Categories
Beragama Film Taat Hukum

MUI Keluarkan Fatwa Haram Infotaiment


Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang status haram isi program infotainment tak otomatis mengharuskan sensor terhadap produk infotainment.

Infotainment adalah produk yang disiarkan melalui penyiaran televisi, dan penyiaran televisi tunduk kepada Undang-Undang (UU) Penyiaran. Sementara UU Penyiaran Pasal 47 dengan eksplisit menyatakan, program siaran yang wajib memperoleh tanda lulus sensor hanyalah film dan iklan.

Maka cukup jelas, sensor tidak dapat dilakukan terhadap produk siaran di luar film dan iklan. Sungguhpun, misalnya, disepakati infotainment bukan bagian dari jurnalisme dan merupakan program hiburan murni, sensor tidak otomatis dilakukan terhadapnya.

Sensor terhadap program infotainment hanya dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengamandemen pasal-pasal sensor dalam UU Penyiaran. Revisi Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) pun tidak memadai untuk memperluas lingkup sensorship terhadap produk siaran.

Dengan demikian, sensorship semestinya tidak menjadi isu utama dalam diskusi status infotainment, termasuk dalam kaitannya dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia. Dibutuhkan langkah-langkah legislasi yang sangat jauh untuk sampai pada keputusan infotainment harus disensor sebelum ditayangkan.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia penting sebagai titik pijak untuk mengidentifikasi sisi-sisi yang harus segera dirombak dalam sudut-pandang, referensi, dan cara kerja industri infotainment sedemikian rupa agar produk yang dihasilkan kompatibel dengan nilai-nilai keutamaan publik dan berdampak positif pada pengembangan keadaban masyarakat.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia adalah cermin kegelisahan masyarakat terhadap kecenderungan dominan infotainment untuk menayangkan hal-hal yang menarik, sensasional, dan memenuhi rasa ingin tahu pemirsa, tanpa mengindahkan kelayakannya bagi ruang publik sebuah masyarakat yang sangat majemuk dalam hal nilai, budaya, dan kepercayaan.

Lebih spesifik lagi, Majelis Ulama Indonesia mengharamkan penayangan berita bermuatan gosip, bohong, isapan jempol, dan berita yang membuka aib orang lain.

Pesan moral

Pesan moral yang perlu digarisbawahi di sini adalah tayangan televisi, khususnya infotainment harus ditata berdasarkan kepantasan dan kelayakan ruang publik. Tayangan-tayangan tentang kisah selebriti memang digemari pemirsa televisi dan rata-rata meraih kepermirsaan (rating) yang cukup tinggi.

Namun, fungsi ruang publik media jelas bukan hanya menyajikan sesuatu yang sensasional dan banyak ditonton khalayak. Kalaupun yang demikian ini yang disajikan di ruang televisi, tetap harus dipastikan relevansinya untuk kepentingan pemirsa, kesesuaiannya dengan realitas norma-norma masyarakat.

Sebagai seruan moral, fatwa Majelis Ulama Indonesia di atas perlu mendapatkan apresiasi. Kegelisahan yang sama sesungguhnya juga muncul dalam komunitas agama yang lain.

Persoalannya kemudian, siapa yang harus menampung kegelisahan unsur-unsur masyarakat tentang infotainment? Semua pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia, pasti memahami bahwa Komisi Penyiaran Indonesia-lah yang mempunyai otoritas untuk mengatur produk-produk penyiaran. Komisi Penyiaran Indonesia-lah yang harus menampung kegelisahan, aspirasi, dan seruan moral tentang infotainment dan mewujudkannya ke dalam produk kebijakan yang operasional. Khusus untuk lingkup jurnalisme penyiaran televisi dan radio, Komisi Penyiaran Indonesia akan berkoordinasi dan bekerja-sama dengan Dewan Pers.

Namun, perlu digarisbawahi, sesungguhnya ada paralelisme dalam pandangan Majelis Ulama Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia, dan Dewan Pers tentang nilai-nilai utama dunia penyiaran. Ketiga lembaga ini concern, ruang publik media harus selalu identik dengan sesuatu yang penting, substansial, dan relevan bagi kehidupan publik.

Kepentingan Komisi Penyiaran Indonesia adalah memastikan bahwa ruang publik penyiaran mencerminkan kemajemukan nilai dalam masyarakat, ramah keluarga, tidak bias gender, tidak diskriminatif, menghibur, tetapi juga memberikan nilai tambah kepada masyarakat.

Komisi Penyiaran Indonesia bertugas untuk memastikan bahwa hubungan antara stasiun televisi dan pemirsanya bukan sekadar hubungan produsen-konsumen informasi, tetapi terutama hubungan antara ”pemilik” dan ”peminjam” kekayaan publik. Kekayaan publik yang dimaksud adalah gelombang elektromagnetik.

Sejauh praktik penyiaran masih bergantung pada penggunaan gelombang elektromagnetik, media penyiaran jelas bukan murni entitas bisnis. Selain berfungsi sebagai institusi bisnis, media penyiaran tetaplah institusi sosial yang harus mengabdi kepada nilai-nilai kepublikan: pencerdasan, pemberdayaan, pengawasan, dan solidaritas sosial.

Dewan Pers berada pada posisi untuk menegaskan bahwa fungsi jurnalisme bukan hanya menyajikan sesuatu yang banyak ditonton khalayak. Fungsi jurnalisme terutama adalah bagaimana mengolah dan menyajikan hal-hal yang penting dan mendesak bagi publik sedemikian rupa sehingga menjadi tampilan yang menarik bagi khalayak.

Jurnalisme pertama-tama harus dipahami sebagai sebentuk idealisme untuk memberdayakan suara masyarakat dengan memberikan ruang diskusi yang interaktif, dengan menyediakan informasi dan fakta yang relevan dan bertolak dari kode etik jurnalistik. Jurnalisme juga bukan semata-mata persoalan proses mencari, mengolah, dan menyajikan informasi, tetapi juga persoalan penerapan standar-standar universal dan lokal ke dalam proses tersebut dan kepada produk akhirnya.

Maka, jurnalisme selalu mengajukan pertanyaan, apakah nilai yang dibagikan kepada publik ketika media menyajikan kisah seputar gosip dan kehidupan privat selebriti? Apa penyajian tersebut telah kompatibel dengan nilai berita, etika media, dan kepantasan di ruang publik? Demikianlah lebih kurang batu uji bagi semua tayangan televisi untuk mendapatkan pengakuan sebagai bagian dari jurnalisme.

Agus Sudibyo Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat Dewan Pers

Categories
Film Kreatif

Seribu Wajah Dunia Intelejen Dalam James Bond Quantum of Solace


Dunia intelijen selalu diidentikkan dengan sesuatu yang serba rahasia dan tak kasatmata orang awam. Orang hanya tahu (atau merasa tahu) apa yang terjadi di dunia itu melalui komik, buku, novel, dan tentu saja film.

Pekan ini, salah satu tokoh paling terkenal di dunia intelijen kembali mengunjungi para penggemarnya di layar lebar. Dialah James Bond, agen khusus nomor 007 dari MI-6, dinas rahasia spesialis urusan luar negeri Kerajaan Inggris Raya.

Diberi judul Quantum of Solace, ini adalah film kedua yang menampilkan Daniel Craig sebagai pemeran utama dan film James Bond ke-22 sejak tokoh rekaan novelis Ian Fleming itu pertama kali difilmkan tahun 1962.

Tidak seperti sebagian besar film Bond lainnya, yang tidak berkaitan satu sama lain, Quantum of Solace adalah kelanjutan atau sekuel dari film sebelumnya, Casino Royale (2006). Bond bertekad membalas dendam kepada organisasi kriminal rahasia yang telah membunuh kekasihnya, Vesper Lynd (Eva Green), dalam film Casino Royale.

Meski masih diwarnai adegan kebut-kebutan, tembak-tembakan, dan pukul-pukulan khas film Bond, dua film termutakhir tersebut menampilkan sosok James Bond dan semangat film yang berbeda. Mulai dari sosok Bond yang sekarang berambut pirang (sejak diperankan Sean Connery hingga Pierce Brosnan, Bond selalu berambut hitam) hingga karakternya yang lebih dingin dibandingkan Bond sebelumnya.

Manusiawi

Tak ada lagi Bond yang ganteng kinclong, flamboyan (bahkan kadang genit), dan punya banyak pacar di sana-sini. Bond yang diperankan Craig tetap bertemu cewek-cewek cantik dan seksi, tetapi tidak untuk diumbar buat pacaran. Bahkan, Camille, cewek Bond dalam Quantum of Solace yang diperankan foto model asal Ukraina, Olga Kurylenko, tidak sempat dipacari (apalagi ditiduri) oleh Bond hingga akhir film.

Tak ada pula berbagai gadget spionase khas James Bond, seperti mobil Aston Martin yang bisa menembakkan rudal atau menyelam, jam tangan yang bisa mengeluarkan sinar laser dan tali penyelamat, atau kacamata sinar X. Aston Martin DBS yang dipakai Craig pun sudah hancur sejak adegan kebut-kebutan di awal film dan tak muncul lagi hingga film usai.

Secara keseluruhan, EON Productions—perusahaan yang membuat seri film layar lebar James Bond sejak Dr. No (1962)—tampak ingin menampilkan karakter tokoh dan film Bond yang lebih manusiawi. Dan, yang lebih manusiawi seperti ini terasa lebih mendekati kenyataan.

Bond tak ditampilkan lagi sebagai sosok setengah super yang bisa melakukan apa saja, kapan saja, dan di mana saja, tanpa mendapat konsekuensi apa-apa. Bond yang diperankan Craig adalah seorang agen rahasia yang bisa terluka, bisa jatuh cinta, bisa dikhianati, bisa memendam dendam, bahkan bisa dipecat dari pekerjaannya.

Bagi penggemar James Bond tradisional, hal ini bisa menjadi hal yang mengecewakan. Namun, sebagai sebuah karya film utuh, film-film Bond yang sekarang menjadi terasa lebih berwarna dan bermakna dibandingkan film-film sebelumnya.

Lebih ”nyata”

Khususnya bagi penggemar film dan cerita bertema spionase, sosok James Bond lama tak ubahnya seperti tokoh komik kartun karena terlalu meromantisasi kehidupan dunia intelijen yang sangat jauh dari kenyataan sesungguhnya.

Terlepas dari betapa sumirnya definisi ”kenyataan sesungguhnya” dalam konteks dunia intelijen, nyatanya beberapa tahun belakangan ini bermunculan film bertema spionase yang digarap lebih serius dan tak melulu menempatkan tokoh utamanya sebagai sosok pahlawan yang tak terkalahkan.

Hanya berselang beberapa pekan sebelum Quantum of Solace dirilis, ada film Body of Lies arahan sutradara Ridley Scott yang mengisahkan aksi seorang agen rahasia CIA dalam membongkar jaringan teroris Al Qaeda di Timur Tengah. Sang agen bernama Roger Ferris (Leonardo DiCaprio), digambarkan sangat lusuh dan tidak dibekali peralatan canggih apa pun kecuali telepon seluler dan menjadi histeris saat hampir dipenggal kepalanya.

Dalam trilogi Bourne (Bourne Identity [2002], Bourne Supremacy [2004], dan Bourne Ultimatum [2007]) dikisahkan seorang produk eksperimen gagal CIA bernama Jason Bourne (Matt Damon) yang hendak dibunuh untuk menghilangkan barang bukti. Bourne menampilkan sudut pandang musuh saat harus menghadapi aksi CIA yang didukung sumber daya hampir tak terbatas.

Matt Damon juga bermain dalam film bertema spionase lain, yakni sebagai Edward Wilson, salah satu kepala operasi rahasia CIA dalam film The Good Shepherd (2006). Film ini mengisahkan sisi lain seorang agen rahasia yang menghadapi dilema antara mengutamakan tugas negara dan mementingkan keutuhan serta keselamatan keluarganya.

Cerita tentang konflik internal di CIA juga ditampilkan dalam Spy Game (2001) dan The Recruit (2003). Film-film ini menggambarkan bagaimana dalam sebuah dinas rahasia sebesar CIA pun masih dimungkinkan terjadinya kebocoran atau pengkhianatan.

Sutradara Steven Spielberg pun pernah mengangkat kisah nyata para agen rahasia Mossad dari Israel dalam film Munich (2005). Dalam film itu dikisahkan bagaimana membunuh seseorang tidak pernah menjadi perkara yang mudah dan sepele.

Film-film Hollywood telah menampilkan seribu wajah dunia intelijen. Tinggal terserah kita, mana yang akan kita percayai sebagai wajah dunia rahasia sesungguhnya.

Categories
Film Kreatif

Game James Bond Terbaru Quantum of Solace Menegangkan dan Realistis


Saat para penggemar tak sabar menanti peluncuran film terbaru James Bond, Quantum of Solace, para pencinta game pun harap-harap cemas. Bukan karena ingin ikut antre pemutaran perdana film itu di bioskop-bioskop. Bersamaan dengan peluncuran film tersebut 31 Oktober nanti, versi video game film ini akan dipasarkan.

Sesuai dengan filmnya, Quantum of Solace: The Game juga akan dipenuhi aksi nekat si agen rahasia Inggris itu. Bahkan game ini akan memperkenalkan Bond, yang dikenal dengan nomor sandi 007, yang lebih berbahaya, mematikan, dan licin dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Game bergenre laga ini memadukan secara intens aksi orang (pemain) pertama dengan sistem perlindungan dari orang ketiga. Menurut pengembangnya, Quantum of Solace: The Game akan menggerakkan naluri para gamer ke sebuah pengalaman sinematis dari aksi spionase internasional.

Pemain akan diajak untuk benar-benar merasakan pengalaman Daniel Craig, pemeran 007 yang dalam filmnya selalu dikelilingi para wanita cantik. Bagaimana si agen ini menyusup ke dalam pesta mewah, juga ketika ia sembunyi-sembunyi dan menembak musuh dengan tepat saat menjalankan misi. Karakter Bond dalam game ini juga dibuat mirip dengan si aktor tersebut.

Desain dan efek suara game ini juga dirancang seperti benar-benar berada di tengah pertempuran bersenjata, diselingi ledakan-ledakan masif. Bukan cuma itu, latar lokasi Bond “versi digital” ini juga layaknya di film karena memang dipotret dari lokasi-lokasi pengambilan gambar film itu, di Montenegro, Venesia, Bolivia, hingga Austria.

Sepanjang sejarah, seri game Bond 007 memang selalu laris terjual. Seperti game N64 GoldenEye, versi game film Golden Eye yang diputar pada 1995, terjual lebih dari 8 juta kopi di seluruh dunia setelah dirilis pada 1997. Dengan moda multiplayer deathmatch, game itu dianggap sebagai salah satu game berjenis first-person shooters terbaik.

Adam Gascoigne, salah satu perancang game Quantum of Solace, berharap game yang pembuatannya memakan waktu dua tahun ini dapat mengulang sukses GoldenEye. Quantum of Solace bahkan lebih mudah dimainkan.

Menurut Gascoigne, game ini awalnya dikembangkan berdasarkan seri film Bond sebelum Quantum of Solace, yakni Casino Royale (2006). Ketika merancangnya, pada akhir 2007, tim mendapat konsep skenario Quantum dari penulisnya, Paul Haggis. Jadilah game ini perpaduan kedua film tersebut. Karena itu, “Game ini juga tentang bagaimana Bond berpakaian, kelakuannya, dan minuman apa yang ia sukai,” ujarnya.

Sebelum diluncurkan ke pasar, game yang dipenuhi aksi tembak-menembak ini rupanya sudah menjaring banyak penggemar, terutama mereka yang dalam kehidupan nyata bekerja di industri layanan keamanan. Seperti Will Geddes, ahli pencegahan aksi teror. “Saya adalah gamer seperti banyak orang bekerja di industri pengamanan,” ujar Geddes, yang kini mengepalai firma keamanan miliknya sendiri.

“Kepala kami diisi dengan pekerjaan karena kami bekerja 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Karena itu, Anda harus mengistirahatkan beban di kepala Anda dengan bermain game seperti ini,” katanya.

Quantum of Solace disokong game engine Call of Duty 4: Modern Warfare untuk mengantar grafis definisi tinggi yang superior kepada para pengguna. Game yang diluncurkan untuk konsol Xbox 360 ini akan tersedia di gerai-gerai game mulai 31 Oktober di Eropa, dan di Amerika pada 4 November.

Deathmatch: Moda permainan video game yang umum digunakan dalam game laga multiplayer. Pemenangnya adalah pemain yang membunuh paling banyak ketika pertandingan usai.

Categories
Film

HellBoy Kalah Menarik dan Populer


Hellboy, anak setan yang menjadi superhero penyelamat manusia, kembali dengan misi menyelamatkan bumi dari rencana jahat Pangeran Nuada dalam film lanjutan Hellboy II: The Golden Army.

Nuada (diperankan Luke Goss) adalah putra mahkota Raja Balor, raja peri yang pernah membuat perjanjian damai dengan umat manusia. Nuada berniat melanggar perjanjian itu dan ingin memusnahkan manusia di muka bumi dengan mengerahkan Pasukan Emas. Rencana itu dihambat saudari kembarnya, Putri Nuala (Anna Walton), yang enggan menyerahkan peta dan kunci tempat penyimpanan Pasukan Emas.

Hellboy (masih diperankan Ron Perlman) dan para agen Biro Pertahanan dan Riset Paranormal (Bureau for Paranormal Research and Defense/BPRD) diperintahkan untuk menghentikan rencana jahat Nuada itu.

Selain dibantu pacarnya, Liz Sherman (Selma Blair), dan sahabatnya, Abe Sapian (Doug Jones), Hellboy juga dibantu Johann Krauss (John Alexander), makhluk protoplasma dari Jerman yang mengenal seluk-beluk dunia peri ini.

Dalam usaha perburuan Nuada ini, Abe jatuh cinta kepada Putri Nuala, sementara Hellboy nyaris terbunuh setelah terkena tombak Nuada. Hellboy dihadapkan pada kenyataan bahwa sosoknya tetap tidak diterima di lingkungan manusia meski ia bertaruh nyawa untuk menyelamatkan mereka. Ia sempat tergoda untuk kembali ke dunianya yang sesungguhnya, yakni dunia setan dan makhluk gaib, dan berbalik melawan manusia.

Namun, Hellboy diyakinkan untuk menyelesaikan misinya setelah Liz mengungkapkan rahasia. Cerita selanjutnya bisa ditebak, Hellboy dan kawan-kawan menghadapi pertempuran terakhir dengan Nuada yang berhasil membebaskan Pasukan Emas.

Dari segi cerita, Hellboy II masih kalah menegangkan dibandingkan film pertama, Hellboy (2004), yang lebih menggambarkan pertempuran batin Hellboy saat harus memilih antara dunia setan dan dunia manusia.

Di luar itu, film ini tidak menawarkan sesuatu yang baru, kecuali jorjoran menampilkan berbagai sosok makhluk gaib. Sosok-sosok makhluk gaib di Pasar Peri, misalnya, justru mengingatkan pada makhluk alien yang lazim ditemui di film tentang angkasa luar, seperti Star Wars, Star Trek atau Babylon 5.