Category Archives: Jaminan Kesehatan

Hindari Melakukan 6 Hal Ini Saat Di Gym dan Fitness


Bagi mereka yang tak suka olahraga sendirian, gym menjadi pilihan yang menyenangkan untuk bererolahraga. Selain bermanfaat untuk kesehatan tubuh, kesempatan untuk bertemu teman baru juga terbuka. Tapi, apakah kita tahu kalau ada beberapa hal yang bisa mengganggu aktivitas kita dan orang lain di gym? Berikut ini adalah enam hal yang sebaiknya tidak dilakukan ketika berada di gym.

1. Memakan makanan yang menyebabkan bau tak sedap.
Ketika kita akan pergi ke gym untuk berolahraga, cobalah hindari mengonsumsi makanan yang menyebabkan bau badan. Pertama, ini akan membuat kita merasa tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap. Kedua, itu juga akan mengganggu orang lain karena bau yang kita sebabkan. Perlu diketahui, tidak ada orang yang menyukai pria dengan napas dan keringat yang berbau bawang.

2. Mengikuti bentuk latihan orang lain.
Menyalin jenis atau bentuk latihan orang lain bukanlah hal yang baik. Kita juga harus tahu, bahwa tidak semua tipe dan bentuk latihan orang lain memiliki manfaat yang sama baiknya untuk tubuh kita. Kreatiflah sedikit guys

3. Menjatuhkan alat di gym.
Kita mungkin akan mengangkat banyak beban. Tapi apa jadinya bila dumbbells yang kita gunakan jatuh berantakan? Tentu selain bisa merusak dumbbells, itu juga akan membahayakan kita dan orang lain. Karena itu, sangat penting untuk berhati-hati ketika menggunakan alat-alat seperti ini dan orang yang sering menjtuhkan atau membanting alat saat latihan biasanya karena mereka mengambil porsi latihan lebih besar dari yang mereka mampu alias Nafsu besar tapi tenaga kurang.

4. Memonopoli peralatan gym.
Bila kita melakukan hal tersebut, bersiaplah menjadi ‘public enemy’. Setiap orang memiliki jadwalnya masing-masing. Jadi, jangan ganggu jadwal orang lain dengan memonopoli semua peralatan.

5. Mendesah dengan berlebihan.
Sedikit desahan saja mungkin normal terutama bagi wanita karena akan terdengar seksi . Tapi, jika desahan yang kita keluarkan sangat keras, kita justru akan menjadi bahan tertawaan orang lain terutama bila anda adalah pria karena akan terlihat bahwa Anda memaksakan diri mengangkat beban melebih kemampuan demi gengsi atau demi terlihat lebih macho.

6. Menggunakan smith machine untuk melakukan squats.
Menggunakan alat ini memang membuat kita lebih mudah melakukan squats. Namun dengan bantuan alat ini, kita tidak akan pernah belajar untuk melakukan posisi squats yang tepat.

Dugaan Malpraktek di RS Siloam, 4 Dokter Menolak Bayar Uang Damai Rp 500 M


Rumah Sakit Siloam Karawaci memberikan alasan mengapa menolak draf perdamaian di luar pengadilan yang diajukan keluarga Dasril Ramadhan, pasien yang diduga menjadi korban malpraktek rumah sakit itu. Perwakilan dokter RS Siloam yang merawat Dasril, Mangantar Marpaung, menyatakan menolak pencabutan perkara yang bergulir di Pengadilan Negeri Tangerang sebagai syarat perdamaian. Alasannya, para dokter tidak bersedia membayar ganti rugi yang jumlahnya miliaran rupiah.

“Karena para dokter merasa telah melakukan upaya terbaik dalam menangani pasien. Sejak awal menolak permintaan ganti rugi,” kata Mangantar dalam keterangan tertulis yang diterima, Selasa, 14 April 2015.Menurut Mangantar, permintaan ganti rugi yang disampaikan ayah Dasril Ramadhan, Achmad Haris, sangat fantastis: Rp 500 miliar. Dari angka ini turun ke Rp 100 miliar, kemudian Rp 20 miliar, turun lagi Rp 10 miliar. “Terakhir dalam draf perdamaian Rp 5 miliar.”

Angka Rp 5 miliar, kata Mangantar, sebagai opsi pertama, dan Rp 3,5 miliar ditambah menanggung seluruh sisa biaya pengobatan sebagai opsi kedua. “Para dokter memilih perkara dilanjutkan dan menginginkan proses peradilan sebagai upaya mencari perlindungan hukum,” ujarnya.Rumah Sakit Siloam, kata Mangantar, selama ini proaktif dalam menjalin komunikasi dengan keluarga pasien. “Sejak mengetahui adanya ketidakpuasan dari keluarga pasien, kami berinisiatif mengadakan pertemuan dengan pihak keluarga untuk menyelesaikan ketidakpuasan tersebut.”

Achmad Haris, ayah Dasril Ramadhan, menggugat Rumah Sakit Siloam sebesar Rp 500 miliar ke Pengadilan Negeri Tangerang karena kecewa dengan layanan rumah sakit itu. Perkara ini sudah memasuki persidangan selama sepuluh bulan. Upaya Haris menempuh jalur damai gagal. Buntutnya, pada Jumat pekan lalu, Haris melaporkan empat dokter RS Siloam ke Polda Metro Jaya. Para dokter dituduh lalai sehingga mengakibatkan pasien terluka atau cacat.

Obat Kable Farma Salah Label … 2 Orang Tewas Mengenaskan Di RS Siloam Karawaci


Dua pasien di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, meninggal dunia setelah pemberian obat anastesi Buvanest Spinal. Obat produksi PT Kalbe Farma ini diduga bukan berisi bupivacaine atau untuk pembiusan, melainkan asam traneksamat yang bekerja untuk mengurangi pendarahan.

“Ini kebetulan saja etiketnya atau bungkusannya itu yang tertukar. Jadi, sangat menyedihkan ini terjadi,” ujar Kepala Hubungan Masyarakat RS Siloam Heppi Nurfianto, saat dihubungi, Selasa (17/2/2015). Heppi menjelaskan, kasus ini terjadi terhadap pasien yang melakukan operasi caesar dan urologi. Kedua pasien meninggal dalam waktu berdekatan pada tanggal 12 Februari 2015. Sementara itu, pasien lainnya tidak mengalami masalah.

“Pasien kontradiksi, gatal-gatal, sampai kejang, kemudian meninggal. Pasien obgyn, bayinya selamat,” kata Heppi.
Menurut Heppi, RS Siloam akan memberikan keterangan lebih lanjut dalam waktu dekat bersama pihak Kementerian Kesehatan, Kalbe, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu, pihak Kalbe juga telah melakukan penarikan semua produk Buvanest dari pasaran. Investigasi lebih lanjut tengah dilakukan bersama BPOM. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani mengaku sudah memperingatkan PT Kalbe Farma Tbk. soal peredaran obat anstesi dengan merek dagang Buvanest Spinal yang ditarik dari peredaran.

Koordinasi sudah dilakukan dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menindaklanjuti peredaran tersebut. “Adapun untuk Kalbe, sudah kami peringatkan,” kata Puan di kompleks gedung parlemen, Rabu, 18 Februari 2015. Peringatan tersebut, menurut Puan, untuk perbaikan sistem riset, evaluasi, hingga peredarannya agar tidak terjadi kejadian serupa.

Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan memerintahkan penghentian proses produksi dan membekukan izin edar produk anestesi milik PT Kalbe Farma Tbk. untuk mempermudah investigasi produk. Pada 12 Februari 2015, Kalbe Farma telah dengan sukarela menarik seluruh batch Buvanest Spinal 0,5% Heavy 4 ml dan Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml batch no.629668 dan 630025 yang beredar.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Roy A. Sparringa mengatakan pengaduan masyarakat telah direspons dengan baik oleh Kalbe Farma, lewat penarikan dua produk anestesi tersebut. “Hasil investigasi belum ada. Kami terus memonitornya dan yang penting masyarakat tidak perlu khawatir. Karena produk ini, diberikan oleh dokter spesialis dan informasi tentang penghentian penggunaan sementara sudah diinformasikan,” kata Roy

Prosedur Pendaftaran dan Cara Klaim Program BPJS Kesehatan


Dalam implementasi jaminan sosial kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan terdapat prinsip protabilitas. Hal ini sesuai dengan amanat konstitusi yang tertuang dalam UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Untuk memenuhi amanat tersebut, BPJS Kesehatan menerapkan prosedur pendaftaran, yang penting untuk diketahui calon peserta BPJS Kesehatan, sbb :

1. Peserta wajib memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang tercantum pada Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) atau Kartu Keluarga.

2. Atau peserta dapat juga menggunakan KTP non elektronik yang masih berlaku, sepanjang NIK pada KTP tersebut sama dengan NIK Kartu Keluarga dan dapat ditemukan pada data Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil).

3. Peserta dapat mendaftar di Kantor Cabang BPJS Kesehatan dimana saja, walaupun KTP peserta yang bersangkutan tidak sesuai dengan wilayah kerja Kantor Cabang BPJS Kesehatan setempat.

4. Peserta dapat memilih Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sesuai dengan alamat domisili terakhir (tidak harus sama dengan alamat pada KTP Peserta).

Hal tersebut merupakan wujud komitmen BPJS Kesehatan untuk meningkatkan percepatan dan kenyamanan dalam proses pendaftaran peserta. Selain itu hal ini merupakan esensi dari prinsip portabilitas yaitu memberikan jaminan yang berkelanjutan meskipun peserta berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sehingga setiap peserta bisa mendapat pelayanan kesehatan di seluruh wilayah di Indonesia.

Selanjutnya perlu diinformasikan Petunjuk Teknis Pendaftaran dan Penjaminan Peserta Perorangan BPJS Kesehatan. Sesuai Peraturan Direksi BPJS Kesehatan, masa berlaku kartu 7 hari, hanya diberlakukan untuk peserta perorangan dengan hak manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas I dan II. Dengan kata lain, bahwa ketentuan masa berlaku kartu 7 hari TIDAK BERLAKU, untuk:

1.Bayi baru lahir yang merupakan anak dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau bayi baru lahir yang merupakan anak dari Peserta penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah, yang menjadi Peserta Perorangan dengan hak manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III;

2.Peserta dan bayi baru lahir dari Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ditetapkan oleh Kementrian Sosial dan telah didaftarkan sebagai Peserta BPJS Kesehatan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III; atau

3.Peserta dan bayi baru lahir dari Peserta Perorangan yang tidak mampu dan mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan dengan hak manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III serta menunjukkan surat rekomendasi dari Dinas Sosial setempat.

Dalam Peraturan Direksi BPJS Kesehatan tersebut, disebutkan juga bahwa bayi baru lahir yang didaftarkan menjadi Peserta BPJS Kesehatan, tidak wajib memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK), namun tetap wajib mencantumkan Nomor Kartu Keluarga orang tuanya.

Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi Pusat Layanan Informasi BPJS Kesehatan di 021-500400 (hotline 24 jam)

Masa Berlaku Kartu BPJS Hanya 7 Hari


Dalam rangka mengoptimalkan pelaksanaan program jaminan kesehatan yang dikelola oleh BPJS Kesehatan khususnya Tentang Tata Cara Pendaftaran Peserta Perorangan (Mandiri), BPJS Kesehatan mengeluarkan Peraturan BPJS Kesehatan No. 4 Tahun 2014 yang didukung oleh Peraturan Direksi BPJS Kesehatan Nomor 211 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pendaftaran dan Penjaminan Peserta Perorangan BPJS Kesehatan.

Berdasarkan Peraturan Direksi BPJS Kesehatan tersebut, masa berlaku kartu 7 hari hanya diberlakukan untuk peserta perorangan dengan hak manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas I dan II.

Dengan kata lain, bahwa ketentuan masa berlaku kartu 7 hari TIDAK BERLAKU untuk :
Bayi baru lahir yang merupakan anak dari peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) atau bayi baru lahir yang merupakan anak dari Peserta penduduk yang didaftarkan oleh Pemerintah Daerah, yang menjadi Peserta Perorangan dengan hak manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III;
Peserta dan bayi baru lahir dari Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ditetapkan oleh Kementrian Sosial dan telah didaftarkan sebagai Peserta BPJS Kesehatan dengan manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III; atau
Peserta dan bayi baru lahir dari Peserta Perorangan yang tidak mampu dan mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan dengan hak manfaat pelayanan di ruang perawatan Kelas III serta menunjukkan surat rekomendasi dari Dinas Sosial setempat.

Dalam Peraturan Direksi BPJS Kesehatan tersebut, disebutkan juga bahwa bayi baru lahir yang didaftarkan menjadi Peserta BPJS Kesehatan, tidak wajib memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK), namun tetap wajib mencantumkan Nomor Kartu Keluarga orang tuanya.

Melalui kebijakan tersebut, pada intinya BPJS Kesehatan menginginkan agar program yang diselenggarakannya berkelanjutan. BPJS Kesehatan selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian. Berbagai dinamika dan tantangan yang dihadapi oleh BPJS Kesehatan saat ini perlu mendapatkan dukungan berbagai pihak seperti masyarakat, peserta, pemerintah, fasilitas kesehatan, dokter dan tenaga medis dsb.

Sementara itu pemahaman masyarakat terhadap prinsip gotong royong dalam program jaminan sosial khususnya jaminan kesehatan ini perlu diedukasi dengan baik. Itu dapat dilihat dari adanya peserta, terutama kategori mandiri yang tidak rutin dalam membayar iuran. Padahal, iuran sangat penting untuk dikelola BPJS Kesehatan guna menjalankan program jaminan kesehatan ini secara berkelanjutan.

Peraturan BPJS Kesehatan No. 4 Tahun 2014 ini, diharapkan memberi pendidikan/edukasi kepada masyarakat agar dapat mendaftarkan diri menjadi peserta BPJS Kesehatan selagi sehat dan membayar iuran secara rutin. Karena itu pula ada jangka waktu tunggu tujuh hari bagi peserta mandiri yang sudah mendaftar dan membayar iuran awal.

Kini Berobat Di Puskesmas Hanya Berbiaya 2000 Rupiah


Sedang sakit tapi kantong kering? Jangan khawatir, Anda cukup mengeluarkan Rp 2.000 saja untuk berobat. Di mana? Di puskesmas terdekat. Hanya dengan Rp 2.000 pasien bisa berkonsultasi dengan dokter dan mendapat obat. Murah meriah.

“Hanya pasien yang tidak ada BPJS atau yang dari daerah yang membayar Rp 2.000 setiap kali datang,” ucap Icah Sumiarti, Fungsional Umum TU Puskesmas Mampang, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Senin (8/12/2014).

Bagi mereka yang mengikuti program BPJS tentu bisa berobat gratis. Prosedur mendapatkan layanan kesehatan di puskesmas juga mudah. Cukup menunjukkan fotokopi Kartu Indonesia Sehat (KIS) atau Kartu Jakarta Sehat atau ASKES atau JKN, juga kartu kunjungan puskesmas, dan mengambil nomor antrean.

Siti Nurjanah (37), adalah salah satu warga yang mengaku sejak lama datang ke puskesmas jika sedang sakit. “Harganya murah dan pelayanannya juga bagus, pelayanannya tidak ada bedanya antara pasien yang pakai BPJS dan KJS, dokternya tidak jutek. Malah saya yang disuruh cepat-cepat memasukan anak saya ke ruang rawat inap saat anak saya terkena tifus tahun lalu,” ucap Siti yang sedang mengantre di poli umum Puskesmas Mampang.

Siti mengaku sudah berobat ke puskesmas yang dulunya hanya bertingkat dua, hingga kini sudah bertingkat lima. Selain memiliki gedung yang lumayan bagus, Puskesmas Kecamatan Mampang sudah tersertifikasi ISO. Bahkan puskesmas ini rencananya akan menjadi RS tipe D. Untuk itu, petugasnya wajib bersikap ramah dan selalu tersenyum.

Sesuai Perda No 2 Tahun 2005 pegawai negeri juga tidak boleh merokok di lingkungan tempat kerjanya. 100 Petugas Puskesmas Mampang juga telah melakukan komitmen dengan Menteri Kesehatan untuk tidak merokok. “Kesepakatan itu bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang diperingati pada 12 November 2014 lalu, dengan begitu PNS akan takut tunjangan kinerja daerah (TKD) akan dipotong,” terang Icah.

Puskesmas yang berada di belakang Polsek Metro Mampang ini sempat memiliki program bantuan untuk menaikan gizi penderita TB pada tahun 2010-2011. Menurut Endro Prabowo, perawat pasien TB, program tersebut merupakan bantuan kepada pasien TB dari WHO melalui Departemen Kesehatan kepada puskesemas. Setiap bulannya pasien dan perawat pasien TB mendapat beras sejumlah 10 kilogram setiap datang konsultasi

“Kalau dulu memang pasien yang dilihat dari kalangan kurang mampu akan diberi uang supaya gizinya terpenuhi, tapi sekarang pasien TB yang mendapatkan bantuan itu tidak lagi mendapat bantuan tersebut dan hanya mendapat susu bubuk full cream sebesar 400 gram 2 kali per satu bulan saja karena memang kami anggarkan,” papar Icah menjelaskan perihal bantuan untuk pasien TB.

Beberapa tahun lalu, Puskesmas Mampang membuka poli akupunktur. Namun sejak dokter yang menggawangi kegiatan meninggal, layanan ini tidak lagi diberikan. Namun demikian saat ini sudah ada niatan untuk memberi layanan akupunktur dan akupresur, sayangnya masih terkendala ruang praktik.

Sebab menurut Icah, meskipun Puskesmas Kecamatan Mampang ini bertingkat 5, tapi luas lahannya hanya 600 meter. Sehingga jika ingin membuka poli akupunktur maupun poli akupresur yang merupakan pengobatan tradisional-komplementer cukup kesulitan.

“Dulu ada poli akupuntur, tetapi sejak dokternya meninggal tidak ada yang melanjutkan meskipun saat itu petugasnya telah ada yang dilatih akupunktur. Saat ini telah dibuka poli baru seperti poli penyakit dalam, dan poli VCT untuk penyandang HIV berkonsultasi, jadi ruangnya tidak cukup,” imbuhnya.

BPOM Akan Keluarkan Aturan Rokok Elektronik e-cigarettes


Rokok elektronik atau e-cigarettes mulai banyak digunakan di sejumlah negara termasuk Indonesia. Bahkan, televisi di Inggris telah menayangkan iklan rokok elektronik. Padahal, rokok elektronik dinilai membahayakan kesehatan.
Pemerintah pun segera mengeluarkan regulasi penggunaan maupun peredaran rokok elektrik ini. “Kami sudah bicara dengan Kementerian Kesehatan dalam waktu dekat akan kelar. Tunggu saja regulasi akan keluar sebentar lagi,” ujar Kepala Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) Roy Sparringa di Jakarta, Jumat (14/11/2014).

Roy mengatakan, sejauh ini pemakaian rokok elektronik lebih banyak merugikan dari sisi kesehatan. Dalam mengatur regulasi ini, menurut Roy, BPOM selalu melihat dari sisi keamanan dan manfaatnya. “Kami melihat dari sisi keuntungan dan kerugian. Ternyata lebih banyak kerugiannya,” kata dia. Roy menegaskan, organisasi kesehatan dunia (WHO) pun sudah menyatakan bahwa rokok elektronik tidak aman dikonsumsi. Sebelumnya, rokok elektronik diklaim efektif membantu orang untuk berhenti merokok. Nyatanya, setelah dievaluasi, rokok elektronik pun berbahaya bagi kesehatan seperti rokok konvensional.

Berhenti merokok tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu, banyak orang memilih untuk menggunakan cara-cara tertentu pada masa peralihan hingga mereka benar-benar bisa melepaskan rokok. Salah satu cara yang saat ini tengah populer baik di negara-negara maju maupun di Indonesia adalah dengan menggunakan rokok elektronik. Namun, cara ini juga masih menuai kontroversi karena bahayanya tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional.

Menurut dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, Agus Dwi Susanto, rokok elektronik bisa dikatakan merupakan cara “bahaya” untuk berhenti merokok. Ini karena rokok tersebut memiliki bahaya yang hampir sama dengan rokok konvensional, baik dari kandungan nikotin maupun senyawa-senyawa kimia lainnya.

Meskipun pada awalnya rokok elektronik diklaim efektif membantu orang berhenti merokok, tetapi kini penggunaannya tidak direkomendasikan. Setelah melewati sejumlah evaluasi, rokok elektronik memiliki beberapa bahaya, antara lain sebagai berikut.

1. Sering disalahgunakan
Agus mengatakan, bila digunakan secara benar, rokok elektronik memang bisa menjadi cara peralihan untuk berhenti merokok. Di sisi lain, rokok elektronik sangat mudah untuk disalahgunakan penggunaannya. “Misalnya seperti saat ini, meski belum mendapat izin dan dijual resmi, rokok elektronik sudah banyak digunakan,” ujarnya saat dihubungi, Selasa (5/8/2014). Nikotin dalam rokok elektronik juga seharusnya dikurangi secara gradual. Namun, bila digunakan secara bebas tanpa resep penurunan dosis, maka jumlah nikotin yang digunakan akan terus sama, bahkan mungkin bertambah tanpa ada standar yang jelas. Nikotin yang digunakan dalam jangka waktu yang lama akan terakumulasi dalam tubuh dan mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, seperti penyempitan atau pengentalan darah. Jadi, meskipun jumlahnya jauh lebih sedikit, nikotin pada rokok elektronik juga sama bahayanya dengan rokok konvensional.

2. Asap
Meskipun dibakar secara elektronik, nikotin dalam rokok elektronik juga akan menimbulkan asap seperti halnya rokok konvensional. Asap diketahui bila diisap setiap hari akan memberikan dampak negatif bagi kesehatan karena memberikan paparan produk berbahaya.

3. Tidak hanya nikotin
Agus menjelaskan, cairan yang menjadi refill atau isi ulang untuk rokok elektronik tidak hanya mengandung nikotin, tetapi juga senyawa-senyawa kimia berbahaya lainnya. Senyawa-senyawa ini bersifat karsinogenik sehingga berpotensi memicu penyakit seperti kanker. Sebagai dokter, Agus sendiri tidak menyarankan penggunakan rokok elektronik sebagai cara berhenti merokok. Sebaliknya, penggunakan permen, tablet isap, inhaler, tempelan (patch), dan spray lebih disarankan.

Rokok elektronik (e-cigarettes) semakin populer, terutama di kalangan remaja. Padahal, rokok ini sebenarnya lebih berbahaya dibanding rokok biasa. Rokok elektronik adalah peralatan elektronik bertenaga baterai yang dirancang menyerupai rokok dan dipasarkan sebagai alat bantu untuk berhenti merokok. Alat ini memungkinkan penggunanya menikmati uap saripati nikotin.

Menurut studi yang dilakukan oleh Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), peningkatan jumlah pasien yang keracunan setelah menggunakan rokok elektronik dan nikotin cair terus meningkat. Dari data pusat pengendalian keracunan di AS pada Februari 2014, terdapat 215 pengaduan telepon terkait rokok elektronik. Padahal, pada September 2010 hanya satu pengaduan.

Yang memprihatinkan adalah, lebih dari separuh aduan melalui telepon yang masuk melibatkan anak-anak berusia kurang dari 5 tahun, 42 persen pada orang berusia 20 tahun. Mereka mengalami keracunan setelah menghisap nikotin cair atau diserap lewat kulit. Nikotin cair dijual untuk isi ulang rokok elektronik. Tenaga baterai pada rokok tersebut akan mengantarkan nikotin, aroma tertentu, dan zat-zat kimia lainnya.

Karena tingginya konsentrasi nikotin nikotin cair tersebut, maka sedikit saja cairan yang terhirup atau diserap kulit bisa berefek mematikan, terutama pada anak-anak. “Rokok elektronik semakin populer sehingga jumlah orang yang keracunan kemungkinan akan bertambah. Cairan nikotin yang banyak dijual bisa berbahaya bagi anak-anak, apalagi ada yang dijual dengan aroma buah dan permen sehingga menarik anak-anak,” kata Dr Tom Frieden, Direktur CDC.

Rokok biasa sebenarnya juga bisa menimbulkan keracunan pada anak-anak, tetapi kasus itu terjadi karena mereka memakan rokok. Sementara keracunan pada nikotin cair disebabkan karena menelan, menghirup, atau ada cairan yang diserap kulit atau mata. Pada 70 persen kasus keracunan nikotin cair di AS diketahui terjadi karena anak-anak menelan cairan tersebut. Gejala yang ditimbulkan akibat keracunan itu antara lain muntah-muntah, mual, serta iritasi mata. Jika tidak segera diberikan pertolongan bukan tidak mungkin menyebabkan kematian.