Category Archives: Film

Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan Tidak Ingin Harrison Ford Ketemu SBY Karena Takut Dipojokan Dengan Pertanyaan Mengapa Perambah Hutan Tidak Ditindak


Aktor Hollywood Harrison Ford hari ini mewawancarai Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan sebagai bagian dari serial serial dokumenter soal lingkungan yang tengah digarapnya, Years of Living Dangerously. Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto yang mendampingi Zulkifli menyatakan bahwa setting ruangan menteri yang digunakan dalam wawancara tersebut memakan waktu sampai dua jam. “Total krunya ada enam,” ujarnya, Senin, 9 September 2013.

Menurut Hadi, keenam kru tersebut datang terpisah. Empat orang tiba lebih dulu untuk menyiapkan lokasi, sementara dua orang lain datang bersama sang aktor, sekitar pukul 14.15. Tak banyak kata yang keluar dari aktor 71 tahun itu. “Maaf, saya ada janji dengan Menteri Kehutanan, saya tidak bisa memberi keterangan,” ujarnya seraya menghindari wartawan.

Namun, wawancara tidak berlangsung dengan baik. “Ini bukan wawancara seperti biasa, tapi buat film. Saya tidak terlatih akting. Dia emosinya tinggi. Saya kagok juga didandani macam-macam,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan usai wawancara. Usut punya usut, dalam wawancara, Menteri Zulkifli sebenarnya tak didandani secara berlebihan. Ia bahkan tetap mengenakan seragam Kementerian Kehutanan yang berwarna coklat muda. Hanya saja, beberapa kru memang mengaplikasikan make up agar muka sang menteri tak berminyak. Selain itu, beberapa alat perekam juga dipasangkan ke tubuhnya.

Yang pasti, Zulkifli mengaku tak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ford. Di antaranya adalah soal pembiaran perambah hutan yang merusak Taman Nasional Tesso Nilo di Riau. “Saya paham, orang Amerika ini ke tempat kita, lihat Tesso Nilo, maunya dia perambah ditangkap, hari ini juga dihentikan. Ya, tidak bisa begitu,” ujarnya. Zulkifli menambahkan, “Tidak mudah menjelaskan kenapa kita tidak menangkap perambah, tidak dimengerti kita ini surplus demokrasi. Di Mesuji misalnya, kita tangkap satu orang, enam hari jalan diblokir,” kata Zulkifli.

Aktor Hollywood Harrison Ford hari ini mewawancarai Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan sebagai bagian dari serial serial dokumenter soal lingkungan yang tengah digarapnya, Years of Living Dangerously. Sayangnya, menurut Zulkifli, wawancara itu tak berlangsung seperti yang diharapkannya. “Ini bukan wawancara seperti biasa, tapi buat film. Saya tidak terlatih akting. Dia emosinya tinggi. Saya kagok juga didandani macam-macam,” ujarnya pada wartawan seusai menemui Ford, Senin, 9 September 2013.

Karena itu, Zulkifli akan mencegah niat Ford untuk mewawancara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Nanti Presiden dipojokkan lagi,” ujarnya. Sejak tiba dengan pesawat carteran melalui Bandara Halim Perdanakusuma pada 1 September 2013 lalu, bintang Indiana Jones itu telah melakukan beberapa proses pengambilan gambar. Aktor 71 tahun itu telah berkunjung ke Orangutan Centre Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, dan Taman Nasional Tesso Nilo di Riau.

Tak hanya itu, untuk melengkapi serial dokumenternya, Ford juga berniat mewawancarai beberapa tokoh. Di antaranya adalah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, CEO Sinarmas Grup Franky Widjaja, dan Wakil Ketua Bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim Kadin Shinta Widjaja Kamdani.

Serial dokumenter Years of Living Dangerously menurut rencana akan ditayangkan di Amerika Serikat pada April 2014. Tak hanya melibatkan Ford, beberapa nama besar Hollywood seperti James Cameron and Arnold Schwarzenegger juga terlibat dalam pembuatan serial ini sebagai produser.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertemu aktor Hollywood, Harrison Ford, di Kantor Kepresidenan Jakarta, Selasa, 10 September 2013. Dalam pertemuan itu, Harrison berkesempatan mewawancarai SBY. Lantas apa alasan SBY mau diwawancarai aktor Hollywood?

“Ini sesuatu yang positif,” kata juru bicara Kepresidenan, Julian Aldrin Pasha, di halaman parkir kompleks Istana Kepresidenan, Selasa siang. Menurut dia, wawancara dalam rangka pembuatan film dokumenter ini tidak bersifat nirlaba. “Ditujukan untuk penyelamatan hutan, lingkungan, dan mengatasi perubahan lingkungan.”

Menurut Julian, wawancara selama 30-40 menit itu menyinggung isu-isu strategis ihwal kebijakan pemerintah dalam penyelamatan lingkungan di Tanah Air. “Intinya, Indonesia sangat serius untuk upaya menyelamatkan lingkungan kita, baik itu hutan, laut, dan yang lain,” ujarnya. “Indonesia tidak ingin kerja sendiri, kita juga ingin bekerja sama dengan negara lain.”

Berdasarkan agenda resmi presiden, wawancara dijadwalkan pukul 10.00 WIB. Namun hingga dua jam setelahnya tak diketahui kedatangan Harrison di Istana. Biro Pers Istana Kepresidenan menyatakan, pertemuan tersebut tertutup untuk media. Keterangan resmi dari pihak Istana baru ada sekitar pukul 12.30 WIB.

Sebelumnya, Harrison mewawancarai Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan sebagai bagian dari serial dokumenter tentang lingkungan yang tengah digarapnya, Years of Living Dangerously. Namun, wawancara tidak berlangsung dengan baik. “Ini bukan wawancara seperti biasa, tapi buat film. Saya tidak terlatih acting. Dia emosinya tinggi. Saya kagok juga didandani macam-macam,” kata Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan usai wawancara.

Usut punya usut, dalam wawancara, Menteri Zulkifli sebenarnya tak didandani secara berlebihan. Ia bahkan tetap mengenakan seragam Kementerian Kehutanan yang berwarna coklat muda. Hanya saja, beberapa kru memang mengaplikasikan make up agar muka sang menteri tak berminyak. Selain itu, beberapa alat perekam juga dipasangkan ke tubuhnya.

Yang pasti, Zulkifli mengaku tak nyaman dengan pertanyaan yang diajukan oleh Ford. Di antaranya adalah soal pembiaran perambah hutan yang merusak Taman Nasional Tesso Nilo di Riau.

Kronologis Kematian Penderita Leukimia Ayu Tria Di RS Harapan Kita Karena Ada Syuting Sinetron Love in Paris


Penderita leukimia Ayu Tria (9) meninggal dunia di RSAB Harapan Kita. Kematiannya menimbulkan polemik karena di saat yang bersamaan ada syuting sinetron ‘Love in Paris’ di ICU RSAB yang dianggap tidak pada tempatnya.

Bagaimana sebenarnya kronologi meninggalnya Ayu Tria? Berikut ini penjelasan yang diberikan ayahnya, Kurnianto Ahmad Syaiful (47), di rumahnya Jl Pisangan Baru Timur RT 04/09 No 28 kelurahan Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur, Kamis (27/12/2012).

Rabu (26/12/2012)
-17.30 WIB
Kurnianto membawa Ayu Tria ke UGD RSAB Harapan kita karena kondisinya yang tiba-tiba drop.

-18.30 WIB
Ayu Tria sampai di RSAB Harapan Kita dan langsung masuk UGD untuk ditangani pihak RS

-19.30 WIB
Ayu Tria dipindahkan dari UGD ke ICU atas saran dokter. Di sinilah perpindahan itu sempat terhambat sekitar 15 menit karena jalan dari UGD menuju ICU terganggu peralatan syuting. Begitu sampai di ICU, Ayu Tria segera diinfus dan dipasangi alat pacu jantung.

-20.00 WIB
Dokter meminta Kurnianto menunggu di ruang tunggu. Pada saat menunggu Kurnianto melihat syuting sinetron masih berlangsung. Kurnianto sempat cari makan sebelum kembali lagi ke RSAB pukul 23.00 WIB

Kamis (27/12/2012)
-01.30 WIB
Kurnianto masih menunggu perkembangan kondisi anaknya. Dia mengaku masih melihat proses syuting berlangsung.

-02.00 WIB
Suster meneriakkan nama Ayu Tria. Kesehatan Ayu sempat membaik sebelum akhirnya kembali drop.

-02.30 WIB
Nyawa Ayu Tria tidak tertolong lagi. Dokter keluar dari ICU dan meminta maaf pada Kurnianto karena sudah berusaha semaksimal mungkin.

Meninggalnya Ayu Tria (9), seorang bocah penderita leukemia di RSAB Harapan Kita, Jakarta, mendorong Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memanggil pimpinan RS tersebut. Pemanggilan itu bertujuan untuk meminta klarifikasi dari pihak RS mengenai kronologi kasus tersebut.

“Saya sudah melakukan interogasi terhadap dirutnya. Kita akan tetap memantau jangan sampai pasien terganggu aktivitas syuting, kita investigasi apa ini menyalahi aturan atau tidak,” ujar Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kemenkes, Chairul Radjab, usai bertemu Dirut RSAB Harapan Kita, Achmad Subagyo di Kemenkes, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (27/12/2012).

Chairul menambahkan, Kemenkes selalu mengingatkan agar pihak RS selalu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikologis pasien. “Kita lakukan investigasi, apakah ini menyalahi aturan atau tidak,” kata Chairul.

Laporan ini bermula ketika Kurnianto Ahmad Syaiful (47) dan Roasih (36) membawa buah hatinya ke RSAB Harapan Kita akibat kondisinya yang drop. Saat itu Kurnianti mengaku sedikit tidak nyaman karena dalam ruangan ICU dipakai syuting.

Menurut Kurnianto, kegiatan syuting mengganggu jalan keluar masuk ke ICU, lampu sorot dan peralatan syuting menghalangi jalan dari UGD ke ICU sehingga orang yang ingin masuk jadi terganggu.

Ruang ICU RSIB Harapan kita dijadikan tempat shooting sinteron. Akibatnya pasien bernama Ayu Tria (9) penanganannya terganggu dan akhirnya meninggal. Berikut ini gambaran ruang ICU tempat syuting berlangsung.

Pantuan detikcom Kamis (27/12/2012), ruang ICU ini berada di lantai dua Unit Gawat Darurat (UGD) RSIB Harapan Kita. UGD yang berada di lantai 1 memiliki pintu masuk yang berwarna hijau dan terdapat kursi tunggu yang tidak jauh berada dari pintu.

Naik ke lantai dua, kita akan menemukan ruang ICU Wijaya Kusuma. Ruang ICU itu terdiri dari dua pintu masuk yang agak berjauhan. Letak pintu masuk pasien berada disebelah kiri dekat dengan tangga dan ruang tunggu. Sedangkan pintu masuk utama ICU berada di sebelah tengah kanan dan dekat dengan pintu lift.

Syuting sinetron berlangsung di salah satu ruangan yang masuknya melalui pintu masuk utama ruang ICU. Namun, karena wartawan tidak bisa masuk kedalam, jadi wartawan tidak bisa menggambarkan kondisi ruangan yang dipakai shooting seperti apa.

Seperti halnya ruang ICU di setiap rumah sakit, tidak boleh sembarang orang bisa masuk untuk melihat pasien. Dan kaca depan pintu masuk utama ICU menggunakan kaca yang tidak bisa untuk dilihat kedalam.

Pintunya pun memiliki kunci khusus. Dan hanya orang yang punya kartu akses masuk yang boleh masuk kedalam. Oleh karena itu, kenapa ruangan yang seharusnya jadi tempat para pasien berpenyakit berat dirawat itensif bisa dijadikan tempat syuting?

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) saat ini telah menurunkan tim investigasi ke RSAB Harapan Kita, Jakarta guna mengusut penyebab kematian bocah pengidap leukimia Ayu Tria (9). Kemenkes menegaskan apabila tim investigasi menemukan adanya kelalaian dari pihak RS, makan Dirut Harapan Kita bisa saja dipecat.

“Kalau itu benar syuting menyebabkan pasien meninggal dunia, saya akan pecat dirutnya,” tegas Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kemenkes, Chairul Radjab, usai bertemu Dirut RSAB Harapan Kita, Achmad Subagyo di Kemenkes, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (27/12/2012).

Menurut Chairul, pihaknya sudah melakukan interogasi terhadap para pimpina RS tersebut. Dia menyatakan pihaknya juga masih menunggu hasil investigasi apakah syuting tersebut menyalahi aturan atau tidak.

“Saya sudah melakukan interogasi terhadap dirutnya. Kita akan tetap memantau jangan sampai pasien terganggu aktivitas syuting, kita investigasi apa ini menyalahi aturan atau tidak,” ucap Chairul.

Laporan ini bermula ketika Kurnianto Ahmad Syaiful (47) dan Roasih (36) membawa buah hatinya ke RSAB Harapan Kita akibat kondisinya yang drop. Saat itu Kurnianti mengaku sedikit tidak nyaman karena dalam ruangan ICU dipakai syuting.

Menurut Kurnianto, kegiatan syuting mengganggu jalan keluar masuk ke ICU, lampu sorot dan peralatan syuting menghalangi jalan dari UGD ke ICU sehingga orang yang ingin masuk jadi terganggu.

Kasus meninggalnya seorang pasien penderita Leukemia di RSAB Harapan Kita ternyata telah sampai ke Balaikota. Menanggapi hal tersebut, wakil gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama mendukung Menteri Kesehatan untuk memperhatikan kasus ini.

“Paling kita kalau bertemu Menteri Kesehatan paling ya kita minta diperhatikan,” ujar Ahok ketika ditemu wartawan di Balaikota, Kamis (27/12/2012).

Akan tetapi, lanjut ahok, Pemprov DKI tidak dapat memberikan sanksi terkait kasus ini, karena menurutnya hal tersebut berada di bawah kewenangan Kementerian Kesehatan.

“Kita tidak bisa memberikan sanksi, karena itu urusan Kementerian (kesehatan). Sama seperti RSCM, kita juga gak bisa kasih sanksi,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi telah mengirimkan tim untuk melakukan investigasi terkait kasus meninggalnya Ayu Tria (9) di RSAB Harapan Kita, ketika disaat yang sama juga tengah berlangsung syuting sinetron Love in Paris.

Pemutaran Film Perdana Batman The Dark Knight Rises Telan 14 Korban Jiwa


Sebanyak 14 orang tewas dan 50 lainnya luka-luka akibat tembakan jarak dekat yang dilepaskan pria bertopeng kala pemutaran perdana film Batman di Teater Film Century Aurora 16, Denver, Colorado, Amerika Serikat. Tragedi itu terjadi pada Jumat, 20 Juli 2012, waktu film Batman: The Dark Knight Rises diputar pada jam tengah malam.

Kata seorang saksi mata, waktu Batman muncul di layar, tiba-tiba saja muncul lelaki berbaju besi dengan masker gas air mata yang menutup mukanya. Dengan satu senapan laras panjang, pria itu menghadap ke arah penonton dan memberondong mereka dari jarak dekat.

“Akibatnya, seorang bayi,beberapa penonton cilik, dan remaja menjadi korban,” kata kepala kepolisian Daniel J. Oates.

Dari 14 orang yang meninggal, kata Oates, sebanyak 10 korban tewas di tempat. Sedangkan empat lainnya menghembuskan napas terakhir di rumah sakit.

Menurut kantor berita 9News, si pelaku memasuki bioskop beberapa menit setelah film dimulai. Waktu itu, penonton mendengar suara berdesis dan asap. Kemudian terdengar suara berondongan peluru.

Oates menjelaskan, polisi menangkap pelaku yang tengah berdiri di depan teater sambil membawa senapan dan pistol. “Selain senapan di tangan pelaku, kamu menemukan dua senjata di mobil penembak yang terparkir tak jauh dari bioskop,” ujarnya.

Tiga orang warga negara Indonesia menjadi korban penembakan pada pemutaran perdana film The Dark Night Rises di Denver, Colorado, Amerika Serikat.

Mereka adalah Anggiat M. Situmeang, 45 tahun; istrinya Rita Paulina Situmeang, 45 tahun; dan putra mereka Prodeo Et Patria Situmeang, 15 tahun.

Konsul Protokol dan Konsuler Konsulat Jenderal RI di Los Angeles, Sri Wahyuni mengatakan Rita mengalami luka paling parah. Ibu satu anak ini menderita luka tembakan di lengan kiri dan kaki kiri hingga retak pada tulang keringnya.

“Saat ini Rita di rawat di Rumah Sakit Denver Health Medical Center,” kata Sri kepada Tempo, Sabtu, 21 Juli 2012.

Sementara suaminya, Anggiat menderita luka memar di mata sebelah kiri akibat serpihan dinding yang terkena tembakan peluru. Ketika itu, ia hendak menyelamatkan diri dengan berlari menuju pintu keluar.

Anggiat tengah menemani Rita di ruang rawat inap di rumah sakit yang sama. Sedangkan putra pasangan ini, Prodeo masih dirawat di Rumah Sakit University of Colorado dan dilaporkan berada dalam keadaan stabil. Prodeo menderita luka tembak di punggung bawah sebelah kiri.

Tak disangka pemutaran sekuel film Batman yang memperoleh animo besar masyarakat akan cerita kepahlawanan ini berubah menjadi arena pembunuhan yang mencekam dan menakutkan.

Polisi menetapkan James Eagan Holmes, 24 tahun, sebagai tersangka utama peristiwa penembakan tersebut. Ironisnya, pelaku pembunuhan tunggal ini adalah mahasiswa yang dikenal cerdas dan berprestasi. Dia adalah peserta progam Doctoral di University of Colorado School of Medicine di Aurora. Menurut saksi mata, James melemparkan 2 tabung gas air mata ke kerumunan penonton yang sudah duduk di dalam bioskop.

Sri Wahyuni menjelaskan para saksi korban mengaku James mulai menembak setelah gas keluar dan asap mendesis. Pertama-tama, James menembakkan senjatanya ke atas kemudian mulailah peluru-peluru itu berjatuhan dari atas menimpa para penonton. Sontak suasana gelap dan keributan terjadi.

Para penonton berlarian menyelamatkan diri lewat pintu keluar. Di saat itulah peluru-peluru nyasar mulai menyerbu mereka. Ketika ditangkap, James yang pada waktu itu memakai pakaian hitam anti peluru, berhelm dan jaket anti peluru, serta masker anti gas dan sarung tangan hitam, hanya mengatakan pada polisi yang menangkap bahwa dia hanyalah “the joker”, tukang bercanda.

Resensi Film: Snow White and the Huntsman … Kisah Keperkasaan Putri Salju


Putri Salju atau Snow White yang cantik dan lemah dalam dongeng karya Grimm Bersaudara tidak muncul dalam film “Snow White and the Huntsman.”

Sebaliknya, film ini menghadirkan sosok seorang putri tangguh yang berjuang melawan kejahatan.

Sutradara Rupert Sanders (Halo 3) masih menampilkan unsur-unsur klasik dalam cerita aslinya seperti apel, cermin dan ratu jahat, tapi dia menambahkan pertempuran dalam film tersebut.

“Kami membuat pertempuran massal dan pemberontakan sehingga cerita menjadi lebih besar dan tantangan lebih tinggi, ini adalah cerita kehidupan melawan kematian,” kata Rupert dalam informasi produksi secara tertulis.

Film itu bercerita tentang Snow White (Kristen Stewart, pemeran Bella dalam “Twilight Saga”) yang menjalani masa kecilnya sebagai putri kerajaan penuh kebahagiaan hingga ibunya meninggal dunia.

Sang ayah, Raja Magnus (Noah Huntley), yang sangat sedih karena kepergian istrinya sedikit terhibur setelah bertemu dengan seorang perempuan cantik yang ia bebaskan dari pasukan misterius.

Perempuan itu akhirnya menjadi istri Raja Magnus, namun pada malam pertama mereka, si perempuan malah membunuh raja dan membawa pasukan untuk mengambil alih kerajaan.

Dia kemudian mengangkat dirinya sebagai ratu yaitu Ratu Ravenna (Charlize Theron, pemenang Academy Award dalam film “Monster”) yang membawa pengaruh kegelapan kepada kerajaan.

Snow White pun kemudian harus menerima kenyataan bahwa sebagai ahli waris kerajaan ia dikurung di menara yang gelap.

Sang ratu yang haus kekuasaan dan kecantikan selalu bertanya kepada cermin kesayangannya tentang siapa yang tercantik di dunia.

“Cermin..cermin..siapakah perempuan tercantik di dunia?” tanya Ratu Ravenna.

Si Cermin pun menjawab bahwa sang ratulah perempuan tercantik di dunia dengan menambahkan pertanyaan “Apakah pengambilalihan kerajaan itu menjadi akhir dari pencarian kekuasaan dan kecantikan?”

Melalui film ini sang sutradara tampaknya tidak hanya ingin menampilkan cerita dalam kemasan yang berbeda, namun juga menunjukkan nilai-nilai moral mengenai kehidupan dan kematian melalui sosok Ratu Ravenna.

“Cerita putri salju menolong kita untuk memahami moralitas dan mengajarkan agar tidak tenggelam dalam iri hati serta dendam karena dua hal tersebut akan menghentikan kehidupan manusia,” kata Rupert.

Pengaruh gelap

Rupert menggambarkan pengaruh gelap kekuasaan Ratu Ravenna dengan kehidupan rakyat yang penuh kesusahan, sampai mereka harus berebut susu bekas pemandian sang ratu.

Sementara rakyat kerajaannya hidup penuh derita, sang ratu yang terobsesi dengan kecantikan berusaha tetap muda dengan cara-cara tercela, mengambil kemudaan gadis-gadis di kerajaan dengan kekuatan mistis.

“Bila Ratu mengambil jantung Snow White maka kecantikan Ratu akan abadi dan tidak akan pernah pudar,” kata sang Cermin.

Setelah mendengar pernyataan itu Ratu menugaskan adik sekaligus tangan kanannya, Finn (Sam Spruell), untuk mengambil Snow White dari menara. Tapi Snow White berhasil meloloskan diri dari kurungan dan kabur sampai ke hutan gelap.

Ratu tidak punya kekuatan mistis di hutan tersebut sehingga harus mencari orang yang sebelumnya pernah masuk dan keluar hidup-hidup dari hutan yang menyeramkan itu.

Finn berhasil menemukan pemburu bernama Eric (Chris Hemsworth, pemeran Thor dalam film “Thor”) untuk membawa kembali Snow White dengan janji imbalan.

Si pemburu yang tidak tahu siapa sebenarnya Snow White melaksanakan perintah Ratu dan dengan mudah menemukan Snow White.

Saat ditemukan Snow White memohon agar tidak diserahkan kepada Ratu dan minta diantar ke rumah bangsawan kepercayaan ayahnya semasa hidup yaitu Duke Hammond (Vincent Regan) dan anaknya William Hammond (Sam Clafin), teman masa kecil Snow White.

Sang pemburu akhirnya berbalik menolong Snow White dan memulai petualangan untuk lolos dari pengejaran pasukan Finn.

Mereka kemudian sampai di perkampungan yang seluruhnya terdiri atas perempuan karena kaum laki-laki harus berperang dan juga bertemu para kurcaci, unsur yang juga hadir dalam dongeng Grimm Bersaudara.

Ada delapan kurcaci penambang emas dalam film tersebut, berbeda dengan cerita asli yang berjumlah tujuh orang.

Para kurcaci yang dipimpin oleh Beith (Ian McShane) percaya bahwa Snow White akan memulihkan keadaan kerajaan dan mengantar Snow White dan pemburu kepada rumah para peri yang disebut “Sanctuary”, tempat kedamaian hadir.

Sayang kedamaian mereka tidak berlangsung lama karena pasukan Finn kembali menemukan mereka dan menewaskan salah satu kurcaci meski akhirnya Finn berhasil dikalahkan.

Snow White, pemburu, tujuh kurcaci dan William yang tadinya menyamar dalam pasukan Finn kemudian melanjutkan perjalanan ke kediaman Duke Hammond.

Sayangnya di tengah perjalanan Ratu Ravenna dengan kekuatannya membuat perangkap jahat dan membuat Snow White memakan apel beracun. Snow White pun terlihat meninggal. Dengan kecewa pemburu dan William membawa “jasad” Snow White ke kediaman Duke Hammon.

“Snow White dalam film ini menjadi inkarnasi seorang pahlawan, ia mirip Luke Skywalker dalam film ‘Star Wars’ tapi dalam versi perempuan sehingga menunjukkan perlawanan yang keras namun juga melibatkan emosi,” kata Rupert.

Rupert mewujudkan sosok Snow White tersebut dengan bantuan penulis skenario Evan Daugherty dan produser film “Alice in the Wonderland”, Joe Roth, yang juga memimpin Roth Film sebagai rumah produksi film ini.

Urusan kostum diserahkan kepada Colleen Atwood, pemenang Academy Award untuk film “Alice in Wonderland”, “Memoirs of a Geisha” dan “Chicago.”

Penikmat film di Amerika Serikat dan negara lain termasuk Indonesia bisa menyaksikan sosok putri salju tangguh dalam film beranggaran 170 juta dolar AS ini mulai 1 Juni 2012.

Film Film Pemenang Oscar Yang Masih Main Di Bioskop 21 Beserta Sinopsisnya


Sejumlah film Barat yang masih tayang di bioskop 21 cukup menarik untuk ditonton. Bagi Anda yang minat untuk menonton, berikut sinopsis film Barat tersebut antara lain film The Grey, Man On A Ledge, Safe House, Ides of March, The VOW, This Means War, dan Ghost Rider: Spirit of Vengeance.

THE GREY

Durasi: 117 minutes
Jenis Film : Thriller
Produser : Jules Daly, Joe Carnahan, Ridley Scott, Mickey Liddell
Produksi : LIDDELL ENTERTAINMENT, SCOTT FREE PRODUCTIONS
Sutradara : Joe Carnahan

Sinopsis
Sebuah tim yang bekerja pada pos pengeboran di Arctic mendapat kabar bahwa perusahaan akan memulangkan mereka untuk beristirahat. Akibat cuaca buruk, pesawat mereka jatuh.

Hanya sedikit yang selamat, salah satu di antaranya adalah Ottway (Liam Neeson), yang hanya pulang demi wanita yang dicintainya. Ia mengambil alih dan memimpin orang-orang dalam upaya untuk bertahan hidup dicuaca yang sangat dingin. Mereka menyalakan obor untuk menghangatkan tubuh namun hal itu menarik perhatian serigala-serigala di sekeliling mereka dan kemudian mendekati mereka..

MAN ON A LEDGE

Durasi: 102 minutes
Jenis Film : Thriller
Produser : Mark Vahradian, Lorenzo Di Bonaventura
Produksi : ENTERTAINMENT ONE
Sutradara : Asger Leth

Sinopsis
Seorang mantan polisi (Sam Worthington) yang kehilangan pekerjaannya dan akan dipenjara setelah menghadiri pemakaman ayahnya. Ia menuju ke puncak Manhattan hotel, dimana ia mengancam untuk melompat ke kematiannya
Tanpa sepengetahuan psikolog polisi yang membujuknya untuk turun, tindakannya ini bukanlah sekedar percobann bunuh diri..

SAFE HOUSE

Durasi: 117 minutes
Jenis Film : Action
Produser : Scott Stuber
Produksi : UNIVERSAL PICTURES
Sutradara : Daniel Espinosa

Sinopsis
Bosan dengan kerja dibelakang meja pos CIA di Afrika Selatan, seorang polisi (Ryan Reynolds) mengawal seorang buronan berbahaya (Denzel Washington) saat pos tersebut diserang dan dihancurkan oleh tentara bayaran
Saat ini mereka harus mencari tahu apakah para penyerang adalah teroris atau salah satu dari mereka sendiri seseorang dari kepolisian, sebelum mereka mengetahui siapa yang dapat mereka percaya

IDES OF MARCH

Durasi: 101 minutes
Jenis Film : Drama
Produser : Brian Oliver, George Clooney, Grant Heslov
Produksi : Alliance Films
Sutradara : George Clooney

Sinopsis
Seorang juru bicara muda (Ryan Gosling) tersingkir dari dunia politik, terlibat manipulasi berbahaya dan tergoda oleh seorang pegawai magang (Evan Rachel Wood) saat mereka bekerja untuk Gubernur Morris (George Clooney), yang sedang melakukan kampanye pemilihan calon presiden

THE VOW

Durasi: 104 minutes
Produser : Roger Birnbaum, Paul Taublieb, Jonathan Glickman, Gary Barber
Produksi : Columbia Pictures
Sutradara : Michael Sucsy

Sinopsis
Merayakan lima tahun pernikahan mereka, pasangan muda ini justru menghadapi tantangan terbesarnya disaat sang istri, Paige (Rachel McAdams), cedera serius dalam kecelakaan mobil yang mengakibatkan koma. Ketika aia sadar, bukan hanya dia tidak mengenali suaminya, Leo (Channing Tatum), namun ingatannya justru tertuju pada mantan tunangannya, Jeremy (Scott Speedman)

Meskipun Paige nampaknya tidak mencintai Leo lagi, semua usaha ia lakukan untuk membuat istrinya jatuh cinta dengannya lagi. Apakah usaha Leo akan berhasil?

THIS MEANS WAR

Durasi: 98 Menit
Jenis Film : Comedy
Produser : Robert Simonds, Will Smith, James Lassiter, Simon Kinberg
Produksi : 20TH CENTURY FOX
Sutradara : Mcg

Sinopsis
Dua agen CIA hebat (Chris Pine, Tom Hardy), dahulu adalah sahabat, terpisah saat mereka jatuh cinta dengan wanita yang sama (Reese Witherspoon). Daripada bekerjasama untuk memberantas penjahat, mereka justru menggunakan keterampilannya untuk mengalahkan satu sama lain

GHOST RIDER: SPIRIT OF VENGEANCE

Durasi: 96 Menit
Jenis Film : Action
Produser : Avi Arad, Michael De Luca, Steven Paul, Ashok Amritraj
Produksi : WARNER BROS. PICTURES
Sutradara : Neveldine, Taylor

Sinopsis
Johnny Blaze (Nicolas Cage), masih berjuang melawan kutukannya sebagai pemburu setan, ia dipaksa keluar dari persembunyian oleh sekte rahasia Gereja. Sekte tersebut merekrutnya untuk membantu menyelamatkan seorang anak muda (Fergus Riordan) agar tidak terjerumus kepada setan jahat (Ciaran Hinds). Satu-satunya cara bagi Johnny untuk menyelamatkan anak muda dan mungkin bahkan membebaskan dirinya sendiri dari kutukan, adalah muncul sebagai Ghost Rider.

Setelah Film Eat, Pray, Love Kini Film Hollywood I, Alex Cross Akan Syutting Di Bali


Setelah film Eat, Pray, Love (EPL) yang dibintangi Julia Robert, satu lagi film produksi Hollywood mengambil syuting di Pulau Bali.

Pengambilan ganmbar film I, Alex Cross yang disutradarai Rob Cohen disaksikan langsung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu di Kompleks Villa Champuan, Desa Jasri, Kecamatan Karangsem Bali, Sabtu (22/10).

Saat dikonfirmasi di sela-sela pengambilan gambar tersebut manta Menteri Perdagangan tersebut menegaskan, jika Indonesia menginginkan berbagai produksi film terkenal dunia mengambil syuting di Bali.

“Setelah Julia Robert dengan EPL-nya, maka kini Bali mendapat kesempatan lagi dengan sebuah film terkenal Hollywood lainnya berjudul I. Alex Cross, yang mengambil gambarnya di Bali. Walaupun durasinya lebih pendek dibanding dengan EPL-nya Julia Robert, tetapi tetap memberikan dampak besar bagi Bali,” ujarnya.

Untuk mempermudah pengambilan gambar di Indonesia, Kementerian Pariwisata akan mempermudah seluruh proses perizinan pengambilan gambar tersebut. “Selama ini memang banyak keluhan soal regulasi yang berbelit-belit, namun ke depannya kita akan menerapkan proses satu pintu selesai. Kita ingin agar banyak film besar produksi Hollywood syuting di Bali dan di Indonesia umumnya karena ini akan memberikan dampak yang luar biasa bagi Indonesia dan Bali khususnya,” ujarnya.

Film tersebut dibintangi Matthew Fox, Edward Burns, Rahel Nichols, Jessalyn Wanlim. Pengambilan gambar dilakukan selama 40 hari di Amerika Serikat dan tiga hari di Karangasem. Film ini melibatkan 35 tenaga lokal dan 20 pemain lokal yang berperan sebagai polisi.

Dalam film tersebut dikisahkan Alex Cross, seorang detektif sedang memburu penjahat yang membunuh isterinya. Ternyata, sang pembunuh tersebut menghindari dari sang detektif hingga ke Bali. Penjahat yang diperankan Jean Reno akhirnya tertangkap di sebuah villa yang ada di sebuah pedesaan di Karangasem Bali.

Film Dokumenter Mengenai Kemiskinan Di Indonesia Masuk Dalam Nominasi Oscar


Film dokumenter tentang Indonesia Stand van de Sterren (posisi bintang gemintang) yang dibuat sineas Belanda, Leonard Retel Helmrich, berhasil lolos nominasi Oscar. Bagi sineas Belanda sendiri, ini prestasi besar dalam industri perfilman Belanda. Soalnya, belum pernah ada seorang sineas “Negeri Kincir Angin” itu yang lolos nominasi Oscar kategori tersebut. Untuk Indonesia, baru kali inilah sebuah film dokumenter bertema keluarga Indonesia masuk ke Piala Oscar.

Selama kurang lebih 12 tahun, Pembuat film Leonard Retel Helmrich meneliti kehidupan Bangsa Indonesia dengan ikut tinggal dari daerah kumuh Jakarta. Sama seperti sebelumnya dua Film sebelumnya tentang kemiskinan dan kesenjangan hidup Bangsa Indonesia telah banyak memenangkan penghargaan Internasional. Film yang terakhir berjudul “Stand van de Sterren” adalah Film Trilogi dari dua film sebelumnya “Stand van de Zon” dan “Stand van De Maan”, Sang Pembuat Film terus menunjukkan pola yang mendasari kehidupan di Indonesia yaitu “KORUPSI DAN KEMISKINAN”, Film Trilogi ini sudah mendapatkan penghargaan seperti :

– Winner of ‘Best International Documentary’ IDFA 2010
– Winner ‘Special Jury Award’ SUNDANCE 2011
– Winner ‘Big Stamp’ ZagrebDocs 2011
– Winner ‘Special Jury Mention’ Silverdocs 2011

Kerja apik tim membuat kerja kamera menjadi sangat revolusioner. Diceritakan dalam Film tersebut sebuah Keluarga Indonesia yaitu Sjamsuddin merupakan gambaran masalah yang paling penting dari kehidupan di Indonesia seperti Korupsi, Kemiskinan, Pelacuran, konflik antar agama, kecanduan judi, kesenjangan generasi dan perbedaan tumbuh antara miskin dan kaya.

Bangsa Indonesia yang terlena dengan mimpi-mimpi rakyat miskin untuk menjadi kaya, susahnya mencari kehidupan di Ibukota, ancaman putus sekolah, menjadi pelacur, meningkatnya ketidak percayaan rakyat kepada Pemerintah karena pemerintah asyik memperkaya diri sendiri dan kroni-kroninya dari berbagai orde baik orde lama, orde baru hingga orde reformasi, Gerakan anti pemerintah yang terus mengakar di Indonesia, Isu revolusi, sehingga maraknya terorisme adalah akibat dari kajahatan yang telah tersistemkan Pemerintah, kemudian seruan jihad untuk melawan pemerintah yang menjajah bangsa sendiri, jihad ekonomi melawan kemiskinan terus berkumandang menjadi tema sentral dalam film Stand Van De Sterren ini.

Dahsyatnya lagi adalah setelah mendapatkan penghargaan-penghargaan Internasional kini film tersebut mampu menembus nominasi penghargaan film bergengsi dunia, Piala Oscar .

Film dokumenter ini masuk nominasi Academy Award kategori film dokumenter panjang. Bagi Sineas Belanda sendiri, Film ini adalah prestasi besar dalam industri perfilman Belanda. Belum pernah ada seorang sineas negeri kincir angin itu lolos nominasi Oscar kategori tersebut. Begitupun untuk Indonesia, karena baru kali ini sebuah film dokumenter bertema keluarga Indonesia masuk ke Piala Oscar.