Category Archives: Pariwisata

Jakarta Hidden Tour … Wisata Melihat Sisi Lain Jakarta Yang Ingin Disembunyikan Pemerintah


Berwajah kucel dan tak memakai sandal, mereka fasih menyanyikan Are You Sleeping Brother John dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Italia. “Mereka diajari tamu-tamu saya,” kata Ronny Poluan, pendiri Jakarta Hidden Tour, di Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat lalu.

Tamu-tamu yang dimaksud Ronny adalah para peserta tur yang datang dari pelbagai negara. Mereka tersenyum mendengar nyanyian pengantar tidur yang populer di Prancis sejak abad ke-17. Hari itu, Ronny memandu dua turis asal Italia dan Amerika Serikat.

Ronny membawa mereka menyusuri gang-gang sempit yang berjela-jela di antara rumah-rumah kumuh di Penjaringan. Sepanjang perjalanan, ia tak henti menjelaskan kekacauan penataan permukiman di Jakarta. Ia berdiri di jembatan kayu reot yang di bawahnya menggenang air menghijau bekas rob.

Sudah enam tahun Ronny menjadi pemandu tur tak biasa ini. Setelah beberapa stasiun televisi menayangkan tur ini, Ronny dikecam pemerintah Jakarta. “Saya dituduh menjual kemiskinan bangsa sendiri,” katanya. “Ini cara saya menunjukkan realitas dan menyindir pemerintah yang tak mampu memberantas kemiskinan.”

Laki-laki 62 tahun yang tinggal di Jakarta Timur ini bergeming. Ia terus membuka pendaftaran tur ini lewat blog gratis. Tarifnya US$ 50 per orang bagi wisatawan asing dan setengahnya untuk turis lokal. Tur dimulai sejak pagi dengan start dari Kota Tua di Jakarta Barat, lalu naik perahu ke Penjaringan, kembali dengan bus umum ke Kota Tua pukul 16.00.

Ia mengajak penduduk yang dilaluinya untuk menemani para turis. Ronny lalu berbagi tarif itu dengan mereka. “Sepekan saya empat kali menemani turis yang datang ke sini,” kata Lismarni, perempuan 35 tahun warga Penjaringan. Sejak sering didatangi turis, kata dia, tetangga-tetanganya jadi fasih berbahasa Inggris.

Dari tiket tur ini, Ronny mengumpulkannya dan membangun koperasi yang menyediakan simpan-pinjam. Bagi seniman lulusan Institut Kesenian Jakarta itu, ini cara ampuh untuk mencegah warga Penjaringan meminjam uang ke rentenir yang bunganya mencekik.

Veronica Manson, dari Italia, mengatakan ia kini tahu sisi lain Jakarta. Ia antusias naik becak di Gang Luar Batang, lalu menyusuri Pasar Ikan dan keluar-masuk rumah bilik yang sempit. “Jakarta seperti uang yang punya dua sisi. Ini sisi kumuhnya,” kata ibu dua anak itu.

James Obata tak kurang kaget ketika masuk kampung di Penjaringan. Di Amerika Serikat, kata dia, teman-temannya sering menceritakan Jakarta yang hedonis: mewah, bebas, banyak hiburan malam. “Jakarta digambarkan sebagai ibu kota negara penghasil minyak terbesar dengan pertumbuhan ekonomi bagus,” kata konsultan perusahaan komunikasi itu.

Obata, yang nenek moyangnya dari Jepang, tahu Jakarta Hidden Tour dari Internet. Ia tertarik mencoba ketika datang ke Jakarta untuk melihat wajah lain Ibu Kota selain Jalan Sudirman dan Thamrin. “Ini tur menarik justru karena bukan tur bintang lima,” kata dia.

Indahnya Wisata Ke Taman Nasional Baluran dan Pantai Bama Situbondo


the-first-view-captured

INDONESIA punya hamparan savana terluas di Pulau Jawa yakni Taman Nasional Baluran di Jawa Timur. Jika Anda berkunjung ke sini pasti serasa berada di Afrika, walaupun saya belum pernah ke Afrika. Taman Nasional Baluran ini merupakan destinasi wisata yang cukup berbeda. Kenapa saya bilang berbeda? Karena di sini kita kalau beruntung bisa menemukan banyak sekali satwa liar yang benar-benar liar tidak seperti di kebun binatang atau Taman Safari.

Kalau di Taman Safari kita melihat dengan dekat aneka satwa, bahkan mereka bisa menghampiri kita kalau mereka mencium bau makanan dari mobil. Tetapi tidak di sini. Pasalnya untuk masuk ke dalam Taman Nasionalnya saja kita harus memasuki jalan tanah yang agak rusak selama 40 sampai dengan 1 jam perjalanan.

Kawasan Taman Nasional Baluran terletak di Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Batas wilayah sebelah utara adalah Selat Madura, sebelah timur Selat Bali, dan di tengah kawasan ini terdapat Gunung Baluran yang sudah tidak aktif lagi. Namun menjadi pemandangan yang cantik ketika kita melihat padang savana dari kejauhan.

Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa, dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Untuk Anda pencinta fotografi sebaiknya datang ke sini pada saat musim kemarau, pada bulan Juni-Juli-Agustus karena air di hutan kering, dan rumput berwarna kuning.

Pada musim kering, satwa seperti rusa, banteng, burung merak yang berada di dalam hutan keluar menuju savana. Pihak Taman Nasional menyediakan air dan kubangan, sehingga pada musim kemarau hewan keluar dan berada dekat di jalan. Satwa-satwa ini sangat pemalu, karena jika ada mobil yang mendekat saja mereka akan kabur masuk ke dalam hutan.

baluran-national-park

Jika Anda datang saat musim hujan maka tumbuhan dan air sangat berlimpah sehingga penghuni taman seperti banteng dan kerbau liar memilih masuk ke pedalaman taman dari pada bertatap muka dengan pengunjung. Agar bisa lebih menikmati perjalanan di Taman Nasional Baluran cobalah sebelum memasuki kawasan ini Anda mengunjungi pusat informasi untuk mendapat penjelasan singkat tentang Taman Nasional Baluran. Setelah mendengar penjelasan panjang lebar biasanya kita bisa lebih menghargai, tidak mengganggu, merusak, mengambil, atau berburu flora, fauna dan ekosistemnya.

Kepala Seksi Sarana Distribusi dan Digital Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Budi Supriyanto mengatakan akses menuju Taman Nasional Baluran ini tidak mahal dan memang serasa seperti di Afrika. Sepanjang perjalanan menuju Savana Bekol di Taman Nasional Baluran ini di kanan-kiri jalan banyak sekali pohon jati. Disarankan memulai perjalanan pada pagi hari. Syukur-syukur bisa menemukan kabut sehingga foto bisa lebih dramatis bagi pencinta fotografi. Saya sarankan kalau bisa ke sini pada jam 04.00 pagi. Kenapa? Karena matahari terbit (sunrise) di Taman Nasional Baluran sangat bagus.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Di sini ada Pantai Bama yang merupakan spot untuk melihat sunrise, di sekitar Pantai Bama juga ada banyak pohon mangrove dan kawasan konservasi. Namun harap berhati-hati di sini karena banyak sekali monyet liar. Kalau Anda lengah sedikit, bisa jadi handphone atau kamera Anda bisa diambil oleh monyet-monyet tersebut. Di Pantai Bama kita bisa menyewa perahu untuk berkeliling Taman Nasional. Selain itu disini juga merupakan spot snorkeling yang cukup bagus, tetapi Anda harus agak ke tengah sedikit dan bisa melihat banyak ikan dan biota laut.

Setelah itu kita bisa melanjutkan perjalanan menyusuri Padang Savana sepanjang Taman Nasional. Kalau ingin maksimal melihat satwa-satwa yang ada di sini lebih baik Anda berjalan kaki, karena satwa-satwa di sini sangat takut dengan manusia. Mendengar suara mesin mobil atau motor saja satwa-satwa tersebut langsung kabur masuk ke dalam hutan.

Mengapa harus berjalan kaki? Ya hitung-hitung olah raga di alam terbuka, sehat dan bisa sekalian dapat foto bagus bukan? Saya bersyukur datang ke lokasi ini sejak subuh, karena ternyata pada pagi hari banyak sekali satwa yang keluar. Saya menemukan banteng jawa, burung merak yang bergerombol, bahkan burung-burung merak ini terbang bebas di alam liar. Beruntung saya dapat mengabadikan momen ini.

Ketika saya dapat banyak foto satwa ini, di sosial media banyak yang menanyakan kepada saya karena mereka pada saat datang kesini tidak menemukan banyak satwa liar. Padahal kuncinya adalah datang pagi-pagi sekali ke Taman Nasional Baluran ini. Ingin merasakan pengalaman berada di tengah alam liar yang sesungguhnya? Datanglah ke Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur. Taman nasional seluas hampir 25 ribu hektar ini merupakan miniatur segala jenis hutan dan vegetasi Indonesia. Baluran mempunyai hutan musim, hutan hujan, mangrove, savannah (sabana), pantai, gunung, sungai, bahkan terumbu karang.

taman-nasional-baluran

Baluran sangat mudah diakses. Berada 255 km dari Kota Surabaya, 35 km dari Banyuwangi, 60 km dari Situbondo, dan 159 km dari Denpasar. Dalam satu hari, taman nasional ini bisa dikunjungi lebih dari 100 orang dan jumlahnya naik lima kali lipat di hari libur. Uniknya, sebagian besar justru adalah wisatawan asing. Tak perlu khawatir soal biaya. Harga tiket masuk sangat murah: Rp 2.500 untuk wisatawan domestik, Rp 20.000 untuk wisatawan asing, dan Rp 6.000 untuk kendaraan.

Banyak yang bilang Sabana Bekol adalah “The Little Africa in Java.” Cukup beralasan, karena begitu kami sendiri memasuki kawasan sabana ini, langsung tercium dan terasa sekali aroma Afrika, meski kami pun belum pernah menginjakkan kaki di Benua Hitam. Padang rumput yang luas sedang menguning dengan beberapa pohon tersebar di pinggir dan di dalamnya. Kumpulan rusa berlari-lari di tengah sabana, suara lenguhan banteng menggema begitu liar, dan tentu saja, terik matahari yang panas. Benar-benar kontras dengan hutan-hutan yang sebelumnya kami lalui. Sabana Bekol berada 12 km dari pintu masuk Taman Nasional Baluran. Untuk mencapainya, kami menggunakan sepeda motor bersama dengan petugas taman nasional, menyusuri jalan aspal yang telah berbatu dan membelah hutan musim serta hutan evergreen silih berganti.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Luas Sabana Bekol mencapai 300 hektar. Sebelah utara berbatasan dengan jalan, sebelah barat berbatasan dengan hutan musim, sementara sebelah timur berhadapan dengan pinggiran pantai di Selat Bali. Satu-satunya akses yang kami lalui, membelah sabana ini menjadi dua: sebelah barat Sabana Bekol dan sebelah timur Sabana Bama. Pohon-pohon Widoro Bukel dengan bentuk yang unik seperti payung lebih banyak memenuhi Sabana Bama. Jika kamu melihat sabana dari sisi timur, pemandangan tampak lebih mengagumkan. Gunung Baluran yang megah akan menjadi latar belakangnya. Di ujung tikungan jalan terdapat sebuah bukit kecil di mana menara pandang berada di atasnya. Dari menara pandang, kami bisa melihat keseluruhan sabana dan Selat Bali yang membiru. Di kaki bukit terdapat beberapa bangunan yang merupakan wisma penginapan, lahan parkir, dan kamar mandi umum.

savanna

Saat terbaik mengunjungi Sabana Bekol, adalah pada pagi dan sore hari. Karena pada waktu-waktu tersebut, hewan-hewan liar keluar dari hutan. Sementara musim terbaik, adalah musim kemarau antara Juli sampai Oktober. Saat kemarau, air di dalam hutan sudah mulai habis dan yang tersisa hanyalah di padang sabana. Malam hari juga memberikan sensasi pemandangan yang menakjubkan. Jika kamu menginap di Bekol, dari depan penginapan kamu bisa menyaksikan bagaimana mata hewan-hewan tersebut bersinar memenuhi kegelapan malam yang hanya bercahaya bintang dan bulan.

Sabana Bekol hanya sebagian kecil dari 10.000 ha sabana yang dimiliki Baluran. Tetapi hanya Sabana Bekol dan Bama yang bisa diakses dengan mudah. Sabana di Baluran merupakan tempat hidup bagi rusa, banteng, kerbau, ular hijau, monyet ekor panjang, biawak, ajag (sejenis anjing hutan kecil), dan lainnya. Kadang kamu juga bisa menyaksikan bagaimana kawanan ajag membantai rusa untuk dimakan. Menakutkan? Atau malah membuat kamu ingin segera mengunjunginya?

Pantai Bama merupakan ujung dari jalan akses yang membelah Baluran. Berjarak 3 kilometer dari Sabana Bekol. Memasuki Pantai Bama, kamu akan disambut dengan pohon ketapang dan kesambi besar-besar yang rindang dengan puluhan monyet ekor panjang yang bergelantungan. Tapi jangan harap kamu akan mendengar suara ombak. Kami sendiri heran melihat laut Bama yang begitu tenang, nyaris tanpa ombak. Pantainya berpasir putih dan garisnya tidak begitu panjang, selebihnya dikelilingi oleh hutan mangrove. Sampai sejauh lebih dari 1 kilometer, kedalaman pantai ini hanya selutut orang dewasa, sehingga aman untuk aktivitas air bagi yang tak pandai berenang. Tanda batas laut dalam adalah warna biru tua.

Di balik lautnya yang tenang dan dangkal, Pantai Bama menyimpan keindahan alam bawah laut yang mempesona. Banyak yang bilang, ini merupakan yang terindah di Pulau Jawa. Dengan kondisi laut seperti ini, banyak aktivitas yang bisa kamu explore, seperti berenang, snorkelling, dan kano. Untuk snorkelling, setidaknya kamu harus berenang sejauh 500 meter dari bibir pantai untuk mendapatkan pemandangan terumbu karang dengan ikan-ikan kecil yang indah. Sementara di sekitar bibir pantai, kamu hanya akan melihat sejenis tanaman laut dengan daun yang meruncing besar-besar.

Kami juga memutuskan menginap di Bama untuk melihat sunrise-nya yang terkenal indah (sunset juga bisa dilihat di Sabana Bekol). Sore hari saat pengunjung sudah sepi, kami menyusuri bibir pantai, cukup prihatin melihat banyak sampah yang mengambang. Petugas taman nasional menjelaskan itu bukan merupakan sampah pengunjung, tapi sampah kiriman dari tempat lain yang entah dari mana. Di Bama ada tiga rumah singgah yang masing-masing berisi dua kamar, cafeteria, kamar mandi umum, musholah, dan rumah petugas taman nasional.

taman-nasional-baluran kijang

Saat menjelang malam, sebetulnya kami berharap mendengar suara ombak, tapi ternyata justru semakin sepi. Monyet-monyet sudah tertidur di atas pohon. Saat lampu sudah dimatikan pada jam 11 malam, suasana semakin hening, dan kami akhirnya tertidur. Kami baru terbangun pada pagi hari sekitar jam 4 oleh deburan suara ombak. Kaget dan senang tentu saja karena mendapatkan suasana yang membuat kami benar-benar merasa tinggal di dekat laut. Ternyata memang ombak di Pantai Bama hanya beriak pada pagi hari.

Menjelang matahari terbit saya berjalan ke arah barat untuk menyusuri hutan mangrove. Tak perlu repot karena sudah ada jalur dan jembatannya. Menurut petugas, sunrise di ujung jembatan yang membelah mangrove ini adalah titik yang paling indah untuk menyaksikan sang Raja Siang menampakkan dirinya. Sayangnya, karena mendung mataharinya jadi tak begitu terlihat. Tapi kekecewaan kami terbayar oleh atraksi ikan-ikan yang menari di atas permukaan air, melompat-lompat di sela-sela akar mangrove, serta monyet-monyet dengan asyiknya memancing kepiting dari lubangnya dengan ekornya yang panjang.

Gunung Baluran

Ini dia salah satu atraksi wajib dan utama dari konsumsi wisatawan di Baluran. Gunung setinggi 1.247 meter ini berdiri dengan megahnya di tengah-tengah taman nasional. Gunung Baluran merupakan gunung yang sudah tidak aktif, tapi belum diketahui betul kapan terakhir kali meletus. Menurut petugas taman nasional yang mengantar kami, gunung ini akan tampak sama bentuknya jika dilihat dari sisi utara maupun selatan. Simetris! Kalau tidak percaya coba kamu buktikan sendiri. Amati saja dari Kota Situbondo dan Banyuwangi! Kami penasaran juga ingin membuktikan, tapi sudah keburu tertidur di dalam bis. Gunung Baluran juga bisa didaki walaupun tidak bisa sampai puncak karena jalurnya yang belum layak didaki selain oleh profesional atau pendaki yang nekat. Untuk mendaki, kamu bisa didampingi oleh petugas dari taman nasional.

Pantai Bilik dan Sijile

Dua pantai ini katanya lebih indah dari Pantai Bama, baik pantainya maupun alam bawah lautnya. Tapi sayang tidak ada jalan akses umum ke tempat ini. Satu-satunya jalan paling mudah adalah lewat jalur laut melalui Pantai Bama dengan menyewa perahu nelayan. Jaraknya sekitar 15 km dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam. Kalau melaui jalur darat, kamu harus melalui jalur tikus dari Desa Banyuputih. Sangat tidak disarankan, kecuali kamu benar-benar seorang hardcore adventurer.

Hutan Musim dan Evergreen
Hutan musim akan tampak hijau di musim hujan dan akan terlihat kering menguning di musim kemarau, sementara hutan evergreen akan selalu hijau, baik musim hujan atau kemarau. Kedua jenis hutan ini akan silih berganti menemani perjalanan kami menyusuri Baluran. Dari pintu masuk, kamu akan disambut hutan musim, kemudian hutan evergreen, lalu berjumpa lagi dengan hutan musim, baru kemudian memasuki Sabana Bekol.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sepanjang perjalanan melalaui hutan musim dan evergreen, kamu bisa menemukan kupu-kupu warna-warni yang berkumpul di atas kubangan-kubangan air. Saat musim hujan di mana banyak kubangan air, kupu-kupu juga semakin banyak ditemukan. Ayam-ayam hutan pun banyak melintas di tepi jalan. Jika beruntung, saat memasuki hutan evergreen kamu mungkin bisa bertemu dengan macan tutul karena di sinilah habitat hewan karnivora ini hidup. Kondisi jalan dari pintu masuk sampai Sabana Bekol memang rusak parah, tapi ada manfaat lain dari fasilitas jalan yang tak baik ini, bahwa pengunjung tidak bisa mengebut berkendara, sehingga terhindar dari resiko menabrak hewan-hewan liar yang bisa saja tiba-tiba melintas. Sementara menurut beberapa pengunjung lain, jika jalan mulus kemungkinan menambah jumlah pengunjung taman nasional. Kalau kami sendiri lebih memilih jalan yang mulus dengan dipasang beberapa peringatan dilarang mengebut dan tentu saja ada sanksi jika yang ketahuan mengebut dan berakibat pada kecelakaan terhadap hewan liar.

Rute dan Penginapan Di Wisata Alam Pantai Rajegwesi Banyuwangi


Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, dan Pantai Pulau Merah di Banyuwangi 3

Letaknya di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi Jawa Timur, pantai ini masih berada dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri yaitu Pantai Rajegwesi. Pantai Rajegwesi tidak kalah indahnya dengan pantai pantai yang berada di Banyuwangi. Sebagai pilihan lokasi untuk berlibur di Banyuwangi. Jika anda berlibur ke Teluk Hijau (Green Bay) atau Sukamade yang terkenal dengan rumah para penyu, tidak ada salahnya anda mampir di pantai yang tenang yang jauh dari keramaian kota ini. Pantai ini di kelilingi oleh hutan tropis yang menyegarkan mata dengan hijauannya yang masih alami.

Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, dan Pantai Pulau Merah di Banyuwangi

Jalan untuk sampai di pantai Rajegwesi ini searah dengan Teluk Hijau dan Sukamade. Perkebunan, jalan yang teduh, bukit bukit yang indah dan rumah klasik orang – orang sekitar akan menyambut para pengunjung yang akan menuju ke pantai Rajegwesi ini. Pantai Rajegwesi ini sanggat cocok untuk aktivitas berenang dikarenakan gelombang ombak yang tenang dan tidak terlalu tinggi.

Banyuwangi miliki garis pantai sepanjang 175 kilometer. Tak heran jika Kabupaten berujuluk the sunrise of java ini menyimpan banyak pantai yang indah dan masih relatif perawan. Salah satunya pantai Rajegwesi, di Desa Kandangan Kecamatan Pesanggaran. Dari cerita masyarakat setempat, pantai yang ada diwilayah terpencil ini kali pertama ditemukan oleh tentara Jepang. Disebelah barat pantai berdiri bukit Capil, yang dipunggungnya terdapat beberapa bunker pengintai yang dibangun Jepang.

Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, dan Pantai Pulau Merah di Banyuwangi 4

Konon, dulunya bunker yang disebut warga setempat sebagai gua Jepang itu didalamnya masih terdapat persenjataan berupa meriam. Moncong meriam mengarah ke teluk Rajegwesi dalam posisi siap membidik musuh yang datang. Namun keberadaan meriam itu sendiri lenyap tanpa ada yang tahu yang kemungkinan dicuri. “Sekarang gua Jepang ya hanya bangunan tua saja,” kata Slamet, warga pesisir Rajegwesi.

Nama Rajegwesi sendiri jika ditelusuri juga berkaitan dengan sistem pertahanan laut yang dibangun Jepang kala itu. Dimana kata Rajeg diambil dari bahasa Jawa yang berarti Tiang Pancang. Sedangkan Wesi dalam bahasa Indonesia berarti Besi. Dahulu Jepang menancapkan tiang pancang dari kayu Jati (setara kekuatan besi) di perairan Teluk Rajegwesi.

Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, dan Pantai Pulau Merah di Banyuwangi 6

Rajegwesi itu ditanam dimulut teluk dengan formasi gigi Belalang. Yakni ditanam secara bersap yang barisan depan dan belakang saling menutupi celah. Ini dimaksudkan untuk menyulitkan kapal musuh menyusup ke pantai. Sehingga memaksa kapal musuh yang datang untuk menurunkan jangkar ditengah laut. “Tapi Rajegwesinya sudah habis diambili orang,” tambah Slamet yang mendapatkan cerita tersebut secara turun temurun. Masih menurut cerita masyarakat Rajegwesi. Dulu Jepang masuk ke daerah tersebut dengan membawa pekerja pribumi dari Yogyakarta dan sekitarnya. Mereka itulah yang bekerja menancapkan Rajegwesi di mulut teluk. Tiap pekerja diberi kompensasi tanah dan berhak bermukim atas pengawasan Jepang.

Kini, pantai Rajegwesi yang keindahan panoramanya masih alami ini mulai ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Ombaknya yang relatif tenang, pasirnya yang putih, dan deretan perahu nelayan menjadi pemandangannya. Gugusan bukit ditepi teluk menjadi paduan topografi yang unik. Jaraknya dari pusat kota Banyuwangi sekitar 80 kilometer, menjadikan pantai ini menjadi surga yang tersembunyi. Meski begitu, akses jalan menuju kesana relatif mudah. Di bulan tertentu, diadakaan tradisi petik laut dengan melarung kepala kambing ke tengah laut. “Biasanya bulan Syuro kita syukuran petik laut,” tutup Slamet.

Meru Betiri merupakan hutan tropis dengan sungai spektakuler dan keanekaragaman satwa liar. Berslogankan “Home of Biodiversity”, Taman Nasional Meru Betiri merupakan salah satu taman nasional yang paling mengesankan di Pulau Jawa dengan ekosistem mangrove, hutan rawa, dan hutan hujan dataran rendah. Kawasan Taman Nasional Meru Betiri secara administrasi pemerintahan terletak di Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Taman nasional ini terdiri dari 4 zona yaitu, zona rimba seluas 22.622 Ha, zona pemanfaatan intensif seluas 1.285 Ha, zona rehabilitasi seluas 4.023 Ha, dan zona pemanfaatan khusus seluas 2.155 Ha.

Pantai Rajegwesi, Teluk Hijau, dan Pantai Pulau Merah di Banyuwangi 5

Sebagian besar taman nasional ini dipenuhi oleh perkebunan karet dengan topografi berbukit-bukit berikut tebing yang curam. Kawasan Taman Nasional Meru Betiri bagian utara dan tengah merupakan hutan hujan tropika yang selalu hijau, sedangkan di bagian lainnya termasuk hutan dengan musim kering. Taman nasional ini merupakan sebuat pot besar tempat tumbuhnya tanaman langka seperti bunga raflesia dan beberapa jenis tumbuhan lainnya seperti bakau, api-api, waru, nyamplung, rengas, bungur, pulai, bendo, dan beberapa jenis tumbuhan obat-obatan.

Di sini Anda dapat menyaksikan tingkah laku satwa liar yang eksotis seperti kumbang hitam, kura-kura, macan tutul, banteng, kera ekor panjang, ajag, kucing hutan, rusa, bajing terbang ekor merah, merak, penyu belimbing, penyu sisik, penyu hijau, dan penyu ridel atau lekang. Di Pantai Sukamade dibangun beberapa fasilitas sederhana untuk pengembangbiakan penyu. Taman ini juga merupakan tempat perlindungan harimau jawa yang langka dan mulai punah.
Taman ini terletak di salah satu daerah yang paling terpencil di Indonesia sehingga aksesnya termasuk sulit, bahkan pengunjung terpaksa menggunakan mobil 4WD. Letaknya yang terpencil membuat hutan ini jarang dikunjungi sehingga menjadi alasan mengapa hutan ini menjadi surga belantara yang belum terjamah keindahannya.

Taman Nasional Meru Betiri menawarkan pemandangan dan pengalaman yang luar biasa. Pepohonan dan satwa liar yang menjadikan hutan ini sebagai rumah dan habitat mereka akan menjadi atraksi menarik sekaligus bermanfaat bagi Anda. Menuju hutan ini membutuhkan stamina yang baik. Namun keletihan Anda akan terbayar lunas dengan pemandangan yang spektakuler dan udara hutan yang khas menyejukan kulit dan hati Anda. Pengalaman ini akan sulit Anda rasakan dan temukan di tempat lain di planet ini.

Anda juga bisa menapakkan kaki di beberapa tempat menarik di sekitarnya seperti:

Pantai Rajegwesi
Di pantai ini Anda bisa berwisata bahari seperti berenang, mengamati satwa dan tumbuhan, juga wisata budaya dengan mengunjungi desa nelayan tradisional.

Sumbersari
Di sini Anda bisa menemukan padang rumput seluas 192 hektar dan melihat tingkah laku satwa liar seperti sambar, rusa, dan kijang. Sebuah laboratorium alam untuk kegiatan penelitian yang sempurna.

Pantai Sukamade
Di sini Anda bisa berkemah, selancar angin, melihat penyu yang sedang bertelur, juga tempat pengamatan tumbuhan atau satwa.

Teluk Hijau
Menjelajahi hutan, wisata bahari, dan berenang. Alamya jelas akan membuai Anda jatuh ke pelukan kedamaian.

Aksesibilitas
Kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dicapai melalui dua jalur :
Jalur melalui Jember: Jember-Ambulu-Curahnongko-Bandealit sepanjang 64 Km dari arah Jember, dapat ditempuh selama 1,5 jam.Jalur melalui Banyuwangi:
Jember-Glenmore-Sarongan-Sukamade sepanjang 103 km, dapat ditempuh selama 3,5 – 4 jam.Jember-Genteng-Jajag-Pesanggaran-Sarongan-Sukamade sepanjang 103 km, dapat ditempuh selama 3,5 – 4 jam.Jember-Banyuwangi-Genteng-Jajag-Pesanggaran-Sarongan-Sukamade sepanjang 127 km, dapat ditempuh selama 4 – 4,5 jam.
Alternatif Tujuan di Taman Nasional Meru Betiri

Jalur Andengrejo-Bandealit
Pintu gerbang Andengrejo merupakan satu-satunya akses masuk menuju Bandealit. Di pintu gerbang ini, Anda harus membayar tiket masuk dan memperoleh informasi lengkap tentang taman nasional ini. Sepanjang perjalanan menuju Bandealit, Anda dapat melihat atraksi-atraksi seperti budeng yaitu monyet semacam lutung. Pohon Aren yang menguraikan buahnya sungguh memesona untuk pecinta alam atau fotografer. Temukan juga kijang, bunga Rafflesia, dan pabrik kopi peninggalan Belanda yang sekarang dimiliki oleh PT Bandealit, kebun karet, serta masyarakatnya yang sedang memanen getah karet, kebun sayuran, pohon nyiur dan berjajar rapih, serta pohon durian yang aromanya selalu tercium. Saat Anda mencapai pintu gerbang Bandealit yang jaraknya sekitar 14 km dari pintu gerbang Andongrejo, Anda wajib melaporkan ke kantor setempat.

Jalur Bandealit-Pringtali
Pringtali adalah padang savana yang menakjubkan. Akses menuju padang luas ini harus menuju Bandealit terlebih dahulu. Hal yang akan Anda temui di perjalanan ialah mengunjungi petani kelapa muda yang airnya menebus dahaga sangat Anda di hutan tropis ini. Selain itu, bila wakunya tepat makan ada suguhkan kegiatan masyarakat memanen kopi. Gerombolan banteng (Bos javanicus) sekitar 30 ekor akan terlihat sesekali melalui jalur ini untuk mencari minum dan makan, tentunya saat malam hari. Hutan hujan tropis yang berkabut dan airnya yang hijau bersih akan menyegarkan mata dan pikiran Anda. Apalagi bila Anda dapat berjumpa dengan macan tutul di savana Pringtali di dalam mobil Anda, semoga saja beruntung melihatnya langsung.

Jalur Bandealit-Goa Jepang
Di jalur ini Anda akan menemukan pohon jati yang tegak menghalangi sinar matahari menembus celah-celah pepohonan. Sebuah perkampungan masyarakat lokal pun akan Anda temui dengan keramahan warganya yang bersahaja. Bila Anda ingin memberi makan rusa timor, hal ini dapat Anda lakukan di penangkaran rusa di sebelah pusat informasi. Gombloh adalah selebriti lokal yang ternyata adalah rusa jantan yang sangat akrab dengan manusia. Buah naga adalah hal yang unik yang akan Anda temui di jalur ini. Selain itu, anggrek liar yang indah dan bunga Ipomoea dapat menghibur Anda dengan warna-warnanya. Muara di dekat Bandealit dapat dimanfaatkan untuk beristirahat dan berkano. Pantai Bandealit sendiri merupakan garis pantai yang sunyi dan asri. Lihatlah para nelayan menangkap ikan dan juga menawar hasil tangkapannya. Hal ini biasa dilakukan sebelum pengunjung menginap dan makan malam. Goa Jepang yang juga disebut bungker Jepang dapat Anda temui di daerah ini. Perjalanan menuju bunker sekitar 2 jam dengan berjalan kaki.

Jalur Banealit-Teluk Meru
Tanaman kopi merupakan hamparan yang akan Anda lihat di jalur ini. Pohon Glintungan (Bischofia javanica) yang tinggi berdiameter 2 meter patut Anda abadikan dalam foto. Buah Gondang akan Anda temui yang rupanya sangat mirip apel. Buah ini tidak dapat dimakan karena dapat menjadi racun. Bila Anda ingin mengetahui tanaman rotan, maka di sinilah Anda dapat melihatnya. Rupanya penuh dengan duri pada batang dan daunnya.

Batu Ampar adalah daerah di tepi sungai yang airnya bersih. Beristirahatlah di sini sambil berendam walau hanya kaki Anda saja yang masuk di dalam airnya yang segar. Tempat pengamatan burung adalah lokasi yang sering dilakukan di daerah jalur ini. Burung kecil seperti burung madu, hingga elang dapat Anda nikmati di sini. Mengkudu pun akan Anda lihat bila pandangan Anda cukup jeli melalui jalur ini. Bila lebih tertarik dengan ukuran pohon yang cukup besar maka beringin asli yang berumur puluhan tahun dapat Anda temui di jalur ini. Sesampainya di Teluk Meru, buatlah tenda dan Anda mulailah menikmati alamnya dengan cara berkemping (camping). Pantai di teluk ini panjangnya 5 km dan dipotong oleh satu aliran sungai yang harus Anda sebrangi saat menyusuri pantai. Jangan khawatir, air sungai ini cukup dangkal dan berair tenang.

Jalur Meru-Permisan
Sungai kecil berbatu pasti akan menantang Anda, apalagi saat musim kepiting berkembang biak. Dua sungai akan bertemu di Kali Lanang. Di sinilah Anda beristirahat. Istirahat kedua dilakukan para petualang di Tumpak Dawung yang merupakan puncak bukit, sebelum menuju pantai Permisan Barat. Pantai di balik bukit akan Anda temui dan indahnya melebihi pantai Permisan Barat. Banyak orang berenang bahkan snorkeling karena terumbu karangnya yang masih sangat baik.

Jalur Permisan-Sukamade
Ikan blanak dan mujair akan banyak ditemui di hutan mangrove. Hanya 10 menit dari Permisan, Anda akan menemui air terjun landai yang membuat Anda ingin kembali menceburkan diri walau baru berenang di pantai. Jalur menuju Sukamade dari air terjun akan sangat menantang karena licin dan Anda banyak beristirahat di berbagai titik.
Pohon pinang, aren, dan semak belukar akan menemani Anda hingga savana selanjutnya. Ke Sukamade Anda perlu mengambil jalur kanan, setelah menuruni bukit terjal dari Pondok Muto. Jalur ke kiri akan membawa Anda ke Sumbersari.

Jalur Sukamade-Sarongan
Hal paling menarik ialah menyebrangi sungai dengan motor atau truk. Pengemudi seolah tahu titik mana yang harus dilalui tanpa meresikokan truk dan penumpangnya. Setelah 4 kilometer dari pantai Sukamade, perkampungan pegawai perkebunan PT Sukamade akan menyambut. Di sinilah Anda akan mengenal buah kakao atau coklat.

Akomodasi
Bila waktu tak mengizinkan Anda untuk pulang malam hari dan Anda masih di Bandealit maka bermalamlah di salah satu pondok wisata. Yaitu berupa 2 rumah dengan fasilitas masing-masing 4 kamar tidur dan kamar mandi, tempat tidur springbed, air bersih, listrik (walau dipadamkan di malam hari), dan ruang tamu yang luas. Di Pantai Sukamade tersedia penginapan 2 rumah panggung dengan 4 kamar dengan 2 tempat tidur di masing-masing kamarnya. Harga penginapan per malam hanya Rp 75 ribu dan bila ingin berkemah, terdapat camping ground di sekitar pantai.

Tips
Waktu terbaik untuk mengunjungi taman nasional sini adalah pada musim kemarau (April-Oktober) karena akses jalan ke taman nasional ini rentan terhadap banjir di musim hujan.Sebelum memasuki kawasan taman nasional ini, Anda wajib melaporkan diri ke kantor pengelolaan taman nasional setempat, yaitu di:
Balai Taman Nasional Meru Betiri
Jl. Sriwijaya 53 , Jember 68101
Telp. / Fax: +62 331 335 535
Kotak Pos: 296
Email : meru@telkom.net
Website : http://www.merubetiri.com

Daftar Pantai Mistis Untuk Mencari Pesugihan dan Ilmu Kanuragan


Tak seperti wisata pantai pada umumnya, yang ramai dipadati para pengunjung di akhir pekan. Beberapa pantai yang saya kunjungi di Jember, Jawa Timur, ini hanya ramai di hari-hari tertentu, seperti Kamis malam atau malam Jumat. Pengunjung juga ramai ketika malam 1 Syura. Pantai-pantai ini dikenal memiliki aura mistis.

Didorong oleh informasi itu, saya mengunjungi tiga pantai di Jember, yang disebut banyak orang setempat beraura mistis tersebut.

Pantai Puger
Saya mengunjungi pantai ini pada awal tahun 2015. Saya tiba di pantai Puger siang hari. Saat itu terik matahari benar-benar memanggang kulit. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan pasir hitam. Gersang. Gulungan ombak yang mencoba memberikan alunan alam dan hijaunya deretan pohon pandan seakan tak mampu mengusir hawa panas di pantai ini. Saya hanya menemui dua pemancing di bibir pantai. Sedari pagi mereka tak mendapatkan ikan.

Boleh dibilang, tak ada kata indah bagi kawasan wisata pantai ini. Meski begitu, pantai yang terletak 40 kilometer di sebelah barat daya Kota Jember ini sangat terkenal. Pantai ini dikenal sebagai salah satu tujuan wisata mistis. Menurut petugas loket ernama Mahat yang menemani kami, pengunjung ramai pada hari-hari tertentu. “Biasanya pengunjung ramai pada Kamis malam atau malam Jumat untuk melakukan ritual. Apalagi saat malam 1 Suro,” ujar dia.

Tak jauh dari pantai itu terdapat Kolam Penampungan Mata Air Kucur, Mata Air Seribu, dan Petilasan Mbah Kucur. Menurut Mahat, dinamai Kucur karena terdapat petilasan bekas pertapaan Mbah Kucur yang diyakini dia adalah seorang prajurit yang tugasnya mengawal Pangeran Puger dari Kerajaan Mataram. “Pangeran Puger mengakhiri tapanya dan kembali ke Mataram, tapi pengawalnya tidak ikut dan menetap di Puger Kucur,” ucap Mahat.

Pantai Watu Ulo
Untuk mencapai pantai ini dibutuhkan 30 menit dari Pantai Puger. Di pantai ini banyak terdapat warung dan suasananya tak segersang Pantai Puger. Kesan mistis meruap dari pantai ini karena tampak bekas sesaji berupa kembang tujuh rupa yang berserakan di susunan batu panjang. Konon susunan batu panjang itu dianggap menyerupai tubuh ular. Menurut kisah yang beredar, ada legenda mengenai asal-muasalnya. Diceritakan pemuda desa bernama Raden Mursodo membelah ular raksasa. Ular itu dibelah menjadi tiga bagian. Dia geram karena ular itu memakan ikan ajaib yang telah memberinya emas.

Pantai Papuma
Sekitar satu kilometer dari Pantai Watu Ulo terdapat pantai dengan pasir putih dan pemandangannya sangat eksotis: Pantai Papuma. Nama Papuma merupakan singkatan dari Pasir Putih Malikan. Disebut Malikan karena ada batu-batu yang bisa berbunyi khas saat terkena ombak. Batu Malikan merupakan karang-karang pipih yang mirip seperti kerang besar yang menjadi dasar sebuah batu karang. Di sana, terdapat warung sederhana berderet setelah area parkir.

Pantai seluas 50 hektare itu dikelilingi hutan lindung yang dikelola Perum Perhutani. Wisatawan dilarang keras berenang di pantai ini karena gelombangnya sangat kuat. Tapi mereka tetap bisa menikmati keindahan pantai ini sembari berjalan atau duduk di tepi pantai. Di ujung pantai, tak jauh dari tanjung, tampak dua orang sedang melakukan ritual. Mereka, dengan hanya mengenakan kemban, dimandikan oleh seseorang secara bergantian. Entah ritual untuk apa, saya tidak mau menganggunya.

Banyuwangi, yang terletak di ujung timur Jawa, dikenal menyimpan pantai-pantai nan menawan. Beberapa di antaranya memiliki ombak laut yang menjadi tempat favorit para peselancar dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

Pantai-pantai yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, Banyuwangi, ini memiliki pesona yang khas. Pantainya masih sangat bersih dan jauh dari polusi. Boleh dibilang pantai-pantai itu masih alami. Pantai-panti di ujung Jawa Timur ini layak menjadi daerah tujuan wisata bagi Anda, terutama yang suka dengan wisata bahari.

Perjalanan wisata bahari dimulai dari Pantai Sukamade. Suara debur ombak dari kejauhan menjadi satu-satunya alunan indah yang menemani saya ketika berada di pantai ini. Dilengkapi angin laut nan kencang yang seakan ikut membentuk harmonisasi suara alam.

Saat itu, pengujung tahun lalu, saya bersama teman dan pemandu sedang menanti kedatangan penyu-penyu yang akan bertelur. Tiba-tiba terdengar suara seorang ranger di radio komunikasi fasilitator ekowisata yang memandu saya. Ia menyampaikan kabar gembira: ada penyu yang akan bertelur.

Sang pemandu pun segera mengajak beranjak. Menjejaki pasir pantai, kami menuju lokasi penyu yang berjarak sekitar 2 kilometer dari posisi saya saat itu. Pantai ini memang menjadi konservasi penyu yang memang cukup panjang, yakni sekitar 3,4 kilometer. Namun sayang setibanya di lokasi penyu hijau sedang menutup lubang kamuflase – lubang yang dibuat untuk mengelabuhi predator yang hendak memangsa telur penyu. Pengalaman yang saya dapatkan di pantai ini tidak mungkin ada di tempat lain. Selain Sukamade, terdapat tiga pantai lain di kawasan itu yang tak kalah menawan. Berikut pantai-pantai itu:

Pantai Pulau Merah
Pantai ini menawarkan pemandangan pasir putih yang bersih. Di sana terdapat payung-payung warna merah berukuran jumbo bertebaran di pinggir pantai.Di pantai ini sering dijadikan tempat berselancar favorit oleh peselancar pemula hingga profesional. Bahkan, sempat dijadikan tempat menggelar kompetisi selancar internasional.

Pantai Pancer
Pantai ini menawarkan pemandangan aktivitas nelayan. Di pantai ini, wisatawan juga bisa menyaksikan transaksi jual-beli hasil tangkapan nelayan.

Pantai Teluk Hijau “Green Bay”
Pantai ini menyuguhkan hamparan air berwarna hijau. Menurut warga setempat, warna hijau itu bukan karena planton hijau tetapi pantulan warna langit yang biru dan membias di air laut yang dasarnya berpasir putih.

Kisah Legenda Misterius Danau Dendam Tak Sudah Di Bengkulu


Jika Anda bertandang ke Bengkulu, tak ada salahnya mengunjungi sebuah danau cantik nan unik. Danau Dendam Tak Sudah, begitu masyarakat setempat menyebutnya. Menurut kepercayaan masyarakat, ada dua kisah yang menjadi latar belakang penamaan danau itu, seperti dilansir

Kisah pertama merupakan legenda percintaan. Konon, ada sepasang kekasih yang cintanya tidak direstui orang tua. Mereka yang tengah mabuk asmara memutuskan bunuh diri dengan loncat ke danau. Sejak saat itu, masyarakat Bengkulu percaya ada dua ekor lintah raksasa yang hidup di danau dan merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut. Mereka terus hidup dengan menyimpan rasa dendam.

Kisah lain berlatar sejarah di mana Belanda yang saat itu menduduki Indonesia memutuskan membuat dam di danau tersebut. Tujuannya agar air danau tidak mudah meluap untuk mempermudah pembangunan jalan di sekitar danau.

Akan tetapi, pada praktiknya, pembangunan dam terhenti atau tidak pernah selesai. Mereka menyebutnya dengan ‘Dam Tak Sudah’. Entah bagaimana awalnya ‘Dam Tak Sudah’ kini berubah menjadi ‘Dendam Tak Sudah’. Namun, di balik namanya yang terdengar cukup aneh, Danau Dendam Tak Sudah menawarkan keindahan yang luar biasa. Dengan luas 37,50 hektar, danau ini terletak di Kota Curup, Bengkulu Utara, hanya 6 kilometer dari pusat Kota Bengkulu.

Danau Dendam Tak Sudah merupakan kawasan cagar alam karena dikelilingi bukit-bukit hijau yang menyimpang banyak potensi ekologi dan keseimbangan ekosistem. Karena lingkungannya yang masih sangat asri, tak mengherankan bila Danau Dendam Tak Sudah menjadi habitat flora dan fauna langka. Tumbuhan endemik langka seperti anggrek matahari, nipah, plawi, pulai, bakung, gelam, terentang, sikeduduk, brosong, ambacang rawa, dan pakis, tumbuh subur di sana. Ada pula beberapa jenis ikan langka yang berasal dari famili Anabantidae, Bagridae, dan Cyprinidae.

Hadirnya hewan-hewan seperti lutung atau kera ekor panjang, burung kutilang, babi hutan, siamang, dan ular phyton yang hidup di sekitar danau, juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan.

Bali Reggae Star Festival Digelar Di Padanggalak Bali


Bali Reggae Star Festival akan kembali digelar di pantai Padanggalak, Kesiman, Denpasar, Jumat, 6 Februari 2015. Acara musik tahunan yang digelar untuk kedua kalinya itu bakal menampilkan beragam musisi reggae.

Bali Reggae Star Festival dipromotori oleh Antida Music dan Pregina OMS . Acara akan digelar dengan skala yang lebih besar dibanding tahun lalu, baik dari pemilihan tempat acara, desain panggung dan tata suara, maupun pengisi acara.”Kami punya dan ingin menyebarkan semangat kebersamaan dan persaudaraan yang merupakan ciri khas Indonesia dengan pagelaran musik reggae ,” ujar Anom Darsana dari Antida Music , selasa, 3 februari 2015.

Senada dengan Anom, Agung Bagus Mantra dari Pregina mengatakan sebagai manusia yang hidup dalam keberagaman, ada banyak cara yang dapat diciptakan untuk mempersatukan keberagaman tersebut. Salah satunya melalui musik reggae. “Tidak terbatas pada genre musik, reggae menjelma menjadi perspektif nilai dalam memandang hidup dengan cara yang lebih santai, sederhana dan bersahabat,” kata pria yang akrab disapa Gus Mantra ini.

Ia menuturkan, sebagai musik yang sudah mendunia, walaupun kental dengan tradisi Jamaika, reggae dalam perkembangannya tidaklah berdiri sendiri. Warna reggae merupakan suatu proses elaborasi dari berbagai elemen kebudayaan khususnya musik yang menyajikan suatu harmoni khas kebersamaan. Menurut Gus Mantra, banyak musisi reggae berminat meramaikan perhelatan ini. Tidak hanya musikus dari Bali, namun juga musikus nasional yang sudah punya nama, seperti Tony Q Rastafara, Steven Jam, Jony Agung & Double T, Aray Daulay, dan Jalie.

Dari barisan Bali Reggae Movement akan tampil D’sunshine, The Small Axe, Revelation, Cigareggae, Vermilion, Dancehall Brothers, Kecap Asin Rastapora, The Mangrooves, dan Bobidinar Project . Bakal tampil pula DJ Soundbwoy Dodix. Sejumlah komunitas juga ikut mendukung acara, seperti 5:30 vespa community, komunitas fotografer dan beberapa komunitas seni di Bali.

Memasang tagline A Tribute To Bob Marley karena acara diadakan tepat di hari kelahiran legenda musik reggae Bob Marley , Bali Reggae Star Festival 2015 berlangsung dari jam 3 sore hingga tengah malam.

Sebagian besar keuntungan dari acara ini rencananya akan disumbangkan ke Yayasan Manik Bumi yang bergerak di lingkungan dan penanggulangan sampah plastik di Bali. “Kami akan menyumbangkan 100 tempat sampah yang akan disebarkan di pinggir pantai di bali dan juga sumbangan ke Yayasan Anak Cacat yang sudah ditunjuk oleh panitia,” ujar Anom Darsana.

Trans Studio Akan Buka Di Semarang


Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memastikan wahana wisata indoor Trans Studio segera dibangun di daerahnya. Dia sudah bertemu dengan bos Trans Corp., Chairul Tanjung. “Kami sepakat membangun Trans Studio di Semarang,” kata Hedrar.

Hendrar menjelaskan lokasi yang hendak dibangun Trans Studi di kawasan Wonderia yang saat ini sekarang berfungsi sebagai wahana bermain di Kota Semarang. “Sampai saat ini progresnya sudah on the track,” kata Wali Kota yang sering dipanggil Hendi itu.

Menurut rencana, pada akhir Februari nanti akan ada penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dengan pihak Trans. Langkah selanjutnya usai MoU, menurut Hendrar, adalah memasukkan pertimbangan teknis dan proses lelang. Proses ini masih memerlukan waktu yang tak singkat. Namun, dia menargetkan akhir 2015 pembangunan Trans Studio sudah bisa dimulai. “Semoga nanti akhir tahun sudah ada pemancangan tiang pertama,” ujar Wali Kota.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Semarang Masdiana Safitri membenarkan rencana tersebut. Menurut dia, rencana membuka Trans Studio itu masih dalam proses. ”Perizinan belum masuk, tapi sudah ada kerja sama,” kata Masdiana.

Masdiana menjelaskan bila proses ivestasi kelar dikerjakan maka pembangunan segara dimulai. “Tahapan itu sebagai proses normatif yang harus dilalui,” ujarnya.