Category Archives: Bencana Alam

Sungai di Pacitan Meluap


Boyamin, 55 tahun, warga Dusun Tleken, Desa Gunungsari, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, dan seekor sapi miliknya hilang terseret arus Sungai Grindulu yang meluap, Selasa malam, 16 Desember 2014. Hingga Rabu siang, 17 Desember 2014, petugas gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan serta TNI dan warga masih melakukan pencarian.

“Proses pencarian dilakukan di dua lokasi,” kata Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Pujono saat dihubungi, Rabu, 17 Desember 2014. Lokasi pencarian pertama, menurut dia, adalah aliran sungai di wilayah Desa Gunungsari. Di tempat itu, petugas BPBD menyisir permukaan air dengan menggunakan satu perahu karet. Sejumlah warga menyisir sungai yang sama dari daratan.

Lokasi pencarian kedua berada di hilir Sungai Grindulu menuju Pantai Pancer Door di Kelurahan Ploso, Kecamatan Pacitan. “Ada kemungkinan korban terseret arus hingga ke hilir sungai,” kata Pujono. Hampir seluruh wilayah Pacitan, termasuk hulu Sungai Grindulu di Kecamatan Nawangan, diguyur hujan deras pada Selasa malam. Kala itu, korban bermaksud menyelamatkan sapi miliknya yang berada di kandang dekat bibir sungai. Berdasarkan keterangan warga, korban dan hewan ternaknya tenggelam saat arus air semakin deras dan sungai meluap.

Kepala Desa Gunungsari, Bakri, mengatakan hujan deras selama empat jam itu memang mengakibatkan Sungai Grindulu meluap hingga ke permukiman dan jalan raya. Sejumlah warga berupaya menyelamatkan barang dan hewan ternak mereka. “Termasuk Pak Boyamin,” ujarnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, menetapkan 12 kecamatan rawan tanah longsor. Sebenarnya, sejak awal November lalu di wilayah kecamatan itu telah terjadi longsoran dan merusak sekitar 104 rumah. “Lokasi kejadiannya di titik-titik tertentu di semua kecamatan,” kata Kepala Seksi Kesiapsiagaan dan Pencegahan BPBD Pacitan Ratna Budiono saat dihubungi, Senin, 15 Desember 2014.

Menurut dia, longsoran tersebut tidak sampai menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Adapun 12 kecamatan yang mengalami longsor ialah Donorojo, Punung, Pringkuku, Pacitan, Kebonagung, Tulakan, Ngadirojo, Sudimoro, Bandar, Nawangan, Tegalombo, dan Arjosari. “Memang tidak ada korban jiwa, tapi mengakibatkan kerugian material lebih dari Rp 150 juta. Kemungkinan bisa bertambah, karena data masih bisa berkembang,” ujar Ratna.

Prediksi bertambahnya jumlah kerugian material, ia melanjutkan, terjadi akibat tingginya kerawanan tanah longsor selama musim hujan. Apalagi hampir seluruh wilayah di Pacitan berupa perbukitan batu kapur yang mudah longsor ketika terguyur air secara terus-menerus. Karena itu, pemerintah setempat mengimbau kepada warga yang tinggal di daerah rawan longsor agar meningkatkan kewaspadaan.

Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Pacitan Pujono mengatakan meningkatkan kewaspadaan bisa dilakukan dengan cara mengenali tanda-tanda terjadinya tanah longsor. Misalnya hujan deras dalam waktu lama dan menimbulkan rekahan tanah.

“Kalau memang mengkhawatirkan, warga diharap segera menyelamatkan diri agar tidak menimbulkan korban jiwa seperti yang terjadi di Banjarnegara,” kata dia. Sedangkan untuk upaya penanggulangan bencana tanah longsor, kata Pujono, dilakukan oleh seluruh elemen terkait, antara lain Dinas Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan serta Dinas Bina Marga dan Pengairan. Mereka didukung oleh Kepolisian, TNI Angkatan Darat, Unit Pelaksana Teknis Bina Marga Jawa Timur dan Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V.

Banjir Lahar Dingin Terjang Enam Kecamatan di Kaki Gunung Semeru


Material vulkanis Gunung Semeru tumpah dan terbawa aliran sungai-sungai di lereng gunung setinggi 3.676 meter di atas permukaan laut itu pada Rabu, 17 Desember 2014. Material berupa batu, pasir, dan endapan lumpur tersebut terempas hujan deras yang mengguyur puncak Semeru sejak kemarin.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lumajang, Purwanto, mengatakan curah hujan yang cukup tinggi di puncak Semeru menyebabkan material vulkanik ikut terbawa air. Pasalnya, sejak dua bulan terakhir, material pijar menumpuk hingga membentuk kubah lava di kawah Jonggring Seloka. “Air membawa serta material gunung,” katanya.

Selain itu, guguran material pijar di sepanjang bukaan kawah yang masuk ke Sungai Besuk Bang dan Besuk Kembar selama dua bulan terakhir ini juga menyebabkan penumpukan. Karena itu, ketika di atas puncak gunung turun hujan, air turut menyapu material vulkanik di cerukan-cerukan lereng dan tumpah menjadi lahar dingin yang mengalir di daerah aliran sungai. “Tujuh daerah aliran sungai saat ini penuh dengan material pasir dan batu, di antaranya daerah aliran Sungai Glidik, Rejali, dan Besuk Sat,” ujarnya.

Di Besuk Sat, ketinggian air mencapai 2 meter dengan bentangan lebar hingga 30 meter atau batas maksimal plengsengan bangunan pengendali lahar Semeru. Air hujan beserta material Semeru ini yang kemudian mengalir ke sungai-sungai di bawahnya. Sebelumnya, Wakil Bupati Lumajang Asat Malik telah menetapkan bahwa siaga darurat bencana banjir dan tanah longsor berlaku mulai Desember 2014 hingga awal Februari 2015.

Dari pantauan Tempo, tumpahan lahar dingin Gunung Semeru menyebabkan sungai-sungai penuh dengan pasir dan batu. Sementara itu, para penambang pasir galian C di sungai-sungai yang dialiri lahar dingin mengeruk endapan. Purwanto meminta warga di sekitar daerah aliran sungai untuk meningkatkan kewaspadaan karena banjir lahar dingin bisa datang sewaktu-waktu. “Waspadai bila puncak Semeru mendung gelap.”

Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan enam wilayah kecamatan masuk dalam zona merah bahaya lahar dingin Gunung Semeru setelah hujan mulai mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Lumajang, termasuk di sekitar Gunung Semeru.

Enam kecamatan tersebut adalah Kecamatan Pronojiwo, Tempursari, Pasirian, Candipuro, Pasrujambe, dan Kecamatan Tempeh. Kecamatan-kecamatan tersebut merupakan wilayah yang dilalui tiga alur utama aliran lahar dingin Gunung Semeru, yakni Daerah Aliran Sungai (DAS) Mujur, DAS Glidik, dan DAS Rejali.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglinmas) Kabupaten Lumajang, Rochani, menjelaskan pihaknya mulai menyiagakan Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB) beserta seluruh instansi terkait guna menghadapi serta mengantisipasi bahaya lahar dingin Gunung Semeru. “Pekan ini kami kumpulkan seluruh pihak terkait untuk menggelar koordinasi mengantisipasi bahaya lahar dingin Gunung Semeru,” katanya.

Rochani mengatakan hujan belum turun di atas Gunung Semeru. Kendati demikian tindakan antisipasi harus terus dilakukan, termasuk mempersiapkan tindakan tanggap darurat menangani warga yang terancam lahar dingin. Prosedur tetap penanggulangan bencana, kata Rochani, harus sungguh-sungguh diperhatikan untuk menghindarkan timbulnya korban jiwa, harta benda, ataupun ternak milik warga. Sejumlah peralatan berat sudah siap diluncurkan ke lokasi yang membutuhkan bantuan. Pihaknya juga selalu mendapat informasi dari Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Semeru di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. “Bila hujan melanda kawasan Gunung Semeru, pos pengamat Semeru akan menginformasikannya kepada kami,” tutur Rochani.

Balai Pengendali Lahar Gunung Semeru juga sudah menempatkan sejumlah personelnya, termasuk di lokasi-lokasi pengamatan lahar dingin di tiga alur utama aliran lahar. Dengan demikian informasi bisa cepat disampaikan kepada Satlak PB untuk kemudian mengambil langkah-langkah penanganan.

Berdasarkan data Satlak PB yang diperoleh, setidaknya ada 26 desa di enam kecamatan tersebut yang rawan terkena bencana lahar dingin. Jumlah warganya mencapai ribuan jiwa serta ratusan hektare lahan pertanian. Adapun data Pos Pengamatan Gunung Api Gunung Semeru di Gunung Sawur menyebutkan Gunung Semeru tercatat mengeluarkan letusan dan embusan sebanyak 47 kali serta 7 kali gempa tektonik jauh. Status aktivitas Gunung Semeru saat ini masih pada level waspada.

Seperangkat alat pemantau banjir lahar dingin Gunung Semeru di Pedukuhan Besuk Konokan, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, hilang dicuri orang. Pencurian alat berupa repiter dilakukan dengan merusak gembok pos tempat penyimpanannya. Peralatan tersebut dilengkapi lima buah Accu merk Yuasa 1004, satu buah stafol, 15 meter kabel arde serta 15 meter kabel antena. ”Kehilangan peralatan tersebut akan menyulitkan pemantauan lahar dingin Gunung Semeru. Apalagi saat ini inetsitas hujan semakin tinggi,” kata Pejabat Pembuat Komitmen Pengendalian Lahar Gunung Semeru, Chairul Kustaal.

Menurut Kustal, pihaknya memiliki tiga repiter yang ditempatkan di tiga daerah aliran sungai (DAS). Adapun perangkat yang hilang yang berada di DAS Besuk Kobokan. Aktivitas pemantauan saat ini hanya mengandalkan peralatan yang dimiliki Pos Pemantauan Gunung Api Gunung Semeru di Gunung Sawur, Desa Sumberwuluh Kecamatan Candipuro. “Padahal dengan repiter kami bisa lebih cepat menginformasikan setiap situasi sehingga bisa segera diantisipasi,” ujarnya.

Beberapa waktu lalu juga pernah terjadi pencurian alat asrupa. Secara tak terduga repiter yang hilang ditemukan di pasar loak di Surabaya. Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Rochani, menjelaskan kerugian akibat hilangnya peralatan itu berkisar Rp 7 juta. “Tidak banyak. Tetapi peralatan itu sangat penting fungsinya,” ucapnya. Berkaitan dengan semakin tingginya curah hujan serta aktivitas Gunung Semeru, Pemerintah Kabupaten Lumajang menetapkan enam kecamatan masuk dalam zona merah bahaya lahar dingin Gunung Semeru.

Enam kecamatan tersebut adalah Kecamatan Pronojiwo, Tempursari, Pasirian, Candipuro, Pasrujambe dan Kecamatan Tempeh. Wilayah enam kecamatan itu dilalui tiga alur utama aliran lahar dingin Gunung Semeru, yakni DAS Mujur, DAS Glidik dan Das Rejali. Ribuan jiwa dari 26 desa di enam kecamatan itu menjadi sasaran terjangan banjir lahar dingin.

Daftar Sungai Di Jawa Timur Yang Rawan Banjir Saat Musim Hujan


Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Jawa Timur mengimbau masyarakat di bantaran sungai agar waspada terhadap ancaman bahaya banjir yang sewaktu-waktu dapat terjadi. “Yang harus diwaspadai tujuh sungai,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur Surdarmawan, Rabu, 17 Desember 2014.

Tujuh sungai yang rawan meluap saat musim hujan ialah Sungai Brantas, Sungai Bengawan Solo di Bojonegoro, Sungai Bajulmati di Malang selatan, Sungai Sampeyan di Situbondo dan sungai Kemuning di Sampang. “Kami surdah mengadakan gladi posko yang salah satu manfaatnya meningkatkan koordinasi bila sewaktu-waktu banjir datang,” ujar Sudarmawan.

Badan Penanggulangan Bencana Jawa Timur, kata dia, juga telah melakukan sosialisasi terhadap pemerintah kota dan kabupaten agar turut siap siaga menghadapi bencana, terutama banjir dan tanah longsor. Mengenai kemungkinan merelokasi warga yang bermukin di kawasan rawan bencana ke tempat aman, Sudarmawan masih melihat situasinya.

Menurut Sudarmawan, relokasi bisa saja dilaksanakan bila memang ada permintaan dari pemerintah daerah dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, misalnya karena warga tak bisa menempati rumahnya lagi. “Sampai sekarang kami belum melakukan relokasi,” ujar dia.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo menambahkan, sebagai upaya mencegah banjir tahunan, pihaknya telah memulai membangun beberapa waduk dan bendungan yang dijadwalkan selesai pada 2016.

“Untuk jangka pendek, kami mengandalkan plensengan sungai dan pompa di daerah-daerah yang cekung. Kalau untuk Sungai Brantas kami lakukan buka tutup waduk agar dapat mengurangi daerah yang terkena banjir. Sungai Brantas jauh lebih siap karena bendungannya banyak,” kata Soekarwo

Kisah Orang Yang Lolos Dari Tanah Longsor Di Jemblung Banjarnegara


Pemilik rumah bercat putih dengan kebun jagung yang aman dari longsor di Desa Jemblung, Banjarnegara, Jawa Tengah ternyata milik Khotimah (25). Sang pemilik selamat dari bencana itu, bersama keponakannya Wawan (11). Namun dia tak tahu kalau rumah dan kebun jagungnya yang justru persis berada di bawah bukit aman dari longsor. Khotimah yang sedang hamil tujuh bulan, mengaku saat kejadian benar-benar melihat dengan jelas longsor yang menimbun puluhan rumah itu.

Peristiwa itu terjadi pada Jumat (12/12) sekitar pukul 17.30 WIB itu. Ketika itu dirinya tengah mengambil pakaian dari jemuran bersama keponakannya Wawan (11). “Saya melihat ada longsor dari atas bukit turun seperti ombak. Saya langsung lari masuk rumah dan menarik wawan dan lari keluar rumah,” jelas dia di Puskesmas Karangkobar.

Khotimah dan Wawan selamat, walau saat lari menyelamatkan diri sempat terdorong tanah beberapa puluh meter. Tapi nahas, suaminya Juan dan anaknya Daffa (8) yang tengah berada di orangtua mereka meninggal dunia tertimbun longsor.

Sekali lagi, Khotimah belum tahu kalau rumahnya bisa tegak berdiri tak digerus longsor. Karena itu dia pun lari menyelamatkan diri. Kini Khotimah terbaring di pengungsian. Petani ini tak mau berkomentar banyak saat ditemui siang ini, Senin (15/12/2014). Dia berduka karena suaminya Juan dan putranya Daffa meninggal dunia.

umah putih dengan kebun jagung menjadi satu-satunya rumah yang selamat dalam longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah. Rumah itu milik Juan (25) seorang petani jagung dan sayuran. Dua tetangga Juan, Yono dan Rumiyah memastikan soal ini. Juan memang dikenal sebagai orang baik yang memberi bantuan tanpa pamrih. “Itu punya Juan, dia orangnya baik suka menolong. Suka bantu-bantu,” jelas Rumiyah yang ditemui di pengungsian di Karangkobar, Senin (15/12/2014).

Rumiyah yang rumahnya berada berseberangan dengan rumah Juan mengaku melihat rumah Juan yang utuh sebagai sebuah mukzizat. “Itu semua keajaiban, itu semua rumah di sekitarnya kena longsor,” jelasnya. Sedang menurut Yono, sosok Juan dikenal sebagai tetangga yang baik. Rumah dia juga kerap dipakai pengajian. “Biasa di kampung dipakai pengajian, selamatan,” jelas Yono. Juan diketahui meninggal dunia dalam peristiwa ini. Dia dan anaknya Daffa (8) saat peristiwa terjadi tengah berada di luar rumah, di tempat orangtuanya. Keduanya tertimbun longsoran. Namun istrinya Khotimah selamat dalam insiden itu. Khotimah tengah hamil tujuh bulan dan kini ada di pengungsian. Khotimah saat peristiwa terjadi berada di rumah.

Longsor di Banjarnegara, Jawa Tegah menewaskan 39 korban, dan masih bisa terus bertambah. Wapres Jusuf Kalla mengatakan meski bencana ini tidak tergolong sebagai bencana nasional, pemerintah akan tetap membantu. “Ya itu ada standart (untuk menetapkan bencana nasional) ada aturannya itu. Ya bencana nasional sama bencana biasa sama saja treatmentnya. Tidak ada bedanya sama sekali sebenarnya,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wakil Presiden Jalan Medan Merdeka Utara, Jakpus, Senin (15/12/2014).

Ia mengatakan pemerintah tidak bisa menetapkan sebuah bencana sebagai bencana nasional begitu saja. Penetapan bencana nasional diatur dalam UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional dan Peraturan Presiden. Pasal 7 Undang-undang itu menyebutkan ada indikator jumlah korban, kerugian harta benda, kerusakan sarana dan prasarana, cakupan luas wilayah, dan dampak sosial-ekonomi. Selanjutnya akan diatur dalam Peraturan Presiden.

Selama ini hanya bencana Tsunami Aceh yang ditetapkan sebagai bencana nasional. Bencana gunung Sinabung dan Merapi yang terjadi tahun lalu tak ditetapkan pemerintah menjadi bencana nasional. JK menegaskan pemerintah pasti akan memberikan bantuan pada korban secara maksimal. “Semuanya akan dibantu. Pemberian bantuan pasti dilaksanakan sesuai dengan biasanya. Ini kan kita bukan satu kali menghadapi bencana,” pungkasnya.

Jumat (12/12) sore lalu tampak ombak menggulung-gulung di bukit Jemblung. Tapi itu bukan ombak lautan, melainkan ombak tanah longsor. Ombak tanah itu lalu menyapu perkampungan Dusun Jemblung, Desa Sampang, Karangkobar, Banjarnegara. Sebanyak 40 orang tewas, 68 hilang. Mereka yang selamat mengucapkan syukur, masih diberikan kesempatan hidup kedua.

Para korban yang selamat itu mengisahkan perjuangan mereka untuk bisa selamat dan keluar dari timbunan tanah. Ada yang harus menggali hingga berjam-jam dengan menggunakan batang pohon, ada juga yang sudah tertimbun tanah hingga seleher dan akhirnya ditemukan tim SAR. Berikut kisah perjuangan mereka:

Wawan Wahyuni (20) terjebak selama 7 jam di bawah tanah longsor. Wawan akhirnya selamat setelah menggali tanah menggunakan batang pohon singkong yang menimbun hampir seluruh tubuhnya sambil menunggu bantuan datang.

Karena tanah yang menimbun dirinya masih lembek, dia mengeluarkan kedua tangannya yang sempat ikut tertimbun untuk meraih sebatang pohon singkong yang tidak jauh dari dirinya. Sedikit demi sedikit dia coba mengorek-ngorek tanah yang menutupi tubuhnya hingga sebatas dada agar memudahkan dirinya untuk bernafas dan menunggu bantuan datang.

Saat hampir putus asa di tengah kegelapan dan kabut dia menunggu pertolongan, ketika itu pula dia melihat ada cahaya dari lampu senter warga dan relawan yang berusaha mencari korban longsor yang selamat. “Saya langsung teriak meinta tolong hingga akhirnya didengar, jaraknya sekitar 100 meter,” ungkap Wawan, Minggu (14/12/2014).

Karena jarak dia dengan relawan yang akan menolong cukup jauh, dia terpaksa harus kembali menunggu proses evakuasi terhadap dirinya dilakukan. Hingga akhirnya dia dapat diselamatkan setelah bertahan sekitar 7 jam. Dia mengungkapkan, relawan kesulitan mengevakuasi dirinya, pasalnya tanah yang berada di sekitar lokasi longsor masih sangat labil, sehingga butuh proses lama hingga akhirnya dia dapat diselamatkan.

“Saat itu relawan hanya menggunakan papan yang diestafet untuk menjangkau lokasi saya. Saya juga diminta untuk tidak banyak bergerak agar tidak lemas, kalau ada apa-apa saya hanya disuruh teriak,” jelasnya. Setelah berhasil diangkat dari dalam tanah, tiba-tiba relawan yang bertugas di sisi bukit memberikan kode bahwa ada longsoran ketiga. “Waktu itu ada 6 relawan yang evakuasi saya, saya sudah lemas dan tiba-tiba ada kode, ‘mengko disit golet titik aman, munggah-munggah’ (nanti dulu, cari titik aman, naik-naik). Suruh pada naik, karena air meluap-luap, karena ada longsoran,” ungkapnya. Dia mengaku saat itu sangat haus, lemas dan kedinginan. Namun dia bersyukur bisa selamat dari bencana itu.

Khotimah (25) salah satu warga yang selamat. Ibu yang sedang hamil 7 bulan ini sempat tertimbun tanah hingga sebatas leher. Saat kejadian, dia benar-benar melihat dengan jelas longsor yang menimbun puluhan rumah di Dusun Jemblung pada hari Jumat (12/12) sekitar pukul 17.30 WIB itu. Ketika itu dirinya tengah mengambil pakaian dari jemuran bersama keponakannya. “Saya melihat ada longsor dari atas bukit turun seperti ombak. Saya langsung lari masuk rumah dan menarik keponakan saya dan lari keluar rumah,” jelas dia.

Namun karena longsoran tanah bergerak dengan cepat, dia dan keponakannya terseret material longsoran tanah hingga puluhan meter dengan kondisi badan yang tertimbun longsor hingga seleher. Beruntung dia dan keponakannya selamat. Tapi tidak dengan suami dan anaknya, Juan (25) dan Dafa (8) yang saat kejadian sedang berada di rumah mertua. Dia melihat dengan jelas ketika terseret longsor, suami dan mertuanya ikut terbawa material longsoran.

“Saya lihat suami dan mertua saya tergulung material longsoran, tapi saya tidak melihat Dafa,” ujar dia yang terus berharap jenazah keluarganya dapat ditemukan. Sore itu merupakan hari yang tidak bisa dilupakan oleh Giman, warga RT 5/1 Dusun Jemblung ini. Giman yang sedang mencuci mobil di halaman rumahnya, melihat langsung runtuhnya tebing di bukit yang berada di sekitar permukiman warga. “Saya sedang nyuci mobil, tiba-tiba tebing langsung longsor,” kata Giman di lokasi, Sabtu (13/12/2014).

Lokasi rumah Giman memang berada di dataran yang agak tinggi dari lokasi longsor, sehingga ketika longsoran dari tebing tersebut runtuh, dirinya dapat melihat jelas dahsyatnya reruntuhan tanah tersebut menyapu permukiman yang berada di bawahnya. “Kejadiannya cepat, tidak sampai lima menit, pertama saya lihat bukit runtuh dikit-dikit, tapi tiba-tiba semuanya langsung runtuh,” jelasnya.

Giman yang selamat langsung membantu mencari korban yang tertimbun. Setelah kejadian itu, suasana sekitar dusun langsung sepi. Suara meminta tolong terus terdengar sedangkan hujan tiba-tiba turun usai longsor terjadi. Sementara akibat longsoran tersebut, akses listrik langsung terputus sehingga suasa sekitar dusun gelap gulita.

Tanah Longsor Pemakan Korban Jiwa Terbesar di 2014


Memasuki akhir tahun, musim hujan mulai tiba. Curah hujan yang lebat menjadi salah satu penyebab terjadinya longsor. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama 2014 ini telah terjadi 337 musibah longsor yang memakan korban jiwa sebanyak 267 orang. Sehingga, hal ini harus mendapat perhatian lebih serius lagi dari seluruh pihak.

“Longsor menjadi bencana yang menimbulkan korban jiwa terbesar selama 2014. Daerah yang terlanda longsor umumnya tidak luas dan menyebar luas di seluruh wilayah Indonesia yang bertopografi curam,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui pesan singkatnya, Minggu (23/11/2014) dini hari.

Dia mengungkapkan, mustahil bila pemerintah membangun talud di seluruh daerah rawan longsor untuk meminimalisir kejadian tersebut. Pasalnya, ada 274 kabupaten/kota tercatat ada di kategori daerah bahaya sedang-tinggi terhadap longsor di Indonesia.

“Ada 124 juta jiwa penduduk yang terpapar dari bahaya sedang-tinggi dari longsor. Umumnya korban longsor adalah masyarakat yang kelas ekonominya rendah yang menempati daerah-daerah rawan longsor. Terbatasnya kemampuan untuk memproteksi diri dan lingkungannya, menyebabkan masyarakat selalu terancam dari longsor,” tutupnya.

Relokasi Masyarakat Di Daerah Rawan Bencana Alam Terkendala Perizinan Pemerintah


Pasca kehadiran Presiden Joko Widodo ke kawasan Gunung Sinabung, berbagai kementerian dan lembaga langsung bersinergi melakukan relokasi bagi warga. Proses relokasi ini sempat terhambat cukup lama karena masalah perizinan. Menurut Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, kendala relokasi tak hanya soal perizinan. Namun juga erat kaitannya dengan budaya dan kemauan masyarakat.

“Kesuksesan relokasi tergantung masyarakatnya,” kata Sutopo dalam jumpa pers di Kantor BNPB, Jl Juanda, Jakarta Pusat, Jumat (31/10/2014). Sutopo mencontohkan proses relokasi pasca erupsi Gunung Kelud di Jawa Timur. Proses relokasi yang melibatkan lebih dari 50 ribu warga ini berlangsung cukup efektif.

Menurut Sutopo, para korban erupsi Gunung Kelud tersebut dengan suka rela kembali ke rumahnya setelah mengungsi selama seminggu. Mereka bahkan tak memanfaatkan kendaraan yang disediakan pemerintah dan memilih menyewa kendaraan sendiri. “Waktu mereka lihat rumah hancur, mereka cuma minta genteng. Lalu kami siapkan 2 ribu lebih genteng, dan mereka bekerjasama dengan TNI membangun rumahnya,” ucap Sutopo.

Menurut Sutopo, para korban erupsi Gunung Kelud memiliki ‘willingnes’ atau kemauan yang kuat untuk memperbaiki nasibnya. Mereka juga menyadari bahwa bencana tersebut suatu saat akan menjadi berkah yang menyuburkan lahan-lahan pertanian mereka. “Dana yang kami habiskan hanya Rp 42 miliar untuk proses relokasi bencana sebesar itu. Hemat sekali,” katanya.

Sementara itu, yang terjadi dengan korban erupsi Gunung Sinabung cukup berbeda. Menurutnya, pemerintah telah menyiapkan seng kualitas terbaik untuk membangun rumah, namun proses relokasi belum juga selesai.

“Menurut salah satu survei di Universitas Gajah Mada, semakin banyak pemerintah memberi bantuan untuk warga pasca bencana, willingnes mereka semakin rendah. Tapi masak kita mau menunda-nunda bantuan,” tuturnya.

Infografis Antisipasi Bencana Alam Per Provinsi Di Indonesia Versi BNPB


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bekerjasama dengan Badan Pusat Statistik (BPS) meluncurkan buku Infografis Provinsi Wilayah. Buku panduan ini dibuat sebagai bentuk antisipasi dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana dan respon kemanusiaan.

“Data dasar sangat penting dalam setiap tahapan dalam penanggulangan bencana. Dengan publikasi buku ini diharapkan bisa berkontribusi untuk pemerintah, pelaku kemanusiaan, dan masyarakat umum lain,” kata Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, Wisnu Wijaya di sela-sela seminar dan launching buku infografis bencana dan antisipasi bencana di Hotel Four Seasons, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis (27/11/2014).

Wisnu menjelaskan sudah seharusnya Indonesia punya buku panduan terkait data infografis provinsi wilayah. Sebagai negara yang statusnya rawan gempa, masyarakat punya pegangan dalam mengantisipasi bencana. Menurutnya, peristiwa bencana Tsunami di Aceh dan sekitarnya pada 2004 lalu telah membuka kesadaran masyarakat akan bahaya bencana. Sejak bencana itu, mental masyarakat Indonesia dinilai lebih tangguh dalam menghadapi bencana.

“Kejadian bencana tsunami 10 tahun lalu itu membuat kita mengalami revolusi mental. Kita benar-benar menghayati korban kita yang paling banyak. Tidak dibayangkan korban sebanyak itu. Luar biasa bagaimana bencana ini,” sebutnya.

Buku infografis ini bersumber dari hasil sensus penduduk dan survei skala besar seperti Sendus Penduduk 2010 dan Potensi Desa 2011. Data ini kemudian diolah dan disajikan dengan tujuan untuk membantu penyusunan rencana dan analisis yang lebih tepat dalam menentukan jumlah populasi, termasuk kelompok rentan dan prasarana umum yang terdampak bahaya.

Dalam buku ini selain data wilayah provinsi, terdapat juga data ketahanan pangan hingga kejadian bencana alam pada 2008-2012. Selain BNPB dan BPS, buka panduan ini juga merupakan hasil dukungan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) antar lain seperti United Nations Population Fund (UNFPA), United Nations Development Programmme (UNDP), dan OCHA Indonesia.