Categories
Pariwisata

Daftar Pantai Mistis Untuk Mencari Pesugihan dan Ilmu Kanuragan


Tak seperti wisata pantai pada umumnya, yang ramai dipadati para pengunjung di akhir pekan. Beberapa pantai yang saya kunjungi di Jember, Jawa Timur, ini hanya ramai di hari-hari tertentu, seperti Kamis malam atau malam Jumat. Pengunjung juga ramai ketika malam 1 Syura. Pantai-pantai ini dikenal memiliki aura mistis.

Didorong oleh informasi itu, saya mengunjungi tiga pantai di Jember, yang disebut banyak orang setempat beraura mistis tersebut.

Pantai Puger
Saya mengunjungi pantai ini pada awal tahun 2015. Saya tiba di pantai Puger siang hari. Saat itu terik matahari benar-benar memanggang kulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan pasir hitam. Gersang. Gulungan ombak yang mencoba memberikan alunan alam dan hijaunya deretan pohon pandan seakan tak mampu mengusir hawa panas di pantai ini. Saya hanya menemui dua pemancing di bibir pantai. Sedari pagi mereka tak mendapatkan ikan.

Boleh dibilang, tak ada kata indah bagi kawasan wisata pantai ini. Meski begitu, pantai yang terletak 40 kilometer di sebelah barat daya Kota Jember ini sangat terkenal. Pantai ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata mistis. Menurut petugas loket ernama Mahat yang menemani kami, pengunjung ramai pada hari-hari tertentu. “Biasanya pengunjung ramai pada Kamis malam atau malam Jumat untuk melakukan ritual. Apalagi saat malam 1 Suro,” ujar dia.

Tak jauh dari pantai itu terdapat Kolam Penampungan Mata Air Kucur, Mata Air Seribu, dan Petilasan Mbah Kucur. Menurut Mahat, dinamai Kucur karena terdapat petilasan bekas pertapaan Mbah Kucur yang diyakini dia adalah seorang prajurit yang tugasnya mengawal Pangeran Puger dari Kerajaan Mataram. “Pangeran Puger mengakhiri tapanya dan kembali ke Mataram, tapi pengawalnya tidak ikut dan menetap di Puger Kucur,” ucap Mahat.

Pantai Watu Ulo
Untuk mencapai pantai ini dibutuhkan 30 menit dari Pantai Puger. Di pantai ini banyak terdapat warung dan suasananya tak segersang Pantai Puger. Kesan mistis meruap dari pantai ini karena tampak bekas sesaji berupa kembang tujuh rupa yang berserakan di susunan batu panjang. Konon susunan batu panjang itu dianggap menyerupai tubuh ular. Menurut kisah yang beredar, ada legenda mengenai asal-muasalnya. Diceritakan pemuda desa bernama Raden Mursodo membelah ular raksasa. Ular itu dibelah menjadi tiga bagian. Dia geram karena ular itu memakan ikan ajaib yang telah memberinya emas.

Pantai Papuma
Sekitar satu kilometer dari Pantai Watu Ulo terdapat pantai dengan pasir putih dan pemandangannya sangat eksotis: Pantai Papuma. Nama Papuma merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan. Disebut Malikan karena ada batu-batu yang bisa berbunyi khas saat terkena ombak. Batu Malikan merupakan karang-karang pipih yang mirip seperti kerang besar yang menjadi dasar sebuah batu karang. Di sana, terdapat warung sederhana berderet setelah area parkir.

Pantai seluas 50 hektare itu dikelilingi hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani. Wisatawan dilarang keras berenang di pantai ini karena gelombangnya sangat kuat. Tapi mereka tetap bisa menikmati keindahan pantai ini sembari berjalan atau duduk di tepi pantai. Di ujung pantai, tak jauh dari tanjung, tampak dua orang sedang melakukan ritual. Mereka, dengan hanya mengenakan kemban, dimandikan oleh seseorang secara bergantian. Entah ritual untuk apa, saya tidak mau menganggunya.

Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Jawa, dikenal menyimpan pantai-pantai nan menawan. Beberapa di antaranya memiliki ombak laut yang menjadi tempat favorit para peselancar dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

Pantai-pantai yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, ini memiliki pesona yang khas. Pantainya masih sangat bersih dan jauh dari polusi. Boleh dibilang pantai-pantai itu masih alami. Pantai-panti di ujung Jawa Timur ini layak menjadi daerah tujuan wisata bagi Anda, terutama yang suka dengan wisata bahari.

Perjalanan wisata bahari dimulai dari Pantai Sukamade. Suara debur ombak dari kejauhan menjadi satu-satunya alunan indah yang menemani saya ketika berada di pantai ini. Dilengkapi angin laut nan kencang yang seakan ikut membentuk harmonisasi suara alam.

Saat itu, pengujung tahun lalu, saya bersama teman dan pemandu sedang menanti kedatangan penyu-penyu yang akan bertelur. Tiba-tiba terdengar suara seorang ranger di radio komunikasi fasilitator ekowisata yang memandu saya. Ia menyampaikan kabar gembira: ada penyu yang akan bertelur.

Sang pemandu pun segera mengajak beranjak. Menjejaki pasir pantai, kami menuju lokasi penyu yang berjarak sekitar 2 kilometer dari posisi saya saat itu. Pantai ini memang menjadi konservasi penyu yang memang cukup panjang, yakni sekitar 3,4 kilometer. Namun sayang setibanya di lokasi penyu hijau sedang menutup lubang kamuflase – lubang yang dibuat untuk mengelabuhi predator yang hendak memangsa telur penyu. Pengalaman yang saya dapatkan di pantai ini tidak mungkin ada di tempat lain. Selain Sukamade, terdapat tiga pantai lain di kawasan itu yang tak kalah menawan. Berikut pantai-pantai itu:

Pantai Pulau Merah
Pantai ini menawarkan pemandangan pasir putih yang bersih. Di sana terdapat payung-payung warna merah berukuran jumbo bertebaran di pinggir pantai.Di pantai ini sering dijadikan tempat berselancar favorit oleh peselancar pemula hingga profesional. Bahkan, sempat dijadikan tempat menggelar kompetisi selancar internasional.

Pantai Pancer
Pantai ini menawarkan pemandangan aktivitas nelayan. Di pantai ini, wisatawan juga bisa menyaksikan transaksi jual-beli hasil tangkapan nelayan.

Pantai Teluk Hijau “Green Bay”
Pantai ini menyuguhkan hamparan air berwarna hijau. Menurut warga setempat, warna hijau itu bukan karena planton hijau tetapi pantulan warna langit yang biru dan membias di air laut yang dasarnya berpasir putih.

Categories
Pariwisata Pencinta Lingkungan

Kisah Legenda Misterius Danau Dendam Tak Sudah Di Bengkulu


Jika Anda bertandang ke Bengkulu, tak ada salahnya mengunjungi sebuah danau cantik nan unik. Danau Dendam Tak Sudah, begitu masyarakat setempat menyebutnya. Menurut kepercayaan masyarakat, ada dua kisah yang menjadi latar belakang penamaan danau itu, seperti dilansir

Kisah pertama merupakan legenda percintaan. Konon, ada sepasang kekasih yang cintanya tidak direstui orang tua. Mereka yang tengah mabuk asmara memutuskan bunuh diri dengan loncat ke danau. Sejak saat itu, masyarakat Bengkulu percaya ada dua ekor lintah raksasa yang hidup di danau dan merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut. Mereka terus hidup dengan menyimpan rasa dendam.

Kisah lain berlatar sejarah di mana Belanda yang saat itu menduduki Indonesia memutuskan membuat dam di danau tersebut. Tujuannya agar air danau tidak mudah meluap untuk mempermudah pembangunan jalan di sekitar danau.

Akan tetapi, pada praktiknya, pembangunan dam terhenti atau tidak pernah selesai. Mereka menyebutnya dengan ‘Dam Tak Sudah’. Entah bagaimana awalnya ‘Dam Tak Sudah’ kini berubah menjadi ‘Dendam Tak Sudah’. Namun, di balik namanya yang terdengar cukup aneh, Danau Dendam Tak Sudah menawarkan keindahan yang luar biasa. Dengan luas 37,50 hektar, danau ini terletak di Kota Curup, Bengkulu Utara, hanya 6 kilometer dari pusat Kota Bengkulu.

Danau Dendam Tak Sudah merupakan kawasan cagar alam karena dikelilingi bukit-bukit hijau yang menyimpang banyak potensi ekologi dan keseimbangan ekosistem. Karena lingkungannya yang masih sangat asri, tak mengherankan bila Danau Dendam Tak Sudah menjadi habitat flora dan fauna langka. Tumbuhan endemik langka seperti anggrek matahari, nipah, plawi, pulai, bakung, gelam, terentang, sikeduduk, brosong, ambacang rawa, dan pakis, tumbuh subur di sana. Ada pula beberapa jenis ikan langka yang berasal dari famili Anabantidae, Bagridae, dan Cyprinidae.

Hadirnya hewan-hewan seperti lutung atau kera ekor panjang, burung kutilang, babi hutan, siamang, dan ular phyton yang hidup di sekitar danau, juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan.

Categories
Kreatif Pariwisata

Bali Reggae Star Festival Digelar Di Padanggalak Bali


Bali Reggae Star Festival akan kembali digelar di pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar, Jumat, 6 Februari 2015. Acara musik tahunan yang digelar untuk kedua kalinya itu bakal menampilkan beragam musisi reggae.

Bali Reggae Star Festival dipromotori oleh Antida Music dan Pregina OMS . Acara akan digelar dengan skala yang lebih besar dibanding tahun lalu, baik dari pemilihan tempat acara, desain panggung dan tata suara, maupun pengisi acara.”Kami punya dan ingin menyebarkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang merupakan ciri khas Indonesia dengan pagelaran musik reggae ,” ujar Anom Darsana dari Antida Music , selasa, 3 februari 2015.

Senada dengan Anom, Agung Bagus Mantra dari Pregina mengatakan sebagai manusia yang hidup dalam keberagaman, ada banyak cara yang dapat diciptakan untuk mempersatukan keberagaman tersebut. Salah satunya melalui musik reggae. “Tidak terbatas pada genre musik, reggae menjelma menjadi perspektif nilai dalam memandang hidup dengan cara yang lebih santai, sederhana dan bersahabat,” kata pria yang akrab disapa Gus Mantra ini.

Ia menuturkan, sebagai musik yang sudah mendunia, walaupun kental dengan tradisi Jamaika, reggae dalam perkembangannya tidaklah berdiri sendiri. Warna reggae merupakan suatu proses elaborasi dari berbagai elemen kebudayaan khususnya musik yang menyajikan suatu harmoni khas kebersamaan. Menurut Gus Mantra, banyak musisi reggae berminat meramaikan perhelatan ini. Tidak hanya musikus dari Bali, namun juga musikus nasional yang sudah punya nama, seperti Tony Q Rastafara, Steven Jam, Jony Agung & Double T, Aray Daulay, dan Jalie.

Dari barisan Bali Reggae Movement akan tampil D’sunshine, The Small Axe, Revelation, Cigareggae, Vermilion, Dancehall Brothers, Kecap Asin Rastapora, The Mangrooves, dan Bobidinar Project . Bakal tampil pula DJ Soundbwoy Dodix. Sejumlah komunitas juga ikut mendukung acara, seperti 5:30 vespa community, komunitas fotografer dan beberapa komunitas seni di Bali.

Memasang tagline A Tribute To Bob Marley karena acara diadakan tepat di hari kelahiran legenda musik reggae Bob Marley , Bali Reggae Star Festival 2015 berlangsung dari jam 3 sore hingga tengah malam.

Sebagian besar keuntungan dari acara ini rencananya akan disumbangkan ke Yayasan Manik Bumi yang bergerak di lingkungan dan penanggulangan sampah plastik di Bali. “Kami akan menyumbangkan 100 tempat sampah yang akan disebarkan di pinggir pantai di bali dan juga sumbangan ke Yayasan Anak Cacat yang sudah ditunjuk oleh panitia,” ujar Anom Darsana.

Categories
Pariwisata

Trans Studio Akan Buka Di Semarang


Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memastikan wahana wisata indoor Trans Studio segera dibangun di daerahnya. Dia sudah bertemu dengan bos Trans Corp., Chairul Tanjung. “Kami sepakat membangun Trans Studio di Semarang,” kata Hedrar.

Hendrar menjelaskan lokasi yang hendak dibangun Trans Studi di kawasan Wonderia yang saat ini sekarang berfungsi sebagai wahana bermain di Kota Semarang. “Sampai saat ini progresnya sudah on the track,” kata Wali Kota yang sering dipanggil Hendi itu.

Menurut rencana, pada akhir Februari nanti akan ada penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan pihak Trans. Langkah selanjutnya usai MoU, menurut Hendrar, adalah memasukkan pertimbangan teknis dan proses lelang. Proses ini masih memerlukan waktu yang tak singkat. Namun, dia menargetkan akhir 2015 pembangunan Trans Studio sudah bisa dimulai. “Semoga nanti akhir tahun sudah ada pemancangan tiang pertama,” ujar Wali Kota.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang Masdiana Safitri membenarkan rencana tersebut. Menurut dia, rencana membuka Trans Studio itu masih dalam proses. ”Perizinan belum masuk, tapi sudah ada kerja sama,” kata Masdiana.

Masdiana menjelaskan bila proses ivestasi kelar dikerjakan maka pembangunan segara dimulai. “Tahapan itu sebagai proses normatif yang harus dilalui,” ujarnya.

Categories
Pariwisata

Eco Park Terbesar Di Dunia Kini Hadir Di Batam


Tahukah kamu, Indonesia akan punya taman rekreasi bertema alam yang digadang-gadang bakal jadi yang terbesar di dunia. Namanya Funtasy Island, yang akan menempati 1 pulau di Kepulauan Riau. Funtasy Island adalah nama pulau yang akan menjadi lokasi taman rekreasi ramah lingkungan terbesar sedunia. Lokasinya di Kepulauan Riau. Pulau ini dikelola oleh perusahaan patungan Indonesia yaitu PT Batam Island Marina dan Funtasy Island Development (FID) Pte Ltd, bekerjasama dengan Seven Seas Funtasy Venture Pte Ltd yang akan mengelola taman rekreasinya.

Eco-theme park terbesar sedunia ini berada di lahan seluas 328 hektar dengan lanskap alami. Taman rekreasi ini terletak 16 Km selatan Singapura, dan 6 km timur Batam begitu yang disebut dalam situs resminya. Rencananya tempat ini akan buka pada akhir 2015. “Kepulauan Riau punya banyak destinasi wisata, pantai cantik dan budaya asli yang menarik. Lokasi yang tepat untuk membuat eco-theme park,” begitu yang tertera pada situs resminya.

Mengutip situs resmi Funtasy Island, Rabu (7/1/2014), nantinya traveler akan bisa melakukan banyak hal mulai dari berlayar, snorkeling, diving, safari, spa, sampai dining dan clubbing. Safari di sini lebih bertema ekosistem air.

Tahap pertama pembangunan eco-theme park ini dibagi menjadi 8 zona. Avatar Habitat, Rainforest Paradise, Simia Adventure, Mangrove Safari Ride, Riau Jungle Explorer, Aqua Adventure, Dolphin Discovery Habitat, juga Deep Ocean Wonder. Selain eco-theme park, Funtasy Island juga akan punya hotel mewah beserta aneka fasilitas rekreasi. Sejak 2014, pembangunan sudah berlangsung di Funtasy Island. Broadwalk, Over the Water Villa, Ocean Front, juga Beach Club dan Ferry Terminal kini sedang dalam masa pembangunan.

“Funtasy Island bisa diakses naik pesiar mewah selama 20 menit dari Harbourfront ferry terminal di Singapura. Ukuran pulau ini sekitar 2/3 dari Sentosa Island,” begitu yang tertera pada situsnya.

Categories
Pariwisata

Mengunjungi Surga di Ujung Selatan Pesisir Berau


Belum terbayang apa yang akan tersaji usai perjalanan panjang selama lima jam dari Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, ke arah selatan. Waktu tempuh tersebut, menurut rekan dari Yayasan Penyu Berau (YPB) bernama Erfan, relatif cepat karena kondisi jalan yang lebih baik.

“Ini sudah bagus jalannya, sebelumnya lebih parah dari ini. Bisa sampai delapan jam dari Tanjung Redeb ke Biduk-biduk (kecamatan di ujung pesisir selatan Berau),” kata Erfan sambil mengemudikan mobil multipurpose vehicle yang ditumpangi sejumlah wartawan dan rekan dari The Nature Conservancy (TNC) Indonesia.

Mobil dipacu kencang, sering kali kepala terantuk kaca jendela, terbangun dari tidur, dan terkadang rasa mual pun muncul karena guncangan. Kecepatan mulai berkurang saat langit memasuki masa blue hour, dan bayang-bayang pohon kelapa berukuran jangkung menyambut di sepanjang kiri dan kanan jalan menuju pesisir di ujung selatan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Kampung Teluk Sulaiman tempat yang dituju dan rombongan akan bermalam di sana. Berbincang dengan Sekretaris Kampung Teluk Sulaiman dan Kampung Giring-giring tentang apa yang menjadi perencanaan pembangunan kampung serta melihat sendiri apa yang disajikan alam di tempat itu.

Hari berganti dan disambut oleh gerimis dengan matahari yang malu bersembunyi di balik awan di ufuk timur. Meski demikian, cahaya yang dihasilkan matahari terbit pagi itu tetap tampak manis menyempurnakan keindahan pantai berpasir putih lengkap oleh nyiur melambai di Teluk Sulaiman.

Tidak ingin menyia-nyiakan waktu rombongan segera bergerak menuju dermaga di ujung kampung. Dengan menggunakan kapal kayu lebih dari 10 orang bergerak menyusuri hutan mangrove yang tampak terjaga keasliannya di Pulau Sigending Dalam dan Sigending Luar yang memang masuk dalam kawasan Zona

Pemanfaatan Terbatas dari Taman Pesisir Kepulauan Derawan yang telah ditetapkan Bupati Berau melalui Keputusan Bupati Nomor 202 Tahun 2014. Kawasan hutan mangrove begitu kaya dengan keanekaragaman hayati, termasuk menjadi rumah dari puluhan jenis burung dan bekantan (navalis larvatus). Bergerak ke arah timur perpaduan hutan karst, mangrove, dan padang lamun mulai tampak.

Rombongan sempat ramai saat satu juvenile manta ray bergerak cepat melintas tidak jauh dari kapal kayu rombongan. Saat menyusuri celah perairan di antara Sigending Dalam dan Sigending Luar tampak ratusan bintang laut di dasar perairan yang diperkirakan hanya berkedalaman hingga lima meter.

Kapal kayu tiba-tiba condong ke kiri, rupanya sekelompok Bekantan yang sedang berjemur sambil mencari biji-bijian di atas mangrove menarik perhatian rombongan. Kapal kayu bermanuver mencoba mendekati Sigending Luar, Bekantan lebih dari lima individu pun segera menjauh.

Jika melihat masih baiknya kondisi lamun di perairan Sigending, tempat ini memang juga menjadi tempat favorit dari penyu-penyu hijau di Taman Pesisir Kepulauan Derawan. Dan benar saja, saat kapal kayu yang membawa rombongan mendekati teluk kecil di Sigending Dalam penyu-penyu hijau dengan berbagai ukuran berenang dengan tenang.

Kalau masyarakat Kampung Teluk Sulaiman begitu menjaga wilayah perairannya sehingga Sigending Luar dan Sigending Dalam begitu terjaga, tidak untuk hutan karst di sana. Karena menurut Sekretaris Kampung Teluk Sulaiman Risno Kaiy, ada perusahaan logging yang beroperasi di wilayah tersebut yang memang dikhawatirkan dapat berdampak pada Zona Pemanfaatan Terbatas.

Jika mengacu pada pasal 32 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.17/Men/2008 tentang Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil maka fungsi Zona Pemanfaatan Terbatas diperuntukkan bagi perlindungan habitat dan populasi ikan, pariwisata dan rekreasi, penelitian dan pengembangan dan atau pendidikan.
Risno mengharapkan wilayah perairan di kampungnya yang sudah dijaga dengan baik oleh masyarakat dapat dimanfaatkan untuk aktivitas ekowisata sehingga dapat memberi pendapatan bagi masyarakat kampung.

“Yang kami harapkan sekarang setelah kami jaga kami dapat manfaatnya. Kalau bisa ini bisa jadi ekowisata, supaya masyarakat dapat hasil dan kondisi alamnya pun tetap terjaga,” katanya. Pendampingan TNC Berau Field Office telah dilakukan dengan bersama-sama melakukan pendataan keanekaragaman hayati yang ada di wilayah tersebut, namun memang belum ada kajian berapa ideal jumlah pengunjung per hari agar tidak merusak jika kawasan tersebut benar-benar dijadikan ekowisata.

Karenanya, dukungan dari pemerintah daerah untuk membentuk kawasan ekowisata dengan kajian awal sangat penting.

Categories
Pariwisata Pariwisata Bali

Tarif Obyek Wisata Bali Tahun 2015 Naik 100 Persen


Awal 2015, tiket masuk beberapa obyek wisata di Kabupaten Karangasem, Bali naik hingga 100 persen. Obyek wisata Taman Soekasada, Desa Tumbu, Kecamatan Karangasem meningkat 75 persen. Kenaikan tiket masuk juga di obyek Taman Tirta Gangga, Desa Ababi, Kecamatan Abang, Karangasem.

Tak tanggung-tanggung, pihak pengelola Taman Tirta Gangga berencana menaikkan tiket masuk 100 persen. Besaran tiket masuk untuk wisatawan domestik (wisdom) dari Rp 5.000 menjadi Rp 10.000. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara (wisman) dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000.

“Tapi kenaikannya mulai besok (hari ini, Kamis 1/1/2015),” ujar pengelola Taman Tirta Gangga yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui, Rabu (31/12/2014). Meski ada rencana kenaikan harga tiket, namun beberapa wisatawan menyatakan hal yang wajar. “Tiket masuk dinaikkan. Para wisatawan tak ada yang mengeluh. Pengunjung tetap datang ke sini,” tambah seorang penjual di kawasan obyek wisata Taman Tirta Gangga.

Pantauan, para wisatawan baik wisdom maupun wisman silih berganti berdatangan ke obyek wisata Taman Tirta Gangga. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Menjelang Tahun Baru 2015 jumlah pengunjung ke Taman Soekasada, Desa Ujung Hyang, Karangasem, Bali mengalami peningkatan. Pantauan, pada Jumat (27/12/2014), beberapa pengunjung datang dari Bali dan luar Bali terlihat berlalu-lalang di sekitar taman. Ratusan pengunjung keliling di sekitar area taman.

Pengunjung mengatakan menikmati keindahan alam di taman itu. Ada juga yang mengaku datang khusus berlibur usai hari raya Natal. Abraham, pengunjung asal Depok, Jawa Barat, mengaku baru pertama kali berkunjung ke Taman Soekasada. Namun ia merasa bahagia bisa melihat peninggalan bersejarah kerajaan di Karangasem ini. Selain karena suasana terlihat ramai, panorama alam di sekitar taman dinilai indah. Abraham keliling taman yang luasnya mencapai belasan hektare itu.

”Wajar ramai pengunjung. Pemandangan di sekitar taman bagus sekali,” kata Abraham. Ia pun tak kalah dengan pengunjung lainnya. Saat keliling area taman ia beserta keluarga mengabadikan momen di sekitar taman. Dari balai Lunjuk, Bundar, hingga Kapal yang berada di atas Taman Soekasada. ”Buat kenang-kenangan,” tambahnya. Kepala Pengurus Taman Soekasada, I Nyoman Matal mengaku saat hari raya Natal dan menjelang Tahun Baru 2015 jumlah pengunjung mengalami pengingkatan. Hal ini terlihat dari pendapatan yang masuk diperoleh per hari.

Pihaknya mengaku peningkatan pengunjung menjelang tahun baru diperkirakan hingga ratusan orang. Menurut Matal, pengunjung terbanyak masih dari wisatawan lokal seperti dari Bali dan luar Bali, antara lain Jawa dan Sumatera. ”Sekitar 25-30 persen peningkatannya, tetapi pengunjung kebanyakan dari daerah di Bali,” ungkapnya. Masuk Taman ini akan dikenakan pungutan apabila membawa Kamera DSLR (kamera mahal) tanpa mendapat fasilitas apapun.

Categories
Pariwisata

Ratusan Turis Mancanegara Diserang Di Kota Sabang Aceh


Insiden pengusiran turis oleh sekelompok warga di malam Tahun Baru 2015 Masehi di pantai Casa Nemo, Desa Ie Meule, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang, mengakibatkan pengelola tempat wisata itu rugi seratusan juta. Muncul citra buruk untuk pulau yang kaya destinasi wisata itu. Pengelola Casa Nemo, Balqis mengatakan pihaknya menderita kerugian malam itu saja sekitar Rp 20 jutaan. Sementara pihak Event Organizer (EO) yang mengadakan live musik dari nine-nine-one juga rugi sekitar Rp 50 jutaan. “Ada juga tamu kami yang sudah memesan tempat, tapi kemudian membatalkan,” katanya, Ahad 4 Januari 2015.

Menurut Balqis, rombongan dari Spanyol yang berjumlah 100 orang telah memesan tempat untuk berkunjung ke sana pada penghujung Januari nanti. Kepala rombongannya ada di Sabang pada malam kejadian. Merasa tak nyaman dengan insiden tersebut, mereka membatalkan kunjungan. “Ini kan mundur bagi pariwisata Sabang,” kata Balqis. Pada malam kejadian, hampir 90 persen tamu Casa Nemo adalah turis mancanegara, selebihnya turis dari provinsi Sumatera Utara dan juga Banda Aceh. Dia menilai, ada beberapa kejanggalan pada kejadian malam itu di Casa Nemo. Hanya tempat itu yang diganggu warga, sementara beberapa tempat lain juga mengadakan acara menyambut tahun baru, tapi tak terusik. Padahal semua izin telah diurus dan tak ada kendala sebelumnya. Tak ditemukan juga narkoba dan minuman keras di sana. Mereka berani membuat acara malam itu, karena semua pihak sudah menjamin.

Balqis menyayangkan Pemerintah Kota Sabang yang belum mampu melindungi tempat-tempat wisata dari tindakan sekelompok orang tak bertanggung jawab. “Pertanyaannya mau tidak Sabang menjadi tempat wisata, kalau mau, semua harus bisa menerima tamu dengan baik.” Kota Sabang dinilainya tumbuh dengan pariwisatannya. Pendapatan Daerah-nya juga tinggi dari sektor ini. Banyak tamu yang kemudian merasa tak nyaman dengan insiden malam tahun baru itu. Harapan Balqis, pemerintah harus lebih proaktif dalam memberikan kenyamanan kepada para turis.

Insiden dipicu oleh sekelompok pemuda yang datang dan meminta para tamu yang sedang berada di sana membubarkan diri. Mereka menghembuskan isu bahwa para turis telah melanggar syariat. Mereka memprovokasi pengunjung dan membuat kekacauan. Banyak gelas-gelas yang dilempar ke laut dan kursi-kursi yang dirusak mereka.

Sebelumnya Kapolres Kota Sabang, AKBP Nurmeiningsih mengatakan kejadian itu berawal dari ketidaksenangan sebagian pemuda di sekitar lokasi. Oleh pengelola awalnya, pengelolaan parkir diberikan kepada sebagian pemuda, dan sebagian yang lain tidak mendapatkan jatah. Kapolres berjanji akan terus memberikan kenyamanan kepada para turis dan berharap kejadian tidak terulang lagi. “Kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan. Akan menindak-lanjuti,Kata Nurmeiningsih.

Kepala Kepolisian Resor Kota Sabang Nurmeiningsih mengatakan penyerangan terhadap turis di Sabang berawal dari ketidaksenangan sebagian pemuda di sekitar lokasi terhadap pengelola lokasi tersebut. Oleh pengelola, awalnya, jatah pengelolaan parkir diberikan kepada sebagian pemuda. Sebagian kelompok pemuda lain tidak mendapatkan jatah mengelola parkir. Ia berujar, pada malam pergantian tahun, di lokasi juga tidak ada perayaan besar-besaran. Pengelola tempat hanya memfasilitasi untuk menghibur tamunya saja.

“Jadi, ini persoalan karena sebagian pemuda yang meributkan tidak dapat jatah biaya parkir,” tutur Nurmeiningsih Jumat, 2 Januari 2015. Mereka, yang berjumlah sekitar sepuluh orang, lalu mengganggu para pengunjung di Casa Nemo. Para turis takut karena ada yang teriak disetrum. Mereka juga menakuti dengan kata-kata “huh… huh…”, dan meminta agar para tamu bubar dengan alasan melanggar syariat.

Kepala Kepolisian Resor Kota Sabang Nurmeiningsih mengatakan, dalam insiden penyerangan di Kota Sabang, Aceh, tidak ada penyetruman oleh pelaku terhadap turis. Nurmeiningsih menuturkan polisi segera tiba di lokasi tak lama setelah peristiwa itu terjadi.

“Tidak ada yang nyetrum. Dia hanya terbelit kabel sound system lalu terkejut, sempat pingsang,” ujarnya, Jumat, 2 Januari 2015. Saat itu juga, Nurmeiningsih minta maaf kepada para pengunjung dan meminta mereka masuk ke kamar masing-masing dan tidur, agar besok paginya dapat menikmati keindahan Sabang. “Saya kemudian meminta kepala desa dan pemuda itu agar jangan buat ribut,” katanya. Menurut Nurmeiningsih, masalah itu telah diselesaikan. Ia menyatakan polisi tetap siaga memantau agar kejadian itu tak terulang lagi. “Kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan, kami akan menindaklanjuti,” tuturnya.

Categories
Pariwisata

Penginapan di Telaga Sarangan Penuh Pada Tahun Baru


Sejumlah rumah penduduk di kawasan Telaga Sarangan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, telah dipesan oleh wisatawan yang hendak merayakan tahun baru di lokasi tersebut. “Karena kamar hotel, penginapan, dan homestay di dekat Sarangan banyak yang sudah dipesan wisatawan lain,” kata pengurus Badan Pimpinan Cabang Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Magetan, Supriyono, Jumat, 26 Desember 2014.

Menurut dia, hingga lima hari menjelang akhir tahun 2014 jumlah kamar hotel yang telah dipesan mencapai 990 atau 90 persen dari total 1.100 unit. Dalam hitungan jam, Supriyono memprediksi permintaan sewa tempat istrahat kian melonjak. “Setiap tahunnya selalu full, bahkan kurang. Sebagian wisatawan menyewa rumah penduduk, ada juga yang terpaksa tidur di mobil,” ujarnya.

Melonjaknya permintaan kamar, Supriyono menambahkan, menjadi alasan bagi para pengelola hotel menaikkan tarif sewa yang berkisar antara 100 hingga 300 persen. Harga sewa per unit kamar yang sebelumnya antara Rp 100 ribu-250 ribu naik menjadi Rp 750 ribu semalam. Setelah momentum pergantian tahun berakhir, kata dia, harga sewa kamar kembali normal.

Kenaikan harga sewa kamar hotel juga berlaku di Kota Madiun. Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran setempat, Aris Suharno, mengatakan lonjakan tarif yang diterapkan pengelola hotel kelas melati antara 20 hingga 30 persen. Adapun nominalnya berkisar Rp 100 ribu hingga Rp 350 ribu. “Kenaikan tarif di sini tidak drastis, berbeda dengan Magetan,” kata Aris.

Di Kota Madiun, ia melanjutkan, tingkat hunian hotel saat libur tahun baru lebih rendah. Sebab, tidak memiliki lokasi wisata alam yang menjadi andalan. Sedangkan di Magetan memiliki ikon wisata alam yakni Telaga Sarangan. “Sebagian yang menginap di sini (Kota Madiun) hanya transit untuk menuju ke Magetan,” ujar Aris.

Selama libur panjang akhir pekan sejak Kamis hingga Ahad, 17-20 Mei 2012, kunjungan wisatawan di Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, meningkat tajam.

Petugas Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) Pos Retribusi Telaga Sarangan mencatat selama empat hari libur akhir pekan, diperkirakan kunjungan wisatawan mencapai 15 ribu orang. Tingkat kunjungan wisatawan bisa dilihat dari jumlah tiket masuk yang terjual.

Petugas mencatat tiket yang terjual pada Kamis, 17 Mei 2012, sedikitnya mencapai 4 ribu lembar, Jumat, 18 Mei 2012, 2 ribu lembar, dan sekitar 3.500 lembar tiket terjual pada Sabtu, 19 Mei 2012. “Hari ini ada sekitar 4-5 ribu wisatawan yang datang,” kata Kepala UPTD Pos Retribusi Telaga Sarangan, Kuswinardi, Ahad, 20 Mei 2012.

Kunjungan wisata selama libur panjang akhir pekan ini meningkat hingga tiga hingga lima kali lipat. “Kalau hari biasa diluar liburan, kunjungan wisatawan hanya 500 hingga 1.000 orang,” ucapnya.

Wisatawan datang dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah seperti Yogyakarta, Solo, Karanganyar, Malang, Surabaya, Bojonegoro, Kediri, Nganjuk, Madiun, Ngawi, dan lain-lain. Telaga di lereng Gunung Lawu itu berada di ketinggian 1.200 meter diatas permukaan laut (dpl) di Desa/Kecamatan Sarangan, Magetan, dan berbatasan dengan Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Selain wisata air berupa speed boat, wisatawan juga bisa menikmati persewaan kuda keliling telaga. Aneka kuliner juga memanjakan wisatawan terutama sate kelinci khas Sarangan. Wisatawan yang ingin berbelanja pernak-pernik dan kerajinan juga bisa memanfaatkan kawasan pedagang kaki lima yang ada di dekat telaga. Sejumlah villa dan hotel kelas ekonomi hingga ekslusif juga bisa jadi pilihan wisatawan.

Semantara itu, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Magetan Soetrisno mengatakan selama momen liburan, okupansi hotel di Sarangan selalu meningkat 30 sampai 100 persen dibanding hari biasa. Data PHRI setempat menyebutkan, di kawasan wisata Telaga Sarangan terdapat sekitar 80 hotel, villa, dan penginapan. Beberapa hotel juga memiliki layanan restoran. “Kelebihan berwisata di Sarangan ini karena cuacanya sejuk dan ada wisata alamnya mulai telaga sampai air terjun,” kata Soetrisno.

Categories
Pariwisata

Indahnya Trekking Di Tetebatu Di Kaki Gunung Rinjani


Panorama alam di kawasan yang dijuluki Ubud-nya Lombok di Tetebatu, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok TimurDETIK waktu seakan berhenti di Tetebatu di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Pemandangan alam hijau, tenang, dan sejuk. Air terjun gemericik, segar membasuh tubuh. Terletak di Kecamatan Sikur, Tetebatu adalah sisi lain ”surga” di Lombok. Berada di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, Tetebatu menawarkan panorama indah sawah, kebun, hutan, dan air terjun. Posisinya yang berada di kaki Rinjani memungkinkan wisatawan menyaksikan detik-detik matahari terbit dan tenggelam.

Wisatawan asing blusukan di Tetebatu sejak akhir tahun 1980, dibawa oleh para agen perjalanan. Sebagian besar berasal dari Belanda, Inggris, Perancis, Spanyol, Jerman, dan Italia. Wisatawan dari Singapura belakangan mulai berdatangan ke Tetebatu.

Mereka menikmati Tetebatu dengan berjalan kaki (trekking) dari Dusun Orong Grisak menempuh jarak hingga 7 kilometer. Perjalanan bisa menghabiskan waktu 2-5 jam tergantung permintaan rute tempuh. Perjalanan biasanya melewati permukiman warga, pematang sawah dengan latar belakang pemandangan Gunung Rinjani yang silih berganti dengan kebun pala, vanili, atau tembakau, dilanjutkan mengunjungi beberapa lokasi air terjun.

Salah satunya adalah air terjun Tibutopat yang dapat ditempuh dalam waktu 15 menit berjalan kaki dari tengah desa. Air terjun ini tidak terlalu tinggi sehingga air yang mengalir ke bawah pun tidak terlalu deras. Suasana gemericik air terjun yang berirama menjadi teman di tengah alam yang tenang.

Panorama alam di kawasan yang dijuluki Ubud-nya Lombok di Tetebatu, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur1Di bagian bawah air terjun terdapat kolam sedalam sekitar 4 meter. Airnya yang kehijauan terasa dingin menembus kulit, tetapi terasa menyegarkan. Kolam ini terbentuk setelah warga meletakkan karung-karung pasir di sekeliling tempat jatuhnya air.

”Biar bisa dipakai untuk berenang,” ujar Fadli, mantan kepala dusun yang kini menjadi penggerak Desa Tetebatu. Vegetasi di sekitarnya masih cukup rapat dengan beberapa jenis tanaman yang sulurnya menjuntai hingga ke bawah, menambah adem suasana. Berjalan menuju Tibutopat kita akan melewati pohon-pohon bambu dan kebun-kebun milik warga. Kontur tanah yang landai, curam, dan terjal cukup menguras tenaga.

Selain Tibutopat, ada air terjun yang lebih tinggi, yaitu air terjun Jeruk Manis atau Jukut, yang ditempuh dengan 1,5 jam berjalan kaki dari Tetebatu. Letaknya di sebelah selatan kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Warga sekitar memercayai, air di lokasi ini berkhasiat menyuburkan rambut.

Lokasi ini juga sering dijadikan titik awal pendakian puncak Gunung Rinjani setinggi 3.726 meter di atas permukaan laut. Namun, menurut Fadli, belakangan jarang pemandu mengajak wisatawan mengunjungi air terjun ini karena tiket masuknya yang cukup tinggi, mencapai Rp 150.000 per orang. Alasannya karena berada di dalam kawasan taman nasional. Air terjun lainnya adalah Joben di barat laut Tetebatu.

Masih ada satu lokasi yang wajib dikunjungi wisatawan, yaitu monkey forest yang juga berada di dalam kawasan taman nasional. Jika beruntung, kita bisa bertemu dengan sekawanan monyet hitam dan melihat aktivitas mereka dari dekat.

Matahari terbit

Matahari terbit atau terbenam bisa disaksikan di Prempungan yang jika ditempuh dengan kendaraan butuh waktu 15 menit dari Tetebatu. Pada pagi hari, matahari muncul setelah melampaui horizon dengan warna kuning tembaganya. Sinarnya membuat pohon-pohon kelapa menjadi siluet memantul di sawah-sawah yang belum lama ditanami. Khas pemandangan alam pedesaan.

Seorang warga melintas dengan dua keranjang penuh pisang yang baru saja dipanen. Sementara para petani mulai berangkat ke sawah. Aktivitas petani, seperti menanam atau memanen padi, menjadi pemandangan yang menarik bagi wisatawan.

Warga setempat ramah menyapa karena terbiasa melihat wisatawan melintasi kampung mereka. Sambil main gasing atau egrang, anak-anak kecil akan tersenyum dan melambaikan tangan ketika melihat wisatawan melewati kampung mereka. Di Tetebatu, setahun sekali diselenggarakan lomba gasing yang diikuti peserta dewasa dengan gasing hias berukuran besar.

Setelah lebih banyak dikuasai agen perjalanan dan hotel-hotel bermodal besar, warga setempat juga ingin ikut mengelola potensi alam desa mereka. Warga mulai bersiap membenahi rumah-rumah mereka agar bisa dimanfaatkan sebagai rumah inap atau home stay. Jika swakelola ini berhasil, diharapkan dapat menahan laju keberangkatan orang setempat sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).

”Selama ini, sebagian besar warga laki-laki di desa itu menjadi TKI, terutama ke Malaysia. Mereka banyak bekerja di perkebunan sawit agar bisa membangun rumah di kampung,” ujar Fadli.

Tetebatu yang permai menanti sentuhan tangan-tangan putra daerah untuk bekerja pada investor asing dan menyulap wajah Tetebatu menjadi lebih gemerlap, memiliki lapangan golf, apartemen, komplek real estate perumahan mewah, mall agar keindahan Tetebatu dapat segera menjadi uang dan laba.