Category Archives: Bencana Alam

Kampung Cimerak Cireungas Sukabumi Dilanda Tanah Longsor


Tiga korban longsor Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berhasil ditemukan. Ketiganya adalah Aldi, 12 tahun, warga Kampung Cimerak; Jamilah (37), warga Sukanagara, Cianjur; dan Lisdiawati (4), warga Sukanagara, Cianjur. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi Usman Susilo menuturkan dua korban atas nama Jamilah dan Lisdiawati ditemukan dalam posisi berpelukan. Keduanya merupakan warga yang sedang bertamu ke kampung itu.

“Tiga korban berhasil ditemukan sekitar pukul 15.00 WIB. Dua di antaranya ibu dan anak. Sedangkan seorang lagi bernama Aldi, baru digali setengah badan karena masih tertimbun pepohonan,” kata Usman di lokasi bencana, Minggu, 29 Maret 2015. Hingga kini, korban yang berhasil ditemukan berjumlah sembilan orang. Adapun tiga orang lagi masih dalam pencarian.

Tim gabungan dari BPBD Kabupaten Sukabumi, Polres Sukabumi Kota, Kodim 0607 Sukabumi, dan warga masih berada di lokasi longsor. “Ada sekitar 500 personel gabungan yang diterjunkan ke lokasi longsor untuk membantu pencarian,” kata Komandan Korem 063 Suryakancana Kolonel Infanteri Fullad.Sebanyak 12 warga tertimbun tanah longsor di Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Tujuh korban bisa ditemukan, sementara lima korban lain masih dalam pencarian.

Komandan Resor Militer 063 Suryakancana Bogor Kolonel Infanteri Fullad menjelaskan, tanah longsor terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2015, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat hujan deras mengguyur Sukabumi dan sekitarnya, tebing di pinggir Jalan Raya Sukalarang-Cireungas ambrol. Tanah yang longsor itu menimbun rumah dan menutup jalan.

“Korban pertama ditemukan sekitar pukul 02.00 WIB. Selanjutnya, enam korban lain ditemukan pagi. Jadi korban yang bisa ditemukan berjumlah tujuh, sisanya masih ada lima yang masih dalam pencarian,” ujar Usman Susilo, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, di lokasi bencana, Ahad, 29 Maret 2015.

Usman menerangkan, dari tujuh korban yang bisa ditemukan, baru enam yang teridentifikasi, yakni Maya, 13 tahun, Aisyah (50), Elsa (15), Egi (60), Dede (10), dan Sopardi, yang baru saja ditemukan. “Korban lain masih dalam pencarian. Kami masih membutuhkan tambahan alat berat untuk menyingkirkan material longsor,” kata Usman.Seluruh korban longsor di Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, sudah berhasil ditemukan. Total korban yang sudah dievakuasi hingga pukul 18.00 WIB, Ahad 29 Maret 2015, menjadi 12 orang.

“Alhamdulillah, seluruh korban sudah ditemukan. Dua korban terakhir ditemukan sekitar pukul 18.00 WIB dengan posisi berdekatan di lokasi rumah Lilis alias Ilis, korban yang sebelumnya sudah ditemukan,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Andi Kusnadi, di lokasi kejadian, Ahad 29 Maret 2015.

Dua korban terakhir adalah Abdul Mukti, 43 tahun, warga Kampung Cijurey Desa Cikurutug Kecamatan Cireungas, dan Deni, 40 tahun, warga Kampung Pasekon Desa Tegalpanjang Kecamatan Cireungas. Sebelumnya, 10 korban sudah terlebih dahulu ditemukan. Dengan ditemukannya dua korban terakhir, Andi mengatakan proses evakuasi korban longsor dihentikan. Menurut Andi, proses selanjutnya adalah membantu membuka akses jalan antara Sukalarang-Cireungas yang tertutup material longsor. Selain itu, BPBD akanmembantu warga yang berada di pengungsian.

Andi menambahkan, lokasi longsor termasuk ke dalam titik rawan bencana alam di Kabupaten Sukabumi. Pihaknya, kata Andi, sedang melakukan kajian teknis untuk proses relokasi warga yang diungsikan karena pemukimannya rawan longsor susulan. “Ada 97 keluarga atau 293 jiwa yang terpaksa diungsikan ke bangunan SDN Tegalpanjang karena permukimannya di Kampung Cimerak terancam longsor susulan. Sementara mereka ditampung di bangunan sekolah dan rumah-rumah saudaranya. Kami sedang mencari lokasi yang luas untuk mendirikan tenda darurat,” kata Andi.

Hingga pukul 18.00 WIB, lokasi longsor masih dijubeli ribuan warga yang penasaran ingin menyaksikan proses evakuasi korban. Bahkan, sepanjang 1 kilometer jalan ke arah lokasi dipadati kendaraan mobil dan sepeda motor sehingga menyebabkan kemacetan. “Saya mau memastikan saudara saya yang menjadi korban longsor sudah ditemukan atau belum,” ujar Endang Husin, 46 tahun, warga Kampung Pasir Ipis Desa Tegalpanjang yang masih bertetanggaan dengan kampung lokasi longsor.Satu lagi korban tewas ditemukan di lokasi longsor Kampung Cimerak, Desa Tegalpanjang, Kecamatan Cireungas, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Ahad, 29 Maret 2015. Korban yang tercatat ke-10 yang ditemukan atas nama Lilis alias Ilis, 36 tahun, ditemukan sekitar pukul 16.00 WIB.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sukabumi, Usman Susilo, mengatakan, sembilan korban sudah dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarganya, sementara satu orang lagi yang sudah dipastikan atas nama Aldi, 12 tahun, masih dalam proses evakuasi. “Korban bernama Aldi masih di lokasi longsor karena belum bisa diangkat. Tubuh korban masih tertutup pepohonan material longsor. Jadi, total korban yang sudah ditemukan berjumlah 10 orang,” kata Usman di lokasi bencana, Ahad.

Usman menambahkan, dari 12 korban yang tertimbun longsor, tinggal 2 korban lagi yang masih dicari. “Proses pencarian masih terus dilakukan. Mudah-mudahan secepatnya ditemukan,” kata Usman. Sementara itu, jalur yang menghubungkan Kecamatan Sukalarang-Cireungas lumpuh total karena tertutup longsor. Menurut Usman, tim masih fokus pencarian korban. “Untuk sementara kami masih fokus pencarian korban. Untuk jalur yang terputus kami akan menyingkirkan material longsor setelah selesai pencarian korban,” kata Usman.

Komandan Resor Militer 063 Suryakancana Bogor Kolonel Infanteri Fullad menjelaskan, tanah longsor terjadi pada Sabtu, 28 Maret 2015, sekitar pukul 22.30 WIB. Saat hujan deras mengguyur Sukabumi dan sekitarnya, tebing di pinggir Jalan Raya Sukalarang-Cireungas ambrol. Tanah yang longsor itu menimbun rumah dan menutup jalan.

Siklus Erupsi Kecil Gunung Sinabung Masih Dalam Skala Normal


Pelepasan energi dari dalam perut Gunung Sinabung yang menyebabkan erupsi dalam skala kecil dan sedang selama beberapa bulan terakhir dinilai sebagai siklus vulkanologi yang normal. Jika energi tidak dilepaskan dan tersumbat di kepundan dalam waktu lama, justru sangat berpotensi memicu erupsi berskala besar serta berdampak luas.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan, Sabtu (7/3), menjelaskan, pelepasan material dalam bentuk erupsi itu dinilai lebih aman ketimbang pengumpulan material tertahan lebih lama tanpa dikeluarkan.

“Sekarang ini siklusnya memang membentuk kubah lava, lalu runtuh akibat tekanan dari dalam, lalu muncul kubah lava baru. Semoga seperti itu saja karena, dengan demikian, energi dilepas sedikit demi sedikit, tidak terkumpul lebih lama,” ungkapnya. Gunung Sinabung, Kamis, kembali erupsi dan meruntuhkan kubah lava di kepundan gunung. Material vulkanik dengan volume 1,5 juta meter kubik terlontar sehingga menyebabkan hujan abu hingga radius 10 kilometer serta guguran awan panas hingga sejauh 4,7 kilometer.

Abu cukup tebal bahkan masih tampak menyelimuti desa-desa di lereng barat dan barat daya Sinabung pada Sabtu pagi. Erupsi ini adalah yang kedua kali dalam sebulan terakhir. Terakhir, 18 Februari lalu, erupsi juga terjadi dengan skala lebih besar. Erupsi berskala kecil pernah terjadi pada Desember.

Hendra juga meminta warga mewaspadai potensi lahar hujan yang biasanya mengalir melalui aliran Sungai Lau Borus. Selain pembentukan kubah lava baru, masih berpotensi terjadi guguran kubah lava dengan atau tanpa diikuti guguran awan panas.

Pertanian terdampak
Aktivitas erupsi yang cukup sering terjadi tersebut menyulitkan petani yang tinggal di sekitar lereng gunung setinggi 2.460 meter di atas permukaan laut tersebut. Mereka terpaksa mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra agar lahan perkebunan mereka dapat diselamatkan karena kerap terpapar abu vulkanik dengan ketebalan 3-5 sentimeter.

Ronald Sembiring (55), petani Desa Selandi, Kecamatan Payung, menuturkan, sudah banyak lahan tomat dan cabai yang mengering dan mati karena dibiarkan sehari saja oleh pemiliknya. Setelah hujan abu, semestinya tanaman segera dibersihkan. “Ini yang membuat para petani lebih capai karena harus rajin membersihkan abu,” tutur petani pemilik lahan seluas 2.500 meter persegi itu.

Dia mencontohkan, untuk lahan seluas 2.500 meter persegi, biaya produksi yang dikeluarkan biasanya sekitar Rp 500.000. Namun, akibat terpapar abu vulkanik, dia harus mengeluarkan biaya hingga Rp 750.000. Biaya tambahan itu untuk membeli solar yang digunakan sebagai bahan bakar mesin penyemprot air serta menambah pupuk. Selain itu, dia juga harus membeli mesin penyemprot angin untuk membersihkan abu vulkanik.

Kendati sudah dicoba diselamatkan, kualitas hasil produksi tetap saja turun. Pasalnya, bentuk fisik kol, cabai, atau tomat yang terpapar abu vulkanik menjadi mengecil dan mengerut. “Tauke (tengkulak) kasih harga jelek. Panen 4 ton kol yang biasanya dihargai Rp 1 juta sekarang hanya Rp 800.000,” ucap Ronald.

Bupati Karo Terkelin Brahmana berharap pemerintah tak sekadar memperhatikan pengungsi yang tidak lagi bisa menempati desanya, tetapi diharapkan juga memperhatikan tersendatnya pembangunan akibat dampak erupsi. Terkelin mengingatkan, ada sekitar 8.000 keluarga di radius 5 kilometer yang kembali ke desa mereka. Namun, kondisi desanya tidak lagi seperti semula. Pertanian dan rumah mereka hancur sehingga harus memulai hidup dari nol.

“Kami harap pemerintah bisa membantu mereka dengan bantuan industri mini untuk pertanian, seperti mesin pabrik mini untuk jagung, cabai, atau kopi dan lainnya. Pemberian mesin ini akan membantu petani menaikkan nilai lebih pertanian mereka sehingga produktivitas yang menurun bisa dikompensasikan oleh nilai lebih itu,” papar Terkelin.

Sekretaris Daerah Kabupaten Karo Saberina Tarigan mengatakan, kerusakan akibat erupsi Sinabung selama ini meliputi infrastruktur jalan, lahan pertanian, termasuk irigasi, yang tertimbun abu vulkanik. Tercatat, 34 desa terkena dampak erupsi dan 33.210 orang mengungsi walau sebagian kini sudah pulang.

Soputan Kembali Meletus …. Tinggi Letusan Capai 4,5 Kilometer


Gunung Api Soputan di Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, kembali meletus, Sabtu (7/3/2015) sekitar pukul 17.09 Wita. Menurut Kepala Badan Geologi di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Surono, erupsi Gunung Soputan, estimasi ketinggian kolom letusan sulit ditentukan karena terhalang kabut.

“Namun saat jelas, diperkirakan ketinggian material letusan mencapai 4,5 kilometer di atas puncak Gunung Soputan,” demikian ditulis oleh Surono di laman Facebook-nya. Surono juga menuturkan bahwa asap letusan berwarna kelabu-kelabu tua dan awan panas bergerak ke arah ke Barat dengan jarak luncur sekitar 2,5 kilometer.

Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Soputan, lanjutnya, sudah diinformasikan sebelumnya pada pemerintah daerah setempat, pengurus Badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan otoritas bandara setempat. “Hingga saat ini stasiun seismik di Aesoput masih berfungsi dan sinyal seismik masih menunjukkan overscale” tambahnya.

ak kurang dari 1.000 hektar lahan pertanian yang ada di Langowan, Minahasa rusak akibat terjangan debu vulkanik menyusul letusan Gunung Api Soputan. Di Desa Raringis, Kecamatan Langowan Barat terdapat lebih kurang 200 hektar lahan pertanian yang rusak. Sebagaian yang rusak merupakan lahan yang ditanami tanaman holtikultura seperti cabe, tomat, tanaman sayur dan berbagai tanaman lainnya. Diperkirakan di Raringis saja, kerugian sudah mencapai ratusan juta rupiah.

Kepala Desa Raringis, H. Walintukan berharap Pemerintah Daerah Minahasa memberi perhatian kepada petani yang lahannya terkena dampak letusan Soputan. “Mereka membutuhkan bibit dan pupuk, agar bisa kembali menanam lahan untuk menggantikan tanaman yang sudah rusak,” ujarnya. Beberapa petani mengeluhkan kerusakan tanaman yang mereka alami. Mereka hanya bisa pasrah dengan kondisi yang ada, sambil berharap tanaman yang rusak tersebut masih bisa bertumbuh dan bisa dipanen.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Minahasa Utara, Bach Adrianus Tinungki mengatakan, pihaknya telah menurunkan sejumlah petugas untuk mendata lahan pertanian milik warga yang rusak akibat abu vulkanik Gunung Soputan. Di Desa Pangu, Kecamatan Ratahan Timur sekitar 10 hektar lahan warga yang ditanami cabe dan tomat juga tak luput dari terjangan abu vulkanis Soputan. Daerah ini merupakan salah satu daerah yang parah akibat dampak Soputan.

Di Kecamatan Silian Raya dilaporkan juga, semburan abu Soputan mengakibatkan tanaman padi yang baru mengeluarkan buah hangus. Pengendara sepeda motor, Hence Kambey mengatakan, saat melintasi kota itu merasakan kepedihan di mata dan hidung yang tersumbat debu.

“Sepertinya keadaan ini baru sekarang saya alami, pedih mata dan hidung seakan tersumbat,” ujarnya heran. Hence menduga bila debu yang dirasakan saat itu merupakan dampak dari semburan meletusnya Gunung Soputan atau Gunung Lokon, yang terbawa angin sampai Kota Bitung. “Saya rasa debu yang dirasakan saat ini adalah dampak meletusnya dua gunung besar yang ada di Sulawesi Utara, karena tak seperti biasanya,” ujar Hence.

Dia mengatakan, sejak malam hari hingga pagi ini masih merasakan adanya debu melintasi udara Kota Bitung. Sementara, Kadis Kesehatan Kota Bitung, Vonni Dumingan mengatakan akibat dari debu yang terjadi saat ini merupakan suatu kejadian yang tidak terduga. “Mungkin ini adalah semburan debu yang terjadi akibat meletusnya Gunung Soputan dan abunya tertiup angin sampai Kota Bitung,” ujar Dumingan.

Disinggung soal dampak kesehatan terhadap masyarakat, Dumingan mengatakan tidak terlalu berpengaruh. “Hanya berpengaruh pada ISPA atau insfeksi saluran pernafasan atas,” ujarnya. Untuk itulah dia mengimbau agar masyarakat Kota Bitung dapat menghindari hal tersebut dengan tidak keluar rumah sampai keadaan stabil.

“Kalaupun ingin keluar rumah, mendingan harus menggunakan masker pengaman atau kain untuk menutupi saluran pernafasan agar terhindar dari penyakit ISPA,” himbaunya. Sampai saat ini, abu vulkanik yang halus itu belum mengganggu aktivitas warga, namun beberapa warga yang menutupi wajahnya dengan peralatan ala kadarnya saat berjalan kaki ataupun mengendarai kendaraan roda dua.

Kali Lamong Meluap … Jalan Raya Gendong Lumpuh


Jalan Raya Gendong yang menghubungkan Romo Kalisari-Tandes ‘lumpuh’. Luapan Kali Lamong yang menyebabkan tingginya genangan air menjadi penyebabnya. Akibatnya ratusan motor mogok dan memaksa pengendaramya harus berjalan sambil menuntun kendaraannya dengan menerjang genangan air 50 cm dengan jarak sekitar 5 Km.

Hal ini langsung direspon cepat ratusan anggota Satpol PP Surabaya. Para polisi pamong praja itu hujan-hujanan membantu pengendara motor. “Tolong gajah barang (truk barang) digeser ke Gentong untuk mengangkut sepeda motor yang mogok agar dibawa ke Tandes,” ujar Kepala Satpol PP Kota Surabaya, Irvan Widyanto melalui handy talkie di lokasi, Jumat (6/1/2015).

Mantan Camat ini memimpin langsung pertolongan ke pengendara motor. Tanpa menggunakan mantel, Irvan bersama anggota Satpol PP lainnya harus basah kuyup untuk meninjau kawasan yang tergenang akibat luapan Kali Lamong. “Kami kerahkan 100 anggota, 5 truk barang dan 5 truk penumpang untuk mengangkut pengendara dan sepeda motornya. Kami juga siagakan 2 perahu karet,” ungkapnya.

Camat Pakal, Agus Setioko mengaku jika genangan yang terjadi di kawasan Gendong yang menghubungkan Romo Kalisari-Tandes terjadi sejak Jumat pagi akibat meluapnya Kali Lamong. Agus mengungkapkan, pihaknya sudah mengantisipasi dengan menahan beberapa kawasan yang rendah dengan karung pasir, namun upaya itu kurang ampuh.

“Disini selalu banjir kalau Kali Lamong meluap,” ujarnya. Menurut Agus, luapan Kali Lamong saat ini dianggapnya tidak terlalu parah jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang ketinggian airnya mencapai 50 cm.‎

Sungai Welang Meluap … Jalur Pantura Kembali Lumpuh


Sungai Welang di Pasuruan kembali meluap hingga merendam ratusan pemukiman di wilayah Kecamatan Kraton. Selain merendam pemukiman, luapan air juga menyebabkan jalur pantura Pasuruan lumpuh. Pantauan di lokasi, Kamis (5/2/2015) pagi, akibat banjir yang merendam Jalan Raya Tambakrejo, Kraton ini membuat jalur lumpuh. Kendaraan dari arah Surabaya menuju Probolinggo dan sebaliknya tak bergerak hingga mencapai 7 kilometer.

Lumpuhnya jalur pantura ini terjadi sejak pukul 01.00 WIB dan puncaknya pukul 04.00 WIB, ketinggian air yang merendam jalan raya mencapai 1 meter. Kendaraan yang terjebak macet didominasi truk-truk besar yang melintas di malam hari.

“Saya sejak pukul 03.00 terjebak macet. Kenek saya sekarang tidur di mobil,” kata Hasim (32), sopir truk muat pasir asal Lumajang.

Untuk mengurai dan mengatur lalu-lintas, Sat Lantas Polres Pasuruan menerjunkan sekitar 15 personelnya ke lokasi. Selain personel dari Sat Lantas, puluhan personel Shabara juga diterjunkan untuk pengamanan. Total sebanyak 60 polisi berada di lokasi.

“Sejak tadi malam kita coba urai kendaraan. Baik kendaraan yang dari Surabaya maupun Probolinggo yang belum terjebak macet dialihkan ke jalur alternatif,” kata Kanit Turjawali Polres Pasuruan Kota, Aipda Nanang Abidin di lokasi.

Kemacetan di jalur pantura ini mencapai 9 jam. Dari pengamatan terakhir pukul 10.00 WIB, air di jalan raya mulai surut dan kendaraan mulai bergerak meskipun merambat.

Lamongan Tenggelam Di Terjang Banjir


Banjir akibat tingginya curah hujan dan buruknya drainase di Babat, Lamongan tidak hanya menggenangi ribuan pemukiman warga, namun sarana pendidikan di daerah Babat juga ikut terendam banjir. Salah satu sarana pendidikan di Babat yang ikut terendam banjir tersebut diantaranya adalah SMP Negeri 1 Babat. Di SMPN 1 Babat ini, guru terpaksa memulangkan siswanya lebih awal karena banjir menggenangi gedung tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Di SMPN 1 Babat ini, banjir menggenangi sejumlah ruang kelas yang ada.

Wakasek SMPN 1 Babat, Mustaji mengatakan, staf pendidik di sekolahnya terpaksa memulangkan siswa kelas 7 dan 8 karena ruang kelas mereka terendam banjir. Mustaji menuturkan, gedung sekolahnya yang berada di Desa Bedahan ini bernasib sama dengan pemukiman warga lain di desa tersebut yang terendam banjir.

“Banjir ini akibat curah hujan yang tinggi sehingga saluran air tidak mampu menampung banyaknya debit air,” katanya, Rabu (4/2/2015). Sejumlah ruang kelas di SMPN 1 Babat ini, kata Mustaji, terendam air setinggi 5 hingga 10 cm sedangkan di halaman sekolah air yang menggenang sudah mencapai setinggi betis orang dewasa.

“Kecuali kelas 9, semua siswa kami pulangkan lebih awal,” jelasnya.

Kelas 9, lanjut Mustaji, tidak mereka pulangkan karena mereka harus bersiap untuk menghadapi Ujian Nasional. Saat ini kata Mustaji, siswa kelas 9 sedang mengikuti try out dan sebagian dari mereka terpaksa harus mengikuti try out tanpa menggunakan alas kaki karena banjir membuat sepatu mereka basah.

“Banjir yang menggenai SMPN 1 kali ini merupakan yang terbesar selama 10 tahun terakhir karena sebelum-sebelumnya banjir hanya menggenangi halaman sekolah dan tidak sampai masuk ke ruang kelas,” aku Mustaji. Selain menggenangi SMPN 1 Babat, banjir akibat curah hujan tinggi dan buruknya drainase ini juga mengakibatkan sejumlah gedung sekolah lain di Babat juga ikut terendam. Beberapa gedung sarana pendidikan yang terendam tersebut diantaranya adalah 4 gedung SD yang ada di Kecamatan Babat.

Banjir akibat tingginya curah hujan dan buruknya drainase air di Kecamatan Babat hingga kini telah merendam 1.297 rumah di 4 desa/ kelurahan. Empat desa/ kelurahan yang terendam banjir tersebut diantaranya adalah Babat, Bedahan, Banaran dan Plaosan. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daeah (BPBD) Lamongan, Suprapto mengatakan, data tersebut masih sementara sambil menunggu data lainnya dari kepala desa atau lurah. “Data lainnya masih menunggu dari kepala desa dan lurah,” jelasnya.

Suprapto mengatakan, untuk mengurangi agar banjir tidak semakin meluas dan semakin tinggi, BPBD Lamongan bekerja sama dengan PU Pengairan telah mendatangkan 2 pompa air yang berkekuatan besar, yaitu 300 liter per detik, untuk membuang air banjir ke Bengawan solo. Sementara, untuk pompa lama juga masih difungsikan untuk mengurangi debit air banjir.

“Kami juga sudah membentuk posko di Kelurahan Babat untuk mendekatkan diri ke masyarakat,” ungkapnya. Lebih jauh, Suprapto juga mengatakan, hari ini pihaknya berencana akan mengirimkan bantuan berupa paket sembako kepada semua warga yang rumahnya tergenang air. Jumlah bantuan, kata Suprapto, akan dikirimkan ke semua warga yang terendam sambil menunggu data baru mengenai jumlah rumah warga yang terendam.

“Untuk bantuan ini kami bekerja sama dengan Bulog Lamongan,” akunya. Sementara, ketinggian air banjir di sejumlah kawasan di Babat hingga saat ini masih bervariasi yaitu setinggi 30 cm hingga 50 cm. Warga hingga kini masih berusaha menguras banjir yang masuk ke rumah mereka agar tidak semakin tinggi. Warga masih berharap agar banjir segera surut agar aktivitas keseharian warga tidak terganggu.

“Semoga air cepat surut,” harap Suntoro, salah seorang warga Babat.

BMKG: Jakarta Akan Dilanda Angin Kencang Dengan Kecepatan 37 km/jam


Angin kencang sempat menerbangkan kanopi di pintu tol Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Jumat (9/1) lalu. Kanopi ini menimpa empat pemotor sehingga membuat mereka terluka. BMKG menyatakan angin kencang ini masih berpotensi terjadi di Jakarta hari ini. “Memang sudah menurun, tapi masih berpeluang terjadi pada sore dan juga malam nanti,” kata Ida, salah seorang prakirawan BMKG Minggu (11/1/2015).

Ida mengatakan, kecepatan angin masimal bisa mencapai 20 knot atau 37 km/jam. Padahal normalnya kecepatan angin hanya 10 knot. “Ini kecepatan maksimalnya bisa sampai 20 knot, tapi bukan berarti terus-terusan 20 knot, hanya kecepatan maksimalnya saja,” katanya.

Ida mengatakan, angin kencang ini terjadi karena Jakarta akan segera memasuki puncak musim hujan. “Memang sudah waktunya musim hujan dan juga karena angin baratan yang kuat,” katanya. Seorang pengendara bernama Hermastiadi sempat mengirimkan foto kanopi lepas di Tol Pasar Rebo dan mengirimkannya ke pasangmata.com. Kanopi ini lepas dan menutupi sebagian jalan di kawasan itu. Akibat peristiwa ini lalu lintas di sekitar kawasan ini jadi macet.Angin kencang beberapa hari ini dirasakan oleh warga Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Akibat intensitas angin yang berhembus dua kali lipat dibanding biasanya tersebut menyebabkan hujan menjauh dari Jabodetabek pekan ini.

“Angin kencang selama satu minggu ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hujan tidak turun di Jabodetabek,” ujar Ida, petugas prakiraan cuaca BMKG saat dihubungi, Jumat (9/1/2015) malam. Menurut Ida, hingga dua hari ke depan, kota Jakarta dan sekitarnya diperkirakan masih berawan dengan intensitas angin yang cukup kencang, sekitar 20 knot/jam. Normalnya, angin hanya berhembus 10 knot/jam. “Sampai dua hari ke depan masih berawan, namun peluang hujan masih ada, walaupun sedikit,” kata Ida.

Beberapa kota yang memiliki peluang untuk turun hujan pekan ini adalah Kepulauan Seribu pada pagi hari dan Kota Bogor pada sore hari. “Di Jakarta dan kota lain kemungkinan hujan ada tapi cenderung berawan, walaupun potensi hujan masih ada karena kita kan di daerah tropis,” jelasnya.Beberapa hari ini angin terasa kencang di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Bahkan sore tadi sebuah kanopi di pintu tol Pasar Rebo terlepas dan menimpa 4 pemotor hingga terluka. Menurut BMKG, angin di Jakarta memang lebih kencang dua kali lipat dibanding biasanya.

“Memang untuk potensi angin masih cukup besar terjadi di Jabodetabek, sekitar 20 knot atau 37 km/jam. Normalnya 10 knot,” ujar Ida, petugas prakiraan cuaca BMKG saat dihubungi, Jumat (9/1/2015) malam.Angin kencang telah terjadi di kawasan Jabodetabek sejak 3 Januari. “Namun beberapa hari terakhir ini yang paling kencang,” jelasnya.

Menurut Ida, potensi angin kencang akan terjadi hingga 3 hari ke depan. Sehingga diharapkan para pengguna jalan untuk sedikit berhati-hati apabila melintasi beberapa kawasan yang ditumbuhi pohon besar. “Diharapkan hati-hati melewati kawasan yang ditumbuhi pohon besar, karena 3 hari ke depan potensi anginnya masih cukup kencang,” kata Ida.