Category Archives: Jakarta Banjir

Banjir Dan Jalan Tergenang Ketika Hujan Menjadi Keseharian Baru Warga Jakarta

Hujan dengan intensitas sedang hingga besar mengguyur wilayah Jakarta dan sekitarnya sejak sore hingga tengah malam. Akibatnya sejumlah ruas jalan tergenang air, beberapa di antaranya bahkan tidak bisa dilewati. Pusat Kendali Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPBD) DKI Jakarta mencatat, sedikitnya ada 23 titik ruas jalan di Jakarta yang tergenang air banjir.

“Tercatat ada 23 titik ruas jalan di Jakarta yang tergenang air banjir akibat hujan yang cukup deras dan angin kencang,” ujar petugas Pusdalops DKI dalam pesan singkat yang diterima, Selasa (4/2/2014). Berikut titik ruas jalan yang tergenang air berdasarkan data dari Pusdalops BPBD DKI;

Untuk Jakarta Selatan, tercatat ada 6 titik ruas jalan yang terendam banjir, yaitu, Jalan Layang Tebet dekat Kasablanka di kedua arahnya. Genangan setinggi 20-30 cm. Jalan Mampang Raya arah Cilandak, genangan setinggi 20 cm.

Jalan Pondok Indah dari Gandaria City, terdapat genangan setinggi 10–20 cm, sama halnya di dekat Gandaria City. Kemudian di Jalan Permata Hijau dan Jalan Raya Fatmawati depan RS Fatmawati yang mengarah ke Lebak Bulus. Ketinggian air 20 cm.

Untuk wilayah Jakarta Timur, titik ruas jalan yang tergenang air cukup parah yaitu di jalan depan Kampung Melayu, Bukit Duri arah Cipinang. Genangan setinggi 30 cm

Di Jakarta Barat, tercatat ada 13 titik ruas jalan yang terenda banjir. Yaitu, Jalan Kembangan Utara Raya di Kompleks Taman Permata Buana. Jalan tersebut tergenang air setinggi 10-20 cm. Jalan Panjang depan Perum Green Garden, genangan setinggi 20-40 cm. Kemudian Jalan Mangga Besar, Kepa Duri, genangan setinggi 20 cm.

Di Jalan Bandara Soetta, air juga menggenangan setinggi 20 cm. Kemudian di Jalan Semanan Raya dekat pasar, ada genangan air 20–30 cm.

Selanjutnya Jalan depan Roxy Square dari arah Grogol ke Hasyim Ashari, dan depan Citraland. Genangan 30 cm. Kemudian di ruas Jalan Daan mogot depan kantor Samsat, ada genangan 20-30 cm.

Ruas Jalan Kebon Jeruk Raya arah ke Batu Sari juga tergenang air setinggi 20 cm. Kemudian Jalan Arjuna Selatan Kemanggisan pinggir tol, ada genangan 10-40 cm.

Ruas Jalan Tanjung Duren Raya, Jalan Tomang depan Kampus Trisakti dan Jalan Daan Mogot depan Indosiar juga tergenang air sekitar 30 cm.

Selanjutnya di Wilayah Jakarta Utara, ruas jalan yang tergenang ada di Jalan Tanjung Priok-Pluit-Slipi dan Jalan Kelapa Gading Raya. Genangan tercatat sekitar 10-30 cm.

Di Jakarta Pusat, Jalan Gunung Sahari dari mulai Mabes AL dan WTC Mangga Dua, genangan 10-20 cm.

Cuaca Jabodetabek hari ini diperkirakan akan diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi ini akan terus berlangsung hingga malam hari. Berdasarkan informasi yang dikutip dari situs BMKG, Selasa (4/2/2014), untuk wilayah Jakarta Utara, Kepulauan Seribu, Tangerang dan Bekasi pagi hari ini akan diguyur hujan lebat. Sedangkan untuk wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, Depok dan Bogor diperkirakan akan diguyur hujan dengan intensitas sedang.

Di sore hari, untuk wilayah Kepulauan Seribu, Jakarta Utara dan Jakarta Timur akan diguyur hujan dengan intensitas ringan. Sedangkan wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Depok, Tangerang, Bekasi dan Bogor diperkirakan akan hujan dengan intensitas sedang.

Di malam harinya, BMKG memprediksi untuk wilayah Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Kepulauan Seribu dan Bekasi akan diguyur hujan dengan intensitas sedang. Sedangkan wilayah Jakarta Barat, Tangerang dan Bogor akan diguyur hujan lebat. Namun di wilayah Depok hujan diperkiran akan turun dengan intensitas ringan.

Wilayah Jakarta dan sekitarnya diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga besar sejak sore tadi. Akibatnya sejumlah ruas jalan di beberapa titik tergenang air. Informasi yang dihimpun detikcom, Senin (3/2/2014) pukul 23.45 WIB, Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat digenangi air setinggi 30 cm, tepatnya di jembatan layang Pesing mengarah ke Cengkareng. “Genangan airnya sekitar 30 cm, membuat arus lalu lintas di jembatan layang Pesing macet parah,” ujar salah seorang warga, Wiwin.

Banjir sekitar 30 cm juga terjadi di terowongan Kalimalang. Tepatnya sebelum UKI dari arah Kebon Nanas. Kendaraan terpaksa memperlambat laju kendarannya untuk melintasi terowongan ini. Tak hanya itu, di wilayah jalan layang Tebet, tepatnya di dekat Mal Kota Casablanca, di kedua arahnya tergenang air cukup tinggi. Air setinggi 20 cm juga merendam ruas jalan di depan Mangga Dua Square.

Air setinggi 30 cm juga merendam ruas jalan di depan kantor Pemadam Kebakaran Jakarta Barat dan Apartemen Mediterania, Tanjung Duren, Grogol. Dilaporkan jalur ini tidak bisa dilintasi kendaraan. Selain itu, ruas jalan di seputaran Medan Merdeka, Monas, juga dilaporkan tergenang air setinggi 20 cm.

LSM Gugat Pemda Bekasi Karena Banjir Di Muaragembong Semakin Meluas

Lembaga Kajian Advokasi dan Informasi Lingkungan Hidup (eL-KAIL) akan menggugat Pemerintah Kabupaten Bekasi terkait dengan banjir di wilayah pesisir Bekasi, terutama Kecamatan Muaragembong, yang semakin meluas. Sekretaris Jenderal eL-KAIL Sardi Adi Saputra mengatakan dasar gugatan adalah kerusakan lingkungan. “Pembalakan liar hutan mangrove menjadi salah satu penyebab banjir di Muaragembong,” kata Sardi, Kamis, 30 Januari 2014.

Sardi mengatakan banjir rob di wilayah itu semakin meluas seiring berkurangnya hutan mangrove. Ia mencatat, pada 1998, hutan mangrove di Kecamatan Muaragembong mencapai 1.500 hektare. Namun, akibat pembalakan oleh perusahaan minyak untuk pengeboran dan pertambakan, saat ini tinggal 100 hektare. “Pada 2012 lalu masih tersisa 400 hektare,” kata warga asal Muaragembong ini.

Di Kecamatan Muaragembong, sedikitnya ada tujuh kilang minyak yang sudah beroperasi. Lokasinya terletak di Desa Pantai Harapan Jaya, Desa Jayasakti, dan Desa Pantaimekar. Selain itu, perusahaan korporasi pertambakan juga dituding melakukan pembalakan liar.

“Tambak milik warga luar Bekasi, ada yang dari Jakarta. Warga sekitar hanya bekerja sebagai penjaganya,” ujar Sardi. Akibat pembalakan itu, banjir rob di wilayah setempat semakin meluas. Banjir rob mengikis hampir seluruh desa tersebut, di antaranya Desa Pantai Bahagia, Desa Pantai Bakti, Pantai Sederhana, dan Desa Pantai Mekar.

Selain mengikis desa, pembalakan mengakibatkan menyusutnya jumlah lutung Jawa. “Lutung Jawa tinggal 72 ekor. Ini terancam punah kalau sampai terjadi hutan gundul,” ia menambahkan. Sardi menuding pemerintah daerah tak dapat mengimplementasikan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup. “Pemerintah daerah tidak mempunyai peraturan sendiri mengatur lingkungan hidup,” kata dia.

Ia menambahkan, meski Kecamatan Muaragembong memiliki kekayaan alam, warganya jauh dari sejahtera. Menurut dia, rata-rata penghasilan mereka tak lebih dari Rp 15 ribu sebagai buruh tani, nelayan, serta penjaga tambak. “Ini sangat ironis. Apalagi kalau terkena banjir, warga tak bisa beraktivitas. Hanya mengandalkan bantuan dari luar,” ujarnya.

Selain karena kerusakan lingkungan, banjir di wilayah itu diakibatkan meluapnya Kali Citarum. Kali yang berhulu di Kabupaten Bandung itu bermuara di Desa Pantai Sederhana, Kecamatan Muaragembong. Setiap hujan lebat dipastikan kali tersebut meluap. Sejauh ini, menurut dia, tanggul yang dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane belum mampu menahan luapan air dari kali tersebut. “Kami akan gugat pembangunannya ke BBWS,” kata dia.

Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informasi Pemerintah Kabupaten Bekasi Beny Saputra mengatakan bakal mempelajari isi dari gugatan tersebut. Sejauh ini, kata dia, belum ada gugatan secara tertulis yang masuk ke pemerintah terkait dengan persoalan banjir. “Akan kami pelajari materi gugatannya,” ujar Beny

Cibubur Dan Jatibening Kembali Di Landa Banjir Karena Hujan

Hujan deras yang turun sejak semalam membuat Jalan Alternatif Cibubur banjir. Genangan yang cukup tinggi ini membuat lalu lintas di kawasan tersebut macet parah. “Macetnya sudah dari sekitar pukul 05.30 WIB, lalu lintas tidak bergerak sama sekali. Macet total,” kata Yofie salah seorang warga Cibubur, Selasa (28/1/2014) pukul 09.30 WIB.

Yofie mengatakan ada sekitar tiga titik banjir di kawasan itu. Lokasi pertama di dekat sekolah Alazar Syifa Budi, di dekat lampu merah Plaza Cibubur dan di sekitar perumahan Taman Kenari. “Cukup dalam banjirnya sehingga kendaraan sulit melintas,” katanya.

Yofie mengatakan, dirinya sempat mencoba berfikir untuk mengambil jalan lain melintasi JORR untuk bisa menuju kantornya di Kebon Jeruk. Namun rekannya mengatakan lalu lintas di kawasan itu juga macet parah. “Teman saya nelepon mengatakan kalau lalu lintasnya di sana juga macet parah,” katanya.

Selain Cibubur, banjir juga menggenangi kawasan Jatibening, Bekasi, Jawa Barat. Banjir yang cukup dalam menggenangi komplek Dosen IKIP di Jatibening. Banjir membuat jalur Jatibening-Pondok Gede terputus. “Kalau di dalam komplek kedalamannya 1,5 meter sedangkan di jalanan depan komplek sekitar 1 meter,” kata warga Komplek Dosen IKIP Arif Hidayat, Selasa (28/1/2014) pukul 11.15 WIB.

Arif mengatakan, genangan yang cukup tinggi ini membuat banyak kendaraan yang putar balik. Hanya mobil-mobil truk besar yang bisa menembus lokasi banjir ini. Banjir ini disebabkan meluapnya sungai Jatikramat yang ada di dekat komplek itu. “Ada sebuah mobil boks yang nekat melintasi akhirnya terjebak di tengah banjir,” katanya.

Arif mengatakan ada sekitar 400 kepela keluarga yang tinggal di komplek Dosen IKIP tergenang banjir. Sebagian warga masih ada yang bertahan di dalam rumah, namun ada juga yang nekat menerobos banjir. “Ada juga yang nekat keluar rumah untuk sekedar membeli sarapan, meskipun harus berjalan di tengah air yang mencapai leher orang dewasa,” katanya.

Anggaran Banjir Jakarta Tahun 2014 Sebesar 5 Triliun Rupiah

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menaikkan anggaran penanganan antisipasi banjir dua kali lipat dari tahun anggaran 2013 sebesar Rp 2,1 triliun. Pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah 2014, pos ini naik menjadi Rp 5,505 triliun.

“Fokus utama adalah pengerukan kali dan pembangunan waduk baru,” kata Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di Balai Kota pada Jumat, 24 Januari 2014. Proses pengerukan kali akan lebih mudah karena saat ini DKI sudah memiliki 26 unit ekskavator baru. Untuk waduk, DKI rencananya akan menambah 26 waduk baru dan memperluas waduk yang lama. Saat ini, di Jakarta sudah ada 76 buah waduk atau situ dengan luas total keseluruhan mencapai 502 hektar.

Anggaran untuk pembangunan waduk dan perluasan sekitar Rp 698 miliar. Beberapa waduk yang akan dibangun ada di kawasan Jakarta Selatan, seperti Pesanggrahan, Cilandak, dan Jagakarsa. Kemudian di Jakarta Timur ada di Ciracas, Pasar Rebo, dan Cimanggis.

Menurut Jokowi, pembangunan situ dan waduk ini memiliki kelebihan. Sebab, selain menampung limpahan banjir, situ dan waduk juga berperan sebagai konservasi air tanah. “Sehingga memang harus dimulai saat ini,” ujarnya.Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menuding reklamasi pantai dan alih fungsi lahan menjadi penyebab utama bencana banjir di Jakarta. Selama puluhan tahun, tata ruang dan kawasan di Jakarta dilanggar oleh pengusaha dan pemerintah. “30 tahun lalu kita tegas menolak reklamasi pantai untuk perumahan mewah,” kata Direktur Walhi Nasional, Abetnego Tarigan, Kamis 23 Januari 2014.

Pemerintah, menurut Abetnego, lebih membela investor dengan alasan investasi dan pertumbuhan ekonomi. Masalah pelanggaran tata ruang tersebut harus dilakukan dengan penegakan hukum. Seperti sejumlah industri yang berdiri di kawasan konservasi maupun kawasan lindung. Sehingga menjadi efek jera agar pengusaha mencari lahan pengganti.

“Banjir telah melumpuhkan ekonomi serta merugikan pegusaha,” katanya. Sementara bagi warga miskin yang tinggal di tepi danau atau sungai harus dilakukan relokasi. Tujuannya, untuk mengurangi penyebab banjir yang melanda Jakarta selama dua pekan terakhir.

Selama ini reklamasi pantai terjadi secara besar-besaran di Jakarta. Kawasan pesisir berubah menjadi hotel dan apartemen mewah. Seperti yang terjadi di Teluk Jakarta, katanya, tak hanya sebagai penyebab banjir juga menciptakan masalah sosial baru. Seperti para nelayan yang sebelumnya pekerjaan utama menangkap ikan di kawasan tersebut menjadi tersingkir.

“Nelayan pun menganggur,” katanya. Teluk Jakarta seluas 800 hektare tersebut telah merusakan ekologi dan ekosistem pesisir laut. Persoalan yang sama juga terjadi di Teluk Lamong di Gresik, Tanjung Benoa di Bali dan Teluk Kendari. Banjir akibat reklamasi pantai tersebut dikhawatirkan bakal terulang di kawasan tersebut.

Menurutnya, banjir di Jakarta tak hanya menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah daerah penyangga dan pemerintah pusat juga harus turun tangan. Sebab, sejumlah kebijakan tak bisa ditangani sendiri oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. “”Sungai utama itu menjadi tanggungjawab Kementerian Pekerjaan Umum,” katanya.

Selain itu, juga perlu koordinasi lintas daerah dengan daerah penyangga seperti Depok, Bogor, Karawang dan Tangerang. Pemerintah lintas daerah, katanya, harus melakukan tindakan nyata dan terukur untuk melakukan normalisasi kawasan. Seperti mengembalikan lahan terbuka hijau, hutan lindung dan lahan persawahan.

Sementara rekayasa modifikasi cuaca dengan hujan buatan dianggap tak efektif. Selain berbiaya mahal, juga tak tepat sasaran. Karena teknologi tersebut hanya memindahkan lokasi hujan. Justru dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru bagi daerah lain.

31 Januari Banjir Rob Diperkirakan Melanda Jakarta

Banjir belum berakhir. Bah yang melanda Jakarta akibat air dan cuaca alias hidrometeorologi diperkirakan masih tinggi hingga beberapa minggu ke depan. Firdaus Ali, Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute mengingatkan adanya potensi bencana banjir yang lebih besar 31 Januari mendatang. Pada saat itu menurut dia akan terjadi air pasang puncak di Teluk Jakarta. Jika pada saat bersamaan juga terjadi hujan dengan curah tinggi dalam waktu lama, maka banjir yang lebih besar bisa melanda kawasan utara Jakarta.

“Kondisi tanah telah jenuh air sehingga membuat air limpasan dari 13 DAS yang melewati Ibu Kota tidak bisa dengan cepat dialirkan ke laut,” kata dia, Selasa (21/1). Di Jakarta menurut dia banjir bisa berupa genangan yang biasanya langsung surut dalam beberapa jam, lalu banjir akibat limpasan ketika air melebihi kapasitas daya angkut saluran, dan terakhir banjir rob khususnya di daerah utara.

Persoalan banjir akibat limpasan dari 13 aliran sungai memang sudah bertahun-tahun dihadapi Ibu Kota. Salah satu sungai yang sulit diatasi ketika musim hujan adalah Ciliwung. Sungai ini membelah Jakarta dari Selatan hingga ke Penjaringan di bagian Utara. Sungai penting di Jawa ini tak lepas dari isu perusakan seperti masalah resapan air di hulu, penyempitan trase hingga pendangkalan sungainya. Akibatnya banjir tak bisa dielakkan.Setiap kali musim hujan, airnya pasti melimpas, menggenani wilayah yang dilaluinya.

Pemerintah provinsi pun kewalahan menanggulanginya. Beragam wacana dicanangkan, mulai dari pembangunan dan revitalisasi kali, waduk, empang, situ, hingga manipulasi aliaran sungai dengan cara membangun kanal atau menyodetnya. Salah satu yang kembali digaungkan pemerintah adalah sodetan Ciliwung – Cisadane.

Sayangnya, sodetan yang sudah digagas sejak tahun 1997 ini, menurut Firdaus Ali, sulit direaliasikan. Itu sebabnya, ia lebih memilih mengajukan konsep terowongan multiguna alias Multi Purposes Deep Tunnel. Terowongan ini, kata dia, sebagai solusi karena tidak perlu pembebasan lahan, yang selama ini jadi penghambat pembangunan aneka instrastuktur di tanah air.

“Saya sudah berulang kali bilang, kalau bisa milih, bikin waduk, situ, sungai, kanal, saya pasti pilih bikin waduk dan kanal. Tapi kan persoalannya bikin waduk enggak mungkin. Berdarah-darah.Sodetan (Ciliwung – Cisadane) saja enggak mau Tangerang,” ujar Firdaus.

Kawasan Kemayoran, Senen dan Gunung Sahari Masih Terendam Banjir

Meski sebagian genangan air di jalanan di Jakarta mulai surut, tetapi di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, genangan air masih cukup tinggi. Di Jalan Gunung Sahari yang mengarah ke Senen ketinggian air masih 50 cm. Pantauan detikcom sekitar pukul 06.00 WIB, jalanan di Gunung Sahari yang mengarah ke Senen hanya bisa dilalui kendaraan lewat jalur TransJakarta. Akibat ada genangan itu lalu-lintas terpantau macet.

Untuk arah sebaliknya, genangan air tetap ada di jalanan. Tetapi tinggi genangan air itu hanya 10 centimeter. Sehingga pengendara motor dan mobil tetap bisa melintas dengan kecepatan yang minim. Sementara di Perempatan Jalan Angkasa, genangan air sudah mulai surut. Ketinggian genangan hanya sekitar 20 centimeter. Lalu-lintas terpantau belum padat karena masih pagi. Menurut Supriyadi, petugas kebersihan di lokasi, genangan air itu disebabkan karena tadi malam hujan deras mengguyur kawasan Kemayoran.

Genangan air setinggi 50 cm masih mewarnai Jalan Bungur Raya, Senen, Jakarta Pusat. Lalu lintas dari arah Senen menuju Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang melalui Jalan H Samanhudi, terputus. Genangan ini terlihat setelah perempatan menuju Jalan Garuda hingga traffic light Jalan H Samanhudi. 1 Unit mobil milik Sudin Perhubungan Jakarta Pusat terparkir melintang di perempatan jalan itu. “Nggak bisa lewat. Banjirnya tinggi,” ujar petugas Dishub di perempatan tersebut, Kamis (23/1/2014).

Puluhan kendaraan baik roda 2 maupun roda 4 memilih untuk berputar balik. Beberapa kendaraan roda 2 yang nekat menerobos terpaksa harus mendorong motornya di tengah banjir. Jalan-jalan kecil di sekitar Jalan Bungur Raya juga masih tampak tergenang. Genangan setinggi 30 cm masih terlihat di Jalan Bangau dan gang-gang kecil di Jalan Gunung Sahari. Imbasnya, Jalan Garuda padat merayap. Kendaraan dari arah Senen menuju Kemayoran memilih berbelok melalui Jalan Garuda. Sementara itu cuaca di sekitar lokasi gerimis.

Hujan yang terus mengguyur kawasan Ibu Kota dan sekitarnya, menimbulkan genangan air dan banjir. Di Sawah Besar, Jakarta Pusat, sedikitnya ada 18 titik ruas jalan yang tergenangi air, dengan ketinggian bervariasi hingga 50 Cm. Kapolsek Sawah Besar Kompol Shinto Silitonga menginformasikan genangan air di wilayah Sawah Besar yang terpantau hingga pukul 08.00 WIB, Kamis (23/1/2014). “Sebagian masih bisa dilintasi, sebagian lagi tidak dapat dilalui kendaraan karena ketinggian air cukup tinggi,” kata Shinto melalui siaran persnya.

Berikut titik-titiknya:

1. Jl Kelinci Raya ketinggian air 40 cm
2. Jl Kelinci 1-2-3-4 setinggi 40-50 cm
3. Jl Gereja Ayam ketinggian air 40 cm
4. Jl Pasar Baru Selatan 20 cm
5. Traffic Light MBAL 20 cm (dapat dilalui)
6. Jl Krekot Bunder Raya 30-40 cm
7. Jl Lautze 20 cm
8. Jl Industri I (perbatasan wilayah Pademangan) 60-70 cm
9. Jl Industri Raya (belakang Hotel Media) 50 cm
10. Jl Pangeran Jayakarta 10-20 cm
11. Jl Mangga Dua Raya 10-20 cm
12. Jl Mangga Besar Raya 10 cm
13. Jl Gunung Sahari Raya depan SPBU 50 cm, dapat dilalui pada jalur busway
14. Jl Gunung Sahari VII A-B-C 50 cm
15. Jl Kartini Raya 15-20 cm
16. Jl Kartini 1, 4 Dalam, 10 dan 10 A ketinggian 50 cm
17. TL Pintu Besi 15cm (dapat dilalui jalur busway)
18. TL Pintu Air 20-30 cm (dapat dilalui jalur busway)

Puluhan motor mogok alias tak bisa jalan karena nekat dipaksa pemiliknya menembus banjir di kawasan Kemayoran, Jakpus. Ketinggian air di kawasan itu sejatinya memang belum bisa dilalui pemotor. Namun menurut pembaca detikcom, Danang Prihatoro dalam surat elektroniknya, Kamis (23/1/2014) banyak pemotor yang nekat. Alhasil para pemotor ini mesti gigit jari dengan kondisi motor mereka yang mogok.

Kawasan Kemayoran ini mengalami banjir sejak Rabu (21/1). Air kali di sekitar Jl Industri Kemayoran meluap ke jalan. Akibatnya lalu lintas terputus. Banjir ini cukup merepotkan para pengguna jalan. Bagi beberapa mobil mungkin bisa menerobos, tetapi bagi yang lainnya tidak. Nah, bagi pemotor semestinya tidak nekat menembus banjir, tapi tetap saja ada yang mencoba mengadu peruntungan walau hasilnya ada yang sukses dan ada juga yang mogok.

Genangan air masih terjadi di berbagai ruas jalan di Jakarta. Genangan ini membuat lalu lintas mengalami kemacetan yang cukup panjang. Para pengendara yang melintas di lokasi genangan kebanyakan memilih jalur sebelah kanan. Hal ini disebabkan jalur ini lebih tinggi sehingga kendaraan mereka tidak terkena genangan banjir. TMC Polda Metro Jaya, Kamis (23/1/2014), menyatakan banyak pengendara yang tetap menerobos perlintasan yang digenangi air. Berikut ini adalah ruas-ruas jalan yang tergenang air:

1. Jl Industi, Kemayoran, sedalam 30 cm
2. Jl Gunung Sahari di depan Samsat Jakarta Utara setinggi 25 cm
3. Kawasan Mangga Dua, Jakarta Utara sedalam 20 cm
4. Pademangan, Jakarta Utara sedalam 25 cm
5. Jl Ring Road Kembangan sedalam 30 cm
6. Perempatan Holel Golden Boutique di Jl Gunung Sahari sedalam 20 cm

Sementara itu lokasi banjir di Jl Abdullah Syafei dan di flyover Rawajati mulai surut. Pengendara sudah bisa melintas di Jl Abdullah Syafei, namun harus mengambil jalur paling kanan karena di lokasi sebelah kiri jalan masih ada genangan.

Daftar 105 Kelurahan Di Jakarta Yang Masih Terendam Banjir

Sebanyak 99 kelurahan di Jakarta masih terendam banjir dengan ketinggian air mulai dari 10 cm hingga 500 cm. Genangan air masih terdapat di 1.643 RT di 466 RW dan 35.759 keluarga dengan 119.397 jiwa terkena dampak banjir.

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Informatika dan Pengendalian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Bambang Surya Putra di Jakarta, Rabu (22/1/2014). ”Semua data rekapitulasi banjir ini sampai pukul 06.00,” kata Bambang.

Khusus di Jakarta Timur, sebanyak 32 kelurahan di 9 kecamatan masih terdapat lokasi banjir akibat luapan Sungai Ciliwung. Sebanyak 67.640 jiwa terkena dampak, 19.243 jiwa di antaranya mengungsi. Sebanyak 7 orang meninggal.

Sembilan kecamatan tersebut adalah Jatinegara (di Kelurahan Kampung Melayu, Bidara Cina, Cipinang Besar Selatan, Cipinang Muara), Kramatjati (Cililitan, Cawang, Balekambang, Kramatjati, Dukuh), Cipayung (Lubang Buaya, Setu, Cilangkap, Bambu Apus, Pondok Rangon), Pasar Rebo (Gedong, Pekayon, Kali Sari, Baru), Makasar (Makasar, Cipinang Melayu, Halim Perdanakusuma, Kebon Pala, Pinang Ranti), Duren Sawit (Pondok Kelapa), Cakung (Cakung Barat, Penggilingan, Pulogebang, Rawa Terate, Cakung Timur, Jatinegara), Pulogadung (Pulogadung), dan Matraman (Kebon Manggis).

“Sebanyak 103 lokasi pengungsian tersebar di Jakarta Timur,” kata Bambang.

Di Jakarta Selatan, banjir terdapat di 16 kelurahan di 8 kecamatan. Sebanyak 15.846 jiwa terkena dampak banjir. Satu orang meninggal, yakni Wijayanto (40), warga Petukangan, akibat terseret arus di Kali Pesanggrahan.

Kecamatan yang masih terendam banjir adalah Pancoran (Rawajati, Pengadegan, dan Cikoko), Tebet (Manggarai, Bukit Duri, Kebon Baru), Pesanggrahan (Ulujami), Mampang Prapatan (Bangka), Jagakarsa (Tanjung Barat, Jagakarsa, Srengseng Sawah, Lenteng Agung), Kebayoran Lama (Kebayoran Lama Utara dan Cipulir), Kebayoran Baru (Petogogan), dan Pasar Minggu (Pejaten Timur).

Selanjutnya, di wilayah Jakarta Pusat, 9 kelurahan di 2 kecamatan masih terdapat lokasi banjir. Sebanyak 10.392 jiwa terkena dampak. Dua kecamatan yang terdapat banjir adalah Tanah Abang (Karet Tengsin dan Petamburan) dan Kemayoran (Serdang, Sumur Batu, Utan Panjang, Harapan Mulya, Kebon Kosong, Cempaka Baru, Gunung Sahari Selatan).

Di Jakarta Barat, banjir setinggi 10-150 cm masih terdapat di 24 kelurahan di 8 kecamatan. Sebanyak 24.790 jiwa terkena dampak dan 31.364 jiwa mengungsi ke posko pengungsian ataupun tempat yang lebih aman. Satu anak bernama Fatimah (5), warga Kelurahan Duri Kosambi, meninggal akibat terperosok di saluran air.

Delapan kecamatan yang masih terdapat genangan air adalah Cengkareng (Rawa Buaya, Kapuk, Kedaung Kali Angke, Duri Kosambi, dan Cengkareng Barat), Grogol Petamburan (Jelambar, Grogol, Tomang, Tanjung Duren Utara, Tanjung Duren Selatan, Jelambar Baru, Wijaya Kusuma), Kecamatan Tambora (Tambora, Pekojan), Kembangan (Kembangan Utara, Kembangan Selatan), Kecamatan Tamansari (Pinangsia), Palmerah (Kota Bambu Selatan), Kebon Jeruk (Kedoya Selatan, Kedoya Utara, Duri Kepa), dan Kalideres (Tegal Alur, Semanan, Kamal).

Adapun di Jakarta Utara, banjir setinggi 20-100 cm masih terdapat di 24 kelurahan di 6 kecamatan. Sebanyak 729 jiwa terkena dampak banjir. Wilayah yang masih banjir adalah Kecamatan Penjaringan (Kapuk Muara, Penjagalan, Penjaringan, Kamal Muara, Pluit) dan Kecamatan Pademangan (Pademangan Barat dan Ancol).

Selain itu, Kecamatan Kelapa Gading (Pengangsaan Dua, Kelapa Gading Timur, Kelapa Gading Barat), Kecamatan Tanjung Priok (Tanjung Priok, Kebon Bawang, Warakas, Sunter Jaya, Sunter Agung, Papanggo), Kecamatan Koja (Rawa Badak Selatan, Rawa Badak Utara, Tugu Selatan, Tugu Utara), dan Kecamatan Cilincing (Sikupura, Semper Barat, Marunda, Semper Timur).

Sebanyak tiga orang meninggal akibat banjir di Jakarta Utara. Mereka adalah Supoyo (44), warga Kelurahan Kebon Bawang, dan Rahmat (60), warga Pademangan Barat, akibat tersetrum listrik di rumahnya. Korban tewas lain adalah warga tanpa nama berusia 25 tahun. Ia meninggal akibat tersetrum listrik di kawasan Kelapa Gading.

Daftar Wilayah Jakarta yang Terkena Pemadaman Listrik Pasca Banjir

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan wilayah yang masih terkena dampak pemutusan aliran listrik, yaitu Kramat Jati, Jatinegara, Marunda, Menteng, Pondok Kopi, Bandengan, Lenteng Agung, Kebon Jeruk, Bintaro, Cengkareng, Cikokol dan Cikupa. Deputi Manajer Komunikasi dan Bina Lingkungan PLN Distribusi Jakarta Raya dan Tangerang, Roxy Swagerino, melalui keterangan tertulis, Rabu, 22 Januari 2014 mengatakan jumlah gardu distribusi di wilayah Jakarta dan Tangerang meningkat dari 253 menjadi 304 gardu pada pagi ini.

Ia mengimbau agar masyarakat waspada akan bahaya aliran listrik. Langkah pertama yang harus dilakukan terhadap rumah yang tergenang air adalah menurunkan mini circuit breaker (MCB). Selanjutnya, seluruh peralatan elektronik dan tusuk kontak yang masih menancap pada kotak harus dicabut.

Roxy menjelaskan, petugas PLN harus memutus setrum demi keamanan masyarakat. Aliran listrik akan dinormalkan kembali jika seluruh wilayah yang dilayani gardu-gardu listrik tersebut telah kering. PLN membutuhkan waktu untuk mengecek dan memastikan instalasi maupun alat elektronik dalam keadaan kering.

“Jadi, setelah banjir surut, butuh waktu dan proses untuk penormalan gardu distribusi,” ujar Roxy. Tidak tertutup kemungkinan dilakukan pemadaman kembali terhadap gardu distribusi yang sudah normal apabila terjadi banjir susulan.

Kampung Pulo Terendam Banjir Hingga 6 Meter

Banjir di pemukiman warga bantaran Kali Ciliwung, tepatnya di Kampung Pulo, Kampung Melayu, Jatinegara, Jakarta Timur, kembali tinggi. Saat ini, ketinggian air mencapai 6 meter. Lurah Kampung Melayu, Bambang Pangestu, mengatakan banjir yang merendam wilayahnya semakin meluas, dengan ketinggian enam meter. “Sebelumnya 16 ribu jiwa yang terdampak, sekarang bertambah menjadi 18.973 jiwa yang terdampak banjir,” kata Bambang, Rabu, 22 Januari 2013.

Namun, dari 18.973 jiwa yang menjadi korban banjir, hanya sekitar 7.584 jiwa yang mengungsi di beberapa posko pengungsian. “Baru 7 ribuan warga yang mengungsi di Kantor Suku Dinas Kesehatan, RS Hermina, PGJ (Pusat Grosir Cililitan),” ujarnya. Sementara itu, Ketua RT 04 RW 03 Kampung Pulo, Usep Tahrudin mengatakan air terus naik dari sebelumnya tiga meter menjadi enam meter pada dinihari. “Malam masih tiga meter, tapi terus naik sampai hampir tenggelam rumah yang di pinggir Kali,” ujarnya.

Menurut Usep, warga yang sebelumnya bertahan di lantai dua, kini telah mengungsi. “Beberapa warga yang sempat bertahan mulai mengungsi, karena khawatir air terus naik,” kata Usep. Sejak semalam, ketinggian air di Kampung Pulo menunjukkan peningkatan. Titik terdalam di dalam pemukiman warga saat ini mencapai 6 meter.

Camat Jatinegara, Syofian, mengatakan, ketinggian air di Kampung Pulo meningkat sejak pukul 00.00 tadi malam. “Air kiriman dari Bogor tiba semalam,” kata dia kepada Tempo pada Rabu 22 Januari 2014. Air sudah meluap dan kembali menggenangi pemukiman warga. Selain itu, Jalan Jatinegara Barat pun mengalami kenaikan dibandingkan kemarin. “Di jalan raya sudah 130 sentimeter,” kata dia. Menurut catatannya, air kali ini mencapai ketinggian air paling tinggi. “Pada minggu ini, hari ini paling tinggi,” kata dia.

Sementara itu, jumlah pengungsi di Kecamatan Jatinegara sudah mencapai sekitar 20.000 orang. Di mana menurut catatan kecamatan, di Posko Pengungsian Sub Dinas Kesehatan Jakarta Timur berjumlah sekitar 1.100 orang dan gereja sekitar 1.050 orang. “Itu tidak termasuk posko yang didirikan LSM dan instansi lain,” kata dia.

Salah seorang warga, Abdullah (52) mengatakan, meski air masih tinggi, saat ini ketinggian air sudah agak turun dibandingkan dini hari tadi. “Lumayan agak surut 10 sentimeter,” kata dia. Dia berharap, kawasan Puncak Bogor tidak diguyur hujan lebat hari ini agar daerahnya bisa segera surut.

Daftar Tanggul Yang Jebol Di Jakarta

Sungai Ciliwung meluap. Akibatnya beberapa tanggul di sejumlah wilayah jebol. Tanggul terbaru yang rontok diterjang luapan Ciliwung adalah tanggul di Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Tanggul ini jebol Selasa, 21 Januari sekitar pukul 22.30. Akibatnya air menggenangi hingga setinggi 2 meter.

Berikut tanggul-tanggul jebol yang mesti diwaspadai warga DKI Jakarta.

Tanggul Kebon Baru, Tebet
Tanggul ini terletak di RT 10/09 Jalan H. Bawah Kelurahan Kebon Baru, Tebet, Jakarta Selatan. Letaknya tak jauh dari stasiun Tebet, Cawang. Lebar tanggul yang jebol itu mencapai 15 meter. Warga dibantu TNI dan polisi langsung memperbaiki tanggul ini. Tapi luapan air yang deras tak bisa dibendung. Air langsung masuk membanjiri permukiman warga hingga mencapai sekitar 2 meter. Ada sekitar 6 RW yang tergenang. Proses evakuasi masih terus berlangsung hingga kini. Lantaran arusnya deras, proses evakuasi tak bisa menggunakan perahu karet biasa. Polisi dan TNI harus menggunakan perahu karet yang bermesin.

Tanggul Kali Sekretaris, Petamburan
Tanggul kali ini berada di pinggir Jalan Sasak Masir, Tanjung Duren Utara, Grogol Petamburan. Tanggul ini jebol pada Minggu, 19 Januari, pukul 04.00. “Debit air yang besar mengakibatkan tanggul tak mampu menahan,” ujar Camat Grogol Petamburan Denny Ramdany. Upaya yang pertama dilakukan adalah menambal tanggul dengan karung pasir. Sudin PU Tata Air kemudian mengganjalnya dengan pelat besi. Kini, tanggul yang jebol sekitar 30 sentimeter itu sudah ditutup. Tapi luapan air dari Kali Sekretaris sudah terlanjur tumpah ke Kali Gendong yang berada di sampingnya. Akibatnya kawasan Tanjung Duren sempat terendam antara 50 sentimeter hingga 1 meter.

Tanggul Kali Pesanggrahan, Kedoya
Tanggul ini terletak di RT 05 dan RT 03, RW 05, Kelurahan Kedoya Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Jebol pada Minggu, 19 Januari, limpahan air membuat warga di 14 wilayah rukun tetangga di RW 05 itu mengungsi. Lebih dari 5.000 pengungsi itu disebar di banyak posko pengungsian. “Air sempat mencapai ketinggian 2 meter,” ujar ketua RW 05, Sumardi Ramlan. Sejak tanggul tersebut jebol, air yang membanjiri pemukiman semakin deras. “Kami belum sempat memperbaiki karena tidak punya material,” kata dia saat itu. Kini pemerintah Kota Jakarta Barat tengah memperbaiki tanggul tersebut.

Tanggul Cibitung, Bekasi
Baru dibangun satu tahun, tanggul Cibitung di Kabupaten Bekasi jebol, Sabtu, 18 Januari lalu.
Tanggul itu terkikis oleh kencangnya debit air hingga air meluber ke perumahan milik warga yang berada di bantaran sungai. “Kami minta agar tanggul itu diperbaiki, karena baru setahun sudah jebol,” kata Ajra, warga Komplek Mustika Wanasari. Akibat jebolnya tanggul itu banjir memenuhi seluruh komplek perumahan di Cibitung, Bekasi, Jabar, seperti Mustika Wanasari, Kartika Wanasari, Graha Permata, Villa Wanasari, dan Regency serta kawasan industri Gobel. Ketinggiannya bervariasi antara 60 sentimeter sampai 2,5 meter hingga memaksa warga harus mengungsi ke pelataran ruko atau menginap di rumah saudara yang aman dari banjir.