Categories
Berbudaya Transportasi

Asal Mula Sejarah Mudik Di Batavia


Tidak ada catatan yang bisa memastikan kapan mudik Lebaran pertama kali dilakukan. Umumnya dari kita menerima mudik begitu saja sebagai sebuah peristiwa sosial yang dijalani banyak orang menjelang Lebaran.

Sejarawan dari UGM Djoko Suryo menyatakan fenomena mudik selalu berkaitan dengan kondisi sosial ekonomi dan juga infrastruktur perhubungan di Indonesia. “Memang belum ada catatannya. Tapi saya kira fenomena mudik ini mulai ada di sekitar tahun 1920-an, sejak zaman kolonial, ” katanya saat berbincang.

Mudik, lanjut Djoko, sedari awal, selalu menjadikan Batavia atau Jakarta sebagai pusat ceritanya. Mudik sudah mulai dilakukan oleh orang-orang semenjak Batavia menjadi kota paling besar di zaman kolonial dan kini berubah menjadi Jakarta dan tetap menjadi kota terbesar di Indonesia.

Djoko menyebutkan, saat kolonial, orang-orang sudah melakukan urbanisasi ke kota dan Batavia adalah salah satu tujuan utamanya. Di kota ini, sebagai kota yang mulai tumbuh, membutuhkan banyak pekerja apakah untuk sektor formal dan informal. Kebutuhan akan pekerja ini menarik banyak orang dari daerah sekitarnya.

Pertumbuhan kota yang luar biasa, sebagaimana disebutkan oleh J.S Furnivall dalam bukunya ‘Hindia Belanda: Studi tentang Ekonomi Majemuk’, disebabkan oleh beberapa hal. Batavia yang berada di daerah pantai atau pelabuhan menjadi melting pot berbagai macam suku dan juga budayanya.

Sejak akhir abad ke-17, penduduk Batavia setidaknya terbagi menjadi Belanda atau Eropa, Indo, China, Hadramaut atau Arab, Jawa, Melayu, Bali. Sementara orang Betawi yang disebut sebagai orang asli Batavia atau Jakarta diyakini sebagai keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa. Komposisi penduduk Batavia relatif tidak mengalami perubahan hingga sekarang.

Sebagai kota pelabuhan, Batavia menjadi pusat bisnis. Hampir semua barang dan komoditas diperdagangkan di kota ini. Barang-barang dan komoditas itu tidak hanya didatangkan dari daerah-daerah lain yang ada di Nusantara waktu itu. Beberapa barang juga didatangkan dari luar negeri. Perdagangan selalu berarti uang, dan pekerjaan. Tak salah jika semua ingin menjadi bagian dari Batavia.

Batavia sebut Furnivall menjadi pusat pemerintahan kolonial. Pemerintah kolonial waktu itu tidak mungkin mengisi seluruh bagian aparaturnya dengan orang-orang Belanda. Hanya pos-pos penting yang diberikan pada orang-orang Belanda, sisanya diberikan oleh kelompok Eropa atau Indo. Sisanya diberikan kepada orang-orang pribumi atau Jawa. Makanya, untuk menopang itu, sekolah-sekolah juga mulai didirikan di Batavia. Alasan utamanya untuk memenuhi kebutuhan para aparat pemerintahannya.

Orang-orang China, sedari awal tidak pernah dilibatkan dalam pemerintahan. Mereka selalu menjadi aktor-aktor utama dalam bidang ekonomi. Furnivall menyatakan salah satu sebab mengapa orang-orang China bertumpuk di bidang ekonomi karena pemerintah kolonial tidak pernah memasukkan mereka dalam pemerintahan.

“Saat akhir zaman kolonial, ketika Batavia sudah makin besar, banyak orang pergi ke sana. Nah saat Lebaran, para kaum urban ini kemudian ingin pulang ke kampung halamannya untuk melepas rindu dan silaturahmi dengan keluarga. Saya kira ini menjadi awal ritual mudik Lebaran di Indonesia,” tutur Djoko.

Kata mudik sendiri, ungkap Djoko adalah sebuah kata yang dekat dengan Betawi, orang yang disebut sebagai penduduk asli Batavia. Mudik berasal dari kata udik yang berarti kampung. Mudik lalu berarti aktivitas orang-orang yang tinggal di Batavia untuk pulang ke kampungnya masing-masing. Mudik ini menjadi petunjuk jelas bahwa Batavia, sebut Djoko adalah pusat atau center, sementara yang daerah lainnya yang disebut udik itu adalah pinggiran.

‘Ya sejak awal mudik selalu pusatnya adalah di Batavia, kini Jakarta. Saya kira itu tidak banyak berubah sampai sekarang. Orang-orang mudik itu ya biasanya mereka yang tinggal di Jakarta yang pulang kampung saat Lebaran. Sebutan itu jadi kurang cocok untuk orang yang tinggal di kota lain selain Jakarta,” tutur Djoko.

Categories
Berbudaya Transportasi

Kecelakaan Lebaran 2015 Meningkat Dibandingkan Tahun 2014 dan 2013


Mudik terus berlansung hingga Lebaran nanti. Menurut Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Agus Rianto jumlah kecelakaan yang terjadi di H-3 mencapai 265 kecelakaan. Dari 265 kecelakaan tersebut, Agus mengatakan jumlah korban meninggal dunia ada 53 orang, korban luka berat 99 orang, dan yang hanya mengalami luka ringan berjumlah 318 orang.

Sementara itu Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Komisaris Besar Suharsono mengatakan selain kecelakaan ada sejumlah gangguan keamanan yang terjadi. Data yang dia dapat, dari H-4 dan H-3 jumlah gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat berjumlah 31 orang.

“Kerugian materiil yang didapat akibat kejadian-kejadian tersebut berjumlah Rp 765 juta,” kata Suharsono saat dikonfirmasi, Rabu (15/7). Dengan hasil tersebut total kecelakaan yang terjadi, sejak Operasi Ketupat dilaksanakan pada Jumat (10/7), berjumlah 988 kejadian. Sementara untuk korban jiwa, hingga H-3 maka jumlahnya mencapai 205 korban jiwa. Angka tersebut jika dibandingkan H-3 Lebaran tahun lalu mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Menurut data 2014, H-3 lebaran menghasilkan total 731 kecelakaan semenjak dimulainya Operasi Ketupat 2014. Itu artinya naik 257 kecelakaan jika dibandingkan data H-3 di 2015. Sementara untuk korban meninggal pada H-3, Pada tahun di 2015 jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan korban 2014 dan 2013 di periode yang sama. Pada 2014, jumlah korban jiwa ‘hanya’ 164 orang, dan di 2013 berjumlah 178 orang.

Sebelumnya Kapolri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan Operasi Ketupat 2015 akan berjalan selama 16 hari, dimulai pada Jumat (10/7).”Personel akan berjaga selama 16 hari mulai 10 Juli hingga 25 Juli 2015,” kata Badrodin saat menggelar apel gelar pasukan Ops Ketupat 2015 di Polda Metro Jaya, Kamis (9/7).

Selain itu, Badrodin memprediksikan bahwa puncak arus mudik akan dimulai pada H minus tujuh lebaran sedangkan arus balik akan terjadi pada H plus tiga lebaran. Sementara untuk personel yang akan diturunkan, Badrodin mengatakan khusus untuk Polri dia memerintahkan 82.538 personel untuk mengamankan Lebaran. Namun bukan hanya Polri, instansi lain pun ikut membantu turun ke lapangan. “12.761 anggota TNI dan 50.377 dari instansi terkait. Sehingga total keseluruhan personel yang turun berjumlah 145.476 personel,” kata Badrodin

Categories
Berbudaya Transportasi

Puncak Arus Mudik Bandara Soekarno-Hatta Diperkirakan H -2


PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II memperkirakan puncak arus mudik lebaran 2015 di Bandara Soekarno-Hatta terjadi pada H-2 atau Rabu (15/7) dengan estimasi jumlah penumpang yang terbang dari Cengkareng sebanyak 193.754 orang. Sementara itu arus balik tersibuk di bandara terbesar di Indonesia itu diperkirakan terjadi pada H 5 atau Kamis (23/7) dengan jumlah penumpang pesawat sebanyak 197.701 orang.

Direktur Utama AP II Budi Karya Sumadi mengatakan selama H-7 sampai H 7 musim libur lebaran tahun ini, Bandara Soekarno-Hatta diyakini bakal melayani pergerakan penumpang sebanyak 2,71 juta orang. “Jumlah tersebut naik 2 persen dibandingkan realisasi periode yang sama tahun lalu sebanyak 2,66 juta orang,” ujar Budi seperti dikutip dari keterangan pers, Jumat (3/7).

Guna menjamin kenyamanan penumpang pesawat, AP II membuka tiga posko Angkutan Lebaran yaitu Posko Utama di Terminal 1, lalu posko di Terminal 1B Keberangkatan dan Terminal 2F. Di posko tersebut, Budi menempatkan petugas data statistik bandara sebanyak 25 orang, lalu petugas terminal operation services sebanyak 30 orang, pramuka siaga umum sebanyak 87 orang, petugas sentra operasi terminal sebanyak 22 orang, kemudian petugas informasi sebanyak 63 orang dan dari aviation security atau avsec sebanyak 306 orang.

Di samping itu, AP II juga menempatkan sebanyak 36 orang petugas customer service mobile di setiap terminal guna melayani dan membantu pemudik apabila menemui kesulitan selama di bandara. “Petugas customer service mobile ini berkeliling di seluruh terminal untuk memberikan bantuan secara cepat atas keluhan, pertanyaan, atau kesulitan yang dialami pemudik selama di bandara,” jelas Budi.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan saat memimpin Upacara Siaga Angkutan Lebaran 2015 di Soekarno-Hatta pagi tadi meminta setiap instansi yang ada di bandara dapat meningkatkan koordinasi dalam melayani para penumpang pesawat. “Soekarno-Hatta ini mewakili sekitar 60 persen lalu lintas angkutan udara di Indonesia, sehingga bandara ini menjadi patokan. Kalau bandara ini baik saat angkutan Lebaran, maka secara keseluruhan koordinasi di bandara-bandara lainnya juga baik,” kata Jonan

Categories
Berbudaya

Pelaku Carok Massal Di Desa Pamoroh Dihukum 18 Tahun Penjara


Majelis hakim Pengadilan Negeri Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menjatuhkan vonis 18 tahun penjara kepada Sumanah dan Budhiarto, Rabu, 3 Juni 2015. Keduanya merupakan terdakwa dalam kasus pelaku carok massal yang menewaskan dua warga Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, pada 2014. “Vonis ini rekor. Sebelumnya belum pernah ada pelaku carok divonis seberat ini,” kata Sulaisi Abdurrozaq, kuasa hukum keluarga korban tewas dalam carok tersebut, menanggapi putusan hakim.

Keluarga korban, kata Sulaisi, mengaku puas dengan vonis tersebut, meski lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut terdakwa dihukum 20 tahun penjara. “Keluarga puas, apalagi jaksa menyatakan akan melakukan banding,” ujar dia. Belangsung selama hampir empat jam, ketua majelis hakim Achmat Fauzi dalam putusannya mengatakan sesuai fakta persidangan, Sumanah dan Budhiarto terbukti melakukan pembacokan terhadap korban Marzuki dan Hannan hingga keduanya tewas. “Vonis lebih ringan dari tuntutan jaksa karena pertimbangan keduanya adalah tulang punggung keluarga,” Katanya.

Dua terdakwa lain dalam carok massal, yakni Sundari dan Bahrawi, juga dijatuhi vonis masing-masing 12 dan 14 tahun penjara. Kata Fauzi, vonis keduanya lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut karena hanya ikut serta dalam carok tersebut. “Keduanya dijerat Pasal 55 KUHP,” ujar dia.

Sidang kasus carok massal ini mendapat penjagaan ketat dari Kepolisian Resor Pamekasan. Polisi menerjunkan sebanyak 250 personel untuk menjaga keamanan karena ruang sidang dipenuhi tidak hanya oleh keluarga korban, tetapi juga keluarga terdakwa. “Kami jaga ketat, jangan sampai ada gesekan antara kedua belah pihak,” kata Kepala Bagian Operasional Polres Pamekasan Komisaris Widarmanto. Carok massal di Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur, terjadi pada 20 November 2014 lalu. Marzuki dan Hannan tewas dalam perkelahian yang dilatarbelakangi sengketa tanah tersebut.

Categories
Berbudaya

Modus Buang Sampah Sembarangan Di Pagi Buta Atau Ketika Berangkat Kantor


Di wilayah Kelurahan Kuta Baru, Kabupaten Tangerang, banyak warga yang sengaja membuat sampah di pagi buta. Sampah dibawa dengan sepeda motor atau mobil lalu dilempar begitu saja di tempat pembuangan sampah liar di sejumlah titik di kawasan itu. Tempat pembuangan sampah (TPS) liar menjamur di Jalan Raya Kutabumi, Kuta Baru, Kabupaten Tangerang. Sampah-sampah tersebut berserakan di pinggir jalan tanpa ada bak penampungan tertutup.

Pantauan , setidaknya ada empat titik TPS liar di Jalan Raya Kutabumi. Titik pertama berada di depan toko telepon selular. Di titik itu sampah menumpuk tak terurus. Titik kedua, tak jauh dari situ, di depan toko plastik. Di situ kantong-kantong sampah juga menumpuk.

TPS liar ketiga berada di depan Bank Mega Syariah. Sampah-sampah tersebut berjejer serta menumpuk tak karuan. Titik keempat berada di toko selular lainnya. Sampah tersebut berada di samping pohon akasia yang sengaja di tanam di Jalan Raya Kutabumi. Tumpukan sampah yang berserakan hingga seperempat badan jalan itu kerap menyebabkan kemacetan. Warga yang melintas berusaha menghindar sehingga lajur jalan menjadi sempit.

Warga Kuta Baru Edi Sucipto (38) mengatakan dirinya kerap kali melintas di dekat tumpukan sampah. Saat melintas, ia memilih untuk menghindari tumpukan sampah agar tidak melindasnya. “Saya enggak mau lah melintas di tumpukan sampah gitu. Kotor banget, bau lagi,” kata Edi, di Tangerang, Minggu. Ia berharap pemerintah Kabupaten Tangerang segera menertibkan TPS liar ini agar jalanan menjadi bersih dan rapi. “Biar enak lah dilihatnya. Kalau sampah berserakan gitu kan enggak enak,” kata Edi.

Sementara itu, Lurah Kuta Baru Rumdani mengatakan, pengelolaan sampah berada di tangan Dinas Kebersihan Pertamanan dan Pemakamanan Kabupaten Tangerang. Pengangkutan sampah tersebut dilakukan satu kali dalam dua hari. “Sebenarnya yang buang sampah itu adalah orang yang lewat di situ, langsung lempar ke situ sambil naik kendaraan. Kadang jam tiga pagi udah penuh,” kata Rumdani saat dikonfirmasi.

Pihak Kelurahan Kuta Baru mengaku tak bisa berbuat banyak untuk membenahi kesemrawutan sampah ini. Kelurahan hanya menyediakan sepeda motor pengangkut sampah untuk TPS-TPS resmi. “Enggak ada anggaran juga kalau mau buat yang macam-macam. Tapi, nanti kita segera buat spanduk larangan serta mencantumkan perda tentang hukuman buang sampah sembarangan,” ujar Rumdani.

Categories
Berbudaya

Mari Nonton Film Gratis Tanggal 30 Maret Untuk Peringati Hari Film Nasional


Hari Film Nasional pada 30 Maret nanti tidak hanya diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang membawahi bidang perfilman, tetapi juga oleh para penggiat perfilman Indonesia. Asosiasi Produser Film Indonesia, Dewan Kesenian Jakarta, Kineforum, dan beberapa komunitas film akan menyelenggarakan festival film yang dinamakan Film and Art Celebration (FILARTC) yang diadakan di Taman Ismail Marzuki pada 27-29 Maret 2015.

“Dalam kegiatan ini, akan ada banyak kegiatan seperti pemutaran film, seminar, seni pertunjukan, pameran fotografi, poster, pertunjukan musik, hingga bazar,” ujar Leni Lolang selaku penyelenggara FILARTC ketika konferensi pers di Grand Indonesia, Jakarta Pusat (17/3).

Acara yang menargetkan pengunjung dari kalangan pencinta film, pelajar, pekerja seni, dan budayawan ini dibebaskan dari biaya masuk selama rangkaian pagelaran berlangsung.Pihak penyelenggara mengakui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan minat serta gairah menonton film masyarakat Indonesia di antara perhatian pemerintah yang masih minim guna mendukung pertumbuhan perfilman Indonesia.

Beberapa acara seperti seminar akan ditampilkan selama tiga hari penyelenggaraan. Seminar tersebut memiliki topik seperti Kebijakan Film dan Implementasinya, Mencari Penonton Indonesia, serta Peluang dan Jalur Distribusi Film Indonesia. Mulai dari pengamat film, pihak bioskop, hingga Menteri Pendidikan Anies Baswedan dijadwalkan menjadi pembicara.

Pertunjukan musik yang akan disuguhkan berasal dari musisi-musisi yang sudah tak lagi asing, seperti Endah n Rhesa, Bondan, Vicky Sianipar, Rika Roeslan, Bonita, Pandai Besi, dan Matajiwa. Sedangkan pemutaran film yang akan digelar selama tiga hari pun menampilkan film-film berkualitas dari Indonesia seperti Ca Bau Kan, Maryam, Misbar: Lewat Djam Malam, Ayat-ayat Cinta, Darah dan Doa, Beta Maluku, Laskar Pelangi, Tarian Malam, dan Get Merried.

Categories
Berbudaya

Reportase Gang Pattaya Surabaya Tempat Komunitas Generasi Belok Kaum Gay


Meski bebas untuk siapa saja, namun komunitas ‘Generasi Belok’ yang biasa mangkal di Gang Pattaya tetap tertutup. Mereka akan mencurigai bila ada pendatang baru. Gang Pattaya yang berada tak jauh dari Jembatan Gubeng, Surabaya, itu memang dikenal memiliki privacy yang kuat. Selain itu, mereka yang tidak gay tentu akan takut bila mencoba-coba memasuki gang gelap di tepi Sungai Kalimas itu.

Yang mencoba berbaur secara diam-diam pun tak luput dari perhatian mereka, akhir pekan lalu. Bahkan, mereka sempat memergoki yang coba mengambil gambar mereka secara sembunyi-sembunyi. Memory card di kamera dimintanya. Dua orang yang naik motor menghampiri dan menginterogasi. “Kamu wartawan ya, ndak usah berbohong,” kata beberapa pria yang mendatangi.

Salah satu kemudian merampas kamera DSLR Nikon. Memory Card 32 GBpun yang ada di dalam kamera diambil paksa. Kedua orang itu lantas mengusir pergi dari Gang Pattaya. “Sudah pulang kamu,” kata seorang pria gay berpostur kurus dan tinggi itu. Bahkan menunggu hingga pergi dari lokasi sek-esek sejenis itu.

Komunitas gay atau kaum belok juga tak kalah dalam pemanfaatan gadget seiring tumbuh pesatnya sosial media. Mereka diam-diam memiliki grup di dunia maya. Hasil penelusuran, komunitas gay aktif di aplikasi grindr dan Jackd. Aplikasi khusus ini mudah ditemukan karena terdapat di playstore. Dalam aplikasi itu, anggota yang sudah terhubung bisa mendapatkan atau mencari gay lain di lokasi terdekatnya.

“Membernya banyak, tak hanya di Surabaya tapi Indonesia dan luar Indonesia. Kan ini aplikasi terbuka siapapun bisa bergabung,” kata Bastian, pemuda gay, Rabu (24/12/2014). Meski aplikasi ini untuk komunitasi gay, namun diantara mereka juga banyak yang enggan menggunakan aplikasi tersebut. “Banyak yang nipu, dan banyak yang gila kirim foto alat vital atau pinoy,” kata Bastian.

Selain Gang Pattaya di Gubeng, di Kota Surabaya banyak tempat yang menjadi lokasi mangkal atau kopi darat gay atau kaum belok. Selain itu di antara mereka juga memiliki istilah yang lumayan antik. Istilah yang jarang dipahami publik itu sengaja diciptakan sebagai simbol komunikasi di antara mereka sendiri sehingga memudahkan dalam pergaulan terbatas itu. “Kalau di gay ini kita pakai sebutan sendiri untuk siapa yang jadi lakinya atau perempuannya. Ada top, bottom dan ada juga versatile,” ungkap gay yang mengaku bernama Bastian kepada di salah satu restoran cepat saji di pusat perbelanjaan di Surabaya timur, Rabu (24/12/2014).

Pemuda yang mengaku bekerja di salah satu kafe di kawasan Juanda ini menerangkan top ditujukan pada gay yang memposisikan sebagai laki-laki. “Bottom ditujukan pada gay yang memposisikan sebagai perempuan. Sedangkan versatile adalah gay yang bisa memposisikan diri sebagai perempuan dan bisa juga sebagai laki-laki, tergantung pasangannya,” terang dia.

Bastian, menerangkan gay top lebih identik dengan pria yang maskulin dan berbadan agak kekar. Sedangkan bottom sendiri identik dengan pria yang agak feminim dan lemah gemulai. “Mudah kok melihat orang yang gay pada posisi top atau bottom. Kita juga punya feeling. Jadi kita kayak punya semacam G-radar dalam diri kita (radar gay),” jelas pria yang juga mantan wartawan ini.

Sedangkan untu berhubungan badan, mereka lebih menyukai menyebutnya dengan istilah penetrasi. “Kita pakai bahasa biologis saja, penetrasi lebih halus daripada bersetubuh,” katanya. Lain lagi dengan istilah twink. Twink adalah sebutan gay khusus untuk anak-anak muda alias brondong. Bagi gay yang berperut buncit alias gendut disebut dengan bear yang tak lain beruang.

“Sementara gay yang sudah berkeluarga (dengan istri perempuan) biasa disebut dengan sapaan daddy,” tambah gay yang biasa disebut Egy yang mendampingi Bastian. Nah, untuk alat kelamin pria disebutnya dengan pinoy. Sudah bukan rahasia lagi bila Gang Pattaya di Gubeng Surabaya menjadi tempat lokalisasinya kelompok Gay atau Kaum Belok. Hampir setiap malam, para gay mangkal di gang yang gelap itu.

Meski lokasinya di pusat kota, namun kaum belok nampaknya tak risih menjadi perhatian publik. Di gang yang di tepi Sungai Kalimas itu mereka melakukan jual beli dengan kelompok sejenisnya. “Ya murah meriah. Kadang dapat Rp 25 ribu untuk maaf,oral saja,” kata seorang pemuda gay yang mengaku bernama Ray ketika bincang-bincang, Rabu (24/12/2014) malam di salah satu kafe di Sutos, Surabaya.

Para kaum belok yang mendatangi Gang Patttaya ini seperti halnya kaum hidung belang yang mencari kepuasan seksual di Dolly, ketika masih beroperasi. “Mereka jajan, kaum gay kan juga ada yang menjadi pelacurnya,” ujar Ray. Namun, kata Ray, tidak semua gay mau bertandang ke Gang Pattaya. Gay, kata dia, juga memliki kelas atau strata. Yang elit lebih suka mencari kekasih khusus. Dengan memiliki pasangan yang setia, mereka bisa memilih hotel untuk menyalurkan hasrat seksualnya.

“Kalau di Gang Pattaya mereka hanya oral saja, di pinggir sungai atau kadang di atas motor yang diparkir,” katanya. Namun, lanjut Ray, bila mereka sepakat melakukan hubungan badan atau biasa disebut penetrasi maka lokasinya di tempat lain. Penetrasi merupakan istilah gay untuk berhubungan badan. “Tergantung kesepakatan, bisa di hotel atau di tempat kosnya,” tambah Ray. Berapa ongkosnya? “Ya tergantung kesepakatan.

Kadang juga tidak bayar bila sama-sama menginginkan,” tambah gay lain yang biasa disapa Hans saat ditemui di salah satu mal di Surabaya Timur. Surabaya sebagai Kota Metropolitan tak luput dari segudang problema sosialnya. Tak terkecuali masalah perkembangan hubungan sesama jenis antara kaum pria atau biasa disebut ‘generasi belok’.

Di Kota Pahlawan, tempat berkumpulnya para lelaki yang menyayangi sejenisnya atau temu darat tak asing lagi. Bak tempat lokalisasi, kawasan di tepi Sungai Kalimas menjadi tempat ‘kopi darat’ sekaligus melakukan transaksi seksual. Lokasi yang berada di jantung kota Surabaya ini disebutnya dengan Gang Pattaya. Yang pasti bukan di Thailand, tapi Pattaya satu ini ada di wilayah Gubeng, Surabaya.

Seorang gay sebut saja Aya ini mengakui bahwa di Gang Pattaya merupakan lokalisasinya generasi belok. Tidak semua gay memilih gang yang kalau malam penerangannya cukup minim itu. “Ramainya kalau Sabtu malam,” ujar pria berkaca mata yang juga menjadi gay saat bincang-bincang, Rabu (24/12/2014) malam. Di gang ini, para gay dari berbagai latar belakang dan usia berkumpul untuk mencari pasangannya. Di tempat tersebut terdapat warung. Dan pendatang baru yang datang pasti akan diselidiki oleh mereka.

Lokasi Gang Pattaya ini sekitar Jembatan Gubeng. Sebelum jembatan, ada gang ke arah kiri. Gang tersebut tembus hingga ke dekat Jembatan Kayun. Namun, untuk mobil tidak bisa karena lebar gang yang sempit.

Categories
Beragama Berbudaya

MUI Ingin Batas Bawah Usia Nikah Diturunkan Jadi 16 Tahun


Majelis Ulama Indonesia bersikeras menetapkan usia pernikahan untuk perempuan minimal 16 tahun. Menurut Ketua MUI Amidhan Shabera, tujuan lembaganya membatasi umur minimal itu untuk menghindari perzinaan.

“Kalau rentang waktu dari akil balig hingga 18 tahun itu sangat lama. Remaja bisa tergoda pergaulan bebas,” ujar Amidhan kepada para peserta diskusi tentang pernikahan anak di kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta, pada Jumat, 12 Desember 2014.

Menurut Amidhan, negara punya tanggung jawab menjauhkan remaja dari pergaulan bebas. Angka pergaulan bebas oleh remaja sangat mengkhawatirkan. “Untuk mengurangi itu, salah satu caranya adalah mengizinkan mereka menikah pada usia yang tepat.”

Bila ditahan-tahan untuk menikah, tutur Amdihan, MUI khawatir remaja akan kabur dari pengawasan orang tua dan tidak melakukan prosedur pernikahan secara legal. Pandangan MUI tersebut senada dengan dua organisasi Islam: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Ketiganya telah memberikan pendapatnya masing-masing di Mahkamah Konstitusi terkait dengan uji materi Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyebutkan batas minimal usia perkawinan bagi perempuan adalah 16 tahun.

Pasal tersebut sedang diujimaterikan di Mahkamah Konstitusi dengan pemohon Zumrotin Susilo dari Yayasan Kesehatan Perempuan. Alasannya, pasal itu melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak. Berbeda dengan MUI, NU, dan Muhammadiyah, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia serta Perwakilan Umat Buddha Indonesia setuju dengan usia nikah minimal 18 tahun. Alasan sosial dan kesehatan menjadi pertimbangan keduanya mendukung uji materi pasal tersebut di MK.

Dan menahan nafsu adalah perbuatan yang mulia.

Categories
Berbudaya Kreatif

Yogyakarta Raih Gelar Sebagai Kota Batik Dunia


Meski Daerah Istimewa Yogyakarta mendapat anugerah sebagai Kota Batik Dunia oleh Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC) pada 18 Oktober, regenerasi pembatik menjadi kendala. Mayoritas pembatik berusia tua, sedangkan yang masih muda tak banyak yang tertarik membatik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan DIY untuk mempertahankan batik sebagai warisan dunia. “Selama kehidupan pembatik tidak semakin baik, yang muda tidak akan mau menjadi pembatik. Yang membatik yang tua-tua saja,” kata Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X saat ditemui di Kepatihan Yogyakarta, Selasa, 21 Oktober 2014. Salah satu solusi yang disampaikan Sultan adalah memberikan insentif kepada pembatik dengan menggunakan dana keistimewaan DIY. Dana tersebut diambil dari pos kebudayaan. Menurut Sultan, jika bantuan dana diambil lewat dana keistimewaan, tidak akan menjadi masalah.

Sultan berharap batik-batik yang sudah digarap pengrajin di desa-desa bisa terus tumbuh dan berkembang. Apalagi pengrajin batik berada di perkampungan dalam bentuk industri rumah tangga. Sementara itu, pemberian penghargaan Kota Batik Dunia baru kali pertama dilakukan. Penghargaan tersebut diterima oleh perwakilan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY Gusti Kanjeng Ratu Pembayun dalam peringatan hari jadi ke-50 WCC di Dongyang, Korea Selatan. Sultan membenarkan bahwa DIY semula ikut mendaftarkan mewakili Indonesia dan telah ada tim WCC yang datang melakukan penilaian. DIY berhasil mengalahkan enam negara kontestan dari Asia-Pasifik.

“Karena, kan, banyak negara yang mempunyai kerajinan batik. Penghargaan itu sebagai penghormatan Indonesia sebagai negara asal batik,” kata Ketua Dekranasda Kota Yogyakarta Tri Kirana Muslidatun.

Tim penilai datang sekitar sebulan lalu. Mereka melakukan peninjauan di beberapa kampung batik, yaitu Kota Gede, Ngasem, dan Badran. Penilaian yang diberikan antara lain tentang peran pemerintah dan lembaga kerajinan dalam mengembangkan, memberikan bantuan dana dan pelatihan, serta pemasaran kepada pengrajin batik. Hingga kini ada sekitar 80 pengrajin batik yang masih bertahan di Yogyakarta. Mereka juga melestarikan motif-motif batik kuno hingga sekarang. “Misalnya, motif kawung. Motif-motif tradisional itu dari Keraton,” kata Tri Kirana.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengajukan Surakarta sebagai kota kreatif ke UNESCO, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa di bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan aplikasi pengajuan Surakarta sudah masuk ke UNESCO. “Pengumumannya Oktober nanti. Kami berharap Solo terpilih sebagai kota kreatif berbasis desain,” katanya saat berkunjung ke Pasar Klewer di Surakarta, Senin, 23 Juni 2014.

Dia menilai Surakarta punya keunggulan di bidang desain, khususnya desain batik. Desain batik Solo tidak terpaku pada motif klasik, tetapi sudah berani mengeksplorasi motif modern. “Misalnya, tadi saya lihat ada batik dengan motif lobster. Kayaknya dulu tidak ada,” ucapnya. Mari Elka mengatakan sah-sah saja ada berbagai motif batik kontemporer. Justru kreasi dan inovasi tersebut akan membuat batik tetap hidup. “Inovasi desain dan kreativitas akan membuat batik terus berkembang dan hidup,” katanya.

Dia mengaku sengaja mengunjungi Pasar Klewer karena ingin melihat kota dari aspek perdagangan batik. Terutama Mari Elka ingin melihat seperti apa industri skala rumah tangga dan tradisional bisa menjadi besar. “Saya sudah beberapa kali mengunjungi perajin batik atau orang kreatif yang bekerja di bidang batik. Sekarang saya ingin lihat sisi perdagangannya,” ucapnya.

Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Surakarta Subagiyo mengatakan ada sekitar dua ribu pedagang di Pasar Klewer. Produk yang ditawarkan tidak hanya kemeja, tetapi juga kain batik dan aksesoris batik. “Kalau soal batik, Pasar Klewer tidak ada tandingannya,” katanya. Dia menuturkan Mari Elka ingin berkunjung ke Pasar Klewer karena ingin melihat secara langsung aktivitas perdagangan di pusat penjualan batik. Hal ini berhubungan dengan minat masyarakat membeli produk kreatif berupa batik.

Menteri Mari Elka menyebut tidak hanya desain batik yang berkembang di Surakarta. Dia mengatakan masih ada desain kreatif lain yang membuat Surakarta layak diajukan sebagai kota kreatif. “Misalnya di bidang arsitektur,” ucapnya. Untuk desain batik, dia melihat tidak sekadar diaplikasikan ke kain. Tapi ada juga yang membuat desain batik pada gitar atau bahkan interior sebuah hotel. “Sekarang semuanya ada nuansa batik. Ini yang kita harapkan dari sebuah kota kreatif,” katanya.

Categories
Berbudaya

Probolinggo Luncurkan 28 Motif Batik Kuno


Pemerintah Kota Probolinggo meluncurkan motif batik kuno, Jumat, 5 Desember 2014 di Gedung Kesenian Kota Probolinggo. Motif-motif kuno batik Probolinggo ini dibuat oleh warga Probolinggo sebelum 1889 atau pada masa penjajahan kolonial Belanda.

Ada 28 motif batik yang dipamerkan dari 152 motif batik yang sudah teridentifikasi berasal dari Kota Probolinggo. Replika batik kuno itu motifnya beragam yakni Batik Kembang Sembujo, Hudan Mas, Gemek Tarung, Kembang Manggar, Nus Nusan, Kecipiran, Macan Macanan, Kembang Aribang, Kembang Anggur, Sinjang Girang, Jambang, Bekutahan, Godong Klowe, Kerangan, Gundo Wijoyo, Sawah Sekedok, Manuk Beluk, Kapal Layar, Nampam Perak, Wajekan, Terate, Intipyan, Bajul Ngantang, Merah Ngigel, Kembang Dilem, Bak Boyo, Karang Melok, Merak Menclok.

Walikota Probolinggo, Rukmini mengatakan, replika batik kuno Probolinggo itu diperolehnya dari Museum Tropen Belanda. “Ada 152 motif yang tersimpan disana. Pada Maret 2014 lalu saya yang menjemput (replika) batik itu,” kata Rukmini, Jumat, 5 Desember 2014.

Rukmini mengatakan, motif batik kuno sudah didokumentasikan oleh Belanda sejak 1886. Dengan peluncuran motif batik kuno ini, sudah menjadi kewajiban pemerintah dan warga untuk ikut melestarikannya. “Para pembatik Probolinggo tidak perlu lagi mencari motif lain,” kata Rukmini dalam acara Launching Motif batik kuno Kota Probolinggo ini.

Motif ini bisa menjadi acuan bagi para pembatik di Kota Probolinggo. “Pakailah motif yang ada,” kata Rukmini. Dia juga mengatakan, sudah dua motif batik kuno yang dibuat dari replika yang diperoleh dari Museum Tropen di Belanda itu. Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kota Probolinggo, Misbahul Munir mengatakan, peluncuran motif batik ini bertujuan untuk mengidentifikasi motif batik asal Kota Probolinggo.

Master Batik asal Jogyakarta, Yuke Setyoko Lenan mengatakan, motif batik kuno ini tidak pernah dia temui di pasaran. “Ini motif kuno tapi baru. Sudah terkubur ratusan tahun,” kata ahli batik yang biasa disapa Lenan ini.

Batik Probolinggo memiliki karakteristik yang berbeda dengan motif-motif batik daerah lain seperti batik Jogya, Pekalongan atau daerah lainnya. “Perlu digali lagi informasi ihwal filosofi motif yang terkandung dalam batik kuno Probolinggo ini,” ujar Lenan. Karakteristik bati Probolinggo, kata dia tampak pada motif pecahan sebagai latar belakang pada motif dominannya.