Category Archives: Lain Lain

Teller BRI Cantik Diduga Kabur Dengan Pacar Karena Tidak Direstui Keluarga


Kasus hilangnya Khusna Rofiqoh (24), teller Bank BRI Unit Mendut Kabupaten Magelang, Jawa Tengah lambat laun mulai terkuak. Diduga warga Dusun Clapar, Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang itu dibawa kabur oleh pacarnya berinisial YHN warga Klaten, Jawa Tengah karena hubungan asmara keduanya tidak disetujui oleh orang tua Khusna.

Selain itu, latar belakang perbedaan agama juga menjadi penyebab hubungan keduanya tidak direstui sehingga keduanya nekat melarikan diri. YHN beragama Katholik sementara Khusna gadis cantik berkerudung yang dilaporkan keluarganya hilang diduga diculik ini beragama Islam.

Pernyataan itu disampaikan oleh Amir AR, Paman Khusna saat dihubungi merdeka.com Rabu (15/10) malam tadi. Amir menyatakan keyakinan bahwa keponakannya dibawa kabur oleh pacarnya YHN ke Klaten karena sekitar sepekan yang lalu, Kantor BRI Cabang Mendut, Kabupaten Magelang menerima surat pengunduran diri Khusna sebagai pegawai bagian teller BRI Cabang Mendut.

“Surat pengunduran diri yang diterima BRI melalui via pos ada stempel pos wilayah Klaten. Besar kemungkinan keponakan saya melarikan diri bersama pacarnya itu ke Klaten,” ungkap anggota Amir yang juga anggota Provost TNI-AD Kodim Magelang berpangkat Serka ini.

Amir berharap YHN sang pacar Khusna mengizinkan keponakannya pulang kembali untuk bertemu keluarganya di rumah. Bahkan untuk meyakinkan keluarga Khusna, Amir Selasa (14/10) malam sudah merapatkan dengan pihak keluarga agar persoalan agama tidak dijadikan masalah penyebab kaburnya Khusna.

“Saya sampai menjelaskan kepada orangtua dan semua saudara keponakan saya soal Bhineka Tunggal Ika. Perbedaan yang menyebabkan semua masalah ini terjadi. Boleh beda agama, tapi soal keyakinan biar mereka berdua yang menentukan. Saya juga meyakinkan kepada keluarga yang terpenting saat ini bagi keluarga adalah Khusna bisa pulang ke rumah dengan sehat dan tanpa terjadi apapun pada dirinya,” ungkapnya.

Amir berharap, YHN sang pacar juga tidak usah khawatir terkait soal laporan kepada pihak kepolisian tentang penculikan yang menimpa Khusna. Selama Khusna bisa pulang, pihak keluarga juga sudah merundingkan kemungkinan untuk mencabut laporan polisi soal kasus dugaan penculikan yang menimpa Khusna.

“Kalau memang tidak diculik, pulanglah Khusna. Nomor handphone saya 081328161510. Pak De (paman) siap menerimamu untuk pulang ke rumah kembali. Yang terpenting kamu saat ini adalah pulang dalam kondisi sehat wal afiat. Soal hubungan keduanya bisa dibicarakan secara kekeluargaan dengan kedua pihak keluarganya,” pungkasnya.

Duty Manager Lion Air Tantang Penumpang Berantem


Duty Manager Lion Air Terminal 1A Bandara Internasional Soekarno-Hatta Cengkareng, Tangerang, Dodi Andriyansyah mengamuk kepada sejumlah penumpang yang komplain tidak dapat check-in ke pesawat JT 552 tujuan Yogyakarta, pagi ini. Dengan nada menantang dengan mengepalkan tangan kanannya, Dodi berteriak-teriak kepada penumpang yang ingin mencari solusi atas kegagalan penerbangannya.

“Apa lo? Emang gue takut sama lo?” teriak Dodi sambil terus mengintimidasi para penumpang yang gagal berangkat, Kamis (16/10). Puluhan penumpang pesawat Lion JT 552 tujuan Yogyakarta tidak dapat naik ke pesawat dengan alasan konter check-in sudah ditutup. Padahal, beberapa penumpang di antaranya melihat pihak Lion Air menjual tiket saat jam penerbangan yang sama kepada penumpang lain dengan harga melambung.

“Dibilangnya saya terlambat, padahal ada penumpang di depan yang lama sekali check-in ‘trouble’ dan ‘seat’ penuh. Tidak mungkin kalau penuh, malahan saya tadi ditawari calo,” kata salah satu penumpang Aji Nurohmah. Aji menceritakan dia sudah datang jam 06.00 WIB ke konter check-in, namun antrean sudah panjang. Tiba giliran Aji, pukul setengah tujuh kurang, dia diberitahu kalau tidak bisa naik.

Angga Saraswati Karyawati MetroTV Hilang Sudah 3 Hari


Sudah 3 hari Bimo Respati, karyawan tvOne, mencari istrinya Angga Saraswati yang merupakan karyawati MetroTV. Saras hilang tanpa jejak. Bimo sudah mencari ke mana-mana, ke keluarga dan juga bertanya ke teman serta kerabat. Dia akhirnya melapor ke Polsek Duren Sawit, Jakarta Timur.

“Istri saya kerja di MetroTV kebetulan hari Jumat dia memang libur. Waktu itu saya izin mau kerja sama dia, berhubung istri saya lagi sakit. Dia bilang sama saya nggak apa-apa mas berangkat saja ke kantor,” terang Bimo saat berbincang, Senin (13/10/2014). Bimo menjelaskan, karena ada izin sang istri, dia pun pergi kerja. Sang istri, sudah ke dokter dan minum obat.

“Kemarin-kemarin memang sudah ke dokter dan minum obat. Sekitar jam 9-an saya berangkat ke kantor. Selama di kantor sampai jam 16.30 WIB, saya masih whats app dengan istri saya dan itu masih dibalas. Kemudian saya pulang dan sampai di rumah sekitar jam 20.00 WIB, saya lihat rumah kosong kebetulan saya tinggal berdua saja dengan istri di Duren Sawit. Saya sempat tanya kerabat dan tetangga tidak ada yang lihat,” urai Bimo.

Menurut cerita tetangga, sebelumnya ada seorang pria dengan menggunakan motor yang bolak balik di depan rumah. Pemotor itu menanyakan alamat seseorang. “Kata tetangga saya pas Magribnya orang itu balik lagi nanya kemudian pergi lagi. Waktu itu saya tanya ke tetangga, sempat lihat istri saya keluar atau nggak? Dia bilang nggak lihat soalnya dia ada di rumah,” tutur Bimo.

Bimo saat pulang ke rumah dan mendapati istrinya tidak ada segera saja mencari tahu. Tanya sana sini dia lakukan, kontak telepon pun dia upayakan ke siapapun yang dirasa kenal istrinya. “Sampai hari ini nggak ada kabar lagi, saya sudah cek ke rumah sakit, dan saudara sampai keluarga tetapi tidak ada yang lihat. Selain itu saya juga sudah posting di Path, dan Facebook untuk minta tolong tetapi tidak ada kabar juga sampai sekarang,” ungkap Bimo.

Bimo menjamin, selama empat tahun berumah tangga tidak ada konflik antara dia dan istrinya. “Nggak ada, selama ini kita baik-baik aja. Justru saya bingung bisa seperti ini,” tegasnya. Soal Saras yang hilang ini pihak kepolisian sudah mendapat laporan. Kanit Reskrim Polsek Duren Sawit, AKP Chalid Thayib menyampaikan masih mendalami kasus ini.

“Iya, semalam ada laporan orang hilang ke Polsek Duren Sawit. Sejauh ini kita masih dalami terlebih dahulu,” tutup dia. Bimo Respati karyawan tvOne, kehilangan istrinya Angga Saraswati yang juga karyawati MetroTV. Sang suami sudah bertanya ke tetangga, kerabat, keluarga, dan teman tetapi tak ada hasil.

Saras diketahui hilang sejak Jumat (10/10) malam. Saat Bimo pulang ke rumahnya di Duren Sawit, Jaktim, Saras sudah tak di rumah. Pada Minggu (12/10) malam, Bimo melapor ke Polsek Duren Sawit. “Saya ke bank, dengan pakai surat nikah dan surat lapor polisi. Saya ingin tahu apakah ada sesuatu dengan rekening istri saya,” jelas Bimo, Senin (13/10/2014).

“Hasil pelacakan bank, ada transaksi pada Sabtu 11 Oktober di Malioboro, Yogyakarta,” terang Bimo. Bimi tak tahu apakah istrinya yang menarik uang tunai di ATM itu atau orang lain. Sang istri saat dikontak HP-nya tak aktif. Saras diketahui hilang jejaknya pada Jumat (10/10) malam. Dia diketahui tengah sakit. Sang suami yang pulang ke rumah tak menemukan Saras. Pasangan ini sudah 4 tahun menikah dan belum dikaruniai momongan.

Pria Berbaju Hitam Di Amankan Polisi Sawangan Karena Dituding Jelmaan Babi Ngepet


Polisi memastikan TY (36), pria yang dituding babi ngepet oleh warga Sawangan sudah dilepaskan. Dia hanya korban salah tangkap karena berada di tempat yang salah saat malam Jumat. Petugas Koramil Sawangan yang tahu soal peristiwa itu bercerita, awalnya TY berhenti di dekat kuburan Sawangan. Dia menaiki sebuah mobil. TY kemudian turun sambil membawa tas besar dan berpakaian serba hitam. Kejadian itu tepat menjelang tengah malam Jumat.

“Jadi dia turun nyari alamat saudaranya. Karena di situ lagi ada isu babi ngepet, warga langsung nuding karena cowok itu pakaiannya serba hitam dan bawa tas,” kata petugas Koramil yang enggan disebut namanya tersebut, Jumat (10/10/2014). Petugas Koramil yang mendengar kejadian itu langsung sigap mengamankan. Sebab, bila dibiarkan, bisa terjadi aksi main hakim sendiri.

“Padahal dia punya KTP dan segala macam. Tudingannya juga nggak benar, tapi karena warga sudah marah, kita amankan,” tambahnya. “Itu karena kebetulan aja pakai baju serba hitam, bawa mobil, bawa tas dan malam Jumat dekat kuburan,” tambah petugas tersebut. TY sempat diserahkan ke Polsek Sawangan sebelum akhirnya dilepaskan.

Imam (52), salah seorang warga di Gang Pemuda, Sawangan Baru, Depok, Jabar, melihat langsung peristiwa penangkapan TY saat malam Jumat karena diduga sebagai babi ngepet. Dia menyebut, insiden itu terjadi karena ada penduduk yang kehilangan uang lalu menyalahkan babi ngepet. “Di daerah sini emang lagi banyak kabar babi ngepet. Banyak uang warga yang hilang, Tapi kan itu cuma kabar, toh kan nggak kelihatan wujudnya,” kata Imam saat ditemui di lokasi, Jumat (10/10/2014).

Peristiwa hilangnya uang warga paling terakhir terjadi pekan lalu. Lokasi rumahnya cukup jauh dari kuburan Jati Sawangan, namun masih dalam satu desa. “Mereka langsung menyebut babi ngepet sebagai biang keladi,” imbuhnya. Nah, malam tadi, ada seorang pria berbaju hitam yang sedang mencari alamat. Warga memang sedang berkumpul malam itu. Namun entah kenapa, warga langsung menudingnya babi ngepet. Padahal tidak terbukti.

“Kalau semalam emang lagi nyari alamat rumah saudaranya, itu mah orang keder. Kasihan jadinya fitnah. Dasar orang sini emang lagi parno,” urainya. Saat hendak dihakimi, TY langsung diamankan oleh pihak Koramil. Lalu diserahkan ke Polsek Sawangan. Tak lama berselang, TY pun dilepaskan.

Polisi mengimbau agar warga Sawangan, Depok, Jawa Barat tak mudah percaya pada isu yang berkembang soal babi ngepet. Semua cerita soal babi ngepet selama ini hanya isu belaka. “Isu babi ngepet yang ada di Sawangan Baru sebenarnya hanya isu belaka,” kata Kapolsek Sawangan Kompol Saderi, Jumat (10/10/2014).

Imbauan Saderi ini terkait aksi warga yang mengamankan TY, seorang pria asal Kalimantan yang disangka pelaku babi ngepet. TY kemudian dibebaskan polisi, setelah diperiksa. Keberadaan pria itu pada Kamis (9/10) malam di Sawangan karena dia tengah mencari alamat saudaranya. “Tidak ada babi ngepet di Sawangan, yang ada 8 patung kuda masih utuh berdiri di depan Polsek Sawangan,” canda Saderi.

Warga Sawangan, Depok, meringkus seorang pria mencurigakan yang berdiam diri di dekat kuburan. Mereka menuding pria itu sebagai babi ngepet. Aksi ini rupanya dilatarbelakangi isu babi ngepet yang sudah lama merebak. “Di situ memang lagi ada isu babi ngepet akhir-akhir ini,” kata seorang petugas koramil Sawangan yang enggan disebut namanya, Jumat (10/10/2014).

Koramil Sawangan sempat membantu mengamankan pria tersebut. Sebab, ada kekhawatiran aksi main hakim sendiri. Setelah diamankan, Koramil menyerahkan pria itu ke Polsek Sawangan. “Kita cuma mengamankan saja karena takut digebukin warga. Dia punya KTP dan segala macam, tudingan warga sebenarnya nggak benar,” tegasnya.

Anggota TNI ini tak menjelaskan secara detail bagaimana sebenarnya isu babi ngepet di Sawangan tersebut. Termasuk sudah berapa banyak korban yang dicuri hartanya. Yang jelas, warga Sawangan sudah sangat emosi ketika menangkap pria tersebut. “Warga sangat marah dan curiga soalnya di situ lagi ramai isu babi ngepet,” tambahnya.

Pihak kepolisian sebelumnya sudah memastikan, pria yang diamankan itu hanya korban salah tangkap. Pria tersebut kebetulan berbaju hitam dan berdiam di dekat kuburan tengah malam karena sedang mencari alamat. Kini, pria tersebut sudah dipulangkan.

Demo FPI Berujung Rusuh dan Anarkis


Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono menilai demonstran yang menolak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta menggantikan Joko Widodo berniat membuat keributan. Demonstran anti-Ahok tersebut terdiri atas Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Pembela Umat Rasulullah, dan Laskar Pembela Islam.

Penilaian itu, menurut Unggung, berdasarkan barang bukti yang disita petugas dari para pengunjuk rasa. “Mereka sengaja membawa batu dan barang lain seperti pedang untuk membuat kerusuhan,” ujar Unggung di Balai Kota Jakarta, Jumat, 3 Oktober 2014. Bahkan, tutur dia, kotoran kerbau yang dilemparkan ke petugas juga sudah disiapkan.

Unggung mengatakan pengunjuk rasa sengaja mencari momentum untuk rusuh. Caranya, berunjuk rasa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI, Jalan Kebon Sirih. Padahal izin yang mereka ajukan adalah berdemonstrasi di Jalan Medan Merdeka Selatan.

Pendemo mencoba merangsek ke Balai Kota lewat DPRD. Namun dihalangi barikade polisi. Tiba-tiba, mereka langsung beringas, melempari polisi dengan batu, kaca botol, dan kotoran kerbau. “Makanya, saya perintahkan koordinator demo untuk menyerahkan diri,” tuturnya. Unggung berujar, jika dalam waktu dekat koordinator pengunjuk rasa tidak datang ke Polda Metro Jaya, polisi akan mencarinya. Polisi telah menangkap sekitar 15 pengunjuk rasa yang dianggap membuat rusuh.

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono mengultimatum koodinator demo dari Front Pembela Islam, Habib Sahab Anggawi, untuk menyerahkan diri. Unggung memberi tenggat waktu 1 x 24 jam kepada Sahab, yang juga menjabat Ketua Dewan Syuro DPD FPI Jakarta. “Saya imbau dari FPI, terutama koordinatornya, untuk menyerahkan diri. Kalau tidak, nanti malam saya tangkap,” tutur Unggung di Balai Kota, Jumat, 3 Oktober 2014. Ia mengaku telah menangkap 14 orang dari FPI, yang diduga menjadi provokator aksi demo.

Massa dari FPI bentrok dengan petugas kepolisian di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat, 3 Oktober 2014. Mereka menggelar demo menolak Basuki Tjahaja Purnama menjadi Gubernur DKI menggantikan Joko Widodo. Massa melempar batu seukuran kepalan tangan ke arah polisi.

Akibatnya, empat polisi menderita luka di kepala. Selain polisi, empat pegawai DKI turut terkena lemparan. “Tiba-tiba, kepala saya kena batu,” kata Brigadir Dua Dede Miftah di ruang perawatan di Balai Kota, Jumat, 3 Oktober 2014. Korban lainnya adalah Brigadir Dua Fatta, Brigadir Dua Disman, dan Brigadir Dua Fauzi Amaluddin. Unggung menegaskan, polisi tidak mentoleransi aksi demo yang berujung tindakan anarki. “Silakan menyampaikan pendapat, saya jamin kemerdekaannya. Namun tidak boleh anarkis dan mencederai orang,” ujarnya.

Sekitar 200 pengunjuk rasa dari Front Pembela Islam (FPI), Gerakan Pembela Umat Rasulullah, dan Laskar Pembela Islam melempari polisi dengan kotoran kerbau yang dibungkus dengan kantong plastik hitam. Kotoran hewan itu dilemparkan saat terjadi bentrok dengan petugas di depan gedung DPD Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat 3 Oktober 2014.

Awalnya, para pengunjuk rasa meneriakkan penolakan jika Basuki Tjahaja Purnama menggantikan Joko Widodo menjadi Gubernur DKI. Tiba-tiba, sejumlah demonstran merangsek masuk ke gedung DPR. Mereka juga melempari petugas dengan batu. Akibatnya, empat polisi terluka. Mereka adalah Brigadir Dua Dede Miftah, Brigadir Dua Fatta, Brigadir Dua Disman, dan Brigadir Dua Fauzi Amaluddin. Keempatnya mengalami luka di kepala. “Kami belum siap, belum pakai peralatan, sudah dilempari batu,” tutur Dede.

Polisi kemudian membalas dengan gas air mata ke arah massa. Dari situ, para pengunjuk rasa malah semakin brutal. Mereka melempari petugas dengan botol kaca dan kotoran kerbau yang sudah dimasukkan ke dalam kantong plastik hitam. Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono menduga pendemo sudah berniat rusuh. Niat itu tampak dari barang bukti yang disita petugas berupa pedang dan kotoran kerbau. “Saya perintahkan koordinator demo untuk menyerahkan diri,” ujar Unggung.

Polisi memeriksa sekitar 20 demonstran di depan gedung DPRD Jakarta di kantor Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Mereka dimintai keterangan terkait dengan unjuk rasa menolak Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi gubernur, yang berakhir bentrok.

Sebagian besar demonstran yang diperiksa tampak mengenakan atribut Front Pembela Islam. Tampak noda darah di pakaian mereka. Empat orang di antaranya dibawa ke Bidang Kedokteran Kesehatan Polda Metro Jaya, karena terluka. Ada pula satu orang yang membawa sebuah pedang di dalam sangkur kayu pipih sepanjang sekitar 60 sentimeter.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan mereka diperiksa karena diduga melakukan provokasi. “Dari kejadian tersebut, terdapat beberapa aparat kepolisian yang terluka, termasuk Kepala Polsek Gambir Ajun Komisaris Besar Putu Putera,” ujar Rikwanto di Polda Metro Jaya, Jumat, 3 Oktober 2014.

Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Unggung Cahyono menduga para demonstran sengaja membuat kericuhan. Buktinya, polisi menyita barang bukti berupa pedang samurai, batu, botol, sampai kotoran kerbau. “Mereka sudah mempersiapkannya,” kata Unggung. Unggung memastikan para provokator unjuk rasa ini bakal mendapatkan hukuman yang setimpal. Meskipun demikian, dia tak menyebutkan apa bentuk hukumannya.

Kepala Bidang Penanganan Kasus Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Muhamad Isnur, menilai unjuk rasa yang digelar Front Pembela Islam di depan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta kemarin telah melanggar hukum. Sebab, FPI menolak Basuki Tjahaja Purnama dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta karena alasan ras dan agama.

“FPI sudah melebihi batas hukum karena menyebutkan bahwa seseorang tidak boleh memimpin karena ras dan agama,” kata Isnur, Kamis, 25 September 2014. Isnur juga mengatakan dalam unjuk rasa itu FPI menyebut Ahok–sapaan Basuki–sebagai Cina-Kafir dan tidak layak memimpin mayoritas warga Jakarta yang muslim dan pribumi. “Ini pendidikan politik yang sangat buruk bagi warga negara,” katanya.

Menurut Isnur, hak berpendapat di muka umum memang harus dilindungi oleh negara. Namun pendapat itu tidak boleh bermuatan kebencian dan ajakan melakukan diskriminasi. “Ini jelas-jelas mengancam semboyan negara ini, yaitu Bhinneka Tunggal Ika,” kata Isnur. Isnur mengatkan FPI telah melanggar UUD 1945 Pasal 28d ayat 3 dan Pasal 28i ayat 2. Isi kedua pasal itu menjamin kesetaraan setiap warga negara di pemerintahan tanpa membedakan agama dan ras.

Dalam Perjanjian Internasional atas Hak Sipil dan Politik PBB Pasal 20 ayat 2 juga menegaskan bahwa segala tindakan yang mengajarkan kebencian atas dasar kebangsaan, ras, atau agama yang merupakan hasutan untuk melakukan diskriminasi, permusuhan, atau kekerasan adalah hal terlarang.

Tindakan FPI juga melanggar Pasal 28 ayat 2 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik; Pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi, Ras, dan Etnis; serta Pasal 156 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Pelanggar beleid itu terancam pidana penjara hingga 10 tahun.

Kisah Wanita Penghibur Di Cikarang Yang Mau Diapakan Saja Oleh Konsumen Korea


Seorang wanita berambut pirang dengan poni di atas alis mata, terlihat sedang duduk manis di depan ruko Toto Karaoke. Wanita yang mengaku bernama Niken ini, adalah seorang wanita pemandu lagu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Lady Companion (LC) di tempat karaoke tersebut.

Niken menceritakan, seputar pekerjaan yang dijalani setiap malam. Perempuan berkulit putih ini mengaku lebih suka menemani ekspatriat asal Korea dibanding yang lokal. Menurut Niken, lelaki Korea memiliki sifat yang loyal alias tidak pelit. “Kalau orang Korea tuh baik-baik, udah gitu ganteng kalau yang masih muda. Mereka kalau ngasih uang tips itu lumayan gede,” kata Niken, yang mengaku asli kelahiran Cikarang 23 tahun lalu Jumat (26/9).

Niken mengatakan, tempat hiburan malam di Jalan Singaraja, memang selalu ramai oleh para ekpatriat baik dari Korea ataupun Jepang. Berbeda dengan Korea, Niken mengaku jika orang Jepang memilki sifat pemarah jika tidak puas dilayani. “Kalu orang jepang rata-rata galak-galak orangnya. Tapi kalau kita nurutin maunya mereka duit sih dikasih banyak,” jelasnya.

Niken mengaku, ketampanan para ekspatriat Korea adalah faktor utama baginya untuk mau melayaninya. Niken pun rela diperlakukan apapun oleh laki-laki tampan tersebut.

“Kalau yang muda ganteng-ganteng. Gue mah rela diapain juga … terserah deh. Kalau suka sama suka yang tinggal cari tempat di luar. Tapi biasanya kebanyakan yang udah tua yang ngajak gituan. Kalau anak muda biasanya cuma seneng-seneng di dalam karaoke aja,” ucap Niken.

Niken adalah satu dari ratusan perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam. Dia pun berharap kelak bisa berhenti dari pekerjaannya dan bisa menikahi ekspatriat Korea yang dilayaninya.

“Mudah-mudahan aja dapet jodoh orang korea, soalnya kan mereka kaya-kaya di sini. Kalau dapet jodoh orang Korea gue pasti berhenti lah,” tandasnya.

Daya tarik industri hiburan pada akhirnya mampu menyentuh Cikarang, Kabupaten Bekasi. Kawasan yang kini tumbuh menjadi sebuah kota hunian dan industri, dengan basis ekonomi yang kuat menawarkan tempat-tempat hiburan bagi kaum ekspatriat asal Korea maupun Jepang.

Tawaran tamasya ragawi pun semakin mewarnai malam di kawasan itu. Sejumlah Ruko yang dijadikan tempat karaoke, cafe, diskotek, dan pijet plus-plus, berjejer rapih dengan lampu cahaya. Jika mengunjungi tempat ini, seakan-akan kita berada di negeri ginseng. Bagong salah satu pedagang rokok di Ruko Thamrin mengatakan, tempat hiburan malam di sini memang menjadi favorit bagi para ekspatriat Korea ataupun Jepang. Menurutnya tempat ini ramai pengujung saat hari Jumat dan Sabtu malam.

“Parkiran penuh kalau udah weekend. Bos-bos pabrik biasanya pada ke sini untuk happy-happy,” katanya saat berbicang , Jumat (26/9). Bagong melanjutkan, biasanya tempat hiburan yang ramai dikunjungi adalah Karaoke yang memberikan layanan perempuan cantik. Dia melanjutkan ada sekitar puluhan tempat karaoke di Ruko Thamrin tersebut.

“Semua tempat karaoke di sini pasti ramai. Bos-bos Korea biasanya udah ada langganannya masing-masing. Kebanyakan cewek lokal, tapi ada juga yang cewek dari Korea, enggak banyak yang kayak gitu,” ungkapnya. Selain karaoke tempat hiburan lain yang disajikan di kawasan Ruko Thamrin adalah sebuah klub malam (Diskotek). Diskotek ini, mulai ramai sekitar pukul 00.00 WIB hingga 03.00 WIB dini hari. Baik wanita ataupun pria asal Korea dan Jepang, berdatangan ke lokasi tersebut.

“Mulai ramai tuh jam 12 malam, semua datang pada pakai mobil. Yang pulang kerja, anak muda sama yang tua juga kadang datang ke tempat ini,” ujarnya sambil menunjuk tulisan Touchdown Club Internasional. Tempat hiburan malam di Ruko Thamrin bukan hanya untuk mencari hiburan semata. Menurut Yanto, salah satu sopir bos Korea dari perusahaan elektronik ternama mengatakan, majikannya tersebut biasanya sering membicarakan urusan bisnis di tempat karaoke ataupun panti pijat.

“Sebulan bisa 3 kali ke sini buat ketemu vendor. Biasanya sih urusan bisnis ketemunya di tempat karaoke atau pijat plus-plus,” beber dia.

Notaris Wanita di Bali Diduga Pelihara Banyak Pria Simpanan


Notaris dan PPAT Tri Indarwati tertangkap setelah buron dua tahun. Diduga Tri telah menipu lebih dari 100 korban. dia jadi buronan polisi di Bali dan Jawa Timur. Tri dikenal oleh para korbannya adalah notaris yang murah senyum. Para korbannya begitu yakin dengan kinerjanya karena melihat penampilannya yang serba wah.

Bahkan janda 50 tahun ini selalu gonta ganti mobil saat menemui kliennya. Hebatnya lagi, di ruang kerjanya selalu ada staf laki-laki berotot yang diduga juga sebagai simpanannya. para pria itu selalu berganti-ganti.

Aib Tri Indarwati terkuak sudah setelah berhasil dijebak puluhan korban yang bekerjasama dengan aparat Polres Jembrana, Minggu (28/9). Dari pembicaraan sejumlah korbannya yang datang ke Polres Jembrana, diketahui bahwa pelaku memiliki daya pikat yang membuat para korbannya tidak berkutik. “Suaranya lembut, santun dan murah senyum. Bicara apa saja nyambung, dia memang cerdas atau kita semua yang memang bodo,” papar Nur Hariri, korban yang tinggal di Denpasar, Minggu (28/9).

Kata Nur, pelaku selalu gonta ganti mobil untuk temui kliennya. “Mobil memang dibeli atau sewa saya tidak tau,” imbuhnya. Katanya, sejumlah korbannya selalu kesulitan untuk menemui pelaku. Bahkan kantornya di Jembrana tidak ditutup, namun tetap menempatkan staf laki-laki di kantornya.

Kalau korbannya wanita bisa saja juga terjebak. Sengaja stafnya laki-laki bersih, ganteng dan macho supaya para wanita tergiur dan lupa daratan, katanya simpenannya juga.

Para korban lainnya dan sejumlah masyarakat setempat juga meyakinkan kalau, pelaku sering gonta ganti laki laki muda dibawa ke rumah dan kantornya. Dia selalu berdalih kalau laki-laki tersebut adalah staf nya. “Kalau karyawannya tetapi seperti orang pacaran. Malah gonta ganti,” Singgung Akong, salah seorang korban lainnya di Mapolres Jembrana.

Sementara itu pihak Polres Jembrana mengaku hingga saat ini belum bisa menyebutkan total kerugian sejumlah korban-korbannya. Sejauh ini para korban masih datang bergirilian ke Polres Jembrana untuk melaporkan penipuan notaris ini. “Kita mengimbau masyarakat yang merasa menjadi korban notaris ini untuk segera melapor ke Polres Jembrana untuk memudahkan mendata nilai kerugian para korban,” terang Kasubag Humas Polres Jembrana AKP I Wayan Setiajaya.