Category Archives: Kriminalitas

Kakek Bawa Cucu Kerumah Sakit Ditabrak Pemobil Hingga Tewas Dengan Dalih Dikira Perampok


Eduard Situmorang (75) yang menumpang mobil Toyota Calya bergegas membawa cucunya yang sakit ke rumah sakit. Mobilnya menyalip Honda City yang dikendarai Ashari (36). Mereka salip-salipan, lalu kakek itu menegur hingga akhirnya tewas tertabrak Ashari.

Peristiwa ini terjadi pada Selasa 4 April 2017 lalu. Kejadian berawal saat Eduard menumpang mobil Toyota Cayla bernopol B 1208 COE yang dikemudikan putranya, Arlon Situmorang. Di saat bersamaan, mobil Honda City melaju dari arah Sagiang menuju Tangerang.

Mobil Eduard kemudian menyalip kedaraan Ashari. Tidak terima disalip, mobil Honda City itu kembali mengejar mobil Cayla dan menyalipnya. Salip-salipan pun terjadi, hingga akhirnya Eduard turun dari mobil.

Eduard turun dari mobil berniat hendak menegur Ashari. Saat itu, posisi Eduard sudah berhenti di depan mobilnya. Tragisnya, Eduard ditabrak Ashari hingga tewas. “Kan dia sudah lihat korban berdiri, kenapa masih ditabrak juga. Kakek ini buru-buru karena bawa cucunya yang lagi sakit step,” ujar Kasat Lantas Wilayah Tangerang AKBP Ojo Ruslani.

Usai menabrak, Ashari tancap gas alias kabur dan dikejar warga. Ashari panik lalu menabrak motor dan mobil Toyota Avanza yang ada di depannya, hingga akhirnya Ashari memberhentikan mobilnya. Warga yang emosi kemudian memukuli Ashari. Ashari lalu diamankan warga sekitar 200 meter dari lokasi semula saat menabrak Eduard.

Saat ini, Ashari sudah diamankan di Polsek Karawaci, Tangerang. Ashari beralasan menabrak Eduard karena mengira hendak merampoknya. “Alasannya karena mengira kalau korban mau merampok dia, tetapi kan korban juga nggak bawa senjata, kalau alasannya dia begitu,” ujar Kapolsek Karawaci Kompol Munir Yaji.

Akibat dari perbuatannya, Ashari dijerat dengan pidana pembunuhan. Dia dikenai Pasal 338 juncto Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang pembunuhan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan orang lain tewas. Eduard Situmorang tewas seketika setelah ditabrak pengemudi mobil Honda City di Jl Gatot Subroto, Karawaci, Tangerang. Kakek berusia 75 tahun itu saat itu membawa cucunya yang sedang sakit.

“Kakek ini buru-buru karena bawa cucunya yang lagi sakit step,” ujar Kasat Lantas Wilayah Tangerang AKBP Ojo Ruslani. Saat itu Eduard menumpang mobil Toyota Cayla bernopol B 1208 COE yang dikemudikan putranya, Arlon Situmorang. Di saat bersamaan, mobil Honda City melaju dari arah Sagiang menuju Tangerang.

“Karena buru-buru, mobil Cayla ini menyalip mobil Honda City,” ujarnya. Tidak terima disalip, mobil Honda City itu kembali mengejar mobil Cayla dan menyalipnya. Salip-salipan pun terjadi, hingga akhirnya Eduard turun dari mobil. “Kakek ini bermaksud menegur pengemudi mobil Honda City, Ashari (36), tetapi malah ditabrak hingga tewas,” ungkapnya.

Setelah menabrak Eduard, Ashari kemudian melarikan diri. Warga kemudian berhasil mengamankannya sekitar 200 meter dari lokasi kejadian. Ashari kini diamankan di Polsek Karawaci. Eduard Situmorang (75) tewas tertabrak mobil Honda City yang dikendarai Ashari (36). Pengemudi mobil Honda City itu beralasan menabrak Eduard karena mengira korban hendak merampoknya.

Tidak hanya itu, Ashari juga menabrak kendaraan lainnya saat mencoba melarikan diri karena panik. Belajar dari peristiwa tersebut, Kasatlantas Polres Tangerang AKBP Ojo Ruslani mengimbau kepada pengendara supaya mengontrol emosinya saat berkendara.

“Imbauan saya lebih ke menjaga emosi saat berkendara. Kehati-hatian itu boleh, tetapi emosi mesti dikontrol,” ujar Ojo. Ojo menyayangkan insiden tersebut. Peristiwa bermula dari salip-menyalip antara mobil yang dikemudikan Ashari dengan mobil Toyota Cayla yang ditumpangi Eduard.

“Saya mengimbau kepada seluruh pengendara agar lebih berhati-hati dan menjaga emosi saat macet, atau saat salip-menyalip. Kalaupun ada kecurigaan dia akan dirampok, kenapa mesti balap-balapan? Kalau memang ada ketakutan, mestinya tidak menyalip,” jelas Ojo.

Ojo juga menyarankan kepada pengendara untuk menghubungi kantor polisi terdekat apabila ada kejadian yang mencurigakan. “Lebih baik juga kita melapor ke kantor polisi terdekat jika ada kejadian,” pungkas Ojo. Sebelumnya, peristiwa itu terjadi di Jl Gatot Subroto, Karawaci, Tangerang pada Selasa (4/4) lalu. Sebelumnya, mobil Calya yang ditumpangi korban salip-salipan dengan mobil pelaku.

Tidak terima disalip mobil korban, pelaku menyalipnya kembali. Aksi saling salip pun terjadi. Sampai akhirnya Eduard turun dari mobil lalu ditabrak pelaku. Eduard saat itu bersama putranya dan juga cucunya. Arlon, putra Eduard buru-buru menyalip mobil Honda City karena sedang membawa anaknya atau cucu Eduard ke rumah sakit.

Saat ini, Ashari sudah diamankan di Polsek Karawaci. Akibat dari perbuatannya, Ashari dikenakan dengan pidana pembunuhan. “Yang bersangkutan kami kenai Pasal 338 juncto Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang pembunuhan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan orang lain tewas,” kata Kapolsek Karawaci Kompol Munir Yaji

Polsek Karawaci telah mengamankan Ashari (36), pengemudi mobil Honda City yang menabrak mati Eduard Situmorang (75). Ashari dijerat dengan pidana pembunuhan.

“Yang bersangkutan kami kenai Pasal 338 juncto Pasal 351 ayat (3) KUHP tentang pembunuhan dan atau penganiayaan yang mengakibatkan orang lain tewas,” ucap Kapolsek Karawaci Kompol Munir Yaji.

Munir menjelaskan pihaknya menerapkan pasal pembunuhan karena melihat adanya unsur kesengajaan menghilangkan nyawa korban dalam insiden tersebut. Korban posisinya saat itu berada di depan mobil tersangka.

“Korban sudah berdiri di depan mobil tersangka, tetapi tetap ditabrak dengan alasan mengira korban hendak merampok. Padahal. korban juga tidak membawa senjata apa-apa, kalau alasannya mau merampok,” paparnya.

Ashari kini ditahan di Mapolsek Karawaci. “Sudah kami tahan,” tuturnya.

Eduard turun dari mobil Toyota Calya lalu menghampiri mobil pelaku. Dia saat itu bermaksud untuk menegur pelaku. Namun pelaku langsung menabraknya hingga tewas.

Peristiwa itu terjadi di Jl Gatot Subroto, Karawaci, Tangerang pada Selasa (4/4) lalu. Sebelumnya, mobil Calya yang ditumpangi korban salip-salipan dengan mobil pelaku.

Tidak terima disalip mobil korban, pelaku menyalipnya kembali. Aksi saling salip pun terjadi. Sampai akhirnya Eduard turun dari mobil lalu ditabrak pelaku.

Eduard saat itu bersama putranya dan juga cucunya. Arlon, putra Eduard buru-buru menyalip mobil Honda City karena sedang membawa anaknya atau cucu Eduard ke rumah sakit. Ashari (36), pengemudi Honda City B 1006 CES berusaha melarikan diri setelah menabrak Eduard Situmorang (75). Ashari mengemudikan mobil dengan ugal-ugalan hingga menabrak motor dan mobil di dekat lokasi.

“Setelah nabrak kakek itu, mobil Honda City ini kabur dan dikejar warga,” ujar Kasat Lantas Wilayah Tangerang AKBP Ojo Ruslani.Saat dikejar warga, Ashari panik. Dia lalu menabrak sejumlah kendaraan yang ada di depannya.”Setelah dikejar warga, dia sempat menabrak motor dan mobil Toyota Avanza, baru setelah itu berhenti mobilnya,” ungkapnya.Warga yang emosi kemudian memukuli Ashari. Ashari diamankan warga sekitar 200 meter dari lokasi semula saat menabrak Eduard.

“Sekarang orangnya diamankan di Polsek Karawaci karena kalau kami lihat tidak ada unsur laka lantasnya, tetapi lebih kepada pidananya,” tandasnya. Eduard Situmorang tewas setelah ditabrak Ashari, pengemudi mobil Honda City bernopol B 1006 CES. Kakek itu ditabrak saat turun dari mobil Toyota Cayla B 1208 COE dan hendak menegur pelaku.

“Jadi awalnya itu kan mobil Honda City ini disalip mobil Cayla, enggak terima mobil Honda City ini lalu ngejar si kakek,” ujar Kasat Lantas Wilayah Tangerang AKBP Ojo Ruslani. Karena disalip oleh mobil Honda City, mobil Cayla yang dikemudikan oleh anak Eduard kemudian kembali menyalipnya. Setelah itu, Eduard turun dari mobil dan menghampiri mobil Honda City.

“Setelah dua kali kejar-kejaran, turunlah si kakek ini dari mobil Cayla. Saat itu hendak menegur pengemudi mobil Honda City itu,” ungkapnya. Ashari menabrak Eduard dengan kencang. Eduard terpental ke jalan dan kepalanya terbentur aspal. Eduard tewas seketika di lokasi kejadian. “Kemudian setelah menabrak itu mobil Honda City kabur dan bisa diamankan oleh warga 200 meter dari lokasi kejadian,” tutupnya.

Ahli Patologi Forensik RSCM Tegaskan Mirna Meninggal Bukan Karena Sianida


Ahli patologi forensik RSCM Djadja Surya Atmadja menegaskan penyebab kematian Wayan Mirna Salihin bukan karena sianida. Hal tersebut lantaran tak ditemukannya sianida di lambung dan sejumlah organ tubuh Jessica yang lainnya. “Barang bukti 4 (cairan lambung) negatif berarti tidak ada sianida. Di lambung tidak ada sianida, di hati tidak sianida dan tiosianat, di empedu dan urine juga tidak ada sianida, di darah katanya sih tidak diperiksa. Dengan hasil pemeriksaan ini, apa kesimpulan saudara?” tanya pengacara Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan, dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).

“Matinya bukan karena sianida,” jawab Djadja. Jawaban Djadja sontak membuat sejumlah hadirin sidang bersorak. Djadja menjelaskan, dalam tubuh manusia ada enzim rodanase yang bertugas mengurai sianida menjadi zat yang tidak berbahaya. “Di dalam tubuh kita ada mekanisme detoksifikasi, penghancuran sianida menjadi tidak beracun. Di sekeliling kita banyak sianida, dari rokok ada sianida, dari orang membakar sampah ada sianida. Di kopi ada sedikit, di teh ada, di tanah di mana-mana ada. Tuhan naruh enzim rodanase di dalam liver. CN diubah menjadi tiosianat atau CNS atau barang tidak beracun,” tutur Djadja.

“Kalau seseorang keracunan sianida jelas di lambungnya harus ada sianida dalam jumlah cukup banyak yang mematikan. Kedua dia akan masuk ke liver, maka di liver di hati harus ada sianida. Jadi kalau benar itu suatu keracunan sianida yang masif mestinya di lambung ada sianida, di hati dan darah ada sianida dan tiosianat, di dalam urine serta liur itu ada tiosianat,” jelasnya.

Jaksa penuntut umum terlibat perdebatan dengan ahli forensik RSCM Djaja Surya Atmadja terkait pendapat yang disampaikan Djaja. Dia mengatakan, seandainya Mirna meninggal karena sianida, maka di bagian dalam bibirnya akan berwarna kemerahan bukan kebiruan. Sedangkan berdasarkan hasil visum et repertum, bibir bagian dalam Mirna adalah berwarna kebiru-biruan.

“Diagnosis dokter, ada orang sehat tiba-tiba meninggal, kontak itu tugas penyidik apakah dia minum atau tidak. Kemudian ada gejala sesuai kalau orangnya sudah mati kita tidak bisa kita lihat, kecuali ada temuan autopsi, ada temuan racun dalam tubuh. Kita lihat mayatnya bagian dalam berwarna kebiruan. Pada sianida mestinya merah Pak bukan biru,” kata Djaja.

Hal tersebut disampaikan Djaja saat bersaksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016). Jaksa Sugih Carvalho selanjutnya bertanya kenapa Djaja kenapa bisa berbeda pendapat dengan saksi ahli sebelumnya, yang menyebutkan bagian dalam bibir Mirna kebiru-biruan. “Apakah saudara juga bisa beprendapat padahal saudara tidak melakukan?” ujar Djaja.

Djaja menjawab apa yang dia sampaikan adalah kesesuaian.

“Begini ya. Bapak salah…” jawab Djaja.

Jawaban Djaja kemudian dipotong jaksa Sugih.

“Kenapa salah? Saya di sini jaksa penuntut umum. Bapak jangan sembarangan ngomong,” potong Sugih. Pengacara Jessica, Otto Hasibuan, coba melerai dengan mengatakan bahwa sebagai saksi ahli Djaja hanya menyampaikan pendapatnya. “Lah iya, dia menguji atau tidak. Dalam visum et repertum, dikatakan ada gejala kebiruan, kok saudara mengatakan kemerahan. Apa? terhadap jasad siapa itu?” tutur jaksa Sugih dengan nada meninggi.

“Saya ngomongnya begini, dokter kalau menafsirkan visum hasil pemeriksaan orang kita anggap ini benar. Artinya benar bibirnya kebiruan, benar ketemunya erosi dan segala macam. Cuma sekarang kan saya diminta pendapatnya apakah ini cocok tidak dengan sianida. Saya ngomongnya berdasarkan ilmu pak,” tanggap Djaja.

Saksi ahli kedua yang dihadirkan pengacara Jessica Kumala Wongso adalah Djadja Surya Atmadja. Djadja merupakan ahli patologi forensik RSCM sekaligus Doktor DNA pertama di Indonesia yang lulus dari Kobe University Jepang tahun 1995 silam. Djadja menjadi saksi yang meringankan untuk Jessica Kumala Wongso dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016). Djadja menyebut telah ratusan ribu jenazah yang telah ia lakukan autopsi.

Sejumlah kasus yang pernah ditangani Djadja di antaranya jenazah mahasiswa Indonesia yang jatuh di Singapura, David Hartanto, dan identifikasi jenazah serdadu jepang terkait perang dunia II yang ditemukan di Papua. Ia juga turut membantu menangani kasus Bom Bali I tahun 2002 silam. Pertama-tama Djadja ditanya pengacara Jessica terkait autopsi secara umum. Menurutnya, tugas dokter forensik sangat vital dalam menentukan seseorang bersalah atau tidak atau menentukan penyebab kematian seseorang.

“Dokter forensik adalah orang yang secara hukum oleh polisi. Kalau polisi meminta pemeriksaan luar dalam maka dilakukan pemeriksaan luar dalam. Kalau diminta pengambilan sampe saja, kalau polisi membatalkan, harus ada surat pembatalan,” ujar Djadja.

“Tujuan kita adalah pembuktian, satu prinsip kita harus memiliki kepastian untuk menentukan seseorang bersalah atau tidak. Di situ tanggungjawabnya besar,” jelasnya. Ahli patologi forensik RSCM Djaja Surya Atmadja menyebut Wayan Mirna Salihin meninggal dunia bukan disebabkan oleh sianida. Djaja berpatokan pada sianida di lambung Mirna yang tak mencapai kadar minimal untuk bisa membuat seseorang meninggal.

Berdasarkan BAP, dalam lambung Mirna ditemukan 0,2 mg/liter sianida. Sedangkan menurut Djaja, kadar minimal sianida yang dapat menyebabkan kematian adalah 150-250 mg/liter. “Dalam literatur mengatakan sianida yang bisa bikin mati dalam bentuk natrium atau kalium adalah 150-250 mg. Kalau dia masuk ke dalam lambung, akan terencerkan oleh asam lambung. Cairan lambung rata-rata 100 cc. Kalau itu memang ada, baunya pasti tercium,” kata Djaja dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).

“Dalam kasus ini dinyatakan, berdasarkan kesaksian Nursarman, yang dihitup oleh Mirna jumlahnya 298 mg sianida. Di gelas 7400 mg dan 7900 mg. Seandainya jumlah ini dimasukan dalam kopi susu apa yang terjadi?” tanya pengacara Jessica, Otto Hasibuan. Menurut Djaja hal tersebut tidak mungkin. Jangankan 7000 mg, 10 mg saja bisa membuat seseorang tak sadarkan diri.

“Kalau jumlahnya benar 7000 sekian mg/liter, dalam radius 500 meter orangnya pada pingsan semua. Dalam penelitian saya 10 mg saja sudah bikin dia teler. Enggak mungkin. Jangan (diuji) bahaya,” tutur Djaja. Djaja menambahkan, seandainya sianida habis di lambung, maka kemungkinan masih akan ditemukan di liver. “Kalau seandainya di lambung itu kita berargumen sudah habis di lambung dia masuk ke liver, di liver masih ada sianida dan tiosianat,” terang Djaja.

“Ada nilai normal sianida dalam darah, itu sebabnya tuhan memberikan enzim tadi (rodanase). Ada sianida sedikit tidak apa-apa. Baru bisa bikin prang mati kalau masuknya begitu banyak sehingga sianida meracuni tubuh. Artinya kalau itu tidak ada di lambung aetinya tidak ada sianida yang masuk ke lambung,” tuturnya.

Ahli patologi forensik RSCM Djaja Surya Atmadja yakin 0,2 mg/liter sianida di lambung Wayan Mirna Mirna bukan karena sengaja dimasukan dari luar tubuh. Djaja membuka kemungkinan sianida tersebut bisa saja dihasilkan akibat proses pembusukan. “Poses pembusukan dalam literatur dikatakan dapat menghasilkan sianida dalam dosis sangat kecil, dan 0,2 mg. ini menurut saya sangat kecil,” kata Djaja dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (7/9/2016).

Kemungkinan lain sianida tersebut bisa saja berasal dari formalin saat jenazah Mirna diawetkan. Djaja mengatakan, dosis minimal untuk menyebabkan seseorang meninggal adalah 150 mg/liter. “Semestinya di lambung 150 mg/liter, kadar segitu kalau turun jadi 0,2 mg itu terlalu drastis. Harus diisi air bergalon-galon, kalau jadi 0,2 mg itu 300 kali pengenceran” ujar Djaja.

“Kalau terlalu kecil begitu, kesimpulan saya sebagai seorang ahli forensik, itu tidak mungkin ada sianida yang masuk,” jelasnya. Djaja menambahkan sebaiknya memang dilakukan autopsi terhadap jenazah Wayan Mirna. Seandainya sianida habis menguap di lambung, maka kemungkinan masih akan ditemukan di liver.

“Kalau seandainya di lambung itu kita berargumen sudah habis di lambung dia masuk ke liver, di liver masih ada sianida dan tiosianat,” terang Djaja. Sidang kasus pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso, berlangsung panas. Bahkan majelis hakim sampai menskors sidang karena suasana di ruang sidang sangat gaduh. Adu argumen jaksa penuntut umum dengan pengacara tak terelakkan lagi.

Riuhnya ruang sidang, terjadi ketika jaksa mencecar saksi ahli patologi forensik RSCM Djadja Surya Atmadja, yang dihadirkan oleh pihak Jessica Kumala Wongso. Jaksa bertanya soal dari mana data yang diperoleh saksi ahli. “Anda tahu gak sih apa yang Anda analisa?” tanya jaksa Sandi ke saksi ahli di persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), Jl Bungur Besar Raya, Rabu (7/9/2016).

“Dari visum,” ujar Surya menjawab terbata-bata.

Karena menjawab terbata-bata, jaksa kembali mencecar Surya. Bahkan jaksa meragukan Surya tidak mengerti dengan pertanyaan penuntut umum. “Jangan-jangan saudara tidak mengerti apa yang saya tanyakan. Saudara mengerti tidak?” tanya penuntut umum dengan nada cukup tinggi. Pertanyaan jaksa itu membuat kuasa hukum Jessica, Otto Hasibuan keberatan. Berkali-kali Otto, mengaku keberatan ke majelis hakim. Dia bahkan meminta hakim untuk menegur jaksa supaya tidak membentak saksi ahli.

“Tolong hormati saksi ahli, jangan bentak-bentak begitu,” ucap Otto yang mengundang reaksi pengunjung sidang. Para pengunjung sidang ada yang bersorak bahkan ada yang sampai menunjuk-nunjuk para pihak berpekara. Jaksa pun langsung menyanggah pernyataan Otto. “Anda ingat tidak yang Anda analisa. Saya tidak tanya pengacara. Tolong hargai saya juga,” tegas jaksa Sandi.

“Hormati saksi saya!” Sanggah Otto ke Sandi dengan nada keras. Ketua majelis hakim Kisworo berinisiatif menjadi penengah sidang. Karena ruang sidang sudah sangat gaduh, Kisworo memilih menghentikan sidang untuk sementara. “Dengan ini sidang diskors hingga pukul 19.00 WIB!” tutup Kisworo mengakhiri kegaduhan pukul 17.50 WIB.

Terkuatnya Pembunuhan dan Pemerkosaan Pasangan Kekasih Yang Direkayasa Jadi Kecelakaan Lalu Lintas


Awalnya, pasangan kekasih RR (16) dan V (16) disimpulkan sebagai korban kecelakaan lalu lintas. Keluarga dan polisi sepakat. Namun ternyata keduanya korban penganiayaan geng motor. Bagaimana cerita terkuaknya ‘fakta’ itu? Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar menceritakan, Sabtu (27/8) lalu, mayat RR dan V ditemukan di dekat jembatan fly over Desa jembatan Desa Kepongpongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. Keduanya tersungkur di aspal.

Polisi dan keluarga korban sepakat RR dan V itu meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Disebutkan, sejoli itu menabrak tiang listrik setelah korban hilang keseimbangan. Keduanya tewas di tempat. Namun anggota Polresta Cirebon menaruh curiga atas luka yang didera oleh korban pria (RR). Bentuk luka tidak seperti bekas kecelakaan lalu lintas. Selanjutnya, ada teman yang melapor ke polisi soal kejadian sebelum RR dan V ditemukan menjadi mayat.

“Dalam tiga hari, anggota kami terus bekerja dan ternyata kecurigaan kami benar. Mereka tewas dibuang bukan kecelakaan. Karena luka yang ada di tubuh pria sangat tidak wajar untuk kecelakaan,” terang Indra di Mapolda Jabar, Jumat (2/9/2016) 8 Anggota geng motor ditangkap di tempat biasa nongkrong. 3 Lainnya diburu.

Ternyata penganiayaan itu dilatari dendam lama. Pelaku dan korban pernah dalam satu kelompok geng. Mereka bertemu di depan SMP 11 Kali Tanjung. Mereka berhasil kabur dan dikejar pelaku hingga dipepet lalu dipukul menggunakan bambu. “Setelah jatuh mereka dibawa ke tempat gelap. Mereka dianiaya, yang pria dikeroyok. Ada yang menggunakan batu, ada yang memakai pedang samurai. Dan yang wanita diperkosa lalu dianiaya sampai tewas,” beberr Indra

Mereka dikenakan pasal berlapis sesuai peran. Ada yang dijerat pasal pembunuhan berencana. Ada juga pasal pemerkosaan dan pengeroyokan. Ancaman hukumannya minimal 20 tahun. 1 Anggota geng motor di Cirebon disangka terlibat dalam pembunuhan dan pemerkosaan, RR (pria) dan V. 8 Orang di antaraya sudah ditangkap, 3 masih masih buron.

RR dan V sempat dikira korban kecelakaan. Sebab, menurut Kabidhumas Polda Jabar, Kombes Yusri Yunus, kedua korban ditemukan di jembatan flyover Kepongpongan, Cirebon, Sabtu (27/8). Ada beberapa luka di tubuh mereka seperti korban kecelakaan lalu lintas. Kecurigaan muncul saat kedua korban hendak dimakamkan. Ditambah lagi, beberapa teman korban menyebut korban dianiaya sekelompok anggota geng motor.

Pembunuhan sadis berawal saat 2 korban dan teman-temannya melintas di SMP 11 Kali Tanjung, Cirebon. Entah bagaimana ceritanya, korban dilempari batu oleh sekelompok anggota geng motor Moonraker. Korban dan teman-temannya tunggang langgang. Nah, korban yang berboncengan terpisah dari temannya. Lalu dipukul pakai bambu dan dibawa ke tempat sepi oleh para pelaku. Di situlah, RR yang merupakan anggota Sat Narkoba Polres Cirebon ini dianiaya hingga tewas. V menerima perlakuan lebih sadis lagi: diperkosa oleh pelaku.

“RR diduga dianiaya, dikeroyok juga, ada juga bekas benda tajam kayak luka bacok di bagian belakang dekat punggung korban. Korban V diperkosa dan ada penganiayaan juga,” ujar Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar di Mapolda Jabar, dalam rangka perayaan HUT Polwan tingkat Polda Jabar, Jumat (2/9/2016). Tak berhenti di situ, untuk menghilangkan jejak, pelaku membuang mayat korban ke jembatan Kepongpongan. Maka itu, kedua korban sempat dikira korban kecelakaan lau lintas.

Setelah dipastikan RR dan V bukan korban kecelakaan, polisi bergerak. 8 Anggota, yakni Jaya (23), Supriyanto (19), Eka Sandi (23), Hadi Saputra (23), Eko Ramadani (27), Sudirman, Saka, dan Rifalso Wardhana, ditangkap di dekat SMP 11 Kali Tanjung, Rabu (31/8/2016). “Itu tempat berkumpulnya anggota geng motor Moonraker,” jelas Indra.

3 Pelaku lainnya kini diburu. Mereka dikenakan pasal berlapis sesuai peran. Ada yang dijerat pasal pembunuhan berencana. Ada juga pasal pemerkosaan dan pengeroyokan. Ancaman hukumannya minimal 20 tahun. RR (16) dan V (16) dibunuh secara keji oleh sekelompok geng motor di Cirebon. Mayatnya dibuang di wilayah Talun, Kabupaten Cirebon. Dalam menganiaya kedua korban tersebut mereka menggunakan senjata tajam berupa pedang samurai dan batu.

Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar mengatakan, saat kedua pasangan ini melintas di depan SMP 11 Kali Tanjung yang tak jauh dari tempat nongkrong para pelaku ini, mereka dilempari batu kecil.Mereka berhasil kabur dan dikejar pelaku hingga dipepet lalu dipukul menggunakan bambu. Mereka tersungkur ke aspal jembatan Desa Kepongpongan, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon. “Setelah jatuh mereka dibawa ke tempat gelap. Mereka dianiaya, yang pria dikeroyok ada yang menggunakan batu untuk dipukul ke badannya terus mendapatkan luka bacok di bagian belakang, dan yang wanita diperkosa lalu dianiaya sampai tewas,”ujar Indra di Mapolda Jabar, Jumat (2/9/2016).

Saat ini, 8 orang yang disangka terlibat dalam pembunuhan itu sudah ditangkap. Tiga lainnya masih diburu. “Kami masih terus periksa, nanti perkembangannya kita sampaikan lagi,” tutupnya. 8 Dari 11 anggota geng motor yang diduga terlibat dalam kasus penganiayaan sepasang kekasih, RR (16) dan V (16), ditangkap. Kepada polisi, mereka mengaku bertindak brutal karena dendam lama.

“Mereka mengakui perbuatannya. Dari hasil pemeriksaan sementara, motifnya karena dendam lama. Mereka (korban) ini kan mantan anggota geng motor,” ujar Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar di Mapolda Jabar, Jum’at (2/9/2016). Tak dijelaskan, ada masalah apa antara pelaku dan korban. Sabtu (27/8) malam, para pelaku melihat korban melintas bersama teman-temannya di depan SMP 11 Kali Tanjung, Cirebon. Pelaku melempari korban dengan batu. Korban dan teman-temannya kocar-kacir.

Korban RR dan V yang berboncengan pakai motor terpisah dari rombongan dan dianiaya hingga tewas di sebuah lahan kosong yang gelap tak jauh show room mobil bekas di Jalan Perjuangan Kota Cirebon. Ada luka bacok di tubuh RR. Sedangkan, V, selain dianiaya juga diperkosa. Menurut Indra, sebetulnya geng motor Moonraker sudah bubar sejak lama. Namun sebagian masih kerap berkumpul. Polisi masih mengejar 3 pelaku lain dalam kasus ini.

“Yang tiga orang ini tidak ada di lokasi saat 8 pelaku diamankan,” tutup Indra yang hadir di Mapolda Jabar untuk mengikuti peringatan HUT Polwan ini. Polresta Cirebon terus menyelidiki kasus pembunuhan seorang remaja pria inisal RR yang merupakan anak polisi dan teman wanitanya, V. Polisi tengah bergerak untuk mengejar pelaku yang ikut terlibat aksi brutal terhadap sejoli tersebut.

Keduanya dibunuh secara keji oleh anggota geng motor Moonraker. Korban dieksekusi para pelaku di Jalan Perjuangan depan SMP 11 Kali Tanjung, Cirebon. Pelaku mengeroyok RR hingga tewas. Sementara V tewas setelah diperkosa secara bergiliran oleh para pelaku. “RR diduga dianiaya, dikeroyok juga, ada juga bekas benda tajam kayak luka bacok gitu di bagian belakang dekat punggung korban. Kalau V ini diperkosa dan ada penganiayaan juga,” ujar Kapolresta Cirebon AKBP Indra Jafar saat ditemui di Mapolda Jabar, dalam rangka perayaan HUT Polwan tingkat Polda Jabar, Jumat (2/9/2016)

Indra menyebut telah menangkap delapan orang dari total 11 pelaku yang melakukan penganiayaan dan pemerkosaan terhadap RR dan V. “Masih ada 3 yang buron, karena kan ini awalnya dikira kecelakaan lalu lintas pertamanya, ternyata setelah diselidiki mereka betul korban pembunuhan,” lanjutnya. Kedelapan orang yang ditangkap, saat itu, tengah berkumpul di dekat SMP 11 Kali Tanjung. Lokasi tersebut menurut Indra merupakan tempat berkumpulnya para anggota geng motor Moonraker.

“Mereka ditangkap saat sedang berkumpul, karena kita pantau juga sebelumnya,” kata dia. Saat ini langkah kepolisian masih terus melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka dan beberapa saksi. Termasuk rencananya pada hari ini, pihak penyidik dari Polresta Cirebon akan melakukan autopsi. Dirinya mengklaim jika, pihak keluarga telah menyetujui untuk mengangkat kembali kedua jenazah yang telah dikebumikan.

“Untuk persyaratan atas prosedur pelaksanaan autopsi rencananya akan dimulai pada hari ini. Untuk proses autopsi nya akan segera dilakukan secepatnya,” kata dia. Para pelaku akan dikenakan pasal berlapis. Tidak menutup kemungkinan kedelapan pelaku ini akan mendekam di balik jeruji besi dalam waktu yang lama.

“Kalau pasal kita kenakan berlapis, ada kita kenakan pasal pembunuhan berencana, pemerkosaan, pengeroyokan, belum lagi unsur lainnya kalau terbukti. Penjaranya itu 20 tahun, itu minimal yah,” pungkasnya. Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Bambang Waskito berang akibat ulah para aksi kejahatan jalanan, yang dilakukan oleh sekelompok geng motor Moonraker di Cirebon. Mereka menganiaya RR dan melakukan pemerkosaan terhadap V, kekasih korban.

“Saya sudah instruksikan secara langsung kepada anggota di sana tidak lanjuti kasus tersebut,” ujar Bambang saat ditemui di sela-sela kegiatan peringatan HUT Polwan ke-68 di Mapolda Jawa Barat, Jum’at (2/9/2016).
Buntut dari kejadian tersebut Bambang menegaskan, untuk seluruh anggota kepolisian yang bertugas di lapangan agar bisa memberikan tindakan tegas dan terukur, bagi para geng motor yang berulah di jalanan dan meresahkan masyarakat.

“Kenapa masih ada kejahatan seperti itu, saya sudah suruh Kapolresnya buat tindak tegas hal ini,” jelasnya.
Bambang ingin, wilayahnya tidak ada lagi aksi kelompok geng motor yang bermunculan baik dalam skala kecil atau skala besar. “Sikat habis! Jangan ada lagi geng motor!,” tegasnya.

RR dan V dibunuh setelah melintas SMP 11 Kali Tanjung bersama teman-temannya, Sabtu (27/8) malam. Mereka dilempar batu oleh kelompok Moonraker, lalu kabur. Korban terpisah dan jadi bulan-bulanan di tempat sepi. V tak cuma dianiaya, tapi juga diperkosa. Kini 8 dari 11 pelaku sudah diamankan. Polisi akan mengenakan pasal berlapis ke pelaku.

Keamanan 74 Halte TransJakarta Rawan Tindakan Melawan Hukum Ditingkatkan Pasca Pengeroyokan


Pengeroyokan yang terjadi di Halte Transjakarta Senayan JCC membuat keamanan di setiap halte dipertanyakan. Direktur Operasional PT Transjakarta Daud Joseph mengungkapkan, saat ini ada 74 halte yang mendapat prioritas lebih dari perusahaan tersebut. Angka tersebut tak menyentuh setengah dari total jumlah halte Transjakarta yang ada di angka 232 halte.

“Ada 232 halte yang tersebar di seluruh Jakarta dan 74 di antaranya adalah priotitas,” kata Joseph saat ditemui di Markas Polda Metro Jaya, Kamis (1/9). Joseph menjelaskan, 74 halte itu masuk dalam prioritas bukan hanya kerena sering terjadi tindakan melawan hukum tapi juga ada perilaku penumpang yang tidak taat aturan.

Biasanya para penumpang yang mau menggunakan Transjakarta harus masuk melalui pintu yang telah ditentukan dan harus memiliki kartu khusus. Namun di beberapa halte masih sering terjadi warga yang masuk lewat dermaga (pintu penghubung halte dengan Transjakarta) yang artinya mereka tak membayar tiket masuk. Joseph mengungkapkan hingga saat ini PT Transjakarta sudah memasang peralatan CCTV yang tersebar hampir di seluruh infrastruktur yang ada, mulai dari bus hingga halte.

Untuk CCTV di halte, gambar yang ditampilkan tak hanya soal keadaan di dalam halte melainkan juga di jalur Transjakarta. CCTV itu pula yang digunakan aparat kepolisian untuk membekuk pelaku pengeroyokan terhadap Andrew Budikusuma.

Demi menunjang peralatan itu, Transjakarta juga menyediakan petugas yang berpatroli di sekitaran halte. Dengan adanya kejadian pengeroyokan, Joseph menegaskan pihaknya akan melakukan evaluasi terkait sistem patroli tersebut.

“Kami ulas kembali dan akan meningkatkan frekuensi pengamanan yang akan berlangsung 24 jam,” kata dia. Penganiayaan terjadi sekitar pukul 20.30 WIB saat Andrew menumpang TransJakarta dari Halte Kuningan Barat menuju Halte Pluit. Para penganiaya masuk ke dalam bus dan berteriak ‘Ahok’ sebelum mengeroyok Andrew.

Kelima orang penganiaya yang dibekuk itu berinisial MA (32 tahun), HBP (27), AR (21), DS (21), dan S (17). Mereka diringkus di Tambora, Jakarta Barat, Kamis dini hari (1/9). Berdasarkan keterangan awal yang didapat aparat kepolisian, diketahui bahwa kelima pelaku awalnya hanya berniat melontarkan candaan pada Andrew.

Kepala Subdit Resmob Ajun Komisaris Besar Budi Hermanto mengatakan, karena candaan yang para pelaku lontarkan tak ditanggapi Andrew maka mereka kesal dan berakhir dengan pengeroyokan. Setelah candaannya tak digubris oleh Andrew, para pelaku terlibat cek-cok hingga terlontarlah kata-kata yang menyinggung nama Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ucapan tersebut muncul karena kebetulan Andrew merupakan warga keturunan seperti Ahok.

Sebelum melakukan penangkapan, polisi menganalisis CCTV yang merekam aksi para pelaku saat menganiaya Andrew di halte kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Polisi juga menyita pakaian yang dikenakan para tersangka ketika mengeroyok Andrew. Andrew sendiri mengalami luka pada bagian wajah, telinga, dan mulut. Ia sempat melawan dengan memukul salah satu pelaku dengan botol vitamin

Polisi Berhasil Bongkar Sindikat Prostitusi Paedofil Oleh Kaum Gay Homoseksual


Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri kembali menangkap dua tersangka kasus prostitusi paedofil penyuka sesama pria (gay). “Ditangkap di Pasar Ciawi (Bogor, Jawa Barat), kemarin malam,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Agung Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Kamis (1/9).

Baca Juga : Wasapada, Paedofil Disekitar Kita

Tersangka yang ditangkap berinisial U dan E. Tersangka E diduga membantu tersangka yang lebih dulu ditangkap, AR, dalam menyiapkan rekening untuk menampung dana yang masuk. Selain itu, E juga diduga turut melakukan kegiatan seksual terhadap anak-anak yang jadi korban. Sementara U diduga mengeksploitasi anak, berperan sebagai muncikari seperti AR. Mereka berbeda jaringan, tapi Agung menyebut keduanya berhubungan.

Berdasarkan pengakuan U kepada penyidik, ada empat bocah yang jadi korban eksploitasinya. Agung menduga masih ada jaringan lain dalam bisnis prostitusi ini. “Kami bekerja mengungkap ini sampai jaringannya. Saya ingin temukan lingkup luas dari AR, U dan E,” kata Agung. Sebelumnya AR ditangkap di sebuah hotel di Cipayung, Bogor, Jawa Barat. Bersamanya ditemukan tujuh anak yang jadi korban eksploitasi seksual.

Para bocah laki-laki itu dijajakan untuk pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook dengan tarif Rp1,2 juta. Sementara para korban hanya diberi imbalan Rp100-200 ribu. Penyidik menduga ada 99 korban secara keseluruhan yang dieksploitasi oleh AR. Namun mereka hingga saat ini masih belum diketahui keberadaannya.

Markas Besar Polri mengungkapkan tersangka pelaku prostitusi anak yang menyasar pelanggan homoseksual adalah seorang residivis. “Tersangkanya AR, sudah ditangkap. Ternyata seorang residivis perkara yang sama beberapa tahun lalu,” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, Selasa malam (30/8), mengungkapkan inisial sang pelaku.

AR yang biasa bergerak melalui media sosial Facebook, kata Boy, sudah pernah dihukum penjara dua tahun enam bulan atas perkara prostitusi. Sama seperti kali ini, saat itu dia juga ditangkap penyidik Cyber Crime Bareskrim Polri. Kata Boy, AR ditangkap di sebuah hotel di Km 75 Jalan Raya Puncak, Cipayung, Bogor. “Hotel itu tempat menyimpan anak-anak yang jadi korban.” Bersama tersangka, turut diamankan tujuh orang anak yang jadi korban kejahatan ini. Saat ini, pelaku dan korban masih diperiksa oleh penyidik.

Pantauan CNNIndonesia.com di Markas Besar Polri, Jakarta, sejumlah anggota keluarga korban juga mendatangi gedung Bareskrim untuk menghadap penyidik. Di Facebook, lanjut Boy, AR punya komunitas pelanggan tersendiri. Mereka diduga saling mengenal satu sama lain. Boy mengatakan para pelanggan juga bisa dikenakan sanksi hukum. Namun, hal itu butuh penelusuran lebih lanjut.

“Nanti pasti (dijerat) kalau berhasil ditemukan. Sementara yang ditemukan kan korban dan pelaku,” ujarnya. Penyidik Badan Reserse Kriminal Polri menangkap tersangka pelaku prostitusi daring dengan korban anak-anak, Selasa (30/8). Ketika dikonfirmasi oleh CNNIndonesia.com, Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigadir Jenderal Agung Setya membenarkan penangkapan ini, meski enggan memberikan rincian lebih lanjut. “Besok akan kami rilis,” ujarnya singkat.

Pantauan di Markas Besar Polri, Jakarta, sejumlah anggota keluarga korban terlihat mendatangi Gedung Bareskrim, Selasa malam. Mereka hendak bertemu dengan penyidik Subdirektorat Cyber Crime di lantai IV. Seperti Agung, Asrorun juga tidak menampik, namun enggan merinci. “Besok saja ya,” ujarnya sambil terus berjalan. Polisi menyebut ada 99 orang korban yang diperalat oleh tersangka AR untuk melayani para pria paedofil dan homoseksual. AR mematok tarif 1,2 juta untuk satu kali layanan prostitusi. Para korban oleh AR dibayar sebesar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

“Tidak hanya tujuh (anak), dari daftar dia korban ada 99 orang. Ini kami tangani secara berkelanjutan,” kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Agung Setya di Markas Besar Polri, Jakarta, Rabu (31/8). Saat ini polisi masih terus mengidentifikasi para korban. Namun untuk sementara diketahui sebagian besar dari mereka berasal dari Jawa Barat.

AR diketahui menjalankan bisnis haramnya sekitar satu tahun. Meski sudah memiliki istri, AR juga diduga memiliki perilaku menyimpang. Dengan korban yang begitu banyak, Agung mengatakan penyidik masih mendalami kemungkinan adanya sindikat yang bekerjasama dengan AR. Terlebih, untuk merekrut anak laki-laki sebanyak ini dinilai Agung bukan perkara mudah. “Untuk dapat merekrut anak ada satu hal tidak seperti yang lain, apalagi ini anak laki-laki. Kami identifikasi lebih dalam.”

Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa. Agung belum mau merinci soal 99 korban yang dia maksud. Ketika ditanya soal ini, dia hanya mengatakan penyidik masih memeriksa tujuh anak yang sudah ditemukan.

Pemeriksaan kesehatan juga dilakukan untuk mengantisipasi penularan penyakit seksual dan gangguan kejiwaan. “Kami akan lakukan proses penanganan komprehensif, bekerjasama dengan Kemensos ditempatkan di rumah singgah bersama psikiater,” kata Agung. AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan.

Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak. Badan Reserse Kriminal Polri membongkar aksi prostitusi anak laki-laki untuk pelanggan laki-laki (gay) di kawasan Bogor, Jawa Barat. Dalam pendalaman yang dilakukan, polisi menemukan bahwa pelaku yang berinisial AR tidak bekerja sendiri.

“Dari keterangan yang ada mereka ini ada muncikari yang lain, jika stok mereka habis maka dia akan menghubungi rekannya,” ujar Kepala Bareskrim Polri Komisaris Jenderal Ari Dono saat menggelar jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (31/8). Ari menuturkan AR sudah bekerja sebagai muncikari anak laki-laki selama satu tahun. Namun berdasarkan penelusuran terbukti bahwa dia baru saja keluar dari penjara sekitar dua bulan lalu.

Pelaku di penjara di lembaga permasyarakatan di Bogor atas tuduhan melakukan tindak pidana perdagangan orang berjenis kelamin perempuan. Dia harus mendekam di penjara selama dua tahun enam bulan dan baru bebas dua bulan lalu. Dengan berbagai fakta tersebut terbukti bahwa AR bisa melakukan aktivitas jual beli anak laki-laki saat dia masih di penjara. Dengan bantuan temannya, dia menjajakkan anak laki-laki kepada pria yang memiliki kelainan seks.

Namun untuk teman-teman AR sesama muncikari, polisi masih melakukan pelacakan di mana mereka melakukan aksinya tersebut. Sementara itu hingga saat ini total baru sembilan orang yang diamankan oleh pihak kepolisian, yaitu tujuh anak yang menjadi korban prostitusi, satu korban dewasa, dan satu orang pelaku. Sedangkan 99 anak yang kabarnya juga menjadi korban penjualan, Ari mengatakan bahwa polisi masih mendalami di mana lokasi mereka semua.

“99 anak itu kan data hasil penyidikan, anaknya ada di mana kami belum tahu,” kata Ari. Meski begitu, Ari menegaskan tujuh anak yang saat ini masih diberi pendampingan oleh satuan kepolisian akan diberikan pemulihan oleh Kementerian Sosial. Namun untuk saat ini yang mesti dilakukan terlebih dahulu adalah cek kesehatan dari anak-anak tersebut. “Korban akan diperiksa kesehatan untuk selanjutnya diwawancara oleh unit anak Polri dan juga pemulihan dari Kemensos,” ujar jenderal bintang tiga tersebut.

Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa. AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan.

Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak. Kementerian Sosial RI ambil bagian dalam terkuaknya aksi prostitusi anak laki-laki untuk pelanggan laki-laki (gay) yang baru diungkap oleh Badan Reserse Kriminal Polri. Kemensos rencananya akan memberikan terapi bagi anak laki-laki yang menjadi korban perdagangan orang tersebut.

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa menjelaskan tugas Kemensos memang memberikan rehabilitasi bagi para korban dan nama terapi yang akan diberikan adalah psycho social therapy. “Tugas kami memang untuk rehabilitasi, korban akan diberi terapi psikologi sosial di tempat kami,” kata Khofifah di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (31/8). Menurut Khofifah, anak-anak yang akan diterapi adalah mereka yang orang tuanya ada dan hadir selama pendampingan dilakukan oleh aparat kepolisian. Namun bagi mereka yang orang tuanya tak ada maka polisi akan menyerahkan mereka ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Meski begitu, saat ini tim Kementerian Sosial belum bisa melakukan terapi karena anak-anak yang menjadi korban tersebut masih harus melalui cek kesehatan. Khofifah menuturkan pengecekan kesehatan, terutama cek darah, penting dilakukan untuk melihat apakah anak-anak itu terjangkit penyakit atau tidak. “Semoga tak ada dari mereka yang terinfeksi penyakit HIV/AIDS,” ujar Khofifah.

Bareskrim Polri membongkar aksi prostitusi gay dengan tersangka yang diamankan berinisial AR. Tersangka AR ditangkap penyidik Subdirektorat Cyber Crime, Selasa (30/8). Berawal dari patroli siber Kepolisian, dia diketahui menjajakan anak laki-laki di bawah umur kepada pelanggan sesama jenis lewat media sosial Facebook. AR ditangkap di Cipayung, Bogor. Saat penangkapan, turut diamankan delapan korban. Tujuh masih berusian di bawah umur dan satu korban berusia dewasa.

AR adalah seorang residivis yang sebelumnya ditangkap untuk kasus yang serupa. Hanya saja, sebelumnya dia mengeksploitasi anak perempuan. Atas perlakuannya, dia dihukum 2,5 tahun. Namun, seolah tak kapok kini AR justru kembali menjalankan bisnisnya. Karena itu, dia terancam hukuman 12 tahun penjara karena diduga melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pornografi, Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Perlindungan Anak.

Tak hanya akan memberi terapi, sebagai langkah pencegahan Kemsos juga sudah membuka layanan call center di nomor 1500771. Nomor tersebut disediakan bagi siapa saja yang membutuhkan bantuan dari Kemensos. Khofifah mengungkapkan layanan tersebut akan aktif selama 24 jam dan akan terus menerima pengaduan setiap hari. “Jadi kalau ada anak terlantar, korban eksploitasi baik ekonomi dan seksual silakan hubungi kami,” katanya.

Menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa tersebut masyarakat juga boleh mencurahkan isi hatinya dengan menghubungi nomor tersebut. Selama itu berkaitan dengan hal sosial petugas di balik telepon akan melayani sebaik-baiknya. Tak hanya call center, untuk lebih mendekatkan diri ke masyarakat Kemsos juga menyediakan mobil anti galau yang disediakan di berbagai kota di Indonesia.

“Di acara car free day mobil itu akan muncul demi mendekatkan diri ke khalayak dan sekaligus memberi konseling,” katanya.

Narkotika Aa Gatot Brajamusti Dipasok Dari Jakarta


Tim penyidik Direktorat Reserse Narkoba Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat terus mendalami asal usul narkotik yang ditemukan dalam saku kanan celana Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Gatot Brajamusti dan tas milik istrinya, Dewi Aminah. “Sementara ini jawabannya, barang bukti dibawa dari Jakarta, cuma dari siapa dia dapat, dia belum sebut,” kata Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono di Mataram, Kamis (1/9).

Umar Septono pun memerintahkan tim Ditresnarkoba Polda NTB untuk mencari tahu kronologi dan alur perjalanan narkotik tersebut hingga bisa lolos ke Lombok, termasuk salah satunya menelusuri pihak-pihak bandara. Bandara di Lombok bernama Bandara Udara Internasional Lombok-Praya di bawah pengelolaan PT. Angkasa Pura I.

“Nantinya akan mengarah kesana, pihak bandara akan kita periksa,” kata Umar seperti dilansir dari Antara.
Lihat juga:Polisi Terbangkan Aa Gatot dari Mataram ke Jakarta Siang Ini Lebih lanjut dalam pengembangan kasusnya, Polda NTB sudah menjalin koordinasi dengan Polda Metro Jaya, yang juga telah melakukan pengembangan dari hasil temuan di Lombok. “Yang jelas kami tangani TKP di sini, nantinya kalau ada pengembangan di luar itu, kita akan berkoordinasi dengan pihak lainnya, termasuk Polda Metro Jaya,” ucapnya.

Di tempat terpisah, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan Gatot dan istrinya akan dibawa ke Jakarta untuk mendampingi proses penggeledahan di rumahnya. Rumah Gatot beralamat di Jalan Niaga Hijau X Nomor 1 Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Rencananya, kepolisian beserta Gatot dan istrinya berangkat pada jam 14.00 WITA.”Informasi dari Polres Mataram, Aa Gatot akan dibawa ke Jakarta, mungkin langsung ke rumahnya. Terbang dari Mataram pukul 14.00 WITA,” ujar Awi. Awi mengatakan polisi mencurigai Gatot menyimpan narkotik di suatu tempat tersembunyi di rumahnya.

“Ya kami tidak tahu ada apa di dalamnya (rumah Gatot), makanya dibawa ke rumahnya untuk penggeledahan, mana tahu ada narkoba di rumahnya,” jelas Awi. Rencananya, Gatot akan langsung digelandang ke rumahnya, setibanya di Jakarta sore nanti. Polres Mataram, NTB akan bekerjasama dengan Polda Metro Jaya dalam penggeledahan tersebut. Gatot dan istrinya telah ditetap sebagai tersangka pada Rabu (31/8) lalu oleh tim penyidik Polres Mataram. Keduanya dijerat Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara pidana paling singkat empat tahun.

Pada Minggu (28/8) malam Gatot Brajamusti dan istrinya ditangkap bersama enam orang lain, di antaranya YY, DN, RN, dan RZ (Reza Artamevia) di kamar 1100 Hotel Golden Tulip, Kota Mataram. Di lokasi penggerebekan itu, tim gabungan dari Mabes Polri didampingi anggota Polres Mataram dan Lombok Barat, mengamankan dua paket kecil berupa plastik bening berisi kristal putih yang diduga narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,98 gram dan 0,68 gram.

Selain itu, dua klip plastik bening kecil yang diduga berisi narkotika, pihak kepolisian juga turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat hisap. Polisi memastikan kristal putih seberat 9,7 gram yang ditemukan di kediaman Gatot Brajamusti adalah sabu. Kepastian itu didapatkan setelah polisi melakukan uji laboratorium forensik pada barang bukti yang ditemukan saat penggeledahan. “Barang bukti dinyatakan positif. Satu bungkus plastik bening jenis sabu diselotip hitam,” kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Awi Setiyono di Markas Polres Jakarta Selatan, Rabu (31/8).

Selain sabu, polisi juga menemukan ekstasi di rumah Ketua Umum Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) itu saat penggeledahan hari Minggu lalu. Ekstasi yang ditemukan berbentuk kapsul dan tablet. Polisi juga menemukan empat buah alat hisap yang telah digunakan untuk mengisap sabu. Temuan barang bukti ini akan dilimpahkan Polda Nusa Tenggara Barat yang menangani perkara Gatot. Bersama istrinya, Dewi Aminah, Gatot sudah ditetapkan sebagai tersangka penyalahgunaan kasus narkotik.

“Kami disini hanya membantu,” ujar Awi. Penetapan tersangka Gatot dan Dewi berdasarkan barang bukti sabu yang ditemukan saat penangkapan serta positifnya kandungan narkotik dalam urine mereka. “Berdasarkan pemeriksaan saksi-saksi dan gelar perkara, Polres Mataram telah menetapkan GA (Gatot Brajamusti) dan istrinya DA (Dewi Aminah) sebagai tersangka,” kata Kepala Bidang Humas Polda Nusat Tenggara Barat Ajun Komisaris Besar Tri Budi Pangastuti di Mataram.

Gatot dan Dewi dijerat dengan Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara pidana paling singkat empat tahun. Sementara empat orang yang turut diamankan yakni YY, RN, DN, dan RZ, akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tim forensik diperbantukan dari Polda Bali. “Tim penyidik bekerjasama dengan Tim Forensik Polda Bali akan kembali melanjutkan pemeriksaan darah mereka,” ujarnya

Polisi “menyembunyikan” tersangka kasus narkotik Gatot Brajamusti di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten. Awak media gagal menemukan batang hidung pemilik sapaan akrab Gatot itu setelah diinformasikan mendarat pada pukul 14.50 WIB. Gatot tiba di ibu kota setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menit dari Bandara Internasional Lombok. Ia menumpangi maskapai Batik Air. Namun, selepas mendarat, Gatot tak menampakkan wajahnya di area kedatangan. Awak media yang menantikan kemunculannya pun dibuat kocar-kacir untuk menemukannya.

Berdasakan informasi yang dihimpun, selepas mendarat, Gatot sempat dibawa ke Ruang VVIP Terminal 1 Bandara Soekarno Hatta. Namun, setelah memeriksa seluruh tiga titik kedatangan yang berada di Terminal 1, Bandara Soekarno Hatta, wajah Gatot tak kunjung terlihat.Kabid Humas Polda NTB AKBP Tri Budi Pangastuti mengatakan Gatot pada Rabu siang dibawa ke Jakarta bersama tim dari Polda Metro Jaya. Tri Budi menuturkan, tujuan Gatot dibawa ke Jakarta hanya untuk mendampingi tim penyelidik Polda Metro Jaya dalam kegiatan olah tempat kejadian perkara (TKP) yang akan dilakukan di kediamannya yang beralamat di jalan Niaga Hijau X Nomor 1, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

“Jadi hanya Gatot Brajamusti saja yang dibawa ke Jakarta untuk melengkapi bahan olah TKP Polda Metro Jaya. Sedangkan istrinya tetap di sini,” ujarnya di Mataram, Kamis, seperti dilansir dari Antara. Walaupun dibawa ke Jakarta, kata dia, penanganan kasus Gatot Brajamusti tetap dilaksanakan di Polda NTB oleh Subdit I Direktorat Reserse Narkoba. “Nantinya kalau kebutuhan tim penyelidik Polda Metro Jaya sudah selesai, Gatot akan dikembalikan lagi ke sini (Polda NTB),” kata Tri Budi.

Saat disinggung apakah kasus Gatot berpeluang akan dilimpahkan ke Polda Metro Jaya, Tri Budi tidak dapat memastikannya. Melainkan, hal itu tergantung dari perkembangan penanganan kasusnya. “Apakah dilimpahkan kita lihat nanti. Yang jelas penanganan kasusnya hingga saat ini masih di Polda NTB, karena dia diamankan di sini.”

Pada Minggu (28/8) malam Gatot Brajamusti dan istrinya ditangkap bersama enam orang lain, di antaranya YY, DN, RN, dan RZ (Reza Artamevia) di kamar 1100 Hotel Golden Tulip, Kota Mataram. Gatot dan istrinya pun telah ditetapkan sebagai tersangka pada Rabu (31/8) lalu oleh tim penyidik Polres Mataram. Keduanya dijerat Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Di lokasi penggerebekan itu, tim gabungan dari Mabes Polri didampingi anggota Polres Mataram dan Lombok Barat, mengamankan dua paket kecil berupa plastik bening berisi kristal putih yang diduga narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,98 gram dan 0,68 gram. Selain itu, dua klip plastik bening kecil yang diduga berisi narkotika, pihak kepolisian juga turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat hisap.

Pihak kepolisian akan membawa Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Gatot Brajamusti dan istrinya, Dewi Aminah ke Jakarta setelah ditahan Kepolisian Daerah NTB terkait kasus dugaan penyalahgunaan narkotika. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan Gatot akan dibawa ke Jakarta untuk mendampingi proses penggeledahan di rumahnya. Rumah Gatot beralamat di Jalan Niaga Hijau X Nomor 1 Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Rencananya, kepolisian beserta Gatot dan istrinya berangkat pada jam 14.00 WITA.”Informasi dari Polres Mataram, Aa Gatot akan dibawa ke Jakarta, mungkin langsung ke rumahnya. Awi mengatakan polisi mencurigai Gatot menyimpan narkoba di suatu tempat tersembunyi di rumahnya. “Ya kami tidak tahu ada apa di dalamnya (rumah Gatot), makanya dibawa ke rumahnya untuk penggeledahan, mana tahu ada narkoba di rumahnya,” jelas Awi.

Rencananya, Gatot akan langsung digelandang ke rumahnya, setibanya di Jakarta sore nanti. Polres Mataram, NTB akan bekerjasama dengan Polda Metro Jaya dalam penggeledahan tersebut. Gatot dan istrinya telah ditetap sebagai tersangka pada Rabu (31/8) lalu oleh tim penyidik Polres Mataram. Keduanya dijerat Pasal 112 Ayat 1 dan Pasal 127 Ayat 1 Huruf a Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

“Mereka ditetapkan sebagai tersangka karena terindikasi memiliki barang bukti,” ujar Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono di Mataram seperti dikutip dari Antara. Saat disinggung asal barang bukti tersebut, Kapolda NTB mengatakan bahwa pihaknya masih mendalami keterangan tersangka dan saksi lainnya. “Sementara ini jawabannya, barang bukti dibawa dari Jakarta, cuma dari siapa dia dapat, dia belum sebut,” ucapnya.

Pada Minggu (28/8) malam Gatot Brajamusti dan istrinya ditangkap bersama enam orang lain, di antaranya YY, DN, RN, dan RZ (Reza Artamevia) di kamar 1100 Hotel Golden Tulip, Kota Mataram. Di lokasi penggerebekan itu, tim gabungan dari Mabes Polri didampingi anggota Polres Mataram dan Lombok Barat, mengamankan dua paket kecil berupa plastik bening berisi kristal putih yang diduga narkotika jenis sabu-sabu seberat 0,98 gram dan 0,68 gram.

Selain itu, dua klip plastik bening kecil yang diduga berisi narkotika, pihak kepolisian juga turut mengamankan sejumlah barang bukti berupa alat hisap

Oknum Polisi Perkosa Gadis Di Tangerang Setelah Dituduh Pengedar Narkoba


Jajaran Polsek Metro Tamansari meringkus empat orang yang diduga memerkosa seorang perempuan, S (22), di hotel kawasan Karawaci, Tangerang, Senin (2/11/2015) malam. Salah satu dari empat orang pelaku adalah anggota Polsek Kalideres bernama Dedi Aleksander Sinaga (33). “Betul, satunya anggota polisi. Mereka awalnya memeras korban dulu, baru korban diperkosa,” kata Kanit Reskrim Polsek Metro Tamansari Komisaris Guruh Candra Permana saat dihubungi, Minggu (8/11/2015) siang.

Guruh menjelaskan, kasus ini terungkap berawal dari laporan korban ke Polsek Metro Tamansari, Jumat (6/11/2015) lalu. Berdasarkan pengakuan korban, salah satu pelaku bernama Nicky mendatangi kosnya sambil mengaku sedang mencari kos untuk dirinya. Nicky lantas meminta nomor telepon S. Kemudian, Nicky membuat janji untuk bertemu dengan S di kamar 204 Hotel Balvena, Jalan Mangga Besar, Tamansari, Jakarta Barat. Saat mendatangi Nicky, S langsung diborgol dan ditodong dengan senjata api. Di sana, sudah ada Dedi dan dua orang temannya yang merupakan satu kelompok.

S dituduh oleh mereka sebagai pengedar narkoba. S juga digeledah. Setelah itu, para pelaku menyita handphone dan meminta uang dari korban senilai Rp 1 juta. Keesokan harinya, S dibawa ke Hotel Jasmin di kawasan Karawaci untuk diperkosa. Keempat pelaku telah diamankan di Polsek Metro Tamansari untuk diperiksa lebih lanjut. Terkait status Dedi sebagai anggota polisi, menurut Guruh, akan ditangani kasus pidananya terlebih dahulu. Sedangkan status keanggotaan Dedi sebagai polisi akan ditangani oleh Bidang Propam Polda Metro Jaya

Oknum Polisi Kalideres Perkosa Gadis, Tangan Diborgol dan Kepala Ditodong Pistol. Kepolisian tidak akan memberi ampun bagi personelnya yang melakukan pidana dan pelanggaran. Seperti yang dilakukan oleh Dedi Alexander, ‎anggota Polsek Kalideres yang bertugas di bagian Sentra Pelayanan Kepolisian. Dedi dipastikan akan dipidana dan terancam dipecat dari kepolisian.

Kini dia sudah mendekam di tahanan Polsek Tamansari, Jakarta Barat bersama tiga pelaku lainnya. Kanit Reskrim Polsek Tamansari, Kompol Guruh Chandra m‎engatakan untuk pidananya akan diproses di Polsek Tamansari. Sementara untuk kode etik diproses di Propam Polda Metro Jaya. “Atas kasus pencurian dan perkosaan ‎terhadap korban berinisial S (21) di Karawaci, pelakunya ada empat. Satu diantaranya anggota Polri (Dedi),” kata Guruh, Minggu (8/11/2015).

Diutarakan Guruh, kejadian bermula saat korban dituduh sebagai bandar narkoba oleh komplotan pelaku. ‎Awalnya pelaku mendatangi kos korban dan mengaku sedang mencari kos. Lalu pelaku meminta kontak korban. ‎Hingga akhirnya mereka berkomunikasi dan janjian di sebuah kamar hotel di Wilayah Mangga Besar pada Senin (2/11/2015) pukul 22.30 WIB.

Di kamar itu, ‎pelaku menodong korban menggunakan pistol dan tangan korban dibogrol. Di sana sudah ada tiga pelaku lainnya termasuk Dedi. Oleh komplotan ini, korban dituduh sebagai bandar narkoba, dan digeledah. Pelaku juga menyita Handpone korban dan menyuruhnya meminta uang ke beberap nomor kontak korban, hingga terkumpul Rp 1 juta.
Barulah keesokan harinya, Selasa (3/11/2015), korban dibawa oleh para pelaku ke sebuah hotel di wilayah Karawaci dan diperkosa. “Usai kejadian pada Jumat (6/11/2015) korban melapor ke Polsek Tamansari,” tambahnya.