Categories
Bencana Alam Jakarta Banjir Jalan Jakarta Banjir Pencinta Lingkungan

Permukaan Tanah Di Pluit Alami Penurunan 1,8 – 3 Meter Per Tahun


Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mewanti-wanti bahwa ancaman rob di masa datang makin serius. Rob ini imbas turunnya muka air tanah karena eksploitasi air tanah yang berlebihan. “Penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah yang tidak terkendali membuat Jakarta Utara semakin rawan banjir rob. Penurunan tanah di pantura Jakarta bukan sesuatu yang bersifat alamiah. Tapi lebih disebabkan faktor pengaruh manusia yaitu eksploitasi air tanah yang melebihi daya tampung dan daya dukungnya,” jelas Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Pengambilan air tanah yang besar-besaran inilah, imbuh dia, yang menyebabkan akuifer dalam tanah kempes sehingga tanah ambles. Akuifer adalah lapisan bawah tanah yang mengandung air dan dapat mengalirkan air. Melalui akuifer inilah air tanah dapat diambil. “Selain itu ada faktor alami yaitu kenaikan muka air laut. Kombinasi antara turunnya tanah dan naiknya muka air laut itulah yang menyebabkan rob,” jelasnya.

Di kawasan pantai utara Jawa, khususnya di Jakarta Utara dan Kota Semarang, banjir rob berada di kawasan yang lebih rendah dibandingkan permukaan air laut. Daerah ini secara alamiah memang lebih rendah daripada muka air laut saat pasang tertinggi. Supto menegaskan Jakarta ancaman rob di Jakarta akan makin meningkat di masa mendatang karena penurunan permukaan tanah terus menurun tanpa bisa dikendalikan. Dari hasil pengukuran tahun 1925-2010, permukaan air laut Jakarta selalu naik setiap tahun. Kenaikannya rata-rata 0,5 sentimeter (cm) per tahun.

“Sebaliknya, laju penurunan muka tanah Jakarta mencapai 5 cm hingga 12 cm per tahun di sejumlah titik selama tiga dekade terakhir. Kondisi itu yang menyebabkan akumulasi permukaan air laut yang menggenangi tanah Jakarta jadi lebih tinggi,” tuturnya. Sutopo memaparkan hasil penelitian ITB yang dijalankan selama 1982-2010 dengan teknologi survei sifat datar (leveling survey) dan menggunakan alat global positioning system serta radar (Insar), ditemukan penurunan muka tanah tersebar di sejumlah tempat di Jakarta.

“Penurunannya bervariasi 1-15 cm per tahun. Bahkan, di beberapa lokasi terjadi penurunan 20-28 cm per tahun. Kawasan Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, adalah salah satu kawasan yang mengalami penurunan muka tanah cukup besar. Selama tiga dekade ini, beberapa daerah di Pluit mengalami penurunan tanah 1,8 meter hingga 3 meter,” papar dia.

Saat ini di Jakarta Utara wilayah ada 26 titik rawan banjir rob meliputi Penjaringan, Pluit, Kamal Muara, Kapuk Muara, Tanjung Priok, Kalibaru, Ancol, Pademangan, Marunda, Koja, Lagoa, Sunter Karya Selatan, Papanggo, Sunter Agung, Warakas, Kebon Bawang, Sungai Bambu, Jampea, Kramat Jaya, Kelapa Gading, KBN Cakung, Sunter Jaya, dan Yos Sudarso.

“Ancaman rob di masa mendatang akan makin serius sehingga dapat menyebabkan wilayah Utara Jakarta tidak menarik untuk investasi atau pengembangan wilayah jika tidak dapat mengatasi rob. Perlu upaya yang komprehesif untuk mengatasi banjir rob karena ancaman di masa mendatang akan lebih meningkat,” tuturnya. Masyarakat, lanjut dia, harus adaptasi dan mitigasi dengan rob tersebut. Masyarakat dan pemerintah bisa membuat tanggul, meninggikan lantai, membangun rumah panggung dan lainnya. Bahkan secara swadaya membangun polder dan pompa untuk melindungi lingkungannya. Masyakarat dan dunia usaha yang ada di wilayah itu harus kompak tidak mengeksploitasi air tanah secara berlebihan. Membangun sumur resapan, biopori, dan upaya lain yang intinya menakan agar penurunan muka tanah dapat berkurang.

“Pemda DKI Jakarta dan Kementerian PU Pera telah memiliki langkah-langkah antisipasi rob dan banjir di Jakarta, seperti pembangunan tanggul laut raksasa, reklamasi, pembangunan polder, tanggul di pantai dan upaya struktural lainnya. Tentunya saja upaya tersebut selalu ada yang pro dan kontra,” jelasnya. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan soal penyebab banjir rob di Jakarta Utara dua hari terakhir, termasuk fenomena gelombang tinggi di beberapa daerah. Bagaimana penjelasannya?

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus S. Swarinoto, menjelaskan kenaikan tinggi muka air laut atau banjir rob di beberapa lokasi di Pantai Utara Jawa yang terjadi pada tanggal 5 dan 6 Juni 2016 diakibatkan oleh pengaruh astronomi terjadinya bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus (spring tide ) yang mengakibatkan naiknya tinggi muka laut.

Menurut Yunus, kondisi ini merupakan siklus rutin bulanan yang normal terjadi. Namun karena bersamaan dengan terjadinya anomali positif tinggi muka air laut di wilayah Indonesia sebesar 15 – 20 cm, maka kondisi ini memberikan dampak yang menimbulkan kerugian materi di beberapa wilayah seperti pesisir Jakarta, Pekalongan, dan Semarang. “Kondisi ini diperkirakan akan bertahan hingga 2 hari ke depan,” terang Yunus. Sedangkan untuk gelombang pasang yang terjadi di Barat Sumatera dan Selatan Jawa hingga NTT selain disebabkan adanya pengaruh seperti terjadinya rob, namun juga diperkuat dengan adanya penjalaran alun (swell) yang dibangkitkan dari pusat tekanan tinggi subtropis di barat daya Australia.

Potensi gelombang tinggi ini masih akan terjadi hingga 5 hari ke depan, di beberapa wilayah berikut :

– Perairan utara dan barat Aceh;
– Perairan barat Nias – Mentawai;
– Perairan Bengkulu – Kep. Enggano;
– Perairan barat Lampung;
– Perairan selatan Banten hingga Jawa Timur; dan
– Perairan selatan Bali, NTB dan NTT.

“Dengan kondisi gelombang laut yang masih cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia, masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan siaga, terutama masyarakat pesisir pantai barat Sumatera dan selatan Jawa hingga NTT untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya gelombang tinggi,” kata Yunus. Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam. melalui: call center 0216546315/18; maritim.bmkg.go.id; follow @infobmkg; atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Rob atau banjir air laut karena pasang membawa rezeki untuk Nurohim (40). Sejak rob datang akhir pekan lalu, penghasilan dia naik. “Kalau di sini bajaj yang dapet banyak ya yang berani nerabas aja. Kalau yang biasa-biasa ya nggak berani. Kan ini banjir rob jadi ya beresiko juga kalo nerabas banjir gini,” sebut Nurohim yang ditemui di Muara Baru, Selasa (7/6/2016) sore. Nurohim mengaku penghasilan dia meningkat tajam. Ini karena dia nekat menerobos rob.

“Ya lumayan naik sampai 50%. Biasanya dapet 70 sampe 100 ribu, ini bisa lebih dari itu. Lumayanlah, tapi ya itu juga harus nekat,” tutur dia. Sebenarnya, Nurohim mengaku, rob bagaimanapun membawa kerugian buat bisnisnya. Terkadang dia mesti memutar agak jauh karena air pasang terlalu tinggi. “Kadang ada yang batalin pesenan juga karena kita naikin harganya. Kan rob,” imbuhnya.

Nurohim sudah 10 tahun menjadi sopir bajaj. Dia mengaku baru-baru ini saja rob datang. Dahulu tidak pernah dia merasakan. “Dulu sih nggak ada ya. Baru sekarang ini kayak gini,” tegasnya.

Categories
Jakarta Banjir

Banjir 2015 Di Jakarta Bukan Karena Masalah Pompa Air dan Bukan Banjir Kiriman


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut banjir di tahun 2015 ini bergantung pada peran pompa air. Namun pengamat perkotaan Nirwono Joga berpandangan berbeda. Menurut dia, yang sebenarnya terjadi adalah genangan-genangan lokal akibat drainase yang buruk. “Saya garis bawahi, banjir kemarin tidak banyak sangkut pautnya dengan pompa. Ini terkait dengan genangan lokal sebenarnya. Tidak ada sungai dan waduk yang meluap,” kata Nirwono Joga, Rabu (25/2/2015).

Hal-hal yang membuktikan bahwa pompa tidak berperan banyak adalah tidak banyak air mengalir ke pantai utara Jakarta. Peristiwa yang terjadi adalah air tergenang di kawasan-kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan air, namun berubah fungsi menjadi tempat lain, seperti permukiman. Joga menilai, beberapa daerah yang terkena banjir cukup parah adalah Jakarta Barat, Jakarta Utara, dan Jakarta Timur. Ketiga wilayah itu dianggap memiliki drainase yang sangat buruk. Tidak mengherankan, bila banjir di ketiga wilayah tersebut lebih lama surut dibandingkan dengan wilayah lainnya.

Joga juga tidak sepandangan dengan Ahok yang mengatakan ukuran darurat banjir di Jakarta adalah kawasan Kampung Pulo. Menurut Joga, Ahok tidak mengerti dan tidak bisa membedakan karakteristik banjir tahun ini dengan tahun sebelumnya.

Tahun 2014, banjir disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor banjir kiriman dari Bogor dan sekitarnya, hujan lebat di daerah Kampung Pulo dan Bidara Cina, serta ditambah dengan terjadinya bulan purnama yang mengakibatkan rob tinggi di pantai utara Jakarta. Jika mendapat banjir kiriman, kemungkinan besar air di sungai akan meluap.

“Makanya enggak bisa bilang Kampung Pulo belum banjir. Orang-orang di sana marah kan waktu dengar Pak Gubernur bilang begitu. Tapi dari sini jelas terlihat kalau banjir tahun ini terjadi di tempat-tempat yang drainasenya buruk,” tambah Joga. Menurut Joga, jika indikator banjir Jakarta dari banjir di Kampung Pulo yang meluap, maka pemerintah provinsi (Pemprov) DKI akan menggunakan alasan banjir kiriman. Namun banjir 2015 ini tidak ada banjir kiriman sehingga semua banjir yang terjadi menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari Pemprov DKI.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dianggap tidak mengerti akar masalah banjir yang melanda Jakarta setiap tahunnya. Pria yang kerap disapa Ahok itu pun mengingkari janji bahwa banjir di Jakarta akan surut hanya dalam waktu satu hari. “Yang dijanjikan dalam waktu satu hari genangan air akan hilang, bahkan kenyataannya lebih dari empat hingga lima hari air tidak hilang. Berarti kan di sini ada sistem yang tidak bekerja,” ujar pengamat perkotaan, Nirwono Joga, Rabu (25/2/2015).

Joga menilai, Basuki menganggap banjir di Jakarta sama dengan banjir tahun kemarin. Namun, kondisinya berbeda. Banjir tahun 2014 disebabkan oleh hal eksternal, seperti curah hujan yang tinggi di daerah hulu, seperti Bogor dan sekitarnya, sehingga ada banjir kiriman dan efek bulan purnama mengakibatkan rob yang cukup tinggi.

Bahkan, Basuki menyamakan banjir di Jakarta dalam keadaan darurat apabila banjir di Kampung Pulo sudah parah. Padahal, sebut Joga, banjir beberapa waktu kemarin tidak merendam Kampung Pulo, malahan tempat lain seperti perumahan-perumahan mewah yang seharusnya jadi tempat peresapan air. “Kampung Pulo yang biasa banjir justru aman kan. Statement Pak Ahok soal Kampung Pulo itu menunjukkan tidak bisa membedakan banjir 2014 dengan 2015,” tambah dia.

Joga menyayangkan bahwa selama 100 hari pemerintahannya, Basuki terkesan tidak berdaya menghadapi pihak developer dan perusahaan properti besar di Jakarta. Padahal, dengan maraknya pembangunan yang dilakukan terus-menerus, Jakarta semakin kehilangan daerah peresapan air. Maka, banjir Jakarta kemarin disebut Joga sebagai konsekuensi logis dari perubahan tata ruang.

Ketegasan Basuki mengontrol pembangunan di Jakarta juga ikut dipertanyakan. Sampai kapan pembangunan akan menyasar daerah-daerah peresapan air dan sampai kapan ruang terbuka hijau (RTH) dipangkas terus-menerus? “Itu menunjukkan Pemprov DKI belum siap untuk mengatasi banjir. Kalau saya kasih nilai, cuma 6,” kata Joga.

Categories
Jakarta Banjir

Perbedaan Banjir Besar Jakarta Dari Tahun Ke Tahun


Banjir 2015 – Sampai 10 Februari 2015 (Gubernur Basuki atau Ahok)
Luas genangan: 12 kelurahan dengan 53 RW
Titik banjir : 107 titik (tertinggi)

Debit air : Sampai pukul 12:00 10 Februari 2015
Katulampa : 50 cm (Siaga IV)
Depok : 135 cm (Siaga IV)
Karet : 610 cm (Siaga 1)
Sunter Selatan : 270 cm (Siaga 1)
Waduk Pluit : 145 cm (Siaga 1)

Curah hujan : Pukul 07.00 8 Februari 2015 sampai pukul 07.00 9 Februari 2015 (titik terbesar)
– Bogor : intensitas ringan 0,1-5 mm/jam
– Depok : intensitas sedang 5-10 mm/jam
– Ciganjur : intensitas lebat 10-20 mm/jam
– Kebayoran Baru : intensitas lebat 10-20 mm/jam
– Kelapa Gading : intensitas lebat 10-20 mm/jam
– Tomang, Kemayoran, Pulomas, Manggarai : : intensitas sangat lebat
Kerugian materi :
Korban: 1 tewas
Pengungsi: 14.163 (sampai 10 Februari 2015)

Banjir 2013 (Gubernur Fauzi Bowo)
Luas genangan: 41 km2 di Jakarta, 124 kelurahan

Debit air:
Katulampa 210 cm (Siaga I)
Manggarai 1.030 cm (Siaga I)

Curah hujan:
Jakarta 100 mm per hari
Bogor 22-75 mm per hari

Kerugian
Materi: Rp 15 triliun
Korban: 12 tewas

Pengungsi: 33.500 orang

Categories
Jakarta Banjir Jalan Jakarta Banjir

Lalu Lintas Depan Mal Taman Anggrek Kacau Akibat Mobil Lakukan Contra Flow


Banjir yang terjadi di depan Citraland membuat sejumlah pengendara berputar balik. Mereka melawan arus sejak di depan Mal Taman Anggrek. Lalu lintas pun kacau. Hal ini terlihat di sepanjang Jl S Parman, Jakarta Barat, sejak pagi hingga siang, Senin (9/2/2015). Mobil-mobil yang tadinya hendak ke arah Kebon Jeruk akhirnya berputar balik. Padahal mereka berada di lajur yang berlawanan.

Kondisi ini membuat arus lalu lintas tidak terkendali. Mobil-mobil yang putar balik melewati jalur bus TransJakarta hingga menerobos kerumunan kendaraan yang datang dari arah sebaliknya. Polisi pun mengalihkan arus sejak pintu tol Tomang. Kendaraan yang hendak mengarah ke Kebon Jeruk diminta masuk tol, termasuk motor. Air juga masih menggenang di beberapa ruas jalan, hingga ke area parkiran basement Mal Taman Anggrek.

Kawasan di depan Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, juga tergenang banjir. Bahkan air masuk ke dalam parkiran di lantai dasar. TMC Polda Metro Jaya mengabarkan, banjir di depan mal Taman Anggrek terlihat hingga Jl S Parman, Senin (9/2/2015). Belum jelas berapa ketinggian air, namun diperkirakan lebih dari 30 cm.

Zaki, salah seorang pembaca yang berada di sekitar mal melihat air sampai masuk ke area parkiran. Air masuk lewat samping parkiran. Laporan Zaki juga diamini oleh pengunjung mal lainnya di akun media sosial Path. “Sampai sekarang masih banjir,” kata Zaki saat dihubungi. Lalu lintas pun macet yang mengarah ke Jl S Parman. Bagi Anda yang hendak melintas sebaiknya waspada dan mencari jalur alternatif lain.

Categories
Jakarta Banjir Jalan Jakarta Banjir

Jalan Di Kelapa Gading Berubah Jadi Sungai


Salah satu wilayah yang kebanjiran cukup parah adalah Kelapa Gading di Jakarta Utara. Kawasan mahal ini terkepung banjir dengan ketinggian bervariasi, sehingga lalu lintas lumpuh. Rangga Syahputra, salah seorang pengguna jalan, mengirimkan foto banjir ke pasangmata.com. Dia mengambil foto banjir di bagian depan Mal Kelapa Gading. Banjir cukup tinggi sehingga sulit dilewati kendaraan. Dua pemotor yang nekat menerobos harus mendorong motornya karena kendaraannya mogok.

“Banjirnya cukup parah di Kelapa Gading,” tulis Rangga, Senin (9/2/2015) pukul 14.00 WIB. Adi, seorang pengguna jalan lainnya, juga mengirimkan foto banjir yang cukup tinggi di Jl Boulevard Timur di depan sekolah Al-Azhar Kelapa Gading. Ketinggian banjir hingga mencapai kap mesin mobil.

Meski banjir cukup tinggi, masih banyak mobil yang nekat menerobos banjir di kawasan tersebut. Tingginya banjir membuat setiap ada mobil yang melintas di lokasi ini menimbulkan gelombang seperti di sungai. Adi mengirimkan foto banjir ini pada pukul 11.50 WIB.

Foto lainnya yang menunjukkan parahnya banjir di kawasan ini dikirimkan Alam. Terlihat ada dua kendaraan yang nekat menerobos bajir di Jl Gading Nias arah ke Kelapa Gading. “Jalan Gading Nias menuju Boulevard Kelapa Gading banjir setinggi lutut orang dewasa,” kata Alam pukul 11.08 WIB.

Hilman Mubarok juga mengirimkan foto banjir di Jalan Boulevard Barat, di depan tugu Summarecon. Banjir ini mencapai seperut orang dewasa. Hilman mengirim foto ini pada pukul 10.36 WIB.

Categories
Jakarta Banjir Jalan Jakarta Banjir

Air Danau Sunter Meluap Hingga Tutupi Jalan


Jakarta diguyur hujan sejak 7 jam terakhir dengan intensitas sedang menuju tinggi. Imbasnya adalah meluapnya Danau Sunter Selatan, Jakarta Utara, yang ketinggian air saat ini sejajar dengan tinggi jalan. Pantauan detikcom di Jalan Danau Sunter Selatan, Senin (9/2/2015), hanya terlihat hamparan air di wilayah tersebut. Intensitas hujan di wilayah ini juga masih tinggi.

Tinggi genangan air dari arah Kemayoran menuju Kepala Gading mencapai 40 cm. Belasan motor terlihat mogok karena mencoba melintasi genangan air dan belasan pemotor lainnya memilih untuk berhenti menunggu surutnya air. Beberapa kendaraan roda empat mencoba menarabas jalan dengan menaikkan laju kecepatan kendaraannya.

Sementara itu, arus kendaraan dari arah Kepala Gading menuju Kemayoran terlihat sangat sepi. Ketinggian air diperkirakan setinggi 60 cm. Hanya kendaraan roda empat yang terlihat melintas meski jumlahnya dapat dihitung jari.

8 Anggota kepolisian dari Polsek Tanjung Priok terlihat berjaga-jaga. “Mulai banjir tinggi sekitar sejam yang lalu,” ujar Kapolsek Tanjung Priok Kompol Mohammad Iqbal di lokasi banjir. Menurut Iqbal, berdasarkan informasi yang diterimanya wilayah Kepala Gading juga masih terendam air. “Itu wilayah yang paling parah,” ucapnya.

Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, banjir. Imbasnya, mobil-mobil yang ada di Tol Wiyoto Wiyono tak bisa turun di titik Gerbang Tol Sunter karena teradang banjir di Jl Yos Sudarso. Banyak warga terjebak di dalam mobil. Susahnya! Hal ini diceritakan, Andi Kuliem, yang temannya warga Cipinang hendak menuju ke Gedung Graha Kirana Sunter, Jakarta Utara. Lantaran jalan arteri sekeluar Tol Wiyoto Wiyono di Gerbang Tol Sunter tepatnya di Jalan Yos Sudarso banjir, mobil-mobil banyak yang tidak bisa dan tidak berani keluar menembus banjir.

Akibatnya, mobil-mobil itu bertahan di gerbang tol. “Sudah 5 jam. Masih hujan di sana, belum surut. Masih di mobil,” kata Andi menyampaikan kabar temannya itu. Andi menambahkan, temannya ‘sengsara’ selama di dalam mobil. “Menahan lapar, menahan pipis. Maju nggak bisa, mundur nggak bisa,” jelas Andi yang absen masuk kantor karena sedang tidak sehat ini. Dia juga mengirimkan gambar temannya Harry yang melalui Kelapa Gading dan nasibnya juga sama, terjebak banjir. Pun teman Andi, Andry, yang memotret kondisi banjir di Jalan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Mereka berkantor di Sunter dan rutin melewati kedua wilayah itu.

Categories
Jakarta Banjir

Rel Stasiun Sudirman Kebanjiran … KRL Berhenti Beroperasi


Selain jalanan, banjir juga mulai menggenangi rel di Stasiun Sudirman, Jakarta Pusat. Akibat genangan ini perjalanan KRL dari Manggarai arah Tanah Abang yang melintasi stasiun strategis di kawasan segitiga emas ini menjadi terhambat. “Stasiun Tanah Abang mulai tidak melayani perjalanan ke Bogor karena ada genangan air di Stasiun Sudirman,” tulis Mamet di pasangmata.com, Senin (9/2/2015) pukul 11.30 WIB.

Mamet sempat mengirimkan foto sebuah kereta yang tak bergerak di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Terlihat pintu-pintu kereta itu terbuka dan banyak penumpang yang duduk-duduk di stasiun tersebut.

Announcer PT KAI di sejumlah stasiun juga memberikan informasi adanya genangan itu. Melalui pengeras suara petugas menyatakan KRL dari Bogor arah Tanah Abang tak bisa dioperasikan karena Stasiun Sudirman banjir sehingga tak bisa dilintasi kereta. Pengumuman ini misalnya diperdengarkan saat detikcom tengah berada di Stasiun Pondok Cina, Depok.

Banjir yang melanda Jakarta sejak subuh tadi membuat rel kereta terendam di sekitar Stasiun Kampung Bandan. Akibatnya CommuterLine rute Bogor-Jatinegara hanya berangkat sampai Stasiun Duri. Hingga pukul 11.30 WIB, air yang menggenangi rel kereta itu masih belum surut. Posisi air bertahan di ketinggian 4 cm hingga 5 cm dari atas rel.

Karena kendala ini, maka CommuterLine dari arah Bogor tujuan Stasiun Jatinegara, tidak bisa melintas sampai tujuan. Berhenti di Stasiun Duri. “Ada genangan banjir. CommuterLine dari Bogor dan Depok, hanya sampai Stasiun Duri,” kata seorang petugas melalui pengeras suara di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (9/2/2014) siang. Banjir ini juga menyebabkan kendala dari arah sebaliknya. Kereta tujuan Bogor dari Jatinegara hanya sampai Stasiun Kebayoran, seterusnya kereta kembali lagi ke Jatinegara.

Categories
Aneh Dan Lucu Jakarta Banjir

Napak Tilas Janji dan Kerja Keras Ahok Soal Banjir Di Jakarta


Hujan deras mengguyur Jakarta sejak dini hari hingga pagi ini membuat beberapa wilayah Jakarta tergenang air, dan berimbas kemacetan di sejumlah titik. Bahkan Gedung E di Komplek Balai Kota DKI Jakarta tadi malam sempat kebanjiran. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (MKG) memprediksi, Jakarta akan diguyur hujan dengan intensitas rendah hingga tinggi sepanjang hari ini. Dari satelit terlihat satu sel awan-awan besar berada di Barat Ibu Kota.

Humas BNPB Sutopo Purwo mengatakan, hingga pukul 06.00 WIB tadi, ada 49 genangan di Jakarta. Masing-masing 22 titik di Jakarta Pusat, 18 di Jakarta Barat, 4 di Jakarta Timur, dan 2 di Jakarta Selatan. Tinggi genangan antara 10-80 cm. Di Jalan Thamrin dan Jl. Medan Merdeka Barat masih tergenang banjir 10-50 cm. Daerah yang terendam banjir paling tinggi ada di Jl. Batu Ceper Raya 60-80 cm.

Dijelaskan Sutopo, titik genangan ini timbul akibat drainase perkotaan yang kurang mampu mengalirkan air permukaan ke sungai. Banyak masalah terkait drainase seperti kecilnya kapasitas, sedimentasi, tertutup sampah dan lainnya.
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam beberapa kesempatan pernah mengungkap soal pembenahan masalah banjir Jakarta. Ia berkata, pihaknya telah bekerja keras dengan melakukan berbagai langkah. Ahok optimististis, jika Jakarta hujan, dirinya menjamin tak akan lebih dari sehari pasti surut.

Berikut 3 pernyataan Ahok soal Banjir:
1. Ahok Soal Banjir: Kita Udah Siap, Nggak Akan Lama
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berkata, pihaknya telah mengantisipasi puncak musim hujan pada Februari ini. Katanya, banjir tak akan berlangsung lama karena langkah-langkah antisipasi telah dilakukan. “Kita udah jaga. Besok kan puncak. Saya pikir puncak bisa sampai mendekati Imlek, sampai mendekati Imlek tanggal 10-an. Kita udah siap kok. Banjir juga nggak akan lama. Kecuali sabotase ya,” kata Ahok saat diwawancarai wartawan di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2015) sore.

“Genangan baru sebetulnya hampir nggak ada. Kurangnya udah lebih banyak,” sebut Ahok menambahkan. Suami Veronica Tan ini berkata, sistem pompa penyedot air sudah siap, meski belum sempurna. Namun untuk di jalur Selatan, masih terkendala banyaknya rumah-rumah kumuh di pinggiran sungai yang belum dibebaskan. “Tapi yang selatan, karena volume sungainya semua nggak cukup, pasti meluap. Yang repot selatan sebetulnya, karena selatan sungainya rata-rata ditutupi rumah-rumah mewah sampai kumuh. Yang harusnya lebar sungai 20 meter, 12 meter, tinggal 3-4 meter ya masalah. Nah, itu kita akan terus usahakan bongkar. Tidak ada pilihan,” jelas Ahok.

Sementara itu, 9 waduk baru yang direncanakan dibangun Pemprov DKI Jakarta belum selesai. Kata mantan Bupati Belitung Timur ini, kebanyakan masih terkendala dengan pembebasan lahan. “Belum (berfungsi-red). Baru gali. Pembebasan lahan juga masalah, yang Marunda. Makanya saya bilang sama mereka, kerjakan aja yang udah ada. Yang kita mau kerjakan tahun ini pemasangan tanggul. Kita tidak ingin rob masuk,” imbuh Ahok.

2. Jika Jakarta Hujan Tak Lebih dari Sehari Pasti Surut
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mengundang Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi dan para dubes Indonesia makan malam di Balai Kota. Pada kesempatan itu, ia juga bicara soal penanganan banjir.

“Kalau bapak ibu perhatikan sekarang kalau hujan saya jamin tidak lebih dari 1 hari pasti surut, karrna bagian tengah semua sudah beres. Ini tengah, Istana, Glodok, sampai sini (Balai Kota-red) nggak bakalan banjir. Kecuali ada yang sabotase,” kata Ahok di ruang Balai Agung, Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2015) malam.

Ahok menjelaskan penanganan banjir di Jakarta Pusat sudah rampung. Sedangkan di Jakarta Barat dan Timur, dan Selatan masih ada kendala. Meski begitu, menurutnya, kalaupun dilanda banjir, tak akan berlangsung lama. “Timur dan Barat kita butuh 2-3 tahun untuk bereskan. Selatan memang masalah karena jalannya diduduki, sungainya jadi sempit. Tapi kalau dia banjir meluap pun nggak akan lama, karena utara yang rendah ini sudah beres,” ucap Ahok.

3. Ahok Curiga Sabotase
Hujan mengguyur sejak semalam menimbulkan genangan di sejumlah titik Ibu Kota. Bahkan, genangan air juga sempat terlihat di kawasan Balai Kota dan Istana Merdeka, Jakarta Pusat dini hari tadi. Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) curiga ada sabotase. Ahok berkata, dirinya heran kenapa wilayah Istana Merdeka sempat tergenang air. Apalagi menurutnya koneksi CCTV yang terpasang di pintu air Masjid Istiqlal terputus. “Tadi saya kebangun jam 02.00 WIB karena hujan langsung cek CCTV, ternyata CCTV Istiqlal mati. Saya curiga kerendam nih pasti Istana kerendam,” ujar Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2015).

“Saya nggak tahu sabotase atau sengaja, saya nggak berani menduga. Tapi saya suudzon. Kamu hitung saja logika sekarang Pluit semua sauran begitu baik, Manggarai begitu rendah kita buka terus, Istiqlal kita buka mana mungkin banjir. Makanya saya begitu lihat CCTV Istiqlal connection lost, saya sudah curiga. Ada apa tiba-tiba. Istiqlal itu harus selalu rendah posisinya, kalau dia mulai tinggi buangnya ke sini, ke Tangki, ke Gajah Mada-Hayam Wuruk. Gajah Mada-Hayam Wuruk begitu rendah airnya, pasar ikan begitu baik pompanya kenapa nggak mau ke situ,” sambung Ahok.

Bagi Ahok, tidak ada alasan kawasan Monas, Istana Merdeka, Balai Kota, dan sekitarnya bisa terendam banjir. Menurutnya, kawasan Jakarta Pusat tidak mungkin digenangi air karena sudah dibenahi. Ahok pun tengah menunggu jawaban dari jajarannya soal permasalahan tersebut. “Saya lagi minta mereka jawab ke saya ini. Saya mau dengar jawaban, nggak ada alasan Monas-Istana kerendam. Ini juga kerendam kan semalam, masuk ini. Makanya saya nggak tahu. Sama kayak kasus Sunter, dia bilang nggak sengaja. Ya sudahlah kalau ini mau dibilang nggak sengaja,” tutupnya.

Categories
Jakarta Banjir Jalan Jakarta Banjir

53 Titik Banjir Yang Membuat Jakarta Yang Dipimpin Ahok Lumpuh Hari Ini


Hujan deras yang mengguyur kawasan Jakarta dan sekitarnya sejak pagi tadi mengakibatkan sejumlah ruas jalan terendam banjir. Genangan air dan banjir ini mengakibatkan kemacetan di sejumlah titik yang terdampak. Direktorat Lalulintas Polda Metro Jaya mencatat sedikitnya ada 53 titik di DKI Jakarta yang tergenang hingga mengalami banjir. Berikut titik penyebarannya berdasar keterangan Kabag Operasi Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto sampai pukul 11.00 WIB tadi, Senin (9/2/2015).

Wilayah Jakarta Pusat:
1. Gunung Sahari, Pintu Besi (50 cm)
2. Sebelum gerbang Tol Cempaka Putih (20 cm)
3. Jl Letjen Suprapto (20 cm)
4. Jl Ahmad Yani depan Gudang Garam (30 cm)
5. Jl Batu Tulis (40 cm)
6. Jl Krekot Bundar (40 cm)
7. Jl Latuse (40 cm)
8. Jl Mangga Besar Raya (50 cm)
9. Jl Karang Anyer (30 cm)
10. Gunung Sahari 1 (40 cm)
11. Jl Krosela (30 cm)
12. Jl Benyamin Sueb (200 cm)
13. Landasan Pacu Utara (150 cm)
14. Jl Kwitang 1 (30 cm)
15. Jl Percetakan Negara (50 cm)
16. Jl Cempaka Putih Tengah (40 cm)

Wilayah Jakarta Utara:
1. Jl Yos Sudarso depan Ajinomoto arah utara (40-50 cm)
2. Jl Parangtritis Pademangan Barat (30-40 cm)
3. Jl Karang Bolong Ancol Barat (20-30 cm)
4. Setelah Flyover Cempaka Putih (40-50 cm)
5. Kebon Baru arah Utara (25-30 cm)
6. Kelapa Gading (50-60 cm)
7. Depo Motor Sunter (35 cm)
8. Kampung Gusti (30 cm)
9. Kapuk Raya (40 cm)
10. Depan WTC Mangga Dua (20-30 cm)
11. Depan Gerbang Tol Sunter (20 cm)

Wilayah Jakarta Barat:
1. Jl Arjuna Selatan (30 cm)
2. Depan Universitas Trisakti (40-50 cm)
3. Jl Panjang depan Mc Donald (25 cm)
4. Pintu Air Cengkareng (50 cm)
5. Depan Universitas Tarumanegara (60 cm)
6. Jl Meruya Utara sebelum Pospol (30 cm)
7. Pasar Patra Duri Kepa (40 cm)
8. Pasar Puri Cengkareng lajur kiri (40 cm)
9. Jl Kyai Tapa (20 cm)
10.Depan RS Siloam (40 cm)

Wilayah Jakarta Selatan:
1. Lotte Mart (30 cm)
2. Setelah TL Kuningan arah Barat (20 cm)
3. TL Bungur arah Pondok Indah (20 cm)
4. Pasar Jagal Buncit (100 cm)
5. Jl M Saidi Raya Pesanggrahan (20 cm)
6. Jl Bank (70 cm)
7. Depan Atmajaya jalur lambat (70 cm)
8. Kolong Semanggi arah Senayan (30 cm)
9. Depan Balai Kartini (30 cm)

Wilayah Jakarta Timur:
1. TL Matraman arah Tambak (30 cm)
2. Depan BNN (30 cm)
3. Kawasan Industri Pulo Gadung (25 cm)
4. TL Arion Rawamangun (50 cm)
5. Depan Pengadilan Lama Jaktim (40 cm)
6. Jl Raya Bekasi depan Palad (40 cm)

Sementara itu, Budiyanto juga melaporkan data ketinggian pintu air di Jakarta hingga pukul 11.00 WIB tadi, berikut datanya:
1.Pintu Air Manggarai 770cm
2.Pintu Air Depok 125cm
3.Pintu Air Katulampa 40cm.

Banjir mulai merambat ke pusat kota Jakarta. Tak tanggung-tanggung hingga mencapai kawasan ring 1. Genangan terlihat di sekitar bundaran Patung Kuda/Indosat yang berada di sekitar Monas. Akibat banjir ini lalu lintas menjadi kacau. “Hujannya masih deras sehingga membuat bundaran Patung Kuda tergenang,” kata Budi, Senin (9/2/2015) pukul 12.00 WIB. Budi menjepret banjir tersebut dari lantai 13 gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Terlihat ruas jalan ini tertutup bajir sehingga membuat lalu lintas menjadi tersendat.

Kawasan Istana Kepresidenan tak luput dari banjir yang datang akibat tingginya curah hujan. Jalan di depan Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, air menggenang setinggi 30 cm dan semakin dalam saat menuju lampu merah pertigaan ke Harmoni. Pantauan di lokasi, Senin (9/2/2015) pukul 12.25 WIB, saat melewati depan Istana terlihat air setinggi mata kaki orang dewasa. Melewati lampu merah pertigaan depan Istana ke arah Harmoni air semakin tinggi yakni mencapai 50 cm.

Para pemotor memilih untuk mematikan mesin dan mendorong motor mereka agar tidak mogok. Sebagian lagi memilih menerabas genangan dan ada juga yang berakhir dengan mati mesin karana terendam air. Mereka akhirnya meminggirkan motornya dan memeriksa kondisi kendaraan yang mogok itu. Sejumlah polisi yang mengenakan jas hujan terlihat berjaga dan mengatur lalu lintas di dekat lampu merah. Hujan juga masih mengguyur dengan lebat. Sementara itu, di Jalan Medan Merdeka Barat tak terlihat kendaraan yang melintas. Jalan di depan Kemenko PMK dan Gedung Mahkamah Konstitusi itu juga tak luput dari banjir.

adan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan hujan dengan intensitas sedang dan lebat masih akan mengguyur Jakarta hingga sore hari. Hujan ini akan semakin meluas ke wilayah di luar Jakarta. “Hujan disertai kilat, petir dan angin kencang pada pukul 11.00 WIB di wilayah sebagian besar Jabodetabek. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 15.00 WIB dan meluas ke wilayah Tangerang, Bekasi, Cibubur, Cileungsi, Citeko, Ciawi, Cisarua, Bogor dan sekitarnya,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam pesan singkat, Senin (9/2/2015) pukul 11.45 WIB.

Dengan kondisi seperti itu diperkirakan banjir berpotensi meningkat di beberapa tempat. Pusat Kendali Operasi Penanggulangan Bencana DKI Jakarta dan Posko BNPB terus memantau perkembangan banjir Jakarta. BNPB telah mendirikan 28 Posko Taktis yaitu 25 posko di Jakarta, 2 posko di Bekasi dan 1 posko di Tangerang. “Personel BNPB, SRC PB, Menwa, dan Senkom Polri dengan dukungan logistik dan peralatan membantu aparat setempat dalam penanganan banjir. BNPB telah menyiapkan 3.600 personel TNI dan 614 personel Polri untuk antisipasi banjir jika diperlukan,” jelas Sutopo.

Hingga saat ini kondisi sungai-sungai di Jakarta masih aman, belum ada pernyataan darurat bencana banjir dari Gubernur DKI Jakarta. Belum juga ada warga yang diungsikan karena banjir. Berikut tinggi muka air di pintu air yang ada di Jabodetabek pada pukul 10.00 WIB:

Katulampa 40 cm/H (siaga 4).
Depok 120 cm/H (siaga 4).
Manggarai 770 cm/H (siaga 3).
Karet 550 cm/H (siaga 2).
Krukut Hulu 130 cm/H (siaga 4).
Pesanggrahan 115 cm/H (siaga 4).
Angke Hulu 75 cm/H (siaga 4).
Cipinang Hulu 115 cm/G (siaga 4).
Sunter Hulu 50 cm/G (siaga 4).
Pulo Gadung 650 cm/H (siaga 3).
Waduk Pluit -20 cm/H.
Pasar Ikan 210 cm/H (siaga 2).

Keterangan: H = Hujan, G = Gerimis.

Categories
Jakarta Banjir

Jakarta Bakal Diguyur Hujan 3 Hari Berturut Turut


Kepala Sub-Bidang Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Harry Tirto memperkirakan Jakarta akan diguyur hujan dengan intensitas sedang selama tiga hari mendatang. “Selama tiga hari mendatang, hujan akan turun cukup merata di semua wilayah,” ujarnya ketika dihubungi, Ahad, 1 Februari 2015.

Harry menuturkan, empat atau lima hari yang lalu, potensi hujan di Ibu Kota masih rendah. Namun sejak Sabtu malam 31 Januari 2015, terjadi peningkatan energi yang mendukung terjadinya pembentukan awan hujan di langit Jakarta. Akibatnya, Harry melanjutkan, potensi hujan kembali.

Harry menambahkan, beberapa wilayah di Jakarta berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Bahkan di beberapa wilayah, hujan disertai dengan kilat. Beberapa wilayah itu antara lain, di Jakarta Selatan seperti Cipete dan Tebet; Jakarta Barat, Kembangan, Rawa Buaya, Kalideres, dan Cengkareng; Jakarta Utara, Pluit, Pademangan, Tanjung Priok, Ancol, Mangga besar; Jakarta Pusat, Gunung Sahari, Kemayoran, dan wilayah Jakarta Timur seperti, Klender, Pulogebang, Duren Sawit, Kalimalang, Jatinegara hingga Kampung Melayu. “Siang harinya hujan akan meluas dari Tangerang Selatan, Depok, hingga Bogor,” ucap Harry.

Kepala Subbidang Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Harry Tirto mengimbau warga Jakarta mewaspadai peningkatan curah hujan. “Salah satu hal yang perlu diwaspadai ialah jika hujan turun pada malam hari,” tutur Harry, Ahad, 1 Februari 2015.

Sebab, Harry menjelaskan, bencana banjir bisa datang pada malam hari saat warga sedang beristirahat. Hal berikutnya yang harus diwaspadai warga DKI, ujar Harry, ialah jika hujan turun lebih dari tiga jam. Sebab, kata dia, itu bisa menimbulkan genangan air hingga banjir. Menurut dia, dengan curah hujan sedang selama tiga hari mendatang, beberapa wilayah di DKI Jakarta berpotensi banjir. Terutama wilayah yang memiliki daya serap air rendah. “Misalkan Kampung Pulo, Jakarta Timur,” ujarnya.