Aesoput masih berfungsi dan sinyal seismik masih menunjukkan overscale” tambahnya.

ak kurang dari 1.000 hektar lahan pertanian yang ada di Langowan, Minahasa rusak akibat terjangan debu vulkanik menyusul letusan Gunung Api Soputan. Di Desa Raringis, Kecamatan Langowan Barat terdapat lebih kurang 200 hektar lahan pertanian yang rusak. Sebagaian yang rusak merupakan lahan yang ditanami tanaman holtikultura seperti cabe, tomat, tanaman sayur dan berbagai tanaman lainnya. Diperkirakan di Raringis saja, kerugian sudah mencapai ratusan juta rupiah.

Kepala Desa Raringis, H. Walintukan berharap Pemerintah Daerah Minahasa memberi perhatian kepada petani yang lahannya terkena dampak letusan Soputan. “Mereka membutuhkan bibit dan pupuk, agar bisa kembali menanam lahan untuk menggantikan tanaman yang sudah rusak,” ujarnya. Beberapa petani mengeluhkan kerusakan tanaman yang mereka alami. Mereka hanya bisa pasrah dengan kondisi yang ada, sambil berharap tanaman yang rusak tersebut masih bisa bertumbuh dan bisa dipanen.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Minahasa Utara, Bach Adrianus Tinungki mengatakan, pihaknya telah menurunkan sejumlah petugas untuk mendata lahan pertanian milik warga yang rusak akibat abu vulkanik Gunung Soputan. Di Desa Pangu, Kecamatan Ratahan Timur sekitar 10 hektar lahan warga yang ditanami cabe dan tomat juga tak luput dari terjangan abu vulkanis Soputan. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang parah akibat dampak Soputan.

Di Kecamatan Silian Raya dilaporkan juga, semburan abu Soputan mengakibatkan tanaman padi yang baru mengeluarkan buah hangus. Pengendara sepeda motor, Hence Kambey mengatakan, saat melintasi kota itu merasakan kepedihan di mata dan hidung yang tersumbat debu.

“Sepertinya keadaan ini baru sekarang saya alami, pedih mata dan hidung seakan tersumbat,” ujarnya heran. Hence menduga bila debu yang dirasakan saat itu merupakan dampak dari semburan meletusnya Gunung Soputan atau Gunung Lokon, yang terbawa angin sampai Kota Bitung. “Saya rasa debu yang dirasakan saat ini adalah dampak meletusnya dua gunung besar yang ada di Sulawesi Utara, karena tak seperti biasanya,” ujar Hence.

Dia mengatakan, sejak malam hari hingga pagi ini masih merasakan adanya debu melintasi udara Kota Bitung. Sementara, Kadis Kesehatan Kota Bitung, Vonni Dumingan mengatakan akibat dari debu yang terjadi saat ini merupakan suatu kejadian yang tidak terduga. “Mungkin ini adalah semburan debu yang terjadi akibat meletusnya Gunung Soputan dan abunya tertiup angin sampai Kota Bitung,” ujar Dumingan.

Disinggung soal dampak kesehatan terhadap masyarakat, Dumingan mengatakan tidak terlalu berpengaruh. “Hanya berpengaruh pada ISPA atau insfeksi saluran pernafasan atas,” ujarnya. Untuk itulah dia mengimbau agar masyarakat Kota Bitung dapat menghindari hal tersebut dengan tidak keluar rumah sampai keadaan stabil.

“Kalaupun ingin keluar rumah, mendingan harus menggunakan masker pengaman atau kain untuk menutupi saluran pernafasan agar terhindar dari penyakit ISPA,” himbaunya. Sampai saat ini, abu vulkanik yang halus itu belum mengganggu aktivitas warga, namun beberapa warga yang menutupi wajahnya dengan peralatan ala kadarnya saat berjalan kaki ataupun mengendarai kendaraan roda dua.

Kali Lamong Meluap … Jalan Raya Gendong Lumpuh


Jalan Raya Gendong yang menghubungkan Romo Kalisari-Tandes ‘lumpuh’. Luapan Kali Lamong yang menyebabkan tingginya genangan air menjadi penyebabnya. Akibatnya ratusan motor mogok dan memaksa pengendaramya harus berjalan sambil menuntun kendaraannya dengan menerjang genangan air 50 cm dengan jarak sekitar 5 Km.

Hal ini langsung direspon cepat ratusan anggota Satpol PP Surabaya. Para polisi pamong praja itu hujan-hujanan membantu pengendara motor. “Tolong gajah barang (truk barang) digeser ke Gentong untuk mengangkut sepeda motor yang mogok agar dibawa ke Tandes,” ujar Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Irvan Widyanto melalui handy talkie di lokasi, Jumat (6/1/2015).

Mantan Camat ini memimpin langsung pertolongan ke pengendara motor. Tanpa menggunakan mantel, Irvan bersama anggota Satpol PP lainnya harus basah kuyup untuk meninjau kawasan yang tergenang akibat luapan Kali Lamong. “Kami kerahkan 100 anggota, 5 truk barang dan 5 truk penumpang untuk mengangkut pengendara dan sepeda motornya. Kami juga siagakan 2 perahu karet,” ungkapnya.

Camat Pakal, Agus Setioko mengaku jika genangan yang terjadi di kawasan Gendong yang menghubungkan Romo Kalisari-Tandes terjadi sejak Jumat pagi akibat meluapnya Kali Lamong. Agus mengungkapkan, pihaknya sudah mengantisipasi dengan menahan beberapa kawasan yang rendah dengan karung pasir, namun upaya itu kurang ampuh.

“Disini selalu banjir kalau Kali Lamong meluap,” ujarnya. Menurut Agus, luapan Kali Lamong saat ini dianggapnya tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang ketinggian airnya mencapai 50 cm.‎

Sungai Welang Meluap … Jalur Pantura Kembali Lumpuh


Sungai Welang di Pasuruan kembali meluap hingga merendam ratusan pemukiman di wilayah Kecamatan Kraton. Selain merendam pemukiman, luapan air juga menyebabkan jalur pantura Pasuruan lumpuh. Pantauan di lokasi, Kamis (5/2/2015) pagi, akibat banjir yang merendam Jalan Raya Tambakrejo, Kraton ini membuat jalur lumpuh. Kendaraan dari arah Surabaya menuju Probolinggo dan sebaliknya tak bergerak hingga mencapai 7 kilometer.

Lumpuhnya jalur pantura ini terjadi sejak pukul 01.00 WIB dan puncaknya pukul 04.00 WIB, ketinggian air yang merendam jalan raya mencapai 1 meter. Kendaraan yang terjebak macet didominasi truk-truk besar yang melintas di malam hari.

“Saya sejak pukul 03.00 terjebak macet. Kenek saya sekarang tidur di mobil,” kata Hasim (32), sopir truk muat pasir asal Lumajang.

Untuk mengurai dan mengatur lalu-lintas, Sat Lantas Polres Pasuruan menerjunkan sekitar 15 personelnya ke lokasi. Selain personel dari Sat Lantas, puluhan personel Shabara juga diterjunkan untuk pengamanan. Total sebanyak 60 polisi berada di lokasi.

“Sejak tadi malam kita coba urai kendaraan. Baik kendaraan yang dari Surabaya maupun Probolinggo yang belum terjebak macet dialihkan ke jalur alternatif,” kata Kanit Turjawali Polres Pasuruan Kota, Aipda Nanang Abidin di lokasi.

Kemacetan di jalur pantura ini mencapai 9 jam. Dari pengamatan terakhir pukul 10.00 WIB, air di jalan raya mulai surut dan kendaraan mulai bergerak meskipun merambat.

Lamongan Tenggelam Di Terjang Banjir


Banjir akibat tingginya curah hujan dan buruknya drainase di Babat, Lamongan tidak hanya menggenangi ribuan pemukiman warga, namun sarana pendidikan di daerah Babat juga ikut terendam banjir. Salah satu sarana pendidikan di Babat yang ikut terendam banjir tersebut diantaranya adalah SMP Negeri 1 Babat. Di SMPN 1 Babat ini, guru terpaksa memulangkan siswanya lebih awal karena banjir menggenangi gedung tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Di SMPN 1 Babat ini, banjir menggenangi sejumlah ruang kelas yang ada.

Wakasek SMPN 1 Babat, Mustaji mengatakan, staf pendidik di sekolahnya terpaksa memulangkan siswa kelas 7 dan 8 karena ruang kelas mereka terendam banjir. Mustaji menuturkan, gedung sekolahnya yang berada di Desa Bedahan ini bernasib sama dengan pemukiman warga lain di desa tersebut yang terendam banjir.

“Banjir ini akibat curah hujan yang tinggi sehingga saluran air tidak mampu menampung banyaknya debit air,” katanya, Rabu (4/2/2015). Sejumlah ruang kelas di SMPN 1 Babat ini, kata Mustaji, terendam air setinggi 5 hingga 10 cm sedangkan di halaman sekolah air yang menggenang sudah mencapai setinggi betis orang dewasa.

“Kecuali kelas 9, semua siswa kami pulangkan lebih awal,” jelasnya.

Kelas 9, lanjut Mustaji, tidak mereka pulangkan karena mereka harus bersiap untuk menghadapi Ujian Nasional. Saat ini kata Mustaji, siswa kelas 9 sedang mengikuti try out dan sebagian dari mereka terpaksa harus mengikuti try out tanpa menggunakan alas kaki karena banjir membuat sepatu mereka basah.

“Banjir yang menggenai SMPN 1 kali ini merupakan yang terbesar selama 10 tahun terakhir karena sebelum-sebelumnya banjir hanya menggenangi halaman sekolah dan tidak sampai masuk ke ruang kelas,” aku Mustaji. Selain menggenangi SMPN 1 Babat, banjir akibat curah hujan tinggi dan buruknya drainase ini juga mengakibatkan sejumlah gedung sekolah lain di Babat juga ikut terendam. Beberapa gedung sarana pendidikan yang terendam tersebut diantaranya adalah 4 gedung SD yang ada di Kecamatan Babat.

Banjir akibat tingginya curah hujan dan buruknya drainase air di Kecamatan Babat hingga kini telah merendam 1.297 rumah di 4 desa/ kelurahan. Empat desa/ kelurahan yang terendam banjir tersebut diantaranya adalah Babat, Bedahan, Banaran dan Plaosan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daeah (BPBD) Lamongan, Suprapto mengatakan, data tersebut masih sementara sambil menunggu data lainnya dari kepala desa atau lurah. “Data lainnya masih menunggu dari kepala desa dan lurah,” jelasnya.

Suprapto mengatakan, untuk mengurangi agar banjir tidak semakin meluas dan semakin tinggi, BPBD Lamongan bekerja sama dengan PU Pengairan telah mendatangkan 2 pompa air yang berkekuatan besar, yaitu 300 liter per detik, untuk membuang air banjir ke Bengawan solo. Sementara, untuk pompa lama juga masih difungsikan untuk mengurangi debit air banjir.

“Kami juga sudah membentuk posko di Kelurahan Babat untuk mendekatkan diri ke masyarakat,” ungkapnya. Lebih jauh, Suprapto juga mengatakan, hari ini pihaknya berencana akan mengirimkan bantuan berupa paket sembako kepada semua warga yang rumahnya tergenang air. Jumlah bantuan, kata Suprapto, akan dikirimkan ke semua warga yang terendam sambil menunggu data baru mengenai jumlah rumah warga yang terendam.

“Untuk bantuan ini kami bekerja sama dengan Bulog Lamongan,” akunya. Sementara, ketinggian air banjir di sejumlah kawasan di Babat hingga saat ini masih bervariasi yaitu setinggi 30 cm hingga 50 cm. Warga hingga kini masih berusaha menguras banjir yang masuk ke rumah mereka agar tidak semakin tinggi. Warga masih berharap agar banjir segera surut agar aktivitas keseharian warga tidak terganggu.

“Semoga air cepat surut,” harap Suntoro, salah seorang warga Babat.