Category Archives: Gempa Bumi

Gempa Bumi Berkekuatan 5 Ritcher Guncang Maluku Tengah


Gempa bumi berkekuatan 5.0 skala richter (SR) menggoyang Maluku Tengah pagi ini. Gempa tersebut mengguncang wilayah kepulauan tersebut pada pukul 06.30 WIB. Seperti dilansir twitter Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Senin (20/1/2014), gempa bumi terjadi di 52 kilometer timur laut Maluku Tengah. Titik gempa berpusat di 10 km dibawah permukaan laut.

Hingga saat ini belum diketahui kerugian dan kerusakan bangunan akibat peristiwa tersebut. Gempa berkekuatan 5 skala richter mengguncang Nusa Tenggara Barat. Gempa ini terjadi pukul 05.00 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menginformasikan gempa terjadi dikedalaman 10 kilometer. Sementara pusat titik gempa berada 120 kilometer ke arah tenggara Sumbawa.

Sebelumnya, pada pukul 04.30 WIB juga terjadi gempa di wilayah Maluku barat daya. Kekuatan gempa sedikit lebih besar yakni 5,4 skala richter.Gempa tersebut berkedalaman 29 kilometer. Pusat titik gempa berada pada 249 kilometer arah timur laut Maluku. Belum ada laporan mengenai kondisi terkini akibat kedua gempa tersebut.

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diguncang gempa 3,1 SR. Gempa tidak menimbulkan tsunami.Seperti dikutip dari situs BMKG, Selasa (24/12/2013), gempat terdeteksi pada pukul 03.08 WIB. Pusat gempa berada di darat, 29 km Tenggara Yogyakarta. Belum ada laporan kerusakan akibat gempa tersebut. Selain itu belum ada laporan korban jiwa yang dilaporkan.

Kabupaten Malang Diguncang Gempa Berskala 5,9 Richter … Puluhan Rumah Rusak Berat


Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan gempa berkekuatan 5,9 skala richter di 112 km tenggara Malang, Jawa Timur pada Senin, 8 Juli 2013 pukul 09:13:39 WIB, di kedalaman 10 Km menimbulkan kerusakan rumah dan bangunan di daerah selatan Malang. “Total ada 124 rumah rusak,” ucapnya melalui pesan singkat yang diterima Tempo, Senin, 8 Juli 2013.

Kerusakan tersebut, lanjut Sutopo, meliputi 11 rumah rusak berat, 18 rumah rusak sedang, dan 95 rumah rusak ringan di 5 kecamatan. “BPBD Kabupaten Malang telah menerjunkan 4 tim reaksi cepat untuk melakukan pendataan dampak gempa,” kata dia.

Selain rumah rusak, juga terdapat 1 orang korban patah tulang. “Akibat lari dari rumah dan terjatuh,” kata Sutopo. Saat ini korban telah dibawa ke Puskesmas terdekat dan dirujuk ke RS. Bala Keselametan – Turen. Korban berdomisili di Dusun Tugu Sari RT.01 RW. 01 Desa Bumi Rejo Kec Dampit, Malang.

Sutopo mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terkait terjadinya gempa dengan magnitude yang cukup besar, seperti di Aceh 6,2 RS, Pagai Selatan 6,1 SR dan Malang 5,9 SR. “Gempa bersifat mendadak dan tidak dapat diprediksikan. Saat merasakan gempa segera keluar dari rumah dan mencari tempat yang aman. Jika di pantai segera mencari tempat yang tinggi dan aman,” kata dia.

Berikut daftar kerusakan rumah tersebut terdapat di:
1. Kec. Dampit (2 unit rumah rusak ringan)
2. Kec. Ampel Gading (2 rusak ringan)
3. Kec. Tirto Mulyo (2 rusak berat, 2 rusak sedang, 9 rusak ringan)
4. Kec. Gedangan (1 rusak berat)
5. Kec. Sumber Manjing Wetan (8 rusak berat, 16 rusak sedang, 52 rusak ringan).

Sutopo menuturkan masyarakat bersama Muspika bergotong-royong membenahi rumah-rumah terdampak. Adapun untuk pengungsian, saat ini korban yang kehilangan tempat tinggalnya, mengungsi di kerabat atau tetangga terdekat.

BPBD Malang, lanjut dia, juga telah membagikan paket sembako kepada keluarga yang terdampak Rusak Berat. “Untuk keluarga terdampak akan segera didistribusikan kembali bagi yang belum mendapatkan paket sembako,” kata Sutopo.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang meminta warga 12 desa di empat kecamatan bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya gempa susulan. “Gempa susulan mungkin saja terjadi,” kata Kepala BPBD Kabupaten Malang Hafi Lutfi, Senin, 8 Juli 2013.

Menurutnya, kesiagaan perlu ditingkatkan setelah Malang dan banyak daerah lain di Jawa Timur diguncang gempa bermagnitudo 5,9 Skala Richter (SR) tadi pagi pukul 09.13. “Bukan untuk menakut-nakuti, tapi bersiaga itu lebih baik daripada terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.” Saat ini, kata Hafi, kejadian gempa seperti sedang berantai.

BPBD menurunkan tim ke empat kecamatan untuk memantau kesiagaan. “Satu tim anggotanya 20 orang.”

BPBD telah memetakan 12 desa yang rentan terdampak gempa dan tsunami. Desa itu adalah Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan; Pujiharjo, Purwodadi, dan Sitiarjo di Kecamatan Tirtoyudo; Srigonco, Sumberbening, Bandungrejo, Kecamatan Bantur; Tulungrejo, Banjarejo, Purwodadi, Sumberoto, serta Mentaraman, Kecamatan Donomulyo.

Gempa tadi pagi membuat tiga rumah warga di Desa Sumberagung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, rusak ringan. Kerusakan berupa atap rumah runtuh dan dinding rumah retak. Empat rumah, satu masjid, dan musola Dusun Mulyosari, Desa Harjokuncaran, Sumbermanjing Wetan, rusak ringan. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Pusat gempa terletak pada koordinat 9.16 Lintang Selatan, 113.00 Bujur Timur, pada kedalaman 10 kilometer Samudera Hindia, yang berjarak 112 kilometer tenggara Malang, 114 kilometer barat daya Lumajang, 130 kilometer barat daya Jember, atau 202 kilometer kilometer tenggara Surabaya, di kedalaman 10 kilometer.

Gempa sebelumnya terjadi pada Selasa, 17 Mei 2011, pukul 07:14:58 WIB, 9.55 Lintang Selatan, 112.55 Bujur Timur. Pusat gempa di kedalaman 25 kilometer, berada di 170 kilometer tenggara Kabupaten Blitar.

Tempo mencatat, perairan selatan Malang memiliki kerawanan tinggi terjadinya gempa laut yang besar karena di sekitar 200 kilometer selatan lepas pantai Malang terdapat jalur pertemuan dari rangkaian gunung aktif di dunia atau yang disebut Cincin Api Pasifik. Jalur pertemuan itu berada di bawah perairan berupa persilangan dan membentang lempengan Indo Australia dan Eurasia.

“Kedua lempengan selalu bergerak aktif dan menimbulkan tumbukan yang menyebabkan penumpukan energi. Pada saat batas elastisitas lempengan terlampaui akan menimbulkan gempa bumi atau gempa laut. Gempa diprediksi pasti akan terjadi,” kata Kepala Badan Metereologi dan Geofisika Karangkates Adi Soepriyanto.

22 Orang Tewas Di Aceh Karena Gempa Berskala 6,2 Ritcher


Getaran gempa yang mengguncang Provinsi Aceh, Selasa, 2 Juli 2013 terasa hingga Banda Aceh. Padahal, pusat gempa berjarak 181 kilometer arah tenggara dari ibu kota provinsi. “Gempa dirasakan sangat kuat selama sekitar 15 detik oleh masyarakat di Kabupaten Bener Meriah hingga Banda Aceh,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho.

Gempa bumi melanda Aceh pada Selasa, 2 Juli 2013, pukul 14.37 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat, gempa terjadi di darat pada kedalaman 10 kilometer. Gempa berpusat di 35 kilometer barat daya Kabupaten Bener Meriah dan 43 kilometer arah tenggara Kabupaten Bireuen. “Masyarakat panik dan berhamburan ke luar rumah,” ucap Sutopo. Kendati demikian, BMKG memprediksi gempa tidak menimbulkan potensi tsunami.

Posko BNPB telah mengkonfirmasi ke BPBD Provinsi Aceh dan BPBD Kabupaten Bener Meriah. Sejauh ini belum ada laporan korban dan kerusakan. Gempa bumi berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang Aceh, Selasa, 2 Juli 2013. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pukul 14.37. Pusat gempa terjadi di darat pada kedalaman 10 kilometer, 35 kilometer barat daya Kabupaten Bener Meriah dan 181 kilometer arah tenggara dari Kota Banda Aceh. BMKG memprediksi gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Syamsul Maarif melaporkan perkembangan dan upaya penanganan gempa 6,2 skala Richter di Aceh kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Berdasarkan siaran pers yang diterima Kompas.com dari Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Rabu (3/7/2013), juga disebutkan, data sementara mencatat 22 orang meninggal dunia, 210 orang luka-luka, dan ribuan bangunan dan rumah rusak.

Disebutkan, dari laporan dari BPBA Aceh Tengah, terdapat 10 orang meninggal, 140 orang luka-luka dan dirawat di RSUD, bangunan yang meliputi rumah, masjid, meunasah, dan kantor pemerintah mengalami kerusakan.

Diperkirakan 1.500 unit mengalami kerusakan. Beberapa ruas jalan longsor. Pengungsian tersebar di 10 titik. Sementara di Kabupaten Bener Meriah terdapat 12 orang meninggal, 70 orang di rawat di RSUD Bener Meriah dan puskesmas. Kerusakan bangunan dan rumah masih dalam pendataan. Sutopo menyebutkan, upaya penanganan gempa terus dilakukan. “Kepala BNPB dari Posko Penanggulangan Asap di Pekanbaru telah memerintahkan penanganan dilakukan secara cepat,” kata Sutopo.

Saat ini tim BNPB, SRC PB, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan dan Kementerian PU berada di Bener Meriah untuk melakukan koordinasi dan kaji cepat. BNPB pagi ini juga mengirimkan satu helikopter Collibri TNI AU dari Pekanbaru ke Aceh untuk membantu penanganan gempa, khususnya di perbatasan antara Bener Meriah dan Aceh Tengah.

Selain itu, BNPB memberangkatkan pesawat CN 235 TNI AU untuk melakukan foto udara dan kaji cepat dari udara dampak kerusakan gempa. “BPBA, TNI, Polri, SKPD terkait, dan relawan telah memberikan bantuan kepada korban. Pendataan masih dilakukan dan akan disampaikan terus kepada media,” ungkap Sutopo.

Enam anak dikabarkan tewas dan 14 lainnya terjebak di dalam sebuah masjid yang ambruk dalam guncangan gempa susulan yang melanda sejumlah kabupaten/kota Provinsi Aceh sekira pukul 20.55 WIB, Selasa (2/7/2013). Sebelumnya diberitakan, gempa susulan ini merobohkan sebuah masjid di Kabupaten Bener Meriah. Berdasarkan kabar yang dilansir Kantor Berita AFP malam ini, anak-anak yang tewas dan terjebak di bawah reruntuhan masjid sedang mengaji saat gempa susulan datang.

“Enam anak ditemukan tewas di bawah reruntuhan masjid,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Aceh Tengah, Subhan Sahara. “Tim kami sedang berupaya menyelamatkan 14 anak lain yang saat ini masih tertimbun,” sambungnya.
“Kami sangat berharap dapat menyelamatkan mereka meski harapan hidupnya tipis,” kata Subhan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, gempa susulan juga dirasakan warga Kabupaten Bireuen, Aceh Utara, dan Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Warga Bener Meriah, yang tengah melakukan penyelamatan barang karena gempa siang tadi, kembali berhamburan menyelamatkan diri ke tempat lebih aman. Pengakuan Mirza, warga Takengon, gempa susulan terasa hampir sama kuat dengan siang tadi. Hanya, tenggang waktunya lebih singkat. “Kalau siang tadi, kuat dan berayun-ayun lama. Barusan, sekali goyang, tapi terasa kuat,” sebut Mirza via telepon selulernya, malam ini.

Fenomena lain muncul setelah gempa tektonik berkekuatan 6,2 skala Richter di Aceh, Selasa (2/7/2013). Sebuah danau air tawar berubah keruh dan memunculkan banyak sampah seusai gempa Selasa siang itu. Warga sempat panik melihat perubahan tersebut, apalagi sempat menyeruak kabar bahwa gempa dipicu aktivitas Gunung Berapi Burni Telong di Bener Meriah.

“Semua isu itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karenanya, masyarakat tak perlu terprovokasi, yang hanya akan menimbulkan masalah yang tak diharapkan,” kata Kadistamben Aceh, Said Ikhsan. Sementara soal fenomena air keruh tersebut, menurut dia, itu adalah hal yang wajar.

Keruhnya air danau dan banyak sampah yang muncul ke permukaan karena adanya guncangan di dasar danau. “Air dalam ember sekalipun kalau diguncang, kotoran yang berada di bawah akan naik ke permukaan air. Jadi, hal ini sesuatu yang wajar. Jangan dikait-kaitkan dengan sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” kata Said Ikhsan.

Hingga tengah malam, setidaknya telah terjadi tujuh kali gempa susulan. Setelah gempa susulan berkekuatan 5,5 skala Richter pada pukul 20.55 WIB, satu gempa susulan kembali terjadi dengan kekuatan 5,3 skala Richter pada pukul 22.36 WIB, seperti dilansir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kepala Stasiun Geofisika Mata Ie Banda Aceh Syahnan mengatakan, gempa yang berpusat di Kabupaten Bener Meriah ini merupakan gempa tektonik akibat pergerakan Patahan Semangko. Patahan tersebut membentang sepanjang 1.900 kilometer di Pulau Sumatera. empa bermagnitudo 6,2 mengguncang Aceh pada Selasa (2/7/2013) pukul 14.37. Gempa tidak berpotensi tsunami, tetapi menimbulkan kerusakan dan menyebabkan setidaknya 5 orang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer, 181 kilometer kota Banda Aceh, sekitar 35 kilometer barat daya Kabupaten Bener Meriah. Secara ilmiah, bagaimana gempa Aceh pada hari ini terjadi? Bagaimana mekanismenya?

Pakar gempa dari Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, mengungkapkan, “Mekanisme gempa Aceh tadi sore geser menganan. Bagian timur dari sumber gempa bergerak ke tenggara dan bagian baratnya bergerak ke arah barat laut. Pergeseran ini yang menimbulkan getaran gempa yang dikatakan mencapai V-VI MMI atau masuk kategori sedang hingga kuat.

Gerakan sesar yang bisa menimbulkan gempa ada dua, horizontal atau geser dan vertikal. Gempa dengan gerakan vertikal bila memiliki pusat di laut punya potensi lebih besar mengakibatkan tsunami. Irwan menuturkan lewat pesan singkat kepada Kompas.com bahwa “Sumber gempa kali ini berasal dari sesar aktif di daratan pada segmen Aceh dari sesar Sumatera.” Sesar Sumatera memiliki 19 segmen dengan panjang keseluruhan 1.900 km.

Banyak gempa besar Aceh berpusat di laut. Namun, gempa Aceh yang berpusat di daratan bukan kali ini saja terjadi. Menurut Irwan, gempa Aceh pada Agustus 2012 juga berpusat di wilayah daratan yang tak jauh dari pusat gempa hari ini. Namun, magnitudo gempa tak sampai 6.

Aceh adalah salah satu wilayah yang paling sering diguncang gempa besar. Tahun 2004, Aceh diguncang gempa bermagnitudo 9 yang berpusat di Samudra Hindia serta terdampak oleh tsunami yang membunuh ribuan jiwa. Kewaspadaan terhadap gempa tetap perlu ditingkatkan. Tahun 2012, Aceh diguncang gempa kembar bermagnitudo 8,8 dan 8,5. Gempa tersebut tercatat sebagai gempa sesar geser terbesar dengan mekanisme yang paling kompleks dalam sejarah.

Banda Aceh Kembali Dilanda Gempa Besar Berkekuatan 6 Skala Ritcher


Banda Aceh diguncang gempa kuat, Kamis (10/1/2013) malam ini. Getaran gempa yang kuat membuat panik warga, terutama yang bermukim di kawasan pesisir. Di beberapa titik dilaporkan terjadi kemacetan. Sementara para relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Banda Aceh, yang memantau situasi di beberapa wilayah terus mengimbau agar warga tidak panik.

Menurut informasi yang diperoleh TRIBUNnews.com dari BMKG, gempa berkekuatan 6,0 SR terjadi pukul 20:47:06 WIB,65 Km (77 km Barat Daya Kabupaten Aceh Jaya).

Pantauan Serambinews.com dari komunikasi para relawan RAPI Banda Aceh, kemacetan sempat terjadi di kawasan Simpang Dodik, Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Namun, kondisi mulai berangsur-angsur lancar dan terkendali.

Sementara relawan RAPI yang memantau di kawasan pantai Uleelheu menyebutkan, beberapa saat setelah gempa sebagian warga meninggalkan rumah dan menuju ke pusat kota.

“Namun, kondisi laut terlihat cukup tenang,” lapor seorang relawan RAPI. Lailatussa’adah (37), warga Punge Jurong yang dihubungi Serambinews.com mengaku sudah meninggalkan rumah bersama seluruh anggota keluarganya.

“Saya juga mendengar siaran radio bahwa keadaan memang aman. Tapi untuk berjaga-jaga kami meninggalkan rumah untuk sementara, karena kami melihat pergerakan burung dari arah laut. Nanti kalau sudah aman kami akan kembali lagi,” ujarnya.

Komunikasi relawan RAPI menyebutkan pusat gempa berada di perairan Kabupaten Aceh Jaya, yang berjarak sekitar 80 kilometer arah barat Kota Banda Aceh

3 Hari Berturut Turut Gempa Berskala 3 Ritcher Terjadi Di Papua, Sumba Barat dan Denpasar


Gempa berkekuatan 5,2 SR terasa di Denpasar, Bali. Gempa ini terjadi sekitar pukul 16.09 WIB. Gempa ini juga dirasakan di kawasan Pantai Kuta.

Informasi BMKG, Kamis (22/11/2012), gempa ini berpusat sekitar 84 km barat daya Denpasar, Bali. Gempa berkekuatan 5,2 SR ini cukup terasa meski tidak terlalu kuat. Semalam, gempa juga terasa dengan kekuatan 5,9 SR.

Gempa bumi berkekuatan 5,9 SR mengguncang Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan data dari BMKG, gempa ini terjadi pada pukul 23.46 WIB, Rabu (21/11/2012). Puat gempa terdapat pada 11,54 LS – 117,95 BT pada kedalaman 10 km. Gempa dinyatakan tidak berpotensi tsunami.

Pusat gempa berjarak 271 km barat daya Sumba Barat, 285 km barat daya Sumba Barat Daya, 289 km barat daya Sumba Tengah, 384 km tenggara Mataram NTB, dan 1376 km tenggara Jakarta.

Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan mengenai dampak dan korban akibat gempa.

Bumi Papua kembali diguncang gempa. Tercatat gempa tersebut berkekuatan 5 skala richter (SR) dan tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Senin (19/11/2012), gempa terjadi sekitar pukul 01.54 WIB. Titik gempa berlokasi di 1.87 LS,135.08 BT dengan kedalaman 10 km. Pusat gempa di 114 km Timur Laut Teluk Wondama, Papua Barat.

Belum diketahui adanya kerusakan ataupun korban akibat gempa tersebut. Gempa ini juga tidak menimbulkan tsunami.

Banyuwangi Kembali Diguncang Gempa Berkekuatan 5.1 Ritcher


Gempa sekuat 5,1 skala Richter kembali mengguncang Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu malam. BMKG melaporkan, sebelumnya juga terjadi beberapa kali di daerah ini.

Kepala Stasiun Geofisika Kotabumi Lampung, Chrismanto, menyebutkan episentrum gempa itu berada pada koordinat 10.80 derajat Lintang Selatan dan 113.75 derajat Bujur Timur (BT), dengan kedalaman pusat gempa (episentrum) 10 km.

Gempa itu terjadi di selatan Pulau Jawa; 273 km barat daya Banyuwangi; 287 km tenggara Jember, Jatim; 289 km barat daya Denpasar, Bali; dan 929 km tenggara Jakarta.

Namun BMKG menegaskan gempa ini tidak berpotensi menimbulkan ancaman tsunami.

Sebelumnya, BMKG juga telah menyampaikan terjadi beberapa kali gempa di kawasan sekitar Banyuwangi, Jatim, dalam sepekan terakhir, selain beberapa kali di sejumlah daerah lain di Indonesia.

Gempa bumi berkekuatan 5,8 Skala Richter (SR) mengguncang wilayah Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu sekitar pukul 23.32 WIB.

Berdasarkan laman dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gempa yang tidak berpotensi Tsunami itu berada pada koordinat 10.84 Lintang Selatan (LS) – 113.82 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 32 kilometer.

Pusat gempa terjadi pada 276 Km barat daya Banyuwangi-Jawa Timur, 288 Km barat daya Denpasar-Bali, 292 Km tenggara Jember, 271 Km barat daya Denpasar- Bali dan 938 Km tenggara Jakarta.

Gempa berkekuatan 5,1 skala Richter mengguncang wilayah perairan barat daya Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu malam.

Menurut informasi dari laman resmi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika gempa berkekuatan sedang tersebut terjadi pada pukul 22.32 WIB dengan lokasi di 273 kilometer barat daya Banyuwangi.

Gempa berkedalaman 10 kilometer di bawah permukaan laut itu tepatnya berlokasi di kordinat 10,80 Lintang Selatan dan 113,75 Bujur Timur.

Sebelumnya gempa berkekuatan sama juga sempat mengguncang wilayah Banyuwangi pada Minggu dinihari sekitar pukul 00.35 WIB dan sebuah gempa 5,8 skala Richter pada Sabtu pukul 23.22 WIB.

Gempa 4.5 Ritcher Selama 3 Detik Hantam Desa Cibunian Di Bogor


Sambil menggendong anaknya yang masih balita, Atikah, 30 tahun, termenung di teras rumah tetangganya. Perempuan berperawakan kecil ini tidak mengira rumah yang sudah ia huni sejak delapan tahun lalu itu akan ambruk dalam hitungan detik.

Atikah adalah salah seorang korban bencana gempa bumi di Kampung Muara Satu, RT 01 RW 01, Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Saat kejadian, dia mengaku sedang tidur pulas. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh, dinding dan genting rumah bergetar.

“Saya langsung bangun dan menggendong anak lari ke luar rumah sambil berteriak asma (menyebut nama) Allah,” Atikah mengungkapkan.

Dari sudut matanya mulai terlihat butiran air. Ia kini menangis. “Saya bingung. Rumah hancur, enggak ada uang karena habis waktu Lebaran.”

Gempa berkekuatan 4,8 pada skala Richter pada Ahad dinihari, 9 September 2012, itu cuma berlangsung tiga detik, tapi cukup untuk meruntuhkan tembok dan atap rumah Atikah serta rumah warga lainnya . “Kalau lebih (dari tiga detik), semua rumah di kampung ini bisa roboh,” kata Odim, 63 tahun, tetangga Atikah.

Saat gempa terjadi, warga Kampung Muara, yang terdiri atas 60 keluarga dan berada di kaki Gunung Salak, berhamburan ke luar rumah. Hingga goyangan gempa selama tiga detik itu usai, masih terdengar suara genting jatuh dan tembok yang ambruk.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Sutopo Purwo Nugroho, Ahad, 9 September 2012, mengungkapkan bahwa gempa itu termasuk ringan. Meskipun demikian, secara keseluruhan lindu telah merusakkan sekitar 250 rumah .

Gempa juga mengguncang wilayah Sukabumi dan sekitarnya. Sebanyak 141 rumah di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, dilaporkan mengalami kerusakan. Saluran air sepanjang 50 meter di Kampung Darmaga, Desa Cipeuteuy, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, ambruk dan longsor.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Suharjono, mengatakan penyebab gempa adalah terjadinya pertemuan lempeng.

Menurut dia, di wilayah Indonesia terdapat lempeng-lempeng yang berpotensi menimbulkan gempa. Ada patahan-patahan di Sumatera, Aceh, Lampung, dan Cimandiri (Lembang). Sedangkan patahan paling banyak ada di Sulawesi. “Konsekuensi pertemuan lempengan bisa berupa energi yang disebut gempa,” ujar Suharjono.