Category Archives: Kreatif

Batu Akik Kristal Ungu Seberat 350 kg Ditemukan Di Prambanan


160224_kkristal akik unguDi balik penemuan batu ungu bertekstur kristal di Prambanan‎ menyimpan cerita tersendiri. Percaya atau tidak, penemunya Juwanto (29) dan Sayono (38) mengalami hal-hal di luar logika saat menemukan batu tersebut. “Kemarin Sabtu (30/6), saya mencari rumput siang-siang. Tapi kok ada burung muter-muter terus di atas batu ini, burungnya burung papasan,” ujar Juwanto. Hal ini disampaikan ‎Juwanto saat ditemui di rumahnya di Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015).

“Burung itu seperti kasih petunjuk,” imbuhnya. Sedangkan sang kakak Sayono mengaku setelah mendengar temuan adiknya, dia tak bisa tidur. Hingga besok paginya dia memutuskan untuk mengambil batu itu dengan cara mencongkelnya dengan linggis. Saat menggali bagian batu yang tertanam di dalam tanah, Sayono mengaku tak mendapat kesulitan. Bahkan saat mencongkel batu dengan linggis, batu itu terbelah sendiri sehingga dia bisa melihat bagian dalam batu yang bertekstur kristal yang indah.

“Saya sampai bengong,” imbuhnya.

Tak selesai sampai di situ, saat Sayono, Juwanto dan dua orang kerabat lainnya memindahkan batu itu ke dalam mobil, ada rintangan yang seolah menghalanginya. Rintangan itu adalah 2 ekor ular yang muncul bergantian melintang menghalangi jalan mereka. Ular sebesar lengan orang dewasa, menurut cerita Sayono melintang di tengah jalan.

“Saya cuma bilang saya nggak ganggu, lalu ular-ular itu pergi sendiri,” kata Sayono. Seorang warga Prambanan, Sleman, menemukan sebongkah batu berwarna ungu di tengah hutan. Batu yang berdiameter sekitar 70 cm ini memiliki berat 3,5 kuintal dan bertekstur kristal. Juwanto (29) adalah si penemu batu yang kini sudah terbelah menjadi dua itu. Ia mengisahkan, awalnya menemukan batu itu dari sekumpulan burung yang terbang di atas batu tersebut.

‎”Kemarin Sabtu (30/6), saya mencari rumput siang-siang. Tapi kok ada burung muter-muter terus di atas batu ini, burungnya burung papasan,” ujar Juwanto (29). Hal ini dikatakan Juwanto saat ditemui di rumahnya di ‎Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). ‎Batu itu terletak di pinggir saluran air. Letaknya berada di Dusun Lemah Abang, Desa Gambir Sawit‎, Kecamatan Prambanan, Sleman. “Satu setengah kilometer dari sini,” imbuhnya.

Juwanto kemudian memanggil kakaknya Sayono (38), meminta bantuan untuk mengangkat batu tersebut. Namun, mereka baru kembali ke lokasi batu itu pada keesokan harinya, Minggu (31/5). Mereka mencongkel batu yang sebagian tampak di permukaan tanah menggunakan linggis. Namun ternyata batu itu berukuran besar yakni lebarnya 70 cm dan tingginya 80 cm. Permukaan luar batu tersebut berwarna cokelat kekuningan. Menurut informasi, sudah ada beberapa warga yang berusaha memecah batu itu untuk akik namun tak ada yang berhasil mencongkelnya.

Dalam kesempatan yang sama, Sayono bercerita akhirnya butuh empat orang untuk mengangkat‎ batu tersebut. “Tapi begitu dicongkel-congkel, batu itu terbelah. Terlihat dalamnya seperti kristal warnanya ungu. Saya sampai bengong,” tutur Sayono. Belahan batu tersebut dipisahkan oleh untaian akar pohon Sono. ‎Bagian dalam yang bertekstur kristal juga diendapi tanah. “Dari jam 06.30 WIB, baru bisa sampai rumah jam 11.00 WIB,” katanya. Kedua pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh bangunan itu telah meminta izin kepada si pemilik tanah untuk memiliki batu tersebut. Juwanto mengatakan si pemilik tanah, Minto pun mengikhlaskannya.

‎”Katanya (Mbah Minto), itu sudah pulung (rezeki) yang menemukan,” kata Sayono. Mereka juga telah melaporkan temuannya ini kepada aparat desa. “Babinsa juga sudah ke sini. Tapi katanya tidak ada masalah,” imbuhnya.
Dua orang warga Prambanan, Sleman menemukan sebongkah batu bertekstur kristal berwarna ungu. Merasa penemuannya ini tak ‘sembarangan’, Sayono (38) dan Juwanto (29) tak berniat menjualnya. “Saya nggak tahu berapa ya harganya. Tapi saya nggak berpikir ke sana. Kalau orang Jawa mikirnya ke depan kalau dijual nanti bagaimana,” ujar Sayono.

Hal ini disampaikan Sayono saat dikunjungi di rumahnya di Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). Dia mengaku khawatir jika nanti dia menjual batu itu, justru akan menimbulkan hal tak baik pada dirinya. Apalagi Suyono maupun Juwanto merasa tak hobi terhadap batu akik. Dia tak mengerti harga batu-batuan di pasaran. “Kalau orang bilang Rp 50 juta, Rp 10 juta, saya nggak ngerti,” katanya. “Ini kan bukan sembarangan menemukan. Kata orang, mau nyari kalau nggak pulung (rejeki) ya nggak akan ketemu,” ujar Sayono.

‎Ditambah lagi, menurut Sayono batu itu sebenarnya sudah berulang kali akan dicongkel warga namun tak ada yang berhasil. Bekas congkelan-congkelan di permukaan batu masih terlihat. “Pas saya congkel, malah terbelah sendiri lalu keliatan dalamnya seperti durian (berduri-duri tajam),” kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai buruh bangunan ini. enemuan bongkahan batu ungu bertekstur kristal‎ ditemukan di Prambanan, Sleman. Kabar ini mulai menyebar, warga pun berdatangan.

“Sudah banyak yang datang, nanya harga tapi saya bilang tidak tahu,” kata Sayono (38). Hal ini disampaikan Sayono di rumahnya di‎ Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). ‎Tak hanya itu, pihak Babinsa daerah itu juga telah menyambangi batu itu. Babinsa Desa Gayamharjo datang atas laporan Sayono setelah menemukan batu itu. Dia menanyakan status batu temuannya itu.

“Ada penjual emas yang sudah ke sini juga. Katanya ini kristalnya kalau digosok bisa pecah,” kata Sayono. “Tadi dari Dinas Kehutanan Sleman tanya kalau pemerintah ‎mau ambil ini gimana, sama saya nggak bisa,” imbuhnya. Sayono menyebut batu itu seberat 3,5 kuintal atau 350 kg.

Bongkahan batu yang kini terbelah dua ini ditemukan adik Sayono, Juwanto (29) pada Sabtu (30/5). Namun keduanya baru mengambil batu yang terletak di pinggir saluran pengairan di tengah hutan Dusun Lemah Abang ini pada keesokan harinya. Sebongkah batu ungu seberat 350 kg bertekstur kristal ditemukan di Prambanan, Sleman. Penemu batu tersebut Sayono (38) dan Juwanto (29) mempersilakan batu itu untuk diteliti. Namun ada syaratnya, apa?

“Boleh silakan diteliti, tapi menelitinya di rumah saja. Jangan dibawa ke mana-mana,” ujar Sayono. Hal ini dikatakan Juwanto saat ditemui di rumahnya di ‎Dusun Nawung, Desa Gayamharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman, Rabu (3/6/2015). Sayono bersikukuh tak mau batu itu dibawa keluar rumahnya karena merasa penemuannya ini adalah berkah. Menurutnya, tak sembarangan orang bisa memiliki atau menyimpannya.

“Ini kan bukan sembarangan menemukan. Kata orang, mau nyari kalau nggak pulung (rejeki) ya nggak akan ketemu,” katanya. ‎Sayono juga dengan tegas menyatakan bahwa batu itu tidak akan diberikan kepada pemerintah, meski diminta. “Tadi dari Dinas Kehutanan Sleman tanya kalau pemerintah ‎mau ambil ini gimana, sama saya nggak bisa,” ujar Sayono.

Advertisements

Indira Astarisa Mantan Model Yang Jual Rumah Plus Dapat Bonus Istri


085158_indira

Indira Astarisa (37) kebanjiran telepon. Banyak pria yang menanyakan soal rumah yang dijual di Permata Jingga Blok Pinus, Malang, Jatim dan juga soal sosok Indira. Termasuk pria dari luar negeri. “Ada yang dari Singapura,” terang Lia pemilik Safira Salon teman Indira saat berbincang, Jumat (29/5/2015).

Lia adalah teman Indira yang memasang iklan. Nomor telepon dia yang terpasang di iklan di koran. Rumah 3 kamar yang ditinggali Indira bersama anaknya itu hendak dijual Rp 1,7 miliar. Indira juga mencari calon suami, sudah lebih dari 10 tahun menjadi single parents. Menurut Lia, dia memasang iklan hanya untuk membantu. Indira tengah membutuhkan uang untuk biaya kuliah anaknya serta mengembangkan usaha. Selama ini Indira berbisnis baju dan kue.

“Semua konfirmasi lewat saya ya. Indira lagi pulang kampung ke Jombang. Kami hanya ingin yang serius,” tutur Lia. Indira Astarisa (37), perempuan cantik eks model ini menawarkan rumahnya di kawasan Perumahan Elite Permata Jingga Blok Pinus, Kota Malang. Rumah itu hendak dia jual Rp 1,7 miliar. Yang menarik perhatian, Indira juga mencari calon suami, asalkan cocok.

Di mata tetangga tidak ada yang spesial terhadap sosok Indira. Hanya saja perempuan itu diketahui tinggal hanya bersama putranya. “Iya itu rumahnya, sama anaknya disitu,” kata Wito (40) tetangga Indira berbincang Jumat (29/5/2015). Wito pun tahu Indira berstatus janda, dan dirinya kaget kala mendengar perempuan cantik itu akan menjual rumah dan mencari suami. “Masak gitu mas, lah kayak di Jawa Tengah atau mana itu ya,” ucap Wito kaget.

Wito dan keluarga tidak mengenal dekat Indira. Meski bertetangga dekat mereka hanya bertegur sapa jika saling bertemu. “Iya warga disini kan gitu mas, karena masing-masing sibuk mungkin,” ujarnya. “Mungkin lagi butuh, saya dan dia (Indira) juga sudah lama tinggal,” tuturnya. Saat mencoba lagi menyambangi rumah Indira, muncul seorang pemuda yang mengaku putra Indira. “Benar rumah ini dijual, tapi saya tidak mau diwawancarai. Maaf ya mas,” ucapnya seraya buru-buru masuk kedalam rumah. Indira sudah bercerai sekitar 15 tahun. Selama ini dia single parents, Indira sehari-hari menjual baju dan roti.‎

Indira (37) menjual rumah di Kompleks Permata Jingga di Blok Pinus No 30, Malang Jatim. Rumah itu dijualnya seharga Rp 1,7 miliar. Selain menjual rumah, dia juga mencari suami.“Kalau ada yang cocok ya mas. Utamanya saya mau menjual rumah saya, buat membantu mengembangkan usaha dagang saya dan kuliah anak,” jelas Indira saat berbincang, Kamis (28/5/2015). Indira memiliki usaha menjual baju dan roti.

Indira mengaku sudah 15 tahun dia seorang diri, sejak berpisah dari suaminya. Selama ini dia hidup sebagai single parents mengasuh seorang anak, yang kini usianya 19 tahun dan sudah berkuliah. Anaknya juga berjualan roti. “Rumahnya itu harganya nego, rumahnya terawat,” jelas Indira yang tinggal bersama anaknya di rumah itu. Menurut dia, selain menjual rumah dia juga berniat mencari suami, tentu bila ada yang cocok. “Yang duda kalau bisa. Yang setia dan tanggung jawab. Ingin menghabiskan hidup bersama,” tutur dia.

“Yang penting saya nggak mau dipoligami atau jadi istri kedua,” tutup dia. Anda berminat beli rumah atau jadi suami Indira? Indira Astarisa (37), perempuan cantik eks model ini menawarkan rumahnya di kawasan Perumahan Elite Permata Jingga Blok Pinus Nomor 30, Kota Malang. Rumah itu hendak dia jual Rp 1,7 miliar. Tapi memang, yang menarik perhatian, Indira juga mencari calon suami.

Menyambangi rumah milik janda yang memiliki seorang anak laki-laki yang sudah berkuliah. Satpam kompleks bernama Suyono memastikan kalau rumah itu milik Indira. Sayangnya pemilik rumah tak berhasil ditemui. Rumah Indira tampak sepi, dia sebelumnya menyebut memang tengah berada di Jombang menengok orangtuanya. Ada sepeda motor dan sepatu terlihat, tapi diketuk-ketuk tak ada yang keluar. Di pagar rumah itu tampak terpasang gembok. Indira tinggal bersama anaknya di rumah itu.

Anehnya, meski mengiklankan diri di surat kabar, namun di rumah bercat coklat cream tidak terpasang informasi jika rumah tersebut dijual. “Ini memang rumah Bu Indira, tapi kami nggak pernah tahu persis wajahnya. Karena warga di sini lalu lalang pakai mobil,” ucap Suyono. Dia pun menyarankan besok kembali ke lokasi, agar bisa bertemu dengan Indira. Kompleks rumah Indira memang dikenal elite di Malang. Tak sedikit pejabat dan tokoh masyarakat yang memiliki rumah di kompleks itu. “Mungkin istirahat atau sedang keluar,” tuturnya.‎ Rumah itu memiliki kamar 3. Indira dibantu temannya Ria yang memiliki salon Safira mengiklankan rumah itu.

Indira sudah bercerai sekitar 15 tahun. Selama ini dia single parents, Indira sehari-hari menjual baju dan roti. Indira Astarisa (37) mengaku tak meniru Wina di Yogyakarta yang menjual rumah dan mencari suami. Dia bahkan tak tahu menahu soal apa yang dilakukan Wina itu. “Nggak saya nggak tahu Wina, ini ide dari Mbak Ria, saya ikut saja,” jelas Indira saat berbincang, Kamis (28/5/2015). Indira saat kuliah kerap menjadi model untuk foto atau produk. Kini juga dia kerap dipakai menjadi model baju muslimah.

Indira lewat temannya memasang iklan di koran Surya terbitan Jawa Timur hari ini. Indira menjual rumahnya di Kompleks Permata Jingga di Blok Pinus No 30. Tanah di rumah itu seluas 135 meter, sedang rumah sendiri ada tiga kamar. Dia menjualnya dengan memasang harga Rp 1,7 miliar. “Itu masih bisa nego. Saya menjual rumah uangnya untuk mengembangkan usaha baju dan roti saya. Juga untuk kuliah anak,” urai Indira yang sudah 15 tahun sendiri setelah cerai dari suaminya. Indira tinggal bersama anaknya laki-laki yang sudah berusia 19 tahun dan kini sudah kuliah.

Indira mengaku yang utama buat dia menjual rumah, namun kalau menemukan suami yang cocok dia siap menjadi dipersunting. “Saya mencari duda, usia kalau boleh di atas saya. Yang bertanggung jawab dan setia untuk menghabiskan hidup,” tutur dia. Lalu soal mencari suami ini, apakah anaknya sudah setuju? “Ya dia mendukung saja,” tutup dia.

Pesta Bikini Dengan Tema Summer Dress Sudah Sering Diselenggarakan Di Jakarta


Pemilik Divine Production, Immanuel Siregar, mengatakan kesiapannya jika polisi menanggil dia dan tim untuk pesta bikini bagi siswa sekolah menengah atas. Pesta yang akan diselenggarakan di The Media Hotel & Towers pada 25 April 2015 itu batal karena mendapat kecamanan dari berbagai pihak. Menurut Immanuel, tidak ada dasar untuk menuntut EO nya ke polisi. “Acara Splash After Class itu memang untuk murid SMA. Tapi 18 tahun ke atas,” kata dia di Kemanggisan, Jakarta Barat, Kamis, 23 April 2015.

Sebelumnya, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Asrorun Niam, mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia. Dia mengatakan, pihak hotel dan EO bisa dikenakan Pasal 281 dan 282 KUHP. Ancamannya, pidana penjara maksimal dua tahun delapan bulan. Koordinasi itu, kata Asrorun, karena kegeramannya ihwal pesta bikini dengan target peserta siswa SMA yang selesai mengerjakan ujian nasional. “Mereka merusak generasi.”

Manager Finance dan Talent Divine Production, Debby Carolina, mengatakan kesalahan pihaknya itu karena dicantumkannya nama sekolah di Jakarta di undangan yang tersebar di media sosial. “Kami minta maaf dan akan datang ke setiap kepala sekolah,” katanya. Sekolah yang dicantumkan itu adalah SMA 8 Bekasi, SMA 12 Jakarta, SMA 14 Jakarta, SMA 38 Jakarta, SMA 50 Jakarta, SMA 24 Jakarta, SMK Musik BSD, SMA 109 Jakarta, SMA 53 Jakarta, SMA Muhammadiyah Rawamangun, SMA 44 Jakarta, SMA Alkamal, SMA 29 Jakarta, SMA 26 Jakarta, dan SMA 31 Jakarta.

Debby menuturkan, sebenarnya acara itu bukan pesta bikini. Melainkan “Summer Dress” dengan tempat di kolam renang. “Ini kesalahan bagian kreatif. Kami lagi cari desain aslinya yang tidak ada nama sekolah,” katanya. “Tapi kami tidak bisa menghubungi irang kreatif itu.” Debby pun bingung masyarakat ribut dengan pesta ini dan pihaknya disebut sebagai penyelenggara nakal. Padahal, acara yang digarap Divine mencontek pesta murid SMA dari penyelenggara lain. “Yang nakal itu beritanya,” katanya. “Kami rugi puluhan juta karena acara ini batal.”

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama geram mengetahui ada pesta bikini untuk siswa Sekolah Menengah Atas. “Enggak bisa dong kalau pesta bikini, ya tangkep. Enggak bener kalau pesta bikini,” ujar Ahok saat ditemui di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis, 23 April 2015. Di media sosial tersebar undangan acara pesta bikini bertema “Splash After Class”. Dalam undangan tersebut tercantum jenis pakaian yang digunakan peserta adalah bikini summer dress. Acara akan diselenggarakan pada 25 April 2015 di The Media Hotel & Towers di Jakarta.

Acara yang akan digelar sekitar pukul 22.00 WIB tersebut diikuti sejumlah sekolah seperti SMA 8 Bekasi, SMA 12 Jakarta, SMA 14, SMA 38, SMA 50, SMA 24, SMA 31, dan SMK Musik BSD. Beberapa sekolah lain tercatat sebagai pendukung yaitu SMA 109, SMA 53, SMA 29, SMA 26, SMA 31, SMA 44, SMA Muhammadiyah Rawamangun dan SMA Alkamal.

Setelah diributkan, Divine Production yang menjadi event organizer akhirnya membatalkan sekaligus meminta maaf kepada SMA-SMA di Jakarta yang disebutkan dalam pengumuman itu. Divine Production ternyata sering menggelar acara serupa. Salah satunya, Divine merayakan hari ulang tahun pertamanya dengan pesta bertema “Hawai Pool Party” pada 7 Juni 2014. Pesta di The Media Hotel and Tower ini menetapkan pakaian acara yaitu bikini dan pakaian musim panas. Divine mewajibkan peserta yang hadir harus membawa KTP asli karena mensyaratkan batas minimal umur pria yaitu 19 tahun dan wanita 18 tahun.

Manager Finance dan Talent Divine Production, Debby Carolina menyatakan, sudah empat kali melakukan acara di kolam renang. Acara itu, khusus untuk mereka yang sudah berusia 21 tahun ke atas. Menurut Debby, acara itu dilakukan di dua hotel berbeda. “Tiga acara sejak 2014 di The Media Hotel & Towers dan satu di tempat lain,” kata dia di Kemanggisan, Jakarta Barat, Kamis, 23 April 2015.

“Namun, bukan pesta bikini. Tapi pesta di kolam renang saja.” Debby mengklaim selama ini belum pernah mengalami masalah dengan pesta bikini yang diorganisir Divine. Baru acara untuk anak-anak sekolah yang semula akan dilaksanakan pada 25 April 2015 timbul masalah. Kali ini, “Kesalahan itu karena mencantumkan nama-nama sekolah di undangan dan video yang sudah tersebar di media,” kata Debby.

Sekolah Menengah Musik, Yayasan Musik Jakarta yang beralamat di Jalan Letnan Sutopo Kavling III A nomer 10 BSD Tangerang Selatan membantah bahwa sekolahnya mengikuti kegiatan bikini party. “Saya malah baru tau ada kegiatan ini, yang jelas kami tidak mengikut sertakan kegiatan yang melanggar norma sosial. Kalaupun siswa mengadakan kegiatan itu harus seizin pihak sekolah,” kata General Manager Yayasan Musik Jakarta, Toro Prihantara saat ditemui Tempo Kamis 23 April 2015.

Menurut Toro pihaknya akan menelusuri kebenaran dari selebaran bikini party yang ramai di perbincangkan media sosial “Kita akan telusuri apa benar siswa kita ada yang mengikuti kegiatan tersebut, kalau benar terbukti akan ada sanksi yang berat, karena kegiatan tersebut memalukan nama sekolah,” ujarnya. Toro juga mengatakan bahwa kalau ada siswa yang membawa nama sekolah, pihaknya sangat keberatan “Nanti akan kita telusuri lebih dalam perihal acara tersebut. Anak-anak ini kan istilahnya dititipkan oleh orang tua murid ke kita jadi kita harus mendidiknya dengan baik,” katanya.

Sebelumnya ada selebaran di media sosial akan diadakan pesta bikini party di The Media Hotel & Towers / Pool Area 6 Floor Jalan Gunung Sahari Raya nomer 3. Undangan itu jadi sorotan karena egiatan ini ramai karena pengunjung yang datang menggunakan kostum bikini dan melibatkan sejumlah sekolah menengah atas. Acara yang diadakan pada Sabtu tanggal 25 April 2015 ini diadakan oleh Divine Production, acara yang diberi nama Splash After Class dimulai pada pukul 10.00 Wib. Dalam selebaran pengunjung tidak boleh membawa senjata api, tidak boleh membawa narkoba, dan tidak boleh takut.

Divine Production mencatut nama-nama SMA sebagai pendukung acara pesta bikini di kolam renang bertema “Splash After Class”. “Semua SMA itu dicatut oleh penyelenggara dan pihak hotel. Acara itu inisiatif mereka,” kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Arie Budiman, Kamis, 23 April 2015. Di dalam undangan yang disebar melalui media sosial, acara yang berlangsung di The Media Hotel & Towers, Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, itu akan digelar pada 25 April 2015.

Divine Production, event organizer, (EO) menuliskan dalam undangan, pesta kelulusan sekolah itu didukung SMA 8 Bekasi, SMA 12 Jakarta, SMA 14 Jakarta, SMA 38 Jakarta, SMA 50 Jakarta, SMA 24 Jakarta, SMK Musik BSD, SMA 109 Jakarta, SMA 53 Jakarta, SMA Muhammadiyah Rawamangun, SMA 44 Jakarta, SMA Al-Kamal, SMA 29 Jakarta, SMA 26 Jakarta, dan SMA 31 Jakarta. Menurut Arie, dia sudah membuat surat edaran ke sekolah untuk melarang acara kelulusan ujian negara yang bertentangan dengan etika, norma, dan pelanggaran ketertiban umum. Selain itu, ucap dia, pihak hotel sudah membatalkan acara itu.

Walau sudah batal, Arie meminta orang tua tetap mengawasi dan memberi perhatian terhadap pergaulan anaknya. Terutama bagi yang sudah melakukan ujian nasional. Sebab, setelah lulus, siswa tidak akan kembali ke sekolah. “Jadi jangan hanya meminta tanggung jawab pihak sekolah,” tuturnya.

Manager F&B Event and Sponsorship The Media Hotel & Towers Ibnu M. Iqbal membenarkan bahwa acara tersebut dibatalkan. “Kami resmi membatalkan event pool party “Splash After Class” karena disinyalir akan diikuti oleh anak-anak di bawah umur,” ujarnya dalam rilis persnya. “Kami hanya memfasilitasi, sementara untuk konten dan publikasi ditangani oleh pihak penyelenggara.” Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Asrorun Niam mengecam pesta bikini itu. Menurut dia, pihaknya sudah melaporkan acara itu ke polisi dan meminta pihak keamanan memeriksa EO dan hotel. “Mereka bisa melanggar Pasal 281 dan 282 KUHP tentang kesusilaan.”

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Asrorun Niam, mengatakan sudah berkoordinasi dengan Mabes Polri ihwal pesta bikini yang akan dilakukan sejumlah siswa SMA. Pesta bertema “Splash After Class” untuk merayakan usainya ujian nasional itu diadakan di The Media Hotel & Towers di Jalan Gunung Sahari Raya Nomor 3, Jakarta Pusat, pada 25 April 2015.Menurut Asroun, polisi bisa memeriksa penyelenggara, Divine Production dan pihak hotel. “Mereka bisa terkena pasal 281 dan 282 KUHP,” kata dia kepada Tempo, Kamis, 23 April 2015. Pasal itu mengatur tentang kejahatan dan kesusilaan. Hukumannya, bisa dijerat pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau denda Rp 4.500.

Di media sosial, tersebar undangan pesta bikini. Dalam pamfletnya, penyelenggara mengklaim acara tersebut didukung beberapa sekolah di Ibu Kota, di antaranya SMA 8 Bekasi, SMA 12 Jakarta, SMA 14 Jakarta, SMA 38 Jakarta, SMA 50 Jakarta, SMA 24 Jakarta, SMK Musik BSD, SMA 109 Jakarta, SMA 53 Jakarta, SMA Muhammadiyah Rawamangun, SMA 44 Jakarta, SMA Alkamal, SMA 29 Jakarta, SMA 26 Jakarta, dan SMA 31 Jakarta.

Pemilik Divine Production, Immanuel Siregar, mengatakan kesiapannya jika polisi menanggil dia dan tim untuk pesta bikini bagi siswa SMA. Lagipula, menurut Immanuel, tidak ada dasar untuk menuntut EO nya ke polisi. “Acara Splash After Class itu memang untuk murid SMA. Tapi 18 tahun ke atas,” kata dia di Kemanggisan, Jakarta Barat, Kamis, 23 April 2015. Pesta yang akan diselenggarakan di The Media Hotel & Towers pada 25 April 2015 itu batal karena mendapat kecamanan dari berbagai pihak.

Manager F&B Event and Sponsorship The Media Hotel & Towers, Ibnu M Iqbal membenarkan bahwa acara tersebut dibatalkan. “Kami resmi membatalkan event pool party Splash After Class karena disinyalir akan diikuti oleh anak-anak di bawah umur,” kata dia dalam rilis persnya. “Kami hanya memfasilitasi, sementara untuk konten dan publikasi ditangani oleh pihak penyelenggara.

Haji Lulung Beli Cincin Akik Tommy Soeharto Rp 150 Juta


Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana alias Lulung memenangkan lelang batu akik yang dilakukan Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto. Hal itu dilakukan dalam acara Gala Dinner para penggemar Batu Akik, di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015).

Dalam acara yang diadakan oleh asosiasi Great Stone Nusantara (GSN) itu, Lulung membayar batu akik Tommy seharga Rp 150 juta. Batu akik yang dibeli oleh Lulung adalah jenis Red Baron. Lelang dilakukan setelah pemaparan Tommy mengenai konsep pemberdayaan industri batu akik di Indonesia.

Lelang dibuka dengan penawaran harga dari seorang peserta acara yang bernama Firmansyah. Harga yang ditawarkan adalah sebesar Rp 100 juta. Setelah penawaran tersebut, pembawa acara memberikan kesempatan pada peserta lain untuk melakukan penawaran, termasuk Lulung. “Pak Haji Lulung berani bayar berapa?” tanya pembawa acara kepada tokoh asal Tanah Abang itu. Lulung kemudian spontan menjawab, “Rp 150 juta,” ujar dia.

Setelah itu, pembawa acara kembali memberikan kesempatan pada peserta lain untuk melakukan penawaran. Namun setelah semenit berlalu, tak ada peserta yang berani mengajukan penawaran di atas harga yang diajukan Lulung. Salah seorang peserta acara yang juga politisi Partai Golkar Ali Mochtar Ngabalin hanya tersenyum tanpa berusaha melakukan penawaran. Setelah pembawa acara melakukan penghitungan sampai angka 10, dia pun menyatakan Lulung sebagai pemenang lelang.

Selaku pemilik, Tommy langsung menyematkan cincin bermata merah itu ke tangan Lulung. Menurut pembawa acara, uang hasil lelang akan disumbangkan untuk kegiatan sosial, salah satunya untuk anak-anak yatim piatu. Pembina Asosiasi Great Stone Nusantara (GSN) Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto menilai batu akik memiliki pangsa pasar yang sangat potensial. Menurut dia, andai ada 40 persen penduduk Indonesia yang berminat berkecimpung pada dunia batu akik, maka akan ada uang sebesar Rp 20 triliun yang berputar setiap tahunnya.

Menurut Tommy, perhitungan tersebut didapat hanya dari hasil penjualan batu akik dengan harga yang paling murah, yakni Rp 250.000 dan belum memperhitungkan batu-batu akik dengan harga yang mencapai ratusan juta.

“Jumlah penduduk Indonesia ada 250 juta. Andai ada 40 persen saja, artinya ada 100 juta orang, tiap satu orang setiap tahunnya cukup membeli satu batu, baik cincin atau bros, tidak perlu muluk-muluk cukup yang Rp 200.000, maka akan ada uang Rp 20 triliun yang berputar setiap tahunnya di industri ini,” kata Tommy saat acara Gala Dinner dengan penggemar batu akik di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015).

Atas dasar itu, Tommy meminta agar GSN dapat memaksimalkan potensi tersebut. Ia juga menyarankan agar GSN dapat merangkul berbagai asosiasi, komunitas, maupun paguyuban batu akik lainnya yang ada di seluruh Indonesia.

“Kalau kita mampu mengelolanya dengan baik dan dapat memaksimalkan segala potensi yang kita miliki, tentu ini merupakan potensi yang tidak kecil,” ujar putra Presiden kedua RI Soeharto itu. Berbagai jenis batu akik mulai dari yang berbentuk bongkahan hingga yang telah berbentuk cincin dipamerkan di Balai Panjang Museum Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (18/4/2015).

Asal daerah batu yang dipamerkan juga beraneka ragam, mulai dari Aceh, Pacitan, hingga Papua. Berdasarkan pantauan, jenis Giok Aceh dibanderol seharga Rp 100.000 untuk tiga buah batu yang masih berbentuk bongkahan, sedangkan yang berbentuk cincin dijual dengan beraneka ragam, harga termahal Rp 500.000.

“Kalau ini yang paling gede gopek (Rp 500.000),” ujar penjual batu Giok Aceh, Fuad.

Selain batu Giok Aceh, ada pula batu Pancawarna yang berasal dari Raja Ampat, Papua Barat. Batu jenis ini dibanderol seharga Rp 5 juta untuk yang masih berbentuk bongkahan, sedangkan yang berbentuk cincin dibanderol dengan harga termahal mencapai Rp 2,5 juta.

“Masih bisa ditawar kok,” ujar pedagang batu, Edward.

Pameran batu akik ini diselenggarakan oleh Himpunan Masyarakat Peduli Indonesia (HMP-Indonesia). Rencananya, malam ini, pembina HMP-Indonesia Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto akan memaparkan konsepsi pemberdayaan industri batu akik agar menjadi industri rumah tangga yang terfokus pada pengemasan, penjualan dan high promotion dengan sistem pemasaran di dunia.

Cara Mario Steve Ambarita Menyusup Ke Roda Pesawat Garuda Dan Atasi Ketatnya Penjagaan Angkasa Pura


Direktur Utama PT Angkasa Pura II Budi Karya Sumadi mengaku kecolongan dengan insiden Mario menyusup sebagai penumpang gelap di pesawat Garuda Indonesia GA 177 rute Pekanbaru-Jakarta. “Merasa kecolongan pasti, ini jelas kesalahan kami, dan kami sangat prihatin peristiwa ini terjadi,” katanya, Rabu, 8 April 2015.

Budi menyesalkan tindakan Mario Steve Ambarita yang lolos dari pengawasan petugas Bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau. “Untuk itu, sebagai direksi, kami bertanggung jawab dan siap menerima sanksi apa pun dari Kementerian Perhubungan,” katanya. Mario Steven Ambarita, 21 tahun, menyusup pada rongga ban belakang pesawat Garuda Indonesia GA 177 dari Pekanbaru, Riau, ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Selasa petang, 7 April 2015.

Kepada petugas, Mario mengaku nekat melakukan aksi itu karena ingin ke Jakarta. Dari kampung halamannya yang beralamat di Jalan Ki Hajar Dewantara Sesa Bagan Batu, Kecamatan Sinemba, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, pria tamatan sekolah menengah kejuruan ini menggunakan bus menuju Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau.

Masuk ke kawasan Bandara, Mario melompat pagar dan langsung menyusup ke rongga ban belakang pesawat Garuda yang saat itu sedang bersiap tinggal landas. Pesawat yang ditumpangi Mario mendarat di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 15.30. Ia langsung keluar dari rongga roda dalam kondisi lemas. “Ia pertama kali ditemukan petugas Aviation Security Bandara,” kata Israfulhayat, Kepala Bagian Tata Usaha Otoritas Bandara Soekarno-Hatta.

PT Angkasa Pura II mengirimkan tim investigasi ke Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, untuk menyelidiki kasus penyusupan penumpang pada rongga ban pesawat. Investigasi ini dilakukan untuk mengetahui cara penumpang itu masuk ke kawasan Bandara dan menyusup. “Kami akan sampaikan hasil secepatnya,” kata Direktur PT Angkasa Pura II Budi Karya, Rabu, 8 April 2015.

Sebelumnya, seorang pemuda bernama Mario Steve Ambarita, 21 tahun, diketahui menyusup dan menjadi penumpang gelap pada pesawat Garuda Indonesia GA 177 rute Pekanbaru-Jakarta. Pemuda itu bersembunyi pada rongga ban pesawat. Tindakan Mario baru diketahui setelah pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Pemuda itu keluar dari rongga ban dalam keadaan terhuyung. Menurut juru bicara PT Angkasa Pura II, Achmad Syahir, tim investigasi telah diberangkatkan tadi pagi. “Kami akan melakukan evaluasi atas insiden ini,” ujarnya. Petugas pengelola Bandara yang terbukti lalai akan mendapat sanksi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Suprasetyo mengatakan pejabat pengelola Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru akan dimutasi menyusul penyusupan yang dilakukan Mario Steve Ambarita, 21 tahun, ke dalam rongga roda pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 177 rute Pekanbaru-Jakarta, Selasa, 7 April 2015. Pengelola Bandara Sultan Syarif Kasim II dianggap lalai dalam kasus penyusupan Mario itu.

“Direktur Utama Angkasa Pura II (Budi Karya Sumadi) sudah akan melaksanakannya,” kata Suprasetyo di kantornya, Jakarta, Rabu, 8 April 2015. Selain memutasi GM Sultan Syarif Kasim II, petugas keamanan bandara itu juga akan mendapat sanksi. Mutasi dan sanksi itu merupakan konsekuensi kelalaian pengelola Bandara karena Mario berhasil menyusup pada rongga roda pesawat. “Apa pun alasannya, pengelola lalai, baik itu lalai alat maupun operasi,” kata Suprasetyo.

Menurut Suprasetyo, dia sudah memanggil Budi Karya Sumadi dan PT Garuda Indonesia untuk membahas penyusupan Mario. Penyidik pegawai negeri sipil Kementerian Perhubungan juga disebut sudah memulai investigasi penyusupan itu. Sebelumnya, Mario menyusup ke dalam penerbangan Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 177 rute Pekanbaru-Jakarta kemarin. Mario menerobos Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, dan masuk ke rongga roda main landing gear. Setelah pemeriksaan di kantor Otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Mario diketahui menyusup saat pesawat sudah berada di ujung runaway 18 atau wilayah yang harus diamankan oleh pengelola Bandara. Mario masuk ke kawasan Bandara dengan melompat pagar—sekitar 300 meter dari terminal kargo Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru.

Warga asal Rokan Hilir, Riau, itu disebut sempat terpental karena terempas jet blast pesawat sebelum berhasil menyusup saat pesawat berada di ujung runaway 18. Mario baru diketahui menyusup setelah keluar dari rongga roda pesawat di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Selasa, 7 April 2015, pukul 16.57. Ketika itu, dia berjalan terhuyung dan telinga mengeluarkan darah. Saat ini Mario sedang menjalani pemeriksaan di kantor Otoritas Bandara Wilayah I Soekarno-Hatta.

Berangkat ke Jakarta dengan menyusup dalam roda pesawat Garuda GA 177, Mario Steven Ambarita tak bawa bekal banyak. Tiar boru Sitanggang, ibu penumpang gelap ini, mengaku anaknya tak pamit dan hanya minta uang Rp 200 ribu. Mario, kata Tiar, pamit meninggalkan rumah sejak Selasa, 31 Maret 2015, untuk ke Pekanbaru mencari pekerjaan. “Saat itu dia minta uang kepada saya Rp 200 ribu,” kata Tiar, Rabu, 8 April 2015. Menurut Tiar, Mario mengaku menginap di rumah temannya di Pekanbaru. “Katanya ada rumah temannya di sana,” kata warga Jalan Kapuas Ujung, Bagan Batu, Rokan Hilir, ini.

Namun, setelah di Pekanbaru, ujar Tiar, Mario tidak pernah menghubungi keluarganya. Tiar terkejut setelah mendengar informasi bahwa pada pukul 21.00, Selasa, 7 April 2015, ramai diberitakan bahwa seorang pemuda yang menyusup ke dalam rongga ban pesawat Garuda GA 177 rute Pekanbaru-Jakarta ternyata Mario. “Saya kaget, kenapa dia bisa senekat itu?” ujarnya. Mario akhirnya membuat berita heboh. Dia ditemukan petugas saat keluar dari dalam rongga pesawat Garuda Indonesia GA 177 yang berangkat dari Bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau, ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Selasa malam, 7 April 2015. Petugas apron Bandara Soekarno-Hatta kaget dengan ulah nekat pemuda tersebut. Mario langsung dibawa ke klinik untuk diperiksa kesehatannya

Tiar Boru Sitanggang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya setelah mengetahui pemuda yang menyusup dalam rongga ban pesawat Garuda GA 177 rute Pekanbaru-Jakarta adalah anak sulungnya, Mario Steven Ambarita, 21 tahun. Tiar mengaku sudah sepekan lebih Mario pergi meninggalkan rumah, tepatnya sejak Selasa, 31 Maret 2015. “Sudah satu minggu lebih dia pergi dari rumah,” kata Tiar sambil sesenggukan saat dihubungi, Rabu, 8 April 2015.

Menurut Tiar, saat itu Mario pamit pergi ke Pekanbaru untuk mencari pekerjaan. Mario juga berujar, selama di Pekanbaru, dia akan menginap di rumah temannya. Sejak pergi dari rumah, kata Tiar, Mario tidak pernah lagi menghubungi ibunya dan memberi tahu apakah sudah tiba di Pekanbaru atau belum. “Sejak di Pekanbaru dia tidak pernah menelepon saya,” ujarnya. Tiar terkejut saat mendengar pemberitaan di media massa kemarin malam, 7 April 2015, bahwa pemuda yang ditangkap di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Cengkareng, dalam keadaan sempoyongan ternyata Mario. “Saya terkejut dari berita-berita yang disampaikan orang bahwa yang ditangkap itu anak saya,” ucapnya.

Mario ditemukan petugas saat keluar dari rongga pesawat Garuda Indonesia GA 177 yang berangkat dari Bandara Sultan Syarif Kasim II, Riau, ke Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada Selasa malam, 7 April 2015. Kementerian Perhubungan akan mengaudit khusus standar keamanan Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru. Audit itu dilakukan karena pengelola dianggap lalai atas lolosnya Mario Steve Ambarita, 21 tahun, yang menyusup di rongga roda pesawat Garuda Indonesia rute Pekanbaru-Jakarta.

“Khusus untuk Pekanbaru. Audit sampai akhir pekan ini,” kata Direktur Keamanan Penerbangan Kementerian Perhubungan Yurlis Hasibuan di kantornya, Jakarta, Rabu, 8 April 2015. Sebelumnya, Mario menyusup dalam penerbangan Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 177 rute Pekanbaru-Jakarta pada Selasa, 7 April 2015. Mario melompat pagar dan menerobos masuk Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, dan masuk ke rongga roda pesawat. Warga asal Rokan Hilir, Riau, itu disebut sempat terpental karena terhempas jetblash pesawat. Namun ia berhasil menyusup di saat pesawat berada di ujung runway 18.

Mario baru diketahui menyusup setelah keluar dari rongga roda pesawat, kemarin, di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Selasa, 7 April 2015, pukul 16.57 WIB, dengan berjalan terhuyung dan telinga mengeluarkan darah. Saat ini Mario sedang menjalani pemeriksaan di kantor Otoritas Bandara Wilayah I Soekarno-Hatta.

Aksi nekat menyusup di rongga ban pesawat yang dilakukan Mario Steven Ambarita, 21 tahun, ternyata bukanlah yang pertama di Indonesia. Menumpang pesawat dengan cara mengerikan itu pernah juga dilakukan seorang pria asal Medan, Sumatera Utara. “Kejadiannya sekitar tahun 1990-an,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Israfulhayat, di kantornya, Rabu, 8 April 2015. Cara yang dilakukan pria itu juga sama: masuk ke rongga ban pesawat. Israfulhayat tidak bisa merinci secara detail kasus tersebut, “Karena sudah cukup lama kejadiannya,” katanya.

Menurut dia, pria itu menyusup di rongga ban pesawat Garuda Indonesia yang terbang dari Bandara Polonia, Medan, ke Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Sedangkan Mario menyusup masuk ke Bandara Sultan Syarif Hasim II, Riau, dengan cara melompat pagar. Ia kemudian menyusup ke rongga ban pesawat yang saat itu sedang bersiap tinggal landas.

Tiba di Soekarno-Hatta, Mario ditemukan petugas Aviation Security dalam kondisi lemas keluar dari ban pesawat Garuda Indonesia GA I77. Ia kemudian dilarikan ke Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Soekarno-Hatta untuk menjalani perawatan. “Di KKP hanya satu jam, ia sehat-sehat saja,” kata Israfulhayat.

Warung Vulgar Dengan Menu Cabul Di Sleman Diprotes Warga


Wakil Bupati Sleman Yuni Satiya Rahayu angkat bicara terkait warung bernuansa vulgar di wilayah kerjanya. Dia minta Satpol PP menindaklanjuti laporan keberatan dari masyarakat. “Kami mendukung laporan tersebut dan segera ditindaklanjuti,” kata Yuni Selasa (31/3/2015). Yuni meminta Satpol PP berkoordinasi dengan kepolisian agar masalah cepat terselesaikan. “Kami sudah koordinasikan dengan Pol PP untuk menindaklanjutinya,” tegas Yuni.

Di kesempatan terpisah, Polres Sleman mengaku telah menerima keberatan dari sejumlah pihak terkait warung vulgar. Mereka diminta memfasilitasi dengan pemilik. “Tidak dilaporkan. Hanya dari Pemda minta untuk difasilitasi dengan pemilik,” kata Kapolres Sleman AKBP Faried Zulkarnain ketika dikonfirmasi, Senin (30/3) malam.

Warung yang diprotes itu berada di jalan Selokan Mataram, dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Menu di warung ini aneh-aneh. Ada Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, dan minuman seperti Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas.

Di lembaran menu, pengeola menulis: “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”. Istilah-istilah ini dprotes oleh berbagai kalangan. Mulai dari dari KPAI hingga MUI. Istilah itu dianggap tak pantas digunakan di warung yang pembelinya, bisa jadi, anak di bawah umur.

Sebuah warung makan di Yogyakarta menuai kontroversi karena memiliki menu dengan nama-nama vulgar. Pengamat Sosial, MS Drajat, menilai fenomena tersebut berlawanan dengan norma sosial yang berlaku di Indonesia. “Bukan berati tidak boleh, tapi itu berlawanan secara sosial dengan norma yang ada karena itu menggunakan istilah vulgar,” ujar Drajat saat berbincang, Senin (30/3/2015). Drajat pun menilai penggunaan nama-nama vulgar pada menu makanan sangat tidak etis. Ia menyebut hal itu dilakukan pihak warung sebagai langkah untuk mecari sensasi.

“Kalau menurut saya cari sensasi dan tidak etis juga, karena kita tahu masyarakat kita adalah masyarakat yang normatif sehingga wajar kalau ada penolakan. Itu istilah-istilah khusus yang mungkin tidak layak,” kata Drajat. Memang jika dilihat sebagai strategi penjualan, menu bernuansa vulgar dinilai ampuh dilakukan karena sensasional dapat diraih. Namun Drajat mengingatkan mengenai pengunjung-pengunjung warung makan Kedai 24 yang masih di bawah umur.

“Kalau itu strategi penjualan memang mujarab, mantab lah apalagi itu diperlihatkan bagi pengunjung anak muda. Tapi kalau itu dibaca anak yang belum 17 tahun atau masih anak-anak, kan tidak enak. Itu tidak etis secara sosial,” tandasnya. Sebelumnya diberitakan, Warung Kedai 24 berada kawasan jalan Selokan Mataram dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Pada buku buku menu, item-item makanan disingkat dengan nama-nama bernada vulgar.

Seperti tulisan Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, kemudian minuman Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas. Harga di warung ini sama dengan warung biasa, berkisar harga mulai dari Rp 2.000-Rp 15.000.

Warung makan yang memiliki menu bernuansa vulgar di Yogyakarta menyita perhatian publik. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai seharusnya pelaku usaha tidak membuat istilah yang dapat menimbulkan pro dan kontra, terutama karena agama tidak menyukai segala sesuatu yang memiliki arti kurang baik.

“Harusnya nggak usah buat istilah yang menimbulkan pro dan kontra. Itu membangun masalah, agama kan tidak suka yang jelek-jelek, nama dan perilaku yang jelek, dalam agama kan dilarang,” ungkap Waketum MUI KH Ma’ruf Amin saat berbincang, Senin (30/3/2015). Ma’aruf menilai sebaiknya dalam menciptakan nama, termasuk menu makanan, alangkah lebih baik jika menggunakan nama-nama dengan konotasi positif. Sehingga tidak akan menimbulkan prasangka dari siapapun.

“Orang jadi bisa berpendapat macem-macem. Nama-nama seperti itu bisa menimbulkan orang yang tadinya suka (dengan warung makan) jadi nggak suka. itu kan bahasa-bahasa yang kurang patut,” katanya. “Sebaiknya jangan dipakai istilah itu, biasa-biasa aja lah. Kalau (makanannya) enak orang juga suka, nggak perlu namanya macem-macem sehingga bisa menimbulkan orang salah paham, marah, tersinggung,” sambung Ma’aruf.

Politisi PKB itu pun meminta agar Pemda setempat mengingatkan pemilik warung makan untuk mengganti nama-nama menu makanan yang dijualnya. “Perlu diingatkan oleh Pemda supaya mengganti istilah itu. Perlu dididik, sifatnya lebih bagaimana mengingatkan,” tandasnya.

Warung makan Kedai 24 di Yogyakarta menuai kontroversi karena penggunaan istilah-istilah vulgar di menu-menu makanannya. Seperti Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi), nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Juga ada nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, kemudian minuman Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas. Harga di warung ini sama dengan warung biasa, berkisar harga mulai dari Rp 2.000-Rp 15.000.

Warung dengan menu bernuansa vulgar di Yogyakarta menuai kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Sebagai pedagang, semestinya pemilik warung jangan mencari sensasi dengan membuat kata-kata vulgar. “Perlu kearifan dalam melakukan transaksi jual beli,” jelas Ketua KPAI Asrorun Niam, Senin (30/3/2015). “Nama itu menunjukkan apa yang dinamakan, bukan hanya sekedar mainan,” tambah Niam. Menurut Niam, menjual minuman non alkohol tetapi dengan nama bir tentu tidak diperkenankan.

“Demikian juga jual daging sapi tapi diberi nama daging babi tentu ini bermasalah. Ini juga tak baik bagi anak, bagaimana bila anak-anak yang datang ke warung itu?” tegas Niam. Warung yang bernuansa vulgar tersebut berada di jalan Selokan Mataram, dekat kawasan kampus di daerah Babarsari, Depok, Sleman. Satu lagi berada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Di lembaran menu tertulis “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”.

Kedai 24, warung dengan nama menu vulgar di Sleman, Yogyakarta, memunculkan kontroversi. Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman memprotes. Polisi sudah memediasi. Pengelola warung bersedia mengganti nama menu. “Sudah ada kesepakatan dan pertemuan secara tertutup yang kita fasilitasi bersama instansi lain yang terkait,” ungkap Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sleman, Aiptu Eko Mei kepada wartawan di Mapolres Sleman, Jalan Magelang, Sleman, Selasa (31/3/2015).

Menurut Eko, setelah ada surat resmi keberatan dari Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman, polisi langsung merespons. Mereka mempertemukan pihak-pihak terkait secara tertutup. Hal itu dilakukan agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. “Semua pihak sudah kita undang untuk melakukan mediasi. Proses mediasi dilakukan secara tertutup,” katanya.

Perwakilan warung ikut dalam pertemuan itu. Mereka diharuskan segera mengganti nama-nama daftar menu yang dinilai vulgar atau yang menjadi keberatan dari Forum Komunikasi Psikologi Puskesmas se-Kabupaten Sleman. Kesepakatan lain, pihak manajemen warung diberikan waktu selama 2 minggu terhitung sejak Senin (30/3) kemarin untuk mengganti nama menunya. Kesepakatan ini diambil sebagai langkah preventif sebab bisa memicu keresahan dan tindakan asusila.

“Kepolisian bersama Satpol PP, Babinkamtibmas, Polsek setempat akan terus mengawasi,” katanya. Menu di Kedai 24 memang terkesan vulgar. Ada Pelacur yang berarti Pemusnah Lapar Rasional dan Masturbasi (Mie Nasi Telur Bercampur dalam Satu Porsi). Ada nama artis Jepang, Miyabi (Mie Yang Tak Biasa). Ada juga nasi goreng Gigolo (Gerombolan nasi Goreng sesuka Lo), sosis, dan minuman seperti Milk Sex, Smoothy Orgasm, Warna-warni minuman Horny atau panas.

Di lembaran menu, pengeola menulis: “Banyak istilah yang kami gunakan bernuansa vulgar. Maknai itu hanya sebagai istilah. Bukan bermaksud kami mengajari cabul. Kami hanya ingin mengajak anda untuk melihat banyak hal dari banyak sisi. Karena kami sadar keberagaman adalah anugerah”.

Bali Reggae Star Festival Digelar Di Padanggalak Bali


Bali Reggae Star Festival akan kembali digelar di pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar, Jumat, 6 Februari 2015. Acara musik tahunan yang digelar untuk kedua kalinya itu bakal menampilkan beragam musisi reggae.

Bali Reggae Star Festival dipromotori oleh Antida Music dan Pregina OMS . Acara akan digelar dengan skala yang lebih besar dibanding tahun lalu, baik dari pemilihan tempat acara, desain panggung dan tata suara, maupun pengisi acara.”Kami punya dan ingin menyebarkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang merupakan ciri khas Indonesia dengan pagelaran musik reggae ,” ujar Anom Darsana dari Antida Music , selasa, 3 februari 2015.

Senada dengan Anom, Agung Bagus Mantra dari Pregina mengatakan sebagai manusia yang hidup dalam keberagaman, ada banyak cara yang dapat diciptakan untuk mempersatukan keberagaman tersebut. Salah satunya melalui musik reggae. “Tidak terbatas pada genre musik, reggae menjelma menjadi perspektif nilai dalam memandang hidup dengan cara yang lebih santai, sederhana dan bersahabat,” kata pria yang akrab disapa Gus Mantra ini.

Ia menuturkan, sebagai musik yang sudah mendunia, walaupun kental dengan tradisi Jamaika, reggae dalam perkembangannya tidaklah berdiri sendiri. Warna reggae merupakan suatu proses elaborasi dari berbagai elemen kebudayaan khususnya musik yang menyajikan suatu harmoni khas kebersamaan. Menurut Gus Mantra, banyak musisi reggae berminat meramaikan perhelatan ini. Tidak hanya musikus dari Bali, namun juga musikus nasional yang sudah punya nama, seperti Tony Q Rastafara, Steven Jam, Jony Agung & Double T, Aray Daulay, dan Jalie.

Dari barisan Bali Reggae Movement akan tampil D’sunshine, The Small Axe, Revelation, Cigareggae, Vermilion, Dancehall Brothers, Kecap Asin Rastapora, The Mangrooves, dan Bobidinar Project . Bakal tampil pula DJ Soundbwoy Dodix. Sejumlah komunitas juga ikut mendukung acara, seperti 5:30 vespa community, komunitas fotografer dan beberapa komunitas seni di Bali.

Memasang tagline A Tribute To Bob Marley karena acara diadakan tepat di hari kelahiran legenda musik reggae Bob Marley , Bali Reggae Star Festival 2015 berlangsung dari jam 3 sore hingga tengah malam.

Sebagian besar keuntungan dari acara ini rencananya akan disumbangkan ke Yayasan Manik Bumi yang bergerak di lingkungan dan penanggulangan sampah plastik di Bali. “Kami akan menyumbangkan 100 tempat sampah yang akan disebarkan di pinggir pantai di bali dan juga sumbangan ke Yayasan Anak Cacat yang sudah ditunjuk oleh panitia,” ujar Anom Darsana.